-170- Edisi Jalan-Jalan

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Sudah dua tahun kita sekeluarga di jawa. Belum ke mana-mana. Belum pernah menyempatkan diri berjalan-jalan melihat tempat rehat di sekitaran sini. Jalan-jalan kita baru sebatas shopping. Dan urusan kantor, tentunya.

Nah. Tumben banget nih hari ini. Masih anget. Kita sekeluarga jalan-jalan sore. Mengunjungi satu tempat yang jaraknya kurang lebih tiga puluh menit.

Tempatnya sangat antik. Seperti melintasi lorong waktu bagi saya. Lokomotif tua. Bangunan tua khas orang belanda di jawa. Dengan teras yang digunakan sebagai ruang tamu itu. Dengan jendela-jendela yang tinggi. Halaman yang luas. Dan cat yang putih. Ah, saya sangat suka ini. Selalu senang dengan hal-hal berbau nostalgia. Kota tua di Semarang itu: saya suka sekali.

Tapi di sini. Saya cukup sedih. Saya teringat manufactoring hope nya Pak Dahlan. Saya ingat dulu ia pernah membahas pabrik gula yang mati suri. Tapi waktu itu di sini masih hidup. Kali ini telah pula mengikuti pendahulunya. Ikut mati suri juga. Tidak ada lagi kegiatan sejak 2018. Sayang sekali.

Saya ingat pernah menonton film dokumenter pabrik gula jatibarang ini. Yang buat anak-anak BSI. Masih bisa kita lihat di you tube. Waktu itu masih hidup Tahun 2017. walaupun nafasnya satu dua. Masih terlihat banyak pegawainya. Yang rendahan tentu saja sangat berharap pabrik gula ini terus lanjut. Jika ini habis, habis juga mereka.

Rumah-rumah tua itu berjejer sepanjang jalan Brebes menuju Kabupaten Tegal. Cantik. Sepi. Suram. Meninggalkan semua kejayaan masa lalu. Entah siapa penghuni pertama dan terakhirnya. Tahun berapa rumah-rumah itu terakhir dihuni. Tahun berapa pertama kali dihuni. Ah, saya tidak memiliki insting wartawan rupanya. Saya tidak behenti dan bertanya. Saya hanya memotret. Tapi saya juga tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Kosong. Sepi saja.

Ini yang paling menarik bagi saya…

Saya selalu ingin memiliki rumah seperti itu. Bisa menerima tamu di teras. Ngobrol sambil menikmati semilir angin. Menikmati hijaunya tanaman di pekarangan rumah. Menyapa orang-orang yang lewat. Saya memang harus tinggal di pedesaan. Di mana kita bisa mengenal semua orang. Dan mereka mengenal kita.

Rumah-rumah tua itu kita hanya melintasi. Tujuan kita adalah pabrik gula. Pabrik Gula yang dulu pernah menjadi penggerak ekonomi di banyak tempat. Salah satunya di sini: Kecamatan Jatibarang. Bangunannya masih berdiri tegak. Besar-besar. Luas bukan main. Beberapa tahun yang lalu. Ketika kita masih di Sulawesi. Corong-corong pabrik gula ini masih mengepul meski terbatuk-batuk. Tapi suaranya masih bising. Masih ada nafas. Tahun ini sama sekali tutup. Benar-benar mati suri. Entah kapan dan di era pemerintahan siapa akan terbangun kembali.

Beberapa areal menjadi objek wisata. Seperti rumah administrateur. Yang disebut mbasaran itu. Karena rumahnya yang besar dan penghuninya yang tuan besar.  Kini dijadikan museum. Satu saat saya harus melihatnya.

Pabrik-pabrik hanya diam begitu saja. Dan taman-tamannya yang luas kini berubah fungsi menjadi tempat berkumpul warga. Bayar. Entah siapa penggagasnya. Seribu saja untuk masuk ke sana. Ada taman dan air mancur. Ada loko. Ada ayunan daya tarik buat anak-anak. Dan ada sebuah pohon besar yang dibuatkan jembatan besi untuk mencapai atasnya.

Berikut adalah hal yang bisa kita temukan. Jika masuk ke halaman luas. Bayar seribu. Dulunya adalah tempat rapat. Gedungnya masih megah.

Tangga dan jembatan yang menuju pohon besar. Dilihat dari bawah.
Di atas jembatan menuju pohon besar.
Loko penarik kereta tebu.
Air mancur di halaman yang sangat luas.
Dan ini dia gedungnya. Tulisannya: Balai Pertemuan.

Langit mulai merah. Sebentar lagi adzan magrib. Kita harus segera pulang. Maryam pun harus mengaji.

Sampai ketemu di pabrik gula lainnya.

Advertisements