-48- Catatan BPS Kab. Wakatobi: Demo tentang KPS

18.12.2014

Mau mengabarkan hari ini kantor kita di demo oleh sekelompok pemuda yang menamakan dirinya sebagai pemuda barisan sultra (atau seperti itu kedengarannya, entahlah saya lupa persisnya). Di surat yang dilayangkan sehari sebelumnya tertulis demo akan dilakukan di tiga tempat: kantor bupati, BPS, dan Dinas Sosial dengan jumlah pendemo sekitar 50. Mereka mengusung tema ketidakadilan dalam pendistribusian KPS (Kartu Perlindungan Sosial). Sederhananya BPS yang mendata, Dinas Sosial yang bertanggung jawab menyalurkan melalui PT POS, dan bupati sebagai pemerintah yang mau tidak mau harus bertanggung jawab.

Saya sih biasa saja malah penasaran dan rasanya lebih excited. Mungkin ini kali pertama bagi saya merasakan di demo jadi yah gitu deh penasaran gimana si rasanya. Tidak ada rasa khawatir sedikit pun bahkan ketika teman-teman yang lain berbicara tentang demo anarkis di Sulawesi. Saya pikir tenang lah ada polis ini. Dan apa coba kata Pak Polisi, “Jangan takut kalau mereka anarkis merusak kantor paling kantornya baru lagi dan mereka yang berlaku anarkis masuk penjara, selesai”. Saking biasanya mereka berhadapan dengan kekerasan kali ya. Tapi jujur saya respect deh sama polisi yang kayak gini, berasa aman ada mereka. Terimakasih polisi di manapun kalian berada.

Tiba hari H, menunggu jam 10 kedatangan mereka rasanya waktu lambaaat sekale. Maryam sudah cranky abis secara jam 10 waktunya dia tidur. Duh please nak ummi mu pengen liat demo. Hehe. Dan di saat-saat terakhir mau pulang gak jadi dong mendengar pendemo sudah dekat. Dan benar saja tidak berapa lama se-regu polisi datang untuk pengamanan.

Wuih rasanya gimana gitu melihat polisis berkeliaran di kantor. Lebih dari se-regu loh (dari yang saya baca se-Regu itu sekitar 11 orang), mobilnya saja yang truk gede itu bukan mobil kecil semacam kijang terbuka. Waduh jangan-jangan rame nih demonya.

Tarrraaaaa…

Cuma semobil pick up pendemonya. Bisa dihitung jari. Ada sih motor yang ngikutin tapi gak sampe lah 50. Lagian itu motor bukannya menyemangati yang orasi, mereka mah cari tempat parkir teduh seperti tidak punya kepentingan cuma meramaikan arak-arakan. Otomatis yang persis di depan pintu pagar kantor cuma se-pick up itu terdiri kurang dari sepuluh orang. Ini mah lebih banyak yang jagain daripada yang beraksi.

Tapi teriakannya mak! Walaupun jumlahnya tidak sesuai yang direncanakan tapi orasinya menggebu-gebu sampai ada satu orator yang kecapekan di tengah orasinya. Dan apa dong yang diorasikan.

“BPS kembali saja ke pusat! tidak berguna di Wakatobi! Data yang tidak di analisis terlebih dahulu akhirnya orang mati pun dapat KPS!!!”. Jeger! Jeleger! Jedarrr!. Saya sih mau saja ya dipindahin ke pusat artinya ke jawa: pulang kampung!.

Sepertinya ini orator tidak dilengkapi dengan informasi yang mumpuni, itu kesan kita pertama kali mendengar orasinya. Hanya berbekal semangat kepedulian dan kemarahan. Dan kesannya bagi kita lucu. BPS memang pernah mendata kemiskinan tapi yang bertanggung jawab penentuan siapa-siapa yang dapat bukan kita. Lagian acuan data dari BPS yang diambil Tahun 2011 seharusnya sudah di update dan kalau kita lihat di website-nya TNP2K yang apdet bukan kita. Minimal kan mereka baca di web itu kan ya *maunya*.

Yah sudahlah toh kita sudah mempersiapkan diri memberikan mereka penjelasan. Ruangan pun sudah di setting se-cozy mungkin biar mereka yang panas bisa lebih tenang dengan suasana ruangan yang adem. AC di ruang rapat dan perpustakaan di nyalakan serentak untuk mendinginkan ruang tamu yang berada di antaranya. Air mineral pun disediakan. Berharap sekali kami bisa memberi penjelasan yang baik. Sebagai abdi negara kami berusaha sebisa mungkin melayani.

Saya sudah muter-muter dari ruang tamu ke halaman samping sampai dua kali untuk menenangkan Maryam yang lebih tertarik dengan keran air di samping halaman daripada pendemo dengan suara menggelegar. Bagi Maryam mereka sama sekali nothing. Oh my little girl…Dan tetiba mereka mengakhiri orasinya dan hendak beralih ke Dinas Sosial. Ternyata mereka tidak bersedia diajak masuk untuk berdiskusi minimal bagi kami hal tersebut terlihat lebih terhormat artinya kami menerima aksi mereka dengan baik. Ya sudahlah. Yang bikin bengong sejenak sebelum mereka benar-benar berlalu, mereka ngomong gini dulu:

“Ini baru awal ya BPS, tunggu aksi kami yang lebih besar. Hari senin. Di sini akan lebih ramai!”. Dan mereka berlalu meninggalkan kami yang bengong bukan bingung tapi tambah lucu. Sudah isi orasinya tanpa bekal pengetahuan yang cukup ini diakhiri dengan ancaman. Dan rakyat yang manakah yang mereka suarakan? Selain jumlah mereka yang sedikit, satu dari tiga oratornya adalah mitra BPS sendiri! *gelindingan*

Okelah kalau begitu kita tunggu saja hari sening mudah-mudahan mereka bisa diajak diskusi yah, itupun kalau mereka jadi datang. Kepedulian tidak dibarengi dengan kepala dingin sepertinya sulit dimengerti minimal bagi kami yang menerimanya.

-42- Kembalinya Rasa Itu

Boleh jadi hanya sedikit saja dari kita yang bersimpati dan berempati kemudian melakukan tindakan nyata. Di luar sana banyak anak-anak terlantar. Bukan saja terlantar karena tidak memiliki orang tua. Mereka yang terlantar dari nilai akhlak dan akidah.

Pernah suatu hari. Saya bersemangat membuka tempat pengajian untuk menampung anak-anak yang haus ilmu agama. Mulanya saya bersemangat, menyusun materi dan strategi agar mereka faham. Tapi, saya berhenti. Letih. Tiap malam mereka membuat keributan dan saya capek. Saya tidak melihat perkembangan yang signifikan. Mereka masih saja tidak berkerudung, mereka masih saja pacaran, masih saja ngomong kasar, dan hal lainnya yang sangat mengganggu norma kesopanan dan akhlak yang baik.

Pada akhirnya saya mungkin kecewa. Terhadap diri sendiri dan keadaan. Saya mulai menyalahkan para orang tua yang tidak mendidik anak-anaknya dengan baik. Para orang tua yang sama sekali tidak menjadi teladan yang baik. Malahan beberapa orang tua melakukan hal-hal yang tidak patut dicontoh seperti mabuk-mabukan. Dan mirisnya anak-anak itu ringan saja ketika membicarakan masalah minuman keras. Sama halnya ketika mereka membicarakan “tukang bubur naik haji”.

Tapi, siapa sih orangnya yang mau menjadi buruk? Para orang tua itu mungkin saja kurang menyadari bahwa apa yang mereka lakukan adalah contoh buruk bagi anak-anak nya sendiri. Jika sudah begini siapa yang salah dan bertanggung jawab?

Dibutuhkan orang-orang yang mau peduli. Orang-orang yang dengan ikhlas membimbing anak-anak itu syukur dengan para orang tuanya. Sekolah tentu saja seharusnya menjadi gerbang kedua setelah gerbang pertama (keluarga) gagal. Dan jika sekolah juga sulit melakukannya maka kita butuh lebih banyak lagi orang yang peduli dengan nasib anak-anak itu.

Bukankah anak-anak itu penerus generasi kita? Walaupun mereka bukan anak-anak kita bukankah nantinya mereka adalah teman dari anak-anak kita? Dan lingkungan adalah salah satu faktor hebat yang bisa mengubah perilaku seseorang. Jika lingkungannya baik maka insyaAlloh anak-anak kita juga baik. Pedulilah dengan mereka karena mereka akan menjadi bagian dari kehidupan anak-anak kita.

Saya menyesal karena telah berhenti dan saya ingin memulainya kembali. Entah bagaimana caranya. Bertemu mereka di jalan dan masih menyapa hangat, betapa saya merasa sangat bersalah. Mereka begitu polos. Mereka sangat menghargai siapapun itu guru mereka. Dan saya menyerah begitu saja karena kepolosan dan kenakalan masa kanak-kanak. Tidakkah saya juga pernah menjadi anak-anak dan dianggap nakal sama orang dewasa? Padahal saya merasa tidak nakal. Sulit memang sebagai orang dewasa memahami jiwa anak-anak selain sabar dan sadar bahwa mereka masih kanak-kanak dan polos.

Saya menyesal karena telah begitu egois memperlakukan mereka di tempat yang salah di pandangan saya. Saya tidak menyadari bahwa keegoisan saya sendiri lah yang menganggap bahwa saya benar adalah kesalahan itu sendiri. Saya keliru karena menganggap mereka tidak akan pernah berubah. Saya keliru besar. Karena terbukti walaupun mereka seperti tidak mendengarkan selalu saja ada yang nyangkut dalam ingatan mereka. Tidak ada yang sia-sia. Walaupun kita merasa sia-sia yakinlah tidak. Toh tentang hasil bukan urusan kita.

Ah, saya rindu dengan kalian anak-anakku. Walaupun ribut dan nakalnya kalian di mata saya waktu itu tapi kalian tetaplah anak-anak.

Tidak pernah menyangka bahwa saya akan kembali merindukan mereka. Merindukan mengajar mereka lagi. Dan satu hal saya sangat bersalah karena telah menyalahkan para orang tua. Para orang tua yang yah mereka pun perlu bimbingan. Para orang tua yang kurang pendidikan. Apakah kita tega membiarkan anak-anak mereka sama dengan mereka? Apakah kita tega masa depan tidak pernah menjadi masa depan bagi mereka? Dan apakah kita tega melihat masa depan untuk anak-anak kita sendiri di tengah lingkungan yang kurang kondusif karena salah satunya kekurang pedulian kita sendiri?

Sama halnya saya tidak pernah menyangka bahwa akan tersadarkan gara-gara menonton film “Betapa Anehnya Negeri Ini”. Sebuah film anak negeri yang mengisahkan anak-anak jalanan yang terlantar. Bagaimana seorang sarjana muda menemukan mereka dan mulai membimbing mereka ke arah yang benar. Dan saya tersentak bahwa anak-anak itu masih polos. Tinggal bagaimana kita mau mendidiknya.

Kalau kamu mulai jenuh menonton film-film barat yang katanya berkualitas itu. Saya anjurkan tonton film ini. Film yang tidak perlu sensor. Film yang penuh makna. Dan itu buatan anak negeri. Saya tidak tahu harus menulis apa. Tapi, satu yang pasti setelah menonton film ini saya tergerak untuk menulis dan mulai peduli lagi.

PS  kalau kamu peduli dan sedang jenuh maka saya hanya ingin katakan bertahanlah…