-149- Murder in Mesopotamia: Cerita Saja

Bismillah…

Saya penggemar Agatha Christie sejak dari SMA. Perpustakaan SMA lah yang memperkenalkan saya pada karya-karyanya. Saya biasa menghabiskan jam istirahat di sana juga jam-jam malam saya yang seharusnya saya gunakan untuk belajar malah meringkuk di bawah selimut membacanya penuh penghayatan wkwkwk. Maka, tak heran nilai saya di SMA tidak semoncer SMP tapi walau begitu saya masih bisa masuk tiga besar bahkan umum, tapi tidak cemerlang, menyedihkanlah menurut saya mah!

Capek bukan main waktu sekolah karena saya dituntut untuk bisa mempertahankan ranking tanpa tahu esensinya karena memang ingin saya tidak di sana. Padahal mah tidak ada juga yang nuntut saya terang-terangan, hanya perasaan saya kalau mau membahagiakan orang tua ya salah satunya melalui nilai raport yang bagus. Kemudian pas kuliah karena tidak ada raport, saya benar-benar memuaskan keinginan untuk membaca. Hampir tiap minggu tidak absen nangkring di GM huahua…Ah, kemudian di usia yang tak lagi muda saya baru menyadarinya, makanya saya tidak mengharapkan anak-anak saya kelak bagus di buku raport. Saya ingin mereka tahu kelebihan dan apa maunya sedari dini…

Panjang ya preambule…

Novel Pembunuhan di Mesopotamia ini baru saja saya selesaikan beberapa jam yang lalu. Entah, karena sudah terbiasa membaca karangannya, saya sudah pinter menebak siapa tersangkanya bahkan di awal kasus terjadi. Jadi, alurnya mungkin tidak lagi se greget dahulu yang tak tertebak.

Satu hal yang tak pernah membuat saya kecewa dengan semua novel-novelnya adalah bagaimana penyelesaian kasusnya yang sangat elegan menurut saya. Karena tidak menggunakan cara-cara fisik, misal pake kaca pembesar atau mengikuti jejak bak anjing pemburu. Dia tuh iya saya lagi ngomongin toko utama yang paling sering muncul dalam setiap novelnya, siapa lagi kalau bukan Hercule Poirot!. Pria yang digambarkan memiliki perawakan kecil, dengan kepala bundar, kumis melengkung, dan terkesan lucu, ialah sang detektif yang memecahkan masalah dengan sel-sel kelabunya. Ia mengamati semua hal dan yang paling selalu membuat saya tertarik adalah penelitiannya tentang sifat, karakter manusia, itu keren sih menurut saya. Saya jadi belajar banyak tentang psikologis orang di sini.

Dan, novel kali ini pun sukses memukau saya dengan semua karakter yang ditampilkan. Mrs. Leidner! iya dia yang paling membuat saya tertarik. Wanita menarik, cantik, tapi bukan cantik fisik lahiriah. Dia tuh lebih ke wanita menarik karena seperti memiliki darah biru, darah bangsawan, ditambah lagi ia pingter lengkap sudah membuat orang-orang di sekitarnya kagum. Dan ia wanita yang dapat dengan mudah menundukkanmu pada kesempatan pertama. Seperti halnya Suster Leatheran pertama kali bertemu langsung bersimpati kepadanya. Dan saya percaya ada perempuan seperti ini. Saya mungkin pernah bertemu dengannya.

Perempuan seperti ini kadang membuat saya bingung. Karena menurut saya dia tidak melakukan apa-apa, tapi orang-orang sepertinya segan, tunduk, sama dia. Saya memang bukan salah satu diantaranya, diantara yang takluk dengan perempuan seperti ini tapi saya heran saja. Kok bisa? tapi emang itu nyata.

Saya sendiri tidak bisa menjangkau perempuan seperti ini. Entah karena mereka baperan atau saya nya yang kurang bisa memahami. Maklum saya kadang lepas kendali kalau sudah bercanda, kadang mukul gak sengaja! pelan saja kok jangan khawatir, pukulan sayang…Tapi dia tuh seperti tanpa ekspresi, itu pukulan saya seperti: kok kamu mukul-mukul sih? tapi dia tidak juga bicara seperti itu, tidak juga sikapnya berubah drastis, tapi saya merasa dia melakukannya sangat halus karena saya merasakannya!

Tapi saya sedih mendapati tokoh yang menarik hati saya ini harus menjadi korban. Ia meninggal jauh dari tanah kelahirannya, ia meninggal di tempat kerja suaminya seorang arkeolog. Jauh dari sanak keluarga hanya suami yang ternyata dialah otak di balik semuanya. Itu sangat menyedihkan! Rasanya menjadi Mrs. Leidner na’udzubillah amat sangat sunyi. Ya Alloh lindungilah kami dari hal-hal buruk akibat ulah manusia, aamiin.

Advertisements

-88- Novel: Sycamore Row John Grisham

Maju mundur mau cerita tentang Sycamore Row-nya John Grisham. Antara mood dan ngeri. Kejadian di dalamnya bagi saya yang visualisasi abis, lumayan lama untuk membiasakan dan meredam kengeriannya di bayangan.

Seperti yang saya post di instagram, “saya belum pernah kecewa dengan John Grisham”, dan novel kali ini pun semakin membuat saya terpesona dengan gaya penceritaannya dan tentu saja dengan kasus-kasus nya. Karena hampir semua kasus yang saya baca sesuai dengan keahliannya di bidang hukum, so far, semua tampak sangat nyata, mengalir wajar, dan banyak pengetahuan tentang peradilan yang saya dapat. Dan kejutan dari ceritanya hampir selalu menyenangkan. Yup, karena saya salah satu penganut happy ending story 😀 .

Saya kurang suka yang akhirnya menggantung atau yang sedih-sedih. Karena itu membuat saya sibuk, memikirkan kelanjutan ceritanya dan menyesalkan akhir yang sedih, “harusny aakhirnya bisa begini begini begini…”, aaahhh itu sangat menghabiskan waktu saya.

Walaupun kadang sudah menduga akhir cerita di pertengahan nya tapi tidak mengurangi sedikit pun keasyikan dari membaca. Tidak ada tuh ingin melompat ke bab terakhir. Keinginan untuk segera selesai dan mengetahui cerita utuhnya sangat besar namun tidak untuk melompatinya. My oh my… Dan membaca novel nya setebal apapun sangat menyenangkan dan selalu berusaha menyelesaikannya secepat semampu saya, karena saya begitu penasaran. Penasaran bingo!

Sycamore Row sebenarnya kelanjutan dari novel perdana John Grisham yang diterbitkan Tahun 1989: A Time To Kill. Sayang saya belum membacanya. Kalau saya baca sekilas resensi dari A Time to Kill, kasusnya sama sekali tidak berhubungan dengan Sycamore Row. Yah, semuanya sama, orang-orangnya, tempat, dan masa, kecuali kasusnya.

Jadi, saya pikir novel ini melanjutkan kisah tokoh utamanya yaitu Jake Brigance. Kisah setelah kasus di A Time to Kill. Mungkin kangen dengan tokoh ini, setelah sekian lama, 1989 ke 2013 🙂

Diceritakan Jake mengalami hari-hari yang sulit setelah kasus di A Time to Kill itu. Rumahnya di bakar, dia kehilangan hampir semua harta bendanya dan sekarang dia bersama keluarga kecilnya ngontrak di sebuah rumah kontrakan kecil tentu saja masih di Ford County. Dengan penjagaan setiap malam dari sherif setempat membuat kehidupan normal semakin jauh dari mereka. Yap, setelah kejadian itu mereka masih sering di teror.

Dan secara materi kasus A Time to Kill tidaklah memberikan banyak untuk Jake. Dan kasus-kasus selanjutnya yang tidak benar-benar diceritakan tak merubah apapun dari kehidupan mereka. Mereka hidup pas-pasan tidak juga dikatakan miskin. Menunggu satu kasus besar yang menguntungkan dan kehidupan mereka akan berubah. Terutama menginginkan rumah yang lebih layak untuk mereka bertiga.

Kematian seorang tua di Ford County yang tidak populer bahkan mungkin banyak yang tidak menyadari kehadiran sosok ini adalah kejadian sangat biasa dan akan dengan mudah dan cepat dilupakan. Yah, walaupun kematiannya tidak wajar dengan cara gantung diri di sebuah pohon di atas lahan miliknya. Tapi tidak, sampai surat wasiatnya sampai ke kantor Jake. Tak perlu banyak waktu untuk membuatnya menjadi topik hangat. Selain karena ternyata jumlah nominalnya yang fantastis menempatkan siapapun yang akan menerima warisan itu menjadi orang terkaya di Ford, juga karena isi dari surat wasiat tersebut sangatlah mengejutkan. Tak terelakan merubah semuanya menjadi kebisingan dan keruwetan yang dramatis.

Surat wasiat yang sulit di terima akal sehat di mana si pewasiat meniadakan keluarganya, anak-anak kandungnya sendiri. Dia malah memberikan hampir seluruhnya, 90 persen kepada seorang asisten rumah tangganya, Lettie Lang yang berkulit hitam. Seorang tua berkulit putih mengenyampingkan anak-anaknya demi seorang kulit hitam yang sebenarnya baru dipekerjaka beberapa bulan. Aneh. Pasti ada sesuatu *waktu baca saya mikirnya gitu*

Surat wasiat awal yang mewariskan hartanya kepada ke dua anaknya yang tidak akur dengan dirinya berubah seratus delapun puluh derajat dengan tidak menyisakan sedikit pun untuk mereka. Dan inilah kemudian drama antara anak dan pembantu berlanjut. Semakin riweuh karena drama ini menyertakan pengacara-pengacara besar di sekitar Ford. Dan berbumbu cerita dari orang-orang yang mengenal maupun yang hanya tahu namanya saja dari kabar burung.

Seorang kulit putih memberikan warisan kepada si kulit hitam pada masa itu di Amerika adalah tidak wajar. Di mana masyarakat Amerika kulit putih pada umumnya menganggap mereka lebih tinggi derajatnya dibandingkan kulit hitam. Pada waktu itu rasisme sangat kuat terhadap penduduk berkulit hitam.

Karena saya mulai menduga jalan cerita, tidak mungkin orang tua itu memberikan cuma-cuma pada Lettie jika tidak ada sejarahnya. Saya yakin ada sesuatu dengan Lettie. Maka saya di buat penasaran habis. Apa sejarahnya dengan Lettie sehingga ia orang tua itu yang bernama Sett Hubbard tidak meninggalkan sedikit pun untuk keturunannya? Ada juga ia mewariskan untuk adiknya yang sudah lama tidak bertemu dan ia pun menyangsikan keberadaannya apakah masih hidup atau sebaliknya. Kemudian saya lebih penasaran dan yakin bahwa adiknya ini punya kunci untuk membuka ke sejarah itu.

Apakah saya harus meneruskan review ini?

Karena saya sendiri bukan tipe orang baca novel karena di kasih tahu bla bla bla. Saya suka fantasy tapi tidak bisa membaca semacam Lord of The Ring, saya suka romantic tapi tidak sanggup menyelesaikan critical eleven, saya suka detektif tapi tak tertarik dengan Sherlock Holmes. Padahal semuanya amat sangat populer bahkan menjadi best seller pada masanya. Di review amat sangat bagus hampir oleh semuanya. Tapi, saya belum tertarik.

Tapikan, review ini untuk diri sendiri, kenapa musti ribet, tulis sajalah…

Ceritanya si Jake merasa keberuntungan belum berpihak kepadanya. Hari-harinya terlalu rutin. Kasus yang datang ke mejanya jauh yang ia harapkan. Kasus perceraian biasa, pencurian biasa, dan yah yang tidak begitu menguntungkan. Dan tidak begitu menarik perhatiannya sehingga terasa biasa.

Sampai pada suatu hari dia menerima surat wasiat dari seorang tua Sett Hubbard. Dia kaget dan merasa tertantang karena isi surat wasiat tersebut ditujukan kepada dirinya secara personal sehari setelah kematiannya yang mengenaskan, agar menjadi pengacara untuk surat wasiat tulisan tangan tersebut. Walaupun isinya sangat jauh dari nalar, tapi ia telah ditunjuk dan sebagai pengacara profesioal dia akan menjalankan amanah tersebut.

Berhari-hari ia memikirkan Seth, siapa dia, karena seumur-umur belum pernah berjumpa. Tapi, berkat kasus di novel pertama, namanya malambung sebagai pengacara yang jujur. Dan karena kepopuleran kasus tersebut mungkin salah satu alasan Seth menunjuk dirinya. Tapi, siapa itu Lettie Lang? kenapa ia mendapat hampir seluruh warisan?apa yang telah diperbuatnya untuk Seth? Berapa nilai warisannya? Dan tentu saja berapa banyak biaya pengacaranya?

Tapi, akhirnya ia memutuskan yang terpenting dia harus menjalankan isi surat wasiat tersebut, surat wasiat holografik, yang dengan penuh kesadaran di tulis sendiri oleh pewasiat tanpa pengaruh siapapun. Dan siapapun yang akan menerima warisan tersebut sebesar apapun bukan urusan Jake.

Karena Seth memiliki anak kandung dan sebelumnya telah menulis surat wasiat yang di tulis oleh biro hukum Rush di Tupelo, maka Jake tahu ini tidak akan mudah. Kedua anaknya Herschel Hubbard dan Ramona Hubbard Dafoe tidak akan dengan mudah menerima surat wasiat tulisan tangan ini. Walaupun mereka belum tahu seberapa besar warisan sampai nanti pelaksana warisan menghitung seluruhnya tapi paling tidak pasti ada. Pikir Jake.

Saya suka bagaimana John Grisham menuliskan ceritanya. Percakapan wajar yang memang seperti itulah di dunia normal bercakap-cakap 😛 . Setiap bab sangat berarti dalam mendukung maksud cerita. Bahkan ada bab yang menceritakan keinginan Jake dan istri untuk memiliki sebuah rumah yang lumayan besar. Dan itu sungguh bukan sampah. Cerita tentang keinginan mereka itu sangat berarti, seakan-akan menerangkan kepada pembaca bahwa di situasi panas menghadapi persidangan yang waktu itu sudah di tahu jumlah warisan yang begitu besar sangat tidak bijak. Dan itu ada di kepala pembaca, “Duh, Jake jangan dulu deh beli nanti saja kalau sudah selesai kasusnya”. Ala-ala nonton film.

Semua tokoh diceritakan cukup detail dan sangat sangat mendukung jalan cerita. Jika tokoh-tokoh itu tidak diceritakan malah ada sesuatu yang kurang.

Kenapa saya lebih senang menyoroti keefisienan bab-bab nya? Ya, karena beberapa novel yang saya baca, ada saja saya dapati bab, yang sebenarnya gak perlu-perlu amat. Tapi, mungkin biar tebel *kali ya* atau saya yang kurang nangkep.

Cerita terus bergulir beruntun berantai,,,sampai kepada pokok penasaran: Kenapa Lettie Lang? Dan jawabannya sungguh mengerikan. Saya tidak bisa melupakan cerita tersebut sampai semingguan. Manusia kok bisa berperilaku sebengis itu?

Ya Alloh lindungilah kami dari perbuatan aniaya, aamiin.

Banyak pelajaran dari membaca. Dari novel ini saya belajar untuk menghargai sesama, bekerja profesional, bekerja fokus, dan sedikit mengetahui tentang dunia peradilan. Sampai saat ini selalu senang membaca novel-novelnya.

wtht.me

excellent.

PS: yang penasaran bisa didapatkan di GPU

 

 

-86- Sebuah Review: Nelson si Kecil yang Suka Baca

Seperti yang saya bilang di sini, saya memang lagi berburu buku. Akhir tahun ini ingin memperbanyak bacaan. Buku apapun dalam maupun luar. Saya lagi butuh banyak sekali ide kreatif dan memperbanyak kosakata. Semakin banyak membaca saya yakin akan berbanding lurus dengan kemampuan kita menulis. Minimal akan selalu banyak ide segar yang terlintas dan kosakata untuk menggambarkannya. Tanpa membaca sulit sekali menemukan kata untuk menggambarkan apa yang ada di kepala.

Sempat blogwalking ke sini, yanga mana adalah salah satu blog rutin saya untuk BW. Ada satu pembahasan mengenai buku yang kemudian saya tertarik untuk memilikinya. Dan kesempatan kemarin ke Kendari tidak saya sia-siakan. Harganya walaupun sama-sama GPU tapi selisih dengan yang disebutkan di blog tersebut lumayan mencapai Rp9.000,- . ya mungkin ditambah ongkir dari Jawa kali ya. Entahlah, saya selalu mikir yang namanya Toko GPU di manapun harusnya harga bukunya sama, ternyata beda yah, atau bagaimana?

Bukan itu yang mau saya bicarakan. Kalau masih bisa kebeli mah ya sudah lah ya, hak si penjual ini kok menentukan harga berapa, asal sama-sama ikhlas. Saya tertarik dengan isi bukunya. Cerita nyata seorang anak Medan yang menjadi profesor di Amerika ketika usianya yang terbilang muda. Belum lagi seabreg prestasi lainnya, seperti paten beberapa penemuannya: LED. Diceritakan oleh istrinya sendiri sehingga oke lah, dia harusnya tau banget. Dan penceritaannya dilengkapi dengan gambar super menarik bikin enak mata jadi selain untuk Maryam, saya juga demen sepertinya 😛

Oke judul aselinya adalah “ Nelson si Kecil yang Suka Baca”, begitu, semudah itu, sesimple itu. Dengan hard cover dan full color menjadikan siapapun jatuh hati pada pandangan pertama. Pas dibuka halaman-halaman berikutnya sangat menyenangkan dengan kertas yang sangat bagus dan lagi-lagi full color.

DSCN1645

Dan inilah penampakan depan yang hard cover and full color.

Halaman awal menceritakan masa kecil Nelson dengan buku-buku kesukaannya. Ketidaksukaannya dengan hal-hal yang sifatnya permainan, seperti menari, bernyanyi, dan bermain peran. Segala aktivitas menyenangkan di TK sebaliknya buat Nelson kecil. Ditambah lagi dengan rapor TK Nelson yang menempatkan nya di posisi ke dua dari belakang. Semakin memperjelas ketidakminatannya dengan permainan. Akhirnya sang ibu dengan yakin memutuskan untuk langsung memasukan Nelson kecil ke SD. Dan keputusan ini memang yang terbaik buat si kecil Nelson, karena di SD inilah Nelson kecil mulai berkembang pesat. Ia menemukan kesukaannya: membaca dan belajar. Dan kemudian mengantarkannya pada gelar profesor di kemudian hari.

Pengalaman masa kecil ketika bertemu dengan sepupunya yang kebetulan menjadi profesor di Amerika telah membukakan mata Nelson kecil akan masa depan. Pergaulannya yang mengantarkan ia kepada buku fisika sejak belia. Mempermulus langkahnya untuk sampai pada cita-citanya. Dan dukungan dari orang tua yang besar dalam pendidikan membuat semuanya bisa berjalan dengan lancar.

Ketika saya menyelesaikannya, yang pertama kali terlintas di benak adalah, “dia beruntung dengan segala dukungan itu”. Kemudian saya berfikir lagi, inilah yang harus saya lakukan untuk anak saya: menyiapkan dana pendidikan semampu kami, memberi fasilitas pendidikan yang luas untuk anak belajar tentang apapun yang disukainya, dan siap sedia memperhatikan perkembangannya sejak dini tentang minat yang mendominasinya. Tidak lupa menyiapkan lingkungan terbaik buat mereka. Lingkungan di mana kita bisa memantau tumbuh kembang anak-anak kita dengan baik. Lingkungan yang dapat bekerja sama membentuk generasi penerus terbaik.

Jujur, bagi saya buku ini lebih cocok di baca oleh para orang tua. Bagaimana sikap ibu Nelson ketika mengetahui anaknya tidak banyak berkembang di TK dan akhirnya memutuskan untuk mengirimnya langsung ke SD di usianya yang masih TK. Keberanian atas suatu keyakinan akan anaknya, patut dicontoh kita sebagai orang tua. Karena setiap anak berbeda dan mereka memiliki kecenderungan dan bakat yang biasanya bisa terlihat sejak mereka kecil. Dan orang tua lah yang paling dekat dan yang paling memahami anak-anaknya, tentang bagaimana caranya pendidikan untuk anak-anak kita.

Tentang persiapan dana pendidikan yang dilakukan keluarga Nelson kecil pun patut menjadi contoh bagi kita para orang tua. Kita tidak pernah tahu pendidikan anak-anak kita di masa depan, apakah lebih mahal atau sebaliknya. Jadi, dukungan finansial itu harus menjadi salah satu prioritas kita sebagai orang tua untuk mempersiapkan pendidikan anak-anak kita.

Lingkungan keluarga Nelson yang well educated secara langsung dan tidak langsung telah membentuk kepribadian Nelson dari kecil. Misal tentang cita-citanya yang mungkin tidak pernah terfikiran oleh anak-anak lain. Di mana seusia Nelson biasanya anak-anak bermimpi untuk menjadi dokter atau polisi. Yup, pekerjaan-pekerjaan standar yang selalu diulang di ruang kelas yang dianggap bergengsi seperti halnya menggambar dua gunung dengan satu matahari yang sangat mainstream itu. Tentang mempersiapkan lingkungan keluarga yang mendukung minat belajarnya adalah hal lain yang saya petik dari buku tersebut.

Terus bagi anak-anak apa dong yang bisa dimaknai, karena bagaimanapun niat dari buku ini adalah anak-anak? Terbukti penyimpanan buku ini pun di rak nya anak-anak. Pun dengan cara penulisan dan penyajiannya, jelas ditujukan untuk anak-anak. Sejelas apa yang dikatakan si penulis bahwa buku ini untuk anak-anak agar mereka tertarik dan menjadikan membaca sebagai hobi, seperti apa yang dilakukan suaminya.

Mungkin halaman awal adalah bisa menjadi contoh yang baik untuk anak-anak kita. Tentang kegemaran Nelson kecil dengan buku dan segala bentuk bacaan lainnya sampai Koran yang identik dikonsumsi orang tua. Apapun ia baca, sampai melakukan latihan badminton pun ia dapatkan dari buku dan hebatnya sampai menjuarai kejuaraan antar kelas. Buku adalah jendela dunia, Nelson kecil telah membuktikannya. Saya harap anak-anak lain yang membaca buku ini pun dapat membuktikannya kemudian.

DSCN1647

Ini adalah halaman kesukaan saya. Di mana Nelson membuktikan buku bisa membuka kunci mimpi.

Atau fokusnya Nelson kecil akan cita-citanya. Ya, dia memang telah menemukan passionnya di usia belia sehingga hal itu telah menarik semua fokusnya.Dan itu sangat bagus. Bisa menjadi teladan bagi kita dan anak-anak kita tahu bahwa menemukan passion sejak kecil itu sangat baik. Menemukan kegemaran kita di masa kecil dan terus memupuknya adalah investasi yang sangat mahal dan besar bagi masa depan anak-anak. Jika kamu menyukai sesuatu selama itu positif, lakukanlah!

Karena banyak yang bisa diambil untuk para orang tua, jadi saya recommended buku ini untuk para orang tua. Anak-anak tentu saja boleh membaca karena memang untuk mereka ditujukan. Tapi, bagi saya pribadi setelah menyelesaikannya, saya pikir di baca oleh orang tua dulu akan jauh lebih bijak .

Karena Maryam belum pandai bicara boro-boro membaca ya, anak usia dua tahun. Jadi, ini sebagai bentuk investasi saya. Sekiranya ada buku bagus, ada rezeki ayo beli. Sehingga ketika Maryam sudah siap, fasilitas pun sudah siap, insyaAlloh. Dan saya pun sudah siap dengan segala konsekuensi yang diberikan oleh setiap bacaan yang saya siapkan untuknya. Termasuk buku ini, kemudian jika Maryam terlintas berfikir bahwa dia pun seharusnya bisa mendapatkan pedidikan selayaknya Nelson kecil. Di sinilah peran orang tua jika kita mendapati bahwa kita mungkin tidak seberuntung orang tua Nelson. Bagaimana kita mem-backup isu ini. Saya yakin dengan membaca buku ini kita para orang tua paling tidak siap selangkah untuk pendidikan anak-anak kita 🙂 .

-38- Review Gendongan Bayi: Ergo Baby Carrier

Setelah melanglangbuana di dunia pergendongan akhirnya ergo adalah keputusan terbaik yang pernah saya buat. Walaupun harganya jauh dari gendongan-gendongan sebelumnya tapi worth it banget, tidak menyesal lah. Harga 300 ribu untuk sebuah gendongan bagi saya tentu masih wah itupun belum bisa dapat yang ori. Kalau mau yang ori siapkan saja dana empat kali lipatnya dari yang non ori. Tapi, kalau kamu mampu sebaiknya ambil yang ori. Sebenarnya ada sih gendongan bagus yang ori buatan local tapi kenapa akhirnya saya tetap pilih ergo? Ini hanya masalah selera. Gendongan local cuddle me bagi saya yang semampai ini masih terlalu bulky.

Postingan ini hanya ingin berbagi seperti apa sih gendongan yang baik. Tidak mengajak beli yang non ori ya.

Apa yang saya dapat dari ergo

Pertama kali mencoba saya langsung bahagia karena terasa ringan, pas, dan singset *haish, maksudnya terasa menyatu antara saya dengan bayi, jadinya bebas bergerak*. Tiga hal yang paling terasa, bahu tidak sakit karena pad si ergo empuk. Dua, terasa ringan ketika menggendong karena kaki bayi tidak menjuntai kemana-mana, dia pas duduk di dudukan ergo yang lebar sampai ke paha. Ketiga kuat, karena ergo memiliki satu kunci yaitu pengikat di bagian punggung yang rata-rata tidak dimiliki gendongan lain, dan menurut saya ini adalah kuncinya. Sering saya berfikir, kalau saja gendongan carrier pertama saya memiliki satu pengikat lagi di bagian punggung mungkin akan lebih nyaman. Dan voila memang sangat pas dipakai ketika ada pengikat tambahan di punggung.

Dan berikut ini yang menurut saya kenapa si ergo termasuk salah satu gendongan yang baik secara kenyamanan, keamanan, dan kekinian.
1. Tidak/ mengurangi sama sekali pegel
20141015_075337

Itu penampakan tali punggung yang ber-pad empuk. Dia menggunakan busa atau yang semacamnya. Kalau yang biasa pake tas ransel pasti tau bagaimana nyamannya ketika tas kita memiliki ganjelan yang empuk di sekitar bahu. Selain pad di bahu, ergo juga memiliki ganjelan di perut yang lebar dan empuk. Sehingga area sekitar perut dan pinggang terasa nyaman ketika menggendong.

20141015_075458Lihat areadi sekitar perut dan pinggang dengan kain empuk dan lebar.

2. Terasa aman, ringan dan bebas
Menurut saya yang bikin si ergo ini terasa ringan ketika menggendong adalah kain atau dudukan bayi yang lebar sampai ke paha, lihat gambar sebelumnya di mana dudukan bayi lebar menutupi tubuh ibu. Hal ini menjadi salah satu kunci kenapa gendongan yang baik harus memiliki dudukan yang lebar. Selain karena untuk menyebar berat badan si bayi agar tidak tertumpu di selangkangan juga untuk keamanan bayi. Menurut artikel di sini, gendongan yang baik dan aman bagi bayi adalah jenis gendongan di mana kaki bayi membentuk posisi kodok. Hal ini bisa dilakukan tentu saja dengan dudukan yang lebar di mana paha bayi bisa ditopang dan memungkinkan untuk posisi kodok. Posisi ini gampangnya mirip abjad M, sudah saya bahas di postingan sebelumnya.

Sebenarnya kunci utama menggendong adalah dengan tangan kita sendiri. Coba deh kita gendong bayi/ anak dengan tangan kita, posisi yang paling nyaman menurut saya yang seperti di bawah ini. Lihat kan posisi kaki bayi ngangkang. Dan ini adalah posisi natural bagi bayi, jika bayi digendong maka secara alami dia akan melingkarkan kakinya. Dan posisi ini sangat mendukung pertumbuhan dari tulang belakangnya. Ketika masih bayi tulang belakang baru terbentuk dua salah satunya di bagian sacrum yaitu ujung dari tulang belakang. Tekanan yang berlebihan di bagian ini dapat menyebabkan gangguan terhadap pertumbuhan tulang belakang , artikelnya bisa di baca di sini. Tekanan ini bisa terjadi jika ketika menggendong berat badan bayi hanya tertumpu di selangkangan. Ciri gendongan yang seperti ini biasanya dia membentuk abjad n, cek di sini.

kodokgambar dari sini.

Oya selain kaki yang harus frog style punggung sampai leher pun harus tertopang. Si ergo ini bisa loh menopang punggung sampai ke leher. Bahkan ketika anak saya sudah agak besar *14mo* dia masih bisa menopang leher dan kepalanya dengan penutup kepala.  Semisal anak kita ketiduran kepalanya tidak perlu dipegangin sudah ditopang kok sama ergo.

Lega rasanya, sudah terasa ringan ternyata nilai plusnya dia mendukung keamanan bayi terutama pertumbuhan dan perkembangan tulang belakangnya. Saya pun merasa sangat bebas bergerak karena tidak melulu harus menopang paha bayi yang bergelayutan.
3. Pas dan Kuat

Penting menurut saya gendongan itu harus pas antara bayi dan kita juga harus kuat. Tidak sedikit-sedikit membetulkan tali bahu yang melenceng jatuh ke lengan. Kejadian seperti ini saya alami ketika memakai gendongan carrier sebelumnya. Dan kenapa si ergo ini bisa pas dan kuat bagi saya, rahasianya adalah ini:

20141015_075517

Itu yang saya lingkari pake warna merah! Dengannya tali bahu konsisten pada tempatnya. Selain itu ergo kuat karena memiliki semacam karet pengaman di “klik”-nya *itu tuh ketika kita melingkarkan ergo  di pinggang nah biar dia melingkar terus di klik, apa namanya ya*. Jadi kalo semisal kita kelupaan meng-klik masih ada warning lah *kerasa kendor gitu ergonya*.

Selain dari pengamannya yang pas dan kuat, kainnya pun menurut saya kuat. Dia tidak kaku tapi terlihat dan terasa kuat di luar dan di dalamnya dilapisi kain katun yang lembut sehingga bayi nyaman duduk berlama-lama di sana.
4. Stylish dan tidak ribet

Pilihan warnanya sangat variatif dan modelnya bagi saya sudah sangat stylish. Pakenya pun tinggal hap! Tidak seperti wrap walaupun aman tapi bagi saya masih ribet ya, habisnya rempong sih ngatur-ngatur kain panjangnya. Ini saya kasih bonus foto si ergo ketika dipake *dulu ngeliat ini semakin mupeng*.

ergo2minjem

singset kan kan…

P.S  ada juga dijual terpisah pad untuk pijakan kakinya sama buat teething. Saya sih tidak pakai, so far masih nyaman sih.