-194- Kita Juga Bisa

Bismillah.

Hey, mantra ini cukup lama dipercaya di masyarakat kita. Entah siapa yang mengajarkannya. Tapi tahu tidak, mantra ini agak-agak berbau egosentris. Egosentris??? Egoisme kalik?

egois?

ego·is /égois/ n 1 Psi orang yang selalu mementingkan diri sendiri; 2 Fil penganut teori egoisme;

Kalau baca makna egois agak syerem bagi saya. Dan kata selalu mementingkan diri sendiri itu membuat hampir semua orang tidak mau dijudge seperti itu. Dan lagi langka lah orang yang seperti ini.

ego·sen·tris /égoséntris/ a menjadikan diri sendiri sebagai titik pusat pemikiran (perbuatan); berpusat pada diri sendiri (menilai segalanya dari sudut diri sendiri).

Makna egosentris rasanya lebih ngena. Tapi ya itu, egosentris itu sebenarnya untuk anak kecil yang belum tahu mana yang baik dan buruk.

Okelah kita sebut saja egosentris karena memang ada hal yang belum sampai ke kita. Ada informasi yang memang belum sampai.

Gini loh. Rejeki setiap orang sudah diatur. Tidak akan tertukar. Makanya kita kenal istilah profesional, karena kita tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Walaupun kita merasa bisa. Kita tidak bisa. Percayalah.

Ayolah, dalam hidup tidak harus semuanya bisa. Dan bukan hal yang memalukan jika kita mengakui itu. Karena apa? Karena orang lain secara alami akan mengakui kemampuan kita yang lain. Respect each other.

Dan apa enaknya juga kita melakukannya semua? Selain kebanggaan?

Tidak harus semuanya kita bisa. Lakukan saja yang kita mampu dan senang. Bukan berarti kita pemilih. Tapi pada akhirnya kita harus fokus pada satu hal. Kenapa? Ya biar bisa maksimal.

Rasanya ketika ngomong gini saya ingin menghilang. Please tendang gue…! Entah pikiran semacam ini tuh seperti berdiri di tengah padang pasir di siang bolong tanpa seorang pun. Hanya angin dan deru debu yang menemani. I’m being alone in the perfect place.

Bekerja di lembaga formal ketika dunia beralih santuy itu seperti makan buah simalakama. Pada akhirnya kita harus memilih. Buang pikiran untuk mix n match karena kita bukan milk max! Santuy ya santuy sekalian. Formal ya formal sekalian. Di dunia ini hanya hitam dan putih yang jelas. Kalo kita memilih abu-abu maka selamanya kita akan menjadi begitu.

Ayolah. Kamu itu keren kok dengan kesantuyan itu. Dan kamu juga sangat keren dengan keformalan itu. But please don’t be a bunglon!

Gini loh. Gini. Zaman dulu untuk publisitas kita pake media televisi.

“Inga-inga Ting!!!”

Semua orang seluruh masyarakat Indonesia tahu jargon ini. Viral istilah sekarang ini. Selain lucu, mudah diingat, juga diputar di semua stasiun tv hampir tiap waktu👏 Itu kata-katanya terhiang-hiang di kepala. Alhamdulillah gak sampe gumoh sih.

Siapa yang punya gawe?

Stasiun TV.

Bukan dong.

Itu KPU punya gawe. Lha pemilu kan.

See???

Enggak. Maksudnya apa?

Kamu harus profesional jika ingin maksimal. Bukan mengerjakan semuanya sendiri. Karena jika kamu mengerjakan semua kamu bakal dibatasi waktu dan tenaga. Ujungnya yang penting selesai.

TV mungkin pamornya sedang menurun. Sudah kalah bersaing untuk mendapatkan audience. Tapi setiap zaman ada bintangnya. Siapa sih hari ini yang tidak kenal you tube. Yes dia bintangnya. Semua orang bisa akses sejalan pesatnya perkembangan internet. Dan semua hal bisa kita dapatkan di sana. Semua informasi ada di sana. Maunya apa, ada.

Kamu generasi 90an yang nonton acara harus sabar mantengin tv tidak boleh meleset jam. Apalagi jam tayangnya pagi di hari minggu. Hey kamu gak boleh begadang kalo tidak mau ketinggalan. Ya ampun jadi inget inuyasha dong saya.

Tapi sekarang kita mau nonton kapanpun, dimanapun, tinggal ubek-ubek youtube. Dan saya sudah punya full edisi inuyasha dong, hahaha.

The point is almost everybody watching youtube. Tidak hanya youtube sih. Hampir semua media sosial bisa digunakan. Tapi yes yang bisa ngimbangi tv di masa lalu ya youtube ini.

Inget kan kemarin perhelatan Asian Games. Inget gak di sana ada lagu officialnya? Dan ada juga dancing nya? Ya itu buat publisitas. Biar semua kalangan tahu ada event besar di negara kita.

Siapa yang melakukannya?

Ya yang profesional dong. Penyanyi terkenal itu. Yang joged juga akun youtube yang terkenal itu. Jadi viral itu hanyalah bonus.

Tapi kalo kita masih ingin melakukan semuanya sendiri. Merasa kita bisa melakukannya sendiri. Merasa bahwa kita juga bisa.

Oh helllowwwwww.

Kita mungkin masih bingung dengan makna profesional itu sendiri. Makanya saya bilang egosentris bukan egoisme.

I love you but yes i always do love you.

Advertisements

-134- Anakku Sudah Besar

Bismillah…

Sebenarnya akhir-akhir ini saya tidak begitu faham dengan perasaan sendiri. Semua rasa itu yang sering membuat ingin nulis *makanya isi blog kebanyakan curhat 😛 * sepertinya tumpul. Hari-hari rasanya lelah yang sangat, pulang kantor ba’da isya kedebruk aja tidur pules sampe sahur. Astagfirulloh…Ini bukan saya banget lah.

Pengen nangis sekaligus lucu, iya pagi ini. Banyak sebenarnya yang ingin ditulis dibagi dikenang tapi, menguap begitu saja. Saya lupa apa yang mau ditulis.

Paling inget yang muncul di memori, sore hari jumat kemarin pulang kantor. Seperti biasa kita boncengan, pas di depan toko baju yang cukup besar. Tiba-tiba saya teringat beberapa hari yang lalu saya belikan Maryam baju di swalayan terbesar di kota ini. Saya pede banget ini baju muat di Maryam. Secara baju bayi saja di dia masih muat kok.

“Mba ini nomor 1 maksudnya apa? untuk usia berapa biasanya?”, tanya saya pada si mba penjaga toko.

“Biasanya untuk usia 2 tahun Bu.” Katanya ragu terpancar dari wajahnya yang gitu deh.

“Ah, masak sih mba, gede dong anaknya…” Saya gak percaya, lha menurut saya emang gede gitu.

“Kan ukuran tiap anak beda Bu.” Tuturnya lagi. Tapi saya tetep gak percaya dong secara untuk ukuran dua tahun ya kegedean lah. Kira-kira saja kalo tiga tahun oke lah.

Jadilah saya beli walaupun si penjaga toko bilangnya untuk usia 2. Ini baju buat Maryam yang mana mau 4 tahun agustus besok 😀

Pulang ke rumah nunggu sepi saya cobakan. Maryam antusias sekali, “cantik, cantik…” sambil cengengesan terus nyium saya, ah, dirimu Nak sweet banget.

eng ing eng!

Bajunya yang ukuran 1 gantung aja di badan Maryam. Muat sih muat tapi gantung mak. Untuk beberapa saat saya bengong sambil berfikir hal yang membuat saya tidak kecewa dengan membeli baju ini. Gak papa lah kan masih bisa dipake gak gantung-gantung amat.

Saya tersadar ternyata Maryam sudah besar bukan bayi kecil lagi. Ya, dia memang masih bayi yang sama dan akan selalu begitu bagi saya…Bukan hanya itu saya terpukul karena lima bulan di Jawa, benarkan telah membuat saya lalai dengan anak sendiri? Sampai pertumbuhan fisiknya saya tidak perhatikan. Ya Alloh…

Jika pekerjaan memintamu over time saya harus kembali berfikir karena usia anak tidak akan pernah kembali sementara pekerjaan tanpa kita sekalipun ia akan terus berlanjut. Berlanjut dan berganti dengan orang lain kemudian kita terlupakan. Sebaliknya anak, keluarga, orang-orang yang kita sayangi meski kita lupakan kita tinggalkan untuk pekerjaan ketika kita kesusahan mereka akan selalu ada. Mereka tidak lupa, mereka tetap ada walaupun mungkin sebenarnya mereka tersakiti atas kelalaian kita.

Hal ini membuat saya terpikir setiap paginya ketika berangkat kerja, “ikut, ikuuut, ummiiii ikut…”, ah Nak i love you….

 

-110- Sebatas Ingin

Bismillah.

pixabay.com let's do something!
pixabay.com let’s do something!

Entah ini apa. Tapi, ini selalu ada di pikiran. Menyusunnya menjadi tulisan utuh adalah hal yang rumit. Terlalu banyak yang ingin dikeluarkan.

Jadi…

Nikmati saja acaknya pikiran saya.

Saya selalu merasa bahwa seharusnya saya bekerja setiap hari. Bekerja yang mikir gitu yang tak melulu mengikuti. Bekerja karena saya memang harus melakukannya. Tapi, kenyataannya saya harus bekerja yang seringnya tidak ingin saya kerjakan. Oke, tidak masalah tapi bisakah kita melakukannya setiap hari?

Maksud saya datang ke kantor tidak hanya untuk memenuhi kewajiban absensi. Terus duduk menunggu teng jam pulang. Tidakkah itu hal yang paling menyebalkan? Menunggu. Ya, menunggu tidak ada yang lebih membosankan dari hidup.

Kamu kali yang tidak kreatif. Pastilah selalu ada pekerjaan di sana. Bisa jadi. Tapi, tidakkah kita memimpikan pekerjaan yang jelas? setiap harinya jelas apa yang harus dilakukan. Misal menjadi resepsionis di perusahaan besar rasanya lebih jelas.

Bukankah dengan begitu kamu menjadi memiliki banyak waktu untuk melakukan apa yang kamu mau? What? di jam kantor? Ya, paling tidak melakukan hal-hal di luar jadwal sambil menunggu pekerjaan selanjutnya. Bisa saja, tapi saya sebenarnya ingin pekerjaan yang jelas saja. Yang setiap harinya memacu adrenalin, yang setiap harinya terasa produktif, bermanfaat, dan saya tidak lagi memikirkan gaji ketika memikirkan pekerjaan seperti itu.

Tahukah kamu, bahwa jenjang kerir di perusahaa sebesar apple tidak begitu jelas? Maksudnya di sana jenjang karir tidak menjadi tujuan utama. Menghasilkan produk yang baguslah tujuannya. Dan kebanyakan pegawai di sana bisa menempati kedudukan yang sama persis bertahun-tahun. Dan itu tidak masalah tidak menjadi kecemburuan ketika ia tidak naik-naik pangkat.

Mereka bisa bekerja penuh semangat tanpa dipusingkan dengan jabatan karir. Karena setiap harinya mereka bekerja, bekerja jelas dengan tujuan jelas. Mereka bekerja sesuai yang mereka inginkan, jadi, buat apa jabatan? Mereka selalu penasaran setiap harinya, haus untuk selalu memecahkan masalah. Jadi, buat apa lagi karir?

Iya, sih, gaji mereka di sana besar dan cukup untuk memenuhi segala keinginan. Tapi, bukan itu masalahnya. Mereka puas dengan apa yang mereka kerjakan, that’s the point.

Jobs pernah berkata sekali waktu, “buat apa karir jika kita cukup puas dengan pekerjaan ini”. Love the words very much! Ketika gaji diberikan sesuai pekerjaannya. Ketika seorang staf biasa gajinya bisa saja sama besar atau lebih tinggi di banding atasannya. Apa lagi? Lagi lagi bukan masalah gaji. Pekerjaan yang dicintailah masalahnya.

Berarti kamu tidak mencintai pekerjaan yang sekarang dong? Mungkin saja karena setiap hari saya merasa useless. Inginnya melakukan sesuatu yang penting paling tidak untuk diri sendiri.

Atau mungkin saya hanya salah satu anomali saja…*angin bertiup sepi and i feel so lonely 😦

Saya pikir kantor saya ini harus memilih. Memilih apa yang menjadi fokus pekerjaannya. Bukan yang setiap pekerjaan hayuk saja di ambil. Ketika akan mempublish hasil ada ragu di sana.

Saya membayangkan ketika ada kegiatan besar. Kita semua satu tim. Satu tim ini di break lagi menjadi tim-tim kecil. Setiap tim-tim kecil yang tersebar di seluruh Indonesia memiliki tujuan jelas yang pada akhirnya mewujudkan tujuan besar bersamanya.

Ini kadang ketika ada kegiatan besar masih juga disibukan dengan pekerjaan lainnya. Tidak bisakah kita fokus saja di satu sampai hasil yang memuaskan dan kita semua bergembira.

Tidak perlulah menurut saya terlalu banyak seksi terlalu gemuk. Seperti di tempat saya cukuplah 3 seksi. Yang bertanggung jawab administrasi kantor, teknis, dan pengolahan. Tidak perlu staf. Mereka semacam manager. Selebihnya bisa mengambil fungsional. Ketika ada kegiatan baru seksi teknis ini membagi pegawai selebihnya ini menjadi kelompok-kelompok kecil memilih pemimpin di antara mereka, menetapkan tujuan, dan deadline. Oh my itu lebih hidup untuk sebuah kantor!

Dalam setahun tidak perlu banyak yang dikerjakan. Pilih saja tidak terlalu banyak yang penting kita fokus. Atasan yang di sana memiliki peranpenting memilih pekerjaan yang memang penting untuk dikerjakan. Melakukan sebaik mungkin. Saya yakin tidak ada yang nganggur. Karena semua pegawai akan memiliki tujuan masing-masing dalam setiap kelompok kecilnya.

Misal sensus. Mulai dari tahap perencanaan sampai benar-benar siap publish misal butuh waktu setahun. Ya, sudah setahun penuh itu saja yang kita kerjakan. Sistemnya dari bawah ke atas. Pengiriman hasil ke level atasnya adalah yang memang sudah hasil siap publish. Kalau mau lebih yakin bisa diadakan pertemua elit terbatas yang dihadiri wakil-wakil tiap daerahnya untuk merumuskan hasil. Menyepakati hasil yang akan di publish.

Hari H rilis, panggil media dan semua pegawai yang terlibat proyek tentu akan merasa terlibat secara emosional kan. TV-TV akan dinyalakan demi menyaksikan pernyataan hasil yang akan dibacakan. Semua berharap cemas semoga itu adalah hasil terbaik dan bisa menjadi landasan bagi pemerintah dalam menentukan berbagai kebijakan pentingnya.

Kamu lagi mimpi? *mimpi indah*

Lanjut lagi ya…

Dan yang peling penting kita amat percaya diri dan yakin dengan hasil yang akan disampaikan. Love it.

Kalau ada dua kerjaan dan dua-duanya bisa jadi tumpang tindih? Dua saja pilihannya: Lepaskan salah satu atau bentuk dua tim. Hanya saja kebanyakan dari kita tidak bisa memilih. Kan sayang ini salah satu kerjaan inti kita loh. Gak bisa semuanya harus di kerja.

“Memilih/menentukan pekerjaan yang harus dilepaskan lebih penting dari menentukan apa yang akan dikerjakan kemudian”. Steve Jobs.

Jangan khawatir itu semua hanya mimpi indah saya. Mungkin ketika suatu hari bisa melampaui batasan ingin.