-161- Capres Cawapres Kali Ini

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Asli membuat saya kaget. Mengutip cuitan Pak Mahfud: saya tidak kecewa hanya kaget. Paling tidak sikapnya sangat bijaksana. Kita tidak perlu menyelami hati seseorang kan? Tidak perlu mengira-ngira nanti malah su’udzon. Cuitan nya sudah cukup mengabarkan kepada kita: kaget.

Tidak hanya kubu Pak Jokowi yang membuat kekagetan. Juga Pak Prabowo. Pak Sandi yang wagub itu tiba-tiba yang jadi.

Secara usia dan tampilan fisik rasanya Sandiaga Uno sangat menjanjikan. Kemampuan mengelola bisnis jangan ditanya. Ia salah satu orang terkaya di Indonesia. Tentu bergelut di dunia bisnis. Dunia ekonomi. Karenanya sosok ini mungkin sangat faham bagaimana kapal ini harus diarahkan. Agar masyarakatnya sejahtera. Agar seperti dia yang orang terkaya nomor sekian itu. Walau kita semua tau tidak ada jaminan yang bersifat mutlak. Saya jadi kembali ingat kekalahan Brazil dan Inggris di PD kemarin😌

Sementara di kubu Jokowi adalah KH Ma’ruf Amin. Alumni 212 harusnya tidak asing dengan nama ini. Umat islam pada umumnya minimal tahu nama ini. Beliau ketua MUI. Beliau aktif di NU. Beliau kalau urusan agama tempatnya bertanya.

Harusnya saya tidak kaget. Toh saya tidak benar-benar mengikuti. Tapi beritanya dimana-mana kaka! Tidak mungkin kita tidak tahu. Kecuali tinggal di dalam gua😁

Seperti hari ini. Sabtu pagi yang cerah. Di RS Mahmudah. Nemu ini:

Lihat foto-foto di atas: merinding. Satu foto membuat saya mengkerut. Nah yang kayak gini gak boleh: menebak-nebak ekspresi orang. Padahal mungkin tidak seperti yang di foto.

Ah, kegaduhan lima tahunan itu akan segera dimulai. Atau sudah dimulai?

Kemarin dunia twitter sedikit heboh. Berita tentang cawapres yang belum genap sehari. Membuat gaduh. Mungkin pertarungan itu sudah dimulai.

Seperti biasa tanpa dimau kita semua akan menonton. Selayaknya penonton kita akan ikut semua rasa yang dimainkan. Kita akan senang, sedih, bangga, geram, semuanya akan bercampur dalam perhelatan lima tahunan itu.

Bersiaplah!

Advertisements

-160- Menurunkan Berat Badan dengan Lose It!

Bismillahirrohmanirrohiim…

Sudah tiga hari nih saya diet. Pengen nurunin BB. Dua kilo saja. Tapi masyaAlloh susyaaah…! Dulu pernah juga di sini.

Kepikiran, rencana, dan kejadian diet ini bukan sekali. Sudah sering kali. Dan berujung mangkrak. Kayak bangunan kekurangan dana. Yakali diet mah kelebihan keinginan dan ada dana yang mendukung😅😁

Iseng saya buka aplikasi health. Pas lihat-lihat itu nemu aplikasi lose it. Sedang ngiklan dese di sana.

Aplikasi ini menurut reviewnya bisa dijadikan assistant. Jadi bisa ngebantu kita dalam mengelola asupan kalori.

Pikir punya pikir saya download tuh aplikasi. Langsung buat akun.

pertama kali create account.

Tap tap bikin akun selesai.

Terus?

Ya saya pelajari dulu. Sejauh mana saya tertarik. Sejauh mana kiranya saya bisa stay lama di aplikasi ini. Dan sejauh mana saya percaya dengan bantuan ini. Kalau kurang cocok kan gampang tinggal delete. Zaman teknologi seperti ini mencoba hal baru adalah satu tantangan tersendiri. Jangan takut kuota. Mahal! Relatif sih. Kalau kita sudah penasaran dan senang harga itu belakangan. Iya gak…

Timbang-timbang. Saya tertarik. Hmmm saya tidak tahu bakalan bisa stay lama. Mengingat pengalaman yang selalu mangkrak. Tapi aplikasinya user friendly dan… m… anu lucu kaka!😁 Tampilannya bikin mata seger. Tidak membosankan lah. Coba saja. Menguji ketahanan. Menguji kesabaran.

Lanjutlah saya utak atik. Okay saya mulai setting goal yang ingin dicapai. Saya tidak mau ngoyo harus turun cepat. Perlahan supaya menjadi kebiasaan rasanya akan jauh lebih tepat. Karena sesuatu yang cepat biasanya cepat juga hilangnya.

Goal saya dua kilo dengan kecepatan lebih ke slow. Dengan kecepatan seperti ini saya diatur untuk menyelesaikan proses menurunkan BB dicicil. Seminggu harus turun setengah kilo. Satu bulan bisa rampung. InsyaAlloh dengan syarat dan ketentuan berlaku😁.

Setting goal. Mau jadi berapa kilo.
Informasi program diet yang saya jalani ketika sudah setting goal.

Karena kita sudah setting goal maka ketika masuk ke menu goal (ada di paling bawah) terus klik weight dan edit akan muncul tampilan info seperti di atas. Kebutuhan kalori harian saya sekitar 1.164. Dengan catatan jika saya bisa bertahan setiap harinya dengan jumlah kalori ini maka perhitungannya saya sudah bisa turun dua kilo.

Kapan? Ya tadi satu bulan itu. Untuk saya sekitar tanggal 8 September. Informasi ini pun dapat kita peroleh di menu goal tadi.

Oke deh biar lebih runut kita bahas menu-menunya. Tadi kan sudah bikin akun. Gampang lah tinggal ngikutin apa maunya. Istilahnya tinggal next next saja. Terakhir itu isi email seperti gambar pertama di atas.

Akun sudah jadi. Selanjutnya kita lengkapi profil kita. Biar lebih memiliki. Menunya ada di bawah berjejer lima. Mulai dari My Day, Log, Sosial, Goals, dan Me. Nah, menu Me ini yang kita pilih untuk merapikan profil.

Me

Di dalamnya ada data diri kita. Termasuk foto latar dan profile picture. Terus ada sub menu yang terdiri dari Badges, Insight, Foods, Exercises, dan More. Semua tampilan sub menu ini adalah informasi tentang kita dan apa yang kita butuhkan dalam mendukung program menurunkan berat badan.

Sub menu Badges isinya informasi tentang pencapaian kita. Ditandai dengan badges yang diberikan lose it. Misal saya sudah punya dua badges. Satu Badges ucapan selamat karena sudah bergabung. Dan satunya badges Keep It Up karena saya berhasil stay tiga hari di aplikasi ini. Masih ada tujuh badges yang bisa saya miliki. Sesuai dengan capaian yang saya lalui.

Selanjutnya sub menu Insights. Saya tidak bisa buka semuanya dengan detail. Kalo kamu mau buka semua Insights harus go to premium. Enggak mahal sebenarnya. Gak nyampe Rp40.000 per bulan. Yang bikin terasa mahal itu tagihannya per tahun. Yah mirip 500 miliar dan setengah trilyun. Mahal mana? Padahal nominalnya sama. Hahaha.

Isinya kayak berbagai panduan untuk membantu program kita. Misal nih, ada panduan menurunkan berat badan berdasarkan DNA. Jadi mungkin bisa lebih cepat karena sesuai dengan DNA kita. Saya tidak tahu. Saya hanya mengira. Dan lainnya. Kalo penasaran coba get premium.

Selanjutnya di menu Me ada Foods. Isinya shared items. Apa yang dibagi? Pastinya makanan. Karena saya belum berteman dengan siapapun jadi saya tidak pernah menggunakan sub menu ini.

Lanjut sub menu exercises. Ini asik banget sebenarnya. Ada Workout guides. Kita bisa ngikuti saran olahraga. Bentuknya video. Tapi itu tadi harus premium.

Terakhir adalah sub menu more. Yang mana di sub menu ini semacam settingan pribadi. Misal berat badannya mau pakai Kg atau Pounds. Jaraknya mau Km apa Miles. Sub menu yang membuat Lose It kita semakin kita.

Goals

Tampilan awal menu goals

Nah, di sini nih menurut saya yang paling menyenangkan. Kenapa? Karena bisa melihat perkembangan program yang kita buat. Stagnan, malah naik, apa sudah turun. Pantau terus!

Tampilan ketika ikon timbangan gambar di atas kita klik.

Features yang saya bahas adalah yang gratisan ya. Menurut saya yang gratisan saja sudah oke apalagi yang premiumnya.

Gambar paling atas adalah perubahan BB saya dari awal sampai terakhir . Karena saya belum ada perubahan jadinya flat saja hehe. Jangan lupa untuk mencatat setiap harinya. Tuh saya lupa per tanggal 9 Agustus jadi tidak ada titik BB di sana.

Cara mencatat BB harian juga gampang. Tinggal klik tulisan kapital RECORD TODAY’S WEIGHT.

Untuk melihat detail program kita tinggal klik tulisan Weight yang ada lambang timbangan digital. Di sana ada informasi tanggal selesainya program. Dengan syarat kita telaten dan mengikuti anjuran kalori yang ditetapkan per harinya harusnya bisa tercapai per tanggal yang ditentukan.

Social

Status di atas otomatis ketika kita ada kegiatan di aplikasinya.

Saya gak pernah nulis status sendiri. Satu saya belum berteman dengan siapapun. Jadi saya tidak punya alasan untuk sharing. Baru di sini saya sharingnya. Belum juga berniat mencari teman. Rasanya saya harus kuat dulu minimal sebulan.

Wajahnya mirip twitter. Tulisan. Mungkin bisa upload gambar juga. Ada menu pesan, siapa teman kita, dan grup yang kita ikuti. Soalan grup malah mengingatkan saya dengan facebook. Yah, gabungan twitter dan facebook dalam tampilan sangat sederhana.

Log

Di sini adalah tempat kita mencatat semua aktivitas makan, olah raga, dan pencatatan timbangan. Makan apapun catat saja. Olah raga apapun catat. Berapapun timbangan kita catat di sini atau di menu goals tadi. Tapi aseli lebih enak lewat menu log ini.

Caranya klik ikon + di pojok kanan atas. Nanti akan tampil 11 ikon. Ada ikon untuk mencatat makan mulai dari breakfast sampai dinner. Ada ikon timbangan untuk mencatat berat kita. Dan ikon lainnya. Tinggal klik catat.

Misal kita pilih gambar dinner maka kita diarahkan untuk mencatat makanan apa saja yang kita makan ketika dinner. Tampilan mencatatkan makanan dan aktivitas lainnya seperti gambar di bawah.

Pertama kali klik ikon di log akan muncul jendela ini. Tinggal kita search jenis makanan atau kegiatan kita yang akan ditambahkan. Misal bakwan sayur. Klik. Lalu done. Sudah otomatis tertambahkan.
Ini ketika kita klik bakwan sayur untuk ditambahkan. Ada informasi kalori per piece nya. Tinggal kita atur berapa banyak yang kita telah makan.

Tampilan muka di log ini bisa milih berdasarkan kalori atau macronutrients. Tampilan macronutrients memungkinkan kita melihat berapa carbo, fat, dan protein yang sudah kita santap satu hari itu. Tapi saya lebih memilih kalori. Biar matanya fokus satu dan mikirnya gak banyak-banyak.

Kalau premium lain lagi. Pilihannya lebih banyak. Sampai ada pilihan kolesterol segala. Jadi asupan kolesterol per hari itu bisa kedetek.

Di bawah tulisan Calories itu adalah indikator makan kita. Apakah tepat sesuai budget kalori harian kita atau malah kurang atau lebih akan terlihat di sana. Kalo kelebihan kalori akan berwarna merah. dan kelebihan kalori ini akan terus terakumulasi.

Keterangan di bawah garis indikator:

Budget: kalori harian kita. Food: ini tentang makanan apa yang kita makan dan berapa kalori yang dihasilkan. Dan sebagai faktor pengurang adalah exercise. Kalo kita melakukan olah raga, setelah dicatat akan langsung mengurangi kalori yang kita makan. Net adalah jumlah kalori yang kita hasilkan per hari itu. Hasilnya berupa keterangan. Jika masih di bawah budget akan ada tulisan UNDER berwarna hijau terang dengan keterangan jumlah kalori tersisa. Sebaliknya jika over akan ada tulisan OVER dengan merah menyala dan informasi jumlah kalori yang over tersebut.

Paling bawah adalah keterangan tentang apa saja yang telah kita catat satu hari itu. Misal saya per 7 Agustus menyantap sarapan menghasilkan 248 kalori. Terdiri dari nasi putih dan segelas teh tanpa gula. Sebenarnya mungkin lebih karena nasinya saya tambahkan telur goreng seiris haha. Saya gak catat karena nasinya pun makannya cuma dua suap. Jadi harusnya kalori segitu sudah bisa menggambarkan hasilan kalori dari sarapan minimalis saya.

My Day

Terakhir menu My Day. Isinya adalah rangkuman dari program kita. Misal saya sudah tiga hari maka rangkuman tiga hari itu akan tampil di sini berupa grafik. Grafik lingkaran berupa budget dan sisa kalori kita per hari ini. Sementara diagram batang kasih info program diet kita sampai hari ini.

Di sana ada sub menu nutrients yang menyajikan nutrisi apa saja yang telah kita makan per hari ini. Dan rangkuman setiap harinya pun ada ditampilkan dalam diagram batang.

Gimana? Seru gak. Saya sih iyes *anang mode on*

Lha nanti nyatetnya gak pas dong? Kan takarannya kita gak tahu. Misal nasi semangkuk yang di aplikasi apakah sama dengan nasi sepiring yang kita santap?

Nah, ini dia kita harus pintar merasakan, menimang-nimang. Toh tidak ada hasil yang sempurna plek sama. Semuanya mendekati. Paling tidak kita bisa memperkirakan yang mendekati dengan menu yang dicantumkan di aplikasi.

Sebenarnya kalo di fitur premium memungkinkan kita tambah makanan yang mungkin kita takar sendiri. Biar lebih tepat. Tapi, saya mah repot harus nimbang-nimbang setiap harus makan. Sepertinya saya tidak seobsesi itu.

Paling tidak aplikasi ini telah membuat saya senang menjalankan program menurunkan BB. Sampai hari ke empat ini saya masih senang dan masih rajin mencatat. Karena kekuatannya ada pada konsekuensi kita tentang mencatat pada aplikasi. Selamat mencari dan mencoba.

-159- Olah Raga Rutin ala Apa (Bapak)

Bismillahirrohmanirrohiim…

Empat hari ini saya dilatih setiap pagi untuk rutin olah raga. Biar segar. Biar semangat. Biar aliran darahnya lancar. Biar sehat! Kata Apa saya berapi-api.

Beliau memang selalu penuh semangat. Usianya kini 61 tahun. Sudah lama berhenti merokok. Sudah pula pensiun dari pekerjaan yang dicintainya. Tapi beliau masih semangat alhamdulillah. Sesekali masih ke sawah dan setiap hari memberi makan ayam. Ayam punya cucu satu-satunya 😁

Melihat saya yang layu beliau langsung melatih saya. Sakit-sakit badan ini mengikuti arahan gerakannya. Tapi di hari ke tiga alhamdulillah sudah mulai melonggar.

Tapi karena saya kurang begitu semangat awalnya. Jadi hanya mengikuti seperlunya. Ternyata kemudian saya ingin melakukannya dengan rutin. Karena itulah postingan ini dibuat: agar saya tidak lupa. Lain dari itu barangkali ada juga yang mau ikut seperti saya.

Apa melakukannya selalu setelah subuh. Pagi sekali. Udaranya masih sangat bersih dan segar. Di dalam rumah saja. Kalau mau keluar rumah, katanya, kalo sudah selesai rutinitas ini. Sebatas jalan santai cari makan. Life is good.

Pertama beliau lari kecil sampai 300 langkah. Tidak boleh kurang. Saya tanya kenapa. Jawabnya, biar hangat badannya. Buat pemanasan. Kemudian dia tambahkan 300 itu minimal. Katanya sih 300 langkah kecil sambil berlari itu kalau dipanjangkan di jalan setara 100m. Wallohu’alam. Kita ikuti saja penemunya😁

Kedua adalah menggerakkan kepala. Ini nih yang sering saya lupa. Urutannya harus seperti ini :

1. Melirikkan wajah ke kanan dan ke kiri dengan kedua tangan di pinggang. Gerakannya harus satu dua kanan, tiga satu kiri, satu dua kanan tiga dua kiri, dan terus sampai sepuluh.

2. Mematahkan leher ke kiri ke kanan. Sampai daun telinga mendekati bahu. Gerakannya juga sama satu dua kanan tiga satu kiri, terus sampai sepuluh.

3. Menggerakkan kepala ke depan belakang dengan irama gerakan seperti nomor satu dan dua.

4. Menggerakkan kepala dengan cara memutarnya. Mula-mula searah jarum jam dengan hitungan satu dua tiga empat. Kemudian balik arah dengan hitungan yang sama. Lakukan sepuluh kali.

Sampai situ gerakan kepala selesai.

Ketiga adalah menggerakkan tangan.

1. Meninju ke depan secara bergantian antara tangan kanan dan kiri. Hitungannya satu dua tiga satu, satu dua tiga dua, dan seterusnya sampai sepuluh.

2. Mengangkat kedua tangan di depan dada. Kemudian menggerakkannya ke belakang. Sambil berlari kecil. Hitungannya sama 1 2 3 1, 1 2 3 2, terus sampai sepuluh.

3. Menggerakkan tangan kanan ke arah tangan kiri sampai maksimal. Gerakannya sejajar dada. Hitung satu dua. Kemudian sebaliknya gerakkan tangan kiri ke arah tangan kanan. Hitunh tiga satu. Terus sampai tiga sepuluh. Dengan kedua kaki direnggangkan secukupnya (suka-suka jaraknya tidak perlu maksimal sampai paha kita sakit).

4. Sama menggerakkan tangan kanan ke arah kiri dan sebaliknya. Tapi di atas kepala. Yang ini jangkauannya sampai maksimal. Hitungannya sama dengan nomor tiga di atas. Sepuluh kali.

5. Terakhir rentangkan kedua tangan. Renggangkan kaki. Kemudian gerakkan tangan kanan menyentuh tumit kaki kiri. Terus dengan hitungan satu dua tiga satu sampai sepuluh.

Keempat adalah menggerakkan kaki.

1. Luruskan tangan sedada sedikit menyerong kurang lebih 45 derajat. Kaki direnggangkan. Kemudian kaki kiri diangkat menyentuh jari tangan kanan, satu. Kemudian sebaliknya kaki kanan menyentuh jari tangan kiri, dua. Terus sampai empat puluh. Luar biasa.

2. Gerakan satu tadi kaki ke depan sekarang giliran ke belakang. Tangan direntangkan dan kaki dilempar ke belakang mirip anak TK yang sedang memperagakan bentuk pesawat. Terus bergantian satu-satu sampai empat puluh.

3. Selanjutnya kaki dilempar ke kiri dan ke kanan. Tangan di pinggang. Renggangkan kaki sejauh mungkin. Empat puluh kali juga.

4. Gerakan tetakhir yang paling berirama dari semua gerakan. Mirip lagu kepala pundak lutut kaki. Bedanya tangan ketika kata kepala tidak di kepala tapi lurus ke depan. Pas bagian kata pundak sentuhkan tangan ke kaki. Pas kata lutut luruskan tangan ke depan dengan posisi jongkok. Kata terakhir kaki kembali berdiri dengan kaki lurus menyentuh kaki. Dan gerakan ini pun diakhiri dengan berdiri dan kedua tangan diangkat lurus ke atas. Direnggang-renggangkan dua kali. Rangkaian gerakan tadi terhitung satu. Dan terus sampai sepuluh.

Kelima adalah push up. 100 kali! 🙏😌 saya tidak sanggup. Semampunya saja. Saya 15 itu pun bukan push up sempurna. Karena saya tidak bisa push up diganti sit up dan push up yang cuma pantat saja naik turun😁

Keenam adalah mengangkat salah satu kaki biar lurus. Bisa diangkat ke tembok, kursi, atau seperti saya pada jok motor. Lantas ditekuk-tekuk badan sampai mau menyentuh kaki. Terus begitu sampai 40 kali masing-masing kaki.

Ketujuh adalah pendinginan. Caranya luruskan kedua tangan ke atas terus putar melalui kaki sambil menarik nafas dalam-dalam. Dan keluarkan ketika kembali mencapai posisi semula. Ini sepuluh kali.

Selesaiii.

Lumayan berkeringat pagi-pagi. Setelah itu saya biasanya minum air putih hangat satu gelas.

Semoga bisa konsisten seperti Apa ya. Aamiin.

Semangat! Hidup sehat! Bismillah…

-158- Dari Sini

Bismillahirrohmanirrohiim…

Selamat pagi dari Majalengka.

Lha?

Saya akhirnya memutuskan pulang dulu. Istirahat. Buat penyembuhan. Semoga segera diberi kesembuhan, aamiin…

Sakit kepala. Sampai tulisan ini dibuat saya belum tahu karena apa. Tiba-tiba saja. Hari senin pagi seminggu yang lalu. Berarti tanggal 23 Juli. Paginya saya masih ke kantor. Kemudian menyerah jam 8.42. Saya pulang. Kemudian muntah hebat di tengah perjalanan. Hari itu sampai selasa saya istirahat. Tiduran saja di kamar. Berat sekali rasanya.

Hari rabunya saya memaksakan berangkat kerja. Kali ini kerja lapangan. Pikirnya saya: biar plong kalau tubuh ini dibawa jalan dan menghirup udara segar pegunungan. Alamat saya tepar siang-siang, dua jam perjalanan dari rumah. Innalillahi.

Hari itu dan malamnya saya dipijat. Pijatan yang luar biasa sakit. Setelah dipijat dan minum obat saya tertidur. Tapi kemudian bangun kembali berat.

Jujur saya dan suami takut. Tapi selalu berusaha berserah diri kepada Alloh SWT. Semoga apapun ini adalah ujian dan kami diberikan kesabaran dalam menjalaninya. Aamiin. Setelah ini adalah hari yang baru dan semangat yang baru, insyaAlloh.

Saya belum bisa cerita banyak tentang ini. InsyaAlloh lain waktu. Mohon do’anya saja kepada pembaca semua semoga kesembuhan itu segera dan dimudahkan. Aamiin.

Saya mau cerita pagi-pagi ini. Bacaan pertama saya. Tulisan Pak Dahlan Iskan seterusnya saya sebut Pak Dis.

Tulisannya singkat. Sederhana saja. Tentang siapa pesaing Trump kemudian. Tidak ada. Maksudnya belum ada yang benar-benar kelihatan. Tapi bukan berarti tidak ada.

Seperti de javu. Bagaimana tidak di dalam negeri pun rasanya calon masih dua itu saja. Belum ada yang baru. Wajah baru bermunculan berharap-harap cemas dipinang jadi pendamping. Lebih lucu dibandingkan menonton acara lawak hari ini.

Ah, baru saja saya nonton acara tv. Kategori humor. Tapi saya melongo. Apa acara humor hari ini sudah sebegitu tingginya. Saya gak nangkep.

Padahal saya baca tweets masih bisa ngekek. Saya kembali membuka twitter. Tapi memang selalu begitu. Sekedar cari info. Dulu. Sekarang malah cari lawakan juga. Lumayan mengendorkan otot yang tegang.

Baru-baru ini viral cerita seseakun yang mengaku mantan personal asistant nya orang paling kaya di negeri ini. Ceritanya mengingatkan saya pada drama korea Boys Before Flowers. Hahaha. Tiba-tiba saja ingat Gu Jun Pyo. Ini lucu. Saya ketawa dengan pikiran sendiri.

Padahal tertawa itu sederhana ya? Status sederhana. Hal lumrah di keseharian bahkan bisa membuat terpingkal. Tapi lawakan dengan teks dan gimmick dan katanya spontanitas malah gagal membuat saya tertawa. Mungkin saya terlalu receh. Tidak bisa menjangkau itu.

Tentang tulisan Pak Dis itu. Katanya, harapan itu datang dari seorang walikota LA. Ah, saya tidak tahu. Saya bahkan hampir tidak pernah lagi mengikuti perkembangan politik. Bahkan yang sedang hangat di dalam negeri. Entahlah. Rasanya belum berfaedah minimal untuk saya sendiri. Hanya kekesalan dan nyinyiran malah kurang bagus.

Saya hanya mau bilang: setidaksukanya kita dengan seorang pemimpin sebut saja Trump yang memang banyak sekali orang tidak suka, tapi tetap saja dia pemimpinnya. Aturan dan segara prosedural telah membuat dia menjadi pemimpin. Jadi, seperti itulah yang akan terjadi dimanapun ketika keputusan terbanyak itu dijadikan patokan. Dia tidak akan melihat baik-buruk. Yang ada menang kalah.

Saya melihat acara lawak sekarang pun begitu. Antar pemain. Mana yang lebih unggul dia yang menguasai acara. Menang kalah.

Padahal kalo mau ngelawak mah simple saja ya. Tapi kata Steve Jobs justeru yang simple itulah yang membutuhkan pemikiran lebih. Sederhana itu ketika apa yang kita maksud mudah diterima yang lain.

-157- Cerita Sakit, Tenaga Kesehatan, Faskes, dan BPJS

Setahun yang lalu. Lebih beberapa bulan, tepatnya. Saya berada nun jauh di kaki Pulau Sulawesi.

Kehidupan di sana tenang. Jauh dari hingar bingar perkotaan yang dipenuhi manusia dengan segala kepentingannya. Di sana. Satu kabupaten dengan empat pulau besarnya tak sampai 100 ribu penduduknya.k;hl

Tidak heran. Rumah di sana berhalaman luas. Tidak hanya halamannya yang luas. Rumahnya pun begitu. Saya pernah kontrak rumah dengan lima kamar. Sementara kami hanya berdua.

Terakhir saya ngontrak satu rumah BTN. Pembelinya adalah teman dari teman saya. Dia sudah punya rumah. Sekedar investasi. Makanya dia kontrakan.

Jangan kalian pikir rumah BTN di sina seperti di Jawa yang pelit lahan. Ukuran bolehlah sama. Rumah yang saya kontrak tipe 36 dengan dinding yang tinggi. Kelebihannya ada pada tanah. Depan belakang masih luas tanahnya. Harganya 100juta. Waktu itu Tahun 2013. Kelebihan tanah itu bisa dipakai untuk berkebun. Iya karena bukan punya saya jadi ditanami apapun. Waktu itu sang pemilik menanam jeruk nipis dan mangga. Sementara saya menabur biji pepaya. Rimbun.

ini halaman belakang biasa saya pakai buat jemur pakaian. Rumah lain sudah direnov menjadi bangunan.
Ini halaman depannya. Dari motor ini terus sampai jalan yang diaspal. Luas beut! Bangunan di depan adalah perkantoran.

Di komplek perumahan itu sepi. Hanya pemilik rumah BTN yang ditinggali. Jauh dari perumahan masyarakat pada umumnya. Kalau dihitung di deretan saya hanya ada empat. Kurang tahu di belakang. Lebih banyak tapi tidak sampai sepuluh.

Tapi akses ke pemerintahan sangat dekat. Karena perumahan itu terletak di area perkantoran. Ke kantor pun saya tinggal jalan. Menembus jalan setapak yang baru kemarin dibuat. Dibuat oleh satu dua orang awalnya yang menerobos mencari jalan pintas antara jalan yang diperkeras dengan komplek perkantoran.

Saya suka jalan pintas ini. Mengingatkan saya pada Alice in wonderland. Jalannya benar-benar sempit dengan rerumputan dan pohon di kanan kirinya. Biasa kita menemukan kupu-kupu.

Jalan pintasnya kayak gini…

Rumah Sakit Umum Daerah pun berdiri tidak jauh dari komplek perumahan yang saya tinggali. Saya jarang ke sana. Alhamdulillah di satu sisi. Lebih dari itu bukan karena saya baik-baik saja. Karena itu saya jadi ingin cerita tentang tenaga kesehatan. Dari dulu di sana dengan sekarang di sini.

Well, saya pengguna BPJS yang dulunya Askes. Untuk mendapatkan pelayanan RS saya harus mendapat surat rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat 1.

Apa itu fasilitas kesehatan tingkat I?

Fasilitas Kesehatan Tingkat I (Faskes I) atau disebut juga PPK I (Pemberi Pelayanan Kesehatan Tingkat I) menurut peraturan menkes nomor 71 Tahun 2013 terdiri dari puskesmas, klinik, Rumah Sakit kelas D (RS yang didirikan di desa tertinggal, perbatasan, atau kepulauan), dan dokter praktek (bisa umum atau gigi).

Faskes I ini biasanya sudah tertera di kartu BPJS kita. Di paling depan setelah NIK. Artimya jika kita mengalami keluhan kesehtan dan ingin berobat maka faskes yang harus kita kunjungi jika ingin tercover BPJS adalah faskes I ini. Jika tidak, alamat sebagai pasien umum: bayar. Atau kita boleh minta surat rujukan di faskes I untuk berobat di faskes lainnya yang bekerja sama dengan BPJS. Bisa saja. Tapi, lumayan repot. Masalah respot ini saya sudah beberapa kali pengalaman, nanti cerita tersendiri.

Untuk pengguna kartu BPJS yang masih berkartu Askes faskes I nya ini tidak kelihatan di kartu.

Waktu itu saya pilih dokter praktek. Dengan alasan dokter faskes saya bekerja di RS terbesar di sana. Hal ini untuk memudahkan jika sewaktu-waktu saya harus ke RS. Surat rujukan itu akan lebih mudah. Ini berdasarkan pengalaman dulu, pernah di pingpong.

Dan benar saja. Ketika suatu waktu saya harus dirawat inap di RS karena hamil muda. Saya tidak perlu ke tempat praktek dokter tersebut. Dia sudah bisa kasih saya rujukan di RS. Aman.

Saya pernah cerita pengalaman kurang menyenangkan rawat inap di RSUD sini. Tapi itu dulu Tahun 2012-2013. Lima tahun yang lalu. Hari ini semoga jauh lebih baik.

Karena pengelaman tersebut saya tidak pernah lagi mau dirawat di sana. Ketika kemudian saya sakit kembali. Waktu itu saya sesak. Saya ke praktek dokter BPJS saya.

Dari rumah saya sangat antusias. Ingin tahu penyakitnya apa. Apakah asma atau yang lainnya. Pertanyaan dan pernyataanpun sudah memenuhi kepala.

Ketika di ruang praktek saya diam seribu bahasa. Hanya menjawab apa yang ditanya. Ketika saya mau mulai dengan berbagai isi kepala, saya langsung dipangkas dengan anggukan dan sikap tubuh yang, ya, halus, tapi itu membuatmu berhenti berbicara.

Tidak perlu lama obat pun sudah di tangan. Pulang. Sedikit kecewa. Tapi masih berbaik sangka. Mungkin dokter sudah sering menangani penyakit semacam saya ini. Jadi tidak perlu mendengar panjang lebar dari saya, atau bertanya panjang lebar, dia sudah tahu. Tinggal set set packing obat. Sudah. Bye.

Saya minum obatnya dan tidak lama. Iya saya tidak bisa bernafas normal. Lebih parah. Sesak. Entahlan. Saya tidak tahu. Saya awam. Kemudian saya baca dari google, mungkin ada alergi.

Hari itu juga malamnya saya dilarikan ke praktek dokter lainnya. Kali ini saya tidak pakai BPJS. Dan dokternyapun bukan dokter BPJS. Bukan juga dokter yang bekerja di Rumah Sakit. Dia swasta 100 persen. Saya trauma dengan dokter yang tidak bisa diajak diskusi. Saya tidak bisa hanya dikasih obat tanpa tahu apa yang sedang saya derita. Bukankah ketika kita ke dokter ingin tahu penyakitnya apa? Diagnosa awal. Entah itu menurut dokter hal sepele, misal kecapekan dan lain-lain. Ungkapkanlah. Ceritakan. Bagaimana bisa seorang dokter memberi resep tetapi ketika ditanya saya sakit apa tidak bisa/ mau menjawab.

Saya pindah ke dokter lain. Pertama kali. Dengan harapan dokter yang ini berbeda. Gambling. Tapi untuk kembali ke tempat praktek dokter saya, rasanya ada semacam trauma dan sedikit kemarahan. Marah karena kesalahan obat ini tidak didiskusikan dulu. Main resep saja. Main cepat.

Dokter yang ini. Saya tidak tahu. Awalnya saya tidak berharap banyak. Paling tidak saya punya pengalaman lainnya, andaipun sama saja nantinya.

Baru pertama itu saya melihat dokter tanpa jas putih kebanggaannya. Kaos hitam dan celana jeans. Santai sekali. Pasiennya? Lebih santai parah. Kebanyakan saya perhatikan orang-orang bajo. Orang bajo ini identik yang hidup di laut dengan fasilitas dan pendidikan seadanya. Mereka datang dari pelosok. Kalau periksa serombongan diantar mobil pick up atau beramai jalan kaki.

Semua santai. Berbicara semaunya. Pasien cerewet menceritakan penyakitnya. Dokter yang santai itupun biasa juga menanggapinya.

Tempat prakteknya masih sederhana. Tapi nyaman dan bersih. Sederhana maksudnya belum banyak peralatan medis yang canggih. Kalo rumahnya tempat berpraktek tergolong besar menunjukkan dari kalangan berada. Tidak heran orang tuanya pemilik salah satu hotel.

Giliran saya pun tiba. Saya tidak bisa ngomong banyak saking sesaknya. Tanpa ba bi bu saya langsung di nebu. Pas di nebu itulah sang dokter bercerita tentang sakitnya saya. Suami pun bertanya ini itu. Dan dijawab semampunya.

Setelah plong di nebu saya cerita tentang pengobatan sebelumnya. Dia hanya tersenyum. Tidak menyalahkan sesama dokter. Kemungkinan obatnya tidak cocok. Dia pun terus bertanya tentang riwayat pengobatan saya. Saya pun bercerita. Saya pasien dan dia dokter. Keduanya sangat cerewet. Setelah bercerita ini itu akhirnya dia kasih saya obat.

Tidak hanya itu saya tanya obat apa ini. Dia cerita sampai kegunaannya apa.

Setelah kejadian itu. Saya tidak pernah pakai kartu BPJS lagi di sana. Saya sekeluarga sakit ke dokter swasta yang berprakter santai itu. Suatu kali pernah saya tanya kenapa tidak menerima pasien BPJS. Katanya belum mengurus. Semoga sekarang sidah bisa ya dok. Tapi tanpa itupun saya kira tarifnya tidak mahal jika dibandingkan dengan di sini sekarang.

Pindah ke Jawa saya kelimpungan menemukan dokter seperti dia. Yang paling sedih. Saya pernah bayar mahal sebuah RS swasta tapi pelayanan dokternya seperti dokter BPJS di atas.

Pernah juga saya ditakut-takuti. Ketika anak saya demam. Dan telinganya mengeluarkan semacam cairan. Tanpa diberi kesempatan berbicara. Dokternya terus berbicara menghakimi. Yang pada akhirnya membuat saya takut. Kemudian membeli alat yang direkomendasikannya untuk telinga anak saya. Harus dibeli di apotek yang ditunjuk. Yang kemudian saya tahu apotek miliknya. Alat tersebut tidak pernah dipakai anak saya sekalipun sedang berenang. Haruskah seperti itu?

Yang paling lucu kejadian paling baru. Baru kemarin. Saya merasa sering kebas di tangan. Ketika tidur sering terbangun karena tangan yang kaku. Karena penasaran saya ke puskesmas. Baru saja saya bilang tangan saya sering kebas, kesemutan, dan kaku tenaga kesehatan waktu itu langsung berunding membuat resep. Mereka berdua. Entah keduanya perawat. Tapi saya tidak yakin salah satu dari mereka adalah dokter. Mereka berunding tentang obat yang akan diberikan kepada saya.

????

Saya benar-benar dibuat heran. Saya tanya penyakitnya apa. Bingung. Saya bilang apa tidak lebih baik di cek dulu. Mereka balik tanya, mau di tes darah dulu bu? Menurut ngana?!

Akhirnya saya di tes darah. Dan kolesterol. Sementara resep mereka asam urat dan pereda nyeri. Tahu kelanjutannya? Mereka ganti semua resep.

Apa tenaga kesehatan sekedar bertugas memberikan resep? Dari cerita keluhan si pasien. Yang notabene harus dipertanyakan kembali. Dipastikan. Sampai yakin dengan diagnosa. Kemudian baru memberikan obat jika memang perlu. Kalau memang suatu hal sakit tidak membutuhkan obat harusnya jangan diberikan.

Tidak adakah rasa penasaran dengan penyakit yang diderita si pasien? Sehingga secepat itu memberi resep?

Kadang kita, sebut saja saya, mengunjungi fasilitas kesehatan sekedar ingin tahu apa penyakitnya. Apa yang harus dihindari dan seterusnya. Saran.

Beberapa orang juga mengunjungi faskes karena memang rasa sakitnya sudah payah. Tidak biasa. Misal sakit kepala. Bukan sakit kepala biasa. Sehingga berharap ada solusi. Ada titik terang mengenai sakit yang diderita. Bukan sekedar memberi resep obat sakit kepala. Karena ternyata sakit kepala banyak penyebabnya. Penanganannya pun berbeda. Salah diagnosa bisa fatal akibatnya.

Saya sih sebagai pasien, masyarakat pada umumnya sangat berharap. Berharap para tenaga kesehatan di faskes manapun memiliki niatan yang baik ketika menghadapi pasien. Bersabar mendengar ceritanya. Yang mungkin biasa dan ingin diabaikan. Bersabarlah karena mungkin disanalah letak keputusan seorang tenakes ditentukan.

Untuk faskes I dimanapun. Seharusnya menjadi fasilitas yang berkualitas. Jangan karena yang datang biasanya orang biasa. Biasanya tidak banyak tanya. Biasanya menurut diberi resep. Ayolah. Jika seperti ini saya harus berpikir berkali-kali menggunakan BPJS saya. Seharusnya faskes I dalam hal pelayanan setaraf dengan rumah sakit. Jadi, kita semua tidak kembali berbondong-bondong ke Rumah Sakit.

BPJS sebagai salah satu solusi pemerataan kesehatan. Harusnya menjadi fokus dan terus dimaksimalkan. Bukan dipandang sebelah. Berapa dana yang terkumpul dari BPJS ini? Dan tidak semua menggunakannya setiap bulan. Harusnya pengguna BPJS menjadi prioritas.

Pengguna BPJS jika harus melalui faskes I, semestinya diperbaiki. Faskes I seharusnya dibuat sama secara kualitas dengan faskes di atasnya. Karena untuk mendapat surat rujukan pun bukan sesuatu yang mudah. Dan lagi waktu. Kenapa kita harus ke Faskes I jika kita tahu pengobatan akan efektif ke faskes di atasnya?

Kemarin ini saya sakit kepala. Malam hari. Faskes I saya tutup. Saya langsung ke RS terdekat. Saya tanya boleh pakai BPJS. Dijawab boleh asal ada surat rujukan dari Faskes I saya. Tidak efektif dengan rasa sakit jika saya harus menunggu esok hari demi surat rujukan. See?

Tidak bisakah BPJS dibuat sefleksibel mungkin? Asal faskes tersebut ada kerja sama dengan BPJS harusnya langsung bisa tanpa harus surat rujukan-surat rujukan. Bukankah ini lebih memudahkan? Mengingat kebutuhan pasien berobat yang beragam.

Contoh di Faskes Tk I saya dokter gigi hanya ada hari H. Apa saya harus menunggu sampai hari H? Padahal tidak jauh dari sana adalah RS yang dokter giginya stand by setiap hari?

Minta surat rujukan lagi? Lagi? Dan Lagi?

Saya yakin kemudian kita menyerah dengan BPJS ini dan memilih menjadi pasien umum. Mengeluarkan ongkos demi kenyamanan. Tapi apa semua bisa berlaku sama seperti kita?

Masih banyak saudara kita ketika mengeluarkan uang sepuluh ribu saja berpikirnya bukan main panjang. Mereka mungkin menyerah untuk berobat ke dokter gigi. Kecuali sudah tak tertahankan. Itupun masih harus menunggu sampai hari H.

Saya yakin tidak semua seperti ini. Tapi, inilah yang saya dapati. Dan sedikit sharing ini siapapun yang membaca terutama yang memiliki andil dalam kebijakan kesehatan kita supaya bisa berbenah diri semakin baik. Aamiin.

Sampai tulisan ini, saya masih mencari faskes I untuk saya dan sekeluarga. Sementara masih di puskesmas terdekat. Saya sih inginnya tidak pindah. Puskesmas sangat dekat dengan rumah. Jadi, kalau ada apa-apa gampang. Tapi sayang pelayanannya masih mengkhawatirkan. Baru sekali selama saya di sini terpakai. Sekali kemudian berpikir panjang untuk yang kedua kalinya. Semoga hal ini mendapat perhatian dari semua pihak. Aamiin.

-156- Zohri: antara kaget dan tidak siap

Di tengah hiruk pikuk pertandingan paling bergengsi: piala dunia dan juga piala AFF U-18, siapa sangka cabang olahraga (cabor) yang tidak diperhitungkan tiba-tiba saja mengagetkan. Bukan sekedar kaget tapi kekagetan yang menggemparkan. Beberapa mungkin saja tersentil atau bahkan tersentak sangking kagetnya.

Ketika semua mata tertuju pada bola bundar tak satupun mungkin yang melirik cabor ini: lari jarak pendek 100m. Bukan karena kalah gengsi. Tapi, seumur-umur Indonesia tidak pernah menang cabor ini di kancah dunia. Mesti Amerika Serikat. Pesimis? Disepelekan? Sepertinya luput saja karena tidak pernah menyinggung memori kebanyakan masyarakat kita.

Siapa yang tahu atlet sprinter Indonesia. Kita akan tahu ketika mulai searching di google. Ada nama Purnomo yang Berjaya di era 80-an. Ia pernah menjadi satu-satunya wakil Benua Asia di semi final olimpiade 1984. Kemudian ada nama Mardi Lestari yang juga sukses menembus semifinal olimpiade Tahun 1988. Selanjutnya adalah Suryo Agung Wibowo pemegang rekor nasional dengan torehan waktu 10,17 detik. Kebanyakan menang tingkat Asia dan Asean tapi belum ada yang sampai menang tingkat dunia. Baru kali ini. Pertama kalinya dalam sejarah. Dan kita semua sedang menyaksikan sejarah.

Ketika kemenangan tingkat dunia itu datang. Dan tidak ada persiapan. Kita kaget. Kemudian harus beralasan. Mungkin itulah satu-satunya alasan yang bisa diterima. Akan lebih mudah diterima dan dimaafkan karena pada kenyataannya kita semua kaget tidak siap dengan hasil yang diraih Zohri.

Tapi tetap saja tidak semestinya kita lalai dari persiapan. Melihat kenyataan, ini bukan kali pertama. Pernah terjadi pada Rio Haryanto pada kejuaraan GP3, seri Istanbul Turki Tahun 2010 yang sama-sama tidak diunggulkan kemudian menang. Belum genap sepuluh tahun. Ini adalah sentilan dan sentakan atas kinerja dan tanggung jawab.

Menganggap diri anak bawang. Yang penting ikut apalagi masuk final sudah oke. Mungkin inilah kenapa julukan mental tempe itu melekat. Belum juga apa-apa sudah mengakui kehebatan lawan. Akhirnya tidak ada persiapan sama sekali.

Kemenangan Zohri. Itulah namanya. Lalu Muhammad Zohri anak kampung dari NTB seakan mengagetkan karena ketiadaan memori. Seakan ia dijejalkan sekaligus ke dalam kepala. Seakan kita ditempeleng berjamaah. Lebih dari itu, kemenangannya yang membanggakan itu alih-alih menggembirakan dan menjadi sorakan kebanggaan seantero negeri, kengenesan yang tersisa. Kaget yang bertubi-tubi. Tapi, rasa bangga mengharu biru itu masih ada dalam rasa yang berbeda.

Videonya kemudian viral. Semua orang membagikannya. Menontonnya yang kemudian kaget dan berakhir sedih ngenes. Terlebih video ucapan terimakasihnya. Terima kasih kepada presiden dan seluruh rakyat Indonesia.

Dia berangkat mengikuti kejuaraan saja mungkin tidak ada yang menyadari. Jadi, bagaimana kami mendo’akanmu? Mungkin ini adalah do’a harapan kita seluruh rakyat Indonesia yang sangat ingin diakui di kancah internasional. Kemudian terwujud pada diri Zohri.

Hanya saja kita tidak pernah terpikirkan akan di cabor lari jarak pendek 100 m. Kita hanya tahu badminton yang notabene telah menorehkan memori manis. Atau pada sepak bola yang sangat bergengsi. Yang kemudian terus menjadi pengharapan tak berujung. Kita terus mengikuti kedua cabor ini dan lupa yang lainnya.

Kemudian dalam video yang lain terlihat Zohri celingak celinguk ketika akan melakukan selebrasi kemenangan. Di saat pemenang ke dua dan ke tiga dari Amerika begitu sigap mendapatkan benderanya, Zohri bagai anak ayam kehilangan induk. Saya yakin banyak penonton negeri ini yang kemudian meneteskan air mata.

Zohri tidak diunggulkan tidak ada bendera di sana. Kemudian alasan terpaksa harus keluar dalam bingkai harga diri. Walaupun semua tahu itu adalah kebanggaan. Makanya kedua pelari dari AS siap dengan kebanggaannya jika saja menang. Mereka sangat optimis. Kita harus banyak belajar tentang optimisme dari mereka.

Bendera. Sudah lama ia menjadi simbol suatu negara. Simbol kebanggaan. Simbol kemenangan. Meski itu bukan pakem. Tapi, semua orang tahu: selebrasi kemenangan hampir selalu dengan bendera pada kebanyakan cabor. Semua orang tahu. Selain lagu kebangsaan yang nantinya diperdengarkan, bendera inilah yang kemudian akan dikerek sebagai simbol kebanggaan.

Jika tidak ada. Tidak disiapkan. Mungkin inilah yang dinamakan teguran. Sentilan kecil. Membuka sedikit kinerja atas tanggung jawab.

Semoga kekagetan ini tidak mengacaukan. Semoga sentilan ini membuat kita lebih mawas diri dan memperbaiki kinerja. Sorotan yang luar biasa ini semoga membuat kita sadar bahwa tanggung jawab itu tidak hanya sekedar kata.

Kini, Zohri telah menang. Ia telah menunjukkan kemampuannya. Tidak hanya kepada kita rakyat Indonesia yang haus kemenangan tapi juga kepada dunia. Semua pihak yang mungkin paling kaget kini berbondong meninggikan derajat Zohri. Seakan ingin menebus rasa bersalah karena telah kecolongan. Rezeki bagi Zohri juga bagi bangsa ini. Rezeki itu benar kata pepatah bagaikan durian runtuh. Kita tidak menduga arah datangnya. Kini tinggal rasa syukur. Kini kita sambut rezeki itu. Kita lupakan kekecawaan kinerja. Kita sambut kemenangan ini dengan penuh suka cita. Biarlah mereka berintrospeksi dan jangan sampai ada yang ke tiga. Biar saja pepatah mengatakan hanya keledai yang jatuh pada lubang yang sama dua kali. Paling tidak jangan sampai ketiga.

Catatan waktu yang ditorehkan Zohri hanya berselisih 0,01 detik dari Suryo Agung Wibowo: 10,17 detik. Sebelumnya Mardi Lestari memegang rekor nasional dengan catatan 10,20 detik selama 20 tahun sebelum dipecahkan Suryo pada Sea Games 2009. Bukan tidak mungkin Zohri bisa memecahkan rekor nasional lebih cepat lagi.

Usain itu kini lahir di Indonesia. Kedepannya akan banyak do’a yang akan menyertai Zohri. Semoga akan jauh lebih baik. Meski masih jauh dari catatan waktu Usain: 9,58 detik tapi tidak ada yang tidak mungkin. Seperti halnya ketika Brazil yang diunggulkan menang melawan Belgia pada perempat final PD 2018 kemarin. Tidak ada hitam di atas putih dalam suatu pertandingan. Semua bisa terjadi. Kaget boleh saja tapi bersiaplah!

-155- Seputar Tontonan Olahraga

Bismillah…

Sebulan sekali nulis jadinya. Menulis itu hobi tapi kadang hobi pun mengalami kejenuhan. Bisa jadi kita menemukan keasyikan di tempat lain. Atau…hal lainnya. Tapi, akan selalu ada waktu untuk kembali.

Sebenarnya banyak yang ingin diceritakan selama sebulanan ini. Banyak sampai lupa yang mana saja.

Pastinya sedang berlangsung piala dunia 2018 di Rusia. Tidak seperti piala dunia 1998 yang mana saya sedang senang melihat kelincahan permainan Ronaldo, pada PD kali ini saya benar-benar tidak memiliki ketertarikan apapun kecuali yah sekedar tahu hasil akhir pertandingan. Tentang Ronaldo, yang saya sebut tentu bukan Cristiano tapi the one and only Ronaldo from Brazil. Anak 90an walaupun mungkin bukan pecinta bola pernah lah ya mendengar nama ini.

Pertama kali saya benar-benar mengikuti pertandingan piala dunia karena ingin melihat permainannya. Yep saya mendukung Brazil waktu itu. Tahun 1998 berarti waktu itu saya di Sekolah menengah kelas satu. Dan teman sekelas persis duduk di belakang saya adalah penggila bola. Dia gila! Setiap minggu hampir tidak pernah ketinggalan membeli tabloid bola. Dan gilanya, dia amat sangat takut rusak itu tabloid. Bahkan kelipet sedikit dia pasti ngomong, hahahah! Nama-nama pemain bola dunia coba saja tanya sama dia, hafal! Tidak hanya hafal nama tapi sampai nama lengkap dan bio nya. Wageslah kalau urusan bola saya jadi ikut senang jadinya. Toh saya pun karena nebeng baca jadi sedikit-sedikit tahu. Dan iya jadi ngikuti si Ronaldo ini wkwkwkwk. Dulu itu sering baca dan dengar Iniesta, Batistuta, Totti, dll yang mana kalau kesebelasan Brazil waktu itu kemungkinan saya tahu.

Tapi pertamanya saya mengikuti PD dengan seksama ternyata itu juga yang terakhir. Saya kecewa, sedih, nyeseklah rasanya, lebay! Emang gitu. Anak SMP menyaksikan kekalahan unggulannya dini hari, sedih! Habis kalah langsunh nyapu sambil menahan tangis hahaha! Drama abis…

Setelah itu saya selalu yakin bahwa ada sesuatu yang salah di final PD1998. Kalau yang lihat pertandingannya, melihat permainan Brazil rasanya aneh, seperti, ah, entahlah, bukan mereka. Masak iya di pertandingan final sekelas piala dunia permainannya seperti tidak ada semangat. Paling kentara adalah Ronaldo. Dia yang selalu keukeuh merebut, menggiring, dan menjebol gawang lawan sendirian, baru menyentuh bola sekali langsung lewat. Ronaldo yang dikenal seolah lenyap pada pertandingan final itu.

Ketika PD2002 di mana akhirnya Brazil keluar sebagai juara saya tidak mengikuti. Saya trauma, saya tidak mau kecewa dengan hal seperti itu, hanya merusak hari saya saja. Makanya PD2018 ini ya, saya biasa saja. Bahkan Brazil kalah di perempat final saya luar biasa, biasa saja. Toh tidak ada yang saya tahu pemain di sana kecuali Neymar, ya, itu juga karena dia terkenal. Saya gak punya keterikatan emosi dengan pemain bola manapun hari ini. Even Messi and Cristiano. Tapi saya tahu beritanya.

Dan mungkin kalopun harus punya jagoan saya lebih condong ke tim inggris. Kita lihat dengan tak ada perasaan apapun, apa yang akan terjadi dengan Inggris apakah akan membuat saya ikut terlarut? Semoga tidak dan rasa-rasanya tidak.

Ngomongin sepak bola kurang afdol rasanya jika tidak ngulik lagu officialnya. Piala dunia tahun ini jujur saya tidak dengar gaung dari lagu officialnya. Saya tahu colours karena searching tidak seperti Tahun 2010 di mana sama sekali saya tidak mengikuti bahkan beritanya pun saya tidak baca tapi saya dengar dan tahu lagunya: waka-waka! Selain waka-waka tentu the cup of life aka la copa de la vida PD1998 seharusnya itu jadi lagu tetap empat tahunan. Siapa sih yang tidak tahu go go go ale ale ale…!

Colours agak aneh sama video clip nya yang terlalu meng-expose perempuan, menurut saya. Apa coba hubungannya perempuan setengah berbusana dengan bola?! Tahun 2010 yang wavin flag malah keren banget.

Selain PD2018 ada juga Indonesia Open ya? Saya gak ngikutin. Dulu sekali saya pernah ngikutin zamannya Taufik, Riki Rexy, Candra Sigit, Joko S, ah, angkatan tua sekaleeee

Kamu ngikutin yang mana? Karena selain kedua event itu kayaknya ada sepak bola kawasan Asean enggak sih? Yaelaaaaa😜😅

—————-

Update!

Inggris kalah saudara-saudara! Tapi yah ya sudahlah sudah biasa. Dalam pertandingan tidak ada yang di atas kertas semua bisa terjadi. Go final Prancis dan Kroasia. Untuk Kroasia ini sejarah, pertama kali mencapai final, congrat!