-193- Apa Aja

Bismillah.

Pengennya nyerocos gak jelas. Akhir-akhir ini saya tidak bisa melihat perasaan diri sendiri seperti apa. Apakah bulat, kotak, atau bagaimana seperti biasanya. Kali ini bingung banyak keraguan, bimbang dengan pilihan yang harus dipilih.

Kita tidak bisa memilih kapan datangnya masalah. Memilih masalah yang akan datanga. Atau memilih agar masalah datang dengan tanda, agar kita bisa bersiap. Tidak bisa.

Atau datanglah satu persatu, please…! Enggak bisa.

Masalah yang menumpuk itu masyaAlloh nikmatnya.

Di kala seperti ini tiba-tiba ingin buat podcast. Tiba-tiba juga ingan buat video.

Teman nyenggol sedikit tersinggung bukan main seperti orang lagi pms. Saya tidak berniat marah. Tapi kontrol diri sedang hilang, entah ke mana. Cariin dong😭

Tapi saya sudah bikin videonya. Itu bisa bikin syaraf di kepala rada kendor.

Terus sekaranga saya pengen juga bikin podcast. Tapi proyek cerita saya di wattpad gak kelar-kelar. Gak sesuai harapan. Bener banget gak bisa nulis kayak gini kalo gak ada mood plus feeling. Feel nya kalo gak dipupuk hilang. Saya sampe lupa Bayu Anggoro ini karakternya seperti apa. Emang ya paling mudah itu menciptakan karakter disandingkan ke salah satu orang yang kita kenal. Jadi gampang ingetnya.

Bayu Anggoro itu kejadiannya ketika kasus Anang vs Jerinx. Saya malah tertarik dengan karakter Jerinx. Masih mikirin karakter Rafa juga waktu itu. Ketemu thread anak konglo di twitter. Jadi, Bayu Anggoro itu karakternya sekuat Jerinx, seangkuh Rafa, seeksklusif anak konglo. Tapi dia lebih terbuka dengan yang namanya perempuan. Dibanding Rafa yang kaku, Bayu malah terkesan frontal kalau sudah suka dengan seseorang. Cuma dia tahu, hanya sebatas main-main karena sebagai anak konglo dari lingkungan eksklusif masalah jodoh sudah selesai. Beberapa kali dia bertemu dengan perempuan seperti ini. Ia senang dan bermain-main saja. Tidak pernah mengikat mereka tapi mereka senang jalan dengan Bayu Anggoro. Sampai dia bertemu Asma.

Nah, dunia lainnya itu Asma. Bayu tidak bisa melogikakan perasaannya terhadap Asma. Di tengah pergolakan batin Bayu pun dihadapkan pada persaingan bisnis. Ia diharapkan bisa lulus ujian dari papanya sekaligus melogika Asma dan meluluhkan hati mama nya.

Nah, papanya ini enaknya kayak gimana🤔 Apa yang tegas atau yang selow? Ini saya masih bingung. Mamanya sih jelas.

Ah,

Terus saya bikin video. Yaitu ya perjuangan dengan laptop yang kartu grafis nya minim. Mau ngedit lamanya dahsyat. Tapi ya kalo sudah jadi ada kesenangan tersendiri sih. Kayak acara ngobrol jaman dulu sebelum media hiburan selumrah sekarang.

Iya deh postingan curcol. Tapi saya kok jadi happy ya, alhamdulillah. Bombong kata orang jawa.

Advertisements

-190- Marah

Bismillah.

Marah ya wajar. Tapi semakin dewasa marah berganti baju. Kalau dulu sampai teriak-teriak atau bahkan jambak-jambakan kini lebih elegan. Tapi saya belum bisa cool. Iya ada marah yang cool😂 Dia marah dengan diam. Saya gak bisa. Saya tetep harus ngomong. Walaupun tangan gemetaran saking kuatnya nahan amarah.

Seingat saya, saya enggak pernah marah kepada teman-teman kantor. Semarah apapun: saya diam tapi ada sedikit ngomong 😅 Ya itu tadi saya belum bisa benar-benar marah yang diam. Diam🤭. Tapi pernah juga mendapati yang lainnya marah. Dengan yang lain tentunya. Saya sejauh ini belum pernah ngajak orang ribut.

Saya malu kalau harus marah. Begitu juga jika saya yang kena marah. Saya malu. Kalau tidak urgent banget saya sangat menghindari acara marah-marah ini. Palingan saya lampiaskan ke suami. Saya bilang saja lagi marah.

Kemarin. Iya kemarin sekali. Seseorang merusak hari saya mulai pagi sekali. Dan hari itu saya merasakan bagaimana suasana hati yang dirusak sangat mengacaukan seharian itu.

Karena saya sangat marah. Tapi semarah apapun saya memilih menahannya. Buat apa saya balik marah? Toh dengan begini saja saya sudah pusing. Seharian kemarin saya sebal bukan main.

Dan ketika suasana hati tak karuan
perginya ke makanan. Ampun deh.
Mana maunya diet. Please siapapun
don’t ruin someone else’s day😪

Kalau saya balik marah. Mungkin detik itu juga akan plong. Tapi yakin deh setelah itu bakalan merasa sangat bersalah. Jadi daripada membuat beban lagi di belakang. Mending saya pusing seharian itu saja. Terimakasih kepada yang telah memberikan rasa ini. Karena ini saya bisa belajar merasai dan memahami.

Agar marahnya gak meledak pertama kali yang saya lakukan adalah duduk. Saya keinget dengan sebuah hadits: “Bila salah satu diantara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya sudah hilang(maka cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” HR Abu Daud. Kemudian saya curhat. Iya saya harus mengeluarkannya. Saya curhat ke orang terdekat. Suami. Dan teman dekat. Curhat saya lakukan untuk mengeluarkan uneg-uneg. Harus hati-hati emang curhat ini. Karena bisa menyelesaikan masalah atau bahkan menambah masalah. Curhat sama Alloh SWT sih yang paling aman.

Tapi ya namanya manusia. Punya waktu sendiri dalam meredakan amarah. Saya sih enggak lama bisa mereda. Tapi sebelnya sampai sore😁 yang penting gak meledak saya udah sangat bersyukur.

Dari situ saya belajar. Satu jangan marah. Karena akibatnya benar-benar tidak hanya merugikan diri sendiri. Orang yang kita marahi mungkin akan lebih tidak baik kondisinya. Apalagi marah karena hal yang kita lakukan sendiri✌️

Dua kalau mendapati orang lain marah, diamlah! Saya harus mengatakan ini ke diri sendiri: DIAMLAH! Karena kalau kita menanggapi, kita akan ikut marah dan menambah amarah si orang itu. Diamlah sampai reda amarahnya. Karena kemarin saya sahuti orang yang lagi marah: saya jadi marah dia pun kagak reda😂 Jadi kayak nyiram bensin kena sendiri.

Tiga. Siapapun saya, kamu, kita jangan marah.

Karena,

Janganlah engkau marah, maka bagimu surga. (HR Thabrani dalam Al-Kabir).

Selamat pagi and keep happy😊

-179- Sebelas

Hendak jadi apa sepuluh tahun yang akan datang?

Aku ingin menjadi presiden. Yang hebat. Paling hebat. Waktu itu kelas enam. Imajinasi masih membubung tinggi. Waktu itu belum mengenal apa daratan.

Waktu melintas seperti angin saja. Kadang terasa kadang tidak. Berharap semuanya sepoi. Jangan datangkan angin ribut. Tapi kebanyakan memang yang tak terasa itu. Kehidupan juga begitu saya kira.

Jendela abu tinggi-tinggi di hadapan. Aku tahu. Dulu. Di sini. Di tempat ini. Berbagai macam manusia. Tak terhitung jumlahnya. Hilir mudik. Mungkin tak satupun dikenalnya. Tapi siapa peduli. Mereka memiliki hidupnya masing-masing. Mereka memberi arti hidupnya masing-masing. Yang kadang tidak perlu kita tahui.

Sudah sejauh ini. Bukan senja. Walaupun aku selalu menyukai senja. Tapi aku yakinkan bahwa ini bukan senja. Berharap masih diberiNya kesempatan. Satu saja. Untuk selalu menjadi lebih baik. Muslimah yang taat. Istri yang sholeha. Dan ibu yang sholeha.

Kata seorang teman: hebat sekali jalan terus. Saya bilang, bukan saya yang hebat. Anak sayalah dia yang hebat. Yang sudah tidak lagi meraung-raung di usianya yang belum genap enam.

Tapi justeru hal itu lebih berat. Air mata tanpa suara. Hidung memerah dan rasa yang dipendam. Itu. Itu lebih dari sekedar berat. Perih.

Tapi juga hidup terus berlanjut. Terus, terus, dan terus. Tidak bisa kita hentikan sejenak.

Hidup ini hanya soalan kita menghadapinya. Soalan pilihan. Yang akan membuat kita terlihat. Pilihan-pilihan itu menunjukkan sudah sejauh mana kita melangkah.

Senyum simpul ini menandakan bahwa kehidupan telah begitu rupa menjamahku. Aku bersyukur sudah sampai di titik ini. Banyak yang meleset dari harapan. Tapi Alloh memberiku yang lain yang jauh lebih aku butuhkan. Aku sudah beranjak dari pandangan hilir mudik manusia siang ini. Angin dan matahari membelaiku tanpa mereka harus tahu siapa.

Joglosemarkerto, 11 Maret

-140- Maryam dan Komunikasinya

Bismillah…

Sudah lama tidak cerita perkembangan Maryam. Sudah empat tahun anaknya, sudah besar. Sekarang Maryam TK, dua menitan kurang lebih jaraknya dari rumah naik sepeda motor. Mulai menikmati pergi sekolah karena sudah punya teman. Temannya laki-laki persis seusia, tetangga desa. Temannya itu setiap hari diantar mamanya pergi sekolah. Jadinya, saya pun kenal dengan mama teman Maryam ini.

Ngomong-ngomong soalan TK, ini adalah TK ke enam bagi Maryam 😀 . Empat TK di Wakatobi dan dua di sini. Maryam pernah semingguan lebih sekolah TK di tempat lain selain TK yang sekarang. Alhamdulillah TK yang ini ada penitipannya jadi Maryam biasa dijemput dzuhur sama Om nya. Baru TK ini di desa kita yang punya sistem penitipan anak. Yah, namapun masih desa jadi pilihan sekolah tidak begitu banyak. Lain cerita kalau di ibukota kabupaten dimana peluang mencari sekolah plus penitipan itu besar.

Saya pernah cerita tentang speech delay di sini, gimana sekarang Maryam? Alhamdulillah setelah intens main sama sepupu-sepupunya dan bersekolah sekarang komunikasinya lumayan. Perkembangannya pesat, dari yang pertama kali ke Jawa masih satu arah sekarang sudah dua arah malah ngobrol. Tinggal menyempurnakan pelafalannya, semacam huruf R, L, G, dan K. Jadi, semisal menyebut namanya bukan Maryam tapi Mayam, Mba Bilqis jadi Mba Titis, Mba Bila jadi Mb Bia. Kalau diperhatikan Maryam belum bisa mengucapkan huruf-huruf yang harus memainkan ujung dan pangkal lidah.

Secara tahapan perkembangan komunikasi anak InsyaAlloh semua tahapan aman. Artinya, Maryam tidak mengalami apa yang disebutkan di sana seperti hilangnya kemampuan bicara pada semua tingkatan umur, Maryam masih bicara namun belum bisa jelas satu kalimat waktu itu. Jadi, kalau saya sebagai ibu menyimpulkan bahwa Maryam kurang rangsangan komunikasi atau bisa jadi syarafnya terlambat matang. Mudah-mudahan seiring berjalannya waktu komunikasinya akan semakin membaik, aamiin.

Maryam bukan tidak berkomunikasi sama sekali. Saya dan Abahnya berusaha ngajak bicara, tapi mungkin tidak seintens yang lain. Selain itu, di sana Maryam jarang sekali bermain dengan teman sebaya. Paling dalam sebulan sekali itupun jika beruntung kalau ada anak teman yang dibawa ke kantor. Pas sekolah TK sudah mulai membaik dan alhamdulillah terus membaik seiring waktu dan kepindahan kami ke kampung halaman si abah.

Rasanya waktu cepat sekali berlalu dari rasa khawatir yang sangat sampai ke titik ini. Titik dimana rasa khawatir telah berubah menjadi harapan. Jika dulu khawatir plus berharap sekarang berharap kali dua, alhamdulillah.

-96- Random akhir bulan

Bismillah.

Minggu yang super sibuk, alhamdulillah.

Sepulang pelatihan innas susenas kemarin langsung membantu kegiatan SE kemudian lanjut mengajar. Luar biasanya, ketika saya mengajar suami yang tadinya ikut pelatihan mendadak sakit, terpaksa Maryam harus ikut saya mengajar. Fiuhhhh…

Tapi, semua itu ketika dibayangkan hari ini: Subhanalloh…kok bisa ya, saya sekuat itu. Hehehe bukan muji diri sendiri, tapi emang setelah saya pikirkan sekarang harusnya saya ambruk. Mungkin karena saya belum terbiasa dengan aktivitas sepadat dan seberat itu. Malam belajar buat mengajar, paginya menyiapkan sarapan buat yang sakit, memandikan anak, menyiapkan bekalnya selama ikut pelatihan, membersihkan rumah, belum lagi pakaian saya yang belum di setrika. Gonceng anak di depan menuju tempat pelatihan, naik turun tangga ke lantai 3 yang mana sesekali Maryam yang hampir 12kg saya gendong. Sampai di atas ngos-ngosan tapi masih bisa lanjut mengajar dengan suasana hati gado-gado, antara memikirkan suami yang sakit di rumah, anak yang ke sana ke mari di dalam ruangan, dan materi pelatihan yang harus saya sampaikan, errrr belum lagi tugas panitia yang sebagian saya handle juga. Saya belajar bahwa benar adanya, Alloh tidaklah memberikan cobaan melainkan kita sanggup memikulnya, masyaAlloh.

Kabar Maryam

Dia mengalami hari-hari yang menyenangkan saya rasa. Waktu pelatihan dia mendapat dua teman yang menyenangkan dan sangat menikmati bermain dengan mereka berdua. Tertawa lepas, belajar berbicara mengikuti mereka *saya terharu*, bergandengan tangan ala-ala dua gadis kecil yang bersahabat tapi sepertinya lebih ke adek kakak hihihi. Halo Ka Halil dan Ka Ica…

Selain bermain dengan teman, dia juga bermain dengan semua perlengkapan pelatihan. Dia mengikuti setiap yang saya lakukan. Saya menulis di papan tulis pakai spdol dia pun, saya berbica menggunakan micropon dia juga, saya duduk di depan bersama kepala dalam acara pembukaan dia pun tak mau ketinggalan duduk tepat di bangku kosong samping saya. Saya kagum dengan semua hal itu, subhanalloh, Maryam yang biasanya rewel minggu itu dia sangat nice. Love you Nak!

Perkembangan kosakatanya pun menakjubkan alhamdulillah. Untuk seusia Maryam 2 tahun 6 bulan, mungkin ini agak terlambat, tapi bagi kita ini sangat berarti dan kita percaya anak-anak tumbuh dengan cara mereka sendiri. Beberapa kosakata barunya:

  1. Menghitung 1-10 walaupun yang jelas baru 1, 3, dan 7;
  2. Allohuakbar ketika ikut sholat;
  3. asslamu’alaykum dan jawabannya;
  4. bismillahirrohmannirrohim;
  5. permisi;
  6. ikan;
  7. cumi-cumi;
  8. burung;
  9. embe;
  10. itu itu.

Dan semua perintah serta semua ekspresi kita dia rata-rata megerti tinggal menanggapinya dengan kalimat.

Mau sedikit cerita kantor

Lagi sibuk dengan kegiatan Sensus Ekonomi dan Susenas. Saya mau cerita sedikit tentang SE.

Tidak seperti survei dan sensus lainnya di BPS, kali ini, pada SE2016, petugas yang di rekrut melalui proses seleksi terlebih dahulu. Saya kira ini adalah langkah berani BPS mendobrak kebiasaan lama.

Bukan berarti petugas yang dulu kurang baik, hanya saja dengan seleksi kita berusaha untuk fair. Semua berhak bekerjasama dengan BPS dalam hal ini. Mengingat masih banyak yang menganggur tentu hal ini memberi sedikit angin segar bagi mereka walau hanya untuk satu bulan.

Selain itu, saya kira melalui seleksi ini akan terlihat petugas-petugas yang sudah baik tentu dia akan dengan mudah lolos dan petugas baru diharapkan memiliki kualitas lebih baik. Dengan catatan proses seleksi memang diniatkan untuk menjaring kualitas petugas yang pada akhirnya untuk data kita yang lebih baik.

Dan saya bersyukur berada di kondisi lingkungan kerja yang walaupun minoritas menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik. Walaupun banyak sekali kerikil, tapi pada akhirnya dengan sedikit lega saya bersyukur proses seleksi dapat berjalan dan hasilnya pun, saya kira sesuai dengan kerja keras kita semua selama ini. Adapun hal yang tidak memuaskan dan mengecewakan, bagi saya pribadi tetap ada, tapi ya, setiap manusia tidak akan begitu saja terpuaskan. Ada hal-hal yang akan kita simpan baik menerima atau tidak, ikhlas ataupun tidak. Saya rasa kita semua adalah manusia dewasa yang tahu baik buruk dan tahu bagaimana menanggung tanggung jawab dan risiko baik di dunia dan akhirat. Kembali pada diri masing-masing.

Setelah dengan begitu berat semua melepaskan segala kepentingan, kecondongan, dan ego, inilah mudah-mudahan yang terbaik. Jika di kemudia hari kita kecewa, yakinlah di sana selalu ada proses untuk terus belajar, tidak pernah ada yang sia-sia.

Belajar jujur minimal terhadap diri sendiri, belajar fair, belajar untuk menerima, belajar…

Semoga ke depannya kita semua lebih baik lagi, aamiin.

Rumah kita

Kontrakan akan selesai hitungan hari, bagaimana ini?

Rencana adalah usaha kita tapi Alloh lah tempat kembali segala-galanya. Tahun ini kita masih di sini. Dan kita tidak tahu sampai kita memutuskan keputusan terbaik untuk kehidupan kita.

Prosedural yang diharapkan sepertinya bukan hal yang patut diharapkan 😛 . Tapi, kita juga tidak mencari belas kasihan. Kita di sini hari ini untuk terus belajar, mungkin salah satunya untuk belajar memutuskan…Semoga Alloh selalu melindungi kita atas segala keinginan dan keputusan, aamiin.

love the journey.

-64- Cerita ngalor ngidul: usaha dan mlm

Akhir tahun 2013 sampai pertengahan tahun 2014 mungkin adalah tahun di mana saya sangat bersemangat menjadi pengusaha. Mulai dari jualan tiket, baju, alat masak, sampai perlengkapan bayi. Saya pun membuat page di facebook untuk masing-masing dagangan. Singkat cerita itu semua tidak berjalan sesuai harapan. Yah, kecuali tiket yang sekarang ini lebih banyak di handle suami.

Saya bosan. Mungkin karena tidak sabar menjalani proses. Iyalah mau jadi pengusaha sukses memang butuh usaha dan kesabaran ekstra. Kalau cuma anget-anget t*i ayam seperti saya, mungkin bukan passion nya. Mungkin.

Tapi kalau saya renungi perjalanan hidup saya yang sudah mendekati kepala tiga ini, berdagang adalah bukan hal baru. Sedari kecil, iya saya kecil sudah terbiasa berjualan. Mulai dari bantu emak-emak penjual di SD melayani pembeli yang membludak dan tak terkendali saat istirahat tiba, jualan jambu batu kala musim nya, jual cabe hasil bertani bareng kawan, sampai jualin makanan jajanan punya orang.

Saya memang senang berjualan tapi selidik punya selidik niatannya bukan untuk profit diri. Iya semua hal yang berbau jual menjual waktu kecil, saya lakukan karena suka menolong dan senangggg melihat mereka tersenyum bahagia di kala jualannya laku. Dan saya pun berbangga karena saya pintar menjualkan barang 😛 . Saya tidak pernah berfikir untuk mendapatkan keuntungan yang lebih. Dari dulu tidak ada cita-cita saya jadi pengusaha 😦

Saya dididik untuk bangga menjadi pegawai atau profesi lainnya yang terkenal dan bergengsi semacam dokter, pengacara, dan mmmm presiden! Menjadi PNS adalah kebanggaan di kampung saya, apapun PNS nya mau dokter, pengacara, hakim, guru, atau staf biasa di kelurahan yang penting labelnya PNS. Walaupun berhutang di mana-mana yang penting PNS, dia masih lebih berharga dijadikan mantu ketimbang petani yang walaupun dia sukses. “Kan gak keren atuh kotor kulumud ku taneuh“. Gengsi.

Pegawai swasta pun masih lebih berharga karena mereka juga punya gaji yahud dan tampilan necis. Petani, pedagang, yang kelihatannya capek gitu keringetan dan terlihat lebih mengandalkan fisik masih dipandang sebelah mata. Makanya banyak sarjana nganggur karena selalu berfikir untuk diterima bekerja bukan mengupayakan lapangan pekerjaan. Sarjana tani, lebih memilih kerja di bank ketimbang berpanas-panas di bawah sengatan matahari untuk menemukan metode baru dalam bertani. Begitu juga sarjana lain-lain nya yang sebenarnya mereka memiliki peluang untuk mengupayakan lapangan pekerjaan minimal untuk diri sendiri. Tapi keadaan di kampung tidak mendukung ke arah sana. Alih-alih mengupayakan lapangan kerja yang ada malah stress, karena tiba-tiba menjadi topik hangat di kampung, “tuh si A sarjana-sarjana juga akhirnya sama saja kayak kita, tani kokotoran“.

Gimana pertanian kita bisa maju, lah orang yang ahli di bidang nya malah dicemooh? Ke sininya kok ya makin aneh. Menjadi pegawai, pegawai apapun lebih diminati ketimbang pekerjaan primer seperti bertani. Iya sih di kota lahan tidak ada, lah kan masih bisa usaha lain seperti berjualan atau menjadi produsen apa gitu. Tapi yah menjadi pegawai ,masih lebih disukai. Sampai-sampai beberapa usaha dan perusahaan membuka lowongan pekerjaan sebesar-besarnya untuk siapapun dengan iming-iming penghasilan wow fantastik beibi.

Pekerjaan yang katanya tidak menjadikan kita sebagai pegawai. Pekerjaan yang katanya kitalah bos nya karena mengenalikan bisnis tapi tidak dengan produksinya. Pekerjaan yang katanya katanya wow, saya yakin sudah tidak asing dengan nama multi level marketing, iya mlm. Iming-iming pendapatan wow, bekerja tidak perlu capek, bisa dikerjakan di rumah (biasanya untuk menarik minat ibu rumah tangga), dan pasif income (ini yang menurut saya menakutkan dalam bisnis mlm manapun).

Sekali dulu saya pun pernah menjadi bagian dari bisnis besar ini, lebih tepatnya jaringan besar. Tanpa disadari, iya saya tidak tahu kalau produk yang saya dagangkan adalah bersistem mlm. Awalnya saya hanya tertarik dengan jualannya dan saya lihat produknya pun bagus-bagus. Saya pikir setaralah dengan harga. Jadi tanpa menjadi anggota saya coba dulu tawarkan pada teman, waktu itu saya masih kuliah. Dan mejiknya ada teman yang mau order, kalau tidak salah inget dua orang. Wow otak dagang pun mulai bekerja, mengkali-kali kalau dapat order sekian dan sekian. Saya pun bertanya pada teman kos yang mengenalkan saya pada produk tersebut. Saya bertanya bagaimana kalau saya mau order, berapa keuntungan saya , dst dst … Kata teman kos saya itu, kamu harus menjadi anggota kalau mau dapat untung, karena kalau anggota setiap belanja dapat pemotongan harga sekian persen dari harga katalog. Ow cuman jadi anggota doang yang hanya bayar 50 rebu dan asiknya dapat bonus pouch atau apalah itu, siapa takuuuut.

Teman saya itu jujur loh. Kenapa dia tidak menerangkan sampai detail bahwa ini adalah mlm. Kamu juga harus tupo dan sebagainya merekrut anggota yang katanya tidak wajib, dia benar-benar tidak tahu. Selama dia jadi anggota dia tidak pernah merekrut orang, murni dia jualan. Dia memang berbakat jualan dan emang dia maunya dagang kok. Terus kapan saya tahu bahwa ini mlm? Teman saya itu bercerita bahwa kalau saya bisa belanja minimal sekian, poin nya bisa nambah. Poin nya itu kalau sudah banyak bisa dituker hadiah yang lumayan menggiurkan. Tapi, katanya lagi, dia mah dapat poin nya standar gak bisa seperti si A yang banyak, gak tahu kenapa. Belakangan saya tahu, iya kali si A kan banyak downline nya. Sementaa teman kos saya itu downline nya cuma saya, itupun tidak sengaja dapatnya 😛 . Yang jadi downline pun belum sadar bahwa dirinya itu seorang downline 😀 . Aduh kalau ingat itu jadi geli sendiri.

Dan setelah mendengar cerita itu, malamnya saya galau. Saya kan lagi belajar ilmu agama jadi sedikit-sedikit saya mulai berhati-hati. Jujur ada sesuatu yang membuat saya tidak tenang. Apakah hukumnya mlm itu? Soalnya kok dari cerita teman, kalau kita punya downline bonus kita bisa jadi banyak. Itu yang bikin saya galau. Kalau saya berjualan sederhana saja, saya mendapatkan keuntungan sesuai dengan apa yang saya jual tidak ada embel-embel keuntungan lainnya. Sudah itu yang saya namakan berdagang. Kalaupun saya jadi makelar dalam artian saya promosiin barang dagangan teman ya, saya dapat honor dari si teman, sudah selesai.Tapi mlm ini agak lain dari yang saya fahami…

Saya pun mulai memberdayakan si mbah google. Dan tereret banyak aja yang ngebahas, ada yang membolehkan malah ada juga yang mengharamkan, ngeri. Jadinya karena keilmuan saya tidak cukup untuk mencerna itu semua, saya bertanya. Bertanya kepada orang yang menurut saya dia lebih tahu ketimbang saya. Tidak lama dia pun memberikan print out beberapa lembar tentang hukum mlm. Setelah membaca itu, besoknya saya berhenti menjualkan produk tersebut. Saya tidak pede membahasnya kalau mau belajar bisa baca di sini atau cari sendiri artikel lainnya. Tapi lebih afdhol kalau ada orang yang bisa ditanya.

Sebenarnya kalau bukan mlm saya masih mau loh menjualkannya, asal jelas keuntungan nya. Saya pun memberi tahu teman kos saya itu, dan walaupun membutuhkan waktu cukup lama karena emang dia waktu itu lagi butuh kerjaan, akhirnya dia pun keluar dan memilih berjualan produk lain. Kadang saya merasa bingung 😛 padahal produkny bagus kenapa harus di mlm kan?kan kalau dijual tanpa sistem mlm kemungkinan harganya bisa ditekan dan bisa lebih membumi. Masalah laku atau tidak kan tinggal marketing nya saja yang diperbaiki. Ah abaikan pendapat dari bukan ahli 🙂

Sebenarnya tidak masalah menjual produk MLM sebatas niatan menjual tanpa embel-embel yang lain. Tapi, ya life is a choice dan saya ragu kemudian saya memilih meninggalkan. Saya yakin di luar sana masih banyak kesempatan lain yang bisa saya dapatkan. Hidup tidak sesempit itu 🙂

Memang sih hukumnya masih jadi ranah abu-abu, ada yang membolehkan itu pun dengan syarat yang super ketat dan ada yang blas mengharamkan. Sekali lagi Hidup adalah pilihan.