-169- Maryam Mengaji

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Saya lupa persisnya kapan. Maryam ikut mengaji dengan sepupunya. Di kampung kami. Ba’da magrib sepupu-sepupunya berkumpul di rumah bapak (mertua). Tepat di mana kami tinggal. Jadilah Maryam ikut juga.

Bukan iqra. Mereka menyebutnya jilid. Kalo iqra ada 6 buku, jilid ada 10. Jangan khawatir kelamaan. Jilid ini lebih tipis halamannya. Kurang lebih 30 halaman per jilid nya. Sementara iqra ratusan.

Dibandingkan saya dulu, cara ini lebih lama sampai kepada alQur’an. Tapi melihat pengajarnya yang telaten dan tegas soalan makhraj. Maryam pernah beberapa hari hanya melafalkan tsa, ghin, qof, dan ro. Saya tidak masalah soalan seberapa lama.

Sekali lagi saya lupa. Lupa sudah berapa lama Maryam ikut mengaji. Mungkin sebulan, dua bulan? Saya benar-benar lupa. Yang pasti belum ada setengah tahun.

Jilid satu nya sudah mau selesai, alhamdulillah. Kondisi jilidnya, masyaAlloh sangat rajin 😁

Awalnya saya tidak pantau. Membiarkannya mengalir. Saya pikir toh Maryam masih belum nalar. Tapi melihat perkembangannya saya kembali berpikir. Ditambah mendengar perkataan guru agamanya di acara rapat wali murid sabtu kemarin: bahwasanya anak adalah investasi kita di akhirat. Kita harus mengupayakan kebaikan semampu kita. Dan merawat. Dan melindunginya. Memperjuangkannya. Saya tahu saya harus berupaya lebih. Tidak sekedar membiarkannya mengalir bak air. Usaha. Bukankah kita dituntut untuk berusaha?

Jadilah saya rada rajin antar Maryam mengaji. Saya ingin memastikan ia benar-benar mengaji. Karena pernah satu dua malam. Maryam berangkat mengaji tapi tidak mengaji. Katanya tidak ada teman.

Ada satu sepupunya yang usianya dekat dengan Maryam. Sekolah bersama. Sepupunya ini tiap pagi jemput Maryam. Bermain bersama. Pun mengaji. Walau wajah mereka blas tidak ada mirip-miripnya. Tapi keseringan bersama disangkanya kakak beradik kandung. Jika sepupunya ini tidak ada. Bagi Maryam seperti ada yang kurang. Jadilah ketika ngaji pun harus selalu ada dia. Kalau tidak ada, ya, umminya ini yang jadi pengganti.

Saya duduk di sana. Al kawaakib nama tempat ngajinya. Pendirinya ustadz paling disegani seantero kampung. Bahkan di kampung-kampung sebelah. Ia dikenal karena hafalannya. Hafizh. Cara mengajarnya yang tegas. Tapi sangat lemah lembut perilakunya. Ia sangat dikenang di kampung ini.

Sayang, saya datang beliau sudah berpulang. Saya hanya mendengar semua kebaikannya dari mulut warga. Dan masih merasakan kebaikannya, alhamdulillah.

Pengajian dimulai ba’da magrib. Setiap saya temani selalunya jam 18.30. Mengantri. Paling telat sejaman baru selesai.

Pengajarnya yang di lantai 1 perempuan semua. Pengajar jilid. Dua pengajar putra dan dua pengajar putri.

Di lantai satu ini ramainya bukan main. Ramai dengan yang mengaji juga dengan anak-anak yang bermain. Para pengantar biasanya menunggu di teras. Tapi banyak juga yang di dalam. Seperti saya.

Antrianya mengular. Ada empat banjar. Dengan baris yang sulit dihitung. Karena masih saja ada yang datang di tengah atau di akhir mengaji.

Sementara itu lantai dua untuk yang belajar alQur’an. Saya belum pernah naik. Biasanya di atas menurut ponakan yang sudah alQur’an, belajar tajwid juga. Ya harus ya. Belajar alQur’an mesti dengan tajwidnya.

Ya, saya menjadi bersemangat. Satu bulan harusnya bisa satu jilid. Dengan ketentuan dan syarat berlaku. Okelah dua bulan. Biar lebih longgar. Jadinya saya tidak stres sendiri. Gitu deh emak-emak banyak kepengennya😁

Tapi dengan Maryam semangat mengaji saja sudah membuat saya dan abahnya senang bukan main, alhamdulillah. Semoga terus bersemangat mencari ilmu sampai kapanpin ya Nak!

Semangat!

Advertisements

-128-Banjir Brebes Awal 2017

bismillah.

Innalillahi…Sejak kemarin kawasan Brebes banjir. Mulainya hari Rabu 15 februari kemarin persis di hari pencoblosan. Siang hari lumayan terik. Waktu itu saya dan Maryam ikut suami yang sedang tugas melakukan pencacahan sakernas di Jatibarang. Sesiangan sampai sore cuaca sangat mendukung. Tiba waktu ashar hujan turun disertai kilat dan guntur memekakan telinga. Saking kerasnya guntur saya menjerit kenceng ketika suami mendata di salah satu rumah penduduk terakhir. Tak ayal kami berempat (dua lagi responden) kaget dan tertawa geli: Ya kali emak-emak teriak, maafkan kenorakan ini 😀 .

Saya ingat persis hujan turun beberapa saat sebelum adzan ashar. Dan hujan tidak berhenti sampai entah saya tidak ingat lagi karena pulang rumah langsung tepar jam enam. Menurut informasi hujan baru reda sekitaran jam 9 malam. Selama itu kawasan Brebes dan sekitar diguyur hujan deras, kali (sungai) yang entah karena termakan usia akhirnya tak kuasa menahan debit air dan memuntahkannya tak tanggung-tanggung.

Keesokan harinya kami semangat berangkat ke kantor. Walaupun sungai depan rumah mertua luber membanjiri sampai halaman rumah dan motor tidak bisa melaluinya kami tetap berangkat dengan memutar arah: jalannya lewat dapur, di sana masih bisa lewat motor.

Sampai di pertigaan lampu merah Jatibarang ada peringatan dari polisi ditulis besar-besar di jalan arah jatibarang, tapi ya, kami tetap melaju. Pikirnya, “Ah, palingan setumit bisa dilewati”. Sampai di Desa Buaran kendaraan tumplek tidak bisa melanjutkan perjalanan. Semua berputar arah, jalan tidak bisa dilewati ternyata banjir sudah sampi satu meter: tidak ada harapan. *Nih lagi kejadian penting kayak gini saya lupa bawa hape, kamera dan segala alat yang bisa mendokumentasi*.

Akhirnya kami berputar dan tetap niat masuk kantor. Kami ambil jalan lewat Desa Rengaspendawa. Saya lupa persis di mana, di jalanan ini pun air mencapai sebetis orang dewasa waktu kami lewat. Tapi, kami tetap melaju sembari harap-harap cemas takut motor tua yang kami naiki mogok. Sepanjang jalan, masyaAlloh tanaman bawang dan padi penduduk terendam air. Saya pun kepegelan hampir sejam nangkring di motor.

Sampai di kantor alhamdulillah aman dan kita pun bekerja seperti biasa, makan siang seperti biasa, semua berjalan biasa. Sampai sore jam empat ba’da ashar persis kami semua bersiap pulang ke rumah, cuaca kembali gelap pertanda hujan tidak lama akan segera turun. Semua cemas dan berusaha menyelipkan do’a semoga hujan tidak menambah parah keadaan tadi pagi.

Tapi Alloh berkehendak lain yang insyaAlloh selalu ada hikmah di balik semuanya, banjir tadi pagi barulah awal. Kami yang tadi pagi masih bisa lewat Rengaspendawa, pulangnya harus terus melalui pantura dan belok di Klampok. Jalan melalui Klampok tidak benar-benar banjir ketika kami lewat hanya genangan air tinggi akibat guyuran hujan yang lumayan deras. Hujan deras tidak lama tapi rintik setelahnya.

Dan malam harinya informasi berdatangan, semua mengabarkan banjir melanda Brebes. Brebes tidak pernah banjir separah ini dalam kurun dua puluh tahun terakhir. Banjir karena tanggul yang jebol sulit diatasi kecuali hujan reda beberapa waktu untuk perbaikan. Kami dan semua masyarakat Brebes hari ini berdo’a semoga air cepat surut dan perbaikan tanggul yang jebol bisa segera dilakukan, aamiin.

Teruntuk saudara-saudara kami yang terkena bencana banjir malahan sebagian dievakuasi di Gedung DPRD, semoga diberi kesabaran, keikhlasan, dan diganti semuanya dengan yang jauh lebih baik, aamiin Allohumma aamiin.