-141- Menjawablah dengan Ilmu

Bismillah…
Beberapa waktu yang lalu saya terlibat percakapan lumayan serius dengan seorang teman. Waktu itu teman saya ini cerita tentang pengajian yang kadang ia ikuti, di mana kalau mengucap tahlil dengan gerakan yang lumayan enerjik.

Waktu itu saya langsung bereaksi kurang setuju tapi InsyaAlloh masih sopan. Saya merasa belum pernah menemukan ustadz yang mengajarkan seperti itu. Saya melakukan itu karena saya merasa sayang dengan teman saya itu oleh karena dalam femahaman saya hal seperti itu tidaklah tepat. Tapi, sayang seribu sayang keilmuan saya cetek banget, saya tidak tahu dalilnya kenapa hal tersebut kurang tepat, saya hanya merasa hal tersebut kurang tepat. Yep masalah perasaan ini, kadang juga menuntun kita pada kebenaran tapi sayang jika harus berargumen dengan perasaan tanpa fakta dalam hal ini dalil, karena hanya akan membawa kita pada perdebatan tak berujung.

Akhirnya kita mengakhiri silang pendapat ini dengan tetap pada pendirian masing-masing yang tanpa dalil tapi kita saling menghormati, alhamdulillah.

Baru saja saya mendengarkan ceramahnya Ust. Adi Hidayat di Youtube channel Ceramah Pendek. Kebetulan ada bahasan tentang menggerakan tangan ketika duduk tasyahud. Tidak persis benar masalahnya tapi begitulah seharusnya menjawab, kalau tidak mampu cukuplah bilang wallohu’alam.

Pertama kali yang beliau jawab adalah membeberkan dalilnya: Hadits Muslim halaman 913 dan At Tirmidzi halaman 296 (yang saya catat). Dalam memahami hadits ini menurut beliau para ulama berbeda pelaksanannya. Menurut Imam Malik jari telunjuk diangkat dari awal bacaan tasyahud sampai akhir tanpa digerakkan. Menurut Imam Abu Hanifah jari telunjuk diangkat pas bacaan syahadat yang menunnjuk pada kata Alloh, lantas menjatuhkannya kembali. Sementara itu pendapat Imam Ahmad adalah mengangkat ketika syahadat dan terus sampai selesai.

Namun, dari ketiga ulama tersebut tidak satupun yang menyebutkan digerak-gerakkan, Allohu’alam. Kemungkinan besar yang digerak-gerakkan bersandarkan pendapat Imam Abu Hanifah di mana setiap menyebut nama Alloh jari telunjuknya di angkat, Allohu’alam. Sehingga kesimpulannya menurut Ust. Adi bahwasanya mengangkat tanpa menggerakan lebih kuat secara dalil.

Selain itu cara menggerakkan telunjuk pun ternyata ada caranya, yaitu dengan mempertemukan jempol dan jari tengah sehingga membuat lingkaran 🙂 . Eniwe biar lebih mantap bisa disimak ceramahnya beliau:

Advertisements

-139- Cerita Drama

Bismillah…

Ini tentang kejenuhan semingguan ini. Super jenuhnya sampai kacau beliau. Kepala mumet, demam di sore hari, yah gitulah…

Di sela-sela itu gak sengaja ketemu drama “Goddes Of Fire”. Ekspektasi saya tentang drama ini adalah jewel in the palace. Episode awal akhirnya saya tonton juga. Episode-episode ini selain bercerita tentang ibunya Jung Yi juga bercerita tentang masa remaja usia-usia SMP kayaknya.

Diceritakan tentang Pangeran Gwanghae dan Pangeran Imhae yang sedang berburu bersama raja. Namun, karena ulah Pangeran Imhae yang memukul pantat kuda Gwanghae membuat Pangeran Gwanghae bablas ke hutan mencari kudanya. Dan tak terduga masuk ke dalam perangkap. Lubang besar di hutan yang ditutupi ranting dan dedaunan untuk menjebak binatang hutang sejenis babi hutan.

Ternyata itu lubang yang bikin si Jung Yi. Pas dia datang bengong kan lubangnya ada isi tapi bukan binatang yang dia harapkan tapi sesosok. Mereka berdua saling berpandangan bingung. Dan terjadi percakapan lucu di sini yang intinya si pangeran nanya ini lubang kamu yang buat. Terus si Jung Yi nanya juga kenapa kamu masuk ke dalam lubang tanpa seizin dia si pemilik lubang.

Dari pertemuan ini konflik antara pangeran dan Jung Yi berlanjut sampai mereka gede. Waktu kecil si Jung Yi bantu memperbaiki guci karuhun yang pecah sama si Imhae. Dan akibat kejadian ini secara tidak langsung membuat Jung Yi kehilangan ayah (angkat) nya. Nanti kamu akan tahu bahwa ayah yang membesarkan Jung Yi dari kecil sebenarnya bukan ayah kandungnya *kalau nonton 😛 *

Oya Jung Yi ini hidup karena harapan besar ibunya yang ingin menjadikan anaknya sebagai ahli keramik pertama di dinasti jo seon. Maka, dia dengan susah payah belajar untuk menjadi ahli keramik sampai nyamar jadi lelaki karena perempuan gak  boleh jadi ahli keramik di kerajaan waktu itu. Karena penyamarannya ini banyak masalah membuatnya dekat dengan Pangeran Gwanghe.

Sampai nanti si pangeran tahu bahwa si Tepyong (lupa nulisnya) itu perempuan. Dan suatu saat nanti juga pangeran akan tahu bahwa si tepyong ini adalah Jung Yi. Gadis yang dia bingung mendeskripsikannya namun kata ibu ratu Jung Yi ini cinta pertama Gwang He *meleleh kan, tapi tahu mereka gak bakalan bersatu, siapa coba sanggup menyelesaikan kisahnya?* Aku enggak :p

Ceritanya nanti Jung Yi akan benar-benar jadi ahli keramik pertama. Tapi dia tidak akan pernah bisa membalas dendam atas kematian ayah angkatnya karena ternyata otak pembunuhannya adalah ayah kandungnya sendiri. Gitulah, konfliknya lumayan. Cuma menurut saya ada hal-hal aneh yang gak bener bangetlah, kayak si Jung Yi di suatu episode jadi buta eh, dia bisa ngeliat lagi tanpa diobati. Beda kayak Jang Geum yang misal hilang indra penyecapnya dia pake sejenis binatang apa gitu untuk mengembalikan indra penyecapnya.

Harusnya yang kayak gini bisa diolah lebih ilmiah. Maksudnya sembuhnya itu bisa dijangkau akal bukan yang mejik mejik gitu hihihi.

Jadi okelah ini drama bagus banget mirip-mirip Jewel in the palace aka Dae Jang Geum. Bukan karena ceritanya, karena kalau cerita sudah pasti beda. Tapi soalan sopan santun di film. Kamu gak akan nemu yang namanya sentuhan kulit berlebihan apalagi kissing. Dan ini ya dari semua film atau drama korea yang saya tonton kenapa harus ada adegan kissing padahal itu sangat mengganggu apalagi kalau nontonnya bareng keluarga.

Dan saya paling suka nonton cerita seperti ini, mengajarkan kerja keras, tidak mudah menyerah, selalu kejar cita-citamu setinggi langit weleh weleh hiihihi. Tapi kalau dae Jang Geum saya bisa nonton sampe selesai selain saya menikmati setiap ceritanya pun karena saya tahu akhirnya happy ending. Alamat saya dapat spoiler akhir Goddes of Fire menyayat hati hiks hiks menggantung gak bisa dijangkau, saya gak sanggup. Saya sampai sekarang belum nonton episode terakhirnya ep 32. Nunggu hati siap dulu kali ya…

 

-137- Merenung saja

Bismillah…

Menulis terakhir kali yang panjang itu di sini tertanggal 18 Juni 2017, hampir dua bulan. Dan itu terasa amat panjang, kalo boleh lebay rasanya sudah setahunan lebih tidak nulis. Dua balan ini penuh cerita dan air mata yang tidak mungkin diceritakan gamblang di sini.

Hari ini…sebenarnya sama saja seperti kemarin, kemarinnya lagi, dan mungkin yang dulu-dulu. Saya berangkat ke kantor meninggalkan Maryam bermain sendiri dan kemudian tenggelam dengan kesibukan kantor sampai matahari beranjak ke peraduan. Tapi siang ini karena mau bersilaturahim dengan teman yang akan berangkat haji saya dan beberapa teman keluar kantor tidak dalam rangka tugas.

Disinilah saya siang hari terik di depan BRI menunggu jemputan teman. Memperhatikan manusia yang lalu lalang, sibuk dengan harinya, iya begitulah saya, kamu, dan kita semua. Sibuk mencari rizki di siang hari.

Kadang merasa harus menari nafas dalam dan pikiran seakan buntu. Suasana ini mungkin karena sayanya aja yang lagi mmm, Entahlah…

Keramaian ini rasanya jauh…

Hari-hari tidak akan pernah sama lagi. Saya harus bergerak berfikir untuk melanjutkan ini semua. melanjutkan episode kehidupan. Ini bukan akhir tapi ujian hidup yang membuat tersadar sesadar-sadarnya bahwa hidup hanyalah sebentar, sebentar…

-135- Resep Ibu (mertua)

Bismillah.

Sudah enam bulan nih saya tinggal serumah dengan mertua. Masalah canggung, kurang nyaman dan lain-lain itu mah hal biasa. Awalnya saya pun sempat mau menyerah ingin ngontrak saja di Brebes. Ingin mandiri.

Setiap ada kesempatan istirahan di kantor saya keliling nyari kontrakan. Sudah beberapa saya hubungi tapi belum ada yang sreg.

Sampai suatu saat saya kepikiran. Saya dan suami bukan orang yang mudah bergaul. Buktinya dulu di perantauan tidak banyak tetangga yang kita kenal kecuali teman sekantor, pengajian, dan sekolahnya Maryam. Disini pun saya bukan orang yang tiba-tiba berkunjung dan ngobrol ngalor kidul. Selain itu hal yang lebih penting lagi adalah lingkungan pergaulan Maryam.

Di sini di rumah orang tua Maryam bisa main sepuasnya dengan saudaranya, perkembangan komunikasinya pun alhamdulillah sangat pesat. Sekarang dia sudah mampu bercerita walaupun masih kurang jelas pelafalannya. Pulang kantor dia sudah bisa bilang, “Ummi mandi sudah…potor ummi cuci…”. Ya Alloh alhamdulillah.

Lingkungannya pun memungkinkan dia bermain dengan anak siapapun karena ini kan desa yang otomatis ibu bapak kenal dengan orang tua anak-anak tersebut. Maryam pun bisa ikut kegiatan saudara sepupunya seperti ngaji ba’da magrib dan main dengan teman-temannya.

Hal ini mengingatkan saya pada dulu waktu saya kecil dimana dikelilingi saudara dan main sehari-hari dengan mereka. Main dengan teman-teman kampung siapapun, pergi ke sana kemari di sekitaran kampung. Dan saya tidak pernah berfikir Maryam akan mendapatkan hal yang sama karena kan selama ini saya dan suami merantau jauh dari keluarga dan kampung halaman.

Dan kesempatan ini tanpa saya sadari sebelumnya telah di depan mata. Alloh maha tahu apa yang dibutuhkan hambaNya. Kemudian saya berfikir lama dan disinilah saya sekarang memutuskan untuk bertahan dan belajar.

Saya banyak belajar dari kehidupan mertua di sini yang jauh berbeda dengan kehidupan saya dulu di perantauan ataupun masa saya di rumah orang tua. Saya selalu ingin hal yang praktis misal urusan rumah tangga, nyuci, masak, dan lain-lain. Di sini saya melihat sebaliknya dan saya belajar. Awalnya berat sekali harus mencuci berember-ember terus masak, dan semuanya pake tenaga tapi kemudian saya terbiasa dan satu hal ternyata kuncinya yaitu niat.

Niat ibadah, niat agar anak dan suami memakai pakaian bersih membuat saya lebih sabar dan telaten ketika nyuci. Awalnya asal cepat kemudian sampai detail harus bersih. Ini tentu saja bekal ketika nanti harus kembali mandiri.

Ya, suatu hari kalau sudah di rumah sendiri mesin cuci tentu butuh 😛 . Saling melengkapilah ketika saya lihat ini sangat melelahkan terutama untuk ibu ya, kita win win solution, misal untuk masak nasi beralih ke rice cooker karena terlalu memakan waktu dan tenaga jika harus masak nasi manual. Tapi yep hal ini akan menjadi bekal tak ternilai di kemudian hari.

Ataupun urusan masak, ibu mertua anti banget pake bumbu dapur instan lebih-lebih beli makanan jadi. Dia berusaha sekuat mungkin untuk masak. Beberapa teknik masak banyak yang baru saya ketahui. Maklum dulu di rumah orang tua saya pemalas sekali urusan masak.

Contohnya kemiri, kalo masak pake kemiri jangan digoreng karena akan jadi minyak. Ulekan kemiri masukan terakhir dan masakan akan mendapatkan kekentalan dan rasa yang mantap. Itu kata ibu yang baru banget saya tahu 😀

Atau beliau juga akan cerita kalo kunyit ini bagus buat lambung selain tentu buat kulit. jahe juga bagus buat kesegaran, pokoknya rempah yang dipakai di bumbu masak itu banyak khasiatnya. Jadi tambah semangat kan, lama sih tapi hasil tidak mengkhianati usaha 😛

Nah, seperti tulisan kali ini saya ingin berbagi resep sambal bali resep ibu saya…

Bahan:

  • tahu potong kotak atau sesuai selera goreng, kita pakenya satu kresek putih;
  • kentang potong kotak goreng, banyaknya dua kali tahu tadi.

Bumbu:

  • Kemiri segenggam di ulek, sisihkan
  • jahe dua ruas jari plus kunyit dua ruas jari juga ulek, sisihkan
  • geprek lengkuas, sisihkan
  • ketumbar segenggam
  • satu batang serai
  • dua buah salam
  • bawang merah secukupnya sesuai selera
  • bawang putih sesuai selera iris
  • cabe merah sesuai selera
  • cabe rawit sesuai selera
  • minyak goreng
  • gula merah dan garam
  • air

Caranya…

Ulek ketumbar, bawang merah, dan serai kemudian goreng bersama irisan bawang putih, salam, dan geprekan lengkuas. Tumis sampai harum dan menguning. Kemudian masukan cabe merah dan rawit yang sebelumnya diulek, masukan juga ulekan jahe dan kunyit. Setelah itu langsung masuk air secukupnya *ini dikira-kira ya supaya bumbu meresap*. Masukan ulekan kemiri ketika air sudah mendidih dan gula merah dan garam. Terakhir masukan tahu dan kentang yang sudah di goreng. Aduk-aduk sampai airnya habis. Sajikan.

Gampang dan enak. Fotonya lupa.

Ini kesempatan langka yang tentunya harus saya manfaatkan sebaik mungkin. Bagaimanapun, suami besar dengan masakan seperti ini jadi saya harus belajar. Selain itu saya jadi tahu cara memasak tiap daerah tidak sama. Unik, seperti dulu di Wakatobi saya belajar dari ibu-ibu di kantor dan ibu kos saya, di sana makanan di olah lebih banyak menggunakan media air seperti parende. Atau di kampung halaman saya dimana makanan lebih banyak yang disantap mentah. Pokoknya menyenangkan alhamdulillah jadi nambah pengetahuan soal dapur. Dan masih banyak yang lainnya, insyaAlloh kalau sempat saya post.

-134- Anakku Sudah Besar

Bismillah…

Sebenarnya akhir-akhir ini saya tidak begitu faham dengan perasaan sendiri. Semua rasa itu yang sering membuat ingin nulis *makanya isi blog kebanyakan curhat 😛 * sepertinya tumpul. Hari-hari rasanya lelah yang sangat, pulang kantor ba’da isya kedebruk aja tidur pules sampe sahur. Astagfirulloh…Ini bukan saya banget lah.

Pengen nangis sekaligus lucu, iya pagi ini. Banyak sebenarnya yang ingin ditulis dibagi dikenang tapi, menguap begitu saja. Saya lupa apa yang mau ditulis.

Paling inget yang muncul di memori, sore hari jumat kemarin pulang kantor. Seperti biasa kita boncengan, pas di depan toko baju yang cukup besar. Tiba-tiba saya teringat beberapa hari yang lalu saya belikan Maryam baju di swalayan terbesar di kota ini. Saya pede banget ini baju muat di Maryam. Secara baju bayi saja di dia masih muat kok.

“Mba ini nomor 1 maksudnya apa? untuk usia berapa biasanya?”, tanya saya pada si mba penjaga toko.

“Biasanya untuk usia 2 tahun Bu.” Katanya ragu terpancar dari wajahnya yang gitu deh.

“Ah, masak sih mba, gede dong anaknya…” Saya gak percaya, lha menurut saya emang gede gitu.

“Kan ukuran tiap anak beda Bu.” Tuturnya lagi. Tapi saya tetep gak percaya dong secara untuk ukuran dua tahun ya kegedean lah. Kira-kira saja kalo tiga tahun oke lah.

Jadilah saya beli walaupun si penjaga toko bilangnya untuk usia 2. Ini baju buat Maryam yang mana mau 4 tahun agustus besok 😀

Pulang ke rumah nunggu sepi saya cobakan. Maryam antusias sekali, “cantik, cantik…” sambil cengengesan terus nyium saya, ah, dirimu Nak sweet banget.

eng ing eng!

Bajunya yang ukuran 1 gantung aja di badan Maryam. Muat sih muat tapi gantung mak. Untuk beberapa saat saya bengong sambil berfikir hal yang membuat saya tidak kecewa dengan membeli baju ini. Gak papa lah kan masih bisa dipake gak gantung-gantung amat.

Saya tersadar ternyata Maryam sudah besar bukan bayi kecil lagi. Ya, dia memang masih bayi yang sama dan akan selalu begitu bagi saya…Bukan hanya itu saya terpukul karena lima bulan di Jawa, benarkan telah membuat saya lalai dengan anak sendiri? Sampai pertumbuhan fisiknya saya tidak perhatikan. Ya Alloh…

Jika pekerjaan memintamu over time saya harus kembali berfikir karena usia anak tidak akan pernah kembali sementara pekerjaan tanpa kita sekalipun ia akan terus berlanjut. Berlanjut dan berganti dengan orang lain kemudian kita terlupakan. Sebaliknya anak, keluarga, orang-orang yang kita sayangi meski kita lupakan kita tinggalkan untuk pekerjaan ketika kita kesusahan mereka akan selalu ada. Mereka tidak lupa, mereka tetap ada walaupun mungkin sebenarnya mereka tersakiti atas kelalaian kita.

Hal ini membuat saya terpikir setiap paginya ketika berangkat kerja, “ikut, ikuuut, ummiiii ikut…”, ah Nak i love you….