-122- Main-Mainnya Maryam

Bismillah.

Waktu Maryam bayi rasanya semangat sekali cerita-cerita. Entah perburuan stroller, box, dan lainnya. Semua diceritakan :green: Maklum ya ibu baru. Hal baru tentu saja membuat penasaran, “oh begini toh rasanya jadi seorang ibu”.

Kelamaan semua itu terbiasa. Menjadi hal biasa. Rutinitas yang kamu tahu hal yang biasa biasanya terlupakan. Dan yah, begitulah waktu mengubah segalanya. Tapi bukan berarti yang biasa itu tidak penting. Justru sebaliknya karena ia telah menjadi rutinitas dan kebiasaan maka jika tidak ada pasti ada sesuatu yang hilang.

Ngelantur sih. Intinya saya mau cerita akhir pekan kemarin, iya bukan akhir pekan ini, Maryam kita kondisikan bermain pasir.

Semua karena tontonan dan hari yang terasa melelahkan. Salahkan saja. Memang ya manusia itu sukanya nyari kambing hitam. Tidak semua sih 😀

Sayang melihat mainan pantainya belum pernah digunakan pada tempatnya akhirnya saya kasih dia pasir. Biasanya dia memainkan ember dan segala peralatan pantai di kamar mandi. Padahal kalau ada pasir bisa di cetak-cetak jadi kelihatan bentuknya.

Saya angkutlah seember pasir di depan rumah ke belakang. Pagi-pagi kan sinar matahri terik sekali di depan rumah jadi amannya main di belakang rumah yang sinarnya tidak terlalu menyengat. Pasir seember saya taruh di tutup ember besar jadi itu pasir rencanya kalau sudah selesai mau dibalikan ke tempatnya.

Ini judulnya biar Maryam main kotor, itung-itung melatih motorik halusnya. Daripada duduk anteng nonton sekali-kali main kotor ya.

Dia belajar agar cetakan pasir yang berbentuk ikan itu bisa mulus berbentuk. Tentu dia harus memasukan pasir dan menekannya untuk membuatnya padat dan menghasilkan cetakan yang bagus. Dan itu bukan hal yang mudah bagi anak usia 3 (tiga) tahun untuk pertama kalinya.

Kemampuan motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata-tangan. Saraf motorik halus ini dapat dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan yang kontinu secara rutin. Seperti, bermain puzzle, menyusun balok, memasukan benda ke dalam lubang sesuai bentuknya, membuat garis, melipat kertas dan sebagainya.
Sumber : Perkembangan Motorik Halus Anak – Bidanku.com http://bidanku.com/perkembangan-motorik-halus-anak#ixzz4NsSs0wdx

Butuh waktu cukup lama saya nyontohinnya. Dan sampai hari ini belum saya coba lagi permainan ini. Terakhir dia belum berhasil menghasilkan bentukan yang sempurna dari cetakan ikan. Setiap kali di balik dan di tangkup di alas buyar semua pasirnya. Harus belajar memadatan ya Nak! 🙂

dscn3082
itu yang jadi buatan ummi nya

Lumayan ada sejaman dia main seperti itu. Capek habisnya, tidak lama bisa bobo siang.

Nah, minggu ini saya kepikiran yang lain. Yang bisa dikerja di rumah, berhubung hujan deras dari pagi. Apa? gambar.

Dulu saya pernah belikan buku mewarnai, lumayan lagi harganya, eh, anaknya belum ngerti dong. Jadi itu buku mewarnai diwarnailah sama orang gede: saya dan yang jagain Maryam waktu di Kendari 😆 . Karena habis gambarnya diwarnai sama kita, saya nyari buku serupa tapi untungnya tidak ada di Wakatobi. Alhasil saya putar otak dan eng ing eng baru kepikiran: Google Bu!

Ternya banyak buibu web web yang ngasih gratisan gambar untuk mewarnai ini. Tinggal googling saja pake keyword: gambar untuk mewarnai anak, keluar semua itu di image gambarnya hhhee. Save gambarnya lalu print jadi deh tinggal di pulas-pulas pake pensil warna. Kemarin saya belikan crayon buat Maryam.

Kenapa crayon? Tidak ada alasan khusus pastinya hanya saja kalau pake spidol warna, warnanya tumpah-tumpah dan kalau pake pensil yang ujungnya runcing musti beli mahal kalau mau dapat pensil yang bagus. Sementara crayon yang harganya paling nyungsep di sini sudah bisa coret-coret jelas warnanya.

diambil dari gambarmewarnai.com
diambil dari gambarmewarnai.com

Walaupun belum bisa mengikuti garis dan di dalam garis yang penting anaknya hepi umminya juga senang karena bisa ikut corat-coret mewarnai *keinginan terpendam masa kecil*. Senangnya lagi bisa sambil belajar warna.

Selain itu saya juga ada belikan dia bola. Bola-bola karet gitu. Dia sayang banget sama bolanya, sampai mau bobo pun di pegang terus. Eh, taunya pas di bawa ke sekolah ketinggalan sampai sekarang.

Maryam lagi senang bermain, dimanapun, kapanpun, dan senangnya bisa main dengan siapapun sekarang *sedikit demi sedikit*.

Soalan makanan, kemarin saya sengaja belikan semangka. Dulu pas ke nikahan teman ada cuci mulut semangka. dan dia tidak mau makan nasi cuma makan semangka sampe mau habis itu semangka sepiring dan dia pun kekenyangan. Jadi, saya pikir ini anak doyan semangka.

Dan ternyata…

dscn3129

dscn3128
habis aja dong…

Sehat terus ya Nak, belajar terus, jadi anak solehah, aamiin.

Love you to the moon and back.

Advertisements

-119- Jalan-Jalan ke Toliamba Wakatobi

Bismillah.

Bulan yang padat sampai lupa dan malas untuk menulis 😛 . Dari awal bulan kita sudah disibukkan dengan kegiatan susenas. Walaupun jumlah sampelnya tidak sebanyak semester 1 tapi karena kita kali ini “agak” fokus jadi ya, mau tidak mau hampir semua energi tercurah ke sana. Mau ngedit publikasi pun jadi terbengkalai. Dan tentu kegiatan tulis menulis yang sangat penting ini ikut terlupakan juga 😀

Bulan Agustus kemarin kita sempat jalan-jalan ke sebuah tempat, ehm, tentu saja tidak jauh dari Pulau Wangi-Wangi. Tapi kali ini berbeda. Secara tempat kita ini jago sekali dengan lautnya jadi jalan-jalan di luar itu semacam anti-mainstream.

Kemana?

Kita ke Toliamba Hill. Namanya sudah keren ya keinggris-inggrisan terus tempatnya pegimana?

dscn2737
serasa di atas awan…*lebay detected

Merupakan tempat paling tinggi di Pulau Wangi-Wangi. Dari sana kita bisa melihat garis pantai dengan jelas. Lokasi taman yang di jepret di atas tidak di posisi paling puncak dia persis di bawah puncak. Lokasinya persis di tebing jalan. Sebelah kanan foto adalah tebing yang isinya tetumbuhan, sementara kirinya adalah jalanan menanjak yang berujung di puncak dengan tulisan “Toliamba” sebagai epik.

Tamannya sendiri tidak begitu luas. Tapi yang bikin dia keren dan nyaman adalah bangku-bangku yang di buat banyak yang menghadap area tebing tadi. Jadi kita bisa duduk-duduk cantik sambil menikmati panorama Pulau Wangi-Wangi dari ketinggian, masyaAlloh.

Masterpiece taman ini adalah patung ikan yang kalau kita jalan-jalan ke berbagai objek wisata di Wakatobi hampir selalu ditemukan patung-patung ikan ini. Ada ikan terbang, ikan apalah yang saya tidak mengerti penyebutannya, dan yang di sini adalah ikan lumba-lumba.

Menuju ke sana kita akan disuguhi pemandangan pedesaan yang asri. Jalanannya khas daerah perbukitan dan pegunungan berliku dan menanjak. Kalau kita sudah dapati papan nama “Selamat Datang di Desa Waginopo” berarti tinggal selangkah lagi ke taman lumba-lumba dan setanjakan lagi ke puncaknya Toliamba.

dscn2723
Gerbang ke Toliamba Hill

Dari posisi taman kita bisa jepret tulisan Toliamba. Kita tidak naik sampai atas karena Maryam tidak bisa diam. Dia yang lompat-lompat kegirangan. Tidak ada takut dengan ketinggian malah membuat kita ketar-ketir. Di taman dia keliling dan lompat sana-sini, takut euy!

Padahal kita pikir dia kan baru pulang sekolah. Hari itu Sabtu jadi kita jemput Maryam buat jalan-jalan. Harusnya capek kan, tapi ternyata buat anak-anak kalau ada yang menarik minatnya tidak ada istilah capek. Orang dewasa juga begitu juga sebenarnya ya 🙂

Kita duduk-duduk saja di sana kurang lebih sejaman. Lama juga tak terasa. Bagi saya pribadi ini kayak de javu. Dulu waktu masih kecil, sering nih saya dapat tempat tinggi kayak gini. Entah itu yang paling cetek di pohon lengkeng halaman sekolah atau di atap rumah sampai bukit-bukit yang mengelilingi desa. Saya biasa menghabiskan waktu di sana, ngapain? diam saja sambil melamun. Melihat langit biru rasanya tenang. Rasanya semua asa ada di sana. Semua cita-cita tergantung melambai-lambai. Saya senang dengan semua itu.

dscn2732
Lokasi tertinggi…
dscn2728
Tebing…

 

dscn2729
ini saya sambil ngayal…

Sampai jumpa lagi.

-115- Cerita Penyapihan Maryam

Bismillah.

arti sapih

Proses memperkenalkan dengan makanan kita orang dewasa sudah lama ya sejak usianya 6 bulan. Tapi untuk menghentikannya menyusu butuh waktu dan tenaga ekstra bagi saya.

Waktu usianya genap dua tahun saya pernah melakukan penyapihan dengan cara di titip di rumah ortu tiga hari. Dan hasilnya saya nangis tidak tega. Maryam sakit tidak ada semangat, katanya hampir sepanjang hari nempel terus di emih. Saya tidak mau mengulainginya lagi pada Maryam.

Di usianya yang hampir tiga saya pernah coba menggunakan makanan pedas. Saya olesi di PD dan itu bertahan sehari. Saya kembali tidak tega ketika Maryam meraung-raung minta nenen lagi *emak yang rapuh*.

Dan karena hari ini sudah genap tiga tahun mau tidak mau tega tidak tega saya harus. Saya kembali menggunakan si pedas *pake cabe* karena pernah sukses dulu itu. Hari pertama dan kedua meraung-raung setiap kali mau bobo. Dan sedihnya lagi dia tidak bisa tidur siang. Tapi kali ini tekad saya sudah bulat. Saya sudah mempersiapkan sebelumnya karena pernah berpengalaman sebelumnya.

Apa?

Butuh tenaga super gede! Iya mendengar jeritan tangisan anak, ibu mana sih yang tega? Karena itu saya harus punya ekstra tenaga untuk menenangkannya. Otomatis saya harus lembur lagi seperti dulu bayi. Lembur sampai Maryam terlelap. Siap terjaga karena di awal dia selalu terbangun, nangis, kemudian harus di garuk. Itu saya ulangi kurang lebih tiga harian. Seminggu kemudian tanpa nangis tapi badannya minta di garuk terus sampai terlelap. Ini kemajuan besar tentunya.

Tapi saya mikir masak iya harus di garuk terus? Satu siang saya pernah tiduran sama Maryam sambil saya membaca. Saya lupa buku apa. Tapi itu buku bacaan saya. Tidak lama Maryam terlelap dan itu pertama kali setelah saya sapih dia tidur siang.

Selanjutnya sampai hari ini setiap mau bobo saya selalu membaca. Berasa telat sekali dibanding ibu-ibu lain yang telah membacakan buku cerita pada anaknya semenjak bayi. Tapi saya bersyukur akhirnya saya bisa juga melakukannya.

Ternyata niat saja tidak cukup. Tenaga, dukungan suami, dan tentu saja keteguhan hati sebagai seorang ibu. Karena menurut saya keteguhan hatilah yang sering kalah di tengah jalan. Tidak tega sering meruntuhkan niat demi mendengar jerit tangis yang membahana ditambah kalo nangisnya pake bumbu drama 😀 .

Tenaga penting sekali apalagi bagi ibu yang bekerja. Bekerja full day yang datang kadang magrib, itu capeknya luar biasa. Belum mendengar tangisan anak, tubuh juga meronta minta jatah istirahat akhirnya menyerah. Makanya karena saya tahu harus ekstra tenaga. Sebulanan ini saya tidak lagi begadang, tidur cukup dan pulang kerja dipercepat.

Alhamdulillah sudah sebulanan Maryam tidak lagi ASI. Jadi resmi Maryam sudah berhenti ASI.

Gantinya?

Minum apa saja yang sehat dan halal. Untuk susu saya biasanya beli susu kotak ultra mimi tapi kalo lagi kosong pakai ultra jaya lain. Kesukaannya rasa stroberry sampai sekarang. Selain susu dia gandrung sekali minum teh. Ikut abah sepertinya. Saya buatkan yang tidak pekat dan kalo lagi stok tambah madu.

Banyak anjuran para ahli di luar sana tentang cara menyapih. Pada akhirnya kita orang tualah yang faham bagaimana cara terbaik unutk anak sendiri. Tapi catatan penting bagi saya adalah niatan yang kuat harus didukung oleh tenaga, dukungan dari keluarga, dan keteguhan hati.

-109- Maryam dan Binatang

cat-188088_1920
pixabay.com

Bismillah.

Paling kelihatan dari Maryam di usianya 2 tahun adalah ketertarikannya dengan binatang. Hampir semua binatang.

Ketertarikannya terlihat seperti ingin selalu dekat dengan mereka *uhuk*. Saya bisa sebutkan binatangnya satu-satu karena belum banyak yang berinteraksi langsung dengan Maryam.

Kucing. Di kantor ada satu kucing yang sering kelihatan. Jika ini kucing sudah datang Maryam senang sekali. Pernah suatu waktu ini kucing lagi malas atau kecapekan dia hanya tiduran di halaman kantor. Maryam mendekatinya, mencolek-colek bulunya, tapi si kucing tak menunjukkan ketertarikan untuk bermain. Mungkin dia lelah ya. Tak berapa lama saya di buat kaget, Maryam mengikuti kelakukan si meong. Dia tidur mengikuti si meong dan kepala mereka bertemu bertatapan. Mungkin dalam hati si meong “kenapa nih anak?”, hahaha…

Saya sebenarnya tidak masalah Maryam suka dengan binatang dan terlihat begitu dekat. Cuman saya jadi takut karena tubuh si meong kotor dan terdapat luka. Takutlah pokoknya saya. Langsung lah saya kasih bangun Maryam.

Ayam. Kelakuannya dengan ayam hampir mirip dengan si meong. Kali ini Maryam sedang memberi makan ayam di halaman kantor pakai bekal makan siangnya yang tidak habis. Dia sangat senang dan antusias. Ketika ia mengejar-ngejar ayam terus terlihat ada makanan yang di lempar untuk si ayam belum di makan. Tiba-tiba Maryam memakannya menggunakan mulutnya. Tidaaaak! anak memang plagiat ulung. Maryam, tidak ya…:) Tapi Maryam tidak berani menyentuh ayam. Dia yang akan pura-pura mengejar, giliran ayamnya mau dia yang bali lari hihi.

Lain lagi kisahnya dengan si kambing alias embe. Nah, dia pun suka sekali dengan si embe ini. Karena interaksi dengan si embe menggunakan jarak yang lumayan, palingan dia yang hanya manggil-manggil penuh semangat si embe. Embenya sendiri? Jelas bengong dong.

Tidak melihat tempat dan waktu. Di siang bolong di depan kantor bupati kalau lihat ada embe langsung di panggil. Panggilan yang membuat mata melirik “Embeeee!!!” *siapa sih ni anak? bisa nyante gak manggilnya?*.

Semut. Kalau sama semut ini sebenarnya saya khawatir karena tubuhnya yang rapuh. Jadi, sekalinya di ambil Maryam sering sudah ke pencet duluan. Maaf ya semut. Saya mulai intens mengingatkan Maryam untuk tidak main ambil itu semut. Dan alhamdulillah sepertinya dia mengerti karena akhir-akhir ini dia yang hanya akan memperhatikan mereka tanpa berusaha lagi mengambilnya.

Kupu-kupu. Nah binatang ini juga favouritnya Maryam. Bentuknya yang cantik dan warnanya yang indah, ah, siapa sih yang tidak kagum padanya. tapi, saking penasarannya sekali waktu Maryam pernah mengambil ini kupu-kupu yang kelelahan di lantai rumah. Dan kisahnya menyedihkan seperti si semut. Jadi, saya membatasi interaksi Maryam dengan binatang kecil.

Ikan. Dia jatuh hati mungkin sama ikan ini. Kalau tidak di paksa pulang dia bisa duduk lama memperhatikan ikan di laut pasar malam.

Dan terakhir burung. Sekali waktu dia pernah melihatnya sangat dekat, namun sayang di sangkar. Dan entah kenapa Maryam tidak begitu betah memperhatikan si burung dalam sangkar ini. Tidak seperti biasanya ketika melihat burung terbang dia akan melihat fokus sambil nunjuk-nunjuk dan bilang “buung buung…*.

Sampai-sampai kalau mau memperdengarkan Maryam dengan ayat alQuran harus di putar bersamaan dengan video binatang.

Dari dulu saya percaya bahwa anak-anak adalah peniru ulung dan demi melihat anak sendiri, semua itu seakan keyakinan yang menjadi kenyataan di depan mata. MasyaAlloh, bagaimana kertas putih akan kita tulis? Ya Alloh berikan kami sebagai orang tua kemampuan untuk hanya menuliskan yang baik-baik saja. aamiin.

Maryam, mereka juga mahluk ciptaan Alloh. Jadi, teruslah tertarik dan sayang sama mereka ya.

-108- Hari Pertama Sebagai Anak TK

Bismillah.

19 Juli 2016 kemarin adalah hari pertama Maryam kembali masuk sekolah setelah libur raya. Kenapa selasa bukan senin seperti siswa umumnya?

Iya, karena Maryam murid baru di tahun ajaran baru. Dulu, Maryam hanya ikut-ikut saja, anak bawang lah istilahnya. Sebelumnya pernah juga terdaftar resmi tapi di PAUD. Nah, kali ini TK. Walaupun usianya belum genap 3 tahun dan sebenarnya masih usia PAUD, tapi karena di TK ini tidak ada kelas PAUD nya dan Maryam terlanjur jatuh hati pada TK ini ya sudahlah ya.

Entah kenapa, padahal dibandingkan dengan sekolah-sekolah terdahulunya dari sisi fasilitas permainan sangatlah jauh. Permainan fisik seperti perosotan, ayunan, jungkat-jungkit mainstreamnya TK tidak ada. Luasnya pun tidak seberapa. Tapi, di sini tenang karena letaknya jauh dari jalan, pojokan yang masih banyak pohon-pohon ijo. Kupu-kupu masih hilir mudik di sekitaran bunga-bunga liar di depan halama sekolah. Itu mungkin juga yang membuat Maryam betah. Selain memang ada salah satu gurunya yang dekat. Dan juga teman-temannya yang mau tidak mau jadi dekat karena ruangannya yang tidak terlalu besar dan duduk lesehan sehingga interaksi fisik antar anak lebih sering dibandingkan dengan fasilitas permainnya sendiri yang tidak seberapa itu.

Karena saya lihat kerasan kendala seperti usia yang belum memenuhi syarat usia TK saya coba komunikasikan dengan pihak sekolah yang alhamdulillah menerimanya. Selain usia sebenarnya Maryam juga belum begitu lancar bicara *berkomunikasi*. Tapi yah, yang namanya anak-anak mau pakai bahasa apapun nyambung-nyambung saja ketika main 😀 .

Selain itu pergaulan Maryam yang terbiasa di lingkungan orang dewasa membuatnya canggung di kalangan anak-anak seusianya. Ini dulunya kendala terbesar karena Maryam tidak bisa di tinggal umminya. Maryam biasanya tidak mendekati pertama, dia akan diam saja dan cenderung main sendiri tapi ketika ada yang mendekatinya dan dia merasa nyaman akan main yang kayak perangko. Iya dia yang akan ngintilin terus itu anak.

Ini kejadian juga baru-baru ini. Waktu itu ban motor kempes terpaksa saya dan Maryam numpang menunggu di rumah penduduk di pinggir jalan. Kebetulan anak pemilik rumah ada yang usia SD. Naluri anak-anak kali ya, si anak SD ini yang terus cari perhatian Maryam. Mulai dari menunjukkan burung peliharaan keluarganya sampai menunjukkan keahliannya dengan kucing.

Dan Maryam dong secara pecinta binatang langsung memperhatikan serius tuh anak. Dan ia mulai luluh dengan adegan kucing. Hitungan detik mereka langsung main seperti adik kakak yang sudah lama kenal. Dunia anak-anak memang menyenangkan dan polos mereka dengan mudahnya berteman. Andai sifat anak-anak yang satu ini tidak menipis sampai kita dewasa, andai…

Sebenarnya saya sedih karena kurang memberikannya waktu untuk bermain dengan anak seusianya. Makanya saya keukeuh Maryam harus sekolah. Karena Maryam butuh lingkungannya.

Kebiasaan sekolah sebelum libur raya sepertinya menyisakan rasa kangen. Ketika sampai di sekolah, masyaAlloh antusiasnya. Dia yang langsung narik-narik tas dan kemudian setengah berlari menuju kelas. Saya minta salim pun dilakukan super cepat dan terburu-buru. Tanpa kata-kata dan wajah polosnya saya geli luar biasa.

Dan saya tambah geli sekaligus shocked 😆 tiba-tiba dia memberikan tas sekolahnya kepada seorang ibu yang sedang duduk bersama anaknya. Kemudian diikuti dengan menyodorkan pantatnya dan tepat mulus duduk di pangkuan itu ibu. Plak! Maryam Maryam dikiranya itu ibu, ibu guru nya. Antara lupa-lupa ingat, terlalu antusias sama nervous hahaha saya benar-benar shock lebih-lebih si ibu itu dan anaknya yang duduk tepat di sampingnya. Dan Maryam dong: tanpa ekspresi!

Alhamdulillah, saya lega. Paling tidak saya tahu Maryam sangat senang bisa kembali sekolah. Dia tidak seperti hari-harinya pertama kali masuk sekolah dulu yang dipenuhi tangisan yang membahana memekakan telinga dan menciutkan nyali umminya.

Semoga betah ya Maryam. Semoga Maryam bisa mendapatkan teman-teman yang baik, belajar bersosialisasi, bicara, sayang dan di sayang sama guru dan teman, dan lebih dari itu bisa bermain sepuasnya dengan teman-teman seusia. aamiin.

children-1217246_1920
pixabay.com

Love you little mary…

-99- Dulu Sekarang

DSCN1484

Siapa sangka film-film kartun yang saya tonton di masa kecil akan kembali di tonton oleh anak saya. Setelah lebih dari dua puluh tahun tokoh-tokoh kartun itu masih memikat anak-anak generasi ini. Timeless.

Bedanya. Jika dulu harus siap-siap sedari pagi menunggu di depan TV demi untuk menontonnya. Kalau tidak, pastinya ketinggalan satu episod dan rela benar-benar tidak bisa menontonnya karena tidak ada youtube. Kemudia harus sabar menunggu seminggu lagi untuk dapat menontonnya. Betapa berharganya hari minggu pagi kala itu, ya, masih berharga juga sih sampai sekarang, cuma rasanya saja yang beda. Sekarang bisa di tonton dimanapun dan kapanpun *nangis deh anak jadul*.

Dulu, Biasanya saya mulai dengan Chibi Maruko Chan kemudian Doraemon di jam 8, dan di tutup dengan Detektif Conan. Kalau beruntung tidak tertidur di jam 6 saya masih dapat Inuyasha. Urutannya mungkin ada yang keliru tapi intinya saya menonton semuanya itu. Sekarang mau nonton yang mana saja bebas, tidak perduli dengan urutan waktu. Teknologi merubah segalanya.

Pernah saya kepikiran, “betapa enaknya anak-anak jaman sekarang, segala begitu mudah, segala informasi dapat dengan mudah di akses dimanapun dan kapanpun”. Waktu kecil juga pernah kepikiran andai bisa nonton film kartun kesukaan kapanpun mau. Perjuangan untuk menonton film kartun kesayangan harus sabar menanti seminggu, itu pun kalau tidak mati lampu, ketiduran, atau bahkan siaran tiba-tiba di ganti live *biasanya acara tinju nih 😦 . Ah membandingkan dengan generasi sekarang tentulah sangat jauh. Terus apa kabar generasi sebelum saya? mungkin film kartun itu sendiri belumlah ada.

Pernah sekali waktu diceritakan appa *Bapak saya*, ketika beliau kecil setiap hari bermain dengan teman-temannya. Entah itu di sawah, sungai, atau di alun-alun kampung. Mendengarkannya menyenangkan bagai cerita kartun itu sendiri. Ah, ternyata saya juga patut bersyukur saya pun memiliki cerita kartun sendiri. Karena acara hiburan anak-anak di jaman itu hanya seminggu sekali, maka selebihnya saya bermain dengan teman-teman lainnya.

Saya ingat ketika saya kecil usia SD, kampung tidak pernah sepi dari suara cempreng anak-anak.

Kemarin dulu saya pulang kampung, dari pagi sampai sore kampung begitu hening. Hanya sesekali suara ibu-ibu berceloteh, mungkin mereka sedang bergosip sambil nyambel. Hari ini menemukan kumpulan ibu-ibu saja sudah langka. Dulu, saya sampai malu kalau mau melewati gang-gang kampung, karena hampir di setiap jalanan gang para ibu dan bapak berkumpul sekedar melepas lelah setelah seharian bekerja. Dan di depan kumpulan itu biasanya tanah lapang tempat anak-anak bermain.

Jadi, semisal saya bermain bukan di gang rumah, maka ketika pulang akan melewati dua sampai tiga gang, minimal satu. Di mana di setiap gang hampir selalu ada yang duduk-duduk ngobrol. Sopan santun lah ya harus menyapa minimal bilang, “punte…n”.

Lain dulu lain sekarang, manusia sudah mulai betah tinggal di dalam rumah agaknya pun dengan anak-anak nya. Permainan semacam boy-boyan yang sangat populer di jaman saya, belum pernah sekalipun saya lihat hari ini di kampung. Permainan besar karena biasanya melibatkan seluruh anak-anak kampung. Permainan ini tentu saja mengharuskan tanah lapang, makanya kami sering melakukannya di alun-alaun kampung di mana kumpulan para orang tua lebih dahsyat lagi di sana.

Atau permainan kecil semacam engke-engkean, saya masih ingat kami sering sekali memiliki satu pecahan batu genteng andalan. Setelah bermain selalu dari kami masing-masing menyimpannya di tempat yang paling aman untuk dimainkan keesokan harinya.

Aaaahhh, kemanakah permainan itu? Anak-anak itu?

Permainannya tentu masih ada di kenang oleh kami dan anak-anak itu harusnya hari ini menjadi para orang tua yang senang berkumpul di gang-gang rumah kemudian mengajarkan kepada generasinya permainan itu. Tapi, jaman sudah berubah kawan.

Kami, anak-anak itu lebih senang duduk manis di depan kotak ajaib demi melihat tingkah polah segelintir orang yang kalau di pikir kita pun bisa melakukannya. Coba lihat satu sinetron di salah satu tv swasta tertua yang episod nya sambung menyambung di mana judul dan pemain sudah tak singkron lagi. Ceritanya omaigat, kalau saya bilang, sama persis ketika saya melihat adegan appa, emih, dan emak lagi ngobrol di rumah. Sayangnya adegan mereka bukan dalam kotak ajaib sehingga tidak banyak yang nonton kecuali saya dan adik saya, makanya tak ada bayaran untuk mereka. Tapi, adegan mereka jauh lebih alami dan lebih enak di lihat. Jujur.

Tapi, ya, mungkin kekuatan sinetron itu ada pada adegan yang terlalu biasanya itu heheh. Karena jangan salah, ketidaksengajaan menonton sinteron itu bisa jadi ketagihan, ketagihan mengomentari, ketagihan geli, ketagihan ngomel huhu.

Terus anak-anaknya? Ya, tidak kalah. Yang namanya tipi jaman sekarang semuanya ada. Kalau tipi lagi di sabotase orang tua, masih ada komputer, laptop, tablet, smartphone, dan hape biasa yang hari ini tak mustahil untuk dimiliki anak-anak. Jadi, semua barang teknologi itu mau tidak mau suka tidak suka memang sedang dan telah mengalihkan perhatian anak-anak.

Tidak semua tentunya.

Di pelosok masih banyak kok permainan anak-anak yang masih dimainkan sampai sekarang. Tapi, hari ini kebalikan dari jaman kemarin. Jika dulu amat sangat sedikit anak-anak yang memainkan hape dan sejenisnya tidak dengan sekarang.

Menyadari kenyataan ini, saya dan generasi seangkatan tidak perlu merasa iri hati apalagi sampai dengki *apaan*. Toh, ternyata kita masih lebih banyak memiliki cerita sendiri, adegan penuh energi di masa kanak dulu.

Yah, walaupun tidak dapat dipungkiri anak-anak jaman ini lebih unggul dari segi informasi. Pengetahuan mereka mungkin saja sama dengan kita kecuali pengalaman tentu saja.

Dulu kita butuh waktu cukup lama untuk bisa mengetahui hal tertentu yang di tahu orang dewasa. Tapi, anak-anak sekarang mereka mampu meringkas waktu, mempersingkatnya. Hal-hal yang mungkin baru kita ketahui setelah dewasa tidak bagi anak-anak jaman sekarang.

Karena saya sudah tak iri lagi 😀 dan setelah di pikir matang-matang sampai gosong 😛 saya benar-benar merasa beruntung dengan semua permainan kanak-kanak dulu. Saya merasa perlu membuat terutama anak saya untuk bermain. Mereka harus tahu betapa menyenangkan tertawa di tengah peluh bercucuran dan bau amis keringat. Walau tidak sebebas saya yang dengan aman mengelilingi seluruh kampung bahkan kampung tetangga. Minimal mereka memiliki ruang di sela kesibukannya dengan pelajaran dan keasyikan teknologi.

Karena tanpa disadari keadaan hari ini yang apa-apa serba tekno adalah benih keinginan kita di masa lalu. Keinginan yang menjadi kenyataan bukankah sebentuk prestasi yang perlu dibanggakan. Tinggal kita sebagai manusia khususnya orang tua lebih bijak dalam menghadapinya.

Mereka anak-anak jaman sekarang mewarisi keinginan pendahulunya. Kita harus berbangga mereka anak cucu kita dapat menikmati segala kemudahan dan kecanggihan yang dulu kita harapkan. Mereka generasi anak-anak yang beruntung. Pun dengan kita tidak kalah beruntungnya mengalami hari-hari yang menyenangkan dengan teman dan semua permainan fisik.

Semua pada tempat dan waktunya.

Tapi, tidak ada salahnya kita sebagai orang tua berbagi cerita tentang masa kecil kita dan memperkenalkannya. Siapa tahu mereka tertarik? Memberikan mereka kesempatan dan ruang. Walaupun tidak seluas yang kita miliki dulu. Untuk juga merasakan apa yang dulu kita pernah rasakan agar anak-anak generasi penerus kita jauh lebih baik.

Mereka harus jauh lebih baik dari kita. Harus. Mereka adalah kita di masa depan.

Ambil yang baik-baik di masa dulu untuk kehidupan yang lebih baik di masa sekarang dan seterusnya.

Love you little mary…

catatan:

nyambel : menikmati sambal ramai-ramai, biasanya cocolannya berupa buah-buahan muda.

boy-boyan

engke-engkean: engklek

 

-90- Sekolahan awal Maryam

Kenapa disebut sekolahan? Karena di dalamnya ada proses belajar mengajar dan mendidik. Bagi anak di bawah lima tahun tentu belajarnya berbeda dengan anak Sekolah Dasar dan seterusnya. Bagi mereka bermain ayunan, perosotan, dan berbagai permaianan lainnya adalah belajar. Iyah, belajar bersosialisasi dengan teman, bermain perosotan kan musti antri, nah, di sanalah poin sosialisasinya. Bermain puzzle adalah belajar mengasah kreativitas dan lain-laian. Jadi, semua permainan itu adalah sarana belajar bagi mereka…

Intro sedikit mengenai judulnya, siapa tau ada yang nanya dalam hatinya, “Taman kanak-kanak kok sekolahan, mana paud lagi…”, jadi itu ya jawabannya :mrgreen:

Beberapa bulan yang lalu, saya lupa tepatnya, Maryam saya coba-coba kan masuk PAUD. Kebetulan ada PAUD di dekat kantor bupati persis bersebrangan dengan TK Kartini yang lumayan kesohor di sini. Secara alat peraga permainan, PAUD nya Maryam ini kalah jauh, tempatnya pun masih nyempil numpang kantor UPTD. Tapi, waktu itu setelah saya cari ke sana ke mari hanya ada satu ini PAUD nya, di seluruh wakatobi!

Ada juga terbersit ingin memasukan Maryam ke TK Kartini, secara kanfasilitas dan tempatnya mendukung untuk bermain 😀 . Tapi saya takut malah akan merepotkan gurunya, ya, itu pun kalo diterima. Karena ada rasa tidak enak saya enggan ke sana.

Di PAUD tersebut hanya bertahan dua hari kalau saya tidak salah ingat. Ternyata Maryam sama sekali tidak mau masuk ke kelasnya. Dia hanya mau main perosotannya saja! Di tegur sama guru TK malah njerit-jerit. Jadi, saya pikir kemungkinannya Maryam belum siap atau dia mungkin merasa kurang nyaman. Karenanya saya stop. Secara materi juga tidak rugi, yang namanya TK, Paud, Kelompok Bermain di sini masih sangat terjangkau, waktu itu saya bayar Rp10.000 untuk satu bulan. Tapi yah, harga yang dibayarkan memang sesuai dengan kualitas yang saya dapat 😦

Menginjak usianya 28 bulan Bulan Desember kemarin Saya kembali mencari PAUD karena kita rasa perkembangan berbahasanya sangat kurang. Sebenarnya kita belum tahu kenapa, tapi, sementara kita berasumsi Maryam ini kurang rangsangan. Salah satunya rangsangan berbahasa dari teman sebayanya. Selain ingin merangsang kemampuan berbahasa saya juga ingin melatih sosialisasi dan kemandiriannya.

Iya Maryam masih enggan disapa sama orang dewasa yang tidak begitu ia kenal. Padahal misal teman sekantor saya, tapi karena teman sekantor ini jarang bermain dengan Maryam dia enggan sama sekali disapa dan biasanya marah atau parahnya bisa menangis menjerit-jerit. Dia juga nemplok terus di saya, kayak perangko. Ke mana-mana bahkan ke WC! Anak ummi banget dah.

Karena hal-hal itulah memantapkan kita untuk kembali mencari PAUD. Tapi sayang tidak begitu saja ketemu. Akhirnya saya mencoba mengikutkannya ke TK dekat kantor. Paling tidak dia akan ketemu dengan banyak teman, bisa melihat mereka berinteraksi, dan membuat Maryam mau bermain bersama adalah hal yang melegakan.

Dan di sana Alhamdulillah Maryam mau main. Mungkin permainannya lebih banyak, temannya juga lebih banyak, dan lingkungannya luas. PAUD sebelumnya secara tempat memang sempit jadi anak-anak kurang leluasa bermain. Apalagi bagi anak seperti Maryam yang outdoor abis maunya ke sana ke mari lari-lari.

Hanya ia masih enggan masuk kelas konvensional, di mana berderet rapi kursi dan meja plus guru di depannya tak lupa dengan papan tulisnya. Kecuali di kelas kecil -di TK ini ada dua kelas: kelas besar usia persiapan masuk SD, 5-6 tahun dan kelas kecil usia 4-5 tahun- Maryam mau masuk itupun didampingin saya. Tapinya dasar anak-anak ya, bukannya memperhatikan guru ini anak malah main perosotan sendiri. Kadang ada juga anak laki-laki satu yang menemani main. Dan seremnya anak laki-laki satu yang sering nemenin Maryam ini sering di cap nakal oleh gurunya. Entahlah, mungkin hanya bercanda dengan kata “nakal”, tapi bagi saya, lah namanya juga anak umur di bawah lima tahun, normalnya pasti ingin main-main. Dan kata nakal di kamus saya pribadi masuk kata yag tidakboleh diucapkan kepada anak-anak.

Sayang tidak semua guru TK suka dengan anak yang tidak bisa diam dan tanpa sadar kata-kata seperti nakal, bodoh, meluncur tak tertahan. Maunya anak-anak menurut dan memperhatikan guru. Biasanya guru akan memuji anak yang diam dan serius memperhatikan dan kata-kata sebaliknya kepada anak yang sulit diatur. Dan hal tersebut kurang berkenan bagi saya sebagai orang tua.

Jujur, saya inginnya guru memperlakukan setiap anak didiknya berbeda. Maksudnya anak yang tidak bisa fully focus bukan berarti dia nakal atau bodoh kan. Bukan berarti juga anak yang tidak bisa diam itu sama sekali tidak memperhatikan. Karena lagi-lagi menurut saya, tingkat konsentrasi setiap anak berbeda-beda.

Karena banyak faktor terutama sekali di sekolah ke dua ini belum juga bisa di tinggal, saya berniat mencari sekolah lain. Paling tidak dua poin kenginan saya ada pada sekolahan yang baru, saya akan memindahkan Maryam. Dan iniah beberapa poin keinginan saya tentang sekolahan awal maryam:

1 . Anak-anak bisa bermain dengan leluasa (sosalisasi);

2 . Anak percaya dengan dirinya sendiri (menumbuhkan kemandirian);

3 . Tenaga pendidik memilik concern yang baik dengan dunia pendidikan, terutama memilik pemahaman bahwasanya masa bermain adalah masa pendidikan bukan pembelajaran. Misal membiasakan buang sampah pada tempatnya, berdo’a sebelum makan, makan sambil duduk, dan kebiasaan-kebiasaan baik lainnya yang harus dimiliki seorang anak untuk bekalnya nanti;

4 . Media bermain memadai. Terutama untuk merangsang anak dalam hal kreativitas ataupun kecerdasan berfikir;

5 . Keamanan dan kenyamanan sekolah.

Mengingat sekolah yang kedua memiliki area bermain yang cukup luas, maka saya ingin poin tambahan lain untuk memantapkan niat memindahkan Maryam.

DSCN1872

Nah, di suatu hari yang cerah dulu sekali saya punya memori tentang bangunan ini. Dan sekilas saya lihat papan namanya “PAUD…”, tapi untuk waktu yang lama saya lupa. Sebenarnya pas awal ingat saya pernah nyari tapi ya dilalah tak ketemu *belum rejeki   :-/

Hari kamis tanggal 7 Januari 2016 saya cari lagi dan berjodoh 😆 . Waktu itu jam sepuluh lewat, kelas sudah bubar. Ibu gurunya sedang istirahat persiapan mau pulang. Berbincanglah saya dengan Ibu guru Asma, masih muda, kesan pertama saya dia memiliki dedikasi sebagai pendidik. Dia pun menyambut saya dengan ramah dan menerangkan sistem PAUD di sana. Yang membuat saya langsung iyes adalah pernyataan Ibu gurunya:

“Di sini anak-anak diutamakan untuk tidak ditemani orang tuanya, biar mandiri, kami gurunya bertanggung jawab”.

Nah, ini dia yang saya cari *dalam hati tentunya 😀 * . Saya langsung bersemangat esoknya saya resmi daftarkan Maryam ke sana. Dan benar saja , ada juga orang tua yang menunggu adalah murid baru yang masih penyesuaian. Adapun Maryam saya langsung tinggal, menangis sih, njerit-jerit memekakan telinga tentunya, tapi saya sudah bertekad. Dan alhamdulillah drama hanya terjadi satu hari, fiuuhhh! Orang tua baru yang menunggu pun saya lihat tiga hari kemudian sudah tidak ada. Ada satu orang ding dan itu bersembunyi sama dengan teknik saya waktu hari pertama 🙂 .

Setelah berbincang dengan kepala sekolahnya, dan ada satu dua keberatan saya dengan kata-kata kurang baik seperti nakal dan bodoh supaya tidak digunakan yah minimal kepada Maryam. Dan jawaban kepala sekolahnya pun melegakan, “di sini kami berusaha tidak berbicara kasar kepada anak-anak: jangan, nakal, bodoh, kami hindari”. Alhamdulillah semoga!

Oh ya soal bayaran. Per bulannya Rp20.000,- dan biaya masuk Rp50.000,- . Melihat beberapa gurunya belum PNS dan menerima pendapatan yang tidak seberapa: miris. Bagaimana ya, biar mereka para guru yang belum PNS *saya lihat dedikasi sebagai tenaga pendidik bagus* agar bisa mendapatkan haknya secara layak? Dengan harapan mereka akan lebih giat dan bersemangat. Yah, walaupun dengan gaji seperti sekarang mereka masih giat, tapi, tetap saja saya sebagai orang tua yang menitipkan anaknya di sekolah tersebut merasa prihatin. Bagaimana sulit diaturnya anak-anak seusia Maryam, itu pasti sangat melelahkan.

Membaca artikel tentang pendidikan usia dini di Jepang, di mana pemerintah sangat memanjakan oang tua, murid, dan guru, kapan ya kita bisa seperti itu ❓ Apakah ada jalan lain yang bisa kita -para orang tua- lakukan untuk membantu sekolah-sekolah seperti Maryam di daerah agar lebih maju baik dalam segi tenaga pendidik, alat peraga, alat bermain, dan lain-lain pendukung? *ada ide???*

Karena harusnya setiap anak indonesia dimanapun berada dapat mengakses dan menikmati pendidikan yang sama baiknya dan sama kualitasnya. 😉 ❤