-190- Marah

Bismillah.

Marah ya wajar. Tapi semakin dewasa marah berganti baju. Kalau dulu sampai teriak-teriak atau bahkan jambak-jambakan kini lebih elegan. Tapi saya belum bisa cool. Iya ada marah yang cool😂 Dia marah dengan diam. Saya gak bisa. Saya tetep harus ngomong. Walaupun tangan gemetaran saking kuatnya nahan amarah.

Seingat saya, saya enggak pernah marah kepada teman-teman kantor. Semarah apapun: saya diam tapi ada sedikit ngomong 😅 Ya itu tadi saya belum bisa benar-benar marah yang diam. Diam🤭. Tapi pernah juga mendapati yang lainnya marah. Dengan yang lain tentunya. Saya sejauh ini belum pernah ngajak orang ribut.

Saya malu kalau harus marah. Begitu juga jika saya yang kena marah. Saya malu. Kalau tidak urgent banget saya sangat menghindari acara marah-marah ini. Palingan saya lampiaskan ke suami. Saya bilang saja lagi marah.

Kemarin. Iya kemarin sekali. Seseorang merusak hari saya mulai pagi sekali. Dan hari itu saya merasakan bagaimana suasana hati yang dirusak sangat mengacaukan seharian itu.

Karena saya sangat marah. Tapi semarah apapun saya memilih menahannya. Buat apa saya balik marah? Toh dengan begini saja saya sudah pusing. Seharian kemarin saya sebal bukan main.

Dan ketika suasana hati tak karuan
perginya ke makanan. Ampun deh.
Mana maunya diet. Please siapapun
don’t ruin someone else’s day😪

Kalau saya balik marah. Mungkin detik itu juga akan plong. Tapi yakin deh setelah itu bakalan merasa sangat bersalah. Jadi daripada membuat beban lagi di belakang. Mending saya pusing seharian itu saja. Terimakasih kepada yang telah memberikan rasa ini. Karena ini saya bisa belajar merasai dan memahami.

Agar marahnya gak meledak pertama kali yang saya lakukan adalah duduk. Saya keinget dengan sebuah hadits: “Bila salah satu diantara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya sudah hilang(maka cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” HR Abu Daud. Kemudian saya curhat. Iya saya harus mengeluarkannya. Saya curhat ke orang terdekat. Suami. Dan teman dekat. Curhat saya lakukan untuk mengeluarkan uneg-uneg. Harus hati-hati emang curhat ini. Karena bisa menyelesaikan masalah atau bahkan menambah masalah. Curhat sama Alloh SWT sih yang paling aman.

Tapi ya namanya manusia. Punya waktu sendiri dalam meredakan amarah. Saya sih enggak lama bisa mereda. Tapi sebelnya sampai sore😁 yang penting gak meledak saya udah sangat bersyukur.

Dari situ saya belajar. Satu jangan marah. Karena akibatnya benar-benar tidak hanya merugikan diri sendiri. Orang yang kita marahi mungkin akan lebih tidak baik kondisinya. Apalagi marah karena hal yang kita lakukan sendiri✌️

Dua kalau mendapati orang lain marah, diamlah! Saya harus mengatakan ini ke diri sendiri: DIAMLAH! Karena kalau kita menanggapi, kita akan ikut marah dan menambah amarah si orang itu. Diamlah sampai reda amarahnya. Karena kemarin saya sahuti orang yang lagi marah: saya jadi marah dia pun kagak reda😂 Jadi kayak nyiram bensin kena sendiri.

Tiga. Siapapun saya, kamu, kita jangan marah.

Karena,

Janganlah engkau marah, maka bagimu surga. (HR Thabrani dalam Al-Kabir).

Selamat pagi and keep happy😊

Advertisements