-198- Museum Sumpah Pemuda: Merinding karena semangatnya dan Ngeri juga karena…

Asli tidak direncanakan. Tidak terpikirkan. Karena kita nginep di Cordella Senen terus tiba-tiba suami pengen jalan ya udah. Dan kita juga gak tau kenapa milihnya yang ke kanan bukan ke kiri yang ternyata disanalah keramaian. Toko buku kwitang juga di sana. Padahal kita tuh pengen banget ke sana. Sudah lama gak ke sana setelah selesai kuliah.

Tapi jalan pake feeling itu kadang menyenangkan. Mungkin karena masih misteri apa yang akan dihadapi di depan. Kayak penasaran gitu di depan ada apa ya… Berharap menemukan hal-hal aneh hehe.

Nah, ini kejadian di kita kemarin. Pas baru beberapa melangkah liat gedung jadoel dong. Ya gimana saya mah liat yang begituan langsung kuat rasa penasarannya.

Pelan-pelan masuk. Liat-liat kursi nya yang antik dan cantik. Lama-lama keluarin hp, jepret jepret jepret. Dan liat pintu. Di dalam sepertinya tambah mengasyikan.

Seorang satpam sepertinya pura-pura saja keluar dari pos nya. Yaelah saya baru sadar ternyata ada pos satpamnya. Secara ini rumah langsung terbuka gitu aja dengan trotoar tanpa pembatas. Dari tadi sepertinya di balik pos itu mengamati gerak gerik kami.

Karena suami juga sepertinya tertarik untuk masuk maka bertanyalah ia😁 Pucuk dicinta ulam pun tiba inituh gedung sumpah pemuda. Semua orang boleh masuk. Isi buku tamu bayar dua rebu untuk umum dan seribu untuk anak-anak. Sudah. Akhirnya kita masuk rumah kuno lagi setelah dulu di Jatibarang. Di rumah mbesaran punya pabrik gula itu. Ah hatiku senang. Selalu senang saya masuk museum wkwkwk. Jadi berasa anak SD yang serba ingin tau wew.

Posisi saya moto di trotoar.

Set kursi yang sangat aduhai. Nenek saya punya mejanya dan emang bagus banget.

Tiket yang sangat murah. Sungguh terlalu dekat sana kalo gak pernah berkunjung. Hehe bercanda.

Kita masuk melalu pintu tengah. Pintu utama. Langsung masuk ruang tamu. Dan bentuknya masih begitu. Di set persis seperti keadaan dulu kala. Orang-orang sedang berdiskusi dengan buku-buku tebal berbahasa inggris dan belanda sebagai bahannya. Semangatnya sampai. Merinding. Di tahun itu. Di jaman itu. Pikiran orang-orang ini sudah menembus waktu.

Saya mau bukunya… juga set kursinya!
Liat buku-bukunya saya jadi ingin belajar dan belajar dan belajar

Di ruangan itu kita juga bisa melihat foto-foto jadul. Tulisannya Batavia 1920-an. Dengan foto stasiun senen saya kira dan kereta uap yang sedang melintas. Saya benar-benar merasa sedang berada di tahun itu. Dengan semangat orang-orang muda ini. Mereka,,,ah! Pikirannya tentang ingin sungguh mengagumkan.

Dari ruang tamu itu di kanan kiri ada pintu. Kita memilih pintu sebelah kanan. Di sana kita memasuki ruangan penuh dengan kata-kata semangat.

Lagi-lagi kursi ini canteks.

Ada pesan Ki Hajar Dewantara seperti di atas. Ada juga karya Mohammad Yamin. Di saat itu. Orang-orang begitu sangat ingin merdeka. Menentukan arah langkahnya sendiri. Karena ternyata kitapun mestinya bisa. Ingin menjadi manusia yang merdeka seutuhnya. Yang dengan sadar melakukan sesuatu bukan karena keterpaksaan. Di ruangan ini masih terasa sekali kedaerahannya. Pemuda-pemuda dari daerah yang sedang mencari jati diri bangsa.

Dari ruangan ini kita masuk ke ruangannya Indonesia Raya. Ada Replika wajah Wage Rudolf Supratman. Ada biola yang ia mainkan. Dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan di ruangan ini.

Ada foto WR Soepratman juga dengan adiknya. Jadul sekali. Gayanya alamak mantap di jaman itu. Hehe. Kok saya malah fokus ke gayanya ya😄

Indonesia Raya ini diperkenalkan WR Soepratman pada kongres pemuda II di Batavia 28 Oktober 1928. Hal ini menandakan dimulainya era ide satu indonesia sebagai penerus hindia belanda daripada dipecah menjadi koloni-koloni (wikipedia). Para pemuda menginginkan negara baru nama baru dengan orang-orang merdeka di dalamnya. Tahun ini baru awal. Baru benih. Belum panas. Baru oh iya ya!

Dari ruangan Indonesia Raya kita akan masuk ke era di mana pemuda sadar bahwa ide ini harus disebarluaskan maka dimulailah penyebaran ide melalui tulisan-tulisan di media massa. Salah satu koran yang dinilai subversif adalah Benih Merdeka. Harian ini terbit pertama kali tahun 1916 di Sumatera Utara. Agaknya sumatera ini menjadi pulau literasi semenjak dulu kala. Yes perjuangan paling frontal ternyata dari sumatera. Dan mereka pun sangat berani menggunakan kata merdeka dalam tulisannya.

Ya koran penampakannya tidak banyak berubah dari dulu sampe sekarang.

Karikatur itu sangat jelas menggambarkan bahwa kita ingin merdeka. Ini tahun baru 1920-an. Dan aroma kemerdekaan sudah tercium. Waktu pun tak sabar mengabarkannya. Tulisan-tulisan itu memiliki nyawa siapapun yang menulis dan menggambar dia tahu maunya.

Lanjut ke ruangan yang lebih besar. Sepertinya ini ruang keluarga. Di sana ada miniatur dulu ketika para pemuda ini melakukan kongres pemuda II. Ada WR Soepratman yang kiranya sedang memperdengarkan Indonesia Raya. Suasananya saat itu sulit dibayangkan. Tapi saya yakin penuh semangat yang menggebu-gebu seakan indonesia sudah ada.

Kemudian berita tidak hanya disebarluaskan melalui koran tapi juga radio. Waktu itu radio semasyhur youtube hari ini. Riuh rendahnya semangat perjuangan terasa sampai kepada kita yang hanya menyaksikan sisa-sisa ceritanya. Saya senang sudah ke sini.

Tapi jujur setiap kali berganti ruangan saya kaget. Ada rasa ngeri dan takut melihat patung-patung ini. Maryam beberapa kali bilang takut. Enggak. Saya gak bakal cerita horor. Tapi emang takut gimana si.

Liat foto patung sedang mendengarkan radio itu tuh kita banget di masa lalu. Tapi saya ngeri juga. Apa karena warna fotonya yang malah mengingatkan saya ke masa G-30S PKI. Tolong saya seperti melihat sebuah adegan di film itu. Sarung. Kursi. Dan radio. Iya si radio di tahun 1960-an pastinya sudah berevolusi.

Dari ruang radio itu sampailah kita ke ruangan terakhir di mana berderet panji-panji kepemudaan dalam sebuah lemari kaca yang ditaruh di tengah ruangan. Jong java, jong sumatra, dan jong jong yang lain. Kita pun sampai ke pintu sayap mmm aseli saya bingung dengan arah mata angin. Pokoknya kalau menghadap jalan ini tuh pintu sayap kanan.

Selesai sudah jalan-jalan singkat yang tak direncanakan ini. Yang tentunya sangat menguras energi. Ya karena kita seperti berjalan di lorong waktu. Fiuhh. Ikut bergelora dengan semangatnya sekaligus ketakutan dengan semua patung-patung di ruang temaram. Mereka tuh seperti mengagetkan kita tanpa rencana. Hahahaha.

Dibuang sayang, biar tambah terlempar ke masa lampauuuu….

Berkunjunglah ke tempat-tempat seperti ini. Paling tidak membuat kita bergetar karena semangatnya kemudian termotivasi dan bersyukur karena ternyata banyak hal yang telah kita capai sampai hari ini. Dan bersiaplah untuk pencapaian-pencapaian selanjutnya. Brace urself!

-197- Maryam ke Ragunan

Bismillah.

Halo. Ketemu lagi di edisi Maryam jalan-jalan. Kali ini sedikit istimewa karena agak jauhan. Hehe. Kita ke Jakarta! Ke Ragunan untuk pertama kalinya buat Maryam.

Dan seperti biasa dong bukan karena tujuan utama. Kebetulan urusan kita selesai sebelum jam 10 jadi kan masih punya waktu panjang sebelum check in. Jadilah kita ke Ragunan.

Sepanjang jalan tidur. Capek. Maryam juga. Kita berangkat malam sekali. Tidur di jalan yang mana emang gak enak ya. Badan pegel. Kepala pusing. Tetep ya kalo tidur butuh rebahan.

Jadi sepanjang jalan dari tempat itu ke Ragunan ya gak ada yang saya lihat. Tahu-tahu sudah sampai😁

Kartu masuk. Kalo belum punya sekalian dikasi ini.

Lima dewasa satu anak plus parkir totalnya Rp65.000,00. Pas mau masuk saldonya dicek ada Rp44.000,00. Yang Rp21.000,00 itu mungkin buat parkir dan bayar kartu. Mungkin ya. Saya tidak nanya. Juga tidak googling. Maaf kalo salah.

Ketika masuk kebun binatang si kartu kembali di tap sebanyak orang yang masuk. Mungkin habis saldonya sekarang. Tapi ini kartu bisa diisi lagi dipake kalo kita ke monas, naik transjakarta, dll yang berhubungan dengan Jakarta.

Kita masuk satu persatu. Dan langsung disambut jasa foto. Di zaman sekarang profesi ini masih ada, salut. Mereka ceklak ceklik setiap kali tamu memasuki area kebun binatang.

Ini papan arah
Ini papan peta sekaligus menunjukkan sedang berada di mana kita.

Kedua papan itu berada tepat ketika kita masuk. Memudahkan siapa saja untuk mengeksplor Ragunan. Kalau capek bisa sewa sepeda. Ada juga dokar yang bisa disewa sekali putarannya Rp15.000,00.

Siapkan fisik sebenarnya. Karena ya luas dan jalan kaki bo! Tapi tenang, bisa istirahat dimanapun sepanjang jalan. Bisa makan juga. Dan senengnya banyak penjual pecel sepanjang jalan. Sehat kan. Sudah makanannya sehat olahraga juga jalan kaki. Emang menyenangkan.

Yang excited tentu saja Maryam. Kalo kita yang udah gede mah kok rasanya ya biasa saja. Malah lebih tertarik liat sekitarannya dan jajanannya.

Kayak gitu jalanannya.

Jalannya sih enak. Tapi ya itu dia harus kuat. Fisiknya harus lagi on. Kalo enggak kayak saya gempor.

Dan sisanya adalah binatang yang emang kudu kita liat kalo ke kebon binatang😬

Aku tinggi!
Hello…

Kok cuma dua? Iya hape saya mati. Padahal saya liat orang utan, harimau, merak, beruang yang semuanya lagi malas-malasan di siang hari. Asli mereka pasif banget gak nyambut kita 😑 kecuali harimau yang lagi penasaran sama balon kuning yang jatuh ke kandangnya. Dan suara macan tutul yang entah di mana dirinya.

Oke deh sampai jumpa lagi di edisi jalan-jalan berikutnya. Aamiin.

-178- Semarang (lagi)

Bismillah.

Berat ya harus meninggalkan Maryam. Tapi tidak ada pilihan. Sebagai abdi negara ini salah satu konsekuensi.

Karena itu. Saya tidak mau mengeluh. Saya ingin bahagia untuk kedua hal tersebut. Menjadi pekerja dan menjadi seorang ibu.

Untuk anakku tersayang insyaAlloh, Alloh lah yang akan menjagamu. Karena sebaik-baik penjaga adalah Dia. Untuk pekerjaanku, aku akan berusaha sungguh-sungguh agar apa yang kukerjakan hasilnya baik.

Mengeluh hanya akan membuat kita gagal di keduanya. Jadi harus semangat. Harus ikhlas dan sabar. Toh kita ini sedang berkehidupan. Akan selalu ada masalah yang akan membuat hati dan pikiran kita berganti-ganti rasa. Berusaha dan berdo’a. Sudah, itu saja.

Di Semarang kali ini pun saya berusaha bersyukur dan bersabar. Senin sampai jumat. Bukan waktu yang sebentar.

Karena sudah sering ke Semarang saya tidak lagi berkeinginan ini itu. Kebanyakan kelas kamar. Di kamar banyak merenung. Mengamati peristiwa yang lagi happening di media.

Beberapa yang saya yakin akan terus diingat. Pertama, pernikahan Syahrini dan Reino Barack. Yang menguasai hampir semua pemberitaan. Menyapu jajaran trending youtube. Terpampang paling atas di pencarian media manapun. Jadi akan sangat naif kiranya di era digital ini jika tidak tahu akan hal ini. Dan hiruk pikuk kampanye presiden. Pertandingan el clasico antara Jokowi dan Prabowo. Kedua kalinya dan tidak akan ada yang ketiga. Sangat seru bagi mereka yang mengikuti atau berpihak ke salab satu. Sebagai ASN saga tidak bisa terbuka untuk condong ke salah satu.

Saya tidak mau mengomentari keduanya. Tapi pemberitaan kedua topik ini benar-benar panas. Kadang saya merasa di luar nalar keagamaan saya. Tapi satu saja yang ingin saya ingatkan, terutama untuk diri saya sendiri.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589).

Baca Selengkapnya :  https://rumaysho.com/9198-ghibah-itu-apa.html

Itu. Astagfirullohal’adzim. Jadi mari teman-teman kita saling mengingatkan. Saling merapatkan barisan untuk menjauhi yang namanya ghibah. Tidakkah kita takut, ini adalah dosa besar. Semoga Alloh selalu melindungi kita semua, aamiin.

Tempat yang nyaman untuk merenung. Alhamdulillah

Tempat saya menginap ini, hotel santika premiere, adalah termasuk hotel lawas di Kota Semarang. Menurut sepupu ipar saya yang asli semarang, Santika merupakan hotel yang kedua dibangun. Hotel pertama yang dibangun di sini katanya sudah tidak beroperasi lagi. Jadi boleh dibilang Santika lah sekarang yang paling senior.

Saya menempati kamar tipe deluxe dengan dua tempat tidur. Tidak ada yang istimewa. Seperti halnya hotel-hotel yang lain di tipe ini. Kamar mandi shower yang selalu membuat saya kurang puas. Maklum terbiasa dengan gayung dan limpahan air di bak😊

Tapi satu hal yang menurut saya lain. Apa itu? Sendal! Iya. Bentuk dan warnanya memang sama saja seperti hotel-hotel yang lain. Yang beda sandal punya santika rasanya lebih tebal. Atau cuma perasaan saya saja? Entahlah.

Apalagi ya? Hm makanan. Tidak banyak yang saya coba. Makanan hotel pun banyak yang saya skip. Lagi diet kaka… Gak enak lah badan gemuk. Rasanya gak lincah. Sarapan paling icip salad sayur, sudah. Siang nasi sedikit plus lauk. Malam skip. Tapi gara-gara lapar malah pesen martabak di gojek😌

Selain martabak ada pesen mie godog jawa. Makannya di kamar hotel. Kuahnya saya taruh di gelas😂 ternyata makan mie godhog dengan kuah terpisah juga oke.

Terus makan bakso di gunung pati. Saya berkunjung ke sepupu yang sekarang tinggal di sana sekalian buka usaha. Baksonya lumayan. Harganya juga lumayan murah khas mahasiswa. Maklum lokasinya ini di sekitaran kampus UNNES.

Di tengah Semarang yang panas melipir ke Gunung Pati ini sesuatu ya😁 Asa di lembur. Udaranya sejuk. Jaraknya juga gak jauh-jauh amat dari kota. Naik gojek kurang lebih tiga puluh menit, sekitar Rp22.000,-.

Itu sih. Gak banyak. Tapi alhamdulillah senang sekali. Melihat ponakan yang masyaAlloh sudah gede-gede. Dulu tahu pas bayinya sekarang sudah besar. Tak terasa ya sudah tua. Dan senin besok insyaAlloh lanjut pelatihan di Solo. MasyaAlloh. Berikan kami semua kesabaran dan keikhlasan. Aamiin.

-170- Edisi Jalan-Jalan

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Sudah dua tahun kita sekeluarga di jawa. Belum ke mana-mana. Belum pernah menyempatkan diri berjalan-jalan melihat tempat rehat di sekitaran sini. Jalan-jalan kita baru sebatas shopping. Dan urusan kantor, tentunya.

Nah. Tumben banget nih hari ini. Masih anget. Kita sekeluarga jalan-jalan sore. Mengunjungi satu tempat yang jaraknya kurang lebih tiga puluh menit.

Tempatnya sangat antik. Seperti melintasi lorong waktu bagi saya. Lokomotif tua. Bangunan tua khas orang belanda di jawa. Dengan teras yang digunakan sebagai ruang tamu itu. Dengan jendela-jendela yang tinggi. Halaman yang luas. Dan cat yang putih. Ah, saya sangat suka ini. Selalu senang dengan hal-hal berbau nostalgia. Kota tua di Semarang itu: saya suka sekali.

Tapi di sini. Saya cukup sedih. Saya teringat manufactoring hope nya Pak Dahlan. Saya ingat dulu ia pernah membahas pabrik gula yang mati suri. Tapi waktu itu di sini masih hidup. Kali ini telah pula mengikuti pendahulunya. Ikut mati suri juga. Tidak ada lagi kegiatan sejak 2018. Sayang sekali.

Saya ingat pernah menonton film dokumenter pabrik gula jatibarang ini. Yang buat anak-anak BSI. Masih bisa kita lihat di you tube. Waktu itu masih hidup Tahun 2017. walaupun nafasnya satu dua. Masih terlihat banyak pegawainya. Yang rendahan tentu saja sangat berharap pabrik gula ini terus lanjut. Jika ini habis, habis juga mereka.

Rumah-rumah tua itu berjejer sepanjang jalan Brebes menuju Kabupaten Tegal. Cantik. Sepi. Suram. Meninggalkan semua kejayaan masa lalu. Entah siapa penghuni pertama dan terakhirnya. Tahun berapa rumah-rumah itu terakhir dihuni. Tahun berapa pertama kali dihuni. Ah, saya tidak memiliki insting wartawan rupanya. Saya tidak behenti dan bertanya. Saya hanya memotret. Tapi saya juga tidak tahu harus bertanya kepada siapa. Kosong. Sepi saja.

Ini yang paling menarik bagi saya…

Saya selalu ingin memiliki rumah seperti itu. Bisa menerima tamu di teras. Ngobrol sambil menikmati semilir angin. Menikmati hijaunya tanaman di pekarangan rumah. Menyapa orang-orang yang lewat. Saya memang harus tinggal di pedesaan. Di mana kita bisa mengenal semua orang. Dan mereka mengenal kita.

Rumah-rumah tua itu kita hanya melintasi. Tujuan kita adalah pabrik gula. Pabrik Gula yang dulu pernah menjadi penggerak ekonomi di banyak tempat. Salah satunya di sini: Kecamatan Jatibarang. Bangunannya masih berdiri tegak. Besar-besar. Luas bukan main. Beberapa tahun yang lalu. Ketika kita masih di Sulawesi. Corong-corong pabrik gula ini masih mengepul meski terbatuk-batuk. Tapi suaranya masih bising. Masih ada nafas. Tahun ini sama sekali tutup. Benar-benar mati suri. Entah kapan dan di era pemerintahan siapa akan terbangun kembali.

Beberapa areal menjadi objek wisata. Seperti rumah administrateur. Yang disebut mbasaran itu. Karena rumahnya yang besar dan penghuninya yang tuan besar.  Kini dijadikan museum. Satu saat saya harus melihatnya.

Pabrik-pabrik hanya diam begitu saja. Dan taman-tamannya yang luas kini berubah fungsi menjadi tempat berkumpul warga. Bayar. Entah siapa penggagasnya. Seribu saja untuk masuk ke sana. Ada taman dan air mancur. Ada loko. Ada ayunan daya tarik buat anak-anak. Dan ada sebuah pohon besar yang dibuatkan jembatan besi untuk mencapai atasnya.

Berikut adalah hal yang bisa kita temukan. Jika masuk ke halaman luas. Bayar seribu. Dulunya adalah tempat rapat. Gedungnya masih megah.

Tangga dan jembatan yang menuju pohon besar. Dilihat dari bawah.
Di atas jembatan menuju pohon besar.
Loko penarik kereta tebu.
Air mancur di halaman yang sangat luas.
Dan ini dia gedungnya. Tulisannya: Balai Pertemuan.

Langit mulai merah. Sebentar lagi adzan magrib. Kita harus segera pulang. Maryam pun harus mengaji.

Sampai ketemu di pabrik gula lainnya.

-127- Semarang Pertama Kali

Bismillah.

Siapa sih yang tidak terpana melihat bangunan tua jaman belanda masih berdiri kokoh sepanjang jalan. Melempar jauh kenangan ke masa meneer dan noni-noni cantik Belanda. Saya jadi ingat novel tetralogy karya Pramoedya Ananta Toer. Salah satunya Bumi Manusia. Bercerita sosok Minke seorang pribumi bersekolah di HBS dan kemudian jatuh hati pada Annelies anak dari seorang Nyai.

Penggambaran di novel tersebut tampak nyata di kepala. Rumahnya yang besar, peternakannya, kereta kudanya, dan semua yang diceritakan bagai masuk ke jaman itu. Demi apapun saya sangat ingin melihat kondisi di masa itu.

Sedari berkenalan dengan novel-novel semacam bumi manusia saya selalu ingin melihat benda dalam bentuk apapun dari masa itu. Apakah itu bangunan, marka jalan, atau bahkan benda kecil sebangsaning pulpen, uang koin, apapun lah.

Dan Desember kemarin, berhubung saya dan suami harus menghadap ke kantor BPS Jateng. Namapun pegawai pindahan baru yah minimal ketemu dulu sama atasan kita di provinsi. Untuk pertama kalinya saya ke Semarang.

Seumur-umur saya tidak pernah membayangkan akan ke samarang. Kalaupun saya punya bucket list kota-kota yang ingin saya kunjungi maka Semarang tak pernah masuk.

Dalam benak saya, Semarang itu panas, gersang, dan saya agak males berkunjung ke tempat-tempat yang terik seperti itu kecuali tanah suci dan kota-kota di sekitarnya, wkwkwk. Jadi, sekalinya ada kesempatan ke Semarang ya, saya biasa-biasa saja.

Naik Kereta Api dari Cirebon. Urusan naik moda transportasi satu ini saya tidak menolak. Saya paling suka naik KA. Tempat duduknya luas, bisa bobo selonjoran dan bisa jajan. Katanya beli makanan di kereta itu sensasinya tak terlukiskan. Berlebihan memang, tapi kamu harus nyoba sekali-sekali beli makanan di KA. Saya sudah beberapa kali sih beli dan emang menyenangkan. Asik saja gitu.

Ohya satu hal KA kan mirip-mirip pesawat soal ketepatan waktu berangkat. Jadi mesti teliti dan rencanakan seefektif mungkin kalau tidak bisa jadi ditinggal. Saya kemarin hamper saja ditinggal. Alhamdulillah masih rejeki.

KA berangkar jam 7.01 WIB, dari rumah disopiri adek kita berangkat jam 17.00 WIB. Yah, biasanya kan Cikijing-Cirebon bisa ditempuh kurang dari dua jam. Jadi, agak santai sampai pada suatu titik jalanan mendadak melambat. Mobil di kanan-kiri padat. Ternyata jalanan ke arah Cirebon tak seperti dulu lagi. Kini tak ubahnya Jakarta.

Namanya masih rejeki adek saya pinter-pinter nyari jalan tikus sampai akhirnya sampai stasiun jam tujuh teng. Saya dan suami berlari langsung ke penjaga pintu masuk KA. Dan Alhamdulillah si kereta masih ada di sana. Masih ada kesempatan beberapa menit.

Petugas jaga amat sangat membantu menukarkan tiket online kami dengan tiket KA resmi dan menghubungi bagian dalam KA agar menunggu kami sebentar. Akhirnya kami berdua lari sekencang-kencangnya menuju gerbong yang tertera di tiket. Bukan main capeknya. Saya sampai salah masuk gerbong.

Padahal sebenarnya ya, tidak apa-apa masuk dari ekornya gerbong kalau semisal gerbong kita di kepala. Kan keretanya sambung menyambung. Jalan saja santai seharusnya di dalam kereta. Yah, begitu deh kalau lagi bingung jadi gak bisa mikir. Walaupun sudah diingatkan, “masuk saja Bu”. Tapi saya kayak yang denger gitu terus saja berlari. Sampai di kursi bukan main lelahnya emak-emak yang jarang olahraga ini.

Turun di Stasiun … kita naik taksi menuju hotel. Nah, waktu di taksi ini melewati kota lama dan masyaAlloh jejeran bangunan tua jaman Belanda melambai-lambai cantik ke arah saya. Ohhh ini toh Semarang yang tidak ada di bucket list saya, ternyata masyaAlloh cantik sekali kotanya, eksotis.

Besoknya kita ke simpang lima sepulang dari kantor. Dan bersih. Rapi. Kita bisa duduk-duduk santai. Kita pun pulang jalan kaki ke hotel. Jauh tapi senang bisa jalan-jalan di Semarang

Saya sempat beli siomay. Sebagai orang Jawa Barat ya pastinya tidak asing dengan namanya siomay. Eh, di Semarang ini rasa siomaynya jauh dari rasa yang saya kenal: manisss banget. Sudah s-nya banyak pake banget lagi. Rasanya ini bumbu siomay gula semua.

Dekat hotel ada yang jualan nasi kucing. Oke coba lagi. Enak. Tapi kalau disuruh milih saya mau nasi lengko dekat rumah mertua saja 😀

Nasi kucing ini ya karena porsinya amat kecil seperti makanan kucing. Lauknya macem-macem tinggal milih. Ada tempe, cumi, udang dan lainnya, ditambah bakwan atau gorengan lainnya. Ya oke lah buat yang lagi diet seperti saya 😉

Siangnya kita pulang deh.

Sampai Jumpa Semarang…

-119- Jalan-Jalan ke Toliamba Wakatobi

Bismillah.

Bulan yang padat sampai lupa dan malas untuk menulis 😛 . Dari awal bulan kita sudah disibukkan dengan kegiatan susenas. Walaupun jumlah sampelnya tidak sebanyak semester 1 tapi karena kita kali ini “agak” fokus jadi ya, mau tidak mau hampir semua energi tercurah ke sana. Mau ngedit publikasi pun jadi terbengkalai. Dan tentu kegiatan tulis menulis yang sangat penting ini ikut terlupakan juga 😀

Bulan Agustus kemarin kita sempat jalan-jalan ke sebuah tempat, ehm, tentu saja tidak jauh dari Pulau Wangi-Wangi. Tapi kali ini berbeda. Secara tempat kita ini jago sekali dengan lautnya jadi jalan-jalan di luar itu semacam anti-mainstream.

Kemana?

Kita ke Toliamba Hill. Namanya sudah keren ya keinggris-inggrisan terus tempatnya pegimana?

dscn2737
serasa di atas awan…*lebay detected

Merupakan tempat paling tinggi di Pulau Wangi-Wangi. Dari sana kita bisa melihat garis pantai dengan jelas. Lokasi taman yang di jepret di atas tidak di posisi paling puncak dia persis di bawah puncak. Lokasinya persis di tebing jalan. Sebelah kanan foto adalah tebing yang isinya tetumbuhan, sementara kirinya adalah jalanan menanjak yang berujung di puncak dengan tulisan “Toliamba” sebagai epik.

Tamannya sendiri tidak begitu luas. Tapi yang bikin dia keren dan nyaman adalah bangku-bangku yang di buat banyak yang menghadap area tebing tadi. Jadi kita bisa duduk-duduk cantik sambil menikmati panorama Pulau Wangi-Wangi dari ketinggian, masyaAlloh.

Masterpiece taman ini adalah patung ikan yang kalau kita jalan-jalan ke berbagai objek wisata di Wakatobi hampir selalu ditemukan patung-patung ikan ini. Ada ikan terbang, ikan apalah yang saya tidak mengerti penyebutannya, dan yang di sini adalah ikan lumba-lumba.

Menuju ke sana kita akan disuguhi pemandangan pedesaan yang asri. Jalanannya khas daerah perbukitan dan pegunungan berliku dan menanjak. Kalau kita sudah dapati papan nama “Selamat Datang di Desa Waginopo” berarti tinggal selangkah lagi ke taman lumba-lumba dan setanjakan lagi ke puncaknya Toliamba.

dscn2723
Gerbang ke Toliamba Hill

Dari posisi taman kita bisa jepret tulisan Toliamba. Kita tidak naik sampai atas karena Maryam tidak bisa diam. Dia yang lompat-lompat kegirangan. Tidak ada takut dengan ketinggian malah membuat kita ketar-ketir. Di taman dia keliling dan lompat sana-sini, takut euy!

Padahal kita pikir dia kan baru pulang sekolah. Hari itu Sabtu jadi kita jemput Maryam buat jalan-jalan. Harusnya capek kan, tapi ternyata buat anak-anak kalau ada yang menarik minatnya tidak ada istilah capek. Orang dewasa juga begitu juga sebenarnya ya 🙂

Kita duduk-duduk saja di sana kurang lebih sejaman. Lama juga tak terasa. Bagi saya pribadi ini kayak de javu. Dulu waktu masih kecil, sering nih saya dapat tempat tinggi kayak gini. Entah itu yang paling cetek di pohon lengkeng halaman sekolah atau di atap rumah sampai bukit-bukit yang mengelilingi desa. Saya biasa menghabiskan waktu di sana, ngapain? diam saja sambil melamun. Melihat langit biru rasanya tenang. Rasanya semua asa ada di sana. Semua cita-cita tergantung melambai-lambai. Saya senang dengan semua itu.

dscn2732
Lokasi tertinggi…
dscn2728
Tebing…

 

dscn2729
ini saya sambil ngayal…

Sampai jumpa lagi.

-44- Jalan-Jalan di Wakatobi: Perumahan Bajo

Beberapa bulan yang lalu, mungkin 4 atau 5 bulan yang lalu saya, adik ipar dan Maryam sengaja jalan-jalan ke perumahan bajo. Karena sudah lama adik ipar ikut kita di Wakatobi sementara belum pernah diajak jalan-jalan akhirnya saya memutuskan ajak dia ke perumahan bajo yang dekat. Dari rumah pakai motor sekitar lima menitan. Saya pikir mau ke mana lagi di Wakatobi ini selain melihat keindahan lautnya. Dan perumahan bajo ini selain keindahan lautnya tentu saja keunikan rumah-rumahnya yang dibangun di atas laut.

Tentu sudah tidak asing dengan suku bajo kan? Rasanya ulasannya sudah sering di tipi maupun media elektronik lainnya. Suku ini sepertinya ada hampir di seluruh bagian Pulau Sulawesi. Mereka hidup di laut. Tingkat pendidikannya tergolong sangat rendah. Anak-anak suku bajo biasanya tidak sekolah kalaupun sekolah hanya sampai SD. Para orang tua masih berfikiran kalau anaknya haruslah membantu mencari nafkah keluarga. Tapi, belakangan pemerintah mulai aktif dalam menggenjot pendidikan pada suku bajo. terbukti beberapa sekolah didirikan untuk menampung mereka.

Baiklah ini dia jalan-jalannya kita…

20140406_105114salah satu spot perumahan bajo di Wakatobi

jebatandan yang ini jembatan pemisah antar rumah

Pertama kali memasuki perumahan bajo kita akan disuguhi pemandangan jembatan kayu seperti foto di atas. Jembatan yang memisahkan perumahan bajo kanan kiri yah ibaratnya jalan gang. Dan jembatan kecil masing-masing rumah terhubung dengan jembatan utama. Dilatari pemandangan laut biru luas dan disuguhi laut yang masih jernih di bawahnya, subhanalloh indah. Itu kalo kita tengok ke bawah bisa melihat dasar laut loh dan tentu saja ikan-ikannya, rumput lautnya, semuanya!

20140406_105148pemandangan tembus sampai dasar

Pemandangan seperti di atas: segerombolan ikan kecil melintas bukan hal aneh di sini. Pengen nyemplung pokoknya kalo tidak ingat umur plus teriknya matahari.

Kita sih tidak masuk ke rumahnya, gimana kagak ada yang kenal ya. Cukup berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain. Tapi jangan khawatir disediakan tempat istirahat di sana. Di penghujung perumahan, persis berhadapan langsung dengan laut lepas di situlah tempat peristirahatannya. Sengaja sepertinya biar para pengunjung bisa lebih menikmati suasana laut di perumahan bajo. Fasilitas tempat peristirahatannya lumayan lah walaupun tidak dijaga baik-baik. Berhubung sepertiny masih baru jadi waktu itu bagi kami masih oke lah.

persinggahantempat peristirahatan

Di sebelah kanan saya itu ruangan, bisa dipakai buat tiduran kalau tidak salah. Di belakang dan di sebelah kiri saya itu pemandangan laut lepas. Sebelum tempat istirahat yang ini, juga ada satu lagi cuman fotonya kurang bagus. Tempat satunya lagi mirip poskamling.

Segitu saja jalan-jalannya. Jangan khawatir walaupun terkesan hanya sekulibekan itu saja tapi sangat berkesan. Melihat rumah-rumah di atas laut, anak-anak hilir mudik di bawahnya dengan perahu atau berenang mencari ikan atau sekedar bermain permainan anak-anak, pemandangan yang langka bukan?

20140406_105058kayuh-kayuh nyari temen

20140406_102114siang-siang berenang

Bagaimana indah kan? Kalau kamu berkesempatan ke Wakatobi jangan lupa jalan-jalan ke sini ya. Dijamin tidak menyesal. Oy ya kalau ingin merasakan tidur di atas laut ada juga penginapan yang dibangun di atas laut jadi let’s enjoy Wakatobi…