-98- Tulisan lama

Bismillah.

Aahhhh…! stuck stuck stuck.

Baiklah, saya lagi dilanda kejenuhan menulis. Seperti: mau nulis apa ya? dan kemudian berlalu tanpa jawaban. Sampai akhirnya malam ini memutuskan untuk memposting tulisan lama. Biar tidak sepi-sepi amat ini blog :mrgreen:

Sebenarnya tulisan ini pernah saya kirim ke salah satu media cetak yang sangat terkenal. Iya di tolak. Masih jauh dari sempurna, tak apa lah mari kita post saja di sini.

Semoga sukaaa.

KOPI

Aku masih ingat dengan jelas. Pagi itu aku terbangun dan mendapati tak seorang pun di sampingku. Aku menangis memanggil ibu. Dan yang datang tergopoh-gopoh ternyata bukan ibu melainkan nenek. Aku lupa waktu itu hari minggu. Setiap hari minggu aku menginap di rumah nenek dari bapak. Tubuhnya yang mungil dan sedikit bungkuk menggendongku di pinggangnya.

Aku lupa kelas berapa mungkin Taman Kanak-Kanak atau kelas satu Sekolah Dasar. Rasanya kakiku menjuntai dan hanya beberapa senti saja sampai menyentuh lantai. Nenek menurunkanku di pintu dapur di mana ia sedang bekerja. Di sana ada halu panjang dan lumpang dari batu hitam. Nenek pagi itu sedang menumbuk kopi.

“Ini kopi yang sudah nenek keringkan,” kata nenek sambil mendudukkanku. Aku duduk sambil setengah tiduran di pangkuannya. Aku menatap kopi yang masih bulat utuh. Bentuknya setengah elips, seperti kewuk-cangkang kerang- di permainan bekel.

“Ini tidak seperti kopi yang biasa kakek minum,” kataku karena bentuknya yang tidak halus.

“Kopi kakek awalnya seperti ini, mari kita haluskan.” Dan nenek mulai menumbuk biji kopi kering. Tidak membutuhkan waktu lama sampai berubah seperti kopi kakek. Aku tersenyum entah kenapa waktu itu, tapi aku minta dibuatkan kopi yang sama seperti kakek.

Itulah pertama kalinya aku minum kopi. Kopi pertama buatan nenek yang rasa dan harumnya belum tergantikan. Kami merahasiakannya dari ibu dan bapak. Tentu saja karena aku masih kecil waktu itu.

Aku menatap reruntuhan bangunan tua yang dulunya adalah dapur hangat dipenuhi kepulan asap dari hawu-tungku dari tanah liat-. Kini sama sekali tidak menyisakan apapun kecuali kenangan. Rumah ini yang dulunya tidak pernah sunyi, karena kakek suka sekali mendengarkan dongen dan acara jaipong di radio dengan suara maksimal membuat para tetangga mau tidak mau mendengar. Dan para bapak kemudian berdatangan. Obrolan, kepulan asap rokok, dan seruputan kopi hangat sahut menyahut silih berganti. Kini, para lakon kehidupan itu sudah lama berlalu berganti generasi.

“Ayo Pa, sudah mau magrib.” Aku memandangnya sesaat sampai akhirnya aku memutuskan untuk segera masuk mobil yang kemudian di ikuti langkah kecil Bapak.

Sudahlah tidak akan terjadi apa-apa hanya dengan memandanganya. Baginya yang tidak pernah hidup di dalamnya mungkin tidak ada artinya. Bagiku dan bapak adalah kenangan yang tak mungkin terhapus pun dengan hilang nya fisik.

***

“Aku ingin membawakan kakek ini,” sambil mengangkat seplastik kopi hasil tumbukanku sendiri. Aku menumbuknya sendiri menggunakan ulekan ibu. Walaupun tak sehalus tumbukan nenek, tapi aku yakin ini kopi yang sama. Seharusnya tidak akan jauh berbeda, pikirku saat itu.

“Tapi kakek tidak akan membutuhkan ini sayang,” kata ibuku sambil tersenyum tapi aku tersinggung. Aku tidak mau pergi tanpa kopi. Aku merajuk dan akhirnya ibu mengizinkanku setelah Bapak turut campur.

Hari itu kami sekeluarga pergi melihat kakek. Usiaku mungkin sembilan atau sepuluh. Bukan ke rumahnya kami pergi melainkan ke Rumah Sakit. Kakek sudah tiga hari di rawat di sana. Aku tidak tahu penyakitnya. Aku hanya tahu kakekku sudah tua.

“Kek, aku buatkan ini ya, persis loh seperti yang nenek buat.” Kakek hanya diam sepertinya ia tidak mengenaliku. Nenek sendiri sudah lebih dulu meninggalkan kami beberapa bulan sebelumnya.

Tapi, aku tetap pergi membuatkan kopi. Semua orang tidak peduli. Mereka pikir toh hanya anak kecil biarkan saja apa maunya.

Aku melihat termos di pojokan ruang. Dan aku menyeduhnya. Aku frustasi karena kopinya tidak bisa sepekat buatan nenek. Kopiku terlihat aneh karena butirannya masih kasar.

“Bapaaakkk,,,!!!.”. Jeritan itu terus bersambung tidak berhenti. Dari bapakku, uwak-uwakku, sampai ibuku yang terisak menuju ke arahku.

Aku berdiri hendak menyuguhkan kopi terjelek dalam hidup kakek. Tapi, kakek mungkin beruntung karena tidak harus meminum kopi aneh itu. Aku menumpahkannya dan berlari menuju ibu. Tangisan terus bergema di belakangku. Aku digendong ibu pulang ke rumah kakek.

***

Seminggu sekali di rumah kakek nenek membuatku merasa sangat akrab dengan mereka. Walaupun cucunya tidak hanya aku tapi akulah yang paling sering berkunjung karena jarak rumah kami yang tidak jauh, hanya sepuluh menit bermotor. Sementara cucu-cucu yang lain tinggal jauh di luar kota. Lagi pula waktu itu aku adalah cucu termudanya.

Mereka berdua sangat menyukai kopi. Setiap pagi dan sore kopi selalu mengepul di meja teras. Dan para tetangga akan berkumpul di sana menikmati kebersamaan dan secangkir kopi buatan nenek. Aku pun senang karena banyak sekali anak-anak bermain di sana.

Nenek menyeduhnya menggunakan air yang baru saja mendidih dari hawu. Hitam pekat wanginya menyebar sepanjang jalan rumah mereka. Aku melihat nenek selalu tersenyum bahagia ketika menyeduh kopi. Padahal bukan satu atau dua gelas, bisa jadi sepuluh gelas sesuai jumlah tetangga yang berkumpul di teras mereka yang nyaman.

“Kakekmu itu loh ingin membuat warung kopi di halaman rumah,” kata nenek sambil mengucurkan air mendidih ke dalam gelas yang berisi kopi dan gula putih dengan gayung panjang dari batok kelapa.”Kau tahu sayang kopi kita lebih nikmat dibandingkan kopi manapun, kakekmu ingin kopi kita lebih banyak dinikmati dibandingkan kopi manapun.”

“Pasti menyenangkan Nek, aku akan sering berkunjung ke sini,” aku memperhatikan nenek yang kini menuangkan air mendidih ke gelas ke duanya. “Mungkin setiap hari Nek, pulang sekolah aku akan bermain di sini,” tambahku senang.

“Datanglah bersama teman-temanmu, agar mereka juga tahu kita memiliki kopi terbaik” katanya sambil tersenyum, aku pun mengangguk-angguk.

Aku selalu menyelipkan do’a untuk impian nenek dan kakek. Aku juga ingin main tiap hari ke sana. Aku selalu senang di rumah kakek dan nenek. Aku bisa bermain sepuasnya dan mendapatkan teman yang banyak. Lebih dari itu aku diam-diam mencoba memiliki mimpi mereka.

Setelah mereka pergi aku menyimpan impian mereka. Aku belajar membuat kopi yang enak. Aku belajar agar bisa membuat kopi seenak nenek. Aku selalu percaya ucapan nenek bahwa kita memiliki kopi terbaik. Walaupun aku kuliah matematika murni tapi yang sering kupelajari adalah kopi. Mulai menjajal kopi dari warung ke warung dari   kaki lima sampai bintang lima. Aku menyecapi merasainya baik-baik. Tapi, menurutku kopi buatan nenek masih yang terbaik. Entah karena sugesti atau karena kenangannya. Mungkin keduanya, pikirku.

***

Kini di usiaku yang tidak lagi muda aku sanggup mewujudkan impian mereka. Walaupun aku tahu tidak akan pernah sama seperti buatan nenek. Tapi, aku sudah bisa membuat kopi yang enak dengan kopi kita. Kopi yang aku ambil di kebun yang ditanam di tanah kita. Tanah ini tanah di mana aku lahir dan besar di atasnya. Aku menamainya kopi kita. Kopi milik kita bersama. Bukankah kita lahir dan besar di tanah yang sama?

“Bu aku ingin membangun warung kopi.” Ungkapku suatu sore ketika berkunjung ke rumah ibu.

“Bagus nenek dan kakekmu pasti menyukainya. Di mana?.”

“Kalau boleh di bekas rumah kakek dan nenek,” jawabku santai.

“Tiak bisa.”

“Bu?”

“Maaf sayang bapakmu tidak bisa mempertahankannya. Bapakmu sudah berusaha,” kata ibu memandangku kali ini.”Tanah itu sudah di beli seminggu yang lalu dan Kamu tahu tanah di sekitar itu hampir semuanya sudah di beli. Katanya mau dibangun sebuah mall atau apalah namanya.”

“Tidak mungkin.” Kataku pelan sambil menyeruput kopi hitam yang rencananya akan kupasarkan di tanah itu.

“Maafkan bapakmu Nak. Pertahanan kita tidak ada artinya.”

Ya aku tahu. Aku mengerti pada akhirnya tidak mungkin bagi bapak mempertahankannya. Di tengah semua warga menjualnya tidak mungkin tanah kakek nyempil diantaranya. Kata ibu di sana nantinya akan ada warung kopi juga. Warung kopi ternama yang mungkin akan sama enaknya dengan kopi nenek.

Tapi ibuku tidak tahu kopi itu tidak di buat dengan kopi kita. Jadi tidak ada kenangan di sana. Aku pernah berkeliling mencicip kopi dari yang termurah dan termahal tapi kopi nenek masih terbaik. Kopi nenek hanya bisa disandingkan dengan kopi lain di mana di buat dari kopi kita. Kopi yang di tanam di tanah kita. Dan di racik oleh tangan kita sendiri, di sini, ya, di sini.

***

Jika beberapa waktu yang lalu aku masih sedih gundah gulana karena tidak bisa mewujudkan impian mereka di saat aku sudah sanggup mewujudkannya. Tapi, aku memutuskan tidak berhenti. Walaupun tidak ditanahnya yang kini berdiri pusat perbelanjaan ternama dengan warung kopi ternama didalamnya tapi aku berhasil mewujudkan impian mereka yang lainnya.

Aku berhasil membuat orang-orang meminum kopi kita. Aku menumbuk kopiku di rumah pada awalnya. Aku menjualnya di warung-warung kecil di dekat rumah. Karena permintaan semakin banyak suamiku setuju membuatkanku sebuah bangunan mirip gudang untuk tempat produksi. Di sana aku di bantu beberapa pegawai yang masih tetanggaku sendiri. Dan semakin hari semakin besarlah permintaan kopi kita ini. Aku memberinya label kopi kita, kopi khas nenekku.

“Enak kopinya Bu Mira. Seperti menyeruput kopi di pagi hari di pedesaan penuh kehangatan.” Suatu sore ketika aku dipanggil wawancara karena kopi kita ini telah begitu memasyarakat.

Aku tersenyum. Mengingat kembali tanah mereka yang kini di atasnya ada warung kopi ternama. Ah, tapi bukan kopi kita, pikirku lagi. Walaupun kopi kita ini belumlah di anggap bergengsi tapi kalau mau jujur ini lebih nikmat dibandingkan kopi yang lain. Lidah kita tentu akan lebih menerima kopi kita.

Kalian tahu, mungkin saja kopi yang kalian nikmati sore ini adalah kopi kita. Teruslah menikmatinya karena itu kopi kita.

-15- Beringin Kampungku, dulu…

Beringin itu sudah tidak ada. Seiring jatuhnya massa tiga puluh dua tahun, sang beringin pun bertumbangan dimana-mana, termasuk di kampungku.

Dulu sekali ia berdiri gagah di tengah alun-alun kampung, seakan merangkul tubuh kami semua. Sudah berlalu hampir enam belas tahun, tapi ingatan, kenangan akan dirinya tidak mudah dilupakan. Seakan suatu hari inginku mengembalikannya ke tempatnya semula yang kini telah ditanami tembok-tembok kaku yang bahkan air pun sulit untuk menembusnya.

Dulu, di senja hari…

Kami, anak-anak ingusan berlarian di bawahnya. Beberapa anak perempuan bermain di akar-akarnya yang besar lagi kokoh. Sementara para anak lelaki bermain kelereng. Beberapa juga bermain gelantungan di akar nafasnya yang berjuntai-juntai. Dan para ibu asik ngerumpi di pinggirannya alun-alun. Sementara itu para bapak tetap dengan kepulan asap dan kopi hitam di warung yang sengaja mentereng disana, sesekali memperhatikan kami yang sedang asik bermain. Kami tidak perduli dengan mereka. Tapi sekali-sekali kami sangat bersemangat ketika bermain boy-boyan*, para orang tua ini ikut-ikutan juga menonton dan menyoraki kami. Kami tidak ada bedanya dengan atlet yang sedang berlaga di olimpiade.

Pulang ke rumah bercucur keringat kebahagiaan. Betapa tidak, sore itu kami berlari kesana kemari, bermain ini itu dan kami sangat bahagia. Tidak ada hape, komputer, apalagi tab…tapi, kami amat sangat bahagia. Kalian tahu sapintrong? Itu lho permainan dengan alat bantu karet yang disambung, terus dengan dipegangi dua orang, tali karet itu diayun-ayun memutar. Salah satu anak loncat-loncat di dalamnya. Tadi itu kami bermain itu. Capek. Besok main apa lagi ya…?

Malam hari di Bulan Puasa…

“Awas kembang apiii…!!!”, teriakku. Aku takut akan menimpa temanku yang kebetulan sedang berjalan ke arahku. Sementara diantara kami ada seorang anak lain yang sedang melemparkan kembang api ke atas daun-daunnya. Beruntung sekali, kembang api itu tersangkut di dedaunannya. Coba kalau menimpa temanku? Malam itu langit bertabur bintang, bintang dari kembang api yang tersangkut di dedaunan menambah semarak suasana. Rasanya tidak ingin pulang. Kalau saja bisa, ingin tidur dan bermain selalu di bawahnya.

Di teriknya matahari…

Aku paling senang siang hari. Rasanya seperti novel yang dihembus angin semilir dan bunyi dedaunan yang bergesekan, sesekali disahuti nyanyian merdu burung gereja. Siang hari terik kadang ramai dengan kami anak-anak ingusan kadang juga amat sangat sunyi: lengang. Di balik jendela kaca rumahku, aku sering menatap jauh pemandangan itu. Daunnya yang bergoyang anggun bak penari jawa yang kemayu. Tubuhnya yang kokoh seakan menantang mentari untuk terus menyinari. Tapi, dari itu semua, aku paling suka dengan dedaunan jatuh yang tertiup angin, lalu bergesekan menimbulkan suara magis alam. Kemudian seseorang lewat sambil memegangi bajunya takut tersibak. Pemandangan itu seperti khayalan…

Semua itu dibawa zaman teman. Rasa teduh itu sudah hilang. Rasa novel itu tidak ada lagi …
Ingin sekali ia kembali. Menemani hari-hariku, hari-hari masyarakat kampungku. Walaupun masyarakat di kampungku tidak lagi kuning…

Tidak ada yang salah dengan dirinya, tetapi kenapa benda-benda tajam itu dengan pongah menumbangkannya. Hari itu di Tahun 1999, tidak terasa air mata ini menetes. Bukan karena Bapak Pembangunan yang tumbang didemo massa tapi karena dirinya roboh. Roboh sebagai ikon. Bukankah dirinya tidak pernah mengajukan diri untuk menjadi ikon? Dirinya sama saja seperti Pohon Jati, akasia, atau bahkan tomat di buruan halaman rumah…Andai saja ikonnya adalah pohon tomat?
Tapi kawan, waktu itu…

“Kok, ditebang Pa?”. Tanyaku khas anak-anak yang kehilangan mainan kesayangan.
“Heurin jeung hieum…”**, jawab Ayahku.
Heurin? Bagaimana bisa dia bikin sesak kampungku? Hieum, memangnya kampungku angker waktu ada dia? Bukankah selama ia tegak berdiri gelak tawa di seantero kampung? Tidak ingatkah waktu acara 17-an? Kita semua bermain di bawahnya yang teduh. Kita tertawa dan berbahagia. Malam hari malah para bapak ini ngobrol ngalor ngidul di salah satu pojokan pohon.

Ada dua beringin di kampungku dan keduanya hilang secara bersamaan.
Kini, aku tiba setelah bertahun merantau…Dan kenangan itu serasa menggerogoti jiwaku. Bau tanah, daun, dan suara gesekannya tinggal kenangan yang mengharu biru. Orang-orang sibuk mencari dunianya. Alun-alun dengan dia yang gagah sudah hilang. Berganti tembok bangunan yang kalau diamati ruangan-ruangannya jarang sekali ditempati.

Pagi, siang, sore, dan malam, disini tempat dulu ia berada kini sepi. Sesekali satu dua mobil nebeng parkir disana.
Aku pun sudah tidak sudi berlama-lama disana, hanya berdiri. Lebih dari itu aku menjadi pemandangan asing di kampungku sendiri. Hasrat ingin bertemu dengan teman kecil berkumpul lagi di bawahnya sambil minum secangkir kopi hitam sirna sudah.

note:
*boy-boyan = permainan anak-anak terdiri dari dua kelompok, yang kalah menjaga tumpukan pecahan genteng yang disusun vertikal. Kelompok satunya bermain menggelindingkan bola yang terbuat dari kertas yang diisi batu kerikil dan dilapisi plastik dan diikat dengan karet gelang, jika pecahan genteng itu jatuh maka kelompok yang bermain akan dikejar oleh kelompok yang jaga menggunakan bola tersebut. Kelompok yang menang jika bisa menyusun kembali pecahan genteng kembali vertikal. Dan jika semua kelompok yang bermain dikena bola maka kelompok pun bertukar.

** heurin jeung hieum = bahasa sunda artinya, penuh/sesak (karena jumlahnya banyak atau besar sehingga banyak mengambil tempat) dan rada angker (ehmmm, sebenarnya agak kurang tepat, hieum itu suasana dimana terlalu banyak pepohonan sehingga suasananya rada-rada gimana, tidak terang benderang…tapi saya bingung Bahasa Indonesia nya)

#7 Hanya Sementara

Sudah lebih sebulan udara di Pulau Wangi-Wangi panas, paling tidak itu yang aku rasakan. Pulau dengan luas 241,98km2, dikelilingi lautan dari segala penjuru arah mata angin, tidak terlalu mengherankan dengan panasnya. Tapi, seharusnya bulan-bulan ini sudah masuk musim penghujan, tapi sang hujan hanya turun sebentar-sebentar. Dan, yang menyiksa sebelum dan setelahnya ia datang udara begitu panas.

Malam-malam yang biasanya dingin, sekarang tidak bisa lagi bobok nyenyak. Gerah luar biasa! Kipas angin yang berputar berbunyi gretek gretek gretek, sepertinya ia pun sudah lelah. Terbayang dinginnya kamar hotel yang ber-ac, rumah di kampung halaman yang di kaki gunung…kapan ya? Kapan lagi bias kesana? Apa beli ac saja? Tapi, kalau beli ac sayang, iya, sayang…aku kan tidak selamanya tinggal di sini, aku sudah berencana pindah, mudah-mudahan si tahun ini. Hmm…atau beli kulkas yang kecil?

Arghh…pikiran-pikiran itu terus berkelebat dalam kepalaku yang panas…

Dulu sebelum menikah, aku berada di kota pelabuhan juga, Kolaka. Di sana juga panas. Kipasku yang dulu lebih cantikan sedikit dibanding yang sekarang. Mereknya pun terkenal, tapi sayang dia tidak bisa berputar seperti kipas klasik pada umumnya. Dia hanya bisa tegak dan menunduk. Tapi, anginnya enak, ademnya lebih terasa menemani hari-hariku di Kolaka. Kamar kos ku berukuran 3x2m, cukuplah buat diriku sendiri. Tapi, terkadang kepikiran juga untuk sewa kamar yang lebih luas, mungkin ada dapur dan kamar mandi di dalam, tapi, ya, itu lagi, aku kan, hanya sementara disini.

Kamarku, maksudnya kamar kami, sekarang ukurannya lebih kecil lagi, mungkin 2x2m. Kami tidur, makan, bercanda, bersedih disana. Dapur dan kamar mandinya di luar. Yah, tidak apa, kan sebentar lagi aku cuti. Sebulan masih sabar dengan segala kepengapan dan kesumpekan, dua bulan aku nyerah minta dicarikan rumah petak saja. Tidak apalah keluar dua kali lipat rupiah, pikirku, yang penting bisa lebih lega.

Disinilah kami sekarang, satu kamar, satu kamar mandi, dapur dan ruang tamu. Aku sangat bersyukur, namun, ternyata bukan ruangannya tapi cuaca yang kurang mendukung. Aku masih saja kegerahan di pagi, siang, dan malam.

Ac, kulkas kecil masih juga berkelebatan…

Tapi, aku hanya sementara saja. Bagaimana kalau besok aku pindah, mau dijual sama siapa barang-barang mahal itu? Dikasih? Sayang juga, kan, baru sekali dua kali pakai…tapi, alamat dikasih kalau kejadiannya pindahan.

Andai saja, iya, andai saja lima tahun yang lalu salah satu diantara kami berdua ada yang berani berpikir keluar kotak. Istilahnya membeli masa depan dengan harga sekarang, mungkin kejadiannya tidak seperti ini. Andai saja suamiku itu pertama kali menginjakkan kaki di Wangi-Wangi sudah berpikir tentang rumah. Dia beli tanah dan bangun rumah disini, mungkin kami tidak akan terlempar-lempar dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain. Dulu itu tahun 2008, harga tanah masih sangat murah di pulau kecil ini. Maklum, kabupaten baru mekar. Masyarakatnya yang dulunya hanya berpikir perut setelah beberapa tahun menjadi kabupaten mereka tahu juga nilai rupiah. Alamak, harga tanah sekarang sudah melambung. Tak apalah toh, dalam beberapa bulan ini kami berencana mengajukan pindah. Tidak main-main, disetujui atau tidak kami akan pindah, banyak jalan menuju roma…

Sabar, sabar saja, disini hanya sementara tunggu sampai waktunya pindah…gerah, sumpek, semua ketidaknyamanan itu lupakan saja…toh, hanya sementara…