-159- Olah Raga Rutin ala Apa (Bapak)

Bismillahirrohmanirrohiim…

Empat hari ini saya dilatih setiap pagi untuk rutin olah raga. Biar segar. Biar semangat. Biar aliran darahnya lancar. Biar sehat! Kata Apa saya berapi-api.

Beliau memang selalu penuh semangat. Usianya kini 61 tahun. Sudah lama berhenti merokok. Sudah pula pensiun dari pekerjaan yang dicintainya. Tapi beliau masih semangat alhamdulillah. Sesekali masih ke sawah dan setiap hari memberi makan ayam. Ayam punya cucu satu-satunya 😁

Melihat saya yang layu beliau langsung melatih saya. Sakit-sakit badan ini mengikuti arahan gerakannya. Tapi di hari ke tiga alhamdulillah sudah mulai melonggar.

Tapi karena saya kurang begitu semangat awalnya. Jadi hanya mengikuti seperlunya. Ternyata kemudian saya ingin melakukannya dengan rutin. Karena itulah postingan ini dibuat: agar saya tidak lupa. Lain dari itu barangkali ada juga yang mau ikut seperti saya.

Apa melakukannya selalu setelah subuh. Pagi sekali. Udaranya masih sangat bersih dan segar. Di dalam rumah saja. Kalau mau keluar rumah, katanya, kalo sudah selesai rutinitas ini. Sebatas jalan santai cari makan. Life is good.

Pertama beliau lari kecil sampai 300 langkah. Tidak boleh kurang. Saya tanya kenapa. Jawabnya, biar hangat badannya. Buat pemanasan. Kemudian dia tambahkan 300 itu minimal. Katanya sih 300 langkah kecil sambil berlari itu kalau dipanjangkan di jalan setara 100m. Wallohu’alam. Kita ikuti saja penemunya😁

Kedua adalah menggerakkan kepala. Ini nih yang sering saya lupa. Urutannya harus seperti ini :

1. Melirikkan wajah ke kanan dan ke kiri dengan kedua tangan di pinggang. Gerakannya harus satu dua kanan, tiga satu kiri, satu dua kanan tiga dua kiri, dan terus sampai sepuluh.

2. Mematahkan leher ke kiri ke kanan. Sampai daun telinga mendekati bahu. Gerakannya juga sama satu dua kanan tiga satu kiri, terus sampai sepuluh.

3. Menggerakkan kepala ke depan belakang dengan irama gerakan seperti nomor satu dan dua.

4. Menggerakkan kepala dengan cara memutarnya. Mula-mula searah jarum jam dengan hitungan satu dua tiga empat. Kemudian balik arah dengan hitungan yang sama. Lakukan sepuluh kali.

Sampai situ gerakan kepala selesai.

Ketiga adalah menggerakkan tangan.

1. Meninju ke depan secara bergantian antara tangan kanan dan kiri. Hitungannya satu dua tiga satu, satu dua tiga dua, dan seterusnya sampai sepuluh.

2. Mengangkat kedua tangan di depan dada. Kemudian menggerakkannya ke belakang. Sambil berlari kecil. Hitungannya sama 1 2 3 1, 1 2 3 2, terus sampai sepuluh.

3. Menggerakkan tangan kanan ke arah tangan kiri sampai maksimal. Gerakannya sejajar dada. Hitung satu dua. Kemudian sebaliknya gerakkan tangan kiri ke arah tangan kanan. Hitunh tiga satu. Terus sampai tiga sepuluh. Dengan kedua kaki direnggangkan secukupnya (suka-suka jaraknya tidak perlu maksimal sampai paha kita sakit).

4. Sama menggerakkan tangan kanan ke arah kiri dan sebaliknya. Tapi di atas kepala. Yang ini jangkauannya sampai maksimal. Hitungannya sama dengan nomor tiga di atas. Sepuluh kali.

5. Terakhir rentangkan kedua tangan. Renggangkan kaki. Kemudian gerakkan tangan kanan menyentuh tumit kaki kiri. Terus dengan hitungan satu dua tiga satu sampai sepuluh.

Keempat adalah menggerakkan kaki.

1. Luruskan tangan sedada sedikit menyerong kurang lebih 45 derajat. Kaki direnggangkan. Kemudian kaki kiri diangkat menyentuh jari tangan kanan, satu. Kemudian sebaliknya kaki kanan menyentuh jari tangan kiri, dua. Terus sampai empat puluh. Luar biasa.

2. Gerakan satu tadi kaki ke depan sekarang giliran ke belakang. Tangan direntangkan dan kaki dilempar ke belakang mirip anak TK yang sedang memperagakan bentuk pesawat. Terus bergantian satu-satu sampai empat puluh.

3. Selanjutnya kaki dilempar ke kiri dan ke kanan. Tangan di pinggang. Renggangkan kaki sejauh mungkin. Empat puluh kali juga.

4. Gerakan tetakhir yang paling berirama dari semua gerakan. Mirip lagu kepala pundak lutut kaki. Bedanya tangan ketika kata kepala tidak di kepala tapi lurus ke depan. Pas bagian kata pundak sentuhkan tangan ke kaki. Pas kata lutut luruskan tangan ke depan dengan posisi jongkok. Kata terakhir kaki kembali berdiri dengan kaki lurus menyentuh kaki. Dan gerakan ini pun diakhiri dengan berdiri dan kedua tangan diangkat lurus ke atas. Direnggang-renggangkan dua kali. Rangkaian gerakan tadi terhitung satu. Dan terus sampai sepuluh.

Kelima adalah push up. 100 kali! 🙏😌 saya tidak sanggup. Semampunya saja. Saya 15 itu pun bukan push up sempurna. Karena saya tidak bisa push up diganti sit up dan push up yang cuma pantat saja naik turun😁

Keenam adalah mengangkat salah satu kaki biar lurus. Bisa diangkat ke tembok, kursi, atau seperti saya pada jok motor. Lantas ditekuk-tekuk badan sampai mau menyentuh kaki. Terus begitu sampai 40 kali masing-masing kaki.

Ketujuh adalah pendinginan. Caranya luruskan kedua tangan ke atas terus putar melalui kaki sambil menarik nafas dalam-dalam. Dan keluarkan ketika kembali mencapai posisi semula. Ini sepuluh kali.

Selesaiii.

Lumayan berkeringat pagi-pagi. Setelah itu saya biasanya minum air putih hangat satu gelas.

Semoga bisa konsisten seperti Apa ya. Aamiin.

Semangat! Hidup sehat! Bismillah…

Advertisements

-119- Jalan-Jalan ke Toliamba Wakatobi

Bismillah.

Bulan yang padat sampai lupa dan malas untuk menulis 😛 . Dari awal bulan kita sudah disibukkan dengan kegiatan susenas. Walaupun jumlah sampelnya tidak sebanyak semester 1 tapi karena kita kali ini “agak” fokus jadi ya, mau tidak mau hampir semua energi tercurah ke sana. Mau ngedit publikasi pun jadi terbengkalai. Dan tentu kegiatan tulis menulis yang sangat penting ini ikut terlupakan juga 😀

Bulan Agustus kemarin kita sempat jalan-jalan ke sebuah tempat, ehm, tentu saja tidak jauh dari Pulau Wangi-Wangi. Tapi kali ini berbeda. Secara tempat kita ini jago sekali dengan lautnya jadi jalan-jalan di luar itu semacam anti-mainstream.

Kemana?

Kita ke Toliamba Hill. Namanya sudah keren ya keinggris-inggrisan terus tempatnya pegimana?

dscn2737
serasa di atas awan…*lebay detected

Merupakan tempat paling tinggi di Pulau Wangi-Wangi. Dari sana kita bisa melihat garis pantai dengan jelas. Lokasi taman yang di jepret di atas tidak di posisi paling puncak dia persis di bawah puncak. Lokasinya persis di tebing jalan. Sebelah kanan foto adalah tebing yang isinya tetumbuhan, sementara kirinya adalah jalanan menanjak yang berujung di puncak dengan tulisan “Toliamba” sebagai epik.

Tamannya sendiri tidak begitu luas. Tapi yang bikin dia keren dan nyaman adalah bangku-bangku yang di buat banyak yang menghadap area tebing tadi. Jadi kita bisa duduk-duduk cantik sambil menikmati panorama Pulau Wangi-Wangi dari ketinggian, masyaAlloh.

Masterpiece taman ini adalah patung ikan yang kalau kita jalan-jalan ke berbagai objek wisata di Wakatobi hampir selalu ditemukan patung-patung ikan ini. Ada ikan terbang, ikan apalah yang saya tidak mengerti penyebutannya, dan yang di sini adalah ikan lumba-lumba.

Menuju ke sana kita akan disuguhi pemandangan pedesaan yang asri. Jalanannya khas daerah perbukitan dan pegunungan berliku dan menanjak. Kalau kita sudah dapati papan nama “Selamat Datang di Desa Waginopo” berarti tinggal selangkah lagi ke taman lumba-lumba dan setanjakan lagi ke puncaknya Toliamba.

dscn2723
Gerbang ke Toliamba Hill

Dari posisi taman kita bisa jepret tulisan Toliamba. Kita tidak naik sampai atas karena Maryam tidak bisa diam. Dia yang lompat-lompat kegirangan. Tidak ada takut dengan ketinggian malah membuat kita ketar-ketir. Di taman dia keliling dan lompat sana-sini, takut euy!

Padahal kita pikir dia kan baru pulang sekolah. Hari itu Sabtu jadi kita jemput Maryam buat jalan-jalan. Harusnya capek kan, tapi ternyata buat anak-anak kalau ada yang menarik minatnya tidak ada istilah capek. Orang dewasa juga begitu juga sebenarnya ya 🙂

Kita duduk-duduk saja di sana kurang lebih sejaman. Lama juga tak terasa. Bagi saya pribadi ini kayak de javu. Dulu waktu masih kecil, sering nih saya dapat tempat tinggi kayak gini. Entah itu yang paling cetek di pohon lengkeng halaman sekolah atau di atap rumah sampai bukit-bukit yang mengelilingi desa. Saya biasa menghabiskan waktu di sana, ngapain? diam saja sambil melamun. Melihat langit biru rasanya tenang. Rasanya semua asa ada di sana. Semua cita-cita tergantung melambai-lambai. Saya senang dengan semua itu.

dscn2732
Lokasi tertinggi…
dscn2728
Tebing…

 

dscn2729
ini saya sambil ngayal…

Sampai jumpa lagi.

-118- Kebiasaan Kita

Bismillah.

dscn2906

Happy Ied…

Selamat Raya semua…

Tahun ini korban apa? *boleh dong ikut-ikutan yang lagi musim 😛 *

Emang apa kebiasaan kita? Kok bawa-bawa kita, kamu saja kali? Mmmm karena kebiasaan ini masih belum bisa ditinggalkan, minimal oleh sebagian besar kita. Jadinya lebih enak dibilang kebiasaan kita.

Apa sih? Sampah Mak!

Iya sudah beberapa kali nih sholat raya di perantauan dan saya kok merasa kebiasaan buang sampah sembarangan ini semakin ke sini semakin menyebalkan 😛 . Karena panitia PHBI (perayaan hari besar agama islam) tidak menyediakan alas buat sajadah jadi mau tidak mau bawa masing-masing. Ada yang bawa tikar, plastic biasa, terpal kecil, Koran, dan ya sudah pasrah tak pakai apa-apa. Terus ada masalah?

Masalahnya yang bawa kertas Koran, plastic sekali pakai, pokoknya yang sekali pakai, setelah sholat tidak dibawa lagi. Dibiarkan tergeletak begitu saja di lapangan. Sedihnya lapangan di sini dekat laut dan angina menggiringnya ke laut karena tidak ada panitia yang beberes setelah selesai.

Apa susahnya ya ambil Koran bekas sendiri dan membuangnya ke tong sampah yang sebenarnya tersebar di sepanjang jalan? Kan jadinya ironis dan terlihat lucu melihat tong-tong sampah yang menganga minta disuap padahal disekitanya bertebaran makanan lezat.

Sepertinya karena kebiasaan, biasa meninggalkan sampah, biasa membuang sampah sembarangan, biasa dengan lingkungan penuh sampah L . Karena kebiasaan ini akhirnya orang-orang merasa tidak bersalah karena hal ini sudah lumrah lagipula tidak ada yang negur. Merasa tidak ada yang salah. Merasa kamu kok sok pecinta lingkungan nyuruh-nyuruh kite buang sampah pada tempatnya.

Dimana yang peduli terhadap lingkungan dianggap aneh, mungkin kita belum siap dengan dunia yang semakin maju dan well educated. Boleh dikata pendidikan kita tinggi tapi kenyataannya kita belumlah terdidik dengan baik.

Jadi, di sekolah dulu dididik apa saja ya?

Kalau dulu saya di sekolah kampung (Sekolah Dasar) kebersihan, kerapihan, dan ketertiban itu nomor satu. Saking cintanya kebersihan pernah suatu waktu dalam masa SD, kita semua harus melepas sepatu ketika memasuki ruang kelas yang kinclong di pel sehari sebelumnya. Kaca mengkilat menyilaukan hati *uhuk*. Gorden juga wangi dan bersiiih. Soalan rapi, semua bangku berjejer rapi harus dalam garis lurus kalau perlu pakai penggaris hheee.

Oya satu lagi sampai pernah waktu di kelas 3 ibu wali kelas almarhumah rajin memeriksa kuku-kuku kami. Kalau terlihat panjang dan kotor diperintahkan untuk segera di potong. Begitu juga kalau ada baju yang kotor langsung diingatkan untuk di cuci.

Iya sih kita kadang nakal. Lupa potong kuku, baju seminggu yang itu-itu terus *bisa dibayangkan kummel dan baunya 😀 *. Tapi paling tidak hal-hal yang sepertinya kecil ini terbawa sampai kita segede gini. Saya suka risih dengan kuku yang panjang walaupun terlihat bersih walaupun kadang juga kecolongan lupa motongin kuku sendiri dan anak :D. Ya situ mau ngulek adonan kanji nancep semua tuh kuku cantik 😀

Atau soalan ketertiban, sebelum masuk kelas, padahal sudah SD loh waktu itu, kadang masih juga disuruh berbaris antri memasuki kelas. Misal pulang sekolah pun biasanya kita akan pulang teratur satu persatu berdasarkan kecepatan dan kebenaran dalam menjawab soalan matematika. Terlihat sepele tapi membuat saya malu dan gak enak hati kalau lagi antri dan bingung dengan antrian yang tidak jelas.

Tidak tahu ya sekarang bagaimana di sekolah.

Dulu di kampung ketika sholat raya begini seingat saya selalu bersih. Karena alas yang dibawa biasanya tikar. Tikar karpet gitu jadi ya harus di bawa pulang dong ya. Masak ditinggal kan mihil kalau beli lagi hhheee. Besok-besok mungkin panitia harus menyediakan alas kali ya , misal terpal atau dikasih pengumuman pakai alas tikar atau alas yang berupa kertas koran dan sejenisnya supaya diambil lagi.

dscn2905

10 Dzulhijah 1437H

 

-107- Catatan:Lebaran 1437H

DSCN2342

Lebaran 1437H/ 2016M

Lebaran ke tiga di Wakatobi. Rasanya? Sepi. Sunyi seperti lautan luas yang air nya di hembus angin dan sekali-kali burung-burung datang menghampiri menghibur. Sesunyi lautan luas ketika semua orang sedang bersujud padaNYA.

Lebih sunyi lagi hati ketika malam takbiran tak satupun suara takbir yang terdengar hanya ledakan-ledakan kemeriahan dari mercon-mercon warga, karenanya kami terpaksa mendownload suara takbiran dan memutarnya memenuhi seisi rumah.

Bukan. Bukan karena tidak ada yang takbir, rumah kita saja yang jauh dari lingkungan pada umumnya.

Tapi, kami sangat bersyukur…

Iya, karena semua rasa itu membuat kita belajar. Dan sejujurnya tidaklah sesunyi itu, karena ini lebaran ke tiga. Jadi, kami sudah cukup berpengalaman dengan semua kesunyian. Kami menikmatinya.

Ramadhan tahun ini rasanya banyak sekali pelajaran berharga tentang hidup. Saya terutama banyak sekali belajar. Menghadapi anak, suami, dapur, rumah dan seisinya, tetangga, dan masyarakat pada umumnya. Kami terus belajar.

Ketika lebaran satu tahun lalu di mana peralatan sholat seadanya belum di cuci, hari ini, semuanya wangi. Walaupun pada akhirnya saya tidak bisa sholat. Tahun lalu ketika berangkat menuju lapangan repotnya bukan main, semua orang di dalam rumah hilir mudik tak karuan, hari ini, masyaAlloh Maryam saja dia sudah bangun ketika subuh dan tidak lama kemudian mandi air hangat, semua terasa rapi dan tenang.

Tidak seperti tahun lalu, kali ini kami sholat ied di lapangan Pelabuhan Wanci. Selain lebih luas di sana banyak tempat untuk saya dan Maryam menunggu sholat dan meyaksikan semua pelaksanaan sholat hari raya.

Setahu saya di Wakatobi (di kotanya) ada 3 titik pelaksanaan sholat raya. Satu di Hotel Wisata, areanya lebih kecil dan pelaksanaannya paling cepat. Ke dua di lapangan bupati, di sana kalau saya sebut tempat berkumpulnya para pejabat. Dan terakhir di Pelabuhan Wanci ini, paling luas, warga yang di tampung otomatis paling banyak, dan satu lagi paling lama. Setelah selesai sholat, kita keliling kota, yang lain sudah pada selesai menyisakan sampah Koran yang tak di pungut kembali pemiliknya. Kecuali di Hotel Wisata yang nampak rapi dan bersih. Di sana memang panitianya menyediakan alas untuk tempat orang sholat berupa terpal sehingga warga tidak perlu lagi membawa kertas Koran.

Mengenai Koran ini ya, sebenarnya kalau kita pikir, jika setiap orang yang membawa kertas Koran memungutnya kembali dan kemudian membuangnya sendiri, tidaklah terjadi itu namanya lautan sampah Koran. Apa susahnya memungut Koran di bawah sajadah sendiri? Hufff entahlah, kenyataannya sampah Koran sudah terjadi.

Lupakan. Saya mau cerita lokasi Pelabuhan Wanci yang cantik ini. Ini mungkin tempat sholat raya saya yang paling indah selain di kampung halaman. Lokasinya yang berhadapan dengan laut lepas ketika semua orang sujud seperrti mengeluarkan aura magis tersendiri. MasyaAlloh saya tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata. Ketika itu waktu terasa berhenti sejenak. Tek! Angin seperti berhembus pelan sekali tiup. Lengang. Kalau kita lihat dari jarak yang lumayan antara Jemaah yang sedang sujud dan laut seperti tak ada batasnya. Mereka seakan menyatu dengan alam. Saya yang menyaksikannya hanya takjub berucap syukur dan mensucikanNYA.

DSCN2337
taken by me: Pelabuhan Wanci, Wakatobi

DSCN2346

Selamat berlebaran 1437H

Semoga kita lebih baik lagi di bulan-bulan mendatang sampai Ramdahan menyapa kemali. aamiin.

Taqabalallohu minna wa minkum

Mohon Maaf Lahir Bathin_

-96- Random akhir bulan

Bismillah.

Minggu yang super sibuk, alhamdulillah.

Sepulang pelatihan innas susenas kemarin langsung membantu kegiatan SE kemudian lanjut mengajar. Luar biasanya, ketika saya mengajar suami yang tadinya ikut pelatihan mendadak sakit, terpaksa Maryam harus ikut saya mengajar. Fiuhhhh…

Tapi, semua itu ketika dibayangkan hari ini: Subhanalloh…kok bisa ya, saya sekuat itu. Hehehe bukan muji diri sendiri, tapi emang setelah saya pikirkan sekarang harusnya saya ambruk. Mungkin karena saya belum terbiasa dengan aktivitas sepadat dan seberat itu. Malam belajar buat mengajar, paginya menyiapkan sarapan buat yang sakit, memandikan anak, menyiapkan bekalnya selama ikut pelatihan, membersihkan rumah, belum lagi pakaian saya yang belum di setrika. Gonceng anak di depan menuju tempat pelatihan, naik turun tangga ke lantai 3 yang mana sesekali Maryam yang hampir 12kg saya gendong. Sampai di atas ngos-ngosan tapi masih bisa lanjut mengajar dengan suasana hati gado-gado, antara memikirkan suami yang sakit di rumah, anak yang ke sana ke mari di dalam ruangan, dan materi pelatihan yang harus saya sampaikan, errrr belum lagi tugas panitia yang sebagian saya handle juga. Saya belajar bahwa benar adanya, Alloh tidaklah memberikan cobaan melainkan kita sanggup memikulnya, masyaAlloh.

Kabar Maryam

Dia mengalami hari-hari yang menyenangkan saya rasa. Waktu pelatihan dia mendapat dua teman yang menyenangkan dan sangat menikmati bermain dengan mereka berdua. Tertawa lepas, belajar berbicara mengikuti mereka *saya terharu*, bergandengan tangan ala-ala dua gadis kecil yang bersahabat tapi sepertinya lebih ke adek kakak hihihi. Halo Ka Halil dan Ka Ica…

Selain bermain dengan teman, dia juga bermain dengan semua perlengkapan pelatihan. Dia mengikuti setiap yang saya lakukan. Saya menulis di papan tulis pakai spdol dia pun, saya berbica menggunakan micropon dia juga, saya duduk di depan bersama kepala dalam acara pembukaan dia pun tak mau ketinggalan duduk tepat di bangku kosong samping saya. Saya kagum dengan semua hal itu, subhanalloh, Maryam yang biasanya rewel minggu itu dia sangat nice. Love you Nak!

Perkembangan kosakatanya pun menakjubkan alhamdulillah. Untuk seusia Maryam 2 tahun 6 bulan, mungkin ini agak terlambat, tapi bagi kita ini sangat berarti dan kita percaya anak-anak tumbuh dengan cara mereka sendiri. Beberapa kosakata barunya:

  1. Menghitung 1-10 walaupun yang jelas baru 1, 3, dan 7;
  2. Allohuakbar ketika ikut sholat;
  3. asslamu’alaykum dan jawabannya;
  4. bismillahirrohmannirrohim;
  5. permisi;
  6. ikan;
  7. cumi-cumi;
  8. burung;
  9. embe;
  10. itu itu.

Dan semua perintah serta semua ekspresi kita dia rata-rata megerti tinggal menanggapinya dengan kalimat.

Mau sedikit cerita kantor

Lagi sibuk dengan kegiatan Sensus Ekonomi dan Susenas. Saya mau cerita sedikit tentang SE.

Tidak seperti survei dan sensus lainnya di BPS, kali ini, pada SE2016, petugas yang di rekrut melalui proses seleksi terlebih dahulu. Saya kira ini adalah langkah berani BPS mendobrak kebiasaan lama.

Bukan berarti petugas yang dulu kurang baik, hanya saja dengan seleksi kita berusaha untuk fair. Semua berhak bekerjasama dengan BPS dalam hal ini. Mengingat masih banyak yang menganggur tentu hal ini memberi sedikit angin segar bagi mereka walau hanya untuk satu bulan.

Selain itu, saya kira melalui seleksi ini akan terlihat petugas-petugas yang sudah baik tentu dia akan dengan mudah lolos dan petugas baru diharapkan memiliki kualitas lebih baik. Dengan catatan proses seleksi memang diniatkan untuk menjaring kualitas petugas yang pada akhirnya untuk data kita yang lebih baik.

Dan saya bersyukur berada di kondisi lingkungan kerja yang walaupun minoritas menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik. Walaupun banyak sekali kerikil, tapi pada akhirnya dengan sedikit lega saya bersyukur proses seleksi dapat berjalan dan hasilnya pun, saya kira sesuai dengan kerja keras kita semua selama ini. Adapun hal yang tidak memuaskan dan mengecewakan, bagi saya pribadi tetap ada, tapi ya, setiap manusia tidak akan begitu saja terpuaskan. Ada hal-hal yang akan kita simpan baik menerima atau tidak, ikhlas ataupun tidak. Saya rasa kita semua adalah manusia dewasa yang tahu baik buruk dan tahu bagaimana menanggung tanggung jawab dan risiko baik di dunia dan akhirat. Kembali pada diri masing-masing.

Setelah dengan begitu berat semua melepaskan segala kepentingan, kecondongan, dan ego, inilah mudah-mudahan yang terbaik. Jika di kemudia hari kita kecewa, yakinlah di sana selalu ada proses untuk terus belajar, tidak pernah ada yang sia-sia.

Belajar jujur minimal terhadap diri sendiri, belajar fair, belajar untuk menerima, belajar…

Semoga ke depannya kita semua lebih baik lagi, aamiin.

Rumah kita

Kontrakan akan selesai hitungan hari, bagaimana ini?

Rencana adalah usaha kita tapi Alloh lah tempat kembali segala-galanya. Tahun ini kita masih di sini. Dan kita tidak tahu sampai kita memutuskan keputusan terbaik untuk kehidupan kita.

Prosedural yang diharapkan sepertinya bukan hal yang patut diharapkan 😛 . Tapi, kita juga tidak mencari belas kasihan. Kita di sini hari ini untuk terus belajar, mungkin salah satunya untuk belajar memutuskan…Semoga Alloh selalu melindungi kita atas segala keinginan dan keputusan, aamiin.

love the journey.

-90- Sekolahan awal Maryam

Kenapa disebut sekolahan? Karena di dalamnya ada proses belajar mengajar dan mendidik. Bagi anak di bawah lima tahun tentu belajarnya berbeda dengan anak Sekolah Dasar dan seterusnya. Bagi mereka bermain ayunan, perosotan, dan berbagai permaianan lainnya adalah belajar. Iyah, belajar bersosialisasi dengan teman, bermain perosotan kan musti antri, nah, di sanalah poin sosialisasinya. Bermain puzzle adalah belajar mengasah kreativitas dan lain-laian. Jadi, semua permainan itu adalah sarana belajar bagi mereka…

Intro sedikit mengenai judulnya, siapa tau ada yang nanya dalam hatinya, “Taman kanak-kanak kok sekolahan, mana paud lagi…”, jadi itu ya jawabannya :mrgreen:

Beberapa bulan yang lalu, saya lupa tepatnya, Maryam saya coba-coba kan masuk PAUD. Kebetulan ada PAUD di dekat kantor bupati persis bersebrangan dengan TK Kartini yang lumayan kesohor di sini. Secara alat peraga permainan, PAUD nya Maryam ini kalah jauh, tempatnya pun masih nyempil numpang kantor UPTD. Tapi, waktu itu setelah saya cari ke sana ke mari hanya ada satu ini PAUD nya, di seluruh wakatobi!

Ada juga terbersit ingin memasukan Maryam ke TK Kartini, secara kanfasilitas dan tempatnya mendukung untuk bermain 😀 . Tapi saya takut malah akan merepotkan gurunya, ya, itu pun kalo diterima. Karena ada rasa tidak enak saya enggan ke sana.

Di PAUD tersebut hanya bertahan dua hari kalau saya tidak salah ingat. Ternyata Maryam sama sekali tidak mau masuk ke kelasnya. Dia hanya mau main perosotannya saja! Di tegur sama guru TK malah njerit-jerit. Jadi, saya pikir kemungkinannya Maryam belum siap atau dia mungkin merasa kurang nyaman. Karenanya saya stop. Secara materi juga tidak rugi, yang namanya TK, Paud, Kelompok Bermain di sini masih sangat terjangkau, waktu itu saya bayar Rp10.000 untuk satu bulan. Tapi yah, harga yang dibayarkan memang sesuai dengan kualitas yang saya dapat 😦

Menginjak usianya 28 bulan Bulan Desember kemarin Saya kembali mencari PAUD karena kita rasa perkembangan berbahasanya sangat kurang. Sebenarnya kita belum tahu kenapa, tapi, sementara kita berasumsi Maryam ini kurang rangsangan. Salah satunya rangsangan berbahasa dari teman sebayanya. Selain ingin merangsang kemampuan berbahasa saya juga ingin melatih sosialisasi dan kemandiriannya.

Iya Maryam masih enggan disapa sama orang dewasa yang tidak begitu ia kenal. Padahal misal teman sekantor saya, tapi karena teman sekantor ini jarang bermain dengan Maryam dia enggan sama sekali disapa dan biasanya marah atau parahnya bisa menangis menjerit-jerit. Dia juga nemplok terus di saya, kayak perangko. Ke mana-mana bahkan ke WC! Anak ummi banget dah.

Karena hal-hal itulah memantapkan kita untuk kembali mencari PAUD. Tapi sayang tidak begitu saja ketemu. Akhirnya saya mencoba mengikutkannya ke TK dekat kantor. Paling tidak dia akan ketemu dengan banyak teman, bisa melihat mereka berinteraksi, dan membuat Maryam mau bermain bersama adalah hal yang melegakan.

Dan di sana Alhamdulillah Maryam mau main. Mungkin permainannya lebih banyak, temannya juga lebih banyak, dan lingkungannya luas. PAUD sebelumnya secara tempat memang sempit jadi anak-anak kurang leluasa bermain. Apalagi bagi anak seperti Maryam yang outdoor abis maunya ke sana ke mari lari-lari.

Hanya ia masih enggan masuk kelas konvensional, di mana berderet rapi kursi dan meja plus guru di depannya tak lupa dengan papan tulisnya. Kecuali di kelas kecil -di TK ini ada dua kelas: kelas besar usia persiapan masuk SD, 5-6 tahun dan kelas kecil usia 4-5 tahun- Maryam mau masuk itupun didampingin saya. Tapinya dasar anak-anak ya, bukannya memperhatikan guru ini anak malah main perosotan sendiri. Kadang ada juga anak laki-laki satu yang menemani main. Dan seremnya anak laki-laki satu yang sering nemenin Maryam ini sering di cap nakal oleh gurunya. Entahlah, mungkin hanya bercanda dengan kata “nakal”, tapi bagi saya, lah namanya juga anak umur di bawah lima tahun, normalnya pasti ingin main-main. Dan kata nakal di kamus saya pribadi masuk kata yag tidakboleh diucapkan kepada anak-anak.

Sayang tidak semua guru TK suka dengan anak yang tidak bisa diam dan tanpa sadar kata-kata seperti nakal, bodoh, meluncur tak tertahan. Maunya anak-anak menurut dan memperhatikan guru. Biasanya guru akan memuji anak yang diam dan serius memperhatikan dan kata-kata sebaliknya kepada anak yang sulit diatur. Dan hal tersebut kurang berkenan bagi saya sebagai orang tua.

Jujur, saya inginnya guru memperlakukan setiap anak didiknya berbeda. Maksudnya anak yang tidak bisa fully focus bukan berarti dia nakal atau bodoh kan. Bukan berarti juga anak yang tidak bisa diam itu sama sekali tidak memperhatikan. Karena lagi-lagi menurut saya, tingkat konsentrasi setiap anak berbeda-beda.

Karena banyak faktor terutama sekali di sekolah ke dua ini belum juga bisa di tinggal, saya berniat mencari sekolah lain. Paling tidak dua poin kenginan saya ada pada sekolahan yang baru, saya akan memindahkan Maryam. Dan iniah beberapa poin keinginan saya tentang sekolahan awal maryam:

1 . Anak-anak bisa bermain dengan leluasa (sosalisasi);

2 . Anak percaya dengan dirinya sendiri (menumbuhkan kemandirian);

3 . Tenaga pendidik memilik concern yang baik dengan dunia pendidikan, terutama memilik pemahaman bahwasanya masa bermain adalah masa pendidikan bukan pembelajaran. Misal membiasakan buang sampah pada tempatnya, berdo’a sebelum makan, makan sambil duduk, dan kebiasaan-kebiasaan baik lainnya yang harus dimiliki seorang anak untuk bekalnya nanti;

4 . Media bermain memadai. Terutama untuk merangsang anak dalam hal kreativitas ataupun kecerdasan berfikir;

5 . Keamanan dan kenyamanan sekolah.

Mengingat sekolah yang kedua memiliki area bermain yang cukup luas, maka saya ingin poin tambahan lain untuk memantapkan niat memindahkan Maryam.

DSCN1872

Nah, di suatu hari yang cerah dulu sekali saya punya memori tentang bangunan ini. Dan sekilas saya lihat papan namanya “PAUD…”, tapi untuk waktu yang lama saya lupa. Sebenarnya pas awal ingat saya pernah nyari tapi ya dilalah tak ketemu *belum rejeki   :-/

Hari kamis tanggal 7 Januari 2016 saya cari lagi dan berjodoh 😆 . Waktu itu jam sepuluh lewat, kelas sudah bubar. Ibu gurunya sedang istirahat persiapan mau pulang. Berbincanglah saya dengan Ibu guru Asma, masih muda, kesan pertama saya dia memiliki dedikasi sebagai pendidik. Dia pun menyambut saya dengan ramah dan menerangkan sistem PAUD di sana. Yang membuat saya langsung iyes adalah pernyataan Ibu gurunya:

“Di sini anak-anak diutamakan untuk tidak ditemani orang tuanya, biar mandiri, kami gurunya bertanggung jawab”.

Nah, ini dia yang saya cari *dalam hati tentunya 😀 * . Saya langsung bersemangat esoknya saya resmi daftarkan Maryam ke sana. Dan benar saja , ada juga orang tua yang menunggu adalah murid baru yang masih penyesuaian. Adapun Maryam saya langsung tinggal, menangis sih, njerit-jerit memekakan telinga tentunya, tapi saya sudah bertekad. Dan alhamdulillah drama hanya terjadi satu hari, fiuuhhh! Orang tua baru yang menunggu pun saya lihat tiga hari kemudian sudah tidak ada. Ada satu orang ding dan itu bersembunyi sama dengan teknik saya waktu hari pertama 🙂 .

Setelah berbincang dengan kepala sekolahnya, dan ada satu dua keberatan saya dengan kata-kata kurang baik seperti nakal dan bodoh supaya tidak digunakan yah minimal kepada Maryam. Dan jawaban kepala sekolahnya pun melegakan, “di sini kami berusaha tidak berbicara kasar kepada anak-anak: jangan, nakal, bodoh, kami hindari”. Alhamdulillah semoga!

Oh ya soal bayaran. Per bulannya Rp20.000,- dan biaya masuk Rp50.000,- . Melihat beberapa gurunya belum PNS dan menerima pendapatan yang tidak seberapa: miris. Bagaimana ya, biar mereka para guru yang belum PNS *saya lihat dedikasi sebagai tenaga pendidik bagus* agar bisa mendapatkan haknya secara layak? Dengan harapan mereka akan lebih giat dan bersemangat. Yah, walaupun dengan gaji seperti sekarang mereka masih giat, tapi, tetap saja saya sebagai orang tua yang menitipkan anaknya di sekolah tersebut merasa prihatin. Bagaimana sulit diaturnya anak-anak seusia Maryam, itu pasti sangat melelahkan.

Membaca artikel tentang pendidikan usia dini di Jepang, di mana pemerintah sangat memanjakan oang tua, murid, dan guru, kapan ya kita bisa seperti itu ❓ Apakah ada jalan lain yang bisa kita -para orang tua- lakukan untuk membantu sekolah-sekolah seperti Maryam di daerah agar lebih maju baik dalam segi tenaga pendidik, alat peraga, alat bermain, dan lain-lain pendukung? *ada ide???*

Karena harusnya setiap anak indonesia dimanapun berada dapat mengakses dan menikmati pendidikan yang sama baiknya dan sama kualitasnya. 😉 ❤

-50- Tokek

30.12.2014
4.02 WITA

Si tokek baru saja meninggalkan kamar kita dengan drama yang mencekam. Hah di awal hari sudah dihebohkan dengan kedatangan tamu tak diundang. Dia nemplok aja gitu dengan manis di tembok kamar kita. Dan menakutkannya tidak seorang pun dari kami yang berani mengusirnya langsung. Sudah tidak ada niat kembali tidur, dengan tokek di dinding kamar? Tanpa harus berpikir pun langsung menggelengkan kepala.

Ventilasi kamar kontrakan kita memang molongpong tidak ada apapun di sana untuk menghalangi binatang sejenis tokek masuk. Yah mau gimana lagi nasib terima rumah kontrakan. Mau diapa-apakan juga tidak enak sama yang punya rumah.

Suami langsung mematikan penerangan di kamar. Kepikirannya biar si tokek keluar mencari cahaya dari lubang ventilasi tadi. Terus nyalain juga murottal Al Qur’an berdo’a memohon perlindungan Alloh SWT. Dan si tokek masih anteng. Akhirnya berinisiatif *suami tentunya, saya mah masih gegoleran sambil bantu do’a* ambil sapu gagang panjang. Di getok-getok lah tembok di sekitar tokek baru dese mau beranjak. Dan nahasnya bukan ke arah ventilasi tapi ke arah pintu kamar di mana posisi si pintu dengan kasur kita yang mana ada saya dan Maryam sangat dekat. Saya langsung bangun, takut si tokek tambah mendekat. Akhirnya saya bantu suami nyenterin si tokek. Kali aja dia silau dan terganggu terus kabur.

Bukannya kabur dia malah memandang ke arah saya *hiiiyyy nih tokek minta dilempar uang apa*. Tiba-tiba suami datang dengan segayung air. Ya ampun dia memerciki si tokek dengan air pake jemarinya yang mana tuh air bukannya sampai ke si tokek yang ada membasahi lantai kamar. Akhirnya kita pasrah tunggu dese keluar dengan sendirinya. Kamar dalam keadaan gelap gulita masih berfikir agar si tokek keluar mencari cahaya. Mana hujan deras sekali. Sepertinya si tokek tambah betah di kamar kita.

Saya lihat suami lagi nyalain tab. Saya pikir lagi nge-googling bagaimana cara mengusir tokek tidak taunya lagi onet *haduh dipikirnya kita lagi ngeronda kali ya*. Karena diprotes akhirnya suami googling juga dan ada dong ya di sana secara mbah google gitu. Pake cahaya dan sapu. Sudah mirip lah tinggal usaha. Jadi senternya yang sudah saya matikan kembali dihidupkan kali ini saya benar-benar fokus ke si tokek. Bener juga dugaan awal saya cahaya ini buat bikin dia silau. Terus sambil disenterin suami gebuk-gebuk tembok di dekat tokek pakai sapu, bikin suara berisik aseli bikin kaget tidak hanya si tokek tapi bersyukur Maryam masih anteng tidur.

Akhirnya dengan kerja sama yang baik antara tukang senter dan tukang gebuk si tokek bisa juga keluar ketakutan lewat ventilasi. Alhamdulillah langsung lemes dan bersorak gembira dalam hati. Sepanjang usaha kami mengeluarkan tokek saya benar-benar mikir, Ya Alloh betapa lemahnya diri ini, hanya dikasih nemplok tokek saja kita sudah ketakutan. Betapa lemahnya kita tidak ada kekuatan kecuali Dia. Sepanjang penantian itu saya terus berdoa memohon perlindungan. Tidak perlu sesuatu yang besar untuk mengingatkan kita kepada kekuasaan-Nya. Alhamdulillah …

Sebenarnya saya pernah baca suatu riwayat yang menyatakan bolehnya membunuh tokek atau cecak. Karena katanya cecak atau tokek ini *perbedaan pendapat* yang meniup-niup api ketika Nabi Ibrahim dibakar. Selain karena saya lupa teks haditsnya takutnya salah *tidak berani menduga-duga masalah agama* lebih dari itu boro-boro mau membunuh nyentuh pakai sapu saja tidak berani kakaaaa!.

Apapun itu kita lega dan sangat bersyukur si tokek sudah keluar. Kami pun sudah tersadarkan betapa Maha Kuasanya Alloh SWT. Betapa ia yang membuat segalanya mungkin. Hanya kepada Dia lah kami berserah diri…Lahawla wala quwwata illa billah…

Selamat datang 30.12.2014 penghujung tahun semoga hari ini lebih baik dari kemarin, aamiin.