-145- Jauhi Perilaku Ini

Bismillah

Sudah lama tidak kumpul-kumpul ngaji, ada kurang lebih empat tahun seusia Maryam. Dulu mengaji pemikiran yang saya setuju tidak sama sekali menolak tapi rasanya saya lebih membutuhkan kajian ilmu. Selain itu saya juga tidak pede ketika hendak menyampaikan sesuatu tentang ide yang diemban, bukan karena sulit disampaikan lebih karena diri saya nya yang memang agak kaku dalam pergaulan. Alih-alih mendukung rasanya saya malah bikin repot.

Akhirnya saya mencari kajian online utamanya tang di unggah di youtube. Sayang waktu itu mungkin saya nya juga kurang serius selalu mental isi ceramahnya atau ngantuk, gak konsen lantas ditinggalkan.

Kemudian ke sini semakin banyak ustadz baru yang pembawaannya membuat kita ikut berfikir kemudian membenarkan.

Awalnya tidak sengaja di mobil Pak KTU diputar ceramahnya beliau. Gayanya bercerita tipikal orang sumatera dengan logat sunda membuat enak didengar, rasanya ringan dan mengena. Tidak berapi-api hanya bercerita menyampaikan sering diselipin kisah-kisah nabi dan para sahabat dengan gaya penceritaan seorang penulis. Saya tuh denger ceramahnya serasa baca movel Andrea Hirata versi kisah nyata. Enak banget didengar. Ustadz Hanan Attaki.

Kemudian karena di youtube jadinya kan muncul yang lain-lain, ketemulah saya dengan ceramahnya Ustadz Adi Hidayat yang berbeda cara penyampaiannya, lebih ke yang benar-benar belajar. Kita ya kalo dengar ceramah Ust. Adi harus siap dengan pulpen dan buku, harus pake banget nyater.

Awalnya saya tidak tertarik karena gaya ceramah seperti ini biasanya tidak masuk ke saya: ngantuklah. Tapi sekali dengerin ternyata asyik karena setiap membahas sesuatu langsung ia jawab pake dalil, ditulislah itu di papan semua dalilnya, masyaAlloh. Lebih dari itu yang membuat saya betah dengerin ceramahnya adalah ia selalu membawa kita untuk ikut berfikir. Mengaitkan satu masalah dengan sebab kejadiannya, sejarah yang ikut di dalamnya dibahas secara gamblang, dan ingatannya masyaAlloh.

Saya pernah membaca Api Sejarah, Ahmad Mansyur Suryanegara waktu kuliah dan hari ini saya hanya ingat sedikit garis besarnya. Ustadz Adi malah inget sama halaman-halamannya bahkan paragraf, masyaAlloh.

11 Desember 2017 saya ada mendengar ceramahnya membahas hal yang dibenci Alloh. Kebetulan saya lagi buka-buka buku dan ketemu ini. Pembahasannya mengena banget terutama saya yang kadang kalo lagi kumpul lebih sering keseleo lidah.

Jadi sebagai pengingat barangkali bermanfaat juga bagi pembaca di sini. Ada tiga perilaku yang dibenci Alloh SWT. Saya kurang cepat mencatat nomor-nomor suratnya, insyaAlloh nanti di update kalo mengulang.

1. 17:36 surat 17 ayat 36 : kabar burung, katanya, ngobrol yang gak jelas kebenarannya. Ini nih yang sering banget kejadian di emak-emak ☺️

2. Boros, menyia-nyiakan harta,menggunakan harta tidak pada tempatnya, termasuk membuang makanan ya…

3. Banyak bertanya tentang sesuatu yang sudah jelas. Ini mirip umatnya Nabi Musa, apa-apa ditanyakan padahal sudah jelas hukumnya.

Itu mudah-mudahan bermanfaat sebagai pengingat apalagi pas kumpul, jaga benar-benar hati dan lisan.

 

-120- Renungan

Ada orang yang memilih diam menghadapi masalah seberat apapun sambil terus berusaha. Ketika semuanya selesai seakan tidak terjadi apa-apa. Di sisi lain ada orang yang memilih berkoar kemana-mana seakan masalahnya yang paling rumit seakan hidupnya yang paling drama. Ketika semua selesai, “kamu terlalu banyak nonton sinetron, mau jadi hartis?”.

Tidak semua orang akan senang dengan apa yang kita lakukan. Bukan kewajiban kita juga memenuhi harapan orang lain terhadap kita. Makanya Alloh SWT kasih teladan Rasululloh dan para sahabat untuk jadi rujukan. Lupakan keingin orang lain, berusahalan mengikuti jalan kebaikan yang telah dicontohkan. Perkaran yang suka dan tidak, bukan urusan kita.

Ingin terlihat apa yang kita lakukan. Bahwa yang kita lakukan oke dan benar juga baik. Buat apa? Populer? Dielu-elukan? Apakah hidup seperti itu yang di mau? Kalau sudah populer lantas apa?

Melakukan sesuatu tanpa dilihat orang lain mungkin salah satu tantangan hidup terbesar yang harus dilewati. Membuat kita tidak terlihat agar semuanya memang dilakukan ikhlas. Ya bukan berarti yang terlihat tidak ikhlas 🙂

Happy reminder.