-30- Ijazah S1

Antara ingin mendokumentasikan segenap keberhasilan karena telah mengikuti standarnya WHO atau hal yang dianggap baik menurut ukuran sekarang dengan tidak, karena takutnya melukai beberapa yang mungkin tidak seberuntung saya. Galau. Tapi, setelah sembilan ini rasanya saya mulai mantap untuk terus menuliskannya. Karena ternyata saya pun tidak semulus yang dibayangkan. Beberapa memasuki bulan ke sembilan ini mulai bergoyahan tekad baja itu hoho…

1. Si popok kain
Delapan bulan sudah Maryam full popok kain. Saya masih cukup pe de akan menyelesaikannya sampai Maryam toilet trainning. Tapi apa daya, popok kain saya yang hanya 9 buah itu dengan satu yang sudah harus disimpan karena sudah tidak muat dan selalu bocor di pipisnya yang pertama (coveria petite) ditambah lagi musim hujan, akhirnya saya menyerah. Bukan kali ini pertama Maryam memakai pospak, tapi sebelumnya pada usianya 7 bulan pernah juga dipakaikan sebagai percobaan karena waktu itu Maryam rencananya mau dibawa nginep di hotel dalam rangka saya ikut pelatihan.

Waktu itu saya belikan pam*pers dan lumayan sih tidak bocor. Kali ini saya coba mampok dan benar saja semalaman tidak bocor *ini mah emaknya yang malas ganti popok ya*. Tapi yah itulah, saya tidak mau berargumentasi, saya hanya ingin bercerita bahwa Maryam sudah tidak full popok kain lagi, sedih? Hmmm, bukan sedih karena pakai pospaknya tapi sedih karena saya kalah dengan tekad saya. Tapi, bagaimanapun saya merasa sedih saya sudah memutuskan, insyaAlloh yang terbaik buat Maryam. Walaupun saya jualan popok kain, tapi itu barang ada di jawa, saya pikir mahal di ongkos dan ribet kalau harus dikirimkan ke sini. Jadinya saya putuskan Maryam selang seling saja pakai pospaknya. Malam pakai pospak, siangnya pakai popok kain. Tapi, kalau cuaca bagus saya usahakan pakai popok kain.

Saya sih tidak masalah pakai pospak, hanya terganjal tekad saja. Dulu, saya bertekad Maryam pakai popok kain untuk mengurangi pencemaran intinya go green. Kali ini, ternyata saya jatuh juga di pospak, tidak apa-apa. It’s oke saya tidak mau menjudge diri saya sendiri, saya sudah melakukan yang terbaik, insyaAlloh. Dan saya senang, karena saya yakin jika ibunya senang anak pun akan bahagia, aamiin.

2. MPASI homemade
Kalau yang ini sih sudah dari awal saya tidak murni homemade, mungkin hanya sebulan full homemade. Yah, itu karena sebulanan itu hanya puree buah. Dan Maryam suka dengan buah-buahan, terutama pepaya. Selanjutnya ketika masuk menu karbo dan protein, Maryam GTM dengan bubur-bubur saya. Sampai sekarang masih ada tuh bubur wortel dan tahu yang saya bekukan, mejeng anteng di freezer.

Karena hal itulah BB-nya si Maryam susah naik. Terakhir di posyandu BB-nya mentok di 8,1kg. Saya sudah bahas di postingan lalu, BB nya ini tergolong normal kok walaupun di bawah rata-rata sekitar nol koma sekian, belum merah lah. Jadinya untuk menggenjot BB saya kasih bubur milna, tapi seperti sudah saya ceritakan juga Maryam ini ogah-ogahan makan bubur. Saya siasati bubur rasa buah-buahan baru dia mau, itu pun kalau lapar banget baru deh bisa habis satu keping, padahal anjurannya 2 keping.

Tapi, sekarang ini Maryam lagi suka makan. Makan makanan kita, iya dia sudah pinter makan nasi, kuning telur rebus atau goreng, ikan, pokoknya makanan kami deh. Dia suka banget, alhamdulillah mungkin ini saatnya Maryam diperkenalkan dengan makanan rumahan dewasa. Dia sudah pintar mengunyah pakai gusi dan dikulum, maklum giginya baru dua *lucu kalau ketawa jadi inget si cepot*.

Nah, karena cerita itu saya mulai mantap untuk memposting beberapa yang menurut saya capaian, minimal buat diri sendiri. Karena ketika saya tahu ada ibu-ibu yang berhasil full popok kain atau full MPASI homemade, saya juga merasa biasa saja, saya pikir semua sudah di posisinya. Lagipula saya memposting ini kan buat kenang-kenangan, sukur-sukur ternyata bermanfaat buat yang lain…

Jadi saya sudah membuatkan Maryam semacam ijazah S1, karena Maryam lulus ASI exklusif 6 bulan sesuai yang disarankan WHO. Ini nih ijazahnya,,,*formatnya download dari sini*

s1

Bagus yah, jadinya semangat nih ngasih ijazah S2 dan S3, semoga bisa. Saya tidak kapok kok bertekad untuk sesuatu yang baik. Yang penting prosesnya, kita akan banyak belajar dengan proses itu. Tentang hasil saya terima apapun itu…tidak ada yang kalah atau menang. Lakukan yang terbaik, itu sudah cukup.

-24- MPASI Maryam 182 hari

Sudah 181 hari ternyata…

Adik ipar saya mengingatkan bahwa besok 3 februari tepat Maryam 6 bulan. Saya hanya iseng sebenarnya minta tolong adik ipar saya itu untuk menghitung kapan jadwal MPASInya Maryam. Lahir 3 Agustus dan saya sudah berencana Maryam akan MPASi pas di usianya 180 hari. Dengan pertimbangan Maryam kan lahir due date banget passss sesuai ramalan hehe. jadi 180 hari itu menurut saya sudah cocok untuk Maryam. Selain saya pun berusaha mengikuti panduan MPASI pada umumnya.

“jadi total berapa sampai Bulan Januari?”
“181 Ceu…”, dengan muka lempeng dan saya dengan lebaynya terkaget-kaget macam di sinetron-sinetron. “A….PA?!!!”.

Huwaaaa, begitulah saya kaget ternyata Maryam sudah melewati 6 bulan ASI ekslusive. Dan saya kelupaan. Sebenarnya bukan kelupaan betul “pembelaan diri”, saya sudah hitung jauh-jauh hari MPASI nya Maryam tapi apalah dikata di bulan-bulan penuh penantian itu saya lupa bahwa harusnya akhir Januari tapi di memori saya tersimpan akhir februari. Dan saya tenang-tenang saja sebelum adegan malam tadi. Padahal saudara-saudara Saya masih bingung dengan berbagai istilah per MPASIan, tepatnya saya masih bingung dengan berbagai metodenya. Ada FC lah, WHO lah, BLW lah, Puree lah, apalah dan saya langsung ubek-ubek file yang sudah saya simpen di laptop pun dengan file-file yang beberapa nyangkut di memori pas awal-awal baca tentang MPASI.

Dan sebelum saya sempat mengubek-ubek semua file itu, hari ke -182 sudah datang dan istirahat siang saya langsung ke pasar untuk mangga yang rasanya manis dan saya dapat mangga madu dari kapota. Kata adik ipar sih manis banget, ya udah lah saya percaya. Langsung diblend pakai blender bumbu dan hasilnya lembut. Saya juga minta irisan panjang mangga untuk dicoba diemut Maryam. Dan? Alhamdulillah Maryam sepertinya suka, soalnya sekalinya saya tarik tuh mangga dari mulutnya dia meraih-raih tangan saya mencari mangga. Terus yang puree nya saya suapin dengan garpu plastik bekas mie instan *saya belum persiapan alat makannya, ibu macam apa ya* dan alhamdulillah Maryam memang soleha *aamiin*. Dia sepertinya lumayan suka. Mudah-mudahan eseok dan esok acara makannya tambah lancar ya Nak. MPASI perdanaya Maryam adalah MANGGA MADU KAPOTA *peristiwa penting kudu dicatet*

Terus mengenai berbagai metode itu, saya camkan dulu sebelum saya faham bahwa saya tidak akan terlalu dipusingkan dengan memakai metode A lah B lah, saya akan mengalir saja. Dan saya yakin bayi pun memilki naluri untuk mengenali makanannya dan mengenai kebutuhannya. Tapi faham mengenai metode-metode tersebut menurut saya penting juga. Walaupun katanya mengalir saja tapi mengalir tanpa ilmu juga nanti kebablasan masuk air terjun gimana?

Baiklah ini dia yang saya fahami hasil dari ubek-ubek file terutama dari groupnya HHBF *terimaksaih banyak untuk group ini, tanpa group ini proses pencarian akan lebih memakan waktu, hayuk atuh gabung buibu*, simak baik-baik ya, saya akan menceritakannya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dan sejelas yang saya mampu he…

Metode-Metode…

Okey metode MPASI secara umum ada dua:
1. Yang disarankan WHO, tau dong lembaga PBB yang satu ini World Health Organization *biar saya inget saja*. Menurut WHO bayi sebaiknya dari awal MPASI sudah diberikan keberagaman makanan. Jadi yaitu dia, langsung dikenalkan pada semua jenis makanan sumber karbo, protein, vitamin, dan zat-zat lainnya. Dan disarankan untuk memberikan karbohidrat terlebih dahulu, dengan pertimbangan masih banyak bayi yang kurang nutrisi/ gizi.
2. Food Combining, nah kalo FC lebih menekankan pada pemberian bertahap. Pertama-tama kenalkan bayi pada buah-buahan terlebih dahulu dengan alasan buah memiliki enzim pencerna pati sehingga mempermudah kerja sistem pencernaan. Jangan kenalkan dulu dengan karbohidrat komplek semacam nasi dan makanan pokok lainnya karena tidak memiliki enzim pencerna pati sebagaimana buah. Terus tahap selanjutnya mulai dikenalkan dengan pati semacam nasi, kentang, dan makanan pokok lainnya. Dan yang terakhir protein karena proses pencernaan untuk protein digolongkan paling rumit.

No gula garam adalah hal yang disepakati dari kedua metode tersebut. Jadi, gampang kan nanti mengolahnya. Mangga tinggal blend, pepaya juga, alpukat, dan lainnya, tinggal giling sudah itu jadi. Terus kalau buat bubur hambar dong, emangnya bayi sudah bisa membedakan makanan yang enak atau tidak ya? Menurut saya ini adalah kesempatan langka untuk memperkenalkan berbagai jenis makanan sesuai rasa aslinya tanpa tambahan apapun. Adapun ingin memberikan variasi ya lebih kepada pemenuhan zat gizinya. Misal saya ingin memberikan bubur yang ditambahkan rebusan ayam *kaldu maksudnya* itu karena saya ingin anak saya juga tercukupi dari sisi proteinnya, begitu.

Terus dari kedua metode itu saya milih mana? Ya seperti kata Pak Harto saya mah nonblok. Saya memutuskan untuk menggunakan keduanya. Yang saya butuhkan sebenarnya bukan metode yang mana, tapi makanan apa yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh Maryam, that’s it. Dan melalui metode-metode tersebut saya jadi tahu sedikit-sedikit bahwa ada jenis makanan yang belum bisa diberikana. Semacam durian dan nangka, bayi belum bisa mengkonsumsinya loh diakibatkan keduanya memiliki kandungan alkohol dalam keadaan masak. Yang penting juga makanan yang disajikan terutama yang memilih buah sebagai MPASI pertama sesuai metoda FC pilihlah buah yang rasanya manis danmemiliki kurang serat semacam pepaya, alpukat, dan apel. Intinya jangan yang rasanya asam atau buah-buahan bergetah ya.

Terus selanjutnya mengenai cara penyajian MPASI, yang ini ada dua cara juga:
1. BLW atau Baby-Led Weaning. Saya bingung kok ada penyapihan ya? Dan dengan pedenya saya menafsirkan bahwa maksud penyapihan disini adalah (mungkin) bayi sudah mulai belajar untuk menyapih dirinya sendiri sejak awal MPASI melalui kebebasana yang diberikan untuk memilih, memegang, dan memakan makanannnya sendiri. Sepertinya si bener *maksa*. Intinya metoda BLW ini anak diberi kebebasan untuk memilih, memegang, dan memakann makanannya sendiri. Jadi, makanan disajikan supaya mudah dipegang anak, bisa dipotong kotak-kotak, panjang mirip stik, atau bentuk lainnya yang penting memudahkan anak untuk meraih dan memegang makanannya sendiri. Ada kekhawatiran tersedak si, karena kan itu makanan masih dalam bentuk utuh hanya dipotong-potong saja. Jadinya harus ekstra diawasi ya…
2. Aliran Puree, aliran yang ini kebalikannya BLW. Jadi makanan untuk anak tidak diberikan dalam bentuk utuh tapi dihaluskan dulu. Teksturnya pun diberikan bertahap, misalkan untuk awal MPASI diberikan yang agak encer selanjutnya agak kental (kalo pakai sendok terus dibalik makanannya kagak tumpah). Selanjutnya lagi diberikan dalam bentuk yang lebih bertekstur dengan cara disaring saja.

Kalau cara penyajian sepertinya saya pun nonblok. Tapi akan lebih sering memberikan yang puree secara kalau BLW belum tentu anaknya mau lagian umur 6 bulan bayi masih dalam proses menghisap belum siap mengunyah, giginya saja belum tumbuh betul *Maryam saja baru kelihatan mau tumbuh*. Jadi, kalau saya ya, lebih baik puree. Untuk BLW sendiri bisa dilakukan sebagai selingan ,yah, buat dia belajar pegang-pegang makanan.

Terakhir metode pembuatannya. Yang ini pun ada dua:
1. MPASI Homemade, secara namanya ya MPASI yang dibuat sendiri di rumah hihi. Intinya MPASI sedemikian rupa dengan usaha lebih dibuat sendiri oleh kita. Makanan yang diberikan pun masih segar dan yang pasti kita tahu kualitasnya.
2. MPASI instan, seperti sereal-sereal yang dijual di toko-toko, tinggal seduh jadi deh.

Pemberian MPASI instan populer ketika ibu-ibu baru dikenalkan dengan yang namanya kemudahan dan dianggapnya waktu itu modern. Terus makanan homemade alias makanan fresh yang dimasak sendiri bukan instan yang sekali kucur air hangat jadi, sebenarnya sudah muncul dari zaman dulu dulu dulu banget dan kembali populer ketika ibu-ibu mulai sadar bahwa makanan instan itu tidak sepenuhnya baik. Dan sekarang ini cara kedua inilah yang dianggap modern. Dan saya setuju. Simple sih alasannya, menurut saya, makanan yang kita olah sendiri kita tahu kelebihan dan kekurangnnya karena kitalah yang meraciknya. Apakah menggunakan bahan yang bagus atau tidak terserah pada pilihan kita.

Dan saya? Saya memilih yang kedua,yah, karena alasan sederhana di atas. Dan itu cukup bagi saya. Ditambah lagi kepuasan tersendiri karena bisa memasak yang terbaik untuk anak. Saya lebih menyukai pernyataan “lebih baik saya memberikan MPASI beku daripada MPASI instan yang saya tidak tahu bagaimana mereka meraciknya”. Kalau sudah begini kembali kepada niatan dan kepercayaan masing-masing, hehe…eh tapi saya tidak fanatik ya mengenai homemade ini sesekali ketika sibuk dan terpaksa mungkin saja serealia instan menjadi alternatif. Tapinya lagi saya akan berusah semampu dan sekuat-kuatnya untuk selalu memberikan MPASI homemade yang menurut saya lebih baik.

eh iya mengenai homemade ini sebenarnya cukup mudah dan bisa dibuat seperti instan. caranya makanan MPASI kita buat sekali banyak terus taruh di wadah-wadah bisa wadah yang khusus penyimpanan MPASI atau wadah semacam tupperware. wadah-wadah ini kita tutup rapat dan simpan rapih di freezer. Kalau mau diberikan tinggal hangatkan sampai suhu ruang atau menurut tingkat kehangatan yang diinginkan dan selesai, mirip yang instan kan?

Akhirnya saya adalah nonbloker sejati *bukan fanatisan orde baru ya*. Dan yang lebih penting Maryam pun harus diajari tata cara makan yang baik menurut Islam, berdoa sebelum dan setelahnya, duduk rapi, dan biar lebih akrab ngumpul bareng keluarga. Saya rencananya memberikan MPASI berbarengan dengan jadwal makan keluarga.

Mengenai duduk rapi, karena kita tidak punya dan tidak berniat beli highchair sementara Maryam duduk di fold up nya, jadi dia bisa tenang makan pun setenang ketika dahulu ia asyik memperhatikan kami makan *kasian ya ngeces kali dulu itu*

Terakhir mengenai perlengkapan MPASi. Bukan saya tidak mau membeli macam slow cooker, grinder dan sebangsanya *mau banget kali ah* tapi saya sadar diri mau dibeli dimana? Online? Ongkirnya bisa lebih mahal dari harga barangnya loh. Jadinya saya menggunakan perlengkapan dapur yang saya miliki macam blender alhamdulillah sudah punya kado nikahan dulu, ini blender bagus loh merk Ph*lips. Tempat menyimpan MPASI kalo sekali-sekali harus disimpan di kulkas, alhamdulillah juga ada tupperware pun hadiah nikahan. Terus sendok dan mangkok, nah yang ini baru saya beli tadi sore sepulang ngantor merk lusti bunny seharga 27.500, lumayan sudah dapet gelas minum. Ada yang lebih murah sih tapi saya prefer ke lustu bunny nya soalnya tempat bedaknya maryam pun merk itu, hehe…*kagak nyambung tapi saya percaya merk, alasannya sederhana, menurut saya barang dengan merk yang sudah mumpuni di bidangnya mereka memiliki standar kualitas tertentu sehingga barang yang diperjualbelikan memang sudah high quality. Yah, walaupun error itu selalu ada tapi dengan membeli barang bermerk saya berusaha mengurangi tingkat error ini. Semacam hape lah saya lebih suka beli hape yang merknya memang bagus di industri hape semacam no*ia, sa*sung, dibandingkan merk lainnya yang saya saja baru dengar kemarin. Tentang harga kan relatif dan menurut saya lagi sebandinglah, maaf ya jadi kemana-mana postingannya hehe*

20140205_000416
ini peralatan makannya, pengen upload barang lainnya tapi apa daya belum sempat foto-foto

Akhirnya saya yakin niat yang besar diwujudkan dengan komitmen yang luar biasa dahsyat semua itu mungkin.
Mari berMPASI ria…

Note:
#MPASI : Makanan Pendamping ASI menurut anjuran WHO harus diberikan pada usia bayi 6 bulan atau 180 hari. Mengingat kebutuhann zat gizi pada bayi umur segitu sudah lebih banyak.

#Belum bikin sertifikat S1 untuk Maryam nih…*pe er*