-200- Kita Ketemu Lagi

Bismillah…

Desember 2016 pamit ke Provinsi Sultra. Desember 2019 kita bertemu kembali. Tiga tahun. Time flies…

Beberapa bertemu. Banyak yang tidak. I missed all the things.

Pertama kali kerja. Pertama kali bertemu dan belajar dengan orang-orang ini. Saya yang masih polos. Tanpa pikiran apapun selain bagaimana saya bisa bertahan jauh dari keluarga dan pulang tidak dalam waktu sebulan dua bulan. They really saved me.

Saya bukan orang yang bisa keep in contact tanpa bertemu. But i keep them all in my heart in my deep heart. They’ve never gone. They always here …

Makanya ketika bertemu seperti ada sesuatu yang keluar. Seperti rindu yang tak pernah kusadari. Ia keluar begitu saja melihat kawan di tiga tahun yang lalu. Aku mengingat semuanya. Kebaikan semuanya. Keramahan. Dan persaudaraan yang ditawarkan. Mereka sangat hangat.

Tapi sayang. Tak sempat bertemu dengan ibu yang boleh dibilang ibu di rumah besarku dulu, sultra. Pertama kali magang di tempat beliau. Suaranya, gesture nya, tak mudah orang lupa. Iya dulu, beliau di bidang sosial. Ah, ruangan lama itu dengan aroma kertas hijau kuning kembali memenuhi kepalaku. Suara-suara yang memenuhinya. Ah…

Saya beruntung pernah bertemu dengan semuanya di sana. Karakter keras hanyalah cover dari kelembutan dibaliknya. Dan lagi, kerasnya mereka sebenarnya sangat menarik untuk didengarkan dan diperhatikan. Kalau pernah membaca tulisan Arham Kendari. Seperti itulah menariknya.

Semoga Alloh SWT akan mempertemukan kita kembali di waktu dan tempat yang baik. Aamiin.

Sampai bertemu kembali ❤️😊

-188- Rest Area Banjaratma: Antara Nostalgia dan Harapan

Bismillah.

Haiii ketemu lagi di edisi jalan-jalan. Keluarga kita emang kalo jalan masih yang dekat-dekat. Di sekitaran. Pengen sih jauh sekali-kali. Tapi, kok ya rasanya belum merasa harus apalagi penting, hehe. Kita tuh kadang merasa gak enak hati kalau hanya jalan buat bersenang-senang. Bukan salah. Tapi emang kita gak biasa. Jadi sekalinya jalan-jalan yang jauh itu biasanya sekalian. Sekalian ini sekalian itu😄

Sore di hari sabtu. Setelah rumah tenang. Setelah bocah-bocah pindah bermain ke rumah kaka ipar. Kita bersiap. Saya yang duluan rapi, jemput Maryam.

Perjalanan dari rumah ke Banjaratma kurang lebih lima belas menitan. Dekat khaaaan…Maryam pun tidak sampai ketiduran.

Lokasinya itu, setelah Pasar Banjaratma. Persis di saluran air peninggalan Belanda kita belok ke timur. Ini dari arah selatan ya bukan dari jalan tol pejagan-pemalang. Nah dari sana, sudah keliatan rumah-rumah jadoel yang masih kokoh sebenarnya. Cuma ya gitu, gak terawat. Seratus meter apa kurang ya, pokoknya dekatlah, setelah kita belok itu. Di sebelah kiri, sebelah utara, ada gada-gada. Saya lupa tulisannya apa. Tapi di sana ada gada-gada plus tempat satpam yang usang. Kita masuk saja tuh. Nanti akan disambut oleh beberapa laki-laki yang bertugas menjaga parkiran. Kita dikasih semacam karsis parkir seharga Rp3.000,- Dan itu sekaligus tiket masuk.

Sementara itu, jika kita masuk lewat tol pejagan-pemalang berada di km 260B. Saya belum pernah. Tapi kayaknya aksesnya lebih mudah karena lebih jelas terlihat.

Pertama kali saya ke sini tuh sekitar akhir 2016 atau awal 2017. Saya masih ingat, waktu itu, rumah-rumahnya masih cukup bagus. Bahkan ada air mancur besar di pekarangan salah satu rumah. Dan air mancur itu yang terus tergambar di kepala saya ketika mengingat komplek perumahan pabrik gula. Itu semacam simbol kemakmuran bagi saya. Kejayaan. Dan kini itu tak nampak. Bekasnya sekalipun tak ada. Di halaman perumahan yang berjejer di sebelah barat dari utara ke selatan itu tinggallah puing-puing kenangan kejayaan masa lampau. Kalo di video jadi sedikit seram karena terlihat asap. Memang terlihat beberapa titik bekas bakar-bakar di sepanjang rumah. Walaupun begitu, rumah-rumah masih berdiri, kalo kain mah compang camping. Bolong di sana sini. Pabrik gula riwayatmu kini🙁

Sebelah timur rumah ditanami tebu. Mungkin untuk memasok pabrik gula (PG) yang masih beroperasi di Pangkah. Karena di Brebes ini dari tiga PG sudah habis semuanya. Terakhir yang berhenti beroperasi yang di Jatibarang. Kini menjadi agro wisata. Sedih sebenarnya. Saya pernah ke sana untuk survei. Dan ngobrol dengan manajernya. Nanti insyaAlloh saya post. Ceritanya agak menyesakkan, antara harapan dan kenyataan gitu.

Saya takjub dengan area PG Banjaratma ini: luaaaaasss. Tak terbayangkan betapa hebatnya dulu di sini. Menurut sumber yang saya baca luas keseluruhan mencapai 11ha. Di mana 5ha digunakan untuk area UMKM. Kemarin saya ke sana sudah lengkap. Fasilitas seperti masjid, toilet umum yang modern, tempat kulinari yang lumayan lengkap, SPBU, sepertinya sudah lengkap. Ditambah dengan wisata cagar budaya, tentu menjadi daya tarik tersendiri. Kalian yang sempat mungkin perlu mencobanya. Apalagi yang dulunya pernah mengalami era PG ini masih aktif, perlu banget ke sana dan rasalan sensasinya.

Entah kenapa suami saya malah kecewa. Dulu waktu dia SMP masih mendapati PG. Dia teringat sering menumpang kereta tebu yang melintas ketika pulang sekolah. Entahlah masa kecil saya jauh dari yang namanya kemajuan budaya. Katanya dulu itu di sana ramai. Ramai dengan pekerja. Pabrik yang mengepul. Hangat dan hidup.

Di bangunan itulah pusat belanja sekaligus wisata cagar budaya. Dulunya itu adalah pabrik. Pabrik dalam arti sebenarnya. Di dalam masih ada sisa-sisa bekas pabrik. Tidak banyak dan belum menggambarkan mekanisme kerja pabrik jaman dulu, menurut saya sih. Yang masih sangat terasa tempoe doeloenya itu adalah bentuk bangunannya.

Pintu dan jendela yang tinggi dan besar sebagai ciri khas bangungan Belanda.

Masuk ke dalam kita akan disuguhkan dengan berbagai macam variasi jajanan buat oleh-oleh atau sekedar buat makan-makan. Suasananya pas kemarin kita ke sana sekitar jam lima, tidak begitu ramai. Kebanyakan penduduk sekitar yang jalan-jalan. Oleh-oleh khas brebes seperti telur asin berbagai olahan, bawang merah, dan berbagai kerajinan ada di sini. Makanannya juga lengkap. Hampir semua brand warung makan terkenal di brebes ada di sini, sate pun yang dibakar kayaknya ada.

Kayak gini suasananya.
Ini salah satu spot yang lumayan rame. Kelapa muda sih yang narik banget.

Kalau gak begitu lapar pilihan camilan yang tidak mengenyangkan namun bisa buat badan melar bisa jadi pilihan🤭 Seperti yang saya coba: tempe mendoan. Enak. Daya tariknya bukan mendoan sebenarnya tapi air kelapa muda. Itu yang bikin pengen nyoba. Tapi ya gitu kalau ada minuman berasa aja ada yang kurang, hehe. Air kelapanya seger. Dan pastinya masih muda. Bukan judulnya saja kelapa muda tapi isinya harus dikeruk pakai benda tajam. Ini tuh dawegan kata orang sunda, degan kata orang jawa.

Sebelum kita ngemil kita keliling dulu. Kalau menurut saya jangan terlalu over estimate. Takutnya kecewa. Yang bener-bener masih gaya jadoel itu bangunannya. Selebihnya ya seperti yang sering kita temui stand makanan di mall-mall atau di tempat keramaian yang lain. Dan ada satu kereta tebu yang di pajang di halaman sebelah timur. Dekat masjid.

Yang tersisa dari pabrik gula itu sendiri mungkin gambar di bawah bisa banyak cerita. Karena saya gak ngerti. Menurut saya itu hanya susunan batu bata. Entah dulunya buat apa.

Di luar bangunan pabrik yang masih kentara kunonya adalah dinding yang dililit tetumbuhan. Ini juga lumayan buat foto-foto. Selain juga bakal kita dapati kereta tebu yang dijadikan pajangan dan reruntuhan yang dibiarkan begitu saja.

Spot kereta tebu itu yang paling instagramable makana paling ramai. Foto-foto memang sudah membudaya🙂 Coba saja kamu ke tempat baru kalau gak gatel kepengen foto; hebaaaaaatttt….

Dan bangunan baru penunjang rest area seperti masjid dan spbu berada tepat dekat jalan masuk dari arah tol.

Yes. Itu jalan-jalan kita sore sabtu ini. Kesimpulannya, oke banget buat foto-foto. Buat jalan-jalan melepas penat penduduk sekitar. Dan tentu saja tempat istirahat buat pelancong.

Ini juga menjadi lahan rejeki baru untuk penduduk sekitar. Setelah dulu kecewa karena jualan oleh-oleh turun drastis setelah adanya tol pejagan-pemalang ini. Okelah buat mengobati rasa kecewa. Sasarannya memang UMKM. Yang dulu bisa berjualan di depan rumahnya. Di depan jalan. Kini bolehlah dibilang lebih nyaman. Mungkin. Saya gak tahu, karena harga per stand nya kok mahal banget ya. Apa saya yang salah dengar. Atau mas-mas yang saya tanya menjawab salah. Entahlah. Katanya 14,5 juta per bulan. Bener gak sih? Ada yang tahu? Saya tanya ramai atau enggak, katanya lumayan. Tapi kok rasanya mahal banget ya🤔 Atau saya yang minim ilmu dagang kali ya.

Kalau suami saya kecewa karena ia bisa membandingkan jaman PG ini masih aktif dengan sekarang. Menurutnya, dulu itu lebih keren. Mungkin dari sisi industri. Gula kan termasuk kebutuhan utama. Rumah tangga mana sih yang gak pake gula untuk memanisi kehidupannya😜 Berarti ini usaha penting. Memegang kendali penting. Kalau negara bisa pegang kendali. Hebat. Suasananya juga dulu lebih elegan. Katanya. Ya namanya pengusaha besar sekelas pabrik gula tentu pegawainya dari yang atas sampai rendahan bangga. Ditambah bangunan-bangunan yang megah. Itu aset banget membuat kagum siapa saja yang berkunjung.

Saya sendiri? Saya berdiri di sana. Di pabrik gula yang besar itu. Seperti ada ruang kosong menghempas. Angin yang berdesir seperti terus mengingatkan pada semua artikel dan film pendek yang saya baca dan tonton tentang kejayaan PG di masa lampau. Bisakah ia kembali berjaya??? Kenapa kita hanya bermain di kelas mikro kecil menengah? Pemain besarnya siapa? Bukankah kita ini bangsa yang besar? Please jangan bilang saya meremehkan usaha mikro, kecil, dan menengah. Tak ada sedikitpun niatan seperti itu. Hanya saja kita pernah besar kenapa. Kenapa?

Mahal buk. Kita gak kuat revitalisasi mesin gula. Tapi percayalah dulu itu pernah ada yang mau dan siap bekerja untuk mengembalikan kejayaan masa lampau. Kita pernah berharap. Asa yang indah, paling tidak untuk para pegawai PG. Tapi orang seperti inipun tersingkir. Bayangkan jika kita bisa kembali seperti dulu. Jangan bilang tak mungkin. Bukankah kita pernah berada di bangku sekolah yang sama dengan pesan “gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”.

Arghhhh, saya jadi sedih. Semoga. Saya hanya berani berdo’a dan berharap. Sebagai masyarakat biasa. Mungkin hanya itu. Berharap ini tidak sekedar nostalgia yang indah. Tapi menjadi harapan untuk kesejahteraan. Mungkin nanti kita pun akan bangga dengan rest area ini seperti dulu pabrik gula nya. Aamiin.

Dan kumandang adzan magrib mengingatkan kita untuk berhenti. Bye…

-127- Semarang Pertama Kali

Bismillah.

Siapa sih yang tidak terpana melihat bangunan tua jaman belanda masih berdiri kokoh sepanjang jalan. Melempar jauh kenangan ke masa meneer dan noni-noni cantik Belanda. Saya jadi ingat novel tetralogy karya Pramoedya Ananta Toer. Salah satunya Bumi Manusia. Bercerita sosok Minke seorang pribumi bersekolah di HBS dan kemudian jatuh hati pada Annelies anak dari seorang Nyai.

Penggambaran di novel tersebut tampak nyata di kepala. Rumahnya yang besar, peternakannya, kereta kudanya, dan semua yang diceritakan bagai masuk ke jaman itu. Demi apapun saya sangat ingin melihat kondisi di masa itu.

Sedari berkenalan dengan novel-novel semacam bumi manusia saya selalu ingin melihat benda dalam bentuk apapun dari masa itu. Apakah itu bangunan, marka jalan, atau bahkan benda kecil sebangsaning pulpen, uang koin, apapun lah.

Dan Desember kemarin, berhubung saya dan suami harus menghadap ke kantor BPS Jateng. Namapun pegawai pindahan baru yah minimal ketemu dulu sama atasan kita di provinsi. Untuk pertama kalinya saya ke Semarang.

Seumur-umur saya tidak pernah membayangkan akan ke samarang. Kalaupun saya punya bucket list kota-kota yang ingin saya kunjungi maka Semarang tak pernah masuk.

Dalam benak saya, Semarang itu panas, gersang, dan saya agak males berkunjung ke tempat-tempat yang terik seperti itu kecuali tanah suci dan kota-kota di sekitarnya, wkwkwk. Jadi, sekalinya ada kesempatan ke Semarang ya, saya biasa-biasa saja.

Naik Kereta Api dari Cirebon. Urusan naik moda transportasi satu ini saya tidak menolak. Saya paling suka naik KA. Tempat duduknya luas, bisa bobo selonjoran dan bisa jajan. Katanya beli makanan di kereta itu sensasinya tak terlukiskan. Berlebihan memang, tapi kamu harus nyoba sekali-sekali beli makanan di KA. Saya sudah beberapa kali sih beli dan emang menyenangkan. Asik saja gitu.

Ohya satu hal KA kan mirip-mirip pesawat soal ketepatan waktu berangkat. Jadi mesti teliti dan rencanakan seefektif mungkin kalau tidak bisa jadi ditinggal. Saya kemarin hamper saja ditinggal. Alhamdulillah masih rejeki.

KA berangkar jam 7.01 WIB, dari rumah disopiri adek kita berangkat jam 17.00 WIB. Yah, biasanya kan Cikijing-Cirebon bisa ditempuh kurang dari dua jam. Jadi, agak santai sampai pada suatu titik jalanan mendadak melambat. Mobil di kanan-kiri padat. Ternyata jalanan ke arah Cirebon tak seperti dulu lagi. Kini tak ubahnya Jakarta.

Namanya masih rejeki adek saya pinter-pinter nyari jalan tikus sampai akhirnya sampai stasiun jam tujuh teng. Saya dan suami berlari langsung ke penjaga pintu masuk KA. Dan Alhamdulillah si kereta masih ada di sana. Masih ada kesempatan beberapa menit.

Petugas jaga amat sangat membantu menukarkan tiket online kami dengan tiket KA resmi dan menghubungi bagian dalam KA agar menunggu kami sebentar. Akhirnya kami berdua lari sekencang-kencangnya menuju gerbong yang tertera di tiket. Bukan main capeknya. Saya sampai salah masuk gerbong.

Padahal sebenarnya ya, tidak apa-apa masuk dari ekornya gerbong kalau semisal gerbong kita di kepala. Kan keretanya sambung menyambung. Jalan saja santai seharusnya di dalam kereta. Yah, begitu deh kalau lagi bingung jadi gak bisa mikir. Walaupun sudah diingatkan, “masuk saja Bu”. Tapi saya kayak yang denger gitu terus saja berlari. Sampai di kursi bukan main lelahnya emak-emak yang jarang olahraga ini.

Turun di Stasiun … kita naik taksi menuju hotel. Nah, waktu di taksi ini melewati kota lama dan masyaAlloh jejeran bangunan tua jaman Belanda melambai-lambai cantik ke arah saya. Ohhh ini toh Semarang yang tidak ada di bucket list saya, ternyata masyaAlloh cantik sekali kotanya, eksotis.

Besoknya kita ke simpang lima sepulang dari kantor. Dan bersih. Rapi. Kita bisa duduk-duduk santai. Kita pun pulang jalan kaki ke hotel. Jauh tapi senang bisa jalan-jalan di Semarang

Saya sempat beli siomay. Sebagai orang Jawa Barat ya pastinya tidak asing dengan namanya siomay. Eh, di Semarang ini rasa siomaynya jauh dari rasa yang saya kenal: manisss banget. Sudah s-nya banyak pake banget lagi. Rasanya ini bumbu siomay gula semua.

Dekat hotel ada yang jualan nasi kucing. Oke coba lagi. Enak. Tapi kalau disuruh milih saya mau nasi lengko dekat rumah mertua saja 😀

Nasi kucing ini ya karena porsinya amat kecil seperti makanan kucing. Lauknya macem-macem tinggal milih. Ada tempe, cumi, udang dan lainnya, ditambah bakwan atau gorengan lainnya. Ya oke lah buat yang lagi diet seperti saya 😉

Siangnya kita pulang deh.

Sampai Jumpa Semarang…

-126- Cerita Kepindahan

Bismillah.

Hallo….

Hmmm bingung mau mulai dari mana. Banyak cerita dan kejadian yang ingin saya tulis tapi satu yang pasti bingung yang mana dulu.

Saya pindah. Alhamdulillah pastinya bisa lebih dekat dengan orang tua dan keluarga besar. Besok kita tidak tahu. Bisa saja kembali merantau. Tapi, paling tidak kali ini kita sudah menentukan titik balik. Jika suatu saat nanti kembali merantau paling tidak kita tahu ke mana harus pulang.

Rumah orang tua akan tetap begitu tapi kita perlu juga tempat kan, tempat yang lebih kita, lebih pribadi, identitas diri, apalah apalah…

Ke mana?

Daerah suami: Brebes. Iya kalau ditanya saya maunya yang dekat dengan kampung halaman sendiri: Majalengka. Ya gimana di sana ademmmm. Setelah keluar dari rumah waktu SMA Tahun 2002 selalu dapat daerah panas. Ya kan kangen yang adem-adem tanpa perlu AC :green:

Mau flashback awal keluar rumah, sekolah di Majalengka yang agak panas, terus kuliah di Jakarta yang yah panas, dan penempatan kerja di Kolaka yang panas, terus pindah kerja ikut suami di Wakatobi yang panasss malah sempat dengar dari seorang teman: di Wakatobi ini matahari satu orang satu 😀 . Iya panas bo.

Dan sekarang alhamdulillah pindah ke Brebes. Kalau boleh saya bilang panasnya ini mirip-mirip Cirebon.

Cerita sedikit ya tentang kepindahan kita.

Ngajuin pindah sebenarnya sudah dari Tahun 2013. Dan sejak itu tiap tahun kita mengajukan surat pindah he he he… ya harus diperjuangkan dong kalau butuh. Kita ini emang butuh mengingat anak yang semakin besar dan orang tua yang inginnya kita dekat. Terus kalo nanti merantau lagi piye? nah yang kayak gini-gini tidak usah dipikirkan.

Akhir 2015 sempat hampir tembus surat pindah kita tapi belum rejeki. Dan tahun 2016 alhamdulillah akhirnya tembus.

Dan sekarang disinilah kami.Baru beberapa hari, masih perlu banyak beradaptasi dan satu, banyak euy pegawainya. Mudah-mudahan bisa jauh lebih baik, aamiin.

Dua Tahun di Kabupaten Kolaka yang tak terlupakan. Orang-orangnya, suasana kotanya, lautnya, makanannya, semuanya rasanya masih kemarin. Rasanya baru kemarin saya naik becak dari kosan ke kantor dengan jilbab hitam bunga-bunga. Dan hari ini saya merenungi itu semua, kenapa harus jilbab hitam bunga-bunga? 😀

Rasanya baru kemarin ketika usia belum menginjak 25 tapi dikira 17. Satu ini masih berlaku sepertinya 😛

Tahun 2012 ke Wakatobi ada rasa sepi yang menyayat, biasa efek lingkungan baru harus super adaptasi. Saya emang gitu kok orangnya, rada lama menyesuaikan diri dengan situasi baru atau malahan akhir-akhir ini saya bukannya beradaptasi dengan lingkungan tapi lebih ke menerima saya yang begini. Saya yang kadang lebih senang di kesunyian, mengamati orang satu persatu dan mencoba memahami semuanya dan kemudian pening sendiri ingin jalan-jalan ke gunung wkwkwk.

Di Wakatobi yang ternyata cukup panjang perjalanan membawa dan cukup sukses memaksa saya untuk belajar terutama menghadapi orang. Setiap manusia memiliki karakter berbeda-beda disanalah saya banyak belajar. Bagaimana menghadapi teman yang lagi esmosi, yang lagi sedih atau bahkan yang baik *yang ini bukan lagi ya*.

Perempuan lebih sering make perasaan ketimbang akal, hmmm menurut saya sih emang iya, kebanyakan kita ya. Tetapi karena itulah kita harus benar-benar belajar untuk tidak melulu main perasaan, adakalanya sesuatu itu harus dicuekin walau hati inginnya tak begitu 🙂

Senangnya saya di Wakatobi ini walaupun teman-teman ngobrol rata-rata adik kelas dan belum menikah tapi ya nyambung gitu, atau sayanya yang gak tua-tua 😆 Mulai ngomongin cita-cita, politik, jalan-jalan, bercanda gak penting, sampai bumbu dapur pun oke sama mereka. Tengkiu ya semuanya…hari-hari di Wakatobi penuh warna berkat teman-teman semua. Secara saya suka bingung kalau mau menyalurkan hobi jajan dan jalan-jalan. Jajan ya itu itu saja warungnya, jalan-jalan ya kalau yang mau lebih oke harus nyebrang dimana saya gak dapet izin selalu.

Hufff semua itu kenang-kenangan yang akan saya rindukan kemudian…

dscn2789

-95- Nostalgia

Bismillah.

Selalu ada tempat yang tidak akan pernah kita lupakan. Seakan sebagian diri tertinggal di sana. Selalu ada kenangan yang terus menyertai jejak langkah kita. Selalu ada rindu.

Kota kecil yang dulunya senyap kini tengah berusaha berdiri menyejajarkan diri dengan kota-kota kabupaten lainnya di Jawa. Sebelas tahun yang lalu. Sungguh waktu yang sangat sangat lama. Sebelas tahun yang lalu dengan seragam putih abu-abu, tas ransel, buku di dekapan yang entah kenapa selalu membuatku nyaman, dan sepatu warior hitam berlogo gajah, aku masih hilir mudik setiap pagi dan menjelang sore di jalanan itu.

Ada desir dingin ketika sekilas melihatnya kembali dari balik jendela mobil elf menuju Bandung. Ada rasa sunyi, muda, dan mimpi. Bersahutan silih berganti backsong di kepala dari mungkinnya peterpan, dongeng wayang, dan semua lagu itu mengingatkanku pada orang-orang. Orang-orang yang pernah singgah di masa itu. Masa penuh impian. Masa di mana acara radio sangat di tunggu dan menunggu diputarkannya lagu yang di suka. Masa itu, ah…

Nostalgia memang menyenangkan. Mengingat hari-hari di mana kia masih sangat belia, rasanya kangen. Kangen dengan semuanya. Dan di bawah adalah beberapa tempat yang berhasil saya potret sepanjangn perjalanan Cikijing-Bandung. Tempat-tempat tersebut memiliki kenangan tersendiri bagi saya 🙂

  1. Rumah besar misterius
DSCN1988
ini ambil nya sambil jalan, ngeblur tapi bagi saya ini mengembalikan kenangan masa putih abu 🙂

Ternyata rumah besar itu masih ada berdiri megah dan masih penuh misteri. Selalu di waktu dulu, setip melintasinya saya menatapnya lekat-lekat berharap ada penghuni yang muncul. Tapi sayang sampai saya lulus SMA belum pernah melihat orang di situ. Semakin misterius kan rumah besar kuno itu.

Karena masa itu adalah masa awal saya berkenalan dengan Detektif Conan dan Agatha Christie. Walaupun ceritanya kadang “aneh” tapi saya sangat menyukainya. Jadinya melihat yang aneh-aneh dan terlihat misterius itu “mengasyikan” untuk dipikirkan. Sayangnya saya lebih senang menjadi Ran ketimbang Sinichi 😛

Rumah itu yang pasti besar dengan halaman yang luas. Tetumbuhan besar sesuai usianya. Dan rumah itu pun dari gaya penampakannya mungkin seusia dengan tumbuhannya. Dulu saya menyebutnya “rumah belanda”. Entah ya, benar tidaknya, pokoknya rumah kuno selalu teridentik di kepala saya dengan rumah kuno zaman belanda 😀

Letaknya tepat di tepi jalan utama majalengka Jl. KH. Abdul Halim. Kalau dulu persis sederet dengan Yogya. Tapinya sekarang Yogya sudah pindah. Sederet juga dengan toko sepatu bata, lupa kemarin masih ada atau tidak.

2. Dulunya Yogya Toserba

DSCN1987

Sebelum Yogya saya masih dapat toserba mmm *saya lupa apa ya?* Terbit Toserba kalau tidak salah. Nah si toserba sebelum Yogya ini entah kenapa sepi pengunjung. Pas Yogya yang ambil alih langsung rame dan saya suka jalan-jalan ke sini bareng teman sekosan.

Eh, tunggu dulu, benar gak ya saya dapat Yogya *lupaaaa 😥 *. Tapi apapun itu Yogya atau sebelumnya saya pernah sangat senang sekali berkunjung ke sana. Tempat jalan-jalan satu-satunya buat cuci mata. Namanya juga perempuan lihat barang-barang baru dan bagus kan jadi seger lagi.

3. Alun-ALun Majalengka

DSCN1986
ini maksudnya depan alun-alun

Berhubung saya duduk di bangku sebelah kanan saya tidak dapat foto alun-alaun yang berada di kirinya. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan. Tapi, dulu saya dan teman kos-an pernah ikut senam di sini. Sholat di mesjid nya dan sempat ada kehilangan juga.

3. Jalanan itu

DSCN1991

Rumah Makan ini dulunya tidak ada. Tapi jalanan ini saksi bisu jejak langkah kami di masa muda. Rasanya ingin berjalan kembali di sana menuju sekolah. Berjalan cepat, menikmati hembusan angin pagi dan teriknya matahari di siang bolong. Melihat teman-teman lain berjalan bersenda gurau. Ya Alloh itu sangat lama dan hari ini do’a terbaikku untuk Maryam dan anak-anakku kelak, semoga masa depan kalian lebih baik dari apa yang di alami dan di dapat Ummi dan Abah, aamiin.

4. My Senior High School!DSCN1992

Dan semua kenangan itu…

Miss you a lot.