-173- Selamat Jalan Kawan

Bismillah.

wood-2881087_1920

Hari itu pertama kali saya menginjakkan kaki di kantor baru. Asing. Sungguh nuansa lama itu sangat menggoda. Saya berpikir: akan berapa lama saya bertahan di sini? Saya tahu akan seperti ini. Mungkin berlaku bagi banyak orang ketika menemui lingkungan baru dalam hidupnya.

Setelah perkenalan pagi itu. Saya diajak naik oleh kepala kantor. Beliau menunjukkan meja yang akan saya tempati. Saya langsung membereskan apa yang ada di situ. Kemudian tidak lama sudah duduk manis.

Saya diam saja. Banyak hal berkelebatan dalam pikiran. Apakah saya harus datangi satu persatu teman di situ. Beramah tamah. Basa-basi yang ujungnya bagi saya sering berakhir basi. Akhirnya saya memilih diam. Kata orang bijak diam itu emas. Hari itu saya sangat percaya kata orang bijak itu yang entah siapa.

Tapi tidak lama. Satu sosok bersuara cukup keras. Saya di ujung utara. Suara itu datang dari ujung selatan ruangan. Saya cukup kaget. Saya menjawab sedikit kebingungan. Selain saya tidak menguasai bahasa jawa secara aktif saya pun agak kaku dalam hal kenal mengenal ini.

Tapi bapak ini sangat ramah. Wajahnya berseri penuh ketulusan. Ia bertanya tentang perjalanan saya dari rumah. Tentang tempat makan. Memberi tahu tempat makan untuk nanti istirahat siang. Saya mendengarkan dan ikut tersenyum seiring wajahnya yang berseri dan penuh semangat ketika menerangkan ini itu kepada saya.

Hari pertama. Hari itulah saya mengenalnya. Sosok yang baik. Sangat baik. Ramah. Jika diminta bantuan segera membantu. Jika marah saya tahu beliau tidak pernah marah. Paling tidak kepada saya. Jika disudutkan menerima dengan diam dan ikhlas. Dan sangat memperhatikan dan menjaga perasaan orang lain. Tidak saya mendengar kecuali yang baik-baik tentang beliau.

Setahun terakhir ini. Kami semua merasa sangat kehilangan. Sosoknya yang ceria dan legowo sudah sangat jarang muncul di kantor. Sakit.

Awalnya kambuhan. Sakit. Kemudian masih bisa masuk kantor. Sampai pada suatu hari. Sakit. Dan ia tidak kembali.

Kami sekali dua kali menjenguknya. Ia sangat senang ketika kami jenguk. Bercerita ini itu. Sepertinya banyak cerita yang ingin ia bagikan kepada kami.

Satu kali di waktu sakitnya. Ia pernah juga mampir ke kantor. Kami semua turun. Karena beliau sudah susah untuk naik tangga. Apalagi tangga kantor kami ada liukannya dengan anak tangga yang cukup tinggi.

Beliau masih ceria. Masih seperti sosok yang pertama kali saya jumpai itu. Sosok pertama yang sangat ramah memberi tahu ini itu kepada saya. Tapi fisiknya sudah jauh dari yang pertama kali saya kenal.

Saya yakin. Semua orang dalam hatinya berdo’a agar beliau bisa kembali bersama kami. Beraktifitas kembali seperti sedia kala.

Setahun kurang lebih. Ia berjuang dengan penyakitnya.

Hari ini. Selasa 30 Oktober 2018. Kami terpekur diam dalam rutinitas apel pagi. Sunyi itu menelusup kalbu. Sedih menjalari sanubari. Sebagian besar kami cukup kuat untuk tidak menangis. Beberapa tidak. Takdir itu pasti. Akan pula sampai tiba waktu masing-masing. Ya, ini hanya soalan waktu. Siapa lebih dulu dari siapa.

Beliau telah benar-benar meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Tidak ada lagi harapan akan kemunculannya. Beliau telah dipanggil. InsyaAlloh tempat yang terbaik untuk manusia baik seperti beliau. Aamiin.

 

Advertisements

-168- Pagi yang Acak

Bismillahirrohmaanirrohiim

Per hari ini rupiah tembus lima belas ribu. Seperti dulu 1998. Tapi masih terkendali kiranya. Karena harga bakwan masih lima ratus rupiah☺️ Paling tidak di lingkungan saya tinggal.

Saya tidak merasakan dampak krisis itu. Saya juga tidak terlalu memantau beritanya. Kemeriahan Asian Games membuat mungkin sedikit mengaburkan.

Tapi bagi saya tanpa Asian Games pun tetap tidak peduli. Biarkan saja pemerintah bekerja. Selama masih belum terasa. Saya anggap saja tidak ada.

Saya tidak menggunakan dollar. Memegangnya pun belum pernah. Jadi bagaimana bisa berimbas?

Kembali ke Asian Games ini. Ada super junior. Ada Ikon. Pecinta kpop kemungkinan besar tidak peduli dengan angka nominal rupiah. Sama seperti saya.

Saya bukan pecinta kpop. Walapun saya pernah begitu intens mendengarkan lagu-lagunya bigbang. Pernah begitu intens menonton penampilannya. Sejarahnya. Saya tahu. Tapi saya hanya sebatas ingin tahu. Sudah.

Sama tidak pedulinya dengan saya. Mungkin belum sehebat 1998. Mudah-mudahan tidak sampai. Jangan.

Waktu itu saya SMP. Saya melihat kejatuhan Pak Harto. Saya melihatnya di Tv. Ketika ia berpidato dalam rangka melepaskan jabatannya. Saya terpaku di depan tv. Saya tahu kehidupan terus berputar. Kali ini Pak Harto. Besok siapa? Tidak ada yang tahu.

Setelahnya. Pohon beringin ikut tumbang. Di mana-mana. Termasuk di kampung saya.

Saya sedih.

Tidak hanya karena beringin yang tumbang. Sumber oksigen. Tempat berteduh. Tempat bermain. Tempat kami melempar kembang api ketika bulan puasa. Segalanya untuk kami. Tapi juga saya sedih dengan Pak Harto.

Saya tidak tahu. Saya belasan tahun. Tapi saya merasa Pak Harto selalu ikhlas. Saya tidak butuh apa yang ia sembunyikan. Karena setiap manusia memilikinya: hal yang tidak perlu dibagi dengan orang lain. Semua orang memiliki rahasia. Entah itu hitam atau putih.

Kebanyakan kita curiga. Karena tidak sesuai harapan.

Tidak ada manusia sempurna. Begitupun dengan semua pimpinan kita. Selalu ada celah keburukan. Tapi selalu juga ada kebaikan. Tinggal kita mau memilih yang mana.

Di era ini pun seperti itu. Kita mau berdiri di mana adalah pilihan. Tapi itu tidak membuat jari kita harus menunjuk tak pantas. Menuduh yang lain tal benar. Kita tidak tahu seluruh cerita hidupnya. Fokuslah dengan diri sendiri. Dan selalu berpikiran positif dengan orang lain.

-167- Berpikir Sederhana

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Kadang kita itu berpikir terlalu keras. Untuk satu hal yang sederhana.

Seperti kemarin. Seorang teman bertanya tentang print foto. Dia mau ngeprint tapi selembar ada dua foto. Saya biasanya pake windows foto viewer. Pas mau ngeprint akan ada pilihan. Dalam selembar mau berapa poto.

Di komputer kantor yang ini aplikasi itu tidak ada. Atau mungkin saya tidak tahu di mana. Pokoknya saya tidak bisa menemukannya.

Saya berpikir keras sekali. Bagaiman? Apa pakai corel? Photoshop?

Saya akhirnya coba buka aplikasi photoshop. Dan itu loadingnya mak!

Kala menunggu loading itu. Ketika saya kebingungan.

Kenapa gak pake word saja?!

Tuing!!!

Iya. Di word pun bisa. Insert poto atau gambar yang ingin kita print. Atur besar kecil biar muat. Mau berapa poto pun tinggal diatur.

Dan yeah cepat sekali. Langsung print.

P L A K!!!

Gitu deh. Kadang kita memahami suatu masalah tidak pada pemecahan yang paling sederhana.

Tapi berpikir sederhana pun perlu latihan. Dia akan spontan. Berbahagialah dengan masalah. Karena itu akan melatih kita. No pain no gain…

-165- Jam Delapan yang Bukan Jam Delapan

Bismillah

Sejak dikumandangkan RB (Reformasi Birokrasi) jam adalah sesuatu yang urgent. Apalagi sudah ada handkey naik motor pun sambil melihat jam. Literally melihat jam. Sesekali tentunya.

Tidak boleh lewat dari 7.30. Kalau lewat? Pasti uang harian kita kena potong. Tapi bukan itu. Masalah terbesar adalah moralitas dan sanksi sosial.

Moralitas tentu karena sebagai pegawai saya di gaji dan dikenakan tanggung jawab. Salah satunya kehadiran ini. Tepat waktu setiap hari. Lima hari kerja.

Sanksi sosial adalah omongan kantor. Omongan yang walau tidak langsung sakitnya luar biasa. Jadi daripada sakit kepala mendengar kicauan. Lebih baik kita ikut aturan. Apa susahnya kan?

Susahnya bagi saya adalah gedabrukan dengan anak di pagi hari. Bangun, mandi, sarapan, dan bersiap berangkat sekolah, dan semua keperluan sekolahnya. Belum kalau anaknya rewel. Atau perlengkapan sekolahnya yang kelupaan di mana. Itu benar-benar menghancurkan hari.

Kalau sudah begitu tinggal do’a agar tidak terlambat masuk kantor.

Pagi ini jam 8.17 saya di kantor sebuah desa. Dalam rangka tugas. Tidak lama sebenarnya di kantor desa. Hanya minta tanda tangan. Sebagai bukti bahwa saya benar-benar ke desa ini. Dari kantor desa saya harus segera ke lapangan. Harus segera. Kalau kesiangan panas. Karena tugas kali ini adalah sawah. Luas sawah yang sembilan hektar itu. Kita kelilingi. Bisa dibayangkan siang hari di tengah kemarau.

“Mau ketemu Pak Lurah,” kata saya kepada satu aparat desa. Baru satu-satunya dia.

“Belum datang,” jawabnya singkat. Sambil mengetik.

“Pak Sekdes atau kasi pun tidak apa-apa,” lanjut saya. Saya memang buru cepat. Buru waktu. Jangan sampai kebalap matahari.

“Belum ada yang datang,” katanya lagi singkat dan biasa.

“Biasanya jam berapa datang?”

“Jam delapan.”

Saya spontan melihat jam dinding. Jarum pendek di angka empat. Dan jarum panjang tak bergerak. Jam bukan sesuatu yang penting kiranya. Anggap saja jam delapan.

Saya mengangguk basa basi. Jam di hape menunjuk 8.17. Saya mengambil tempat duduk dan bersiap menunggu. Menunggu sambil mengetik ini.

Tidak lama temannya yang lain datang. Bukan yang saya maksud. Saya kembali duduk terpekur.

Setiap yang datang pasti berjabat tangan. Tidak terkecuali dengan saya. Satu hal yang membuat suasana menjadi cair dan santai. Rasanya kita semua sudah kenal lama.

Jam 8.30 barulan Pak Desa muncul. Dengan sigap ia masuk kantornya. Menyimpan tas. Dan langsung muncul saya dengan map putih untuk ditandatangani. Kami pun tersenyum. Berbasa basi sedikit. Saya segera pulang begitu map putih lengkap dengan tanda tangan. Pak Desa kalah sigap, pikir saya.

Santai. Jam 8.30 belum apa-apa. Waktu kerja masih lama.

Ini mending. Lebih baik. Karena dulu saya pernah tak mendapati siapapun. Di suatu tempat. Bukan di sini. Saya harus ke rumahnya.

Ini jauh lebih baik. Santai tapi serius. Bukan serius tapi santai. Jam delapan. Toh memang masih jam delapan. Yang kelebihan tiga puluh menit😊

-164- Mrs. Leidner

Bismillah

Saya pernah bilang dulu di sini. Beberapa orang mirip Mrs. Leidner. Tapi hari ini saya menemukan yang benar-benar mirip.

Suka menjadi pusat perhatian. Karena itu hampir selalu berusaha untuk menjadi yang paling diperhatikan. Apapun bisa menjadi masalah baginya. Mengundang simpati sekaligus penasaran. Tapi kadang membuat kita jenuh dengan semua masalahnya.

Pembicara yang baik. Malah sangat baik. Jangan coba-coba menyelanya. Dia tidak suka. Tidak begitu suka mendengarkan.

Sangat percaya diri. Apapun masalahnya dia bisa menyambung. Dan kita harus mendengarkan.

Saya benar-benar menemukan Mrs. Leidner pada dirinya. Dia tidak muda. Tapi yang muda tidak bisa bersinar di sampingnya.

Hanya sebuah novel. Novel misteri. Tapi research nya🙀 Tentang kejiwaan seseorang. Dan sukses menghadirkan tokoh. Yang benar-benar bisa kita temui di dunia nyata.

Ketika membaca saya tidak percaya ada orang semacam ini. Orang seperti ini rasanya terlalu ego. Terlalu tinggi. Dia seharusnya memiliki segala hal. Jadi akan sulit saya jangkau.

Tapi ternyata tidak. Orang seperti ini ada. Malah sangat dekat.

Orang seperti ini memang menyebalkan bagi lingkungannya. Akhirnya banyak yang berpikir negatif. Rasa tidak nyaman ketika bersamanya. Persis seperti di novel tersebut.

Tapi kalau kita dekat. Berusaha mengenalnya. Sangat jauh dari yang ia tampilkan di permukaan. Dia loyal. Baik. Dan sangat pemikir. Apa-apa dipikirkan.

Karena itu saya belajar satu hal: dont judge a book by its cover. Quote ini benar adanya. Kita tidak berhak menghakimi orang. Kita tidak tahu seluruh cerita hidupnya.

Positive thinking and positive feelings itu harus. Berpikir dan berperasaan bahwa semua orang itu baik akan baik adanya bagi kita.

Sulit. Saya pun begitu. Apalagi bagi yang sensitif dan khayalannya mengawang. Butuh waktu untuk bisa terus berpositif thinking dan berperasaan positif. Tapi tidak ada yang tidak mungkin. Terus berproses berusaha. Toh hasil bukan kita yang menentukan. Berusaha dan berdo’a.

Selamat menyambuat 17 Agustus semuanya🤗👏

-162- My Feeling: Mary Stayed all Night

Bismillah.

Well kalau urusan nonton drakor sudah lama saya memilih Moon Geun Young. Dari siapapun. Tentu tidak tiba-tiba. Film My Little Bride lah yang kemudian membuat saya suka. Suka dan tidak bisa ke yang lain. Seperti Ciputra kepada Hendra di tulisan Pak Dis.

Saya sudah menonton hampir semua. Kecuali drama seri terlawas dan terbarunya sebagai pemeran utama: Painter of the Wind dan The Village Achiara’s Secret. Saya belum bisa menemukannya. Dan film teranyarnya Tahun 2017: Glass Garden. Tidak begitu booming. Tapi karena dia yang main saya ingin nonton.

Tidak semua drama seri nya saya tuntaskan. Karena: kenapa endingnya begitu? Jauh sebelum saya menyukai aktingnya. Saya adalah penganut happy ending story. Jangan sodorkan cerita yang berakhir sedih atau menggantung kepada saya. Please jangan!

Goddes of fire adalah drama series nya yang paling saya suka. Tapi saya berhenti di episode 20an. Saya dapat spoilernya. Ending yang menyesakkan. Saya angkat tangan. Saya pernah nulis review nya di sini.

Setelah Goddes Of Fire itu saya nyari dramanya yang lain. Ketemu. Diproduksi akhir 2010. Pas puncak kariernya. Di tahun yang sama ia sukses berperan di Cinderela’s step sister. Yang ratingnya tinggi itu. Dan saya suka.

Berharap ending yang membahagiakan. Saya pun menonton. Tapi entah kenapa. Menonton yang ini rasanya jauh lebih buruk dibandingkan Goddes of Fire.

Goddes of Fire secara keseluruhan sangat baik. Kualitas pemainnya juga ngena. Masuk semua ke dalam karakter. Masalah saya hanya satu: sad ending.

Tapi di drama yang ini. Mary Stayed all Night judulnya. Membuat saya bukan main ilfeel.

Emang bikin sebal nonton nih drama. Saya sudah tahu lama. Pernah nonton juga sebentar. Kemudian memutuskan berhenti. Dulu saya kira, saya kena second lead syndrome.

Hari ini saya penasaran. Benarkah saya terkena second lead syndrome?

Jawabannya memang benar. Tapi kali ini lebih objektif. Bukan karena si pemeran kedua ini lebih tampan. Nope. Tapi dia lebih bisa memerankan perannya. Dia bisa masuk ke dalam karakter Jung In. Dia menjadi Jung In.

Lain hal dengan pemeran utamanya. Saya dibuat kesal. Dia tampan dan memiliki talent luar biasa dalam musik. Tapi dia tidak bisa masuk ke dalam karakter mo gyul. Argghh!!!

Usaha saya menonton kedua kalinya pun kembali gagal. Saya tidak tahan. Melihat akting pemeran kedua yang yahood. Saya merasa dia seharusnya yang menjadi pemeran utama.

Pemeran kedua ini benar-benar aktor. Sementara pemeran utamanya bermula dari dunia musik. Yeah dia tampan. Sangat tampan. Tapi untuk urusan akting mungkin harus banyak belajar.

Mungkin ini salah satu sebab tidak bisa diterima dengan baik oleh Knet. Drama ini memiliki rating sangat rendah. Penulisnya bahkan mengundurkan diri di pertengahan episode. Kalau tidak salah di episode ke 11. Bahkan episode terakhirnya ditulis oleh aktor utama itu. Mungkin dia akan lebih baik menjadi penulis skenario.

Tapi drama ini malah sukses di Jepang. Yeah mungkin karena style mary dan si pemeran utama yang lebih harajuku. Entahlah. Di sana kenyataannya mereka booming. Sampai mendapat beberapa penghargaan.

Saya kadang tidak mau mengerti kenapa industri perdramaan harus dengan aktor yang super tampan. Dan fans yang banyak. dan sedang naik daun. Di puncak karir. Padahal kalau dia bisa memerankan dengan baik. Masalah tampan itu menyusul. Masalah fans juga menyusul. Masalah karir juga menyusul. Beberapa telah membuktikan. Ayolah. Tidak semua orang akan bagus di semua tempat. Penyanyi yang bagus dengan seabreg fans belum tentu bisa berperan dengan baik. Begitupun sebaliknya. Pada akhirnya akan ada satu hal saja bagi seseorang untuk dikenang.

Percayalah.

note: nulis lagi kesel :p