-198- Museum Sumpah Pemuda: Merinding karena semangatnya dan Ngeri juga karena…

Asli tidak direncanakan. Tidak terpikirkan. Karena kita nginep di Cordella Senen terus tiba-tiba suami pengen jalan ya udah. Dan kita juga gak tau kenapa milihnya yang ke kanan bukan ke kiri yang ternyata disanalah keramaian. Toko buku kwitang juga di sana. Padahal kita tuh pengen banget ke sana. Sudah lama gak ke sana setelah selesai kuliah.

Tapi jalan pake feeling itu kadang menyenangkan. Mungkin karena masih misteri apa yang akan dihadapi di depan. Kayak penasaran gitu di depan ada apa ya… Berharap menemukan hal-hal aneh hehe.

Nah, ini kejadian di kita kemarin. Pas baru beberapa melangkah liat gedung jadoel dong. Ya gimana saya mah liat yang begituan langsung kuat rasa penasarannya.

Pelan-pelan masuk. Liat-liat kursi nya yang antik dan cantik. Lama-lama keluarin hp, jepret jepret jepret. Dan liat pintu. Di dalam sepertinya tambah mengasyikan.

Seorang satpam sepertinya pura-pura saja keluar dari pos nya. Yaelah saya baru sadar ternyata ada pos satpamnya. Secara ini rumah langsung terbuka gitu aja dengan trotoar tanpa pembatas. Dari tadi sepertinya di balik pos itu mengamati gerak gerik kami.

Karena suami juga sepertinya tertarik untuk masuk maka bertanyalah ia😁 Pucuk dicinta ulam pun tiba inituh gedung sumpah pemuda. Semua orang boleh masuk. Isi buku tamu bayar dua rebu untuk umum dan seribu untuk anak-anak. Sudah. Akhirnya kita masuk rumah kuno lagi setelah dulu di Jatibarang. Di rumah mbesaran punya pabrik gula itu. Ah hatiku senang. Selalu senang saya masuk museum wkwkwk. Jadi berasa anak SD yang serba ingin tau wew.

Posisi saya moto di trotoar.

Set kursi yang sangat aduhai. Nenek saya punya mejanya dan emang bagus banget.

Tiket yang sangat murah. Sungguh terlalu dekat sana kalo gak pernah berkunjung. Hehe bercanda.

Kita masuk melalu pintu tengah. Pintu utama. Langsung masuk ruang tamu. Dan bentuknya masih begitu. Di set persis seperti keadaan dulu kala. Orang-orang sedang berdiskusi dengan buku-buku tebal berbahasa inggris dan belanda sebagai bahannya. Semangatnya sampai. Merinding. Di tahun itu. Di jaman itu. Pikiran orang-orang ini sudah menembus waktu.

Saya mau bukunya… juga set kursinya!
Liat buku-bukunya saya jadi ingin belajar dan belajar dan belajar

Di ruangan itu kita juga bisa melihat foto-foto jadul. Tulisannya Batavia 1920-an. Dengan foto stasiun senen saya kira dan kereta uap yang sedang melintas. Saya benar-benar merasa sedang berada di tahun itu. Dengan semangat orang-orang muda ini. Mereka,,,ah! Pikirannya tentang ingin sungguh mengagumkan.

Dari ruang tamu itu di kanan kiri ada pintu. Kita memilih pintu sebelah kanan. Di sana kita memasuki ruangan penuh dengan kata-kata semangat.

Lagi-lagi kursi ini canteks.

Ada pesan Ki Hajar Dewantara seperti di atas. Ada juga karya Mohammad Yamin. Di saat itu. Orang-orang begitu sangat ingin merdeka. Menentukan arah langkahnya sendiri. Karena ternyata kitapun mestinya bisa. Ingin menjadi manusia yang merdeka seutuhnya. Yang dengan sadar melakukan sesuatu bukan karena keterpaksaan. Di ruangan ini masih terasa sekali kedaerahannya. Pemuda-pemuda dari daerah yang sedang mencari jati diri bangsa.

Dari ruangan ini kita masuk ke ruangannya Indonesia Raya. Ada Replika wajah Wage Rudolf Supratman. Ada biola yang ia mainkan. Dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan di ruangan ini.

Ada foto WR Soepratman juga dengan adiknya. Jadul sekali. Gayanya alamak mantap di jaman itu. Hehe. Kok saya malah fokus ke gayanya ya😄

Indonesia Raya ini diperkenalkan WR Soepratman pada kongres pemuda II di Batavia 28 Oktober 1928. Hal ini menandakan dimulainya era ide satu indonesia sebagai penerus hindia belanda daripada dipecah menjadi koloni-koloni (wikipedia). Para pemuda menginginkan negara baru nama baru dengan orang-orang merdeka di dalamnya. Tahun ini baru awal. Baru benih. Belum panas. Baru oh iya ya!

Dari ruangan Indonesia Raya kita akan masuk ke era di mana pemuda sadar bahwa ide ini harus disebarluaskan maka dimulailah penyebaran ide melalui tulisan-tulisan di media massa. Salah satu koran yang dinilai subversif adalah Benih Merdeka. Harian ini terbit pertama kali tahun 1916 di Sumatera Utara. Agaknya sumatera ini menjadi pulau literasi semenjak dulu kala. Yes perjuangan paling frontal ternyata dari sumatera. Dan mereka pun sangat berani menggunakan kata merdeka dalam tulisannya.

Ya koran penampakannya tidak banyak berubah dari dulu sampe sekarang.

Karikatur itu sangat jelas menggambarkan bahwa kita ingin merdeka. Ini tahun baru 1920-an. Dan aroma kemerdekaan sudah tercium. Waktu pun tak sabar mengabarkannya. Tulisan-tulisan itu memiliki nyawa siapapun yang menulis dan menggambar dia tahu maunya.

Lanjut ke ruangan yang lebih besar. Sepertinya ini ruang keluarga. Di sana ada miniatur dulu ketika para pemuda ini melakukan kongres pemuda II. Ada WR Soepratman yang kiranya sedang memperdengarkan Indonesia Raya. Suasananya saat itu sulit dibayangkan. Tapi saya yakin penuh semangat yang menggebu-gebu seakan indonesia sudah ada.

Kemudian berita tidak hanya disebarluaskan melalui koran tapi juga radio. Waktu itu radio semasyhur youtube hari ini. Riuh rendahnya semangat perjuangan terasa sampai kepada kita yang hanya menyaksikan sisa-sisa ceritanya. Saya senang sudah ke sini.

Tapi jujur setiap kali berganti ruangan saya kaget. Ada rasa ngeri dan takut melihat patung-patung ini. Maryam beberapa kali bilang takut. Enggak. Saya gak bakal cerita horor. Tapi emang takut gimana si.

Liat foto patung sedang mendengarkan radio itu tuh kita banget di masa lalu. Tapi saya ngeri juga. Apa karena warna fotonya yang malah mengingatkan saya ke masa G-30S PKI. Tolong saya seperti melihat sebuah adegan di film itu. Sarung. Kursi. Dan radio. Iya si radio di tahun 1960-an pastinya sudah berevolusi.

Dari ruang radio itu sampailah kita ke ruangan terakhir di mana berderet panji-panji kepemudaan dalam sebuah lemari kaca yang ditaruh di tengah ruangan. Jong java, jong sumatra, dan jong jong yang lain. Kita pun sampai ke pintu sayap mmm aseli saya bingung dengan arah mata angin. Pokoknya kalau menghadap jalan ini tuh pintu sayap kanan.

Selesai sudah jalan-jalan singkat yang tak direncanakan ini. Yang tentunya sangat menguras energi. Ya karena kita seperti berjalan di lorong waktu. Fiuhh. Ikut bergelora dengan semangatnya sekaligus ketakutan dengan semua patung-patung di ruang temaram. Mereka tuh seperti mengagetkan kita tanpa rencana. Hahahaha.

Dibuang sayang, biar tambah terlempar ke masa lampauuuu….

Berkunjunglah ke tempat-tempat seperti ini. Paling tidak membuat kita bergetar karena semangatnya kemudian termotivasi dan bersyukur karena ternyata banyak hal yang telah kita capai sampai hari ini. Dan bersiaplah untuk pencapaian-pencapaian selanjutnya. Brace urself!

-188- Rest Area Banjaratma: Antara Nostalgia dan Harapan

Bismillah.

Haiii ketemu lagi di edisi jalan-jalan. Keluarga kita emang kalo jalan masih yang dekat-dekat. Di sekitaran. Pengen sih jauh sekali-kali. Tapi, kok ya rasanya belum merasa harus apalagi penting, hehe. Kita tuh kadang merasa gak enak hati kalau hanya jalan buat bersenang-senang. Bukan salah. Tapi emang kita gak biasa. Jadi sekalinya jalan-jalan yang jauh itu biasanya sekalian. Sekalian ini sekalian itu😄

Sore di hari sabtu. Setelah rumah tenang. Setelah bocah-bocah pindah bermain ke rumah kaka ipar. Kita bersiap. Saya yang duluan rapi, jemput Maryam.

Perjalanan dari rumah ke Banjaratma kurang lebih lima belas menitan. Dekat khaaaan…Maryam pun tidak sampai ketiduran.

Lokasinya itu, setelah Pasar Banjaratma. Persis di saluran air peninggalan Belanda kita belok ke timur. Ini dari arah selatan ya bukan dari jalan tol pejagan-pemalang. Nah dari sana, sudah keliatan rumah-rumah jadoel yang masih kokoh sebenarnya. Cuma ya gitu, gak terawat. Seratus meter apa kurang ya, pokoknya dekatlah, setelah kita belok itu. Di sebelah kiri, sebelah utara, ada gada-gada. Saya lupa tulisannya apa. Tapi di sana ada gada-gada plus tempat satpam yang usang. Kita masuk saja tuh. Nanti akan disambut oleh beberapa laki-laki yang bertugas menjaga parkiran. Kita dikasih semacam karsis parkir seharga Rp3.000,- Dan itu sekaligus tiket masuk.

Sementara itu, jika kita masuk lewat tol pejagan-pemalang berada di km 260B. Saya belum pernah. Tapi kayaknya aksesnya lebih mudah karena lebih jelas terlihat.

Pertama kali saya ke sini tuh sekitar akhir 2016 atau awal 2017. Saya masih ingat, waktu itu, rumah-rumahnya masih cukup bagus. Bahkan ada air mancur besar di pekarangan salah satu rumah. Dan air mancur itu yang terus tergambar di kepala saya ketika mengingat komplek perumahan pabrik gula. Itu semacam simbol kemakmuran bagi saya. Kejayaan. Dan kini itu tak nampak. Bekasnya sekalipun tak ada. Di halaman perumahan yang berjejer di sebelah barat dari utara ke selatan itu tinggallah puing-puing kenangan kejayaan masa lampau. Kalo di video jadi sedikit seram karena terlihat asap. Memang terlihat beberapa titik bekas bakar-bakar di sepanjang rumah. Walaupun begitu, rumah-rumah masih berdiri, kalo kain mah compang camping. Bolong di sana sini. Pabrik gula riwayatmu kini🙁

Sebelah timur rumah ditanami tebu. Mungkin untuk memasok pabrik gula (PG) yang masih beroperasi di Pangkah. Karena di Brebes ini dari tiga PG sudah habis semuanya. Terakhir yang berhenti beroperasi yang di Jatibarang. Kini menjadi agro wisata. Sedih sebenarnya. Saya pernah ke sana untuk survei. Dan ngobrol dengan manajernya. Nanti insyaAlloh saya post. Ceritanya agak menyesakkan, antara harapan dan kenyataan gitu.

Saya takjub dengan area PG Banjaratma ini: luaaaaasss. Tak terbayangkan betapa hebatnya dulu di sini. Menurut sumber yang saya baca luas keseluruhan mencapai 11ha. Di mana 5ha digunakan untuk area UMKM. Kemarin saya ke sana sudah lengkap. Fasilitas seperti masjid, toilet umum yang modern, tempat kulinari yang lumayan lengkap, SPBU, sepertinya sudah lengkap. Ditambah dengan wisata cagar budaya, tentu menjadi daya tarik tersendiri. Kalian yang sempat mungkin perlu mencobanya. Apalagi yang dulunya pernah mengalami era PG ini masih aktif, perlu banget ke sana dan rasalan sensasinya.

Entah kenapa suami saya malah kecewa. Dulu waktu dia SMP masih mendapati PG. Dia teringat sering menumpang kereta tebu yang melintas ketika pulang sekolah. Entahlah masa kecil saya jauh dari yang namanya kemajuan budaya. Katanya dulu itu di sana ramai. Ramai dengan pekerja. Pabrik yang mengepul. Hangat dan hidup.

Di bangunan itulah pusat belanja sekaligus wisata cagar budaya. Dulunya itu adalah pabrik. Pabrik dalam arti sebenarnya. Di dalam masih ada sisa-sisa bekas pabrik. Tidak banyak dan belum menggambarkan mekanisme kerja pabrik jaman dulu, menurut saya sih. Yang masih sangat terasa tempoe doeloenya itu adalah bentuk bangunannya.

Pintu dan jendela yang tinggi dan besar sebagai ciri khas bangungan Belanda.

Masuk ke dalam kita akan disuguhkan dengan berbagai macam variasi jajanan buat oleh-oleh atau sekedar buat makan-makan. Suasananya pas kemarin kita ke sana sekitar jam lima, tidak begitu ramai. Kebanyakan penduduk sekitar yang jalan-jalan. Oleh-oleh khas brebes seperti telur asin berbagai olahan, bawang merah, dan berbagai kerajinan ada di sini. Makanannya juga lengkap. Hampir semua brand warung makan terkenal di brebes ada di sini, sate pun yang dibakar kayaknya ada.

Kayak gini suasananya.
Ini salah satu spot yang lumayan rame. Kelapa muda sih yang narik banget.

Kalau gak begitu lapar pilihan camilan yang tidak mengenyangkan namun bisa buat badan melar bisa jadi pilihan🤭 Seperti yang saya coba: tempe mendoan. Enak. Daya tariknya bukan mendoan sebenarnya tapi air kelapa muda. Itu yang bikin pengen nyoba. Tapi ya gitu kalau ada minuman berasa aja ada yang kurang, hehe. Air kelapanya seger. Dan pastinya masih muda. Bukan judulnya saja kelapa muda tapi isinya harus dikeruk pakai benda tajam. Ini tuh dawegan kata orang sunda, degan kata orang jawa.

Sebelum kita ngemil kita keliling dulu. Kalau menurut saya jangan terlalu over estimate. Takutnya kecewa. Yang bener-bener masih gaya jadoel itu bangunannya. Selebihnya ya seperti yang sering kita temui stand makanan di mall-mall atau di tempat keramaian yang lain. Dan ada satu kereta tebu yang di pajang di halaman sebelah timur. Dekat masjid.

Yang tersisa dari pabrik gula itu sendiri mungkin gambar di bawah bisa banyak cerita. Karena saya gak ngerti. Menurut saya itu hanya susunan batu bata. Entah dulunya buat apa.

Di luar bangunan pabrik yang masih kentara kunonya adalah dinding yang dililit tetumbuhan. Ini juga lumayan buat foto-foto. Selain juga bakal kita dapati kereta tebu yang dijadikan pajangan dan reruntuhan yang dibiarkan begitu saja.

Spot kereta tebu itu yang paling instagramable makana paling ramai. Foto-foto memang sudah membudaya🙂 Coba saja kamu ke tempat baru kalau gak gatel kepengen foto; hebaaaaaatttt….

Dan bangunan baru penunjang rest area seperti masjid dan spbu berada tepat dekat jalan masuk dari arah tol.

Yes. Itu jalan-jalan kita sore sabtu ini. Kesimpulannya, oke banget buat foto-foto. Buat jalan-jalan melepas penat penduduk sekitar. Dan tentu saja tempat istirahat buat pelancong.

Ini juga menjadi lahan rejeki baru untuk penduduk sekitar. Setelah dulu kecewa karena jualan oleh-oleh turun drastis setelah adanya tol pejagan-pemalang ini. Okelah buat mengobati rasa kecewa. Sasarannya memang UMKM. Yang dulu bisa berjualan di depan rumahnya. Di depan jalan. Kini bolehlah dibilang lebih nyaman. Mungkin. Saya gak tahu, karena harga per stand nya kok mahal banget ya. Apa saya yang salah dengar. Atau mas-mas yang saya tanya menjawab salah. Entahlah. Katanya 14,5 juta per bulan. Bener gak sih? Ada yang tahu? Saya tanya ramai atau enggak, katanya lumayan. Tapi kok rasanya mahal banget ya🤔 Atau saya yang minim ilmu dagang kali ya.

Kalau suami saya kecewa karena ia bisa membandingkan jaman PG ini masih aktif dengan sekarang. Menurutnya, dulu itu lebih keren. Mungkin dari sisi industri. Gula kan termasuk kebutuhan utama. Rumah tangga mana sih yang gak pake gula untuk memanisi kehidupannya😜 Berarti ini usaha penting. Memegang kendali penting. Kalau negara bisa pegang kendali. Hebat. Suasananya juga dulu lebih elegan. Katanya. Ya namanya pengusaha besar sekelas pabrik gula tentu pegawainya dari yang atas sampai rendahan bangga. Ditambah bangunan-bangunan yang megah. Itu aset banget membuat kagum siapa saja yang berkunjung.

Saya sendiri? Saya berdiri di sana. Di pabrik gula yang besar itu. Seperti ada ruang kosong menghempas. Angin yang berdesir seperti terus mengingatkan pada semua artikel dan film pendek yang saya baca dan tonton tentang kejayaan PG di masa lampau. Bisakah ia kembali berjaya??? Kenapa kita hanya bermain di kelas mikro kecil menengah? Pemain besarnya siapa? Bukankah kita ini bangsa yang besar? Please jangan bilang saya meremehkan usaha mikro, kecil, dan menengah. Tak ada sedikitpun niatan seperti itu. Hanya saja kita pernah besar kenapa. Kenapa?

Mahal buk. Kita gak kuat revitalisasi mesin gula. Tapi percayalah dulu itu pernah ada yang mau dan siap bekerja untuk mengembalikan kejayaan masa lampau. Kita pernah berharap. Asa yang indah, paling tidak untuk para pegawai PG. Tapi orang seperti inipun tersingkir. Bayangkan jika kita bisa kembali seperti dulu. Jangan bilang tak mungkin. Bukankah kita pernah berada di bangku sekolah yang sama dengan pesan “gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”.

Arghhhh, saya jadi sedih. Semoga. Saya hanya berani berdo’a dan berharap. Sebagai masyarakat biasa. Mungkin hanya itu. Berharap ini tidak sekedar nostalgia yang indah. Tapi menjadi harapan untuk kesejahteraan. Mungkin nanti kita pun akan bangga dengan rest area ini seperti dulu pabrik gula nya. Aamiin.

Dan kumandang adzan magrib mengingatkan kita untuk berhenti. Bye…

-163- Review Hotel: MG Setos Semarang

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Sekali-kali menulis dari Semarang. Dan sekali-kali mencoba review hotel. Sudah lama ingin. Tapi tak pede. Maklum seringnya nginep di hotel selalu dibayari. Selalu ketika pelatihan. Pernah sekali berbayar. Tapi lama dan fotonya tidak ada.

Dan bersiaplah postingan pertama saya penuh gambar. Nulisnya saja berat bol! Pake hape lagi💆‍♀️

Kali ini karena kamarnya juga gede. Bersih. Keren. Barangkali ada yang berminat. Dan sedang mencari-cari.

Kamar yang saya tempati ini berada di lantai 11. Luasnya 90 meter persegi. Gimana gak luas ya untuk dua orang.

Hotel Mg Setos sendiri mulai dari lantai 8. Kamarnya ada di 9, 10, 11, dan 12. Kamar yang saya tempati tipe executive suite. Ini adalah kamar kedua terluas yang pernah saya inepi. Selain apartemen tentunya. Norak gak sih 😅✌️ Harganya sekitar 2,7jt. Normal. Tapi kalo rombongan macam pelatihan gini bisa ditekan lumayan banyak.

Untuk lebih jelas bisa langsung ke web penjualan. Semacam traveloka, trip advisor, dan yang lainnya. Biasanya banyak diskon.

Tapi jangan salah, karena ini saya pengen nanti sekali-sekali ngajak keluarga jalan. Nginep di hotel kayak gini ini.

Oke let we see penampakannya.

Hal pertama setelah check in kita bakalan dapat kartu.

Tempat kartu yang dari kertas itu selain untuk menyimpan kartu juga ada username dan password wifi hotel. Kartu putih polos ini sangat berguna. Kalian kalau tidak punya kartu ini jangan coba naik lift. Pusing gak nyampe-nyampe.

Kalo dibuka ada pass wifi

Lift nya memang sudah dirancang. Hanya bagi pemegang kartu. Alias mereka yang nginep. Alias yang check in. Alias yang bayar. Hello hari gene makan siang gratis 😁

Si kartu tinggal di tap di tempatnya ketika naik lift. Biasanya di atas nomor lantai. Lanjut pencet nomor lantai. Jalan. Kalau enggak di tap ya wassalam. Masuk ke kamar pun begitu. Aksesnya pake tap kartu.

Model kayak gini sebenarnya sudah umum. Tapi kadang karena ke hotelnya sekali-sekali sering lupa.

Pemandangan pertama adalah ini:

Lorong panjang menuju ranjang. Panjangnya kurang lebih enam meter. Dan kosong. Lorong saja. Saya manfaatkan buat olah raga di situ. Lumayan kan bisa berlari-lari.

Di sebelah kirinya itu kamar mandi. Yang sungguh bagi saya terlalu luas. Ada bathtub nya. Ada showernya. Tinggal pilih.

Pintu kamar mandi

Di samping kanan pintu adalah pengatur suhu. Bukan remote batangan. Yang kadang kita lupa naruhnya di mana.

Pemandangan pertama ketika buka pintu

Ini bath tub nya bersih banget. Masih putih bersih. Belum berubah warna sama sekali.

Di meja kaca itu. Ada berbagai perlengkapan untuk membersihkan diri. Ada sabun, shampo, cotton bud, sisir, pasta dan sikat gigi, shower cap, dan tempat sampah. Lumayan lengkap kan?

Kalau shampoan rambut kita basah, tenang. Ada hait dryer juga di sana. Tertempel di tembook di sebelah kanan kaca.

Penampakan sebelah kiri kaca.

Yang menarik hati. Di sebelah kiri ada kaca untuk make up. Pokoknya nih kaca bisa kita dekatkan ke wajah. Ada dua sisi. Satu sisi kaca biasa. Sisi lainnya cembung. Wajah kita jadi terlihat sampai ke pori 😅

Ini sih kayak lihat ikea hacker. Tapi serius kaca bulat yang nempel ke dinding itu: jenius!

Nih bathtub yang saya bilang bersih. Bentuknya juga lucu. Simple elegan gitu. Halah halah.

Pemandangan dari bathtub

Sebelah kanan adalah shower.

Dan terus berjalan akan kita dapati wc:

Ini juga nice. Mulus. Gak gropak-gropal. Apa juga gropal-gropak. Intinya gak ada suara. Nyaris tak ada suara.

Lukisannya juga membuat hati senang. Tenang.

Dari kamar mandi adalah ranjang. Ini sih biasa ya. Setiap hotel mesti ada ini. Yang beda single atau double. Dan ukurannya. Punya kita single ukuran king.

Ngomong-ngomong soal kasur. Saya pernah intip. Penasaran. Merk apa sih yang biasa dipakai hotel. Yang saya pernah intip sih king koil. Saya tambah penasaran. Cek harganya. Oh yeah bukan budget saya. Kurleb seharga N Max.

Tapi saya boleh berbangga. Dulu di Sulawesi. Kasur spring bed saya merk king koil. Seharga 2 juta ajah. Lho kok?

Pasti KW.

Aseli kaka!

Lantas?

Ehm! Well B E K A S. Dan masih dua juta. Seharga spring bed baru merk lain.

Kualitasnya walau bekas masih oke punya. Seriusan. Saya pindahan. Itu spring bed saya lungsurkan. Memang ya harga mencerminkan kualitas.

Untuk beberapa kasus harga bisa mencerminkan kualitas.

Di tempat saya dulu adalah surga barang bekas. Barang bekas dengan kualitas internasional. Biasanya sisaan hotel. Kata si pedagangnya banyak dari Singapore.

Kalau berminat coba saja jalan-jalan ke sana: Wakatobi.

Soal TV juga buat saya paling penasaran. Duh saya benar-benar ndeso. Baru kali ini lihat TV dengan jaringan. Bisa nonton sepuasnya. Karena ada hooq, iflix, hbo. Acara TV nya pun bisa disimpan.

Saya sampai fokus. Cuman ngotak ngatik saluran. Wkwkwk.

Kasurnya seperti biasa di hotel

Lemarinya sederhana. Dua pintu. Jenis hanger. Pakaian yang dilipat bisa di bawahnya.

Ohya itu yang di sebelah kiri. Kaca lebar pembantas kamar mandi aseli terbuka. Tapi tenang, ada tirai anti air yang bisa dijadikan penutup.

Cocok banget ni kamar buat yang lagi honeymoon.

A…nd the view! Itu kota Semarang! Cantik.

Balik ke belakang kita dapat ini:

Pintu keluar dan ada ruang tamunya sodara-sodara. Sofanya nyaman bangat. Bagi saya yang imut ini cukup nyaman. Biasanya kan kursi hotel gede-gede. Standar tubuh internasional 😁

Di sana juga ada pemanas air. Berbagai minuman: kopi dan teh termasuk gula dan creamer. Ada air mineral tentunyah. Dan cangkir-cangkir.

Oke that is all. Penilaian saya oke banget. Lega. Nyaman banget untuk keluarga kecil dengan satu anak. Bisa pesan crib. Tapi yang paling nyaman adalah untuk pengantin baru.

Ini adalah versi low budget. Karena saya serombongan. Kalau yang benar-benar pesan pribadi mungkin lebih wah.

Ohya hotel ini sangat dekat dengan Paragon Mall. Yang suka cuco mata. Gak usah belanja kan. Dekat lawang sewu juga. Bagi pecinta sejarah. Dan nostalgia.

Semoga bermanfaat. Minimal jadi kepengen. Terus nabung. Aamiin…

-127- Semarang Pertama Kali

Bismillah.

Siapa sih yang tidak terpana melihat bangunan tua jaman belanda masih berdiri kokoh sepanjang jalan. Melempar jauh kenangan ke masa meneer dan noni-noni cantik Belanda. Saya jadi ingat novel tetralogy karya Pramoedya Ananta Toer. Salah satunya Bumi Manusia. Bercerita sosok Minke seorang pribumi bersekolah di HBS dan kemudian jatuh hati pada Annelies anak dari seorang Nyai.

Penggambaran di novel tersebut tampak nyata di kepala. Rumahnya yang besar, peternakannya, kereta kudanya, dan semua yang diceritakan bagai masuk ke jaman itu. Demi apapun saya sangat ingin melihat kondisi di masa itu.

Sedari berkenalan dengan novel-novel semacam bumi manusia saya selalu ingin melihat benda dalam bentuk apapun dari masa itu. Apakah itu bangunan, marka jalan, atau bahkan benda kecil sebangsaning pulpen, uang koin, apapun lah.

Dan Desember kemarin, berhubung saya dan suami harus menghadap ke kantor BPS Jateng. Namapun pegawai pindahan baru yah minimal ketemu dulu sama atasan kita di provinsi. Untuk pertama kalinya saya ke Semarang.

Seumur-umur saya tidak pernah membayangkan akan ke samarang. Kalaupun saya punya bucket list kota-kota yang ingin saya kunjungi maka Semarang tak pernah masuk.

Dalam benak saya, Semarang itu panas, gersang, dan saya agak males berkunjung ke tempat-tempat yang terik seperti itu kecuali tanah suci dan kota-kota di sekitarnya, wkwkwk. Jadi, sekalinya ada kesempatan ke Semarang ya, saya biasa-biasa saja.

Naik Kereta Api dari Cirebon. Urusan naik moda transportasi satu ini saya tidak menolak. Saya paling suka naik KA. Tempat duduknya luas, bisa bobo selonjoran dan bisa jajan. Katanya beli makanan di kereta itu sensasinya tak terlukiskan. Berlebihan memang, tapi kamu harus nyoba sekali-sekali beli makanan di KA. Saya sudah beberapa kali sih beli dan emang menyenangkan. Asik saja gitu.

Ohya satu hal KA kan mirip-mirip pesawat soal ketepatan waktu berangkat. Jadi mesti teliti dan rencanakan seefektif mungkin kalau tidak bisa jadi ditinggal. Saya kemarin hamper saja ditinggal. Alhamdulillah masih rejeki.

KA berangkar jam 7.01 WIB, dari rumah disopiri adek kita berangkat jam 17.00 WIB. Yah, biasanya kan Cikijing-Cirebon bisa ditempuh kurang dari dua jam. Jadi, agak santai sampai pada suatu titik jalanan mendadak melambat. Mobil di kanan-kiri padat. Ternyata jalanan ke arah Cirebon tak seperti dulu lagi. Kini tak ubahnya Jakarta.

Namanya masih rejeki adek saya pinter-pinter nyari jalan tikus sampai akhirnya sampai stasiun jam tujuh teng. Saya dan suami berlari langsung ke penjaga pintu masuk KA. Dan Alhamdulillah si kereta masih ada di sana. Masih ada kesempatan beberapa menit.

Petugas jaga amat sangat membantu menukarkan tiket online kami dengan tiket KA resmi dan menghubungi bagian dalam KA agar menunggu kami sebentar. Akhirnya kami berdua lari sekencang-kencangnya menuju gerbong yang tertera di tiket. Bukan main capeknya. Saya sampai salah masuk gerbong.

Padahal sebenarnya ya, tidak apa-apa masuk dari ekornya gerbong kalau semisal gerbong kita di kepala. Kan keretanya sambung menyambung. Jalan saja santai seharusnya di dalam kereta. Yah, begitu deh kalau lagi bingung jadi gak bisa mikir. Walaupun sudah diingatkan, “masuk saja Bu”. Tapi saya kayak yang denger gitu terus saja berlari. Sampai di kursi bukan main lelahnya emak-emak yang jarang olahraga ini.

Turun di Stasiun … kita naik taksi menuju hotel. Nah, waktu di taksi ini melewati kota lama dan masyaAlloh jejeran bangunan tua jaman Belanda melambai-lambai cantik ke arah saya. Ohhh ini toh Semarang yang tidak ada di bucket list saya, ternyata masyaAlloh cantik sekali kotanya, eksotis.

Besoknya kita ke simpang lima sepulang dari kantor. Dan bersih. Rapi. Kita bisa duduk-duduk santai. Kita pun pulang jalan kaki ke hotel. Jauh tapi senang bisa jalan-jalan di Semarang

Saya sempat beli siomay. Sebagai orang Jawa Barat ya pastinya tidak asing dengan namanya siomay. Eh, di Semarang ini rasa siomaynya jauh dari rasa yang saya kenal: manisss banget. Sudah s-nya banyak pake banget lagi. Rasanya ini bumbu siomay gula semua.

Dekat hotel ada yang jualan nasi kucing. Oke coba lagi. Enak. Tapi kalau disuruh milih saya mau nasi lengko dekat rumah mertua saja 😀

Nasi kucing ini ya karena porsinya amat kecil seperti makanan kucing. Lauknya macem-macem tinggal milih. Ada tempe, cumi, udang dan lainnya, ditambah bakwan atau gorengan lainnya. Ya oke lah buat yang lagi diet seperti saya 😉

Siangnya kita pulang deh.

Sampai Jumpa Semarang…

-116- Surga yang Tersembunyi

Bismillah.

Hari sabtu sore sekitar jam setengah lima saya dan suami pun Maryam bermotor ke suatu tempat. Tempat yang sudah kami dengar sebelumnya. Menurut cerita yang kami dengar, tempat ini sangat indah. Sangat indah. Sepertinya tidak ada kata lain untuk melukiskannya. Begitulah yang selalu kami dengar. Sampai hari ini kami harus membuktikannya.

Lumayan jauh dari tempat kami. Perjalanan kurang lebih 15-20 menit dengan motor. Sampai di sekitar lokasi Sombu kami kebingungan menemukan lokasinya. Kami berhenti di depan pintu gerbang yang bertuliskan nua indah. Tapi yang kami cari bukan nama ini hanya kata nua yang sama.

Bertanya ke orang di sekitar yang kebetulan lewat, “Wasabi Nua?”. Si anak yang kami tanya kebingungan. Sampai muncul seorang yang mengarahkan telunjuknya pada papan nua indah. “Di sana, masuk saja”.

Kami pun masuk. Tempat yang bertuliskan nua indah ini sepertinya diperuntukkan awal sebagai tempat rekreasi alam yang dikelola individu masyarakat. Namun sayang tidak terawat. Ketika sudah sampai ke ujung barulah kelihatan lumayan banyak pengunjung. Kebanyakan anak muda berpakaian kekinian.

Tempatnya sendiri tidak ada yang istimewa menurut saya. Hanya hamparan tanah yang sesekali ditumbuhi pepohonan. Beberapa merupakan pohon menahun. Kesannya rimbun karena sekeliling area ditumbuhi pohon. Tapi tidak ketika kami mulai menuruni tanahnya dan menyibak jejeran pohon karena di sana ternyata laut dan di seberangnya tersembunyi cantik seonggok batu super besar seperti pulau super kecil yang indah masyaAlloh. Batu besar tersebut dihubungkan dengan jembatan kayu.

Air yang jernih di bawahnya adalah keindahan tanpa seorang pun menolak ditambah pulau kecil ini. Memang tidak ada kata lain selain MasyaAlloh indahnya…

Kata-kata sulit melukiskannya. Satu gambar akan bercerita banyak. Mungkin itu juga kenapa instagram begitu digandrungi *gak nyambung*. Gambar dapat bercerita banyak.

heaven!
heaven!
ala-ala menuju negeri dongeng
ala-ala menuju negeri dongeng

Keindahannya jangan di tanya. Datanglah ketika matahari akan tenggelam dan itu ah…masyaAlloh. Semburat merahnya melemparkan kita jauh ke khayalan yang paling romantis sekalipun.

masyaAlloh...
masyaAlloh…
see u tomorrow...
see u tomorrow…

Jangan khawatir batu besar ini telah didesain senyaman mungkin oleh pemiliknya. Entahlah sungguh beruntung kalau memang bisa dimiliki. Diatapi bagian tengahnya sehingga bisa menikmati sekalinya turun hujan. Ada layar cukup besar juga di bagian tengah dan di sekelilingnya disediakan bangku-bangku plus meja untuk sekedar duduk-duduk dan menikmati menu yang disediakan. Tidak ada tiket masuk tapi kalau mau menikmati di bagian atas agar lebih nyaman dan puas menikmati laut dan matahari dan nelayan yang melintas dan semuanya kamu harus tahu diri beli makanan atau minuman yang memang harganya rada tinggi.

maunya leyeh-leyeh sambil baca novel misteri hhe...
maunya leyeh-leyeh sambil baca novel misteri hhe…

Ketika kita naik ke atas seorang pelayan akan sigap menyambut kita dengan deretan daftar menu dari yang berat, ringan sampai minuman. Wakyu itu karena ingin mencoba jadi kita pesan makanan berat sama minuman. Harga total lumayan tinggi dengan taste yang seperti itu tapi yah terobati dengan pemandangan luar biasanya. Saran saya jika ke sini pesan minum saja atau makanan ringannya saja.

jus jeruk buat maryam dan kelapa muda punya si abah, saya? biasa minuman kesehatan air putih...
jus jeruk buat maryam dan kelapa muda punya si abah, saya? biasa minuman kesehatan air putih…

Bisa juga gratis tanpa perlu beli makanannya. Caranya jangan naik ke bagian atasnya, cukup duduk-duduk canti di bawah karena ada disediakan bangku-bangku juga. Di sana tidak kalah mengasyikan tapi kalau bawa anak kecil ya repot, takut karena tidak ada pembatas ke laut. Atau cukup foto-foto di jembatannya epik sekali pokoknya.

ngobrol nglor ngidul dilatari laut ...
ngobrol nglor ngidul dilatari laut …

Dan segambreng foto lainnya. Semua poto credited to abah…

picture tells more…

DSCN2802

DSCN2785

DSCN2823

Sampai jumpa di edisi jalan-jalan berikutnya…

-44- Jalan-Jalan di Wakatobi: Perumahan Bajo

Beberapa bulan yang lalu, mungkin 4 atau 5 bulan yang lalu saya, adik ipar dan Maryam sengaja jalan-jalan ke perumahan bajo. Karena sudah lama adik ipar ikut kita di Wakatobi sementara belum pernah diajak jalan-jalan akhirnya saya memutuskan ajak dia ke perumahan bajo yang dekat. Dari rumah pakai motor sekitar lima menitan. Saya pikir mau ke mana lagi di Wakatobi ini selain melihat keindahan lautnya. Dan perumahan bajo ini selain keindahan lautnya tentu saja keunikan rumah-rumahnya yang dibangun di atas laut.

Tentu sudah tidak asing dengan suku bajo kan? Rasanya ulasannya sudah sering di tipi maupun media elektronik lainnya. Suku ini sepertinya ada hampir di seluruh bagian Pulau Sulawesi. Mereka hidup di laut. Tingkat pendidikannya tergolong sangat rendah. Anak-anak suku bajo biasanya tidak sekolah kalaupun sekolah hanya sampai SD. Para orang tua masih berfikiran kalau anaknya haruslah membantu mencari nafkah keluarga. Tapi, belakangan pemerintah mulai aktif dalam menggenjot pendidikan pada suku bajo. terbukti beberapa sekolah didirikan untuk menampung mereka.

Baiklah ini dia jalan-jalannya kita…

20140406_105114salah satu spot perumahan bajo di Wakatobi

jebatandan yang ini jembatan pemisah antar rumah

Pertama kali memasuki perumahan bajo kita akan disuguhi pemandangan jembatan kayu seperti foto di atas. Jembatan yang memisahkan perumahan bajo kanan kiri yah ibaratnya jalan gang. Dan jembatan kecil masing-masing rumah terhubung dengan jembatan utama. Dilatari pemandangan laut biru luas dan disuguhi laut yang masih jernih di bawahnya, subhanalloh indah. Itu kalo kita tengok ke bawah bisa melihat dasar laut loh dan tentu saja ikan-ikannya, rumput lautnya, semuanya!

20140406_105148pemandangan tembus sampai dasar

Pemandangan seperti di atas: segerombolan ikan kecil melintas bukan hal aneh di sini. Pengen nyemplung pokoknya kalo tidak ingat umur plus teriknya matahari.

Kita sih tidak masuk ke rumahnya, gimana kagak ada yang kenal ya. Cukup berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain. Tapi jangan khawatir disediakan tempat istirahat di sana. Di penghujung perumahan, persis berhadapan langsung dengan laut lepas di situlah tempat peristirahatannya. Sengaja sepertinya biar para pengunjung bisa lebih menikmati suasana laut di perumahan bajo. Fasilitas tempat peristirahatannya lumayan lah walaupun tidak dijaga baik-baik. Berhubung sepertiny masih baru jadi waktu itu bagi kami masih oke lah.

persinggahantempat peristirahatan

Di sebelah kanan saya itu ruangan, bisa dipakai buat tiduran kalau tidak salah. Di belakang dan di sebelah kiri saya itu pemandangan laut lepas. Sebelum tempat istirahat yang ini, juga ada satu lagi cuman fotonya kurang bagus. Tempat satunya lagi mirip poskamling.

Segitu saja jalan-jalannya. Jangan khawatir walaupun terkesan hanya sekulibekan itu saja tapi sangat berkesan. Melihat rumah-rumah di atas laut, anak-anak hilir mudik di bawahnya dengan perahu atau berenang mencari ikan atau sekedar bermain permainan anak-anak, pemandangan yang langka bukan?

20140406_105058kayuh-kayuh nyari temen

20140406_102114siang-siang berenang

Bagaimana indah kan? Kalau kamu berkesempatan ke Wakatobi jangan lupa jalan-jalan ke sini ya. Dijamin tidak menyesal. Oy ya kalau ingin merasakan tidur di atas laut ada juga penginapan yang dibangun di atas laut jadi let’s enjoy Wakatobi…