-171- Tanpa Tanda Jasa

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Hari sabtu pagi. Seperti biasa saya duduk anteng di depan kelas 1 SDN 3. Sekolahnya Maryam.

Minggu ini berlangsung ujian tengah semester. Saya sebenarnya kaget dengan pelajaran anak kelas 1 hari ini. Pelajarannya per tema. Ada tema mengenal diri sendiri, kegemaran, keluarga, dan kegiatan. Semuanya 4. Per tema ada sub temanya. Bacaan semua. Tebal lagi. Walaupun bacaan per halamannya tidak sebanyak novel tapi tetap saja semua itu full bacaan.

Hebat sekali anak jaman sekarang ya?Kelas satu sudah harus membaca semua buku tema itu. Anak teman saya yang di kota malah ikut les membaca pra sekolah. Katanya, salah satu syarat masuk SD harus sudah bisa membaca. Sudah seperti itu ya sekarang?

Di TK Maryam pun dulu ada kelas persiapan SD. Ada tambahan belajar membaca. Padahal dulu saya TK taunya bermain. Ibu guru TK membacakan dongeng. Bermain peran. Sambil bermain beliau menyelipkan pelajaran hidup. Harus antri. Membuang sampah pada tempatnya. Berbicara baik. Kami tidak merasa sedang diajarkan. Tahunya sedang bermain😊

Dulu. Boro-boro membaca buku. Kelas satu saya masih belajar membaca. Kertasnya berwarna coklat. Per halaman ada tulisan besar-besar. Hanya beberapa baris tiap halamannya. Yang paling saya ingat adalah ini budi, ini bapak budi, ini ibu budi. Hurufnya besar-besar berspasi pula.

Bu Yayah alm. Bu guru kelas satu saya di SD dulu. Suaranya lantang. Mengeja hampir setiap hari. Menulis huruf per huruf setiap hari menggunakan kapur. Begitu terus. Tanpa lelah. Saya tahu semua itu terbayarkan. Hampir semua kami pandai membaca ketika naik ke kelas dua.

Saya lupa dulu itu bagaimana kami ujian.

Anak saya ujian. Soalnya dua puluh. Lima belas pilihan ganda. Esai lima. Bagaimana coba kelas satu ini mengerjakannya? Kalau begini memang benar harus sudah pandai membaca dan menulis. Usia pun harus sudah tujuh tahun. Sebelum tujuh rata-rata anak belum begitu matang soalan belajar. Masih mau bermain.

Tapi Maryam jangankan tujuh enam pun belum. Sudah mau sekolah. TK nya ia tinggalkan setelah satu tahun lebih di sana.

Sekolah menerima. Gurunya pun begitu. Jadilah Maryam belajar setiap hari di SD. Ia terlihat cukup senang. Tidak benar-benar belajar. Nyatanya lebih banyak bermain. Belajar membaca dan menulis sekali-sekali. Dari jam tujuh masuk kemudian jam sepuluh pulang, hanya sejaman belajar yang belajarnya.

Gurunya sabar dan telaten. Mengajari anak muridnya yang masih bocah itu belajar. Setiap hari sejaman. Tidak lama. Tapi saya kagum. Maryam sudah mulai bisa membaca.

Buku tema tetap ada. Bertumpuk buku-buku itu di belakang bangku murid yang hanya empat belas. Bu Guru mengajari apa yang mampu diserap anak didiknya. Ia tidak memaksakan harus menguasai seluruh buku tema itu.

Saya terharu. De javu dengan guru kelas satu saya dulu. Kata orang, kebaikan yang ikhlas akan terpancar. Begitu mungkin yang saya rasakan dengan guru-gurnya Maryam.

Hari ini ada praktek keterampilan. Membuat mozaik. Dengan sabar Bu Guru mengajari semua anak didiknya sampai selesai. Tidak peduli ada yang nangis karena lupa bawa gunting dan lem. Ada yang berlari ke sana ke mari. Bu Guru tetap mengajari dengan sabar.

Kata gurunya kemudian, mungkin tahun depan mengulang. Karena umur belum cukup untuk didaftarkan ke sistem. Saya tidak terlalu khawatir. Karena yang penting bagi Maryam sekarang adalah kegiatan. Kebetulan bisa ikut SD. Kalaupun nanti bisa lanjut, saya bersyukur. Saya tetap mengalir. Mengikuti aturan mainnya. Selama Maryam senang mengikutinya.

Langit pagi ini di atas SDN 3 Sitanggal. Semoga kalian semua menjadi generasi unggulan. Menjadi manusia-manusia yang berahlak mulia dan bermanfaat. Semua jerih payah itu akan terbayar lunas. Aamiin.

Advertisements

-166- Lima Tahun Ini

Sekolah. Maryam baru saja lima tahun. Baru kemarin tanggal tiga. Tapi sekarang ia sudah di kelas satu SD.

Saya tidak berniat pada awalnya. Mau dua tahun Maryam malang melintang di pra sekolah. Sudah banyak kali TK dan Paud yang dicobanya. Hanya dua yang bertahan lama. Masing-masing satu semester. Sampai dapat buku raport. Satu di Wakatobi. Satunya lagi di sini.

Maryam dari semua sisi harusnya masih TK. Dia belum siap.

Awal tahun ajaran baru tiba. Dan Maryam masih mogok ke TK lamanya. Dia sudah sebulanan lebih tidak masuk. Saya sudah tanya guru-gurunya. Dari sana tidak ada apa-apa. Marymanya sendiri tidak cerita apapun. Dia hanya tidak mau. Mau kalau diantar ummi.

Kebetulan SD dekat rumah kekurangan murid. Saya jadi ingat Laskar Pelangi. Kalau kalian pernah baca atau nonton pasti inget waktu hari pertama sekolah kekurangan murid. Mirip itu. Jadilah Maryam masuk. Setelah diitung ada 12. Dan banyak yang seumuran Maryam.

Sekolah yang mencari. Sekolah yang minta. Jauh-jauh hari Maryam sudah diberi baju olahraga.

Awalnya saya cuek.

Tapi, daripada Maryam di rumah. Kalau anaknya mau. Bolehlah.

Hari pertama saya antar. Yep, ke SD. Waktu itu belum genap lima tahun.

Muridnya yang dua belas itu benar-benar masih bocah. Semua diantar. Sampai semingguan.

Gurunya seorang perempuan baya. Tanpa ekspektasi apapun terhadap anak muridnya. Dia cukup sabar. Untuk seorang guru SD. Dia tidak banyak menuntut.

Belum bisa menulis. Belum bisa baca. Tak apalah wong kalian mau belajar di sini. Jadi, nanti kalian akan bisa, insyaAlloh. Saya seperti membaca pikirannya.

Jam belajar pun hanya sekali. Sebelum jam sepuluh. Setelah jam delapan. Selebihnya anak-anak main. Tak ubahnya TK B. Yang berbeda: di sini tidak ada arena permainan.

Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda. Entah itu datangnya dari si anak sendiri. Orang tua ataupun lingkungan. Yang pada akhirnya kita sebagai orang tua berharap. Berdo’a agar jalan yang anak-anak kita tempuh hari ini adalah jalan terbaik dari Alloh SWT. Untuk masa depannya yang lebih baik. Harus lebih baik dari kita.

Walaupun kadang saya masih berpikir: sekolah saya dulu lebih baik secara infrastruktur dibandingkan Maryam hari ini. Berhubung ini jalan yang tersedia. Mari kita ikuti dulu. Dan amati selanjutnya.

Bismillah.

-147- Maryam

Bismillah…

Usianya empat tahun. Alhamdulillah komunikasinya semakin pesat. Sekarang ia sudah bisa bercerita kegiatan sehari-harinya. Kalo saya pulang…

“Ummi, ummi…enyon tadi doyan, sama mb bia, mb awa, mb titis, nada…nada jatuh ummi, nangis.” dan terus nyerocos apapun yang diingatnya. Saya menimpali, iya sayang, terus gimana…

Kira-kira artinya: ummi, ummi…saya tadi main, sama…

Waktu berlalu alhamdulillah kekhawatiran itu perlahan menyurut. Selidik punya selidik Maryam ini dulunya kurang sarana untuk berkomunikasi. Sementara di sini dia bisa bermain dengan siapa saja karena saudaranya banyak.

Bermain. Iya anak seusia dia memang harus main. Dari main inilah mereka belajar. Permainan pertama yang membuat saya sadar adalah bermain masak-masakan. Saya lihat Maryam sedang main dengan sepupunya dengan peralatan masak yang saya beli seharga tiga puluh ribuan. Mereka bermain jual beli. Maryam sebagai pedagang dan sepupunya sebagai pembeli. Saya perhatikan disanalah Maryam belajar komunikasi. Sepupunya yang terpaut dua tahun dengan Maryam terus bicara mengajak Maryam bicara, bukan ngajari tapi memang dia butuh jawaban Maryam.

“Maryam beli…”

“Beli…?” ini Maryam belum begitu faham dengan beli. Tapi sepupunya terus nunjuk-nunjuk, beli itu nih uangnya. Akhirnya Maryam ngerti dan mulai masak sate-satean.

Dia butuh main dengan sebayanya dengan teman-temannya.

Makanya sekarang dia TK saya tidak memaksa dia harus pintar menulis dan membaca saya biarkan saja dia main. Karena ternyata ketika di rumah apa yang gurunya bicarakan di TK dia inget tentu dengan pelafalan yang masih terbatas.

Usianya memang untuk bermain, bermain adalah belajar bagi mereka. Tapi sebenarnya kita bisa belajar dari anak-anak: melakukan sesuatu itu harus menyenangkan karena jika hati senang insyaAlloh ikhlas dan hasilnya insyaAlloh memuaskan.

-140- Maryam dan Komunikasinya

Bismillah…

Sudah lama tidak cerita perkembangan Maryam. Sudah empat tahun anaknya, sudah besar. Sekarang Maryam TK, dua menitan kurang lebih jaraknya dari rumah naik sepeda motor. Mulai menikmati pergi sekolah karena sudah punya teman. Temannya laki-laki persis seusia, tetangga desa. Temannya itu setiap hari diantar mamanya pergi sekolah. Jadinya, saya pun kenal dengan mama teman Maryam ini.

Ngomong-ngomong soalan TK, ini adalah TK ke enam bagi Maryam 😀 . Empat TK di Wakatobi dan dua di sini. Maryam pernah semingguan lebih sekolah TK di tempat lain selain TK yang sekarang. Alhamdulillah TK yang ini ada penitipannya jadi Maryam biasa dijemput dzuhur sama Om nya. Baru TK ini di desa kita yang punya sistem penitipan anak. Yah, namapun masih desa jadi pilihan sekolah tidak begitu banyak. Lain cerita kalau di ibukota kabupaten dimana peluang mencari sekolah plus penitipan itu besar.

Saya pernah cerita tentang speech delay di sini, gimana sekarang Maryam? Alhamdulillah setelah intens main sama sepupu-sepupunya dan bersekolah sekarang komunikasinya lumayan. Perkembangannya pesat, dari yang pertama kali ke Jawa masih satu arah sekarang sudah dua arah malah ngobrol. Tinggal menyempurnakan pelafalannya, semacam huruf R, L, G, dan K. Jadi, semisal menyebut namanya bukan Maryam tapi Mayam, Mba Bilqis jadi Mba Titis, Mba Bila jadi Mb Bia. Kalau diperhatikan Maryam belum bisa mengucapkan huruf-huruf yang harus memainkan ujung dan pangkal lidah.

Secara tahapan perkembangan komunikasi anak InsyaAlloh semua tahapan aman. Artinya, Maryam tidak mengalami apa yang disebutkan di sana seperti hilangnya kemampuan bicara pada semua tingkatan umur, Maryam masih bicara namun belum bisa jelas satu kalimat waktu itu. Jadi, kalau saya sebagai ibu menyimpulkan bahwa Maryam kurang rangsangan komunikasi atau bisa jadi syarafnya terlambat matang. Mudah-mudahan seiring berjalannya waktu komunikasinya akan semakin membaik, aamiin.

Maryam bukan tidak berkomunikasi sama sekali. Saya dan Abahnya berusaha ngajak bicara, tapi mungkin tidak seintens yang lain. Selain itu, di sana Maryam jarang sekali bermain dengan teman sebaya. Paling dalam sebulan sekali itupun jika beruntung kalau ada anak teman yang dibawa ke kantor. Pas sekolah TK sudah mulai membaik dan alhamdulillah terus membaik seiring waktu dan kepindahan kami ke kampung halaman si abah.

Rasanya waktu cepat sekali berlalu dari rasa khawatir yang sangat sampai ke titik ini. Titik dimana rasa khawatir telah berubah menjadi harapan. Jika dulu khawatir plus berharap sekarang berharap kali dua, alhamdulillah.

-134- Anakku Sudah Besar

Bismillah…

Sebenarnya akhir-akhir ini saya tidak begitu faham dengan perasaan sendiri. Semua rasa itu yang sering membuat ingin nulis *makanya isi blog kebanyakan curhat 😛 * sepertinya tumpul. Hari-hari rasanya lelah yang sangat, pulang kantor ba’da isya kedebruk aja tidur pules sampe sahur. Astagfirulloh…Ini bukan saya banget lah.

Pengen nangis sekaligus lucu, iya pagi ini. Banyak sebenarnya yang ingin ditulis dibagi dikenang tapi, menguap begitu saja. Saya lupa apa yang mau ditulis.

Paling inget yang muncul di memori, sore hari jumat kemarin pulang kantor. Seperti biasa kita boncengan, pas di depan toko baju yang cukup besar. Tiba-tiba saya teringat beberapa hari yang lalu saya belikan Maryam baju di swalayan terbesar di kota ini. Saya pede banget ini baju muat di Maryam. Secara baju bayi saja di dia masih muat kok.

“Mba ini nomor 1 maksudnya apa? untuk usia berapa biasanya?”, tanya saya pada si mba penjaga toko.

“Biasanya untuk usia 2 tahun Bu.” Katanya ragu terpancar dari wajahnya yang gitu deh.

“Ah, masak sih mba, gede dong anaknya…” Saya gak percaya, lha menurut saya emang gede gitu.

“Kan ukuran tiap anak beda Bu.” Tuturnya lagi. Tapi saya tetep gak percaya dong secara untuk ukuran dua tahun ya kegedean lah. Kira-kira saja kalo tiga tahun oke lah.

Jadilah saya beli walaupun si penjaga toko bilangnya untuk usia 2. Ini baju buat Maryam yang mana mau 4 tahun agustus besok 😀

Pulang ke rumah nunggu sepi saya cobakan. Maryam antusias sekali, “cantik, cantik…” sambil cengengesan terus nyium saya, ah, dirimu Nak sweet banget.

eng ing eng!

Bajunya yang ukuran 1 gantung aja di badan Maryam. Muat sih muat tapi gantung mak. Untuk beberapa saat saya bengong sambil berfikir hal yang membuat saya tidak kecewa dengan membeli baju ini. Gak papa lah kan masih bisa dipake gak gantung-gantung amat.

Saya tersadar ternyata Maryam sudah besar bukan bayi kecil lagi. Ya, dia memang masih bayi yang sama dan akan selalu begitu bagi saya…Bukan hanya itu saya terpukul karena lima bulan di Jawa, benarkan telah membuat saya lalai dengan anak sendiri? Sampai pertumbuhan fisiknya saya tidak perhatikan. Ya Alloh…

Jika pekerjaan memintamu over time saya harus kembali berfikir karena usia anak tidak akan pernah kembali sementara pekerjaan tanpa kita sekalipun ia akan terus berlanjut. Berlanjut dan berganti dengan orang lain kemudian kita terlupakan. Sebaliknya anak, keluarga, orang-orang yang kita sayangi meski kita lupakan kita tinggalkan untuk pekerjaan ketika kita kesusahan mereka akan selalu ada. Mereka tidak lupa, mereka tetap ada walaupun mungkin sebenarnya mereka tersakiti atas kelalaian kita.

Hal ini membuat saya terpikir setiap paginya ketika berangkat kerja, “ikut, ikuuut, ummiiii ikut…”, ah Nak i love you….

 

-113- Milestone

Bismillah…

DI usianya yang ke 3 banyak yang terasa sekali perubahannya. Salah satu yang membuat saya amazed melihatnya adalah kemarin.

Kemarin untuk yang ke dua kalinya saya melakukan perjalanan berdua saja dengan Maryam. Dulu ada saja di sepanjang perjalanan dia menangis bahkan dulu itu dia tidak mau duduk di kursinya. Sepanjang perjalanan di pesawat malah nemplok terus di saya. Dan iya saya pegel bukan main. Pernah juga dia tidak mau masuk ke dalam pesawat sambil jerit-jerit minta keluar *nguras keringet dan perasaan*.

Tapi itu dulu…

Sekarang tak sekalipun dalam perjalanan baik pergi maupun pulang dia minta di gendong. Antusias jalan sendiri, alhamdulillah. Gendongan pun menjadi tak berguna dan sepertinya akan segera dimusiumkan. Ya, karena selain tak di pakai bawanya pun jadinya menuh-menuhin barang bawaan.

Kemarin itu Maryam seperti ini:

  • Duduk manis di pesawat ala Maryam itu kaki diselonjorkan sambil buka majalah pesawat pakai ekspresi serius lagi baca plus sekali-sekali noleh ke umminya sambil ngasih senyuman super kiyut. Itu saya meleleh.
  • Menunggu di bandara ala Maryam adalah menikmati setiap menitnya sambil memperhatikan lantai bandara, duduk ngemper dan sesekali tiduran. Dan tidak peduli dengan orang banyak yang tak dikenalnya.
  • Menunggu baginya bukan masalah selama ada makanan dan minuman di bandara aman, alhamdulillah. Padahal saya sudah rempong sekali dikarenakan ada perubahan jadwal tiket sehingga harus mengurusnya dan itu lama menguras waktu dan emosi. Menjelang penutupan check in baru selesai itu tiket reschedule.

Perjalanan besar lainnya insyaAlloh akan datang padamu sehingga berbekallah dari sekarang. Semoga perjalanan selanjutnya lebih menyenangkan lagi, aamiin.

-90- Sekolahan awal Maryam

Kenapa disebut sekolahan? Karena di dalamnya ada proses belajar mengajar dan mendidik. Bagi anak di bawah lima tahun tentu belajarnya berbeda dengan anak Sekolah Dasar dan seterusnya. Bagi mereka bermain ayunan, perosotan, dan berbagai permaianan lainnya adalah belajar. Iyah, belajar bersosialisasi dengan teman, bermain perosotan kan musti antri, nah, di sanalah poin sosialisasinya. Bermain puzzle adalah belajar mengasah kreativitas dan lain-laian. Jadi, semua permainan itu adalah sarana belajar bagi mereka…

Intro sedikit mengenai judulnya, siapa tau ada yang nanya dalam hatinya, “Taman kanak-kanak kok sekolahan, mana paud lagi…”, jadi itu ya jawabannya :mrgreen:

Beberapa bulan yang lalu, saya lupa tepatnya, Maryam saya coba-coba kan masuk PAUD. Kebetulan ada PAUD di dekat kantor bupati persis bersebrangan dengan TK Kartini yang lumayan kesohor di sini. Secara alat peraga permainan, PAUD nya Maryam ini kalah jauh, tempatnya pun masih nyempil numpang kantor UPTD. Tapi, waktu itu setelah saya cari ke sana ke mari hanya ada satu ini PAUD nya, di seluruh wakatobi!

Ada juga terbersit ingin memasukan Maryam ke TK Kartini, secara kanfasilitas dan tempatnya mendukung untuk bermain 😀 . Tapi saya takut malah akan merepotkan gurunya, ya, itu pun kalo diterima. Karena ada rasa tidak enak saya enggan ke sana.

Di PAUD tersebut hanya bertahan dua hari kalau saya tidak salah ingat. Ternyata Maryam sama sekali tidak mau masuk ke kelasnya. Dia hanya mau main perosotannya saja! Di tegur sama guru TK malah njerit-jerit. Jadi, saya pikir kemungkinannya Maryam belum siap atau dia mungkin merasa kurang nyaman. Karenanya saya stop. Secara materi juga tidak rugi, yang namanya TK, Paud, Kelompok Bermain di sini masih sangat terjangkau, waktu itu saya bayar Rp10.000 untuk satu bulan. Tapi yah, harga yang dibayarkan memang sesuai dengan kualitas yang saya dapat 😦

Menginjak usianya 28 bulan Bulan Desember kemarin Saya kembali mencari PAUD karena kita rasa perkembangan berbahasanya sangat kurang. Sebenarnya kita belum tahu kenapa, tapi, sementara kita berasumsi Maryam ini kurang rangsangan. Salah satunya rangsangan berbahasa dari teman sebayanya. Selain ingin merangsang kemampuan berbahasa saya juga ingin melatih sosialisasi dan kemandiriannya.

Iya Maryam masih enggan disapa sama orang dewasa yang tidak begitu ia kenal. Padahal misal teman sekantor saya, tapi karena teman sekantor ini jarang bermain dengan Maryam dia enggan sama sekali disapa dan biasanya marah atau parahnya bisa menangis menjerit-jerit. Dia juga nemplok terus di saya, kayak perangko. Ke mana-mana bahkan ke WC! Anak ummi banget dah.

Karena hal-hal itulah memantapkan kita untuk kembali mencari PAUD. Tapi sayang tidak begitu saja ketemu. Akhirnya saya mencoba mengikutkannya ke TK dekat kantor. Paling tidak dia akan ketemu dengan banyak teman, bisa melihat mereka berinteraksi, dan membuat Maryam mau bermain bersama adalah hal yang melegakan.

Dan di sana Alhamdulillah Maryam mau main. Mungkin permainannya lebih banyak, temannya juga lebih banyak, dan lingkungannya luas. PAUD sebelumnya secara tempat memang sempit jadi anak-anak kurang leluasa bermain. Apalagi bagi anak seperti Maryam yang outdoor abis maunya ke sana ke mari lari-lari.

Hanya ia masih enggan masuk kelas konvensional, di mana berderet rapi kursi dan meja plus guru di depannya tak lupa dengan papan tulisnya. Kecuali di kelas kecil -di TK ini ada dua kelas: kelas besar usia persiapan masuk SD, 5-6 tahun dan kelas kecil usia 4-5 tahun- Maryam mau masuk itupun didampingin saya. Tapinya dasar anak-anak ya, bukannya memperhatikan guru ini anak malah main perosotan sendiri. Kadang ada juga anak laki-laki satu yang menemani main. Dan seremnya anak laki-laki satu yang sering nemenin Maryam ini sering di cap nakal oleh gurunya. Entahlah, mungkin hanya bercanda dengan kata “nakal”, tapi bagi saya, lah namanya juga anak umur di bawah lima tahun, normalnya pasti ingin main-main. Dan kata nakal di kamus saya pribadi masuk kata yag tidakboleh diucapkan kepada anak-anak.

Sayang tidak semua guru TK suka dengan anak yang tidak bisa diam dan tanpa sadar kata-kata seperti nakal, bodoh, meluncur tak tertahan. Maunya anak-anak menurut dan memperhatikan guru. Biasanya guru akan memuji anak yang diam dan serius memperhatikan dan kata-kata sebaliknya kepada anak yang sulit diatur. Dan hal tersebut kurang berkenan bagi saya sebagai orang tua.

Jujur, saya inginnya guru memperlakukan setiap anak didiknya berbeda. Maksudnya anak yang tidak bisa fully focus bukan berarti dia nakal atau bodoh kan. Bukan berarti juga anak yang tidak bisa diam itu sama sekali tidak memperhatikan. Karena lagi-lagi menurut saya, tingkat konsentrasi setiap anak berbeda-beda.

Karena banyak faktor terutama sekali di sekolah ke dua ini belum juga bisa di tinggal, saya berniat mencari sekolah lain. Paling tidak dua poin kenginan saya ada pada sekolahan yang baru, saya akan memindahkan Maryam. Dan iniah beberapa poin keinginan saya tentang sekolahan awal maryam:

1 . Anak-anak bisa bermain dengan leluasa (sosalisasi);

2 . Anak percaya dengan dirinya sendiri (menumbuhkan kemandirian);

3 . Tenaga pendidik memilik concern yang baik dengan dunia pendidikan, terutama memilik pemahaman bahwasanya masa bermain adalah masa pendidikan bukan pembelajaran. Misal membiasakan buang sampah pada tempatnya, berdo’a sebelum makan, makan sambil duduk, dan kebiasaan-kebiasaan baik lainnya yang harus dimiliki seorang anak untuk bekalnya nanti;

4 . Media bermain memadai. Terutama untuk merangsang anak dalam hal kreativitas ataupun kecerdasan berfikir;

5 . Keamanan dan kenyamanan sekolah.

Mengingat sekolah yang kedua memiliki area bermain yang cukup luas, maka saya ingin poin tambahan lain untuk memantapkan niat memindahkan Maryam.

DSCN1872

Nah, di suatu hari yang cerah dulu sekali saya punya memori tentang bangunan ini. Dan sekilas saya lihat papan namanya “PAUD…”, tapi untuk waktu yang lama saya lupa. Sebenarnya pas awal ingat saya pernah nyari tapi ya dilalah tak ketemu *belum rejeki   :-/

Hari kamis tanggal 7 Januari 2016 saya cari lagi dan berjodoh 😆 . Waktu itu jam sepuluh lewat, kelas sudah bubar. Ibu gurunya sedang istirahat persiapan mau pulang. Berbincanglah saya dengan Ibu guru Asma, masih muda, kesan pertama saya dia memiliki dedikasi sebagai pendidik. Dia pun menyambut saya dengan ramah dan menerangkan sistem PAUD di sana. Yang membuat saya langsung iyes adalah pernyataan Ibu gurunya:

“Di sini anak-anak diutamakan untuk tidak ditemani orang tuanya, biar mandiri, kami gurunya bertanggung jawab”.

Nah, ini dia yang saya cari *dalam hati tentunya 😀 * . Saya langsung bersemangat esoknya saya resmi daftarkan Maryam ke sana. Dan benar saja , ada juga orang tua yang menunggu adalah murid baru yang masih penyesuaian. Adapun Maryam saya langsung tinggal, menangis sih, njerit-jerit memekakan telinga tentunya, tapi saya sudah bertekad. Dan alhamdulillah drama hanya terjadi satu hari, fiuuhhh! Orang tua baru yang menunggu pun saya lihat tiga hari kemudian sudah tidak ada. Ada satu orang ding dan itu bersembunyi sama dengan teknik saya waktu hari pertama 🙂 .

Setelah berbincang dengan kepala sekolahnya, dan ada satu dua keberatan saya dengan kata-kata kurang baik seperti nakal dan bodoh supaya tidak digunakan yah minimal kepada Maryam. Dan jawaban kepala sekolahnya pun melegakan, “di sini kami berusaha tidak berbicara kasar kepada anak-anak: jangan, nakal, bodoh, kami hindari”. Alhamdulillah semoga!

Oh ya soal bayaran. Per bulannya Rp20.000,- dan biaya masuk Rp50.000,- . Melihat beberapa gurunya belum PNS dan menerima pendapatan yang tidak seberapa: miris. Bagaimana ya, biar mereka para guru yang belum PNS *saya lihat dedikasi sebagai tenaga pendidik bagus* agar bisa mendapatkan haknya secara layak? Dengan harapan mereka akan lebih giat dan bersemangat. Yah, walaupun dengan gaji seperti sekarang mereka masih giat, tapi, tetap saja saya sebagai orang tua yang menitipkan anaknya di sekolah tersebut merasa prihatin. Bagaimana sulit diaturnya anak-anak seusia Maryam, itu pasti sangat melelahkan.

Membaca artikel tentang pendidikan usia dini di Jepang, di mana pemerintah sangat memanjakan oang tua, murid, dan guru, kapan ya kita bisa seperti itu ❓ Apakah ada jalan lain yang bisa kita -para orang tua- lakukan untuk membantu sekolah-sekolah seperti Maryam di daerah agar lebih maju baik dalam segi tenaga pendidik, alat peraga, alat bermain, dan lain-lain pendukung? *ada ide???*

Karena harusnya setiap anak indonesia dimanapun berada dapat mengakses dan menikmati pendidikan yang sama baiknya dan sama kualitasnya. 😉 ❤