-171- Tanpa Tanda Jasa

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Hari sabtu pagi. Seperti biasa saya duduk anteng di depan kelas 1 SDN 3. Sekolahnya Maryam.

Minggu ini berlangsung ujian tengah semester. Saya sebenarnya kaget dengan pelajaran anak kelas 1 hari ini. Pelajarannya per tema. Ada tema mengenal diri sendiri, kegemaran, keluarga, dan kegiatan. Semuanya 4. Per tema ada sub temanya. Bacaan semua. Tebal lagi. Walaupun bacaan per halamannya tidak sebanyak novel tapi tetap saja semua itu full bacaan.

Hebat sekali anak jaman sekarang ya?Kelas satu sudah harus membaca semua buku tema itu. Anak teman saya yang di kota malah ikut les membaca pra sekolah. Katanya, salah satu syarat masuk SD harus sudah bisa membaca. Sudah seperti itu ya sekarang?

Di TK Maryam pun dulu ada kelas persiapan SD. Ada tambahan belajar membaca. Padahal dulu saya TK taunya bermain. Ibu guru TK membacakan dongeng. Bermain peran. Sambil bermain beliau menyelipkan pelajaran hidup. Harus antri. Membuang sampah pada tempatnya. Berbicara baik. Kami tidak merasa sedang diajarkan. Tahunya sedang bermain😊

Dulu. Boro-boro membaca buku. Kelas satu saya masih belajar membaca. Kertasnya berwarna coklat. Per halaman ada tulisan besar-besar. Hanya beberapa baris tiap halamannya. Yang paling saya ingat adalah ini budi, ini bapak budi, ini ibu budi. Hurufnya besar-besar berspasi pula.

Bu Yayah alm. Bu guru kelas satu saya di SD dulu. Suaranya lantang. Mengeja hampir setiap hari. Menulis huruf per huruf setiap hari menggunakan kapur. Begitu terus. Tanpa lelah. Saya tahu semua itu terbayarkan. Hampir semua kami pandai membaca ketika naik ke kelas dua.

Saya lupa dulu itu bagaimana kami ujian.

Anak saya ujian. Soalnya dua puluh. Lima belas pilihan ganda. Esai lima. Bagaimana coba kelas satu ini mengerjakannya? Kalau begini memang benar harus sudah pandai membaca dan menulis. Usia pun harus sudah tujuh tahun. Sebelum tujuh rata-rata anak belum begitu matang soalan belajar. Masih mau bermain.

Tapi Maryam jangankan tujuh enam pun belum. Sudah mau sekolah. TK nya ia tinggalkan setelah satu tahun lebih di sana.

Sekolah menerima. Gurunya pun begitu. Jadilah Maryam belajar setiap hari di SD. Ia terlihat cukup senang. Tidak benar-benar belajar. Nyatanya lebih banyak bermain. Belajar membaca dan menulis sekali-sekali. Dari jam tujuh masuk kemudian jam sepuluh pulang, hanya sejaman belajar yang belajarnya.

Gurunya sabar dan telaten. Mengajari anak muridnya yang masih bocah itu belajar. Setiap hari sejaman. Tidak lama. Tapi saya kagum. Maryam sudah mulai bisa membaca.

Buku tema tetap ada. Bertumpuk buku-buku itu di belakang bangku murid yang hanya empat belas. Bu Guru mengajari apa yang mampu diserap anak didiknya. Ia tidak memaksakan harus menguasai seluruh buku tema itu.

Saya terharu. De javu dengan guru kelas satu saya dulu. Kata orang, kebaikan yang ikhlas akan terpancar. Begitu mungkin yang saya rasakan dengan guru-gurnya Maryam.

Hari ini ada praktek keterampilan. Membuat mozaik. Dengan sabar Bu Guru mengajari semua anak didiknya sampai selesai. Tidak peduli ada yang nangis karena lupa bawa gunting dan lem. Ada yang berlari ke sana ke mari. Bu Guru tetap mengajari dengan sabar.

Kata gurunya kemudian, mungkin tahun depan mengulang. Karena umur belum cukup untuk didaftarkan ke sistem. Saya tidak terlalu khawatir. Karena yang penting bagi Maryam sekarang adalah kegiatan. Kebetulan bisa ikut SD. Kalaupun nanti bisa lanjut, saya bersyukur. Saya tetap mengalir. Mengikuti aturan mainnya. Selama Maryam senang mengikutinya.

Langit pagi ini di atas SDN 3 Sitanggal. Semoga kalian semua menjadi generasi unggulan. Menjadi manusia-manusia yang berahlak mulia dan bermanfaat. Semua jerih payah itu akan terbayar lunas. Aamiin.

Advertisements

-166- Lima Tahun Ini

Sekolah. Maryam baru saja lima tahun. Baru kemarin tanggal tiga. Tapi sekarang ia sudah di kelas satu SD.

Saya tidak berniat pada awalnya. Mau dua tahun Maryam malang melintang di pra sekolah. Sudah banyak kali TK dan Paud yang dicobanya. Hanya dua yang bertahan lama. Masing-masing satu semester. Sampai dapat buku raport. Satu di Wakatobi. Satunya lagi di sini.

Maryam dari semua sisi harusnya masih TK. Dia belum siap.

Awal tahun ajaran baru tiba. Dan Maryam masih mogok ke TK lamanya. Dia sudah sebulanan lebih tidak masuk. Saya sudah tanya guru-gurunya. Dari sana tidak ada apa-apa. Marymanya sendiri tidak cerita apapun. Dia hanya tidak mau. Mau kalau diantar ummi.

Kebetulan SD dekat rumah kekurangan murid. Saya jadi ingat Laskar Pelangi. Kalau kalian pernah baca atau nonton pasti inget waktu hari pertama sekolah kekurangan murid. Mirip itu. Jadilah Maryam masuk. Setelah diitung ada 12. Dan banyak yang seumuran Maryam.

Sekolah yang mencari. Sekolah yang minta. Jauh-jauh hari Maryam sudah diberi baju olahraga.

Awalnya saya cuek.

Tapi, daripada Maryam di rumah. Kalau anaknya mau. Bolehlah.

Hari pertama saya antar. Yep, ke SD. Waktu itu belum genap lima tahun.

Muridnya yang dua belas itu benar-benar masih bocah. Semua diantar. Sampai semingguan.

Gurunya seorang perempuan baya. Tanpa ekspektasi apapun terhadap anak muridnya. Dia cukup sabar. Untuk seorang guru SD. Dia tidak banyak menuntut.

Belum bisa menulis. Belum bisa baca. Tak apalah wong kalian mau belajar di sini. Jadi, nanti kalian akan bisa, insyaAlloh. Saya seperti membaca pikirannya.

Jam belajar pun hanya sekali. Sebelum jam sepuluh. Setelah jam delapan. Selebihnya anak-anak main. Tak ubahnya TK B. Yang berbeda: di sini tidak ada arena permainan.

Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda. Entah itu datangnya dari si anak sendiri. Orang tua ataupun lingkungan. Yang pada akhirnya kita sebagai orang tua berharap. Berdo’a agar jalan yang anak-anak kita tempuh hari ini adalah jalan terbaik dari Alloh SWT. Untuk masa depannya yang lebih baik. Harus lebih baik dari kita.

Walaupun kadang saya masih berpikir: sekolah saya dulu lebih baik secara infrastruktur dibandingkan Maryam hari ini. Berhubung ini jalan yang tersedia. Mari kita ikuti dulu. Dan amati selanjutnya.

Bismillah.

-90- Sekolahan awal Maryam

Kenapa disebut sekolahan? Karena di dalamnya ada proses belajar mengajar dan mendidik. Bagi anak di bawah lima tahun tentu belajarnya berbeda dengan anak Sekolah Dasar dan seterusnya. Bagi mereka bermain ayunan, perosotan, dan berbagai permaianan lainnya adalah belajar. Iyah, belajar bersosialisasi dengan teman, bermain perosotan kan musti antri, nah, di sanalah poin sosialisasinya. Bermain puzzle adalah belajar mengasah kreativitas dan lain-laian. Jadi, semua permainan itu adalah sarana belajar bagi mereka…

Intro sedikit mengenai judulnya, siapa tau ada yang nanya dalam hatinya, “Taman kanak-kanak kok sekolahan, mana paud lagi…”, jadi itu ya jawabannya :mrgreen:

Beberapa bulan yang lalu, saya lupa tepatnya, Maryam saya coba-coba kan masuk PAUD. Kebetulan ada PAUD di dekat kantor bupati persis bersebrangan dengan TK Kartini yang lumayan kesohor di sini. Secara alat peraga permainan, PAUD nya Maryam ini kalah jauh, tempatnya pun masih nyempil numpang kantor UPTD. Tapi, waktu itu setelah saya cari ke sana ke mari hanya ada satu ini PAUD nya, di seluruh wakatobi!

Ada juga terbersit ingin memasukan Maryam ke TK Kartini, secara kanfasilitas dan tempatnya mendukung untuk bermain 😀 . Tapi saya takut malah akan merepotkan gurunya, ya, itu pun kalo diterima. Karena ada rasa tidak enak saya enggan ke sana.

Di PAUD tersebut hanya bertahan dua hari kalau saya tidak salah ingat. Ternyata Maryam sama sekali tidak mau masuk ke kelasnya. Dia hanya mau main perosotannya saja! Di tegur sama guru TK malah njerit-jerit. Jadi, saya pikir kemungkinannya Maryam belum siap atau dia mungkin merasa kurang nyaman. Karenanya saya stop. Secara materi juga tidak rugi, yang namanya TK, Paud, Kelompok Bermain di sini masih sangat terjangkau, waktu itu saya bayar Rp10.000 untuk satu bulan. Tapi yah, harga yang dibayarkan memang sesuai dengan kualitas yang saya dapat 😦

Menginjak usianya 28 bulan Bulan Desember kemarin Saya kembali mencari PAUD karena kita rasa perkembangan berbahasanya sangat kurang. Sebenarnya kita belum tahu kenapa, tapi, sementara kita berasumsi Maryam ini kurang rangsangan. Salah satunya rangsangan berbahasa dari teman sebayanya. Selain ingin merangsang kemampuan berbahasa saya juga ingin melatih sosialisasi dan kemandiriannya.

Iya Maryam masih enggan disapa sama orang dewasa yang tidak begitu ia kenal. Padahal misal teman sekantor saya, tapi karena teman sekantor ini jarang bermain dengan Maryam dia enggan sama sekali disapa dan biasanya marah atau parahnya bisa menangis menjerit-jerit. Dia juga nemplok terus di saya, kayak perangko. Ke mana-mana bahkan ke WC! Anak ummi banget dah.

Karena hal-hal itulah memantapkan kita untuk kembali mencari PAUD. Tapi sayang tidak begitu saja ketemu. Akhirnya saya mencoba mengikutkannya ke TK dekat kantor. Paling tidak dia akan ketemu dengan banyak teman, bisa melihat mereka berinteraksi, dan membuat Maryam mau bermain bersama adalah hal yang melegakan.

Dan di sana Alhamdulillah Maryam mau main. Mungkin permainannya lebih banyak, temannya juga lebih banyak, dan lingkungannya luas. PAUD sebelumnya secara tempat memang sempit jadi anak-anak kurang leluasa bermain. Apalagi bagi anak seperti Maryam yang outdoor abis maunya ke sana ke mari lari-lari.

Hanya ia masih enggan masuk kelas konvensional, di mana berderet rapi kursi dan meja plus guru di depannya tak lupa dengan papan tulisnya. Kecuali di kelas kecil -di TK ini ada dua kelas: kelas besar usia persiapan masuk SD, 5-6 tahun dan kelas kecil usia 4-5 tahun- Maryam mau masuk itupun didampingin saya. Tapinya dasar anak-anak ya, bukannya memperhatikan guru ini anak malah main perosotan sendiri. Kadang ada juga anak laki-laki satu yang menemani main. Dan seremnya anak laki-laki satu yang sering nemenin Maryam ini sering di cap nakal oleh gurunya. Entahlah, mungkin hanya bercanda dengan kata “nakal”, tapi bagi saya, lah namanya juga anak umur di bawah lima tahun, normalnya pasti ingin main-main. Dan kata nakal di kamus saya pribadi masuk kata yag tidakboleh diucapkan kepada anak-anak.

Sayang tidak semua guru TK suka dengan anak yang tidak bisa diam dan tanpa sadar kata-kata seperti nakal, bodoh, meluncur tak tertahan. Maunya anak-anak menurut dan memperhatikan guru. Biasanya guru akan memuji anak yang diam dan serius memperhatikan dan kata-kata sebaliknya kepada anak yang sulit diatur. Dan hal tersebut kurang berkenan bagi saya sebagai orang tua.

Jujur, saya inginnya guru memperlakukan setiap anak didiknya berbeda. Maksudnya anak yang tidak bisa fully focus bukan berarti dia nakal atau bodoh kan. Bukan berarti juga anak yang tidak bisa diam itu sama sekali tidak memperhatikan. Karena lagi-lagi menurut saya, tingkat konsentrasi setiap anak berbeda-beda.

Karena banyak faktor terutama sekali di sekolah ke dua ini belum juga bisa di tinggal, saya berniat mencari sekolah lain. Paling tidak dua poin kenginan saya ada pada sekolahan yang baru, saya akan memindahkan Maryam. Dan iniah beberapa poin keinginan saya tentang sekolahan awal maryam:

1 . Anak-anak bisa bermain dengan leluasa (sosalisasi);

2 . Anak percaya dengan dirinya sendiri (menumbuhkan kemandirian);

3 . Tenaga pendidik memilik concern yang baik dengan dunia pendidikan, terutama memilik pemahaman bahwasanya masa bermain adalah masa pendidikan bukan pembelajaran. Misal membiasakan buang sampah pada tempatnya, berdo’a sebelum makan, makan sambil duduk, dan kebiasaan-kebiasaan baik lainnya yang harus dimiliki seorang anak untuk bekalnya nanti;

4 . Media bermain memadai. Terutama untuk merangsang anak dalam hal kreativitas ataupun kecerdasan berfikir;

5 . Keamanan dan kenyamanan sekolah.

Mengingat sekolah yang kedua memiliki area bermain yang cukup luas, maka saya ingin poin tambahan lain untuk memantapkan niat memindahkan Maryam.

DSCN1872

Nah, di suatu hari yang cerah dulu sekali saya punya memori tentang bangunan ini. Dan sekilas saya lihat papan namanya “PAUD…”, tapi untuk waktu yang lama saya lupa. Sebenarnya pas awal ingat saya pernah nyari tapi ya dilalah tak ketemu *belum rejeki   :-/

Hari kamis tanggal 7 Januari 2016 saya cari lagi dan berjodoh 😆 . Waktu itu jam sepuluh lewat, kelas sudah bubar. Ibu gurunya sedang istirahat persiapan mau pulang. Berbincanglah saya dengan Ibu guru Asma, masih muda, kesan pertama saya dia memiliki dedikasi sebagai pendidik. Dia pun menyambut saya dengan ramah dan menerangkan sistem PAUD di sana. Yang membuat saya langsung iyes adalah pernyataan Ibu gurunya:

“Di sini anak-anak diutamakan untuk tidak ditemani orang tuanya, biar mandiri, kami gurunya bertanggung jawab”.

Nah, ini dia yang saya cari *dalam hati tentunya 😀 * . Saya langsung bersemangat esoknya saya resmi daftarkan Maryam ke sana. Dan benar saja , ada juga orang tua yang menunggu adalah murid baru yang masih penyesuaian. Adapun Maryam saya langsung tinggal, menangis sih, njerit-jerit memekakan telinga tentunya, tapi saya sudah bertekad. Dan alhamdulillah drama hanya terjadi satu hari, fiuuhhh! Orang tua baru yang menunggu pun saya lihat tiga hari kemudian sudah tidak ada. Ada satu orang ding dan itu bersembunyi sama dengan teknik saya waktu hari pertama 🙂 .

Setelah berbincang dengan kepala sekolahnya, dan ada satu dua keberatan saya dengan kata-kata kurang baik seperti nakal dan bodoh supaya tidak digunakan yah minimal kepada Maryam. Dan jawaban kepala sekolahnya pun melegakan, “di sini kami berusaha tidak berbicara kasar kepada anak-anak: jangan, nakal, bodoh, kami hindari”. Alhamdulillah semoga!

Oh ya soal bayaran. Per bulannya Rp20.000,- dan biaya masuk Rp50.000,- . Melihat beberapa gurunya belum PNS dan menerima pendapatan yang tidak seberapa: miris. Bagaimana ya, biar mereka para guru yang belum PNS *saya lihat dedikasi sebagai tenaga pendidik bagus* agar bisa mendapatkan haknya secara layak? Dengan harapan mereka akan lebih giat dan bersemangat. Yah, walaupun dengan gaji seperti sekarang mereka masih giat, tapi, tetap saja saya sebagai orang tua yang menitipkan anaknya di sekolah tersebut merasa prihatin. Bagaimana sulit diaturnya anak-anak seusia Maryam, itu pasti sangat melelahkan.

Membaca artikel tentang pendidikan usia dini di Jepang, di mana pemerintah sangat memanjakan oang tua, murid, dan guru, kapan ya kita bisa seperti itu ❓ Apakah ada jalan lain yang bisa kita -para orang tua- lakukan untuk membantu sekolah-sekolah seperti Maryam di daerah agar lebih maju baik dalam segi tenaga pendidik, alat peraga, alat bermain, dan lain-lain pendukung? *ada ide???*

Karena harusnya setiap anak indonesia dimanapun berada dapat mengakses dan menikmati pendidikan yang sama baiknya dan sama kualitasnya. 😉 ❤