-134- Anakku Sudah Besar

Bismillah…

Sebenarnya akhir-akhir ini saya tidak begitu faham dengan perasaan sendiri. Semua rasa itu yang sering membuat ingin nulis *makanya isi blog kebanyakan curhat 😛 * sepertinya tumpul. Hari-hari rasanya lelah yang sangat, pulang kantor ba’da isya kedebruk aja tidur pules sampe sahur. Astagfirulloh…Ini bukan saya banget lah.

Pengen nangis sekaligus lucu, iya pagi ini. Banyak sebenarnya yang ingin ditulis dibagi dikenang tapi, menguap begitu saja. Saya lupa apa yang mau ditulis.

Paling inget yang muncul di memori, sore hari jumat kemarin pulang kantor. Seperti biasa kita boncengan, pas di depan toko baju yang cukup besar. Tiba-tiba saya teringat beberapa hari yang lalu saya belikan Maryam baju di swalayan terbesar di kota ini. Saya pede banget ini baju muat di Maryam. Secara baju bayi saja di dia masih muat kok.

“Mba ini nomor 1 maksudnya apa? untuk usia berapa biasanya?”, tanya saya pada si mba penjaga toko.

“Biasanya untuk usia 2 tahun Bu.” Katanya ragu terpancar dari wajahnya yang gitu deh.

“Ah, masak sih mba, gede dong anaknya…” Saya gak percaya, lha menurut saya emang gede gitu.

“Kan ukuran tiap anak beda Bu.” Tuturnya lagi. Tapi saya tetep gak percaya dong secara untuk ukuran dua tahun ya kegedean lah. Kira-kira saja kalo tiga tahun oke lah.

Jadilah saya beli walaupun si penjaga toko bilangnya untuk usia 2. Ini baju buat Maryam yang mana mau 4 tahun agustus besok 😀

Pulang ke rumah nunggu sepi saya cobakan. Maryam antusias sekali, “cantik, cantik…” sambil cengengesan terus nyium saya, ah, dirimu Nak sweet banget.

eng ing eng!

Bajunya yang ukuran 1 gantung aja di badan Maryam. Muat sih muat tapi gantung mak. Untuk beberapa saat saya bengong sambil berfikir hal yang membuat saya tidak kecewa dengan membeli baju ini. Gak papa lah kan masih bisa dipake gak gantung-gantung amat.

Saya tersadar ternyata Maryam sudah besar bukan bayi kecil lagi. Ya, dia memang masih bayi yang sama dan akan selalu begitu bagi saya…Bukan hanya itu saya terpukul karena lima bulan di Jawa, benarkan telah membuat saya lalai dengan anak sendiri? Sampai pertumbuhan fisiknya saya tidak perhatikan. Ya Alloh…

Jika pekerjaan memintamu over time saya harus kembali berfikir karena usia anak tidak akan pernah kembali sementara pekerjaan tanpa kita sekalipun ia akan terus berlanjut. Berlanjut dan berganti dengan orang lain kemudian kita terlupakan. Sebaliknya anak, keluarga, orang-orang yang kita sayangi meski kita lupakan kita tinggalkan untuk pekerjaan ketika kita kesusahan mereka akan selalu ada. Mereka tidak lupa, mereka tetap ada walaupun mungkin sebenarnya mereka tersakiti atas kelalaian kita.

Hal ini membuat saya terpikir setiap paginya ketika berangkat kerja, “ikut, ikuuut, ummiiii ikut…”, ah Nak i love you….

 

Advertisements

-133- Ramadhan 1438H: Hari Pertama

Bismillah.

Marhaban ya Ramadhan…

MasyaAlloh Maryam semakin besar Ramadhan ini tepat 4 tahun. Tentu banyak hal yang telah berubah dari Maryam. Paling kelihatan adalah komunikasinya semakin lancar. Ia sudah bisa ngobrol, alhamdulillah. Semoga semakin hari ke depan tambah lancar biar bisa sekolah ya Maryam.

Kemarin dulu Maryam sangat ingin sekolah. Pagi-pagi sudah mandi kemudian pakai seragam TK, pakai tas dan sepatu. Kemudian menunggu di teras, menunggu sepupunya datang yang hendak sekolah. Sayangnya sepupunya hari itu tak kunjung datang. Karena seruan tetangga yang mana anak cowok kelas 2 SD, “Maryam mau sekolah!?”. Di jawab iya dan terus Maryam menghampirinya duduk di teras menunggu untuk bisa sama-sama pergi ke sekolah. Sayang tetangga ini pakai sepeda dan meluncur begitu saja meninggalkan Maryam. Maryam dengan muka tertunduk dan ekspresi mau nangis menghampiri saya di pintu rumah. Tapi, kemudia seneng lagi karena dijanji Bapak O(kakek nya) mau diantar ke sekolah. Dan saya dengan sedih meninggalkannya sendiri menunggu janji diantar di depan warung om nya, saya pergi ke kantor.

Ya Alloh…

Ah, melihat wajahnya penuh harap membuat hati ini pedih. Maryam sayang berdo’a sama Alloh ya semoga Maryam dipermudah komunikasi sama teman-teman yang lain, aamiin. Dipermudah dalam menangkap dan memahami apa yang diajarkan apapun itu yang baik-baik. Aamiin.

Ah, Ramadhan engkau membuatku berfikir tentang Maryam. Karena di bulan inilah ia lahir …

Hari ini Sabtu, 1 Ramadhan, adzan subuh pertama artinya puasa sudah dimulai semoga penuh keberkahan. Semoga benar-benar menjadi bulan pembelajaran bagi saya dan keluarga kecil saya. Semoga di bulan ini hal-hal baik lah yang akan tertanam untuk bekal di 11 bulan ke depan, aamiin.

Ya Alloh lindungilah kami semua di bulan penuh keberkahan ini. Lindungilah kami ya Alloh dari hal-hal yang dapat mengurangi pahala puasa kami, aamiin.

Selamat berpuasa kepada semua saudaraku umat muslim, i lov u karena Alloh…

-131- Mencacah Yuk! Bagian 2

Bismillah.

Kemarin kan saya lebih ke menerima, menjalankan, dan mengambil hikmah dari tugas saya mencacah. Setiap kegiatan apapun itu kan harus dilakukan dengan ikhlas, sungguh-sungguh dan pada akhirnya mengharap ridho-Nya. InsyaAlloh.

Tapi tidak menutup kemungkinan untuk mengoreksi ke arah yang lebih baik kan? Lha ini kan kerjaan kita masa ada yang terasa ganjil dibiarkan saja turun temurun tanpa ada perubahan?

Sudah banyak sih perubahan dari sisi kuantitas kerjaan yang makin menggila banyaknya, isi kuesioner yang makin berlembar padahal tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas yang baik, dan mmm tuntutan pola kerja yang “katanya” harus profesional. Profesional hal ketepatan waktu pelaksanaan, kecepatan mengerjakan kerjaan, ketepatan isian, semua SOP yang harus dilaksanakan dengan waktu yang kadang tidak masuk akal dibandingkan jumlah sumber daya yang ada, intinya harus cepat dan tepat.

Well, memang harus begitu: cepat dan tepat dalam hal kerjaan. Eitts tapi menurut saya hal ini harus didukung dengan ketersediaan waktu, pikiran, dan tentu saja tenaga.

Dengan kuesioner yang berlembar, pertanyaan yang tak tanggung-tanggung, mengaharap ingatan responden dalam jawabannya, berharap satu hari clear disetor kemudian diperiksa dan di edit dan di entri, mungkin kamu tidak memperhatikan kondisi fisik si pencacah. Karena yakinlah tidak semuanya bisa dijawab oleh responden. Pencacah akan lebih membutuhkan waktu untuk memperbaiki isian kuesioner dibandingkan ketika ia mencacah.

Tapi masalahnya bukan pada waktu yang hendak diminta untuk ditambah. Menurut saya masalah utamanya ada pada kuesionernya itu sendiri, apakah rancangan kuesioner yang berlembar dengan pertanyaan njelimet itu sudah merupakan desain terbaik tanpa harus dikembalikan kepada yang mengkritik dengan, “ya sudah coba kamu yang bikin, bisanya cuma protes!”. Artinya kita tidak siap menerima masukan apalagi datangnya dari bawah.

“Design is not just what it looks like and feels like. Design is how it works.”-Steve Jobs

Padahal menurut saya kicauan yang datangnya dari bawah dalam arti si pelaksana akan lebih berarti karena mereka yang lebih tahu dengan merasakan ketika bertanya ini itu di lapangan. Harusnya kicauan dari bawah menjadi indikator bahwa rancangan kuesioner sudah baik secara tujuan yang ingin dicapai dan kesanggupan seseorang dalam hal bertanya secara wajar lebih-lebih bertamu di rumah penduduk yang pastinya mereka memiliki kegiatan yang lain. Mana setelah ditanya berjam tak ada tanda terima kasih pula, kadang kita yang bertanya ada rasa enggak enak, paling tidak tanda terimakasih dalam wujud yang sederhana misal payung atau bahkan hanya taplak meja itu akan membuat si penanya dan penjawab merasa “enak”. Menetralisir suasanalah setelah berjibaku dengan waktu dan hati.

Baru-baru ini saya juga ada bantu survei pengunjung perpustakaan yang mana saya dibuat kaget plus bingung ketika bertanya. Gimana tidak, hampir setiap pertanyaan harus diterjemahkan kepada pengunjung dan lagi-lagi berlembar dan saya perhatikan lebih banyak pertanyaannya dibanding tahun lalu. Ya wassalam karena tidak semua pengunjung memiliki waktu yang longgar dan mungkin ribet denger pertanyaan liabilitas, validitas, akhirnya, “sudah mba puas saja semua deh, bagus kok pelayanannya”. Iya buk bener juga saya juga belepotan nanyanya 😛

Apakah untuk tahu bahwa seseorang puas atau tidak harus diberondong dengan pertanyaan yang sebegitu banyaknya?

“That’s been one of my mantras — focus and simplicity. Simple can be harder than complex; you have to work hard to get your thinking clean to make it simple.” _Steve Jobs

Mungkin kita harus belajar dari seorang Jobs yang mana kalo kamu pake produknya, hal pertama yang dirasa adalah: simple dan elegant. Hidup itu sudah rumit berpikirlah lebih lama agar tidak mempersulit, hehe.

menuju sebuah desa…*ssn2017*. Masih ada yang seperti ini.

-130- Mencacah Yuk!

Bismillah.

Siapa sih yang suka panas-panasan di lapangan? mengetuk pintu penduduk satu persatu kemudian meminta kesediaan untuk ditanya ini itu yang mana bisa berjam-jam?

Ada loh. Sahabat saya di Sulawesi senang melakukan hal seperti ini. Dia sangat menikmati pekerjaannya sebagai Koordinator Statistik Kecamatan (KSK). Padahal sahabat saya ini perempuan. Perempuan yang boleh saya bilang lembut banget. Bicaranya saja kadang tidak kedengaran saking halusnya.

Saya mengenalnya di Kabupaten Kolaka. Dan dia orang pertama yang saya temui di kota itu. Dia pula di sela capeknya ke lapangan masih sempat nganter saya kesana kemari nyari kosan. Dan dia selama saya di sana tidak pernah terdengar keluh kesahnya. Kalau capek dia hanya tidur blas tapi itupun masih mau digangguin saya yang numpang istirahat di kamarnya. MasyaAlloh.

Satu dua kali saya temani dia melakukan pendataan ke rumah-rumah. Dan sekali waktu saya sempat ketiduran saking lama ditambah cuaca pesisir yang sepoi-sepoi masyaAlloh saya tak tahan untuk tidak tertidur 😀 .

Tapi saya banyak belajar dari dia sahabat saya ini. Terutama dalam hal teknik mewancarai, kesabaran untuk tidak melompati pertanyaan, kesabaran dalam menghadapi muka responden yang sudah tak menentu :p . Dia sangat apik ketika bertanya dan dia tidak pernah melihat jam ketika wawancara, tau-tau sudah sejam aja tapi kan selesai…

Iya selesai satu responden. Paling banter sehari dia mewawancarai dua sampai empat responden. Yap karena dia butuh waktu yang lumayan untuk bertanya dan menggali pertanyaan.

Pindah ke Jawa saya tidak ubahnya sahabat saya yang KSK itu. Mencacah iya hampir tiap bulan. Awalnya berat sekali tapi masak iya saya nyerah? cemen bangetlah, segala ujian itu kan sudah diukur oleh Alloh SWT sesuai kemampuan kita. Saya harus mencoba sebelum pada akhirnya saya mengibarkan bendera putih.

Dan alhamdulillah sampai hari ini saya nulis bendera putih masih tersimpan rapi. Ini baru ukur-ukuran kemampuan. Tiba saatnya saya tidak mampu saya tidak akan ragu untuk mengibarkan bendera tanda saya butuh me time!

Preambule di atas adalah curhat :p

Jadi saya harus nyacah Bulan April ini empat blok. Di mana satu bloknya adalah listing. Listing artinya saya harus mengetuk setiap pintu tanpa terkecuali di blok tersebut. Dan alhamdulillah hasil listing kemarin ada 100an rumah tangga/usaha yang 90% saya ketuk pintunya. Gile kan! Dan itu saya lakukan nonstop dari jam 9.00 WIB sampai 14.00 WIB. Saya ditemani aparat desa setempat untuk mengurangi rasa curiga penduduk artinya saya tidak perlu memperkenalkan diri panjang lebar. Lima jam itu sudah ada andil si aparat desa.

Capek sudah pasti. Tapi kemudian saya tahu saya senang telah menyelesaikannya. Saya jadi tahu aparat desa yang menemani. Kita paling tidak jadi berteman.

Kemudian sisa tiga blok saya harus nyacah yang artinya saya harus melakukan wawancara ke rumah tangga responden. Kalau dilihat kuesionernya, lumayan berlembar. First impression sih down wkwkwkw. Secara beberapa lembar gitu mau berapa jam nih? mau selesai kapan tiga blok? Cuma yang bikin tenang jawabannya merupakan persepsi artinye kagak ada bener salah. Harusnya sih bisa lebih cepat.

Blok pertama di pedesaan. Rumah tangga pertama alhamdulillah baik banget sampai saya keasyikan bertanya ngobrol kesana kemari lupa deh bahwa dese baru ruta pertama. Ngobrol. Yes satu hal saya belajar bahwa bener banget kalau orang Indonesia itu ramah-ramah sukanya ngobrol yang gak kenal saja disapa minimal, “mau kemana mba?” atau paling minimal senyum dan senyumnya senyum ramah yang bibirnya lebar gitu.

Saking senangnya ngobrol kita tuh banyak loh perbendaharaan dongeng. Kemungkinan besar menurut teori saya 😛 munculnya dongeng-dongeng salah satunya karena kita suka ngobrol suka cerita yang mana kendali kita akan bumbu kadang tidak terasa sangat kurang. Ya bumbu membumbui cerita akhirnya cerita yang sampai pada generasi setelahnya apalagi generasi yang sudah jauh akan sangat berbeda sembilan puluh derajat dengan cerita mula-mula. Coba saja.

Dari rumah tangga satu sampai sepuluh isinya kebanyakan cerita. Saya ngisi kuesioner sambil dengerin cerita mereka. Dan mereka sepertinya tidak terasa kalau lagi di tanya-tanya. Ada yah yang begini.

Intinya saya pancing satu isu tentang kehidupan mereka, tentunya setelah melihat-lihat kondisi. Dan cerita pun tanpa diminta akan mengalir begitu saja.

Misal nih, “eh bu, kenapa tidak kerja?”. Jawabanya bukan satu dua tapi mbrebet kemana-mana sampai ke anak sakit lah dan lain-lain. Alhamdulillah kalau ketemu responden kayak gini mereka super welcome, super ramah. Ada juga yang curhat belum dapat kartu BPJS. Pas mau bikin sendiri bayar sendiri maksudnya eh ternyata namanya sudah tercantum di database BPJS, tapi kartunya tidak bisa ia dapatkan, sudah mengadu ke BPJS ke Kantor Lurah, jadi iki piye?

Tapi diantara ramahnya responden yang saya temui terselip juga cerita satu dua yang menyedihkan diiih. Ada bapak-bapak yang marahin saya padahal bukan responden. Enak bangetlah dia bilang, “buat apa sih mba tanya-tanya lha wong tidak ada manfaatnya buat kita!”, “masih lama wawancaranya? dia(responden) lagi disuruh bikin kopi loh!”. Ya udah saya senyum dan bilang baik-baik ala saya.

Ada juga ibu-ibu yang takut diwawancarai dikiranya saya saleswoman. Hiiy macem-macemlah tapi alhamdulillah banyakan senengnya kok. Banyak tahu kondisi masyarakat dari yang ekonomi terbawah sampai yang paling tinggi. Semua memiliki cerita yang kadang saya berfikir kita tidak pantas untuk men-judge.

Mereka memiliki kehidupan yang mereka perjuangkan. Kata orang Jawa sawang sinawang, melihat si A kaya sepertinya hidupnya enak melihat si B miskin kayaknya nelangsa padahal mungkin sekali apa yang kita pikirkan tidak sesuai dengan apa yang mereka alami.

Saya pernah mewawancarai rumah tangga yang kalau secara materi jauh banget tapi mereka sangat bahagia dan saya pun yang melihat langsung berbicara langsung merasakan kebahagaiaan itu terpancar dari mereka. Sampai kepala kantor saya yang kebetulan ikut untuk pengawasan complain ke saya untuk dicek kembali angka kebahagiaan rumah tangga tersebut.

-129- Kesenangan Minum Teh

Bismillah.

Rapelan nulis mumpung Maryam lagi bobo siang 😀 . Hari ini saya dan suami tidak pergi kantor karena jalanan sulit dilalui.

Banyak hal berkelebatan kalau lagi di rumah gak begitu kerja yang mikir. kadang sembari nyuci baju tiba-tiba kepikiran apa. Begitulah yang apa-apa dipikirin 😛

Mikirin banjir, mikirin rumah, kerjaan yang ke sini semakin menghabiskan waktu bersama si kecil, dan semua mua sampai kepikiran kopi dan teh 🙂 . Saya pernah nulis tentang kopi, saya penikmat kopi dari kecil. Tapi itu dulu sejak maag, saya tidak berani lagi minum kopi kecuali kepepet kepingin seperti seminggu yang lalu. saya nyeruput kopi nescafe bawaan hotel dicampur krimer dan gula dua sobekan kertas hotel: Alhamdulillah nikmat sekali.

Terakhir kali minum kopi yang menyiksa waktu di Stasiun Gambir nunggu kereta. Kopinya nikmat sangat tapi sayang baru seteguk lambung sudah tak tahan, seperti ada sekepalan gas yang naik dari lambung menuju tenggorokan ingin dikeluarkan. Kopi mihil itu tak habis saya minum.

Sejak itu saya tidak minum kopi sampai seminggu kemarin dan tidak berlanjut. Sekarang saya minum teh. Minuman yang sebenarnya biasa, maksudnya saya sudah kenal dari kecil. Di kampung kalau bertamu atau ada hajatan ya suguhannya teh ini: teh tawar hangat kadang dicampur gula seadanya tidak sampai maiiissss. Rasanya sepet tapi seger.

Di sini di Desa Sitanggal, Brebes, iya di rumah mertua, minum teh layaknya minum obat sehari tiga kali. Awalnya saya cuma minum alakadarnya, eh, kelamaan jadi nagih. Kalau di rumah oran tua kan teh tawar ataupun pakai gula ya tidak semanis di sini masih kerasa tehnya gitu, di sini lain harus mesti pakai gula dan mesti manis. Dan saya tidak bisa, sampai dua sendok makan untuk segelas belimbing, mesti saya kurangi setengahnya.

Dan teh hangat manis ini menurut saya ya, yang enak buatan mertua ini. Tapi, kelamaan saya kurang greget dengan tehnya. saya suka yang ada sepet-sepetnya plus aroma melati. Jadilah saya nyari yang seperti di rumah dulu.

Di rumah orang tua dulu biasanya pakai teh tubruk merk ayam jago yang mana itu sulit ditemukan di sini bahkan di rumah orang tua sekarang pun agak sulit. Kemudian adik saya melipir ke teh merk tong tji dan itu sungguh enak, enak! Sepetnya, melatinya, aromanya, hmmmm duh segerrrr alhamdulillah….Saya pun mencarinya di sini yang mana buanyak banget, jangan takut kehabisan deh.

dscn3575

Cara nyeduhnya biar enak dan aroma si teh keluar harus pakai air mendidih, kata mertua begitu. Bahkan menurut Ibu (panggilan untuk mama mertua saya) air panas di dalam termos pun tidak mantap untuk bikin teh, harus pakai air yang baru mendidih baru enak dan terasa semua bawaan tehnya: aroma dan sepet-sepetnya.

Serpihan tehnya harus dimasukan ke dalam gelas*yang ini menurut saya pribadi*, biar kata mengapung di gelas tapi itu menurut saya jadinya cantik. Sensasi minum teh manakala bubuk tehnya masih ngapung *melayang* itu indah. Susah saya menggambarkannya 😀

dscn3574

Ini gelas teh saya tadi siang. Walaupun panas tapi tetep minumnya teh hangat. Tidak terasa minum teh segelas belimbing begitu. Tapi, kalau gelasnya agak gedean berasa kelebihan kalau nambah jadinya biasa, jadi ini sudah yang paling pas menurut saya.

dscn3576
yang ini punya Abahnya. Bubuk teh yang mengendap dan melayang itu sensasinya aduhai, heheh

Kata sebuah iklan, “Mari selesaikan semuanya dengan ngeteh…”.

Ohya ingat iklan teh jadi ingat kalau teh sekarang yang dijual banyak yang sudah pakai kantung. Ada yang di celup-celup ada juga yang gak perlu dicelup tinggal taruh saja kantungnya lalu seduh.

Jadinya praktis dan katanya pas minum teh gak keganggu dengan bubuk teh yang kata saya cantik tadi 😛 . Ya, balik ke selera masing-masing 🙂

Happy tea time.

-128-Banjir Brebes Awal 2017

bismillah.

Innalillahi…Sejak kemarin kawasan Brebes banjir. Mulainya hari Rabu 15 februari kemarin persis di hari pencoblosan. Siang hari lumayan terik. Waktu itu saya dan Maryam ikut suami yang sedang tugas melakukan pencacahan sakernas di Jatibarang. Sesiangan sampai sore cuaca sangat mendukung. Tiba waktu ashar hujan turun disertai kilat dan guntur memekakan telinga. Saking kerasnya guntur saya menjerit kenceng ketika suami mendata di salah satu rumah penduduk terakhir. Tak ayal kami berempat (dua lagi responden) kaget dan tertawa geli: Ya kali emak-emak teriak, maafkan kenorakan ini 😀 .

Saya ingat persis hujan turun beberapa saat sebelum adzan ashar. Dan hujan tidak berhenti sampai entah saya tidak ingat lagi karena pulang rumah langsung tepar jam enam. Menurut informasi hujan baru reda sekitaran jam 9 malam. Selama itu kawasan Brebes dan sekitar diguyur hujan deras, kali (sungai) yang entah karena termakan usia akhirnya tak kuasa menahan debit air dan memuntahkannya tak tanggung-tanggung.

Keesokan harinya kami semangat berangkat ke kantor. Walaupun sungai depan rumah mertua luber membanjiri sampai halaman rumah dan motor tidak bisa melaluinya kami tetap berangkat dengan memutar arah: jalannya lewat dapur, di sana masih bisa lewat motor.

Sampai di pertigaan lampu merah Jatibarang ada peringatan dari polisi ditulis besar-besar di jalan arah jatibarang, tapi ya, kami tetap melaju. Pikirnya, “Ah, palingan setumit bisa dilewati”. Sampai di Desa Buaran kendaraan tumplek tidak bisa melanjutkan perjalanan. Semua berputar arah, jalan tidak bisa dilewati ternyata banjir sudah sampi satu meter: tidak ada harapan. *Nih lagi kejadian penting kayak gini saya lupa bawa hape, kamera dan segala alat yang bisa mendokumentasi*.

Akhirnya kami berputar dan tetap niat masuk kantor. Kami ambil jalan lewat Desa Rengaspendawa. Saya lupa persis di mana, di jalanan ini pun air mencapai sebetis orang dewasa waktu kami lewat. Tapi, kami tetap melaju sembari harap-harap cemas takut motor tua yang kami naiki mogok. Sepanjang jalan, masyaAlloh tanaman bawang dan padi penduduk terendam air. Saya pun kepegelan hampir sejam nangkring di motor.

Sampai di kantor alhamdulillah aman dan kita pun bekerja seperti biasa, makan siang seperti biasa, semua berjalan biasa. Sampai sore jam empat ba’da ashar persis kami semua bersiap pulang ke rumah, cuaca kembali gelap pertanda hujan tidak lama akan segera turun. Semua cemas dan berusaha menyelipkan do’a semoga hujan tidak menambah parah keadaan tadi pagi.

Tapi Alloh berkehendak lain yang insyaAlloh selalu ada hikmah di balik semuanya, banjir tadi pagi barulah awal. Kami yang tadi pagi masih bisa lewat Rengaspendawa, pulangnya harus terus melalui pantura dan belok di Klampok. Jalan melalui Klampok tidak benar-benar banjir ketika kami lewat hanya genangan air tinggi akibat guyuran hujan yang lumayan deras. Hujan deras tidak lama tapi rintik setelahnya.

Dan malam harinya informasi berdatangan, semua mengabarkan banjir melanda Brebes. Brebes tidak pernah banjir separah ini dalam kurun dua puluh tahun terakhir. Banjir karena tanggul yang jebol sulit diatasi kecuali hujan reda beberapa waktu untuk perbaikan. Kami dan semua masyarakat Brebes hari ini berdo’a semoga air cepat surut dan perbaikan tanggul yang jebol bisa segera dilakukan, aamiin.

Teruntuk saudara-saudara kami yang terkena bencana banjir malahan sebagian dievakuasi di Gedung DPRD, semoga diberi kesabaran, keikhlasan, dan diganti semuanya dengan yang jauh lebih baik, aamiin Allohumma aamiin.