-188- Rest Area Banjaratma: Antara Nostalgia dan Harapan

Bismillah.

Haiii ketemu lagi di edisi jalan-jalan. Keluarga kita emang kalo jalan masih yang dekat-dekat. Di sekitaran. Pengen sih jauh sekali-kali. Tapi, kok ya rasanya belum merasa harus apalagi penting, hehe. Kita tuh kadang merasa gak enak hati kalau hanya jalan buat bersenang-senang. Bukan salah. Tapi emang kita gak biasa. Jadi sekalinya jalan-jalan yang jauh itu biasanya sekalian. Sekalian ini sekalian itu😄

Sore di hari sabtu. Setelah rumah tenang. Setelah bocah-bocah pindah bermain ke rumah kaka ipar. Kita bersiap. Saya yang duluan rapi, jemput Maryam.

Perjalanan dari rumah ke Banjaratma kurang lebih lima belas menitan. Dekat khaaaan…Maryam pun tidak sampai ketiduran.

Lokasinya itu, setelah Pasar Banjaratma. Persis di saluran air peninggalan Belanda kita belok ke timur. Ini dari arah selatan ya bukan dari jalan tol pejagan-pemalang. Nah dari sana, sudah keliatan rumah-rumah jadoel yang masih kokoh sebenarnya. Cuma ya gitu, gak terawat. Seratus meter apa kurang ya, pokoknya dekatlah, setelah kita belok itu. Di sebelah kiri, sebelah utara, ada gada-gada. Saya lupa tulisannya apa. Tapi di sana ada gada-gada plus tempat satpam yang usang. Kita masuk saja tuh. Nanti akan disambut oleh beberapa laki-laki yang bertugas menjaga parkiran. Kita dikasih semacam karsis parkir seharga Rp3.000,- Dan itu sekaligus tiket masuk.

Sementara itu, jika kita masuk lewat tol pejagan-pemalang berada di km 260B. Saya belum pernah. Tapi kayaknya aksesnya lebih mudah karena lebih jelas terlihat.

Pertama kali saya ke sini tuh sekitar akhir 2016 atau awal 2017. Saya masih ingat, waktu itu, rumah-rumahnya masih cukup bagus. Bahkan ada air mancur besar di pekarangan salah satu rumah. Dan air mancur itu yang terus tergambar di kepala saya ketika mengingat komplek perumahan pabrik gula. Itu semacam simbol kemakmuran bagi saya. Kejayaan. Dan kini itu tak nampak. Bekasnya sekalipun tak ada. Di halaman perumahan yang berjejer di sebelah barat dari utara ke selatan itu tinggallah puing-puing kenangan kejayaan masa lampau. Kalo di video jadi sedikit seram karena terlihat asap. Memang terlihat beberapa titik bekas bakar-bakar di sepanjang rumah. Walaupun begitu, rumah-rumah masih berdiri, kalo kain mah compang camping. Bolong di sana sini. Pabrik gula riwayatmu kini🙁

Sebelah timur rumah ditanami tebu. Mungkin untuk memasok pabrik gula (PG) yang masih beroperasi di Pangkah. Karena di Brebes ini dari tiga PG sudah habis semuanya. Terakhir yang berhenti beroperasi yang di Jatibarang. Kini menjadi agro wisata. Sedih sebenarnya. Saya pernah ke sana untuk survei. Dan ngobrol dengan manajernya. Nanti insyaAlloh saya post. Ceritanya agak menyesakkan, antara harapan dan kenyataan gitu.

Saya takjub dengan area PG Banjaratma ini: luaaaaasss. Tak terbayangkan betapa hebatnya dulu di sini. Menurut sumber yang saya baca luas keseluruhan mencapai 11ha. Di mana 5ha digunakan untuk area UMKM. Kemarin saya ke sana sudah lengkap. Fasilitas seperti masjid, toilet umum yang modern, tempat kulinari yang lumayan lengkap, SPBU, sepertinya sudah lengkap. Ditambah dengan wisata cagar budaya, tentu menjadi daya tarik tersendiri. Kalian yang sempat mungkin perlu mencobanya. Apalagi yang dulunya pernah mengalami era PG ini masih aktif, perlu banget ke sana dan rasalan sensasinya.

Entah kenapa suami saya malah kecewa. Dulu waktu dia SMP masih mendapati PG. Dia teringat sering menumpang kereta tebu yang melintas ketika pulang sekolah. Entahlah masa kecil saya jauh dari yang namanya kemajuan budaya. Katanya dulu itu di sana ramai. Ramai dengan pekerja. Pabrik yang mengepul. Hangat dan hidup.

Di bangunan itulah pusat belanja sekaligus wisata cagar budaya. Dulunya itu adalah pabrik. Pabrik dalam arti sebenarnya. Di dalam masih ada sisa-sisa bekas pabrik. Tidak banyak dan belum menggambarkan mekanisme kerja pabrik jaman dulu, menurut saya sih. Yang masih sangat terasa tempoe doeloenya itu adalah bentuk bangunannya.

Pintu dan jendela yang tinggi dan besar sebagai ciri khas bangungan Belanda.

Masuk ke dalam kita akan disuguhkan dengan berbagai macam variasi jajanan buat oleh-oleh atau sekedar buat makan-makan. Suasananya pas kemarin kita ke sana sekitar jam lima, tidak begitu ramai. Kebanyakan penduduk sekitar yang jalan-jalan. Oleh-oleh khas brebes seperti telur asin berbagai olahan, bawang merah, dan berbagai kerajinan ada di sini. Makanannya juga lengkap. Hampir semua brand warung makan terkenal di brebes ada di sini, sate pun yang dibakar kayaknya ada.

Kayak gini suasananya.
Ini salah satu spot yang lumayan rame. Kelapa muda sih yang narik banget.

Kalau gak begitu lapar pilihan camilan yang tidak mengenyangkan namun bisa buat badan melar bisa jadi pilihan🤭 Seperti yang saya coba: tempe mendoan. Enak. Daya tariknya bukan mendoan sebenarnya tapi air kelapa muda. Itu yang bikin pengen nyoba. Tapi ya gitu kalau ada minuman berasa aja ada yang kurang, hehe. Air kelapanya seger. Dan pastinya masih muda. Bukan judulnya saja kelapa muda tapi isinya harus dikeruk pakai benda tajam. Ini tuh dawegan kata orang sunda, degan kata orang jawa.

Sebelum kita ngemil kita keliling dulu. Kalau menurut saya jangan terlalu over estimate. Takutnya kecewa. Yang bener-bener masih gaya jadoel itu bangunannya. Selebihnya ya seperti yang sering kita temui stand makanan di mall-mall atau di tempat keramaian yang lain. Dan ada satu kereta tebu yang di pajang di halaman sebelah timur. Dekat masjid.

Yang tersisa dari pabrik gula itu sendiri mungkin gambar di bawah bisa banyak cerita. Karena saya gak ngerti. Menurut saya itu hanya susunan batu bata. Entah dulunya buat apa.

Di luar bangunan pabrik yang masih kentara kunonya adalah dinding yang dililit tetumbuhan. Ini juga lumayan buat foto-foto. Selain juga bakal kita dapati kereta tebu yang dijadikan pajangan dan reruntuhan yang dibiarkan begitu saja.

Spot kereta tebu itu yang paling instagramable makana paling ramai. Foto-foto memang sudah membudaya🙂 Coba saja kamu ke tempat baru kalau gak gatel kepengen foto; hebaaaaaatttt….

Dan bangunan baru penunjang rest area seperti masjid dan spbu berada tepat dekat jalan masuk dari arah tol.

Yes. Itu jalan-jalan kita sore sabtu ini. Kesimpulannya, oke banget buat foto-foto. Buat jalan-jalan melepas penat penduduk sekitar. Dan tentu saja tempat istirahat buat pelancong.

Ini juga menjadi lahan rejeki baru untuk penduduk sekitar. Setelah dulu kecewa karena jualan oleh-oleh turun drastis setelah adanya tol pejagan-pemalang ini. Okelah buat mengobati rasa kecewa. Sasarannya memang UMKM. Yang dulu bisa berjualan di depan rumahnya. Di depan jalan. Kini bolehlah dibilang lebih nyaman. Mungkin. Saya gak tahu, karena harga per stand nya kok mahal banget ya. Apa saya yang salah dengar. Atau mas-mas yang saya tanya menjawab salah. Entahlah. Katanya 14,5 juta per bulan. Bener gak sih? Ada yang tahu? Saya tanya ramai atau enggak, katanya lumayan. Tapi kok rasanya mahal banget ya🤔 Atau saya yang minim ilmu dagang kali ya.

Kalau suami saya kecewa karena ia bisa membandingkan jaman PG ini masih aktif dengan sekarang. Menurutnya, dulu itu lebih keren. Mungkin dari sisi industri. Gula kan termasuk kebutuhan utama. Rumah tangga mana sih yang gak pake gula untuk memanisi kehidupannya😜 Berarti ini usaha penting. Memegang kendali penting. Kalau negara bisa pegang kendali. Hebat. Suasananya juga dulu lebih elegan. Katanya. Ya namanya pengusaha besar sekelas pabrik gula tentu pegawainya dari yang atas sampai rendahan bangga. Ditambah bangunan-bangunan yang megah. Itu aset banget membuat kagum siapa saja yang berkunjung.

Saya sendiri? Saya berdiri di sana. Di pabrik gula yang besar itu. Seperti ada ruang kosong menghempas. Angin yang berdesir seperti terus mengingatkan pada semua artikel dan film pendek yang saya baca dan tonton tentang kejayaan PG di masa lampau. Bisakah ia kembali berjaya??? Kenapa kita hanya bermain di kelas mikro kecil menengah? Pemain besarnya siapa? Bukankah kita ini bangsa yang besar? Please jangan bilang saya meremehkan usaha mikro, kecil, dan menengah. Tak ada sedikitpun niatan seperti itu. Hanya saja kita pernah besar kenapa. Kenapa?

Mahal buk. Kita gak kuat revitalisasi mesin gula. Tapi percayalah dulu itu pernah ada yang mau dan siap bekerja untuk mengembalikan kejayaan masa lampau. Kita pernah berharap. Asa yang indah, paling tidak untuk para pegawai PG. Tapi orang seperti inipun tersingkir. Bayangkan jika kita bisa kembali seperti dulu. Jangan bilang tak mungkin. Bukankah kita pernah berada di bangku sekolah yang sama dengan pesan “gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”.

Arghhhh, saya jadi sedih. Semoga. Saya hanya berani berdo’a dan berharap. Sebagai masyarakat biasa. Mungkin hanya itu. Berharap ini tidak sekedar nostalgia yang indah. Tapi menjadi harapan untuk kesejahteraan. Mungkin nanti kita pun akan bangga dengan rest area ini seperti dulu pabrik gula nya. Aamiin.

Dan kumandang adzan magrib mengingatkan kita untuk berhenti. Bye…

Advertisements

-187- Dewasa itu Proses kemudian Pilihan

Be Simpel. Be Yourself.

Beberapa hari ini saya banyak mendengar cerita. Banyak hal yang saya tidak sependapat. Tapi saya menahan diri untuk berkomentar menyalahkan atau sekedar mengatakan begini lho pendapat saya. Enggak. Karena saya merasa itu adalah pendapatnya dan sikap yang ia pilih sekarang.

Selama itu tidak bertentangan dengan agama, saya merasa sah-sah saja. Dan saya pun mulai belajar untuk menahan diri. Alangkah membosankannya jika semua isi kepala sama. Iya kaaaan….

Saya hari ini bukan tanpa sebab. Perjalanan kurang lebih tiga puluh tahun mengantarkan saya ke titik ini. Saya tahu masih banyak kekurangan. Tapi saya juga tahu bahwa hidup bukan sekedar kekurangan dan kelebihan tapi tentang proses dan bagaimana kita mensyukurinya. InsyaAlloh kalau kita bersyukur kita akan selalu belajar untuk mengambil hikmah dari apapun perjalanan hidup ini.

Keputusan-keputusan hari ini tidak bisa saya buat dulu. Waktu saya sekolah menengah misalnya. Saya ingat pernah sebal banget dengan teman yang posisinya waktu itu sekretaris. Kebetulan waktu itu saya sebagai ketuanya. Susah sekali saya mau berkoordinasi dengan dia. Setiap kali kumpul dia ada saja alasannya tidak bisa hadir. Padahal yah jarak rumah kita tuh gak jauh-jauh amat yang harus pake kendaraan. Jaman dulu emang kita selalu jalan. Belum selumrah ini sepeda motor.

Saya benar-benar marah waktu itu. Ngomelin dia sampai kita tuh jadi gak enak. Apapun alasan yang dia lontarkan selalu saya patahkan. Ada masalah lah dengan cowoknya, apalah, saya gak bisa terima. Saya selalu bilang professional dong. Secara saya mah gak tahu pacaran jadi gak tahu juga gimana perasaannya. Bagi saya dia salah. Lagian pacaran juga salah kan? Dan saya ngomong vulgar gitu juga ke dia, “lagian kenapa pacaran. Kan gak boleh, dilarang tahu.” Kalau diingat-ingat sekarang lucu. Saya tuh kalau anak sekarang bilangnya SJW aka Social Justice Warrior, apa-apa harus baik dan benar menurut pemahaman saya yang sebenarnya belum tentu juga bener atau hal yang sebenarnya gak bisa saya paksakan. Hehe. Yang sebenarnya bukan juga urusan saya. Tapi kalau dipikir-pikir apa salahnya mengingatkan? Mungkin caranya saja yang kurang elegant. Dan lucunya ini nular ke anak saya. Dia tuh kadang kayak polisi di rumah kalau lihat yang gak shalat.

Dulu itu saya juga selalu merasa harus begini dan begitu ke teman. Atau ya, ini lucu banget kalau diingat-ingat. Waktu itu ceritanya ada yang naksir, ecieee, hahahaha. Saya tahu gak boleh pacaran. Tapi jujur deh, saya seneng ada yang suka, hahaha. Tapinya juga entah kenapa saya malu banget. Walaupun saya senang ada yang suka, setelah dia ngomong suka ke saya, saya tuh bener-bener gak mau ketemu sama dia. MALU. Ini tuh saya bersyukur banget. Coba kalau dulu saya gak punya malu, mungkin saya pacaran, na’udzubillah. Waktu remaja ini pernah terjadi beberapa kali. Pernah juga yang sampai ngasih-ngasih sesuatu. Tapi saya tetap MALU luar biasa. Kalau lagi jalan, pulang sekolah misal, ada dia di depan sana, saya tuh yang sengaja nyari jalan lain. Walau harus melewati hutan, gak masalah asal jangan ketemu dia😅Lucu tapi saya sangat bersyukur. Alloh SWT telah menjaga alhamdulillah. Saya yakin ada do’a-do’a orang tua di sana. Makanya siapapun yang membaca ini yang sudah punya anak khususnya jangan pernah bosan untuk terus mendo’akan anak-anak kita. Saya yakin selalu ada campur tanganNYA. Berdo’alah. Karena dewasa itu menurut saya ketika kita bisa memutuskan sesuatu dengan benar sesuai yang digariskan syariat. Dan ini gak terjadi secara tiba-tiba. Ada proses yang penuh dengan do’a. Kalau enggak, mungkin akan banyak keputusan hari ini yang melenceng dari syariatNya. So, menurut saya do’a itu penting banget selain usaha yang sungguh-sungguh.

Pernah juga saya berada di titik merasa ini adalah jalan yang paling benar. Tentang bagaimana kita menjalankan agama. Semua harus bisa menerimanya. Padahal banyak jalan menuju Roma. Saya benar-benar pake kacamata kuda. Tapi lagi-lagi saya belum punya pilihan untuk dewasa dalam memilih.

Alloh SWT mengajari hambaNYA dengan cara yang sangat halus. Yang mungkin kita tidak menyadari. Dia mengajari sekaligus menguji kita. Beberapa lulus kemudian bisa mengambil hikmah. Banyak juga saya kira yang gagal.

Dia memberikan saya lingkungan dan teman-teman yang baik. Saya baru sadar kebanyakan teman-teman dekat saya itu sabar-sabar. Saking sabarnya saya pernah berpikir mereka tak punya ambisi. Hidup yang mengalir-mengalir saja. Tidak ada rasa ingin begini dan begitu. Ingin lebih dari si A dan si B. Bahkan mereka tuh jarang bahkan gak pernah ngurusin orang lain atau mempermasalahka pendapat orang lain yang berbeda dengan mereka. Saya awalnya merasa sebal. Kok ada orang kayak gini? Gak punya pendirian menurut saya. Susah diajak ngerumpi. Hehe. Dasar saja sayanya gak bener😅

Dari merekalah saya banyak belajar.

Umur boleh tua tapi kedewasaan itu memang mahal. Dia butuh proses. Sampai akhirnya bisa menjadi pilihan.

Kenapa saya cerita tentang ini? Saya ingin ini jadi pengingat. Terutama buat saya sendiri. Buat anak-anak saya kelak. Atau pembaca juga. Silakan diambil baiknya saja.

Jadi saya dihadapkan dengan seorang pemimpin yang tidak biasa. Dia memimpin di luar keumuman. Orangnya teliti, tekun, disiplin, dan sjw tadi ya. Ternyata orang-orang sjw ini banyak tidak disukai. Kesannya terlalu ikut campur urusan orang lain. Walaupun mungkin niatnya baik. Sampaikanlah walau satu ayat, ballighuu ‘annii walau ayah.

Banyak hal yang ditangani sendiri. Sampai saya pun merasa risih. Hal yang menurut saya bisa dilakukan semua orang dengan cara masing-masing ini diarahkan dan diawasi. Selain itu kedisiplinannya pun menuai pro dan kontra. Lebih banyak kontranya sih. Tentang kerja, kerja, kerja terus. Kebanyakan orang kan maunya santai tapi kerja, sersan gitu loh kata anak jadul. Beberapa kebijakannya pun terasa sangat membatasi. Intinya banyak kontra.

Saya pun pernah sekali dua merasa sedih dan kesal dengan sikap beliau. Alhamdulillah gak lama. Karena setelah saya pikir, itu kan hak dia sebagai kepala mau melakukan kebijakan apa. Toh yang dia lakukan sebenarnya sah-sah saja. Tinggal kitanya mau gimana. Memilih bersikap positif dengan sikap atasan seperti itu adalah yang terbaik. Itu membuat kita gak punya beban dengan dia. Maksudnya ya sudah dia ya dia, kita ya kita. Misal nih, saya mau cuti merasa dipersulit. Dan selama ini alasannya memang selalu masuk akal. Ya sudah kalau memang beliau ada benarnya kalau kita memilih untuk tetap tidak masuk kantor toh kita masih punya hak alpa kan. Tergantung kita mau dipakai atau tidak. Selesai kan. Masalah nanti dimarahi karena alpa, itu masalah nanti lagi. Selama kita masih bisa menjelaskan, kenapa tidak. Dan jangan terlalu memikirkan kebijakannya, karena pada dasarnya kitalah yang memutuskan hendak bersikap seperti apa. Kalau sudah memutuskan ya sudah.

Dengan bersikap seperti ini saya merasa enteng. Merasa tidak ada masalah. Karena, benar kata seorang teman: “masalah itu sebenarnya kita yang buat.” Kita hanya tinggal fokus pada diri sendiri. InsyaAlloh kebaikan itu akan mengalir dengan sendirinya.

Jika masih ada sesuatu setelah kepergiannya berarti kita memang belum selesai. Saya merasa beberapa teman belum selesai. Semoga itu cuma perasaan saya saja yang terlalu sotoy. Wkwkwkwk. Selesai itu ketika kita sudah sama-sama mengikhlaskan dan itu adalah pilihan dari kedewasaan. Pilihan itu terjadi karena kita telah melalui banyak proses. Jika kita merasa belum selesai dengan siapapun, mungkin inilah saatnya bagi kita untuk belajar. Belajar memaknai hikmah atas apa yang terjadi dengan setiap langkah kehidupan kita. Boleh jadi kita banyak melewati proses tapi berapa banyak dari sekian banyak proses itu yang kita berhasil melewatinya. Sehingga hal itu bisa menjadi pilihan kita hari ini agar lebih dewasa dalam memaknai dan menghadapi sesuatu.

Happy friday everyone!

-186- Maryam terima raport

Bismillahirrohmanirrohiim…

Alhamdulillah.

Tahun ini Maryam naik ke kelas dua. Walaupun secara emosional masih ketinggalan dibanding teman-temannya yang seumuran tapi so far Maryam masih enjoy mengikuti. Yang paling kerasa Maryam sudah mulai nalar. Dulu ngajarin baca itu yang sampai saya frustasi, sampai saya bikin buku sendiri untuk dia belajar baca, sekarang alhamdulillah. Sekali saya terangin seterusnya dia sudah bisa ngikutin.

Secara akademis Maryam juga masih bisa ngimbangi. Walaupun belum bisa sejago teman-temannya. Tapi saya sangat bersyukur. Bagaimana Maryam masuk SD tanpa bisa apa-apa, bahkan komunikasi saja masih terbatas, sekarang alhamdulillah banyak sekali perkembangannya. Baca bisalah yang sederhana, berhitung juga bisa yang sangat sederhana, menulis juga bisa. Saya tidak muluk-muluk dengan suami. Sekolah dasar, yes, namanya sekolah dasar, jadi kami hanya berharap Maryam bisa mahir dan faham yang dasar-dasar dulu. Misalnya kelas satu ini yang dasar kan calistung: Baca Tulis Hitung, ya sudah, itu saja dulu. Selebihnya biar Maryam yang jalan. Karena kita selalu mengingatkan diri sendiri bahwa anak memiliki sesuatu dalam dirinya yang unik dan tidak bisa disama-samakan atau dibandingkan antara satu dengan lainnya.

Tapi tahulah ya, lingkungan kita masih banyak yang mengagungkan nilai tinggi dan rangking yang bagus. Membuat stigma pintar dan bodoh. Padahal tidak ada tuh anak yang bodoh, yang ada anak pintar di minatnya masing-masing. Hanya saja kita para orang tua, pendidik, dan masyarakat pada umumnya belum tahu apa sih kecenderungannya. Dan kelebihan itu tidak juga harus membuatnya besar, cukup untuk membuatnya berguna.

Baru-baru saya melihat seorang Anang Hermansyah, kalo saya sih iyes, iya bener beliau orang yang saya maksud. Anang berpendapat bahwa anak sulungnya tidak perlulah kuliah. Menurut dia, anak sulungnya ini sudah tahu ke mana minatnya. Jangan sampai kuliah itu hanya sekedar kebanggaan, gengsi doang. Setuju Mas Anang, saya juga iyes…

Tapi pemikiran seperti Mas Anang ini belum begitu umum. Banyak duit kok pelit amat nyekolahin anaknya? Nah, kan masih banyak yang berpikir seperti ini. Atau anaknya bodoh kali gak mampu. Nah, ini lebih menyakitkan lebih ke bully, bagi yang gak kuat kemungkinan akan menyerah kemudian kuliah hanya karena omongan pedas seperti ini. So, saya sebagai orang tua memang harus siap mental. Harus siap jika anak kita tidak secemerlang kita di bidang kita. Karena ucapan pedas itu benar-benar lebih tajam dari pedang. Bersiaplah! Jangan sampai keputusan dalam hidup kita dipengaruhi oleh hal-hal yang sebenarnya tidak begitu penting. Keputusan hanya untuk membuat semua orang bahagia tentu gak sehat.

Kembali lagi ke maryam. Jujur. Ada juga rasa sedih mendapati raport anak saya tanpa rangking. Di sisi lain saya ambilkan raport ponakan yang berprestasi. Saya kadang berpikir apa Maryam kurang di bidang akademis. Sementara jujur saja sebagai orang tua yang berasal dari sistem pendidikan rangking berharap juga anak kita bisa sama baiknya bahkan lebih.

Saya cerita deh ke suami. Dan saya mungkin harus banyak bersyukur punya suami dengan pendirian sekuat baja. Saya yang seperti bambu ini akhirnya alhamdulillah bisa kembali merasakan angin sepoi-sepoi.

Saya harus terus memantrai diri bahwa setiap anak punya jalannya masing-masing. Mereka bukan kita. Mereka tidak harus sama dengan kita. Mereka istimewa dengan jalannya masing-masing. InsyaAlloh.

-185- Perang Ayam Geprek ala-ala

Bismillah…

Hallo semua yuk kita icip-icip menu yang lagi happening ini, sampai dibuatkan versi indomienya loh: Indomie Hype. Dan emang gila pedesnya! Kali ini saya mau coba ala-ala Radit: perang makanan. Tapi karena saya blogger kurang niat seadanya alakadarnya jangan kecewa kalo ternyata fotonya tidak lengkap. Ini adalah hasil dari icip-icip makan siang saya hehe. Saya kumpulin fotonya yang tidak seberapa itu.

Biar terlihat sedikit objektif mari kita tentukan indikatornya. Pertama tekstur, ini haruslah ya, merasa sebel kan kalo beli ayam goeng terus alot. Kedua rasa, nah kalo empuk rasanya hambar tetap bisa dimakan kan, tinggal kita carikan sambal sudah jadi. Tapi kalo rasanya enak ini akan jadi nilai plus yang jempolan. Ketiga crispy, krenyes, ini juga bikin kita semangat makan, mmm, lebih ke ngemil sih haha. Bener loh kalo crispynya enak jadi enak buat dicemilin. Dan terakhir sambal gepreknya. Kan ayam geprek jadi sambal gepreknya harus juga enak lah ya. Cukuplah ya empat. Wadahnya juga perlu kali ya. Siapa gitu yang sudah ramah lingkungan, iya gak, hehe.

Okay deh kita mulai saja. Di Brebes ini ayam geprek tentu tidak sebanyak di kota-kota besar. Di sini gak adalah geprek artis. Dan ini juga hanya yang pernah saya coba. Kalo ada orang Brebes yang baca boleh lah sharing juga tempat ayam geprek yang recomended di Brebes.

1. Ayam geprek saditan

Tekstur oke, masih bisa dimakan. Tekstur yang menurut saya empuk dan enak itu seperti ayam KFC ya. Tiap orang tentu punya referensi dan standar masing-masing. Nah, si ayam saditan ini rada jauh sih dengan KFC tapi intinya gak alot. So far masih bisa dinikmati untuk dimakan.

Rasa ayamnya gurih. Saya malah sempat mikir tepungnya itu pake bumbu instan yang biasa dijual di pasaran itu. Ya siapa sih yang gak suka MSG wkwkwk.

Crispynya itu ringan. Ya pokoknya kayak kalo kita masak tempe pake bumbu jadi. Rasanya ya seperti tepung instan itu ya. Sambelnya berwarna merah karena menggunakan cabe rawit dan besar merah. Cita rasanya lebih ke bawang putih. Enak. Dan penggunaan bawang putih inilah menurut saya yang menyelamatkannya secara keseluruhan. Ditambah agi sambelnya diulek dadakan, fresh from the oven. 

Terakhir, kalo kita take away bungkusnya itu pake kertas nasi. Gitu saja sih.

Nih saya kasih spoiler biar ngiler…

2. Ayam geprek “djoeragan geprek”

Variannya yang paling banyak. Ayam geprek topping keju lah ini lah itu lah. Banyak! Yang pernah saya coba itu kalo gak salah topping mozarella dan original. Yang ternyata kejunya cuma seuprit kaka. Harganya pun paling mewah. Mungkin karena embel-embel topping itu kali ya. Tempatnya juga paling strategis sih di pinggir jalan utama Brebes-Jatibarang.

Yang lain harganya masih under 15k. Di sini paling murahnya 15k yang original.

Dagingnya lembut banget. Tapi kesannya lembek tidak setegar kfc. Tapi emang lembut. Dan paling lembut menurut saya. Dan gak berasa yah. Hambar gitu. Kayaknya gak dikasih apa-apa deh. Minimal kan garam gitu ya. Yatapi balik lagi selera sih.

Krenyesnya juga lebih empuk. Bukan yang kriuk-kriuk renyah. Dan lagi-lagi bumbunya minimalis, hanya selintasan saja rasa asinnya. Warna krenyesnya itu paling coklat. Itu kenapa ya, ada yang tahu?

Sambalnya pedes banget. Gak bisa saya. Ini pedesnya pedes gak ada rasa asin manis. Jadi kayak cabe diulek tok. Masih sisa banyak sambelnya. Kebetulan kita dipisahkan. Untung saja kalau gak gitu kayaknya susah makannya. Tapi ada pilihan sambal ijonya. Gak tahu nih lebih enak dinikmati atau gak.

Mungkin kelebihannya tempat, bisa dipake nongkrong. Bisa dipake buat buka bersama. Makan bersama. Pokoknya bisa rame-rame. Dan praktis mesennya. Kayak di kfc gitu. Sudah paket-paketan. Gak perlu rebutan dengan yang lain. Bisa antri kita di sini, horayyyy….!

Paket 1 plus es teh manis

3. Ayam geprek gandasuli

Nah, yang ini nih yang lagi ngeheitts di sekitaran kantor saya. Belinya harus lihat-lihat jam, kenapa? Rame banget buk!

Ayam gorengnya lumayan gede. Sambel geprekannya pake cabe ijo. Sambal geprek cabe ijo lebih tepatnya. Dan pedasss sodar-sodara. Saya suka pedas tapi levelnya kalo dari 1 sampai 5, saya dua. Dan yang ini kayaknya sudah hampir 4. Angkat tangan Ceu!

Tapi bagi penyuka pedas, ini enak. Walaupun pedas banget bumbunya masih terasa. Tapi lagi-lagi ini sudah di luar standar pedas saya. Oh ya sambal ijonya itu mirip sambal ijo padang cuman yang ini lebih pedes.

Lebih enak take away karena tempat makannya kecil jadi gak leluasa. Pake sterefoam jadi ya gitu deh jauh dari kata ramah🙂

4. Ayam Geprek Bensu

Mereka membranding dengan nama “i am geprek bensu”. Saya nyoba yang level satu. Baru saja tadi malam tanggal 26 Juni. Mumpung lagi di Semarang. Saya pesan lewat aplikasi Go Food. Sudah ada dua ternyata di Semarang ini. Atau lebih ya?

Tekstur daging ayamnya lumayan lembut, gak alot. Rasanya lumayan enak. Bumbu goreng ayamnya terasa gurih. Kalo sudah gurih pastinya enak lah ya, yuk pecinta msg. Tapi porsinya gak bikin kenyang, hehe. Wadah boksnya lucuk, imut gitu. Ya emang kecil. Tapi overall masih enak.

Kalo diurut dari yang paling saya suka, maka urutannya gandasuli, saditan, bensu, dan djoeragan.

PS. Maaf ini post saya copas dari blog saya yang di blogger belum sempat dirapiin. Ada foto yang gak keangkut juga sih.

-184- Antara Nasi Kuning dan Bubur Ayam

Bismillahirrohmanirrohiim.

Sudah tiga pagi saya membeli bubur ayam di sekitar pasar Sitanggal. Kang Sum sudah selama itu juga absen tak jualan. Kata anak bungsunya lagi ke Pati.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa. Ya iyalah orang cuma beli bubur ayam. Tapi angin pagi ini membawaku pada dua tahun yang lalu di tanah Wakatobi.

Jadi keinget, dulu pengen banget makan bubur ayam, sudah keliling kampung tak dapat. Di sini jarak berapa meter di pinggir jalan sangat mudah menemukan penjual bubur ayam di pagi hari bahkan sampai larut pun ada. Jenisnya ada yang berkuah dan ada yang tidak. Toppingnya macam-macam, bisa pilih sesuka hati.

Pikiran melayang pada nasi kuning di seberang sana. Sambil menunggu si mas meracik bubur ayam saya jadi ingat nasi kuning menu utama sarapan di sana.

Boleh lah saya bilang menu utama, karena nasi kuning di Wakatobi dan Sulawesi pada umumnya selumrah bubur ayam di tanah jawa untuk sarapan. Kita bisa mendapatkan penjual nasi kuning di pagi hari dengan sangat mudah. Yang penting kita keluar rumah ya…

Saya akui nasi kuningnya enak-enak. Dari berbagai jenis beras. Ada yang lembek sampai yang tegar seperti beras nasi goreng, dan semuanya enak memiliki ciri kas masing-masing. Miriplah dengan bubur ayam ini. Sayang saya belum ubek-ubek fotonya keburu ingin menulis. Lauknya sudah pasti ada tempe oreg yang di tiap penjual berbeda cara pengolahan oregnya. Jadi si oreg ini menjadi salah dua pembeda nasi kuning antar penjual.

“Dua belas ribu…”

Oh ya saya lupa. Harga bubur ayam pinggir jalan besar tentu sedikit lebih mahal dari Kang Sum. Dua kali lipat lebih mahal. Tapi ini sebanding dengan harga nasi kuning di sana. Dari nasi kuning dan bubur ayam inilah saya jadi tahu bahwa harga-harga memang sudah mendekati sama antara timur dan barat = SAMA-SAMA MAHAL.

-183- Merenung

Ruang ini tidak pernah sesenyap ini
Ada hal yang menyayat hati
Ada kehilangan yang entah apa ini

Aku termenung
Manusia, kita hanya membaca dari luarnya
Dalamnya siapa yang tahu.

Ini mungkin kenapa kita tidak boleh bersu’udzon
Apa yang kita rasa dan pikir
Belum tentu benar adanya
Siapapun kita
Apapun posisi kita

Kuhaturkan permintaan maaf
Karena tidak bisa memadamkan api
Malah mungkin ikut menjadi kompor

Tidak ada alasan.

Kuhaturkan terimakasih
Karena kuyakin niat itu baik.

-182- Opini Koran (1)

Bismillah.

Ceritanya disuruh nulis di koran. Ya sudah saya nulis… Berhubung saya bisa sedikit menulis jadi kenapa tidak dicoba. Jujur saya hanya mencoba menulis tanpa harus dimuat atau karena takut sanksi jika tidak menulis. No. Saya tidak masalah kok jika sampai tidak dimuat dan kemudian saya kena hukuman. Saya bekerja itu sudah pada tahap go with the flow. Tidak punya ambisi apa-apa. Benar-benar ngalir saja.

Sanksinya sih biasa tapi sanksi sosialnya itu lho yang menggelitik. Okelah pada akhirnya saya bisa menjawab tantangan menulis itu. Di koran lokal. Tanpa bayaran. Tanpa apresiasi kecuali tulisan kita yang dimuat. Yaelah dengan dimuatnya tulisan kita berarti itu sudah lebih dari cukup kan. Paling tidak harusnya iya buat saya. Toh menulis sekedar karena disuruh agar muncul di media. Sampai disitu sih iya…Besok kayaknya enggak. Lha menulis itu gampang-gampang susah. Ada waktu dan tenaga yang kita korbankan. Hehe.

Ini sebenarnya bukan tulisan perdana. Dulu di Sulawesi pernah juga beberapa kali di koran lokal. Dan sekali menulis gagasan di koran nasional. Dan jomplang sekali ya apresiasinya. Hehe.

Tanpa berpanjang kata lagi, berikut saya salinkan tulisan saya yang dimuat tersebut. Satu lagi deh. Soalnya ada yang lucu dengan tulisan ini. Saya kirim ini tulisan malam hari tanggal 18 Desember. Tanggal 20 nya dimuat. Senang sekali karena begitu cepat dan tanggapnya nih koran, pikir saya. Dan saya memang berniat tidak mau kirim lagi karena dan karena tiadanya apresiasi. Eh, Bulan Januari ada teman yang bilang tulisan saya dimuat di koran yang sama. Saya bingung dong karena tidak pernah kirim lagi. Ternyata oh ternyata tulisan saya yang ini dimuat ulang. Ehehe…Tanggap sekali ya…

______________________________________________________________________________

Fokus Pembangunan Wilayah

Revolusi indutri terjadi sekitar tahun 1750-1850 di Britania Raya. Dua abad kemudian. Pendapatan perkapita meningkat lebih dari enam kali lipat.

“Untuk pertama kalinya dalam sejarah, standar hidup rakyat biasa mengalami pertumbuhan yang berkelanjutan. Perilaku ekonomi yang seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya”, hal ini dikemukakan oleh Robert Emerson Lucas, penerima hadiah nobel dalam bidang ekonomi tahun 1995. Sejak saat itu negara-negara industri tampil sebagai negara maju yang menguasai perekonomian dunia. Hingga saat ini.

Negara maju menurut International Monetary Fund (IMF) adalah negara yang menikmati standar hidup relatif tinggi melalui teknologi tinggi dan ekonomi yang merata. Kebanyakan negara dengan GDP perkapita tinggi dianggap negara maju, sebut saja Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Semuanya merupakan negara industri yang maju.

Dalam lingkup daerah pun, daerah dengan industri maju cenderung manjadi daerah yang maju. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) lima provinsi dengan sumbangan ekonomi tertinggi di Indonesia adalah DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Riau . Jika ditelisik lebih lanjut, sektor industri sangat dominan di kelima provinsi tersebut. Sumbangan sektor industri pada PDRB DKI Jakarta tahun 2017 sebesar 13,44 persen ke dua terbesar setelah sektor perdagangan. Di Jawa Timur sebesar 29,03 persen, Jawa Barat 42,29 persen, Jawa Tengah 34,96 persen, dan Riau sebesar 25,31 persen. Di mana sumbangan industri menjadi yang terbesar pada keempat daerah tersebut. Hal ini membuat daerah lain berlomba untuk menggenjot sektor industrinya.

Tentu, siapa yang tidak ingin daerahnya sejahtera? Mengikuti adalah hal yang paling mudah dilaksanakan ketimbang harus mencari jalan lain yang belum tentu tujuan akhirnya sama. Daerah pun mulai berlomba menjadikan daerahnya sebagai pusat industri baru.

Sampai titik ini mungkin kita lupa. Bahwasanya struktur perekonomian terdiri dari tujuh belas sektor. Yang kesemuanya tanpa terkecuali sangat penting dalam menggenjot pembangunan demi kesejateraan. Contoh, sektor pertanian yang sangat vital namun dilirik sebelah mata. Sektor pertanian justru tidak menjadi primadona. Di tengah sematan negara agraris hal ini tentu sangat ironi.

Negara subur gemah ripah loh jinawi mungkin baru sekedar kata positif pembangkit semangat. Negara dengan jumlah penduduk ke empat terbesar di dunia ini belum mampu memenuhi kebutuhan pokok warganya berupa beras. Import beras menjadi agenda rutin tahunan. Nilai import beras berdasarkan data dari BPS pada triwulan pertama tahun 2018 mencapai 1,12 juta ton. Hal ini mengalami kenaikan 755% dibandingkan import beras triwulan I tahun 2017. Angka yang fantastis tentunya untuk sebuah negara agraris.

Masalah pangan ini bukan hal sepele. Kenaikan jumlah penduduk setiap tahunnya membuat kebutuhan akan pangan semakin tinggi. Pada akhirnya kita harus kuat secara pangan. Tidak boleh lagi menggantungkan pada import. Menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla. Permasalahan sektor pangan ini secara umum ada tiga yaitu, kenaikan jumlah penduduk, lahan pertanian yang semakin menyusut, dan perubahan iklim.

Jika kita tidak segera bergerak maka akan selalu ketinggalan. Seperti halnya industri otomotif. Dalam sebuah tulisannya Dahlan Iskan, mantan menteri BUMN pada era pemerintahan SBY pernah mengemukakan. Bahwasanya jika kita ingin sejajar dengan negara maju saat ini dalam industri mobil maka kita harus memiliki awalan yang sama. Untuk industri otomotif dengan bahan bakar minyak kita sudah jauh ketinggalan. Ibarat ikut perlombaan lari, yang lain sudah mencapai finish kita baru mulai. Seharusnya kita bisa bersaing dalam pembuatan mobil listrik. Semua negara baru mencoba. Semua memiliki peluang yang sama untuk maju.

Kenaikan jumlah penduduk adalah keniscayaan. Perubahan iklim adalah hal yang pasti. Mempertahankan daerah-daerah yang memiliki potensi pertanian untuk tidak dialihfungsikan bisa menjadi salah satu cara menekan penyusutan lahan pertanian.

Sejarah mencatat. Kita pun pernah merasakan swasembada beras yaitu tahun 1985. Pada waktu itu pertanian pernah sekali waktu menjadi primadona. Kita bisa kembali mewujudkannya jauh lebih baik.

Ini baru beras. Belum gula, garam, dan potensi komoditas lainnya yang belum mampu kita manfaatkan dengan baik. Maka tidak heran jika kita masih rentan terkena imbas gejolak ekonomi global. Nilai ekspor walau besar tapi masih kalah besar dibanding import. Sehingga menciptakan gap yang lumayan besar. Ketergantungan kita kepada pihak luar masih sangat tinggi.

Lantas?

Indonesia membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote. Terbentuk dari beraneka ragam suku, bangsa, bahasa, dan agama. Setiap daerah memiliki kekhasan dan keunggulan masing-masing. Memiliki ciri yang membedakan dengan daerah lainnya.

Karena hal tersebut muncullah ide diversifikasi ekonomi. Diversifikasi ekonomi, yaitu penganekaragaman atau inovasi produk/bidang usaha diyakini mampu menambah daya dorong perekonomian, dan dapat menjadi strategi khusus untuk mendukung ekonomi Indonesia saat ini. Struktur perekonomian yang terkonsentrasi hanya pada beberapa sektor membuat perekonomian Indonesia rentan terhadap gejolak ekonomi global. Inti dari diversifikasi ekonomi adalah keunggulan daerah.  

Salah satu cara untuk melihat keunggulan daerah bisa dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto PDRB) masing-masing daerah. Dari sana bisa dilihat sektor mana yang memberikan sumbangan tertinggi. Sektor dengan sumbangan tertinggi patut menjadi perhatian. Visi dan misi pembangunan dapat diarahkan ke sana.

Contoh Kabupaten Brebes. Sumbangan terbesar pada PDRB taun 2017 adalah sektor pertanian sebesar 38,42 persen. Angka ini seharusnya cukup untuk membuat pemerintah daerah setempat mengarahkan kebijakannya ke sektor pertanian. Dengan begitu sumbangan pertanian pada PDRB provinsi pun akan terdongkrak. Dimana selama kurun 2013-2017 sumbangan sektor pertanian di Provinsi Jawa Tengah cenderung menurun.

Dengan begitu diharapkan setiap wilayah akan kuat dan saling menopang satu dengan lainnya demi tercapai pembangunan nasional yang merata.