-162- My Feeling: Mary Stayed all Night

Bismillah.

Well kalau urusan nonton drakor sudah lama saya memilih Moon Geun Young. Dari siapapun. Tentu tidak tiba-tiba. Film My Little Bride lah yang kemudian membuat saya suka. Suka dan tidak bisa ke yang lain. Seperti Ciputra kepada Hendra di tulisan Pak Dis.

Saya sudah menonton hampir semua. Kecuali drama seri terlawas dan terbarunya sebagai pemeran utama: Painter of the Wind dan The Village Achiara’s Secret. Saya belum bisa menemukannya. Dan film teranyarnya Tahun 2017: Glass Garden. Tidak begitu booming. Tapi karena dia yang main saya ingin nonton.

Tidak semua drama seri nya saya tuntaskan. Karena: kenapa endingnya begitu? Jauh sebelum saya menyukai aktingnya. Saya adalah penganut happy ending story. Jangan sodorkan cerita yang berakhir sedih atau menggantung kepada saya. Please jangan!

Goddes of fire adalah drama series nya yang paling saya suka. Tapi saya berhenti di episode 20an. Saya dapat spoilernya. Ending yang menyesakkan. Saya angkat tangan. Saya pernah nulis review nya di sini.

Setelah Goddes Of Fire itu saya nyari dramanya yang lain. Ketemu. Diproduksi akhir 2010. Pas puncak kariernya. Di tahun yang sama ia sukses berperan di Cinderela’s step sister. Yang ratingnya tinggi itu. Dan saya suka.

Berharap ending yang membahagiakan. Saya pun menonton. Tapi entah kenapa. Menonton yang ini rasanya jauh lebih buruk dibandingkan Goddes of Fire.

Goddes of Fire secara keseluruhan sangat baik. Kualitas pemainnya juga ngena. Masuk semua ke dalam karakter. Masalah saya hanya satu: sad ending.

Tapi di drama yang ini. Mary Stayed all Night judulnya. Membuat saya bukan main ilfeel.

Emang bikin sebal nonton nih drama. Saya sudah tahu lama. Pernah nonton juga sebentar. Kemudian memutuskan berhenti. Dulu saya kira, saya kena second lead syndrome.

Hari ini saya penasaran. Benarkah saya terkena second lead syndrome?

Jawabannya memang benar. Tapi kali ini lebih objektif. Bukan karena si pemeran kedua ini lebih tampan. Nope. Tapi dia lebih bisa memerankan perannya. Dia bisa masuk ke dalam karakter Jung In. Dia menjadi Jung In.

Lain hal dengan pemeran utamanya. Saya dibuat kesal. Dia tampan dan memiliki talent luar biasa dalam musik. Tapi dia tidak bisa masuk ke dalam karakter mo gyul. Argghh!!!

Usaha saya menonton kedua kalinya pun kembali gagal. Saya tidak tahan. Melihat akting pemeran kedua yang yahood. Saya merasa dia seharusnya yang menjadi pemeran utama.

Pemeran kedua ini benar-benar aktor. Sementara pemeran utamanya bermula dari dunia musik. Yeah dia tampan. Sangat tampan. Tapi untuk urusan akting mungkin harus banyak belajar.

Mungkin ini salah satu sebab tidak bisa diterima dengan baik oleh Knet. Drama ini memiliki rating sangat rendah. Penulisnya bahkan mengundurkan diri di pertengahan episode. Kalau tidak salah di episode ke 11. Bahkan episode terakhirnya ditulis oleh aktor utama itu. Mungkin dia akan lebih baik menjadi penulis skenario.

Tapi drama ini malah sukses di Jepang. Yeah mungkin karena style mary dan si pemeran utama yang lebih harajuku. Entahlah. Di sana kenyataannya mereka booming. Sampai mendapat beberapa penghargaan.

Saya kadang tidak mau mengerti kenapa industri perdramaan harus dengan aktor yang super tampan. Dan fans yang banyak. dan sedang naik daun. Di puncak karir. Padahal kalau dia bisa memerankan dengan baik. Masalah tampan itu menyusul. Masalah fans juga menyusul. Masalah karir juga menyusul. Beberapa telah membuktikan. Ayolah. Tidak semua orang akan bagus di semua tempat. Penyanyi yang bagus dengan seabreg fans belum tentu bisa berperan dengan baik. Begitupun sebaliknya. Pada akhirnya akan ada satu hal saja bagi seseorang untuk dikenang.

Percayalah.

note: nulis lagi kesel :p

-139- Cerita Drama

Bismillah…

Ini tentang kejenuhan semingguan ini. Super jenuhnya sampai kacau beliau. Kepala mumet, demam di sore hari, yah gitulah…

Di sela-sela itu gak sengaja ketemu drama “Goddes Of Fire”. Ekspektasi saya tentang drama ini adalah jewel in the palace. Episode awal akhirnya saya tonton juga. Episode-episode ini selain bercerita tentang ibunya Jung Yi juga bercerita tentang masa remaja usia-usia SMP kayaknya.

Diceritakan tentang Pangeran Gwanghae dan Pangeran Imhae yang sedang berburu bersama raja. Namun, karena ulah Pangeran Imhae yang memukul pantat kuda Gwanghae membuat Pangeran Gwanghae bablas ke hutan mencari kudanya. Dan tak terduga masuk ke dalam perangkap. Lubang besar di hutan yang ditutupi ranting dan dedaunan untuk menjebak binatang hutang sejenis babi hutan.

Ternyata itu lubang yang bikin si Jung Yi. Pas dia datang bengong kan lubangnya ada isi tapi bukan binatang yang dia harapkan tapi sesosok. Mereka berdua saling berpandangan bingung. Dan terjadi percakapan lucu di sini yang intinya si pangeran nanya ini lubang kamu yang buat. Terus si Jung Yi nanya juga kenapa kamu masuk ke dalam lubang tanpa seizin dia si pemilik lubang.

Dari pertemuan ini konflik antara pangeran dan Jung Yi berlanjut sampai mereka gede. Waktu kecil si Jung Yi bantu memperbaiki guci karuhun yang pecah sama si Imhae. Dan akibat kejadian ini secara tidak langsung membuat Jung Yi kehilangan ayah (angkat) nya. Nanti kamu akan tahu bahwa ayah yang membesarkan Jung Yi dari kecil sebenarnya bukan ayah kandungnya *kalau nonton 😛 *

Oya Jung Yi ini hidup karena harapan besar ibunya yang ingin menjadikan anaknya sebagai ahli keramik pertama di dinasti jo seon. Maka, dia dengan susah payah belajar untuk menjadi ahli keramik sampai nyamar jadi lelaki karena perempuan gak  boleh jadi ahli keramik di kerajaan waktu itu. Karena penyamarannya ini banyak masalah membuatnya dekat dengan Pangeran Gwanghe.

Sampai nanti si pangeran tahu bahwa si Tepyong (lupa nulisnya) itu perempuan. Dan suatu saat nanti juga pangeran akan tahu bahwa si tepyong ini adalah Jung Yi. Gadis yang dia bingung mendeskripsikannya namun kata ibu ratu Jung Yi ini cinta pertama Gwang He *meleleh kan, tapi tahu mereka gak bakalan bersatu, siapa coba sanggup menyelesaikan kisahnya?* Aku enggak :p

Ceritanya nanti Jung Yi akan benar-benar jadi ahli keramik pertama. Tapi dia tidak akan pernah bisa membalas dendam atas kematian ayah angkatnya karena ternyata otak pembunuhannya adalah ayah kandungnya sendiri. Gitulah, konfliknya lumayan. Cuma menurut saya ada hal-hal aneh yang gak bener bangetlah, kayak si Jung Yi di suatu episode jadi buta eh, dia bisa ngeliat lagi tanpa diobati. Beda kayak Jang Geum yang misal hilang indra penyecapnya dia pake sejenis binatang apa gitu untuk mengembalikan indra penyecapnya.

Harusnya yang kayak gini bisa diolah lebih ilmiah. Maksudnya sembuhnya itu bisa dijangkau akal bukan yang mejik mejik gitu hihihi.

Jadi okelah ini drama bagus banget mirip-mirip Jewel in the palace aka Dae Jang Geum. Bukan karena ceritanya, karena kalau cerita sudah pasti beda. Tapi soalan sopan santun di film. Kamu gak akan nemu yang namanya sentuhan kulit berlebihan apalagi kissing. Dan ini ya dari semua film atau drama korea yang saya tonton kenapa harus ada adegan kissing padahal itu sangat mengganggu apalagi kalau nontonnya bareng keluarga.

Dan saya paling suka nonton cerita seperti ini, mengajarkan kerja keras, tidak mudah menyerah, selalu kejar cita-citamu setinggi langit weleh weleh hiihihi. Tapi kalau dae Jang Geum saya bisa nonton sampe selesai selain saya menikmati setiap ceritanya pun karena saya tahu akhirnya happy ending. Alamat saya dapat spoiler akhir Goddes of Fire menyayat hati hiks hiks menggantung gak bisa dijangkau, saya gak sanggup. Saya sampai sekarang belum nonton episode terakhirnya ep 32. Nunggu hati siap dulu kali ya…