-23- Cerita Passion

20131206_091314
ini anak-anak terbaik dari seluruh SMA di Wakatobi ketika ikut saringan masuk PMDK STIS *lagi nyari passion*

*
*
*

Dulu, saya sama suami sering nongkrongin Young on Top, ni pembawa acaranya paling seneng ngomporin audience dengan kata passion “what’s your passion?” . Dan kayaknya ide acaranya adalah untuk menumbuhkan atau memunculkan passion khususnya di kalangan muda mudi. Makana di setiap acara kebanyakan bintang tamu adalah mereka yang muda yang berprestasi. Yah, kayak si pembawa acaranya yang sukses di usia muda, dan dia bangga *ya iyalah siapa yang tidak bangga coba*. Saya acungi jempol acara ini. Walaupun di awal acara selalu ada narasi tentang dirinya, “saya lulus kuliah usia sekian dengan predikat cum laude, dan pada usia 27 tahun dipercaya memimpin perusahaan besar…” tapi tidak terkesan sombong loh, lebih menginspirasi sebenernya. Nah, dari hasil nonton yang seperti inilah saya mulai terobsesi untuk menemukan my passion. Katanya sih tidak ada kata terlambat, mulai saja…walaupun dua puluhan tinggal beberapa tahun lagi berlalu *kurang dari lima tahun lagi, hiks* saya masih semangat membara loh nyari-nyari si passion.

Mulai dari mencoba menulis kembali. Entah saya yang terlalu pede atau bagaimana, tapi saya merasa saya bisa loh menulis. Bukan hanya menulis maksudnya, saya kepingin jadi penulis beneran, punya buku yang diterbitkan, dapet royalti, diundang seminar-seminar kepenulisan, de el el. Faktanya waktu SD saya boleh dibilang jago banget mengkhayal, kalau disuruh bikin cerpen, bisa loh jadi dan panjang ceritanya mengalir lagi, pokoknya enak dibaca. Tapi sayang, bukti otentik ini ada di lembar jawaban soal Bahasa Indonesia. Coba guru saya itu masih menyimpan lembar jawaban muridnya dari puluhan tahun yang lalu *note, saya masuk SD tahun 1992*, mungkin saya masih bisa memiliki bukti ini. Tapi sepertinya kertas-kertas jawaban itu lebih menguntungkan dijual rongsokan deh atau dijual ke pedagang untuk dijadikan alas gorengan. Buktinya waktu saya masih SD, kalau jajan bakwan pasti alasnya kertas bekas ujian atau lembar jawaban lengkap dengan nilainya, kalau sepuluh sih tidak apa-apa tapi angkanya bebek, aduh ada namanya lagi *gak kuat euy*.

Terus saya juga, nyari si “P” di dunia bisnis. Saya mencoba berdagang kecil-kecilan. Pasar Mimi yang menjual perlengkapan rumah tangga. Sebelumnya saya juga jualan pakaian muslimah ecer secara face to face “nah loh gimana caranya*. Jangan dibayangkan saya jalan keliling terus teriak-teriak nawarin barang dagangan ya, saya jualannya ke temen kantor, temen kos, yah ke temen-temen saja yang dekat dan tahu tentang saya. Bisa ditebak dong ending pencarian saya ini. Tapi saya tidak putus asa loh, di dunia bisnis saya merambah ke penjualan tiket pesawat yang sekarang lebih banyak dikembangkan suami. Terus saya pun mendirikan bisnis baru, jualan perlengkapan bayi. Untuk jualan perlengkapan bayi saya masih lanjut sampai sekarang walaupun tidak seheboh di awalnya tapi saya masih mencoba bertahan *mohon doanya ya agar saya fokus dan konsisten dan bisa menemukan yang namanya passion*.

Lain dunia kepenulisan dan bisnis lain juga dunia pendidikan. Saya juga mikir masih kepingin sekolah ngambil S2. Kepengen banget ke A *hehe gayanya pake inisial*. Tidak tahu kenapa, sepertinya saya kecil telah menemukan passionnya yaitu di dunia pendidikan. Iya, saya kecil itu paling senang di sekolah kalau bisa seharian di sekolah pun tidak mengapa, rekor waktu SMP saya tidak pernah absen dengan alasan apapun loh, saking cintanya pergi ke sekolah. Dulu itu duduk manis berjam-jam mengutak atik soal matematika tidak terasa capek atau bosan, pokoknya kepuasan tersendiri kalau berhasil memcahkan soal rada rumit. Rasanya penasaran terus kalau belum menemukan jawabannya, kalau menemukan jawaban dengan cara yang alay *panjang lebar, maksudnya* saya pun penasaran menemukan cara yang lebih singkat kayak mie instan. Dan habis itu saya bangga pamerin cara singkat ke guru dan teman-teman *dulu si niatnya ngajarin teman-teman supaya lebih cepet faham, bener deh, haha*. Tapi keinginan yang ini di keep dulu berhubung saya harus ngikut suami *berdoa semoga suami yang sekolah dan saya ngintil di belakang, aamiin*.

Kemana lagi ya pencarian saya itu?errr, iya saya pernah juga berniat melanjutkan proyek penelitian perusahaan. Saya pikir saya kan basicnya statistik, kenapa tidak dimanfaatkan? Iya gak sih? Jadilah saya mulai membuat proposal untuk diajukan ke perusahaan. Tapi sayang saya masih ragu berhubung ada session dimana saya itu harus kudu bertemu dengan client, sementara tahu sendiri saya di pulau nun jauh di kakinya sulawesi. Berat diongkos dong.

Nah, sekarang saya dimana, posisinya gimana? Saya ini abdi negara di bidang statistik dan beruntung bisa merasakan ditempatkan di daerah nyentrik seperti Wakatobi. Kebetulan saya sudah mengajukan diri menjadi pejabat fungsional, harapannya saya akan lebih giat bekerja dan tidak menyia-nyiakan waktu di kantor yang lumayan lama itu. Pengumuman saja ya, kalau kita jadi pejabat fungsional maka kita harus pintar-pintar nyari kerjaan karena kenaikan golongan kita ditentukan oleh pekerjaan yang kita lakukan dan tercermin dalam angka kredit. Nah angka kredit ini harus memenuhi nilai minimal untuk kenaikan pangkat atau golongan. Bisa lebih cepat dari pejabat struktural yang naik pangkatnya tiap empat tahun sekali, di fungsional bisa ekspres dua tahun sekali, ya, dengan catatan kita rajin bekerja dan jangan lupa ngambil pekerjaan yang ada angka kreditnya. Karena tidak semua pekerjaan itu ada angka kreditnya, nih misalanya saya, saya kan statistisi ketika saya ngerjain kerjaan administrasi ya nol, jadi selain rajin kita juga dituntut jeli melihat peluang pekerjaan yang gemuk AK (angka kredit). Dengan begini saya berharap bisa lebih enjoy di kantor. Saya palingg tidak suka pergi ke kantor terus tidak ada kerjaan hanya duduk-duduk, merasa bersalah sekali deh. Sudah ninggalin anak eh ini malah santai-santai, saya berusaha menghindari santai-santai ini, yah, walaupun manusiawi ya kadang juga kita jenuh dan ikut ngobrol sana sini dengan teman yang lain. Karena kebutuhan AK inilah saya memberanikan diri ikut course di edx ngambil statistik. Idenya saya bisa belajar lebih tentang statistik pun saya bisa mendapat angka kredit dari sertifikatnya *lumayan loh*. Selain itu biasanya kursus kan suka dikasih pe er, misal disuruh buat makalah yang ada hubungannya dengan ststistik, nah, itu bisa jadi angka kredit juga, hihi…*bisa jadi passion gak ya di kantor ini…*

Jadi passion saya apa? Sayangnya saya masih mencari. Errr, sebenarnya selain karena YOT, saya pun bersemangat mencari passion karena itu tadi masalah kantor. Iya saya mungkin tipe orang yang selalu membutuhkan tantangan, kalao adem ayem saja rasanya kurang bergairah ya. Tapi intinya di pekerjaan yang sekarang ini saya merasa kurang bisa berkembang dan merasa gitu-gitu saja sementara waktu saya benar-benar habis di kantor. Walaupun saya berusaha untuk terus mengmbangkan diri seperti yag saya ceritakan tadi tentang fungsional, course, dll. Tapi saya masih kurang merasa nyaman. Mungkinkah karena si kecil? saya baru saja punya baby solehah yang harus saya perhatikan dan ternyata teman tidak semudah itu menjadi ibu. Saya kira menjadi ibu itu bukan perkara setengah-setengah, dalam artian bisa disambi seperti kerjaan saya ini. Bisa si bisa tapi teuteup saya merasa kurang maksi. Dari sanalah dorongan paling kuat kenapa saya masih terus mencari passion. Saya ingin passion ini tidak mengganggu quality time saya dengan anak dan suami tentunya. Saya ingin tetap disampingnya tanpa kehilangan kesempatan mengaktualisasikan diri di masyarakat. Jadi hal itu menjadi kriteria ideal passion saya.

Dan saya pikir bisnis, kepenulisan, dan pendidikan bisa mewujudkannya. Bisnis bisa saya kendalikan dari rumah, menulis juga bisa dimana saja, pendidikan saya kira lebih banyak waktu di rumah. Oh iya yang terbaru mendadak saya ingin apply menjadi guru *hadooooh*. Make sense sebenarnya, guru pulang bareng muridnya biasanya sebelum jam 3 sudah di rumah, terus kalau libur ya ikut libur juga kan. Walaupun saya tahu ada sekolah yang menerapkan full time dari pagi sampai sore, tapi kan tinggal pilih sekolah yang sesuai kebutuhan kita saja. Tapi yang ini sifatnya masih khayalan tingkat tinggi. Berhubung saya tidak kuliah keguruan pun belum pernah ngambil penyesuaian untuk jadi guru kalau tidak salah akta4 ya.

Karena semua ini kemarin suami menyentil saya, “sebenarnya passion ceuceu apa sih?”. Nah loh. Saya gelagapan, dan tentu tidak bisa menjawab. Saya tahu, dia mungkin bosan kali ya saya keseringan berubah pikiran. Hari ini ingin begini besok begitu, begini begitu tidak ada, err maksudnya belum ada yang benar-benar jadi.

Dalam perjalanan menuju rumah sepulang kantor saya terpaksa merenung sejenak. Dan sepertinya saya harus berhenti dan mendinginkan kepala. Menenangkan hati dan segala emosi yang membuncah di kepala*phew*. Merapikan kembali impian saya dan mulai menyusunnya untuk melihat prioritas dan saya harus mulai dari sana, mulai fokus dan konsisten, bismillah…

Tapi dari semua itu saya masih menikmati hari-hari ini, saya bersyukur alhamdulillah atas hari-hari ini. Bukan berarti dalam proses pencarian saya tidak menikmati dan bersyukur, karena saya sadari waktu ini tidak akan kembali, detik ini, menit ini, jam ini tidak akan kembali terulang. Saya harus benar-benar berbuat yang terbaik untuk setiap waktu yang saya lalui sambil terus ikhtiar untuk menemukam my ideal passion.

Selamat berburu passion saudara-saudara, buat yang masih muda khususnya *maksudnya muda tuh usia berapa ya atau belum menikah atau bagaimana, ah yang merasa masih muda pokoknya* jangan sia-siakan harimu kejar terus impianmu sampai pada suatu titik dimana kita berhenti untuk tersenyum dan merasa bangga mengucap alhamdulillah inilah yang saya cari, jangan tunggu senja ya selalu semangat pagi pokoknya…

Terakhir sekali saya ingin mengatakan bahwa passion itu sudah ada pada diri masing-masing tinggal kita menggalinya dan berusaha memunculkannya, passion ibaratnya salah satu dari hobi atau kesenangan kita yang kemudian kita geluti secara kontinyu dan pada akhirnya seperti menemukan diri sendiri dan kemudian kita akan mengatakan inilah yang saya inginkan inilah passion saya. IMHO

Note: artinya passion bisa digoogling ya, tapi singkatnya si P ini adalah minat besar akan suatu hal dan kalo kita kerjakan terasa sangat menyenangkan dan kita tidak memikirkan untung rugi. Jadi melakukan pekerjaan ibaratnya kita sedang melakukan hobi…

#4 Mulai dari Awal (Lagi)

Bismillahirrahmanirrahim…

Sebenarnya sudah tiga tulisan yang dipublish di blog ini, tapi, rasanya saya kurang sreg. Bukan apa-apa, ketiga tulisan itu dibuat karena saya kepincut hadiah. Iya, ceritanya saya mupeng sekali dengan hadiah yang diberikan di beberapa lomba blog, jadinya begitu, saya buat saja blog ini untuk mengikuti kontes blog. Sebelum ummiko sudah ada tiga blog lainnya milik saya yang kurang populer. Satu dibuat waktu zaman kuliah, yang kedua ketika sudah bekerja tapi sama sekali tidak produktif alias blog kosong, dan yang ketiga sama dengan yang ke empat dibuat dengan tujuan ikut kontes.

Menulis karena mengikuti suatu kontes tidak ada salahnya dan bukan berarti jelek. Hanya saja bagi saya, rasanya ada sesuatu yang hilang. Idealisme? atau karena kalah, jadinya saya mundur? hmm…entahlah bisa saja keduanya. Tapi, saya yakin nomor satu lebih menjadi alasan.

Karena itulah saya putuskan akan memulainya lagi dari awal, saya akan menulis yang benar-benar menjadi passion saya. Jadi blog ini bukan sekedar blog kontes tapi it’s truely me, wew…Saya yakin kalau niatnya bukan karena faktor dari luar — seperti hadiah yang menggiurkan — saya akan lebih enjoy dalam menulis dan jika suatu saat saya mengikuti kontes blog saya tidak akan berekspektasi terlalu tinggi. Akhirnya saya bosan deh menulis…

So, ini dia blognya Mila: Ummiko, sebuah catatan seorang ummi…
Semoga bermanfaat…

aamiin…