-137- Merenung saja

Bismillah…

Menulis terakhir kali yang panjang itu di sini tertanggal 18 Juni 2017, hampir dua bulan. Dan itu terasa amat panjang, kalo boleh lebay rasanya sudah setahunan lebih tidak nulis. Dua balan ini penuh cerita dan air mata yang tidak mungkin diceritakan gamblang di sini.

Hari ini…sebenarnya sama saja seperti kemarin, kemarinnya lagi, dan mungkin yang dulu-dulu. Saya berangkat ke kantor meninggalkan Maryam bermain sendiri dan kemudian tenggelam dengan kesibukan kantor sampai matahari beranjak ke peraduan. Tapi siang ini karena mau bersilaturahim dengan teman yang akan berangkat haji saya dan beberapa teman keluar kantor tidak dalam rangka tugas.

Disinilah saya siang hari terik di depan BRI menunggu jemputan teman. Memperhatikan manusia yang lalu lalang, sibuk dengan harinya, iya begitulah saya, kamu, dan kita semua. Sibuk mencari rizki di siang hari.

Kadang merasa harus menari nafas dalam dan pikiran seakan buntu. Suasana ini mungkin karena sayanya aja yang lagi mmm, Entahlah…

Keramaian ini rasanya jauh…

Hari-hari tidak akan pernah sama lagi. Saya harus bergerak berfikir untuk melanjutkan ini semua. melanjutkan episode kehidupan. Ini bukan akhir tapi ujian hidup yang membuat tersadar sesadar-sadarnya bahwa hidup hanyalah sebentar, sebentar…

Advertisements

-135- Resep Ibu (mertua)

Bismillah.

Sudah enam bulan nih saya tinggal serumah dengan mertua. Masalah canggung, kurang nyaman dan lain-lain itu mah hal biasa. Awalnya saya pun sempat mau menyerah ingin ngontrak saja di Brebes. Ingin mandiri.

Setiap ada kesempatan istirahan di kantor saya keliling nyari kontrakan. Sudah beberapa saya hubungi tapi belum ada yang sreg.

Sampai suatu saat saya kepikiran. Saya dan suami bukan orang yang mudah bergaul. Buktinya dulu di perantauan tidak banyak tetangga yang kita kenal kecuali teman sekantor, pengajian, dan sekolahnya Maryam. Disini pun saya bukan orang yang tiba-tiba berkunjung dan ngobrol ngalor kidul. Selain itu hal yang lebih penting lagi adalah lingkungan pergaulan Maryam.

Di sini di rumah orang tua Maryam bisa main sepuasnya dengan saudaranya, perkembangan komunikasinya pun alhamdulillah sangat pesat. Sekarang dia sudah mampu bercerita walaupun masih kurang jelas pelafalannya. Pulang kantor dia sudah bisa bilang, “Ummi mandi sudah…potor ummi cuci…”. Ya Alloh alhamdulillah.

Lingkungannya pun memungkinkan dia bermain dengan anak siapapun karena ini kan desa yang otomatis ibu bapak kenal dengan orang tua anak-anak tersebut. Maryam pun bisa ikut kegiatan saudara sepupunya seperti ngaji ba’da magrib dan main dengan teman-temannya.

Hal ini mengingatkan saya pada dulu waktu saya kecil dimana dikelilingi saudara dan main sehari-hari dengan mereka. Main dengan teman-teman kampung siapapun, pergi ke sana kemari di sekitaran kampung. Dan saya tidak pernah berfikir Maryam akan mendapatkan hal yang sama karena kan selama ini saya dan suami merantau jauh dari keluarga dan kampung halaman.

Dan kesempatan ini tanpa saya sadari sebelumnya telah di depan mata. Alloh maha tahu apa yang dibutuhkan hambaNya. Kemudian saya berfikir lama dan disinilah saya sekarang memutuskan untuk bertahan dan belajar.

Saya banyak belajar dari kehidupan mertua di sini yang jauh berbeda dengan kehidupan saya dulu di perantauan ataupun masa saya di rumah orang tua. Saya selalu ingin hal yang praktis misal urusan rumah tangga, nyuci, masak, dan lain-lain. Di sini saya melihat sebaliknya dan saya belajar. Awalnya berat sekali harus mencuci berember-ember terus masak, dan semuanya pake tenaga tapi kemudian saya terbiasa dan satu hal ternyata kuncinya yaitu niat.

Niat ibadah, niat agar anak dan suami memakai pakaian bersih membuat saya lebih sabar dan telaten ketika nyuci. Awalnya asal cepat kemudian sampai detail harus bersih. Ini tentu saja bekal ketika nanti harus kembali mandiri.

Ya, suatu hari kalau sudah di rumah sendiri mesin cuci tentu butuh 😛 . Saling melengkapilah ketika saya lihat ini sangat melelahkan terutama untuk ibu ya, kita win win solution, misal untuk masak nasi beralih ke rice cooker karena terlalu memakan waktu dan tenaga jika harus masak nasi manual. Tapi yep hal ini akan menjadi bekal tak ternilai di kemudian hari.

Ataupun urusan masak, ibu mertua anti banget pake bumbu dapur instan lebih-lebih beli makanan jadi. Dia berusaha sekuat mungkin untuk masak. Beberapa teknik masak banyak yang baru saya ketahui. Maklum dulu di rumah orang tua saya pemalas sekali urusan masak.

Contohnya kemiri, kalo masak pake kemiri jangan digoreng karena akan jadi minyak. Ulekan kemiri masukan terakhir dan masakan akan mendapatkan kekentalan dan rasa yang mantap. Itu kata ibu yang baru banget saya tahu 😀

Atau beliau juga akan cerita kalo kunyit ini bagus buat lambung selain tentu buat kulit. jahe juga bagus buat kesegaran, pokoknya rempah yang dipakai di bumbu masak itu banyak khasiatnya. Jadi tambah semangat kan, lama sih tapi hasil tidak mengkhianati usaha 😛

Nah, seperti tulisan kali ini saya ingin berbagi resep sambal bali resep ibu saya…

Bahan:

  • tahu potong kotak atau sesuai selera goreng, kita pakenya satu kresek putih;
  • kentang potong kotak goreng, banyaknya dua kali tahu tadi.

Bumbu:

  • Kemiri segenggam di ulek, sisihkan
  • jahe dua ruas jari plus kunyit dua ruas jari juga ulek, sisihkan
  • geprek lengkuas, sisihkan
  • ketumbar segenggam
  • satu batang serai
  • dua buah salam
  • bawang merah secukupnya sesuai selera
  • bawang putih sesuai selera iris
  • cabe merah sesuai selera
  • cabe rawit sesuai selera
  • minyak goreng
  • gula merah dan garam
  • air

Caranya…

Ulek ketumbar, bawang merah, dan serai kemudian goreng bersama irisan bawang putih, salam, dan geprekan lengkuas. Tumis sampai harum dan menguning. Kemudian masukan cabe merah dan rawit yang sebelumnya diulek, masukan juga ulekan jahe dan kunyit. Setelah itu langsung masuk air secukupnya *ini dikira-kira ya supaya bumbu meresap*. Masukan ulekan kemiri ketika air sudah mendidih dan gula merah dan garam. Terakhir masukan tahu dan kentang yang sudah di goreng. Aduk-aduk sampai airnya habis. Sajikan.

Gampang dan enak. Fotonya lupa.

Ini kesempatan langka yang tentunya harus saya manfaatkan sebaik mungkin. Bagaimanapun, suami besar dengan masakan seperti ini jadi saya harus belajar. Selain itu saya jadi tahu cara memasak tiap daerah tidak sama. Unik, seperti dulu di Wakatobi saya belajar dari ibu-ibu di kantor dan ibu kos saya, di sana makanan di olah lebih banyak menggunakan media air seperti parende. Atau di kampung halaman saya dimana makanan lebih banyak yang disantap mentah. Pokoknya menyenangkan alhamdulillah jadi nambah pengetahuan soal dapur. Dan masih banyak yang lainnya, insyaAlloh kalau sempat saya post.

-134- Anakku Sudah Besar

Bismillah…

Sebenarnya akhir-akhir ini saya tidak begitu faham dengan perasaan sendiri. Semua rasa itu yang sering membuat ingin nulis *makanya isi blog kebanyakan curhat 😛 * sepertinya tumpul. Hari-hari rasanya lelah yang sangat, pulang kantor ba’da isya kedebruk aja tidur pules sampe sahur. Astagfirulloh…Ini bukan saya banget lah.

Pengen nangis sekaligus lucu, iya pagi ini. Banyak sebenarnya yang ingin ditulis dibagi dikenang tapi, menguap begitu saja. Saya lupa apa yang mau ditulis.

Paling inget yang muncul di memori, sore hari jumat kemarin pulang kantor. Seperti biasa kita boncengan, pas di depan toko baju yang cukup besar. Tiba-tiba saya teringat beberapa hari yang lalu saya belikan Maryam baju di swalayan terbesar di kota ini. Saya pede banget ini baju muat di Maryam. Secara baju bayi saja di dia masih muat kok.

“Mba ini nomor 1 maksudnya apa? untuk usia berapa biasanya?”, tanya saya pada si mba penjaga toko.

“Biasanya untuk usia 2 tahun Bu.” Katanya ragu terpancar dari wajahnya yang gitu deh.

“Ah, masak sih mba, gede dong anaknya…” Saya gak percaya, lha menurut saya emang gede gitu.

“Kan ukuran tiap anak beda Bu.” Tuturnya lagi. Tapi saya tetep gak percaya dong secara untuk ukuran dua tahun ya kegedean lah. Kira-kira saja kalo tiga tahun oke lah.

Jadilah saya beli walaupun si penjaga toko bilangnya untuk usia 2. Ini baju buat Maryam yang mana mau 4 tahun agustus besok 😀

Pulang ke rumah nunggu sepi saya cobakan. Maryam antusias sekali, “cantik, cantik…” sambil cengengesan terus nyium saya, ah, dirimu Nak sweet banget.

eng ing eng!

Bajunya yang ukuran 1 gantung aja di badan Maryam. Muat sih muat tapi gantung mak. Untuk beberapa saat saya bengong sambil berfikir hal yang membuat saya tidak kecewa dengan membeli baju ini. Gak papa lah kan masih bisa dipake gak gantung-gantung amat.

Saya tersadar ternyata Maryam sudah besar bukan bayi kecil lagi. Ya, dia memang masih bayi yang sama dan akan selalu begitu bagi saya…Bukan hanya itu saya terpukul karena lima bulan di Jawa, benarkan telah membuat saya lalai dengan anak sendiri? Sampai pertumbuhan fisiknya saya tidak perhatikan. Ya Alloh…

Jika pekerjaan memintamu over time saya harus kembali berfikir karena usia anak tidak akan pernah kembali sementara pekerjaan tanpa kita sekalipun ia akan terus berlanjut. Berlanjut dan berganti dengan orang lain kemudian kita terlupakan. Sebaliknya anak, keluarga, orang-orang yang kita sayangi meski kita lupakan kita tinggalkan untuk pekerjaan ketika kita kesusahan mereka akan selalu ada. Mereka tidak lupa, mereka tetap ada walaupun mungkin sebenarnya mereka tersakiti atas kelalaian kita.

Hal ini membuat saya terpikir setiap paginya ketika berangkat kerja, “ikut, ikuuut, ummiiii ikut…”, ah Nak i love you….

 

-131- Mencacah Yuk! Bagian 2

Bismillah.

Kemarin kan saya lebih ke menerima, menjalankan, dan mengambil hikmah dari tugas saya mencacah. Setiap kegiatan apapun itu kan harus dilakukan dengan ikhlas, sungguh-sungguh dan pada akhirnya mengharap ridho-Nya. InsyaAlloh.

Tapi tidak menutup kemungkinan untuk mengoreksi ke arah yang lebih baik kan? Lha ini kan kerjaan kita masa ada yang terasa ganjil dibiarkan saja turun temurun tanpa ada perubahan?

Sudah banyak sih perubahan dari sisi kuantitas kerjaan yang makin menggila banyaknya, isi kuesioner yang makin berlembar padahal tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas yang baik, dan mmm tuntutan pola kerja yang “katanya” harus profesional. Profesional hal ketepatan waktu pelaksanaan, kecepatan mengerjakan kerjaan, ketepatan isian, semua SOP yang harus dilaksanakan dengan waktu yang kadang tidak masuk akal dibandingkan jumlah sumber daya yang ada, intinya harus cepat dan tepat.

Well, memang harus begitu: cepat dan tepat dalam hal kerjaan. Eitts tapi menurut saya hal ini harus didukung dengan ketersediaan waktu, pikiran, dan tentu saja tenaga.

Dengan kuesioner yang berlembar, pertanyaan yang tak tanggung-tanggung, mengaharap ingatan responden dalam jawabannya, berharap satu hari clear disetor kemudian diperiksa dan di edit dan di entri, mungkin kamu tidak memperhatikan kondisi fisik si pencacah. Karena yakinlah tidak semuanya bisa dijawab oleh responden. Pencacah akan lebih membutuhkan waktu untuk memperbaiki isian kuesioner dibandingkan ketika ia mencacah.

Tapi masalahnya bukan pada waktu yang hendak diminta untuk ditambah. Menurut saya masalah utamanya ada pada kuesionernya itu sendiri, apakah rancangan kuesioner yang berlembar dengan pertanyaan njelimet itu sudah merupakan desain terbaik tanpa harus dikembalikan kepada yang mengkritik dengan, “ya sudah coba kamu yang bikin, bisanya cuma protes!”. Artinya kita tidak siap menerima masukan apalagi datangnya dari bawah.

“Design is not just what it looks like and feels like. Design is how it works.”-Steve Jobs

Padahal menurut saya kicauan yang datangnya dari bawah dalam arti si pelaksana akan lebih berarti karena mereka yang lebih tahu dengan merasakan ketika bertanya ini itu di lapangan. Harusnya kicauan dari bawah menjadi indikator bahwa rancangan kuesioner sudah baik secara tujuan yang ingin dicapai dan kesanggupan seseorang dalam hal bertanya secara wajar lebih-lebih bertamu di rumah penduduk yang pastinya mereka memiliki kegiatan yang lain. Mana setelah ditanya berjam tak ada tanda terima kasih pula, kadang kita yang bertanya ada rasa enggak enak, paling tidak tanda terimakasih dalam wujud yang sederhana misal payung atau bahkan hanya taplak meja itu akan membuat si penanya dan penjawab merasa “enak”. Menetralisir suasanalah setelah berjibaku dengan waktu dan hati.

Baru-baru ini saya juga ada bantu survei pengunjung perpustakaan yang mana saya dibuat kaget plus bingung ketika bertanya. Gimana tidak, hampir setiap pertanyaan harus diterjemahkan kepada pengunjung dan lagi-lagi berlembar dan saya perhatikan lebih banyak pertanyaannya dibanding tahun lalu. Ya wassalam karena tidak semua pengunjung memiliki waktu yang longgar dan mungkin ribet denger pertanyaan liabilitas, validitas, akhirnya, “sudah mba puas saja semua deh, bagus kok pelayanannya”. Iya buk bener juga saya juga belepotan nanyanya 😛

Apakah untuk tahu bahwa seseorang puas atau tidak harus diberondong dengan pertanyaan yang sebegitu banyaknya?

“That’s been one of my mantras — focus and simplicity. Simple can be harder than complex; you have to work hard to get your thinking clean to make it simple.” _Steve Jobs

Mungkin kita harus belajar dari seorang Jobs yang mana kalo kamu pake produknya, hal pertama yang dirasa adalah: simple dan elegant. Hidup itu sudah rumit berpikirlah lebih lama agar tidak mempersulit, hehe.

menuju sebuah desa…*ssn2017*. Masih ada yang seperti ini.

-130- Mencacah Yuk!

Bismillah.

Siapa sih yang suka panas-panasan di lapangan? mengetuk pintu penduduk satu persatu kemudian meminta kesediaan untuk ditanya ini itu yang mana bisa berjam-jam?

Ada loh. Sahabat saya di Sulawesi senang melakukan hal seperti ini. Dia sangat menikmati pekerjaannya sebagai Koordinator Statistik Kecamatan (KSK). Padahal sahabat saya ini perempuan. Perempuan yang boleh saya bilang lembut banget. Bicaranya saja kadang tidak kedengaran saking halusnya.

Saya mengenalnya di Kabupaten Kolaka. Dan dia orang pertama yang saya temui di kota itu. Dia pula di sela capeknya ke lapangan masih sempat nganter saya kesana kemari nyari kosan. Dan dia selama saya di sana tidak pernah terdengar keluh kesahnya. Kalau capek dia hanya tidur blas tapi itupun masih mau digangguin saya yang numpang istirahat di kamarnya. MasyaAlloh.

Satu dua kali saya temani dia melakukan pendataan ke rumah-rumah. Dan sekali waktu saya sempat ketiduran saking lama ditambah cuaca pesisir yang sepoi-sepoi masyaAlloh saya tak tahan untuk tidak tertidur 😀 .

Tapi saya banyak belajar dari dia sahabat saya ini. Terutama dalam hal teknik mewancarai, kesabaran untuk tidak melompati pertanyaan, kesabaran dalam menghadapi muka responden yang sudah tak menentu :p . Dia sangat apik ketika bertanya dan dia tidak pernah melihat jam ketika wawancara, tau-tau sudah sejam aja tapi kan selesai…

Iya selesai satu responden. Paling banter sehari dia mewawancarai dua sampai empat responden. Yap karena dia butuh waktu yang lumayan untuk bertanya dan menggali pertanyaan.

Pindah ke Jawa saya tidak ubahnya sahabat saya yang KSK itu. Mencacah iya hampir tiap bulan. Awalnya berat sekali tapi masak iya saya nyerah? cemen bangetlah, segala ujian itu kan sudah diukur oleh Alloh SWT sesuai kemampuan kita. Saya harus mencoba sebelum pada akhirnya saya mengibarkan bendera putih.

Dan alhamdulillah sampai hari ini saya nulis bendera putih masih tersimpan rapi. Ini baru ukur-ukuran kemampuan. Tiba saatnya saya tidak mampu saya tidak akan ragu untuk mengibarkan bendera tanda saya butuh me time!

Preambule di atas adalah curhat :p

Jadi saya harus nyacah Bulan April ini empat blok. Di mana satu bloknya adalah listing. Listing artinya saya harus mengetuk setiap pintu tanpa terkecuali di blok tersebut. Dan alhamdulillah hasil listing kemarin ada 100an rumah tangga/usaha yang 90% saya ketuk pintunya. Gile kan! Dan itu saya lakukan nonstop dari jam 9.00 WIB sampai 14.00 WIB. Saya ditemani aparat desa setempat untuk mengurangi rasa curiga penduduk artinya saya tidak perlu memperkenalkan diri panjang lebar. Lima jam itu sudah ada andil si aparat desa.

Capek sudah pasti. Tapi kemudian saya tahu saya senang telah menyelesaikannya. Saya jadi tahu aparat desa yang menemani. Kita paling tidak jadi berteman.

Kemudian sisa tiga blok saya harus nyacah yang artinya saya harus melakukan wawancara ke rumah tangga responden. Kalau dilihat kuesionernya, lumayan berlembar. First impression sih down wkwkwkw. Secara beberapa lembar gitu mau berapa jam nih? mau selesai kapan tiga blok? Cuma yang bikin tenang jawabannya merupakan persepsi artinye kagak ada bener salah. Harusnya sih bisa lebih cepat.

Blok pertama di pedesaan. Rumah tangga pertama alhamdulillah baik banget sampai saya keasyikan bertanya ngobrol kesana kemari lupa deh bahwa dese baru ruta pertama. Ngobrol. Yes satu hal saya belajar bahwa bener banget kalau orang Indonesia itu ramah-ramah sukanya ngobrol yang gak kenal saja disapa minimal, “mau kemana mba?” atau paling minimal senyum dan senyumnya senyum ramah yang bibirnya lebar gitu.

Saking senangnya ngobrol kita tuh banyak loh perbendaharaan dongeng. Kemungkinan besar menurut teori saya 😛 munculnya dongeng-dongeng salah satunya karena kita suka ngobrol suka cerita yang mana kendali kita akan bumbu kadang tidak terasa sangat kurang. Ya bumbu membumbui cerita akhirnya cerita yang sampai pada generasi setelahnya apalagi generasi yang sudah jauh akan sangat berbeda sembilan puluh derajat dengan cerita mula-mula. Coba saja.

Dari rumah tangga satu sampai sepuluh isinya kebanyakan cerita. Saya ngisi kuesioner sambil dengerin cerita mereka. Dan mereka sepertinya tidak terasa kalau lagi di tanya-tanya. Ada yah yang begini.

Intinya saya pancing satu isu tentang kehidupan mereka, tentunya setelah melihat-lihat kondisi. Dan cerita pun tanpa diminta akan mengalir begitu saja.

Misal nih, “eh bu, kenapa tidak kerja?”. Jawabanya bukan satu dua tapi mbrebet kemana-mana sampai ke anak sakit lah dan lain-lain. Alhamdulillah kalau ketemu responden kayak gini mereka super welcome, super ramah. Ada juga yang curhat belum dapat kartu BPJS. Pas mau bikin sendiri bayar sendiri maksudnya eh ternyata namanya sudah tercantum di database BPJS, tapi kartunya tidak bisa ia dapatkan, sudah mengadu ke BPJS ke Kantor Lurah, jadi iki piye?

Tapi diantara ramahnya responden yang saya temui terselip juga cerita satu dua yang menyedihkan diiih. Ada bapak-bapak yang marahin saya padahal bukan responden. Enak bangetlah dia bilang, “buat apa sih mba tanya-tanya lha wong tidak ada manfaatnya buat kita!”, “masih lama wawancaranya? dia(responden) lagi disuruh bikin kopi loh!”. Ya udah saya senyum dan bilang baik-baik ala saya.

Ada juga ibu-ibu yang takut diwawancarai dikiranya saya saleswoman. Hiiy macem-macemlah tapi alhamdulillah banyakan senengnya kok. Banyak tahu kondisi masyarakat dari yang ekonomi terbawah sampai yang paling tinggi. Semua memiliki cerita yang kadang saya berfikir kita tidak pantas untuk men-judge.

Mereka memiliki kehidupan yang mereka perjuangkan. Kata orang Jawa sawang sinawang, melihat si A kaya sepertinya hidupnya enak melihat si B miskin kayaknya nelangsa padahal mungkin sekali apa yang kita pikirkan tidak sesuai dengan apa yang mereka alami.

Saya pernah mewawancarai rumah tangga yang kalau secara materi jauh banget tapi mereka sangat bahagia dan saya pun yang melihat langsung berbicara langsung merasakan kebahagaiaan itu terpancar dari mereka. Sampai kepala kantor saya yang kebetulan ikut untuk pengawasan complain ke saya untuk dicek kembali angka kebahagiaan rumah tangga tersebut.