-190- Marah

Bismillah.

Marah ya wajar. Tapi semakin dewasa marah berganti baju. Kalau dulu sampai teriak-teriak atau bahkan jambak-jambakan kini lebih elegan. Tapi saya belum bisa cool. Iya ada marah yang cool😂 Dia marah dengan diam. Saya gak bisa. Saya tetep harus ngomong. Walaupun tangan gemetaran saking kuatnya nahan amarah.

Seingat saya, saya enggak pernah marah kepada teman-teman kantor. Semarah apapun: saya diam tapi ada sedikit ngomong 😅 Ya itu tadi saya belum bisa benar-benar marah yang diam. Diam🤭. Tapi pernah juga mendapati yang lainnya marah. Dengan yang lain tentunya. Saya sejauh ini belum pernah ngajak orang ribut.

Saya malu kalau harus marah. Begitu juga jika saya yang kena marah. Saya malu. Kalau tidak urgent banget saya sangat menghindari acara marah-marah ini. Palingan saya lampiaskan ke suami. Saya bilang saja lagi marah.

Kemarin. Iya kemarin sekali. Seseorang merusak hari saya mulai pagi sekali. Dan hari itu saya merasakan bagaimana suasana hati yang dirusak sangat mengacaukan seharian itu.

Karena saya sangat marah. Tapi semarah apapun saya memilih menahannya. Buat apa saya balik marah? Toh dengan begini saja saya sudah pusing. Seharian kemarin saya sebal bukan main.

Dan ketika suasana hati tak karuan
perginya ke makanan. Ampun deh.
Mana maunya diet. Please siapapun
don’t ruin someone else’s day😪

Kalau saya balik marah. Mungkin detik itu juga akan plong. Tapi yakin deh setelah itu bakalan merasa sangat bersalah. Jadi daripada membuat beban lagi di belakang. Mending saya pusing seharian itu saja. Terimakasih kepada yang telah memberikan rasa ini. Karena ini saya bisa belajar merasai dan memahami.

Agar marahnya gak meledak pertama kali yang saya lakukan adalah duduk. Saya keinget dengan sebuah hadits: “Bila salah satu diantara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya sudah hilang(maka cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” HR Abu Daud. Kemudian saya curhat. Iya saya harus mengeluarkannya. Saya curhat ke orang terdekat. Suami. Dan teman dekat. Curhat saya lakukan untuk mengeluarkan uneg-uneg. Harus hati-hati emang curhat ini. Karena bisa menyelesaikan masalah atau bahkan menambah masalah. Curhat sama Alloh SWT sih yang paling aman.

Tapi ya namanya manusia. Punya waktu sendiri dalam meredakan amarah. Saya sih enggak lama bisa mereda. Tapi sebelnya sampai sore😁 yang penting gak meledak saya udah sangat bersyukur.

Dari situ saya belajar. Satu jangan marah. Karena akibatnya benar-benar tidak hanya merugikan diri sendiri. Orang yang kita marahi mungkin akan lebih tidak baik kondisinya. Apalagi marah karena hal yang kita lakukan sendiri✌️

Dua kalau mendapati orang lain marah, diamlah! Saya harus mengatakan ini ke diri sendiri: DIAMLAH! Karena kalau kita menanggapi, kita akan ikut marah dan menambah amarah si orang itu. Diamlah sampai reda amarahnya. Karena kemarin saya sahuti orang yang lagi marah: saya jadi marah dia pun kagak reda😂 Jadi kayak nyiram bensin kena sendiri.

Tiga. Siapapun saya, kamu, kita jangan marah.

Karena,

Janganlah engkau marah, maka bagimu surga. (HR Thabrani dalam Al-Kabir).

Selamat pagi and keep happy😊

Advertisements

-178- Semarang (lagi)

Bismillah.

Berat ya harus meninggalkan Maryam. Tapi tidak ada pilihan. Sebagai abdi negara ini salah satu konsekuensi.

Karena itu. Saya tidak mau mengeluh. Saya ingin bahagia untuk kedua hal tersebut. Menjadi pekerja dan menjadi seorang ibu.

Untuk anakku tersayang insyaAlloh, Alloh lah yang akan menjagamu. Karena sebaik-baik penjaga adalah Dia. Untuk pekerjaanku, aku akan berusaha sungguh-sungguh agar apa yang kukerjakan hasilnya baik.

Mengeluh hanya akan membuat kita gagal di keduanya. Jadi harus semangat. Harus ikhlas dan sabar. Toh kita ini sedang berkehidupan. Akan selalu ada masalah yang akan membuat hati dan pikiran kita berganti-ganti rasa. Berusaha dan berdo’a. Sudah, itu saja.

Di Semarang kali ini pun saya berusaha bersyukur dan bersabar. Senin sampai jumat. Bukan waktu yang sebentar.

Karena sudah sering ke Semarang saya tidak lagi berkeinginan ini itu. Kebanyakan kelas kamar. Di kamar banyak merenung. Mengamati peristiwa yang lagi happening di media.

Beberapa yang saya yakin akan terus diingat. Pertama, pernikahan Syahrini dan Reino Barack. Yang menguasai hampir semua pemberitaan. Menyapu jajaran trending youtube. Terpampang paling atas di pencarian media manapun. Jadi akan sangat naif kiranya di era digital ini jika tidak tahu akan hal ini. Dan hiruk pikuk kampanye presiden. Pertandingan el clasico antara Jokowi dan Prabowo. Kedua kalinya dan tidak akan ada yang ketiga. Sangat seru bagi mereka yang mengikuti atau berpihak ke salab satu. Sebagai ASN saga tidak bisa terbuka untuk condong ke salah satu.

Saya tidak mau mengomentari keduanya. Tapi pemberitaan kedua topik ini benar-benar panas. Kadang saya merasa di luar nalar keagamaan saya. Tapi satu saja yang ingin saya ingatkan, terutama untuk diri saya sendiri.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589).

Baca Selengkapnya :  https://rumaysho.com/9198-ghibah-itu-apa.html

Itu. Astagfirullohal’adzim. Jadi mari teman-teman kita saling mengingatkan. Saling merapatkan barisan untuk menjauhi yang namanya ghibah. Tidakkah kita takut, ini adalah dosa besar. Semoga Alloh selalu melindungi kita semua, aamiin.

Tempat yang nyaman untuk merenung. Alhamdulillah

Tempat saya menginap ini, hotel santika premiere, adalah termasuk hotel lawas di Kota Semarang. Menurut sepupu ipar saya yang asli semarang, Santika merupakan hotel yang kedua dibangun. Hotel pertama yang dibangun di sini katanya sudah tidak beroperasi lagi. Jadi boleh dibilang Santika lah sekarang yang paling senior.

Saya menempati kamar tipe deluxe dengan dua tempat tidur. Tidak ada yang istimewa. Seperti halnya hotel-hotel yang lain di tipe ini. Kamar mandi shower yang selalu membuat saya kurang puas. Maklum terbiasa dengan gayung dan limpahan air di bak😊

Tapi satu hal yang menurut saya lain. Apa itu? Sendal! Iya. Bentuk dan warnanya memang sama saja seperti hotel-hotel yang lain. Yang beda sandal punya santika rasanya lebih tebal. Atau cuma perasaan saya saja? Entahlah.

Apalagi ya? Hm makanan. Tidak banyak yang saya coba. Makanan hotel pun banyak yang saya skip. Lagi diet kaka… Gak enak lah badan gemuk. Rasanya gak lincah. Sarapan paling icip salad sayur, sudah. Siang nasi sedikit plus lauk. Malam skip. Tapi gara-gara lapar malah pesen martabak di gojek😌

Selain martabak ada pesen mie godog jawa. Makannya di kamar hotel. Kuahnya saya taruh di gelas😂 ternyata makan mie godhog dengan kuah terpisah juga oke.

Terus makan bakso di gunung pati. Saya berkunjung ke sepupu yang sekarang tinggal di sana sekalian buka usaha. Baksonya lumayan. Harganya juga lumayan murah khas mahasiswa. Maklum lokasinya ini di sekitaran kampus UNNES.

Di tengah Semarang yang panas melipir ke Gunung Pati ini sesuatu ya😁 Asa di lembur. Udaranya sejuk. Jaraknya juga gak jauh-jauh amat dari kota. Naik gojek kurang lebih tiga puluh menit, sekitar Rp22.000,-.

Itu sih. Gak banyak. Tapi alhamdulillah senang sekali. Melihat ponakan yang masyaAlloh sudah gede-gede. Dulu tahu pas bayinya sekarang sudah besar. Tak terasa ya sudah tua. Dan senin besok insyaAlloh lanjut pelatihan di Solo. MasyaAlloh. Berikan kami semua kesabaran dan keikhlasan. Aamiin.

-176- Menakar Rasa

Bismillah.

Kenapa diulang-ulang terus sih? Ini kan sudah dibahas kemarin. Duh, alamat ngomongin yang sudah-sudah lagi nih. Bosen. Bete. Gak menarik sama sekali.

Pernah gak sih kita merasakan hal seperti itu?

Saya pernah. Saya yakin banyak dari kita pernah merasakannya. Entah itu sering atau sesekali.

Wajar. Manusiawi. Tapi kalau keseringan tentu akan sangat mengganggu.

Awalnya saya biasa saja. Saya tahu ini kan memang biasa. Seperti berkunjung ke rumah nenek kemudian kita merasa bosan. Saya sudah seperti itu. Biasa kan, nenek kadang setiap ketemu cucunya yang diomongin itu-itu saja. Atau nanya yang pertanyaannya tidak pernah berubah. Dan pertanyaannya itu banyak. Kalah wartawan. Siapa yang tidak jenuh. Kalau kebablasan suka nongol wajah manyunnya.

“Kadang orang tua kita itu hanya ingin dimengerti. Mereka seneng hanya dengan jawaban sederhana kita.” Kata seorang teman.

“Apa mungkin seharusnya kita yang harus berubah? Bukan menuntut orang lain untuk berubah?” Kata Saya.

Merubah niat kita menjadi lebih berfaedah. Mendengarkan untuk ibadah. Bukankah membuat orang lain bahagia salah satu bentuk ibadah. Jika diniatkan lillahita’ala?

Saya terpekur. Ini pikiran kebanyakan orang. Tapi hanya sedikit yang mau memahami dan melaksanakannya.

Benar. Kenapa kita harus repot-repot dengan rasa bosan yang sebenarnya bisa dikendalikan? Kenapa kita tidak memilih sesuatu yang lebih bermanfaat bagi dunia dan akhirat kita? Memilih untuk berempati. Memilih untuk mendengarkan. Memilih untuk beribadah. Karena hidup adalah pilihan.

#selfreminder

-120- Renungan

Ada orang yang memilih diam menghadapi masalah seberat apapun sambil terus berusaha. Ketika semuanya selesai seakan tidak terjadi apa-apa. Di sisi lain ada orang yang memilih berkoar kemana-mana seakan masalahnya yang paling rumit seakan hidupnya yang paling drama. Ketika semua selesai, “kamu terlalu banyak nonton sinetron, mau jadi hartis?”.

Tidak semua orang akan senang dengan apa yang kita lakukan. Bukan kewajiban kita juga memenuhi harapan orang lain terhadap kita. Makanya Alloh SWT kasih teladan Rasululloh dan para sahabat untuk jadi rujukan. Lupakan keingin orang lain, berusahalan mengikuti jalan kebaikan yang telah dicontohkan. Perkaran yang suka dan tidak, bukan urusan kita.

Ingin terlihat apa yang kita lakukan. Bahwa yang kita lakukan oke dan benar juga baik. Buat apa? Populer? Dielu-elukan? Apakah hidup seperti itu yang di mau? Kalau sudah populer lantas apa?

Melakukan sesuatu tanpa dilihat orang lain mungkin salah satu tantangan hidup terbesar yang harus dilewati. Membuat kita tidak terlihat agar semuanya memang dilakukan ikhlas. Ya bukan berarti yang terlihat tidak ikhlas 🙂

Happy reminder.

-100- Pengalaman Mengajarkan dengan Baik

Waktu masih tinggal di Kolaka sering saya berdiskusi dengan salah seorang teman mengenai takdir jodoh. Waktu itu saya masih kiyis-kiyis baru lulus kuliah, kerja di tahun pertama. Sementara teman saya ini sudah hampir kepala tiga. Dia lebih dari sekedar teman, saya menganggapnya kakak.

Dia itu baik, penyayang, lembut, dan rasanya semua hal baik ada padanya namun di balik kehalusannya dia sangat kuat teguh pendiriannya hampir keras kepala.

Di usia kritisnya wajar seorang perempuan mengharapkan untuk segera membangun rumah tangga. Ia pun demikian. Sudah beberapa laki-laki yang datang meminangnya, sayang bukan jodoh.

Kebanyakan alasannya adalah orang tua. Orang tuanya yang tentu saja sangat sayang dan mengetahui segala seluk beluk kehidupan putrinya merasa belum menemukan orang yang tepat untuk putri semata wayangnya.

Selain semua hal yang baik di atas tentang dia, pemahaman agamanya pun bagus. Hanya saja yang membuat kriterianya semakin tinggi adalah pendidikan dan pekerjaannya. Ia boleh di bilang sudah mapan dalam ke dua hal itu. Jadi, orang tua mengharapkan minimal sama.

Seharusnya kalau agamanya sudah baik, orang tua harus hati-hati menolaknya. Artinya dalam pandangan saya waktu itu, peluang seorang laki-laki yang di percaya memiliki pengetahuan dan pemahaman agama yang baik akan jauh lebih besar di terima dibandingkan di tolak dalam dunia lamar-melamar. Tapi, kenyataan tidak seperti itu ternyata.

Saya sempat kecewa dan menyayangkan sikap orang tua kakak ini. Mungkin si kakak ini pun dalam hatinya, mempertanyakan, kenapa? apa lagi yang di tunggu? Saya ini semakin hari semakin tua?

Saya baru ber oh ria ketika hari ini memiliki seorang anak perempuan. Bukankah tanggung jawab anak gadis ada pada orang tuanya sampai ia menemukan imamnya? Jadi, orang tua berhak dong ya memberikan pendapatnya bahkan memutuskan…?

Andai saya berada di posisi orang tua nya si kakak itu. Kalau melihat kondisi saya sekarang dengan seorang putri. Selain agamanya yang harus baik saya juga menginginkan putri saya berada di tangan yang tepat, paling tidak menurut kami sebagai orang tua.

Kami menjaga dan mendidiknya dengan baik. Kami berusaha memenuhi kebutuhannya semampu yang kami bisa. Dia kami kondisikan berada dalam lingkungan yang baik secara rohani dan jasmani. Jadi, saya pun menginginkan siapapun nantinya calon anak saya adalah dia yang minimal bisa memperlakukannya seperti yang kami lakukan. Yah, minimal.

So, materi juga dong?

Mau di bilang ya, tidak juga. Tapi, di bilang kami tidak memperhatikan itu muna juga. Hanya saja materi yang di lihat kan tidak harus melulu uang. Karena kami pun bukan dari kalangan berada yang kaya raya di mana-mana. Kami hanya berusaha mencukupkan diri pada kebutuhan yang memang kami perlukan. Misal mobil kalau memang butuh dan perlu ya, kami berusaha. Kalaupun memiliki artinya bukan ajang pamer diri.

Sandang pangan papan cukup, butuh dan perlu kan? Ya, gimana semua itu harus di beli, baik dengan materi maupun tenaga. Ya, situ kalau mampu membangun rumah sendiri ya syukur Alhamdulillah. Artinya tetap harus di beli kan?

Jika yang datang pemuda yang di kenal mengerti agama tapi belum memiliki pekerjaan walaupun meyakinkan dengan kata tanggung jawab dan lain sebagainya. Sebagai orang tua wajar dong ya kita khawatir. Kenapa tidak kita tunggu ucapan si pemuda bahwa dia bertanggung jawab? Menunggunya untuk memantaskan di mata kita saya kira lebih adil terutama bagi otang tua seperti saya yang apa-apa serba parno.

Makanya lelaki di bilangnya bebas memilih wanita yang mereka sukai, datang saja pada walinya. Di terima ya, jodoh, di tolak sebaliknya. Sudah. Sederhana. Walaupun saya tahu prakteknya tidak semudah itu karena selalu saja melibatkan perasaan. Hancur minah maaak di tolak!

Perempuan juga begitu, bebas menentukan. Kalau ada yang datang cocok ya, hayu, kalau belum merasa cocok ya, kan, bisa di pending atau langsung di tolak. Sudah. Sederhan. Sekali lagi semua itu bisa kebalik 180 derajat karena baper. Wajar. Tinggal menyikapinya. Ya, kalau rame yang datang tinggal pilih, kalau yang datang satu saja susah gimana? Yakin sajalah sama ketentuan Alloh, sudah itu.

Kalau ke duanya sudah memahami posisi seperti di atas, ya, mudah-mudahan acara pencarian jodoh ini tidak terlalu menyita fokus kita. Tidak terlalu baper yang harus nangis berurai air sungai, eh, *garing* berhari-hari bahkan berminggu dan berbulan. Terus lupa pencapaian hidup yang lain, kan gawat.

Perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik.

Jadi, jangan kehilangan focus karena di tolak atau menolak, tetap memperbaiki diri memantaskan diri untuk calon yang telah dipersiapkan Alloh untuk kita.

Memahami posisi orang tua kalau seandainya harus menolak laki-laki yang diidamkan. Ya, kecuali kamu janda bebas menentukan. Kalau masih gadis tetap perhatika orang tua. Selama mereka tidak melakukan hal-hal yang menyimpang ya, berusaha untuk menurutinya.

Jangan gara-gara kita meras benar, pengetahuan agama kita lebih baik dari orang tua terus kita membawa ke pengadilan karena pernikahan kita yang tak direstui. Ngeri dan malu kan, kasihan orang tua. Tapi, ini ada loh yang sampai begitu.

Pengalaman membawa saya untuk menulis hal seperti ini. Saya baru menyadarinya ketika saya pun di posisi orang tua.

Pengalaman benar-benar mengajarkan segalanya dengan baik. Dia adalah guru yang paling berharga. Menyusun semua yang telah kita temukan bagai menyusun blok-blok menjadikannya sebuah bangunan utuh yang indah. Begitulah hidup, rasanya lengkap.

Untuk kakak yang saya ceritakan, akhirnya saya ngerti kenapa dulu orang tua kaka sulit sekali melepas :p . Ada hal yang baru kita bisa memahaminya benar-benar ketika kita mengalaminya sendiri 🙂 .

Self reminder…

-54- Self Reminder

Bismillah.

Saya termasuk ke dalam golongan orang-orang yang susah bin sulit untuk move on 😀 . Butuh waktu lebih lama dibanding yang lainnya *perbandingannya dengan orang-orang yang saya kenal*.

Jika di playlist laptop teman bisa bejubelan judul lagu di tempat saya hitungan jari. Dan dari yang bisa dihitung dengan jari hanya satu judul lagu yang saya putar-putar sampai eneg ada kali sebulanan. Salah satu lagu yang menjadi korban kesulitan move on saya adalah donna donna.

Walaupun sudah didengarkan berulang kali jangan ditanya hapal atau tidak: jelas tidak hapal 😛 . Saya hanya mengikuti senandungnya sambil terbawa lamunan lagu entah ke mana dan saya tidak pernah hapal liriknya. Siapa yang nyanyinya saja saya tidak hafal. Tapi kalau iramanya saya masih bisa tirukan “heu heu heu heu heu…”, tahukan lagunya? 🙄

Tidak hanya lagu, film juga begitu. Terakhir saya nonton variety show-nya Korea Selatan: Appa Oediga Session 1, entah berapa kali saya putar-putar sampai sekarang belum bisa move on. Menurut saya variety show yang ini bagus sekali, memiliki konsep yang oke, dimainkan dengan natural dan wajar, disajikan cukup apik, dan dengan anak-anak yang sangat berbeda karakteristik satu dengan yang lainnya. Lee Jun Su anak yang cuek bebek tidak peduli dengan keadaan sekitar jika dia suka ya lakukan saja. Saya ingat adegan dia ngobrol dengan orang New Zealand, yaelah dia gak peduli apakah lawan bicaranya ngerti atau tidak yang dia sampaikan, tapi hebatnya mereka tetap bermain dan nyambung. Kabarnya variety show ini tidak akan ada kelanjutannya. Walaupun saya tidak mengikuti session 2 nya tapi sayang saja konsep yang begitu bagus kok kalah sama rating. Dibanding variety show satunya lagi yang bertema anak-anak menurut saya konsep appa oediga masih lebih bagus.

Makanan juga begitu. Kalau saya lagi suka makan mie ya makan mie terus sampai bosan sendiri.

Sampai acara pemilu kemarin pun bikin saya susah move on, kalo yang ini sepertinya banyak yang senasib iya gak 😛 .Saya pernah nulis tentang pilpres ini dan kecondongan saya terhadap salah satunya di sini. Saya sangat berharap jagoan saya menang rasanya tidak dapat dibayangkan kalau-kalau lawannya yang menang. Tapi fakta tidak sesuai harapan.

Ya gitu deh, saya susah sekali move on. Saking sulitnya menerima presiden yang terpilih, untuk menjaga perasaan sendiri saya mengasingkan diri dari berita. Saya tidak nonton tipi, tidak baca Koran, pun tidak iseng mencari beritanya di dunia maya. Pokoknya benar-benar puasa informasi.

Hanya saja saya tidak bisa berlama-lama puasa facebook. Satu-satunya yang membuat bumi terasa begitu luas ya di fb itu. Mendekatkan yang jauh menjauhkan yang dekat *eh, enggak ding ya*. Yah pokoknya saya tidak bisa menghindari untuk mengetahui kabar manteman di efbi. Kadang juga saya cuci mata di sana, melihat kebutuhan Maryam yang lucu-lucu jadi pengen beli ini itu. Entahlah memesan barang seharga 100.000 di efbi kok biasa saja beda sekali nuansanya ketika belanja di pasar di mana selalu saya niatkan jangan lewat dari lima puluh rebu. Walau kenyataan sering jebolnya.

Dari sanalah kesadaran untuk move on tumbuh sedikit demi sedikit dengan sendirinya. Melihat postingan dan artikel yang dishare kok lebih banyak yang masih saja menampilkan kekurangbaikan presiden terpilih. Saya jadi tersentil, mereka sepertinya segolongan dengan saya 😛 senasib sepenanggungan 😀 .

Apalagi pas di awal pemerintahannya, beliau menaikan harga bbm sontak artikel yang intinya menyalahkan, menyayangkan, kecewa,dan sejenisnya terhadap kebijakan pemerintah berkeliaran di beranda. Kesan yang saya dapat: sangat bahagia karena dugaan di awal bahwa pemerintahan ini hanyalah pemerintahan boneka sepertinya terbukti, horeee, lihat kan, salah sendiri milih dia dulu. Hadeuh dalam hati ada juga saya begitu.

Walaupun banyak yang mengkritisi tapi kok kesannya bukan kritik yang membangun *calm down ini mah pendapat pribados*. Berbaju kritik tapi terlihat nyinyir, itu yang saya lihat dan rasakan. Karena hal tersebut saya mulai bercermin. Kan pepatah lama mengatakan untuk mengetahui siapa kamu ya lihat saja teman-temanmu. Dan hari ini pepatah itu cukup mudah diterapkan hanya dengan mengamati efbi.

Saya sadar sebagai abdi negara berapa sih gaji saya. Peluangnya kecil untuk hidup berlebihan tapi saya rasa kami masih bisa hidup sejahtera minimal di atas garis kemiskinan. Kata orang sih hidup pas pasan. Pas mau jalan-jalan masih bisa ada tabungan, khusus yang masih single. Pas mau sekolahin anak ya, Alhamdulillah pakai yang berkualitas pun masih bisa ada asuransi pendidikan. Pas mau bangun rumah ya, masih bisa, ada bank. Pas kepingin mobil ya, Alhamdulillah ada bank juga. Yah, walaupun cicilan di mana-mana tapi saya pribadi masih sangat bersyukur. Pas mau sekolah lagi Alhamdulillah ada beasiswa, aamiin.

Jadi untuk sekedar kecewa terhadap kebijakan ini saya pribadi lebih memilih menahan diri, walau sulit ya. Saya teringat, dulu pas pemilu yang banyak memilih Pak Presiden adalah mereka masyarakat kalangan bawah. Apapun yang terjadi dengan pemerintahan ini saya lihat mereka masih bertahan. Kenapa saya tidak bisa? apakah karena saya tidak memilih beliau jadi bebas gitu mengumbar kekecewaan atau apalah namanya? Ah lagi-lagi kalau begitu saya hanya belum merasa nyaman dengan keterpilihan beliau.

Emang si kebijakan pemerintah rada-rada aneh di tengah minyak dunia yang lagi turun. Saya juga gatel pengen nulis ngritik pemerintah. Tapi saya tahan-tahan karena satu hal: saya tidak tahu kondisi pemerintah secara keseluruhan. Apa masalah mereka saya tidak tahu. Lagipula pemerintahan ini tidak dijalankan oleh mereka yang bodoh secara intelek. Saya yakin mereka adalah jajaran anak-anak terbaik negeri ini.

Ingat ya presiden kita ini lulusan salah satu universitas besar di negeri kita. Pada tahu kan bagaimana sulitnya tembus UMPTN, dan beliau masuk lulus pula. Kalau ada yang bilang beliau bodoh rasanya kita jangan ikut-ikutan deh lebih baik menahan diri sambil mengedepankan positif thingking dan tentu tabayun terus menerus. Walaupun misal kenyataannya beliau bodoh apa pantas kita berkoar-koar tentang kebodohan seseorang? Rasanya saya sendiri tidak diajari untuk saling mencela.

Jajaran menterinya pun saya akui pintar-pintar. Walaupun ada yang tidak sampai lulus SMA tapi lihatlah dia sangat pintar di bidangnya. Pendidikan memang perlu tapi kita juga jangan menapikan bahwa ada orang-orang anomaly di sana. Terlintas dulu sekali waktu masih kuliah, naik metromini ngebut di jalanan ibu kota saya hanya berfikir: ini sopir jenius sekali, saya mah belajar mengendarai mobil itu susaaaah sekali ini sampai bisa kebut-kebutan *keep positif thinking ye*. Intinya orang dengan passion yang tinggi dia akan sangat menguasai bidangnya berpendidikan formal atau tidak.

Saya rasa kita harus fair dengan kecakapan mereka, tentang attitude mereka atau tentang ideologi yang mereka fahami ini lain lagi ceritanya. Saya sendiri memilih menyimpannya saja. Memilih memberikan gambaran yang baik tentang attitude dan ideologi yang saya sukai atau yang menjadi kecenderungan bagi saya ketimbang menjelekkan orang-orang tersebut yang saya tidak mengenalnya secara pribadi.

Sekarang ini jalan terbaik bagi saya khususnya, menerima dengan ikhlas. Mau tidak mau kita hidup di zamannya demokrasi. Situ kalah mau apa? Tahu sendiri kan dalam demokrasi pilihan terbanyak artinya pilihan semua.

Sebenci-bencinya saya atas pemerintahan ini apakah ada manfaatnya minimal buat diri sendiri? pemerintahan ini belumlah apa-apa jangan sedikit-sedikit menyalahkan, mencoba untuk mendukung walaupun berat. Jika memang niatnya mengkritik untuk membangun sekarang ini ada jalannya melalui kawal menteri *sila di googling sendiri alamatnya*.

Kalau belum puas bisa juga kok berorasi atau minta ketemu dengan orangnya langsung asalkan kitanya ada niatan yang kuat untuk melakukannya. Banyak jalan menuju Roma. Tapi kalau sekedar heboh-hebohan, nambahin warna, lha wall-wall sendiri, facebook sudah oke lah. Ini saya juga mau ikut meramaikan, hehe.

Saya jadi teringat ucapan Ali bin Abi Thalib yang akhir-akhir ini banyak di nge-share:

“tidak perlu membela dirimu, yang sayang padamu tidak memerlukannya, dan yang benci padamu takan percaya”

Begitu saja karena ternyata saya belum mampu menulis dengan kepala tenang lewat dari 1000 words. Fiuuuhhh akhirnya alhamdulillah selesai walau masih banyak yang bertebaran tapi saya puas akhirnya memiliki kekuatan untuk menuliskannya.