-117- Review Rice Cooker Philips hd3128

Bismillah.

Karena tulisan sebelumnya saya belum pakai jadi masih awang-awang sebatas harapan, kali ini saya mau share pengalaman setelah menggunakan rice cooker philips punya ini.

Detail yang di tulis di tempat saya belanja mulai dari inner pot yang pro ceramic, gagangan inner yang memudahkan pas mau angkat dari outer nya (bodi rice cooker), daya listrik, bodi luar yang kuat, semuanya saya puas. Alhamdulillah. Ditambah dikasih bonus 1kg beras organik itu semakin membuat saya senang gembira. Dan yang paling saya suka dia tidak ada penampungan air sisa menanak jadi aman dari bencana rembesan air yang kelupaan dibuang.

Nasi yang dihasilkan pun so far enak sama lah dengan rice cooker punya saya dulu. Menurut saya soalan yang ini tergantung beras yang dipakai dan penanganannya. Misal beras PB788 *ini merk ya* yang biasa saya pakai, dia akan lebih enak menurut lidah saya sekeluarga jika air yang digunakan lebihin sedikit dari kebiasaan.

Biasanya kan kalau nanak nasi air dilebihkan sebatas satu buku jari kan. Nah, beras yang satu ini lebihin dikit dari itu baru enak menurut saya. Di tambah daun salam atau jeruk atau serai mmm tambah mantap. Kata orang sini pakai garam biar enak gurih. Berhubung saya lagi diet jadi jauh-jauh dulu lah ya dari konsumsi garam berlebih. Sudah mah lauknya pakai garam ini nasinya ditambah lagi, kapan dietnya kaka…

Terus?

Dari bodinya yang gagah, dari dalemannya yang menjanjikan ternyata pas saya semangat menanak untuk pertama kali saya dibuat capek sama tombol nyala nya *plak!*. Itu si tombol yang dari luar terlihat besi pas dipencet rapuh sekali dan dia tidak seperti rice cooker saya yang dulu-dulu sekali pencet on untuk nanak nasi sudah. Ini saya harus berkali-kali sampai dia mengeluarkan bunyi klek tanda nasi sudah dalam proses tanak, sediiiih.

Kecewa untuk pertama kalinya dong? Gimana ya? Jujur sih iya, kenapa hal yang se urgent ini, tombol nyala kan vital banget, kok, seperti tidak mendapat perhatian lebih. Iya sih yang lainnya oke punya tapi kan sebel juga setiap kali mau nanak harus berkutat lebih dari sekali hanya untuk mencet tombol on off.

Menurut saya produk yang bagus itu harus memperhatikan sampai sedetail-detailnya dari perkara yang terlihat sepele sekalipun. Apalagi yang ambil porsi harus pake banget dipikirkan baik-baik.

Tapi karena hasilnya sejauh ini memuaskan oke lah tapi tetap saja tombol nyala itu harus diperbaiki untuk produksi ke depannya *philips kamu sebaiknya baca ini, beneran*.

Philips semoga kecewanya saya terhadap tombol nyalamu tidak berpengaruh terhadap performa lainnya. Semoga awet ya, aamiin.

Advertisements

-106- Memilih Rice Cooker yang Aman dan Awet Ala Saya

Di zaman serba canggih dan sibuk hari ini memasak nasi konvensional sudah banyak ditinggalkan. Walaupun kebanyakan dari kita *tentu yang pernah mengalami masa-masa nasi konvensional* sangat menyukai dan menginginkan nasi yang di masak konvensional tapi apa daya saya sendiri gak sanggup. Proses pengolahan yang membutuhkan banyak waktu dan tenaga saya menyerah. Yah, kecuali lagi senggang dan iseng nyari kerjaan boleh lah ya.

Dari kecil saya paling malas bantu ibu memasak *bandel amat gak sih* dan lebih malas lagi ketika adegan memasak nasi ini. Persiapan yang lumayan, mulai peralatannya yang harus bersih, kemudian berasnya yang belum di tapi *dibersihkan dari kulit ari yang tersisa*, kemudian di cuci sampai bersih menggunakan boboko *kita di kampung menyebutnya, wadah pencuci beras dari anyaman bambu*, dan setelahnya dikeringkan dulu, bukan yang benar-benar kering. Setelah itu siapkan perapian, masukan beras yang telah di cuci tadi ke dalam wajan yang alasnya rata. Prosesnya seperti membuat liwet tapi tidak sampai matang. Setelah airnya habis di aduk dan didiamkan sebentar untuk selanjutnya di tanak di dalam panci. Kalau di rumah saya, nasi setengah matang tadi dialasi kain berlubang untuk memudahkan ketika mengangkat nasi yang telah matang dari panci. Setelah matang pun belum selesai prosesnya karena harus didinginkan dengan cara di aduk-aduk sambil di kipas-kipas agar nasinya pulen dan siap untuk di santap. Proses yang melelahkan tapi yah sesuai dengan hasilnya. Nasi dengan proses seperti ini jauh lebih aman dan sehat, apalagi menggunakan tungku kayu bakar rasa tiada dua.

Old good story, sekarang mau tidak mau harus beralih ke cara modern. Untuk mengurangi tenaga dan waktu, mempersingkat proses untuk kegiatan lainnya.  Di rumah orang tua pun cara konvensional ini sudah lama ditinggalkan. Beralih ke alat canggih yang bernama rice cooker.

Pada awalnya saya membeli barang, pertimbangan nomor satu adalah harga: harus murah! Dan kualitas nomor dua. Kalau bisa dua-duanya itu sebuah keuntungan he he he. Hal yang seperti ini bisa di dapat kecuali kita membeli di black market atau barangnya KW *istilahnya KW super* tapi artinya tuh barang njiplak atau bisa juga karena ada diskon, penjualnya lagi berbaik hati, pedagangnya lupa harganya, atau ada yang kasih *apa pula*. Dulu saya gak peduli. Saya belum kepikiran tentang orang-orang di belakang barang tersebut. Orang-orang yang mencurahkan pikirannya untuk sebuah alat yang baik yang bisa digunakan dengan aman. Menghargai sebuah karya, itu yang luput dari saya, yang ada saya harus untung.

Akhirnya, kebanyakan dari barang yang saya beli tidak bertahan lama. Mungkin niatnya kurang baik kali ya. Tapi kalau kita gak sanggup, emang mampunya beli KW gimana dong? Emang tidak ada barang lain di kelasnya yang ori walau kualitas agak di bawah tapikan ori pastinya lebih murah kan? Tapi saya sukanya yang itu. Ya sutra lah ya, balik lagi ke pilihan masing-masing dan apa yang diyakini.

Balik ke pemasak nasi. Selama nikah empat tahun ini sudah dua rice cooker. Berarti rata-rat pemakaiannya dua tahun. Semua saya ganti karena nasinya menjadi kuning dan berbau. Yang pertama malah lebih parah, karena selain berwarna dan berbau bodi luarnya retak.

Dan ketika nulis ini saya lagi nyari-nyari rice cooker yang benar-benar aman dan sehat. Sementara saya masak nasi liwet dulu demi keamanan.

Karena ternyata penyebab nasi berubah warna dan berbau itu disebabkan lapisan anti lengketnya mengelupas dan bercampur dengan nasi yang kita masak. Hal ini merupakan salah satu penyebab penyakit kanker, na’udzubillah.

Beberapa hal yang menjadi focus ketika saya nyari rice cooker yang bagus *aman dan awet* berdasarkan pengalaman pribadi:

  1. Bodi nya harus kuat, kalau gitu saya akan cari yang stainless.
  2. Materi inner pot rice cooker mestinya menghindari yang anti lengket, so, saya nyari yang pro ceramic atau logam sekalian misal stainless.
  3. Yang bisa tahan lama memanaskan tanpa berubah warna dan bau, karena biasanya saya akan masak sekali dalam sehari.
  4. Watt nya rendah karena saya butuh dengan alat elektronik yang lain, 400 watt oke lah.

Itu sih tapi lumayan ya, apanya? Mihiiilll. Kan lagi-lagi ada rupa ada harga, ada karya yang baik tentu penghargaannya harus baik juga. Jadi, ayo lah siapa takut. Belum mampu, mari kita nabung dolo. Sementara masak nasi liwet yang cepat dan aman.

Setelah searching-searching saya jatuh hati pada Philips. Nomor 1, 2, 3, dan 4 kebutuhan saya terpenuhi, jadi apa lagi coba? Kalau dana sudah siap ya sudahlah daripada capek terus akhirnya ngedumel gak baik buat saya nya.

Saya sih selama ini percaya sama si Philips. Dia tahan lama dan kualitasnya oke punya. Di rumah pun yang merk nya Philips tahan banting dese. Mulai dari lampu yang awet sampai blender yang hebring. Harga, ya gitu agak mahal tapi kan, kalau di pikir-pikir sama saja dengan beli yang murah tapi sering. Mudah-mudahan kali ini pun saya tidak di buat kecewa untuk pertama kalinya, aamiin.

Harga rice cooker ini hampir 3 kali yang biasa saya  beli, tapi, bismillah semoga ini yang terbaik, aamiin. Ibaratnya kita membeli masa depan dengan harga sekarang, mudah-mudahan bisa awet bertahun-tahun, aamiin.

Penampakannya menjanjikan sih, saya suka, karena terlihat kuat dan tangguh.

magic-com-rice-cooker-philips-hd-3128-stainless
gambar di ambil dari tokoperabotan.com

Beli di mana?

Saya beli online karena wilayah saya yang lumayan jauh dari pusat perdagangan. Beli online saya perhatikan malah lebih murah karena ada free ongkir. Dan tempat belanja online fav saya adalah blibli. Saya suka saja karena sederhana desainnya. Cepat nyari dan paling penting gak sakit mata karena kan sudah mah kita natap layar tampilan yang gonjreng bikin pusing kan.

Kalau saya lagi rajin insyaAlloh saya akan buat review nya deh ya…

Semoga bermanfaat.