-168- Pagi yang Acak

Bismillahirrohmaanirrohiim

Per hari ini rupiah tembus lima belas ribu. Seperti dulu 1998. Tapi masih terkendali kiranya. Karena harga bakwan masih lima ratus rupiah☺️ Paling tidak di lingkungan saya tinggal.

Saya tidak merasakan dampak krisis itu. Saya juga tidak terlalu memantau beritanya. Kemeriahan Asian Games membuat mungkin sedikit mengaburkan.

Tapi bagi saya tanpa Asian Games pun tetap tidak peduli. Biarkan saja pemerintah bekerja. Selama masih belum terasa. Saya anggap saja tidak ada.

Saya tidak menggunakan dollar. Memegangnya pun belum pernah. Jadi bagaimana bisa berimbas?

Kembali ke Asian Games ini. Ada super junior. Ada Ikon. Pecinta kpop kemungkinan besar tidak peduli dengan angka nominal rupiah. Sama seperti saya.

Saya bukan pecinta kpop. Walapun saya pernah begitu intens mendengarkan lagu-lagunya bigbang. Pernah begitu intens menonton penampilannya. Sejarahnya. Saya tahu. Tapi saya hanya sebatas ingin tahu. Sudah.

Sama tidak pedulinya dengan saya. Mungkin belum sehebat 1998. Mudah-mudahan tidak sampai. Jangan.

Waktu itu saya SMP. Saya melihat kejatuhan Pak Harto. Saya melihatnya di Tv. Ketika ia berpidato dalam rangka melepaskan jabatannya. Saya terpaku di depan tv. Saya tahu kehidupan terus berputar. Kali ini Pak Harto. Besok siapa? Tidak ada yang tahu.

Setelahnya. Pohon beringin ikut tumbang. Di mana-mana. Termasuk di kampung saya.

Saya sedih.

Tidak hanya karena beringin yang tumbang. Sumber oksigen. Tempat berteduh. Tempat bermain. Tempat kami melempar kembang api ketika bulan puasa. Segalanya untuk kami. Tapi juga saya sedih dengan Pak Harto.

Saya tidak tahu. Saya belasan tahun. Tapi saya merasa Pak Harto selalu ikhlas. Saya tidak butuh apa yang ia sembunyikan. Karena setiap manusia memilikinya: hal yang tidak perlu dibagi dengan orang lain. Semua orang memiliki rahasia. Entah itu hitam atau putih.

Kebanyakan kita curiga. Karena tidak sesuai harapan.

Tidak ada manusia sempurna. Begitupun dengan semua pimpinan kita. Selalu ada celah keburukan. Tapi selalu juga ada kebaikan. Tinggal kita mau memilih yang mana.

Di era ini pun seperti itu. Kita mau berdiri di mana adalah pilihan. Tapi itu tidak membuat jari kita harus menunjuk tak pantas. Menuduh yang lain tal benar. Kita tidak tahu seluruh cerita hidupnya. Fokuslah dengan diri sendiri. Dan selalu berpikiran positif dengan orang lain.

Advertisements

-164- Mrs. Leidner

Bismillah

Saya pernah bilang dulu di sini. Beberapa orang mirip Mrs. Leidner. Tapi hari ini saya menemukan yang benar-benar mirip.

Suka menjadi pusat perhatian. Karena itu hampir selalu berusaha untuk menjadi yang paling diperhatikan. Apapun bisa menjadi masalah baginya. Mengundang simpati sekaligus penasaran. Tapi kadang membuat kita jenuh dengan semua masalahnya.

Pembicara yang baik. Malah sangat baik. Jangan coba-coba menyelanya. Dia tidak suka. Tidak begitu suka mendengarkan.

Sangat percaya diri. Apapun masalahnya dia bisa menyambung. Dan kita harus mendengarkan.

Saya benar-benar menemukan Mrs. Leidner pada dirinya. Dia tidak muda. Tapi yang muda tidak bisa bersinar di sampingnya.

Hanya sebuah novel. Novel misteri. Tapi research nya🙀 Tentang kejiwaan seseorang. Dan sukses menghadirkan tokoh. Yang benar-benar bisa kita temui di dunia nyata.

Ketika membaca saya tidak percaya ada orang semacam ini. Orang seperti ini rasanya terlalu ego. Terlalu tinggi. Dia seharusnya memiliki segala hal. Jadi akan sulit saya jangkau.

Tapi ternyata tidak. Orang seperti ini ada. Malah sangat dekat.

Orang seperti ini memang menyebalkan bagi lingkungannya. Akhirnya banyak yang berpikir negatif. Rasa tidak nyaman ketika bersamanya. Persis seperti di novel tersebut.

Tapi kalau kita dekat. Berusaha mengenalnya. Sangat jauh dari yang ia tampilkan di permukaan. Dia loyal. Baik. Dan sangat pemikir. Apa-apa dipikirkan.

Karena itu saya belajar satu hal: dont judge a book by its cover. Quote ini benar adanya. Kita tidak berhak menghakimi orang. Kita tidak tahu seluruh cerita hidupnya.

Positive thinking and positive feelings itu harus. Berpikir dan berperasaan bahwa semua orang itu baik akan baik adanya bagi kita.

Sulit. Saya pun begitu. Apalagi bagi yang sensitif dan khayalannya mengawang. Butuh waktu untuk bisa terus berpositif thinking dan berperasaan positif. Tapi tidak ada yang tidak mungkin. Terus berproses berusaha. Toh hasil bukan kita yang menentukan. Berusaha dan berdo’a.

Selamat menyambuat 17 Agustus semuanya🤗👏

-161- Capres Cawapres Kali Ini

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Asli membuat saya kaget. Mengutip cuitan Pak Mahfud: saya tidak kecewa hanya kaget. Paling tidak sikapnya sangat bijaksana. Kita tidak perlu menyelami hati seseorang kan? Tidak perlu mengira-ngira nanti malah su’udzon. Cuitan nya sudah cukup mengabarkan kepada kita: kaget.

Tidak hanya kubu Pak Jokowi yang membuat kekagetan. Juga Pak Prabowo. Pak Sandi yang wagub itu tiba-tiba yang jadi.

Secara usia dan tampilan fisik rasanya Sandiaga Uno sangat menjanjikan. Kemampuan mengelola bisnis jangan ditanya. Ia salah satu orang terkaya di Indonesia. Tentu bergelut di dunia bisnis. Dunia ekonomi. Karenanya sosok ini mungkin sangat faham bagaimana kapal ini harus diarahkan. Agar masyarakatnya sejahtera. Agar seperti dia yang orang terkaya nomor sekian itu. Walau kita semua tau tidak ada jaminan yang bersifat mutlak. Saya jadi kembali ingat kekalahan Brazil dan Inggris di PD kemarin😌

Sementara di kubu Jokowi adalah KH Ma’ruf Amin. Alumni 212 harusnya tidak asing dengan nama ini. Umat islam pada umumnya minimal tahu nama ini. Beliau ketua MUI. Beliau aktif di NU. Beliau kalau urusan agama tempatnya bertanya.

Harusnya saya tidak kaget. Toh saya tidak benar-benar mengikuti. Tapi beritanya dimana-mana kaka! Tidak mungkin kita tidak tahu. Kecuali tinggal di dalam gua😁

Seperti hari ini. Sabtu pagi yang cerah. Di RS Mahmudah. Nemu ini:

Lihat foto-foto di atas: merinding. Satu foto membuat saya mengkerut. Nah yang kayak gini gak boleh: menebak-nebak ekspresi orang. Padahal mungkin tidak seperti yang di foto.

Ah, kegaduhan lima tahunan itu akan segera dimulai. Atau sudah dimulai?

Kemarin dunia twitter sedikit heboh. Berita tentang cawapres yang belum genap sehari. Membuat gaduh. Mungkin pertarungan itu sudah dimulai.

Seperti biasa tanpa dimau kita semua akan menonton. Selayaknya penonton kita akan ikut semua rasa yang dimainkan. Kita akan senang, sedih, bangga, geram, semuanya akan bercampur dalam perhelatan lima tahunan itu.

Bersiaplah!

-158- Dari Sini

Bismillahirrohmanirrohiim…

Selamat pagi dari Majalengka.

Lha?

Saya akhirnya memutuskan pulang dulu. Istirahat. Buat penyembuhan. Semoga segera diberi kesembuhan, aamiin…

Sakit kepala. Sampai tulisan ini dibuat saya belum tahu karena apa. Tiba-tiba saja. Hari senin pagi seminggu yang lalu. Berarti tanggal 23 Juli. Paginya saya masih ke kantor. Kemudian menyerah jam 8.42. Saya pulang. Kemudian muntah hebat di tengah perjalanan. Hari itu sampai selasa saya istirahat. Tiduran saja di kamar. Berat sekali rasanya.

Hari rabunya saya memaksakan berangkat kerja. Kali ini kerja lapangan. Pikirnya saya: biar plong kalau tubuh ini dibawa jalan dan menghirup udara segar pegunungan. Alamat saya tepar siang-siang, dua jam perjalanan dari rumah. Innalillahi.

Hari itu dan malamnya saya dipijat. Pijatan yang luar biasa sakit. Setelah dipijat dan minum obat saya tertidur. Tapi kemudian bangun kembali berat.

Jujur saya dan suami takut. Tapi selalu berusaha berserah diri kepada Alloh SWT. Semoga apapun ini adalah ujian dan kami diberikan kesabaran dalam menjalaninya. Aamiin. Setelah ini adalah hari yang baru dan semangat yang baru, insyaAlloh.

Saya belum bisa cerita banyak tentang ini. InsyaAlloh lain waktu. Mohon do’anya saja kepada pembaca semua semoga kesembuhan itu segera dan dimudahkan. Aamiin.

Saya mau cerita pagi-pagi ini. Bacaan pertama saya. Tulisan Pak Dahlan Iskan seterusnya saya sebut Pak Dis.

Tulisannya singkat. Sederhana saja. Tentang siapa pesaing Trump kemudian. Tidak ada. Maksudnya belum ada yang benar-benar kelihatan. Tapi bukan berarti tidak ada.

Seperti de javu. Bagaimana tidak di dalam negeri pun rasanya calon masih dua itu saja. Belum ada yang baru. Wajah baru bermunculan berharap-harap cemas dipinang jadi pendamping. Lebih lucu dibandingkan menonton acara lawak hari ini.

Ah, baru saja saya nonton acara tv. Kategori humor. Tapi saya melongo. Apa acara humor hari ini sudah sebegitu tingginya. Saya gak nangkep.

Padahal saya baca tweets masih bisa ngekek. Saya kembali membuka twitter. Tapi memang selalu begitu. Sekedar cari info. Dulu. Sekarang malah cari lawakan juga. Lumayan mengendorkan otot yang tegang.

Baru-baru ini viral cerita seseakun yang mengaku mantan personal asistant nya orang paling kaya di negeri ini. Ceritanya mengingatkan saya pada drama korea Boys Before Flowers. Hahaha. Tiba-tiba saja ingat Gu Jun Pyo. Ini lucu. Saya ketawa dengan pikiran sendiri.

Padahal tertawa itu sederhana ya? Status sederhana. Hal lumrah di keseharian bahkan bisa membuat terpingkal. Tapi lawakan dengan teks dan gimmick dan katanya spontanitas malah gagal membuat saya tertawa. Mungkin saya terlalu receh. Tidak bisa menjangkau itu.

Tentang tulisan Pak Dis itu. Katanya, harapan itu datang dari seorang walikota LA. Ah, saya tidak tahu. Saya bahkan hampir tidak pernah lagi mengikuti perkembangan politik. Bahkan yang sedang hangat di dalam negeri. Entahlah. Rasanya belum berfaedah minimal untuk saya sendiri. Hanya kekesalan dan nyinyiran malah kurang bagus.

Saya hanya mau bilang: setidaksukanya kita dengan seorang pemimpin sebut saja Trump yang memang banyak sekali orang tidak suka, tapi tetap saja dia pemimpinnya. Aturan dan segara prosedural telah membuat dia menjadi pemimpin. Jadi, seperti itulah yang akan terjadi dimanapun ketika keputusan terbanyak itu dijadikan patokan. Dia tidak akan melihat baik-buruk. Yang ada menang kalah.

Saya melihat acara lawak sekarang pun begitu. Antar pemain. Mana yang lebih unggul dia yang menguasai acara. Menang kalah.

Padahal kalo mau ngelawak mah simple saja ya. Tapi kata Steve Jobs justeru yang simple itulah yang membutuhkan pemikiran lebih. Sederhana itu ketika apa yang kita maksud mudah diterima yang lain.

-156- Zohri: antara kaget dan tidak siap

Di tengah hiruk pikuk pertandingan paling bergengsi: piala dunia dan juga piala AFF U-18, siapa sangka cabang olahraga (cabor) yang tidak diperhitungkan tiba-tiba saja mengagetkan. Bukan sekedar kaget tapi kekagetan yang menggemparkan. Beberapa mungkin saja tersentil atau bahkan tersentak sangking kagetnya.

Ketika semua mata tertuju pada bola bundar tak satupun mungkin yang melirik cabor ini: lari jarak pendek 100m. Bukan karena kalah gengsi. Tapi, seumur-umur Indonesia tidak pernah menang cabor ini di kancah dunia. Mesti Amerika Serikat. Pesimis? Disepelekan? Sepertinya luput saja karena tidak pernah menyinggung memori kebanyakan masyarakat kita.

Siapa yang tahu atlet sprinter Indonesia. Kita akan tahu ketika mulai searching di google. Ada nama Purnomo yang Berjaya di era 80-an. Ia pernah menjadi satu-satunya wakil Benua Asia di semi final olimpiade 1984. Kemudian ada nama Mardi Lestari yang juga sukses menembus semifinal olimpiade Tahun 1988. Selanjutnya adalah Suryo Agung Wibowo pemegang rekor nasional dengan torehan waktu 10,17 detik. Kebanyakan menang tingkat Asia dan Asean tapi belum ada yang sampai menang tingkat dunia. Baru kali ini. Pertama kalinya dalam sejarah. Dan kita semua sedang menyaksikan sejarah.

Ketika kemenangan tingkat dunia itu datang. Dan tidak ada persiapan. Kita kaget. Kemudian harus beralasan. Mungkin itulah satu-satunya alasan yang bisa diterima. Akan lebih mudah diterima dan dimaafkan karena pada kenyataannya kita semua kaget tidak siap dengan hasil yang diraih Zohri.

Tapi tetap saja tidak semestinya kita lalai dari persiapan. Melihat kenyataan, ini bukan kali pertama. Pernah terjadi pada Rio Haryanto pada kejuaraan GP3, seri Istanbul Turki Tahun 2010 yang sama-sama tidak diunggulkan kemudian menang. Belum genap sepuluh tahun. Ini adalah sentilan dan sentakan atas kinerja dan tanggung jawab.

Menganggap diri anak bawang. Yang penting ikut apalagi masuk final sudah oke. Mungkin inilah kenapa julukan mental tempe itu melekat. Belum juga apa-apa sudah mengakui kehebatan lawan. Akhirnya tidak ada persiapan sama sekali.

Kemenangan Zohri. Itulah namanya. Lalu Muhammad Zohri anak kampung dari NTB seakan mengagetkan karena ketiadaan memori. Seakan ia dijejalkan sekaligus ke dalam kepala. Seakan kita ditempeleng berjamaah. Lebih dari itu, kemenangannya yang membanggakan itu alih-alih menggembirakan dan menjadi sorakan kebanggaan seantero negeri, kengenesan yang tersisa. Kaget yang bertubi-tubi. Tapi, rasa bangga mengharu biru itu masih ada dalam rasa yang berbeda.

Videonya kemudian viral. Semua orang membagikannya. Menontonnya yang kemudian kaget dan berakhir sedih ngenes. Terlebih video ucapan terimakasihnya. Terima kasih kepada presiden dan seluruh rakyat Indonesia.

Dia berangkat mengikuti kejuaraan saja mungkin tidak ada yang menyadari. Jadi, bagaimana kami mendo’akanmu? Mungkin ini adalah do’a harapan kita seluruh rakyat Indonesia yang sangat ingin diakui di kancah internasional. Kemudian terwujud pada diri Zohri.

Hanya saja kita tidak pernah terpikirkan akan di cabor lari jarak pendek 100 m. Kita hanya tahu badminton yang notabene telah menorehkan memori manis. Atau pada sepak bola yang sangat bergengsi. Yang kemudian terus menjadi pengharapan tak berujung. Kita terus mengikuti kedua cabor ini dan lupa yang lainnya.

Kemudian dalam video yang lain terlihat Zohri celingak celinguk ketika akan melakukan selebrasi kemenangan. Di saat pemenang ke dua dan ke tiga dari Amerika begitu sigap mendapatkan benderanya, Zohri bagai anak ayam kehilangan induk. Saya yakin banyak penonton negeri ini yang kemudian meneteskan air mata.

Zohri tidak diunggulkan tidak ada bendera di sana. Kemudian alasan terpaksa harus keluar dalam bingkai harga diri. Walaupun semua tahu itu adalah kebanggaan. Makanya kedua pelari dari AS siap dengan kebanggaannya jika saja menang. Mereka sangat optimis. Kita harus banyak belajar tentang optimisme dari mereka.

Bendera. Sudah lama ia menjadi simbol suatu negara. Simbol kebanggaan. Simbol kemenangan. Meski itu bukan pakem. Tapi, semua orang tahu: selebrasi kemenangan hampir selalu dengan bendera pada kebanyakan cabor. Semua orang tahu. Selain lagu kebangsaan yang nantinya diperdengarkan, bendera inilah yang kemudian akan dikerek sebagai simbol kebanggaan.

Jika tidak ada. Tidak disiapkan. Mungkin inilah yang dinamakan teguran. Sentilan kecil. Membuka sedikit kinerja atas tanggung jawab.

Semoga kekagetan ini tidak mengacaukan. Semoga sentilan ini membuat kita lebih mawas diri dan memperbaiki kinerja. Sorotan yang luar biasa ini semoga membuat kita sadar bahwa tanggung jawab itu tidak hanya sekedar kata.

Kini, Zohri telah menang. Ia telah menunjukkan kemampuannya. Tidak hanya kepada kita rakyat Indonesia yang haus kemenangan tapi juga kepada dunia. Semua pihak yang mungkin paling kaget kini berbondong meninggikan derajat Zohri. Seakan ingin menebus rasa bersalah karena telah kecolongan. Rezeki bagi Zohri juga bagi bangsa ini. Rezeki itu benar kata pepatah bagaikan durian runtuh. Kita tidak menduga arah datangnya. Kini tinggal rasa syukur. Kini kita sambut rezeki itu. Kita lupakan kekecawaan kinerja. Kita sambut kemenangan ini dengan penuh suka cita. Biarlah mereka berintrospeksi dan jangan sampai ada yang ke tiga. Biar saja pepatah mengatakan hanya keledai yang jatuh pada lubang yang sama dua kali. Paling tidak jangan sampai ketiga.

Catatan waktu yang ditorehkan Zohri hanya berselisih 0,01 detik dari Suryo Agung Wibowo: 10,17 detik. Sebelumnya Mardi Lestari memegang rekor nasional dengan catatan 10,20 detik selama 20 tahun sebelum dipecahkan Suryo pada Sea Games 2009. Bukan tidak mungkin Zohri bisa memecahkan rekor nasional lebih cepat lagi.

Usain itu kini lahir di Indonesia. Kedepannya akan banyak do’a yang akan menyertai Zohri. Semoga akan jauh lebih baik. Meski masih jauh dari catatan waktu Usain: 9,58 detik tapi tidak ada yang tidak mungkin. Seperti halnya ketika Brazil yang diunggulkan menang melawan Belgia pada perempat final PD 2018 kemarin. Tidak ada hitam di atas putih dalam suatu pertandingan. Semua bisa terjadi. Kaget boleh saja tapi bersiaplah!

-155- Seputar Tontonan Olahraga

Bismillah…

Sebulan sekali nulis jadinya. Menulis itu hobi tapi kadang hobi pun mengalami kejenuhan. Bisa jadi kita menemukan keasyikan di tempat lain. Atau…hal lainnya. Tapi, akan selalu ada waktu untuk kembali.

Sebenarnya banyak yang ingin diceritakan selama sebulanan ini. Banyak sampai lupa yang mana saja.

Pastinya sedang berlangsung piala dunia 2018 di Rusia. Tidak seperti piala dunia 1998 yang mana saya sedang senang melihat kelincahan permainan Ronaldo, pada PD kali ini saya benar-benar tidak memiliki ketertarikan apapun kecuali yah sekedar tahu hasil akhir pertandingan. Tentang Ronaldo, yang saya sebut tentu bukan Cristiano tapi the one and only Ronaldo from Brazil. Anak 90an walaupun mungkin bukan pecinta bola pernah lah ya mendengar nama ini.

Pertama kali saya benar-benar mengikuti pertandingan piala dunia karena ingin melihat permainannya. Yep saya mendukung Brazil waktu itu. Tahun 1998 berarti waktu itu saya di Sekolah menengah kelas satu. Dan teman sekelas persis duduk di belakang saya adalah penggila bola. Dia gila! Setiap minggu hampir tidak pernah ketinggalan membeli tabloid bola. Dan gilanya, dia amat sangat takut rusak itu tabloid. Bahkan kelipet sedikit dia pasti ngomong, hahahah! Nama-nama pemain bola dunia coba saja tanya sama dia, hafal! Tidak hanya hafal nama tapi sampai nama lengkap dan bio nya. Wageslah kalau urusan bola saya jadi ikut senang jadinya. Toh saya pun karena nebeng baca jadi sedikit-sedikit tahu. Dan iya jadi ngikuti si Ronaldo ini wkwkwkwk. Dulu itu sering baca dan dengar Iniesta, Batistuta, Totti, dll yang mana kalau kesebelasan Brazil waktu itu kemungkinan saya tahu.

Tapi pertamanya saya mengikuti PD dengan seksama ternyata itu juga yang terakhir. Saya kecewa, sedih, nyeseklah rasanya, lebay! Emang gitu. Anak SMP menyaksikan kekalahan unggulannya dini hari, sedih! Habis kalah langsunh nyapu sambil menahan tangis hahaha! Drama abis…

Setelah itu saya selalu yakin bahwa ada sesuatu yang salah di final PD1998. Kalau yang lihat pertandingannya, melihat permainan Brazil rasanya aneh, seperti, ah, entahlah, bukan mereka. Masak iya di pertandingan final sekelas piala dunia permainannya seperti tidak ada semangat. Paling kentara adalah Ronaldo. Dia yang selalu keukeuh merebut, menggiring, dan menjebol gawang lawan sendirian, baru menyentuh bola sekali langsung lewat. Ronaldo yang dikenal seolah lenyap pada pertandingan final itu.

Ketika PD2002 di mana akhirnya Brazil keluar sebagai juara saya tidak mengikuti. Saya trauma, saya tidak mau kecewa dengan hal seperti itu, hanya merusak hari saya saja. Makanya PD2018 ini ya, saya biasa saja. Bahkan Brazil kalah di perempat final saya luar biasa, biasa saja. Toh tidak ada yang saya tahu pemain di sana kecuali Neymar, ya, itu juga karena dia terkenal. Saya gak punya keterikatan emosi dengan pemain bola manapun hari ini. Even Messi and Cristiano. Tapi saya tahu beritanya.

Dan mungkin kalopun harus punya jagoan saya lebih condong ke tim inggris. Kita lihat dengan tak ada perasaan apapun, apa yang akan terjadi dengan Inggris apakah akan membuat saya ikut terlarut? Semoga tidak dan rasa-rasanya tidak.

Ngomongin sepak bola kurang afdol rasanya jika tidak ngulik lagu officialnya. Piala dunia tahun ini jujur saya tidak dengar gaung dari lagu officialnya. Saya tahu colours karena searching tidak seperti Tahun 2010 di mana sama sekali saya tidak mengikuti bahkan beritanya pun saya tidak baca tapi saya dengar dan tahu lagunya: waka-waka! Selain waka-waka tentu the cup of life aka la copa de la vida PD1998 seharusnya itu jadi lagu tetap empat tahunan. Siapa sih yang tidak tahu go go go ale ale ale…!

Colours agak aneh sama video clip nya yang terlalu meng-expose perempuan, menurut saya. Apa coba hubungannya perempuan setengah berbusana dengan bola?! Tahun 2010 yang wavin flag malah keren banget.

Selain PD2018 ada juga Indonesia Open ya? Saya gak ngikutin. Dulu sekali saya pernah ngikutin zamannya Taufik, Riki Rexy, Candra Sigit, Joko S, ah, angkatan tua sekaleeee

Kamu ngikutin yang mana? Karena selain kedua event itu kayaknya ada sepak bola kawasan Asean enggak sih? Yaelaaaaa😜😅

—————-

Update!

Inggris kalah saudara-saudara! Tapi yah ya sudahlah sudah biasa. Dalam pertandingan tidak ada yang di atas kertas semua bisa terjadi. Go final Prancis dan Kroasia. Untuk Kroasia ini sejarah, pertama kali mencapai final, congrat!

-133- Ramadhan 1438H: Hari Pertama

Bismillah.

Marhaban ya Ramadhan…

MasyaAlloh Maryam semakin besar Ramadhan ini tepat 4 tahun. Tentu banyak hal yang telah berubah dari Maryam. Paling kelihatan adalah komunikasinya semakin lancar. Ia sudah bisa ngobrol, alhamdulillah. Semoga semakin hari ke depan tambah lancar biar bisa sekolah ya Maryam.

Kemarin dulu Maryam sangat ingin sekolah. Pagi-pagi sudah mandi kemudian pakai seragam TK, pakai tas dan sepatu. Kemudian menunggu di teras, menunggu sepupunya datang yang hendak sekolah. Sayangnya sepupunya hari itu tak kunjung datang. Karena seruan tetangga yang mana anak cowok kelas 2 SD, “Maryam mau sekolah!?”. Di jawab iya dan terus Maryam menghampirinya duduk di teras menunggu untuk bisa sama-sama pergi ke sekolah. Sayang tetangga ini pakai sepeda dan meluncur begitu saja meninggalkan Maryam. Maryam dengan muka tertunduk dan ekspresi mau nangis menghampiri saya di pintu rumah. Tapi, kemudia seneng lagi karena dijanji Bapak O(kakek nya) mau diantar ke sekolah. Dan saya dengan sedih meninggalkannya sendiri menunggu janji diantar di depan warung om nya, saya pergi ke kantor.

Ya Alloh…

Ah, melihat wajahnya penuh harap membuat hati ini pedih. Maryam sayang berdo’a sama Alloh ya semoga Maryam dipermudah komunikasi sama teman-teman yang lain, aamiin. Dipermudah dalam menangkap dan memahami apa yang diajarkan apapun itu yang baik-baik. Aamiin.

Ah, Ramadhan engkau membuatku berfikir tentang Maryam. Karena di bulan inilah ia lahir …

Hari ini Sabtu, 1 Ramadhan, adzan subuh pertama artinya puasa sudah dimulai semoga penuh keberkahan. Semoga benar-benar menjadi bulan pembelajaran bagi saya dan keluarga kecil saya. Semoga di bulan ini hal-hal baik lah yang akan tertanam untuk bekal di 11 bulan ke depan, aamiin.

Ya Alloh lindungilah kami semua di bulan penuh keberkahan ini. Lindungilah kami ya Alloh dari hal-hal yang dapat mengurangi pahala puasa kami, aamiin.

Selamat berpuasa kepada semua saudaraku umat muslim, i lov u karena Alloh…