-123- Nyoba yang lagi Hits: Indomie Abang Adek

Bismillah.

Habis dari Jakarta ya?.

Tidak.

Terus kok bisa nyobain gitu?

Mau tahu?

Enggakkk!

Dan postingan pun selesai 😆 , ya enggak lah, jadi gini…

Dari dulu suka nonton acara memasak dan memakan :mrgreen: . Karena itu saya suka kabitaan kata orang sunda mah. Pengen juga merasakan apa yang saya tonton itu.

Seblak yang saya post sebelumnya juga karena kabitaan ini 😆 . Sekarang apa? Saya lagi pengen nyoba mie abang adek yang menurut tontonan merupakan indomie goreng yang disajikan dengan ulekan 100 biji cabe rawit super pedas. Iya sih lima biji saja buat saya itu sudah masuk makan menderita. Walaupun nagih tapi sebenarnya sudah bingung dengan rasa apalagi menikmati.

Karena saya tahu batas pedas yang masih bisa di tolerin mulut sama perut jadinya cuma pake lima biji. Maksimal lah ya untuk ukuran saya.

Bahan:

  • 1 bungkus indomie goreng terserah rasa apa saja, kebetulan saya pakai yang standar warna merah;
  • cabe rawit lima biji, silakan tambah dan kurangi sesuaikan saja jangan memaksakan diri ikut level pedas mampus nya indomie abang adek yang 100 biji;
  • air untuk merebus mie secukupnya;
  • sayur sawi, opsional;
  • dan telur ceplok opsional yang harus.

Caranya super simpel layaknya memasak mie instan biasa. Hanya di tambah ulekan cabe rawit yang sebelumnya telah di rebus. Cara nguleknya bukan di cobek tapi langsung di piring atau mangkuk saji. Jadi disarankan menggunakan yang dari bahan plastik. Satu lagi, kata si penjual abang adek sih biar lebih enak cara nguleknya harus di pukul-pukul 😀

Jadinya gini nih…

dscn3141

Kok seperti mie goreng biasa? Ya lah ya iya, ini kan mi goreng biasa yang saking biasanya saya cuma tambah lima biji rawit 😆 . Tapi emang pedas tuh lihat yang merah-merah, cuma pedasnya tidak yang seperti saya bayangkan. Saya pikir bakalan pedasss banget ternyata tidak euy!

Dugaan saya sih karena rawitnya di rebus, biasanya kalo rawitnya di olah dulu entah itu di rebus, kukus, atau goreng tingkat kepedasannya berkurang. Benar gak? Dan berikutnya saya coba pakai rawit yang masih segar aduh pedas subhanalloh tidak kebayang yang 100 biji.

Kok bisa pedas ya?

Kapsaisin (8-metil-N-vanilil-6-nonenamida) termasuk di dalam Kapsaisinoid, yaitu zat kimia yang menimbulkan rasa pedas yang ada dalam tumbuh-tumbuhan, seperti cabai. -wikipedia

Rasa pedas yang diciptakan persis seperti kulit kita terkena panas. Beda dengan panas yang membuta kulit tubuh kita terbakar misal jadi gosong, nah, kapsaisin ini hanya rasa jadi bukan benar-benar terbakar sampai ada bukti fisik. Ini saya kutip dari wiki dengan sedikit perubahan.

Lanjut ya masih dari wiki, kapsaisin ini punya skala atau level kepedasan yang namanya scoville, kapsaisin murni mengandung 15 juta Scoville. Menurut Guinness Book of Records, cabai paling pedas adalah jenis Red savina habanero dengan ukuran 577 ribu unit Scoville. Tetapi ada klaim sejenis cabai di India, Naga jolokiayang mencapai 855 ribu Scoville.

kapsaisin sifatnya seperti minyak tidak larut dalam air. Makanya minum tidak segera tuntas menghilangkan pedas. Cara paling ampuh adalah dengan susu atau keju, kasein dalam susu bisa menggumpalkan kapsaisin yang berada di lidah.

Jadi, kalau mau menantang diri dengan tingkat kepedasan jangan lupa siapkan susu, mau tawar mau manis sama saja. Cuma kata yang di vlog-vlog itu paling ampuh pake susu yang gambarnya beruang. Entahlah di coba saja.

Selamat mencoba bagi yang mau nyoba 🙂

 

Advertisements

-106- Memilih Rice Cooker yang Aman dan Awet Ala Saya

Di zaman serba canggih dan sibuk hari ini memasak nasi konvensional sudah banyak ditinggalkan. Walaupun kebanyakan dari kita *tentu yang pernah mengalami masa-masa nasi konvensional* sangat menyukai dan menginginkan nasi yang di masak konvensional tapi apa daya saya sendiri gak sanggup. Proses pengolahan yang membutuhkan banyak waktu dan tenaga saya menyerah. Yah, kecuali lagi senggang dan iseng nyari kerjaan boleh lah ya.

Dari kecil saya paling malas bantu ibu memasak *bandel amat gak sih* dan lebih malas lagi ketika adegan memasak nasi ini. Persiapan yang lumayan, mulai peralatannya yang harus bersih, kemudian berasnya yang belum di tapi *dibersihkan dari kulit ari yang tersisa*, kemudian di cuci sampai bersih menggunakan boboko *kita di kampung menyebutnya, wadah pencuci beras dari anyaman bambu*, dan setelahnya dikeringkan dulu, bukan yang benar-benar kering. Setelah itu siapkan perapian, masukan beras yang telah di cuci tadi ke dalam wajan yang alasnya rata. Prosesnya seperti membuat liwet tapi tidak sampai matang. Setelah airnya habis di aduk dan didiamkan sebentar untuk selanjutnya di tanak di dalam panci. Kalau di rumah saya, nasi setengah matang tadi dialasi kain berlubang untuk memudahkan ketika mengangkat nasi yang telah matang dari panci. Setelah matang pun belum selesai prosesnya karena harus didinginkan dengan cara di aduk-aduk sambil di kipas-kipas agar nasinya pulen dan siap untuk di santap. Proses yang melelahkan tapi yah sesuai dengan hasilnya. Nasi dengan proses seperti ini jauh lebih aman dan sehat, apalagi menggunakan tungku kayu bakar rasa tiada dua.

Old good story, sekarang mau tidak mau harus beralih ke cara modern. Untuk mengurangi tenaga dan waktu, mempersingkat proses untuk kegiatan lainnya.  Di rumah orang tua pun cara konvensional ini sudah lama ditinggalkan. Beralih ke alat canggih yang bernama rice cooker.

Pada awalnya saya membeli barang, pertimbangan nomor satu adalah harga: harus murah! Dan kualitas nomor dua. Kalau bisa dua-duanya itu sebuah keuntungan he he he. Hal yang seperti ini bisa di dapat kecuali kita membeli di black market atau barangnya KW *istilahnya KW super* tapi artinya tuh barang njiplak atau bisa juga karena ada diskon, penjualnya lagi berbaik hati, pedagangnya lupa harganya, atau ada yang kasih *apa pula*. Dulu saya gak peduli. Saya belum kepikiran tentang orang-orang di belakang barang tersebut. Orang-orang yang mencurahkan pikirannya untuk sebuah alat yang baik yang bisa digunakan dengan aman. Menghargai sebuah karya, itu yang luput dari saya, yang ada saya harus untung.

Akhirnya, kebanyakan dari barang yang saya beli tidak bertahan lama. Mungkin niatnya kurang baik kali ya. Tapi kalau kita gak sanggup, emang mampunya beli KW gimana dong? Emang tidak ada barang lain di kelasnya yang ori walau kualitas agak di bawah tapikan ori pastinya lebih murah kan? Tapi saya sukanya yang itu. Ya sutra lah ya, balik lagi ke pilihan masing-masing dan apa yang diyakini.

Balik ke pemasak nasi. Selama nikah empat tahun ini sudah dua rice cooker. Berarti rata-rat pemakaiannya dua tahun. Semua saya ganti karena nasinya menjadi kuning dan berbau. Yang pertama malah lebih parah, karena selain berwarna dan berbau bodi luarnya retak.

Dan ketika nulis ini saya lagi nyari-nyari rice cooker yang benar-benar aman dan sehat. Sementara saya masak nasi liwet dulu demi keamanan.

Karena ternyata penyebab nasi berubah warna dan berbau itu disebabkan lapisan anti lengketnya mengelupas dan bercampur dengan nasi yang kita masak. Hal ini merupakan salah satu penyebab penyakit kanker, na’udzubillah.

Beberapa hal yang menjadi focus ketika saya nyari rice cooker yang bagus *aman dan awet* berdasarkan pengalaman pribadi:

  1. Bodi nya harus kuat, kalau gitu saya akan cari yang stainless.
  2. Materi inner pot rice cooker mestinya menghindari yang anti lengket, so, saya nyari yang pro ceramic atau logam sekalian misal stainless.
  3. Yang bisa tahan lama memanaskan tanpa berubah warna dan bau, karena biasanya saya akan masak sekali dalam sehari.
  4. Watt nya rendah karena saya butuh dengan alat elektronik yang lain, 400 watt oke lah.

Itu sih tapi lumayan ya, apanya? Mihiiilll. Kan lagi-lagi ada rupa ada harga, ada karya yang baik tentu penghargaannya harus baik juga. Jadi, ayo lah siapa takut. Belum mampu, mari kita nabung dolo. Sementara masak nasi liwet yang cepat dan aman.

Setelah searching-searching saya jatuh hati pada Philips. Nomor 1, 2, 3, dan 4 kebutuhan saya terpenuhi, jadi apa lagi coba? Kalau dana sudah siap ya sudahlah daripada capek terus akhirnya ngedumel gak baik buat saya nya.

Saya sih selama ini percaya sama si Philips. Dia tahan lama dan kualitasnya oke punya. Di rumah pun yang merk nya Philips tahan banting dese. Mulai dari lampu yang awet sampai blender yang hebring. Harga, ya gitu agak mahal tapi kan, kalau di pikir-pikir sama saja dengan beli yang murah tapi sering. Mudah-mudahan kali ini pun saya tidak di buat kecewa untuk pertama kalinya, aamiin.

Harga rice cooker ini hampir 3 kali yang biasa saya  beli, tapi, bismillah semoga ini yang terbaik, aamiin. Ibaratnya kita membeli masa depan dengan harga sekarang, mudah-mudahan bisa awet bertahun-tahun, aamiin.

Penampakannya menjanjikan sih, saya suka, karena terlihat kuat dan tangguh.

magic-com-rice-cooker-philips-hd-3128-stainless
gambar di ambil dari tokoperabotan.com

Beli di mana?

Saya beli online karena wilayah saya yang lumayan jauh dari pusat perdagangan. Beli online saya perhatikan malah lebih murah karena ada free ongkir. Dan tempat belanja online fav saya adalah blibli. Saya suka saja karena sederhana desainnya. Cepat nyari dan paling penting gak sakit mata karena kan sudah mah kita natap layar tampilan yang gonjreng bikin pusing kan.

Kalau saya lagi rajin insyaAlloh saya akan buat review nya deh ya…

Semoga bermanfaat.

-91- Mengolah buah pepaya menjadi sayur yang enak

Bismillah.

Hola ketemu lagi di dapurnya umu maryam :mrgreen: . Lama sekali nih saya tidak ngoprek di dapur. Bukan tidak masak sama sekali ya. Saya tetep masak kok, bagaimana ceritanya Maryam dan Abahnya dong kalo saya absen ke dapur 😀 . Hanya saja masakannya biasa-biasa saja. Bukan sesuatu yang baru bagi saya.

Berarti ada yang baru dong?

Betuuullll 😆

Gara-garanya halaman rumah saya subur sekali 🙄 Tanaman yang tak sengaja di tanam pun tumbuh subur. Ada pepaya, cabe, bayam, sampai rumput-rumput nya pun tak mau ketinggalan menutupi halaman rumah.

Tanaman yang kali ini menjadi bahan oprekan saya adalah hmmm…masih seputar pepaya sih 😛 . Dulu kan bunganya sekarang apanya? Buahnya! Dulu taunya buah pepaya itu ya, di makan ketemu masak, eh, di sini penduduknya saking tidak banyak sayuran lain, pepaya muda pun dijadikan menu sayur keseharian. Nih lihat pepaya saya persis di depan rumah.

DSCN1625

Bahkan ada yang tinggal petik tidak perlu loncat-loncat, itu pepayanya tiduran di tanah! 😯

DSCN1626

Pepaya saya ini sebenarnya kalaupun masak tidak begitu manis dan daging buahnya tipis. Orang sini bilang pepaya sayur, ya, mungkin karena banyak yang memanfaatkannya sebagai sayur ketimbang di makan masak.

Browsing ketemu browsing, ternyata pepaya saya ini termasuk jenis pepaya burung. Cirinya, warna daging buah kuning, rasanya manis asam, daging buah tipis, dan biasanya ukurannya sedang. Pepaya yang di kenal masyarakat Indonesia sendiri ada dua, ke duanya adalah pepaya semangka. Pepaya yang sering kita temukan di penjual buah-buahan. Cirinya daging buah tebal, berwarna merah, manis, dan biasanya berbentuk lonjong panjang.

Pepaya juga ada jantan dan betina loh ya *awalnya saya katro gak tau*. Kebetulan di halaman rumah jantan dan betina nya ada. Jadi, pepaya jantan hanya berbunga, yang saya olah kemarin dulu itu. Sementara yang betina yang menghasilkan buah pepaya.

Biar lengkap nih saya kasih gambar klasifikasi ilmiahnya *mudah-mudahan saya juga akan ingat*.

klasifikasi ilmiah pepaya
di ambil dari sini

Balik lagi ke cerita memasak ini. Awalnya saya malas karena getahnya itu loh. Sampai pada suatu titik di mana sayuran kesukaan kami *kangkung, sawi, dan bayam* mihil: Seikat Rp5000,-. Akhirnya untuk mensiasati agar tidak terlalu banyak pengeluaran di sayur, saya mencoba mengolah si buah pepaya selain juga bunganya yang terlebih dahulu sudah saya oprek. Kan, lumayan agak bervariasi walaupun sebenarnya masih sama-sama pepaya: bunga dan buahnya. Oh ya, rencana saya juga mau belajar mengolah daun pepaya 😀 *tunggu saja tanggal mainnya, biar lengkap edisi pepayanya *.

Baiklah untuk memulai memasak nya siapkan pepaya dan pisau sebagai tahap awal yang melelahkan.

Potong kedua ujung pepaya agar pepaya bisa diberdirikan. Ini untuk memudahkan proses mengupas kulit pepaya. Dalam posisi berdiri kupas kulit pepaya agak tebelan biar mudah ngupasnya. Ya, kalo punya alat pengupas lebih gampang lagi sepertinya. Nah, di sinilah saya baru tahu. Ternyata getah pepaya tidak seperti buah sukun yang ke mana-mana nempel di tangan. Buah pepaya ini hanya mengucur sekali ketika memotong ujung-ujungnya. Selepasnya aman sentausa :mrgreen:

pepaya1
Semoga jelas langkah-langkah penggambarannya

Setelah mulus dari kulit hijau, belah pepaya utuh tadi menjadi dua bagian *belah persis di tengah*. Ambil belahan pertama lalu iris pipih dagingnya sampai habis tinggal biji-biji yang nempel di daging.

pepaya2

Irisan pipih daging pepaya ini kembali di iris menyerupai batang korek api, tebal tipis sesuai selera, tapi initinya saya panjang-panjang. Kalau mau sama ya boleh ya pakai talenan yang ada skala ukuran. Saya sih ogah: lamaaaa 👿 . Tak beraturan begini saja pegelnya…

pepaya3

Kalau sudah selesai seperti batang korek api, cuci bersih. Siapkan bumbu, kalau saya pakai bumbu kuning:

Kemiri dua butir, bawang putih 1 siung ukuran sedang, kunyit kurleb dua ruas jari, bawang merah dua siung, garam, merica, dan ketumbar. >>dihaluskan

Bumbu halus tersebut digoreng dengan api kecil sampai harum dan berwarna kecoklatan. Kemudian masukan irisan bunga pepaya. Oseng sebentar sampai terlihat agak layu. Lalu masukan air secukupnya. Tambahkan gula sebagai penyedap *penyeimbang rasa*. Didihkan dan angkat jika sudah empuk. Oh ya, biar rasanya lebih mantap bisa menambahkan irisan tomat dan air jeruk nipis di akhir menumis.

Tarrrrrra…

DSCN1952
Tumis buah pepaya bumbu kuning…

Selamat mencoba.

Referensi bacaan:

https://id.wikipedia.org/wiki/Pepaya

-89- Rasa Trauma

DSCN1365

Pagi hari jumat kemarin tanggal 17 Desember 2015, hawa dingin menyelinap masuk, hujan dari semalam lumayan deras. Maryam yang biasanya sudah terbangun jam 6, masih asyik tertidur pulas. Memang akhir-akhir ini udara begitu panas sehingga mengurangi nyenyaknya tidur. Maryam malah lebih sering terbangun di malam hari, gatal-gatal lah Karen abiang keringat, atau yang tiba-tiba kehausan. Tadi malam sampe pagi memang agak lain, udaranya adem bikin yang lelap tambah lelap.

Karena Maryam ikut kita ke kantor, terpaksalah dibangunkan. Dia sepertinya masih enggan. Tapi karena saya terus-terusan bicara di telinganya, dia terganggu juga. Dan dengan sebal sambil siap-siap pasang tangisan ia berguling ke samping kanan, alhasil tangannya tertimpa badannya sendiri. Tangannya sepertinya kegencet terus keseleo atau bagaimana, karena seterusnya ia kesakitan dan lalu menangis kencang sejadi-jadinya.

Dari sejak kejadian pagi itu, seharian jumat Maryam tidak mau menggerakan tangan kanannya. Saya sudah olesi dengan minyak telon supaya hangat, ototnya yang keseleo bisa pulih. Sudah di elus-elus, di bantu digerak-gerakkan, yang ada anaknya menangis dan itu kencang sekali.

Khawatir tentu saja. Saya takutnya sakit betulan. Tapi, kita tidak langsung bawa ke dokter. Kita mau tunggu sampai besok.

“Anak kok sakit bukannya segera diperiksa takut kenapa-kenapa malah di tunggu?”.

Sebenarnya kejadian sakitnya Maryam akibat fisik bukan kali ini. Sekalinya dulu pas di suntik pentabio yang mana karena dia merasa sakit waktu di suntik pahanya, sampai di rumah ia pun tidak mau sama sekali menggerakan kakikanya. Alamat ia hanya berjalan dengan satu kaki seharian. Besoknya ia pun masih tidak mau. Tapi kalau memang ada efek dari suntik vaksin harusnya kan sehari cukup, kalau sampai besoknya masih begitu, kita kan khawatir: apakah karena suntiknya atau Maryamnya?.

Akhirnya kita coba perhatikan pas dia tidur pulas. Nah, kelihatn tuh, pas dia pulas benar, ia tak sadar menggerak kaki yang di suntik dan tidak apa-apa: Alhamdulillah. Pas dia bangun, Abahnya mencoba menyuruhnya jalan pakai kedua kaki, masih tidak mau. Akhirnya kita coba cuek. Dan sembunyi-sembunyi Maryam mencoba sendiri jalan pakai dua kaki, pelan sekali ia mencoba. Kita perhatikan *sembunyi-sembunyi juga* sebenarnya ia sudah tidak sakit tapi ada ketakutan pada dirinya, takut sakit kalau digerakan, takut seperti ketika ia di suntik.

Kedua kalinya pas tangannya ketiban tubuhnya juga. Nah ini pun ia seharian tidak mau menggerakan tangan dan manja minta ampun. Maunya di gendong terus. Kalau dicuekn nagis kenceng. Tadinya mau di bawa ke dokter saking khawatir tapi kata teman, “ tidak, insyaAlloh gak kenapa-napa ini, sebentar juga baikan”. Dan seharian dong bahkan sampai besoknya.

Besoknya kita paksa gerak-geralin tangannya. Awalnya takut sekali tapi karena mungkin merasa tidak sakit pas kita gerakin, akhirnya perlahan ia mau menggerakannya.

Nah, karena kejadian tersebutlah, kita tahan-tahan ke dokter. Cuma kali ini yang membuat khawatir, hari sabtu besoknya ia sama sekali masih tidak mau menggerakan. Kalau kita paksa menangis kenceng dan marah. Ya udahlah ya, kita mau coba lihat lagi pas dia pulas. Bergerak tapi sangat terbatas. Masih khawatir tapi lega walaupun gerakannya terbatas tapi masih gerak gitu. Jadi kami pikir, Maryam ini takut, kalau enggak dibilang trauma terhadap sakit fisik. Rasa sakit yang diakibatkan benda-benda juga.

Baru hari ketiga, hari minggunya Maryam mau diyakinkan bahwa tangannya sudah tidak sakit lagi. Caranya, kalau dia lagi hepi, terus terburu-buru ingin ikut, saya raih tangan kanannya untuk dituntun dan tidak nolak sama sekali ia lupa. Tapi pas dia ingat lagi kalau tangan kanannya sakit, ia tidak mau lagi gerak: jadinya lucu. Kita curi-curi kesempatan pas dia lupa gerakin tangan kanannya, entah itu dituntun, di angkat-angkat, sampai di minta cium tangan: alhamduillah berhasil.

Kalau besok kejadian lagi? Mudah-mudahan ini karena Maryam masih belum mengerti bahwa sakit itu bisa hilang. Dari kejadian ini mudah-mudahan Maryam belajar, seandainya sakit berusahalah untuk sembuh, jangan takut! Harus dihadapi!

Love you to the moon and back

My saliha

-87- Mengolah bunga pepaya

Bismillah…

Kebetulan di halaman rumah tumbuh pepaya sayur yang berbunga lebat. Sesekali tetangga minta izin memetiknya. Saya belum kepikiran untuk ikut juga mengolahnya. Sampai suatu hari saya mencoba masakan olahan bunga pepaya dari warung makan. Dan enak! Tidak pahit. Rasanya memang ada pahitnya, tapi samar sekali. Malahan ras pahit yang samar itu menjadi cita rasa tersendiri. Masakan yang saya coba pertama kali adalah tumis kangkung bunga pepaya.

Isenglah saya tanya penjualnya cara mengolah bunga pepaya agar tidak pahit. “Biasa saja, kok mba, di tumis saja di oseng-oseng”, jawabnya simple yang di sambut dengan oh yang panjang dari saya dan tekad untuk mencobanya.

Pas tetangga ada yang ambil bunga pepaya, saya tanya juga cara mengolahnya. Dan tetangga saya pun memberi jawaban yang sama kecuali ia menambahkan, “kata orang sih biar tidak pahit di rebus dulu pake tanah.” Oh, baiklah sepertinya saya tidak berminat dengan saran tanah ini 🙂 .

Saya pun di hari libur, entah itu sabtu atau minggu, bersiap memasak bunga pepaya. Memetiknya gampang, dengan batang kecil yang klek sekali pites menjuntai membuatnya mudah di jangkau. Hanya waktu itu yang bikin ribet ketika memisahkan bunganya dari pangkal. Gimana tidak ribet bunganya kecil-kecil dan banyak, ampun deh! Awalnya saya tarik-tarik bunganya biar tercabut, dan ya, memerlukan sedikit tenaga. Kemudian hari setelah beberapa kali mengolahnya, saya pun belajar.

Dengan penuh percaya diri, saya memasaknya bersama kangkung dengan bumbu oseng kangkung yang biasa: bawang merah, bawang putih, tomat, cabe merah besar, gula, garam, dan merica. Oseng-oseng dan siap. Wanginya harum dan ketika di coba, masya Alloh pahit sekali! pahit! pahit! pahit!

Dan komentar suami saya, “Ya, namanya juga resep rahasia, mana mau lah…”. Iya mungkin bisa jadi. Cuma saya mikirnya, di tengah teknologi super canggih dan kekuatan google, masih ada ya yang main rahasia-rahasiaan. Ya maksud saya, itu kan tips umum, sama seperti cara menghilangkan bau amis pada ikan. Itu kan istilahnya rahasia umum, tips umum, yang yah seharusnya semua orang tahu. Kalau resep rahasia, hemat saya sih, racikannya memang sengaja di cari sendiri dengan berbagai percobaan sampai akhirnya mendapatan cita rasa khas masakannya. Mirip-mirip penemuan lah, sehingga saya sih setuju-setuj saja kalau sampai ada yang mau mematenkan resep nya 🙂

Ya, okelah semua balik lagi ke diri masing-masing. Mari kita berbaik sangka saja, mungkin memang bunga pepaya ibu warung tanpa diapa-apakan sudah tidak pahit. Yang patut saya syukuri adalah karena percobaan gagal itu dan ternyata saya masih penasaran, akhirnya saya tahu.

Saya patut berbangga untuk yang satu ini. Saya tidak tanya siapa-siapa, pun kepada mbah google. Cuma feeling *ealah*. Bunga pepaya nya sebelum di tumis saya rebus dulu bersama garam, sampai air rebusan berwarna hijau. Angkat siram pakai air dingin untuk menghilangkan panas pada air rebusan. Dan peras lah bunga pepaya rebus sampai air nya kering. InsyaAlloh dengan cara seperti ini bunga pepaya tidak pahit lagi, kalaupun pahit, pahit samar, pahit enak 😛

DSCN1643

Kemudian mengenai cara memisahkan bunga pepaya dari pangkalnya. Ternyata cukup dengan di pelintir. Iya, pelintir halus, atau putar si bunga pepaya dan dengan mudah dia akan lepas 🙂

DSCN1638

Hayo apa lagi?

Masaknya, terserah selera masing-masing lah ya. Mau di tumis pakai bawang merah, bawang putih, dan tomat saja enak kok. Di tambah kangkung makin mantap. Atau berkreasi dengan resep lain, mangga silakan bereksperimen sendiri di dapur masing-masing. Sejauh ini saya baru menumis dan menggorengnya ala bakwan.

Satu lagi, kelupaan. Awalnya saya pikir olahan bunga pepaya ini hanya di kenal di sini, di Wakatobi. Karena di kampung saya di Cikijing, di Jawa Barat, belum nemu. Nanya si Emih pun beliau tidak tahu. Cuma pernah denger katanya. Secara kan di Wakatobi sayuran jenisnya terbatas, karena tanahnya itu *karang*. Dan salah satu pohon yang mudah dan banyak di jumpai adalah pepaya sayur salah satunya. Hampir di tiap halaman rumah ada pohon pepaya. Oh, mungkin karena sulit mendapatkan sayur, bunga pepaya pun jadi di olah.

Tapi, ternyata saya salah. Di daerah Jawa, Jogja, Solo, dan lain-lain olahan kates  atau pepaya ini sudah biasa. Mungkin di Jawa Barat pun ada, cuma saya saja yang tidak tahu kali ya.

Oke, selamat mencoba 🙂

PS. Postingan saya akhir-akhir ini tak bergambar:( Bukan sengaja sebenarnya, karena saya belum memindahkan foto-foto ke laptop. Dan minggu ini juga jaringan internet sempat down di Wakatobi. Jadi, ya seadanya. Next rencananya saya mau sisipkan foto-foto. *self reminder*

-62- Tips Mengatasi Ikutan Pasca Imunisasi

DSCN0696

Ikutan pasca imunisasi di sini adalah hal yang umum terjadi ya, seperti demam dan bengkak. Ibu baru mana sih yang tidak khawatir mendapati anaknya bengkak ditambah demam setelah divaksin? Kekhawatiran ini biasanya karena kita tidak dibekali informasi yang cukup. Kita tidak tahu bahwa setelah divaksin BCG akan meninggalkan bekas yang ternyata akan terbawa seumur hidup si anak. Mendapati lengannya bengkak kita lantas khawatir kepikiran macam-macam apalagi hidup kita tidak jauh juga dari antivaks tambah dag dig dug deg deh rasanya. Saya dulu juga begitu 🙂

Informasi yang minim dari tenaga kesehatan di posyandu membuat saya rada was-was mendapati Maryam badan nya demam dan bengkak di lengan. Waktu itu nakes hanya kasih saya paracetamol dan bilang kalau demam obatnya kasihkan. Sudah itu, yang sampai hari ini alhamdulillah belum pernah saya berikan dan kemudian saya tahu menjadi keputusan yang tepat. Karena obat, terutama paracetamol ini setelah saya baca-baca bisa menurunkan kinerja vaksin. Jadi ya, kurang maksimal lah vaksinisasinya.

Sebenarnya informasi memang sangat membantu ketenangan tapi rasa khawatir itu tetap ada, wajar. Demam pada tiap anak juga berbeda jadi ya wajar khawatir. Pengalaman yang dialami ibu A tidak sama dengan ibu-ibu lainnya. Pada akhirnya tentang teknik penanganan dan manajemen hati dari rasa khawatir pengalaman akan mengajarkan kita jauh lebih baik. Namun, tidak ada salahnya berbagi karena paling tidak kita tahu hal-hal seperti demam dan bengkak adalah sesuatu yang wajar pasca imunisasi. Hampir semua ibu dan anak mengalaminya, so, yakin dan tenanglah kita tidak sendiri.

Oh ya, fyi, demam itu salah satu indikasi bahwa proses vaksinasi anak kita berhasil. Tapi, bukan berarti anak yang tidak demam sebaliknya ya. Intinya demam pada beberapa anak adalah hal yang bagus untuk mengetahui bahwa vaksinasinya sudah berjalan dengan baik. Jadi, malah jangan takut untuk pergi vaksin hanya karena alesan demam ini ya.

Ini kan tips ya? kok panjang preambule nya 😀

Oke oke oke, ini yang mau saya share…

Tips yes karena saya pernah mengalaminya.

1. Keep calm. Beneran deh bukan basa-basi yang basi, anjuran tetap tenang memang harus diupayakan.

2. Untuk menjaga kewarasan kita agar tetap tenang, sering-seringlah cari informasi tentang vaksin salah satunya bisa ikut gabung di group Gerakan Sadar Imunisasi (Gesamun) di Facebook.

3. Kalau anak demam jangan terburu-buru tergoda memberikannya obat penurun panas. Cobalah sehari kita upayakan teknik yang alami, semisal intens memberikannya ASI, sesering mungkin menggendongnya atau memeluknya, dan mengompresnya dengan air hangat. Ribet dan bikin capek seharian plus semalaman, buat anak rasanya tidak akan terasa. Kalau pada Maryam demam hanya sehari semalam, alhamdulillah besoknya sudah pulih seperti sedia kala.

4. Jangan memaksa memberikan ASI, alamiah saja, kalau anak minta ya kasih. Pokoknya selalu siap sedia jika ia menangis minta nenen. Biasanya kalau dipaksakan jatuhnya muntah.

5. Bila setelah sehari demam tidak kunjung turun segeralah konsultasi dengan tenaga kesehatan terdekat.

Sederhana tapi selalu prakteknya lebih ribet. Nikmati setiap prosesnya karena setelah hujan badai terkadang kita menemukan lengkungan pelangi yang begitu indah …

 

-58- Mengolah Buah Sukun

Bismillah.

DSCN0649pemandangan di Bawah Pohon Sukun (BPS)

Pada tau kan buah sukun? Buah yang penampakannya mirip nangka dan cempedak dalam size kecil. Lebih sering dikonsumsi dalam bentuk gorengan ketimbang buahnya langsung yang masak. Menurut orang sini karena jarang sekali buah sukun yang bertahan sampai masak di pohon, kalau tidak diambil untuk digoreng, dijual, atau jatuh tertiup angin. Semua opsi berlaku di sini :v  ya di goreng, di jual, yang jatuh pun buanyak.

Di halaman kantor saya -kebetulan saya bekerja di BPS dan akhir-akhir ini saya memang sering bekerja di BPS yang saya sebut di atas kependekannya- ada dua pohon sukun yang sudah sangat besar, buahnya pun lebat sampai jatuh ke mana-mana. Bagaimana lagi si Maryam lagi seneng-senengnya jalan ke sana ke mari dan tempat favoritnya adalah BPS. Terpaksa deh saya juga mangkal di sana :v

Di tengah cuaca terik pohon sukun adalah oase tersendiri. Duduk di bawahnya kenikmatan tersendiri. Mengawasi bocil ke sana ke mari saya asik duduk manis sambil sesekali menatap layar samsong 😀 . Bisa sejaman lah kita di sana. Karena sekarang lagi musimnya ya mau tidak mau kita ketemu juga dengan sukun yang tak berdaya tergeletak di halaman kantor tertutup rapi batako. Sekali dua kali cuek. Karena saya tahu betapa repotnya mengolah buah yang satu ini. Getahnya itu lo!

Tapi sejak salah satu teman di kantor membawakan gorengan sukun dan ternyata enak: renyah kriuk-kriuk dan gurih nikmat lagi dicocol sambel, saya jadi terinspirasi untuk mencoba. Daripada ngemil gorengan dari luar terus sekali-kali goreng sendiri kan lebih terjamin kesehatan dan kepuasannya 🙂

Baiklah jadi akhirnya saya ambil juga satu buah sukun. Barangkali ada yang belum tahu penampakan buah sukun, lihat gambar di bawah ya.

DSCN0645Percobaan pertama lumayanlah masih bisa dimakan tapi masih rada gatal dan tidak renyah. Kedua kalinya saya konsultasi dulu dengan ahlinya. Ternyata biar renyah sukunnya dipotong tipis, setelah dicuci bersih dari getah diberi garam dan digoreng dalam minyak panas yang banyak sampai sukun terendam. Selain itu agar tidak nempel getahnya, ketika memotong usapkan minyak goreng di ke dua telapak tangan dan pisau. Getahnya sangat mudah dibersihkan ketimbang tanpa minyak goreng.

Baiklah ini yang saya baru lakukan.

DSCN0664

Buah sukun dikupas sampai benar-benar putih, hilang semua kulit hijaunya. Belah menjadi dua bagian seperti gambar di atas. Sukun yang telah dibelah dua kembali dibelah dua persis di tengah sehingga menjadi sukun seperempat lonjong :v lalu diiris tipis-tipis sisakan tongkolnya.

 DSCN0719

sukun diberdirikan dan iris mengelilingi tongkol.

DSCN0720

Ini penampakan tongkol. Sudah buang.

DSCN0716Cuci bersih beri garam dapur, campur merata.

DSCN0721

sudah jadi, kriuk-kriuk dan gurih, coba saja 🙂

DSCN0722

Gorengan sukun yang berongga paling atas adalah yang terkriuk dari seluruh bagian sukun. Jadi, usahakan ketika mengiris dapatkan permukaan berongganya.

Segitu saja, mudah, sederhana walau agak ribet karena proses memotongnya yang yah begitulah tapi terbayar: uenakkk!

selamat mencoba.