-198- Museum Sumpah Pemuda: Merinding karena semangatnya dan Ngeri juga karena…

Asli tidak direncanakan. Tidak terpikirkan. Karena kita nginep di Cordella Senen terus tiba-tiba suami pengen jalan ya udah. Dan kita juga gak tau kenapa milihnya yang ke kanan bukan ke kiri yang ternyata disanalah keramaian. Toko buku kwitang juga di sana. Padahal kita tuh pengen banget ke sana. Sudah lama gak ke sana setelah selesai kuliah.

Tapi jalan pake feeling itu kadang menyenangkan. Mungkin karena masih misteri apa yang akan dihadapi di depan. Kayak penasaran gitu di depan ada apa ya… Berharap menemukan hal-hal aneh hehe.

Nah, ini kejadian di kita kemarin. Pas baru beberapa melangkah liat gedung jadoel dong. Ya gimana saya mah liat yang begituan langsung kuat rasa penasarannya.

Pelan-pelan masuk. Liat-liat kursi nya yang antik dan cantik. Lama-lama keluarin hp, jepret jepret jepret. Dan liat pintu. Di dalam sepertinya tambah mengasyikan.

Seorang satpam sepertinya pura-pura saja keluar dari pos nya. Yaelah saya baru sadar ternyata ada pos satpamnya. Secara ini rumah langsung terbuka gitu aja dengan trotoar tanpa pembatas. Dari tadi sepertinya di balik pos itu mengamati gerak gerik kami.

Karena suami juga sepertinya tertarik untuk masuk maka bertanyalah ia😁 Pucuk dicinta ulam pun tiba inituh gedung sumpah pemuda. Semua orang boleh masuk. Isi buku tamu bayar dua rebu untuk umum dan seribu untuk anak-anak. Sudah. Akhirnya kita masuk rumah kuno lagi setelah dulu di Jatibarang. Di rumah mbesaran punya pabrik gula itu. Ah hatiku senang. Selalu senang saya masuk museum wkwkwk. Jadi berasa anak SD yang serba ingin tau wew.

Posisi saya moto di trotoar.

Set kursi yang sangat aduhai. Nenek saya punya mejanya dan emang bagus banget.

Tiket yang sangat murah. Sungguh terlalu dekat sana kalo gak pernah berkunjung. Hehe bercanda.

Kita masuk melalu pintu tengah. Pintu utama. Langsung masuk ruang tamu. Dan bentuknya masih begitu. Di set persis seperti keadaan dulu kala. Orang-orang sedang berdiskusi dengan buku-buku tebal berbahasa inggris dan belanda sebagai bahannya. Semangatnya sampai. Merinding. Di tahun itu. Di jaman itu. Pikiran orang-orang ini sudah menembus waktu.

Saya mau bukunya… juga set kursinya!
Liat buku-bukunya saya jadi ingin belajar dan belajar dan belajar

Di ruangan itu kita juga bisa melihat foto-foto jadul. Tulisannya Batavia 1920-an. Dengan foto stasiun senen saya kira dan kereta uap yang sedang melintas. Saya benar-benar merasa sedang berada di tahun itu. Dengan semangat orang-orang muda ini. Mereka,,,ah! Pikirannya tentang ingin sungguh mengagumkan.

Dari ruang tamu itu di kanan kiri ada pintu. Kita memilih pintu sebelah kanan. Di sana kita memasuki ruangan penuh dengan kata-kata semangat.

Lagi-lagi kursi ini canteks.

Ada pesan Ki Hajar Dewantara seperti di atas. Ada juga karya Mohammad Yamin. Di saat itu. Orang-orang begitu sangat ingin merdeka. Menentukan arah langkahnya sendiri. Karena ternyata kitapun mestinya bisa. Ingin menjadi manusia yang merdeka seutuhnya. Yang dengan sadar melakukan sesuatu bukan karena keterpaksaan. Di ruangan ini masih terasa sekali kedaerahannya. Pemuda-pemuda dari daerah yang sedang mencari jati diri bangsa.

Dari ruangan ini kita masuk ke ruangannya Indonesia Raya. Ada Replika wajah Wage Rudolf Supratman. Ada biola yang ia mainkan. Dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan di ruangan ini.

Ada foto WR Soepratman juga dengan adiknya. Jadul sekali. Gayanya alamak mantap di jaman itu. Hehe. Kok saya malah fokus ke gayanya ya😄

Indonesia Raya ini diperkenalkan WR Soepratman pada kongres pemuda II di Batavia 28 Oktober 1928. Hal ini menandakan dimulainya era ide satu indonesia sebagai penerus hindia belanda daripada dipecah menjadi koloni-koloni (wikipedia). Para pemuda menginginkan negara baru nama baru dengan orang-orang merdeka di dalamnya. Tahun ini baru awal. Baru benih. Belum panas. Baru oh iya ya!

Dari ruangan Indonesia Raya kita akan masuk ke era di mana pemuda sadar bahwa ide ini harus disebarluaskan maka dimulailah penyebaran ide melalui tulisan-tulisan di media massa. Salah satu koran yang dinilai subversif adalah Benih Merdeka. Harian ini terbit pertama kali tahun 1916 di Sumatera Utara. Agaknya sumatera ini menjadi pulau literasi semenjak dulu kala. Yes perjuangan paling frontal ternyata dari sumatera. Dan mereka pun sangat berani menggunakan kata merdeka dalam tulisannya.

Ya koran penampakannya tidak banyak berubah dari dulu sampe sekarang.

Karikatur itu sangat jelas menggambarkan bahwa kita ingin merdeka. Ini tahun baru 1920-an. Dan aroma kemerdekaan sudah tercium. Waktu pun tak sabar mengabarkannya. Tulisan-tulisan itu memiliki nyawa siapapun yang menulis dan menggambar dia tahu maunya.

Lanjut ke ruangan yang lebih besar. Sepertinya ini ruang keluarga. Di sana ada miniatur dulu ketika para pemuda ini melakukan kongres pemuda II. Ada WR Soepratman yang kiranya sedang memperdengarkan Indonesia Raya. Suasananya saat itu sulit dibayangkan. Tapi saya yakin penuh semangat yang menggebu-gebu seakan indonesia sudah ada.

Kemudian berita tidak hanya disebarluaskan melalui koran tapi juga radio. Waktu itu radio semasyhur youtube hari ini. Riuh rendahnya semangat perjuangan terasa sampai kepada kita yang hanya menyaksikan sisa-sisa ceritanya. Saya senang sudah ke sini.

Tapi jujur setiap kali berganti ruangan saya kaget. Ada rasa ngeri dan takut melihat patung-patung ini. Maryam beberapa kali bilang takut. Enggak. Saya gak bakal cerita horor. Tapi emang takut gimana si.

Liat foto patung sedang mendengarkan radio itu tuh kita banget di masa lalu. Tapi saya ngeri juga. Apa karena warna fotonya yang malah mengingatkan saya ke masa G-30S PKI. Tolong saya seperti melihat sebuah adegan di film itu. Sarung. Kursi. Dan radio. Iya si radio di tahun 1960-an pastinya sudah berevolusi.

Dari ruang radio itu sampailah kita ke ruangan terakhir di mana berderet panji-panji kepemudaan dalam sebuah lemari kaca yang ditaruh di tengah ruangan. Jong java, jong sumatra, dan jong jong yang lain. Kita pun sampai ke pintu sayap mmm aseli saya bingung dengan arah mata angin. Pokoknya kalau menghadap jalan ini tuh pintu sayap kanan.

Selesai sudah jalan-jalan singkat yang tak direncanakan ini. Yang tentunya sangat menguras energi. Ya karena kita seperti berjalan di lorong waktu. Fiuhh. Ikut bergelora dengan semangatnya sekaligus ketakutan dengan semua patung-patung di ruang temaram. Mereka tuh seperti mengagetkan kita tanpa rencana. Hahahaha.

Dibuang sayang, biar tambah terlempar ke masa lampauuuu….

Berkunjunglah ke tempat-tempat seperti ini. Paling tidak membuat kita bergetar karena semangatnya kemudian termotivasi dan bersyukur karena ternyata banyak hal yang telah kita capai sampai hari ini. Dan bersiaplah untuk pencapaian-pencapaian selanjutnya. Brace urself!

-186- Maryam terima raport

Bismillahirrohmanirrohiim…

Alhamdulillah.

Tahun ini Maryam naik ke kelas dua. Walaupun secara emosional masih ketinggalan dibanding teman-temannya yang seumuran tapi so far Maryam masih enjoy mengikuti. Yang paling kerasa Maryam sudah mulai nalar. Dulu ngajarin baca itu yang sampai saya frustasi, sampai saya bikin buku sendiri untuk dia belajar baca, sekarang alhamdulillah. Sekali saya terangin seterusnya dia sudah bisa ngikutin.

Secara akademis Maryam juga masih bisa ngimbangi. Walaupun belum bisa sejago teman-temannya. Tapi saya sangat bersyukur. Bagaimana Maryam masuk SD tanpa bisa apa-apa, bahkan komunikasi saja masih terbatas, sekarang alhamdulillah banyak sekali perkembangannya. Baca bisalah yang sederhana, berhitung juga bisa yang sangat sederhana, menulis juga bisa. Saya tidak muluk-muluk dengan suami. Sekolah dasar, yes, namanya sekolah dasar, jadi kami hanya berharap Maryam bisa mahir dan faham yang dasar-dasar dulu. Misalnya kelas satu ini yang dasar kan calistung: Baca Tulis Hitung, ya sudah, itu saja dulu. Selebihnya biar Maryam yang jalan. Karena kita selalu mengingatkan diri sendiri bahwa anak memiliki sesuatu dalam dirinya yang unik dan tidak bisa disama-samakan atau dibandingkan antara satu dengan lainnya.

Tapi tahulah ya, lingkungan kita masih banyak yang mengagungkan nilai tinggi dan rangking yang bagus. Membuat stigma pintar dan bodoh. Padahal tidak ada tuh anak yang bodoh, yang ada anak pintar di minatnya masing-masing. Hanya saja kita para orang tua, pendidik, dan masyarakat pada umumnya belum tahu apa sih kecenderungannya. Dan kelebihan itu tidak juga harus membuatnya besar, cukup untuk membuatnya berguna.

Baru-baru saya melihat seorang Anang Hermansyah, kalo saya sih iyes, iya bener beliau orang yang saya maksud. Anang berpendapat bahwa anak sulungnya tidak perlulah kuliah. Menurut dia, anak sulungnya ini sudah tahu ke mana minatnya. Jangan sampai kuliah itu hanya sekedar kebanggaan, gengsi doang. Setuju Mas Anang, saya juga iyes…

Tapi pemikiran seperti Mas Anang ini belum begitu umum. Banyak duit kok pelit amat nyekolahin anaknya? Nah, kan masih banyak yang berpikir seperti ini. Atau anaknya bodoh kali gak mampu. Nah, ini lebih menyakitkan lebih ke bully, bagi yang gak kuat kemungkinan akan menyerah kemudian kuliah hanya karena omongan pedas seperti ini. So, saya sebagai orang tua memang harus siap mental. Harus siap jika anak kita tidak secemerlang kita di bidang kita. Karena ucapan pedas itu benar-benar lebih tajam dari pedang. Bersiaplah! Jangan sampai keputusan dalam hidup kita dipengaruhi oleh hal-hal yang sebenarnya tidak begitu penting. Keputusan hanya untuk membuat semua orang bahagia tentu gak sehat.

Kembali lagi ke maryam. Jujur. Ada juga rasa sedih mendapati raport anak saya tanpa rangking. Di sisi lain saya ambilkan raport ponakan yang berprestasi. Saya kadang berpikir apa Maryam kurang di bidang akademis. Sementara jujur saja sebagai orang tua yang berasal dari sistem pendidikan rangking berharap juga anak kita bisa sama baiknya bahkan lebih.

Saya cerita deh ke suami. Dan saya mungkin harus banyak bersyukur punya suami dengan pendirian sekuat baja. Saya yang seperti bambu ini akhirnya alhamdulillah bisa kembali merasakan angin sepoi-sepoi.

Saya harus terus memantrai diri bahwa setiap anak punya jalannya masing-masing. Mereka bukan kita. Mereka tidak harus sama dengan kita. Mereka istimewa dengan jalannya masing-masing. InsyaAlloh.

-171- Tanpa Tanda Jasa

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Hari sabtu pagi. Seperti biasa saya duduk anteng di depan kelas 1 SDN 3. Sekolahnya Maryam.

Minggu ini berlangsung ujian tengah semester. Saya sebenarnya kaget dengan pelajaran anak kelas 1 hari ini. Pelajarannya per tema. Ada tema mengenal diri sendiri, kegemaran, keluarga, dan kegiatan. Semuanya 4. Per tema ada sub temanya. Bacaan semua. Tebal lagi. Walaupun bacaan per halamannya tidak sebanyak novel tapi tetap saja semua itu full bacaan.

Hebat sekali anak jaman sekarang ya?Kelas satu sudah harus membaca semua buku tema itu. Anak teman saya yang di kota malah ikut les membaca pra sekolah. Katanya, salah satu syarat masuk SD harus sudah bisa membaca. Sudah seperti itu ya sekarang?

Di TK Maryam pun dulu ada kelas persiapan SD. Ada tambahan belajar membaca. Padahal dulu saya TK taunya bermain. Ibu guru TK membacakan dongeng. Bermain peran. Sambil bermain beliau menyelipkan pelajaran hidup. Harus antri. Membuang sampah pada tempatnya. Berbicara baik. Kami tidak merasa sedang diajarkan. Tahunya sedang bermain😊

Dulu. Boro-boro membaca buku. Kelas satu saya masih belajar membaca. Kertasnya berwarna coklat. Per halaman ada tulisan besar-besar. Hanya beberapa baris tiap halamannya. Yang paling saya ingat adalah ini budi, ini bapak budi, ini ibu budi. Hurufnya besar-besar berspasi pula.

Bu Yayah alm. Bu guru kelas satu saya di SD dulu. Suaranya lantang. Mengeja hampir setiap hari. Menulis huruf per huruf setiap hari menggunakan kapur. Begitu terus. Tanpa lelah. Saya tahu semua itu terbayarkan. Hampir semua kami pandai membaca ketika naik ke kelas dua.

Saya lupa dulu itu bagaimana kami ujian.

Anak saya ujian. Soalnya dua puluh. Lima belas pilihan ganda. Esai lima. Bagaimana coba kelas satu ini mengerjakannya? Kalau begini memang benar harus sudah pandai membaca dan menulis. Usia pun harus sudah tujuh tahun. Sebelum tujuh rata-rata anak belum begitu matang soalan belajar. Masih mau bermain.

Tapi Maryam jangankan tujuh enam pun belum. Sudah mau sekolah. TK nya ia tinggalkan setelah satu tahun lebih di sana.

Sekolah menerima. Gurunya pun begitu. Jadilah Maryam belajar setiap hari di SD. Ia terlihat cukup senang. Tidak benar-benar belajar. Nyatanya lebih banyak bermain. Belajar membaca dan menulis sekali-sekali. Dari jam tujuh masuk kemudian jam sepuluh pulang, hanya sejaman belajar yang belajarnya.

Gurunya sabar dan telaten. Mengajari anak muridnya yang masih bocah itu belajar. Setiap hari sejaman. Tidak lama. Tapi saya kagum. Maryam sudah mulai bisa membaca.

Buku tema tetap ada. Bertumpuk buku-buku itu di belakang bangku murid yang hanya empat belas. Bu Guru mengajari apa yang mampu diserap anak didiknya. Ia tidak memaksakan harus menguasai seluruh buku tema itu.

Saya terharu. De javu dengan guru kelas satu saya dulu. Kata orang, kebaikan yang ikhlas akan terpancar. Begitu mungkin yang saya rasakan dengan guru-gurnya Maryam.

Hari ini ada praktek keterampilan. Membuat mozaik. Dengan sabar Bu Guru mengajari semua anak didiknya sampai selesai. Tidak peduli ada yang nangis karena lupa bawa gunting dan lem. Ada yang berlari ke sana ke mari. Bu Guru tetap mengajari dengan sabar.

Kata gurunya kemudian, mungkin tahun depan mengulang. Karena umur belum cukup untuk didaftarkan ke sistem. Saya tidak terlalu khawatir. Karena yang penting bagi Maryam sekarang adalah kegiatan. Kebetulan bisa ikut SD. Kalaupun nanti bisa lanjut, saya bersyukur. Saya tetap mengalir. Mengikuti aturan mainnya. Selama Maryam senang mengikutinya.

Langit pagi ini di atas SDN 3 Sitanggal. Semoga kalian semua menjadi generasi unggulan. Menjadi manusia-manusia yang berahlak mulia dan bermanfaat. Semua jerih payah itu akan terbayar lunas. Aamiin.

-169- Maryam Mengaji

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Saya lupa persisnya kapan. Maryam ikut mengaji dengan sepupunya. Di kampung kami. Ba’da magrib sepupu-sepupunya berkumpul di rumah bapak (mertua). Tepat di mana kami tinggal. Jadilah Maryam ikut juga.

Bukan iqra. Mereka menyebutnya jilid. Kalo iqra ada 6 buku, jilid ada 10. Jangan khawatir kelamaan. Jilid ini lebih tipis halamannya. Kurang lebih 30 halaman per jilid nya. Sementara iqra ratusan.

Dibandingkan saya dulu, cara ini lebih lama sampai kepada alQur’an. Tapi melihat pengajarnya yang telaten dan tegas soalan makhraj. Maryam pernah beberapa hari hanya melafalkan tsa, ghin, qof, dan ro. Saya tidak masalah soalan seberapa lama.

Sekali lagi saya lupa. Lupa sudah berapa lama Maryam ikut mengaji. Mungkin sebulan, dua bulan? Saya benar-benar lupa. Yang pasti belum ada setengah tahun.

Jilid satu nya sudah mau selesai, alhamdulillah. Kondisi jilidnya, masyaAlloh sangat rajin 😁

Awalnya saya tidak pantau. Membiarkannya mengalir. Saya pikir toh Maryam masih belum nalar. Tapi melihat perkembangannya saya kembali berpikir. Ditambah mendengar perkataan guru agamanya di acara rapat wali murid sabtu kemarin: bahwasanya anak adalah investasi kita di akhirat. Kita harus mengupayakan kebaikan semampu kita. Dan merawat. Dan melindunginya. Memperjuangkannya. Saya tahu saya harus berupaya lebih. Tidak sekedar membiarkannya mengalir bak air. Usaha. Bukankah kita dituntut untuk berusaha?

Jadilah saya rada rajin antar Maryam mengaji. Saya ingin memastikan ia benar-benar mengaji. Karena pernah satu dua malam. Maryam berangkat mengaji tapi tidak mengaji. Katanya tidak ada teman.

Ada satu sepupunya yang usianya dekat dengan Maryam. Sekolah bersama. Sepupunya ini tiap pagi jemput Maryam. Bermain bersama. Pun mengaji. Walau wajah mereka blas tidak ada mirip-miripnya. Tapi keseringan bersama disangkanya kakak beradik kandung. Jika sepupunya ini tidak ada. Bagi Maryam seperti ada yang kurang. Jadilah ketika ngaji pun harus selalu ada dia. Kalau tidak ada, ya, umminya ini yang jadi pengganti.

Saya duduk di sana. Al kawaakib nama tempat ngajinya. Pendirinya ustadz paling disegani seantero kampung. Bahkan di kampung-kampung sebelah. Ia dikenal karena hafalannya. Hafizh. Cara mengajarnya yang tegas. Tapi sangat lemah lembut perilakunya. Ia sangat dikenang di kampung ini.

Sayang, saya datang beliau sudah berpulang. Saya hanya mendengar semua kebaikannya dari mulut warga. Dan masih merasakan kebaikannya, alhamdulillah.

Pengajian dimulai ba’da magrib. Setiap saya temani selalunya jam 18.30. Mengantri. Paling telat sejaman baru selesai.

Pengajarnya yang di lantai 1 perempuan semua. Pengajar jilid. Dua pengajar putra dan dua pengajar putri.

Di lantai satu ini ramainya bukan main. Ramai dengan yang mengaji juga dengan anak-anak yang bermain. Para pengantar biasanya menunggu di teras. Tapi banyak juga yang di dalam. Seperti saya.

Antrianya mengular. Ada empat banjar. Dengan baris yang sulit dihitung. Karena masih saja ada yang datang di tengah atau di akhir mengaji.

Sementara itu lantai dua untuk yang belajar alQur’an. Saya belum pernah naik. Biasanya di atas menurut ponakan yang sudah alQur’an, belajar tajwid juga. Ya harus ya. Belajar alQur’an mesti dengan tajwidnya.

Ya, saya menjadi bersemangat. Satu bulan harusnya bisa satu jilid. Dengan ketentuan dan syarat berlaku. Okelah dua bulan. Biar lebih longgar. Jadinya saya tidak stres sendiri. Gitu deh emak-emak banyak kepengennya😁

Tapi dengan Maryam semangat mengaji saja sudah membuat saya dan abahnya senang bukan main, alhamdulillah. Semoga terus bersemangat mencari ilmu sampai kapanpin ya Nak!

Semangat!

-166- Lima Tahun Ini

Sekolah. Maryam baru saja lima tahun. Baru kemarin tanggal tiga. Tapi sekarang ia sudah di kelas satu SD.

Saya tidak berniat pada awalnya. Mau dua tahun Maryam malang melintang di pra sekolah. Sudah banyak kali TK dan Paud yang dicobanya. Hanya dua yang bertahan lama. Masing-masing satu semester. Sampai dapat buku raport. Satu di Wakatobi. Satunya lagi di sini.

Maryam dari semua sisi harusnya masih TK. Dia belum siap.

Awal tahun ajaran baru tiba. Dan Maryam masih mogok ke TK lamanya. Dia sudah sebulanan lebih tidak masuk. Saya sudah tanya guru-gurunya. Dari sana tidak ada apa-apa. Marymanya sendiri tidak cerita apapun. Dia hanya tidak mau. Mau kalau diantar ummi.

Kebetulan SD dekat rumah kekurangan murid. Saya jadi ingat Laskar Pelangi. Kalau kalian pernah baca atau nonton pasti inget waktu hari pertama sekolah kekurangan murid. Mirip itu. Jadilah Maryam masuk. Setelah diitung ada 12. Dan banyak yang seumuran Maryam.

Sekolah yang mencari. Sekolah yang minta. Jauh-jauh hari Maryam sudah diberi baju olahraga.

Awalnya saya cuek.

Tapi, daripada Maryam di rumah. Kalau anaknya mau. Bolehlah.

Hari pertama saya antar. Yep, ke SD. Waktu itu belum genap lima tahun.

Muridnya yang dua belas itu benar-benar masih bocah. Semua diantar. Sampai semingguan.

Gurunya seorang perempuan baya. Tanpa ekspektasi apapun terhadap anak muridnya. Dia cukup sabar. Untuk seorang guru SD. Dia tidak banyak menuntut.

Belum bisa menulis. Belum bisa baca. Tak apalah wong kalian mau belajar di sini. Jadi, nanti kalian akan bisa, insyaAlloh. Saya seperti membaca pikirannya.

Jam belajar pun hanya sekali. Sebelum jam sepuluh. Setelah jam delapan. Selebihnya anak-anak main. Tak ubahnya TK B. Yang berbeda: di sini tidak ada arena permainan.

Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda. Entah itu datangnya dari si anak sendiri. Orang tua ataupun lingkungan. Yang pada akhirnya kita sebagai orang tua berharap. Berdo’a agar jalan yang anak-anak kita tempuh hari ini adalah jalan terbaik dari Alloh SWT. Untuk masa depannya yang lebih baik. Harus lebih baik dari kita.

Walaupun kadang saya masih berpikir: sekolah saya dulu lebih baik secara infrastruktur dibandingkan Maryam hari ini. Berhubung ini jalan yang tersedia. Mari kita ikuti dulu. Dan amati selanjutnya.

Bismillah.

-147- Maryam

Bismillah…

Usianya empat tahun. Alhamdulillah komunikasinya semakin pesat. Sekarang ia sudah bisa bercerita kegiatan sehari-harinya. Kalo saya pulang…

“Ummi, ummi…enyon tadi doyan, sama mb bia, mb awa, mb titis, nada…nada jatuh ummi, nangis.” dan terus nyerocos apapun yang diingatnya. Saya menimpali, iya sayang, terus gimana…

Kira-kira artinya: ummi, ummi…saya tadi main, sama…

Waktu berlalu alhamdulillah kekhawatiran itu perlahan menyurut. Selidik punya selidik Maryam ini dulunya kurang sarana untuk berkomunikasi. Sementara di sini dia bisa bermain dengan siapa saja karena saudaranya banyak.

Bermain. Iya anak seusia dia memang harus main. Dari main inilah mereka belajar. Permainan pertama yang membuat saya sadar adalah bermain masak-masakan. Saya lihat Maryam sedang main dengan sepupunya dengan peralatan masak yang saya beli seharga tiga puluh ribuan. Mereka bermain jual beli. Maryam sebagai pedagang dan sepupunya sebagai pembeli. Saya perhatikan disanalah Maryam belajar komunikasi. Sepupunya yang terpaut dua tahun dengan Maryam terus bicara mengajak Maryam bicara, bukan ngajari tapi memang dia butuh jawaban Maryam.

“Maryam beli…”

“Beli…?” ini Maryam belum begitu faham dengan beli. Tapi sepupunya terus nunjuk-nunjuk, beli itu nih uangnya. Akhirnya Maryam ngerti dan mulai masak sate-satean.

Dia butuh main dengan sebayanya dengan teman-temannya.

Makanya sekarang dia TK saya tidak memaksa dia harus pintar menulis dan membaca saya biarkan saja dia main. Karena ternyata ketika di rumah apa yang gurunya bicarakan di TK dia inget tentu dengan pelafalan yang masih terbatas.

Usianya memang untuk bermain, bermain adalah belajar bagi mereka. Tapi sebenarnya kita bisa belajar dari anak-anak: melakukan sesuatu itu harus menyenangkan karena jika hati senang insyaAlloh ikhlas dan hasilnya insyaAlloh memuaskan.

-140- Maryam dan Komunikasinya

Bismillah…

Sudah lama tidak cerita perkembangan Maryam. Sudah empat tahun anaknya, sudah besar. Sekarang Maryam TK, dua menitan kurang lebih jaraknya dari rumah naik sepeda motor. Mulai menikmati pergi sekolah karena sudah punya teman. Temannya laki-laki persis seusia, tetangga desa. Temannya itu setiap hari diantar mamanya pergi sekolah. Jadinya, saya pun kenal dengan mama teman Maryam ini.

Ngomong-ngomong soalan TK, ini adalah TK ke enam bagi Maryam 😀 . Empat TK di Wakatobi dan dua di sini. Maryam pernah semingguan lebih sekolah TK di tempat lain selain TK yang sekarang. Alhamdulillah TK yang ini ada penitipannya jadi Maryam biasa dijemput dzuhur sama Om nya. Baru TK ini di desa kita yang punya sistem penitipan anak. Yah, namapun masih desa jadi pilihan sekolah tidak begitu banyak. Lain cerita kalau di ibukota kabupaten dimana peluang mencari sekolah plus penitipan itu besar.

Saya pernah cerita tentang speech delay di sini, gimana sekarang Maryam? Alhamdulillah setelah intens main sama sepupu-sepupunya dan bersekolah sekarang komunikasinya lumayan. Perkembangannya pesat, dari yang pertama kali ke Jawa masih satu arah sekarang sudah dua arah malah ngobrol. Tinggal menyempurnakan pelafalannya, semacam huruf R, L, G, dan K. Jadi, semisal menyebut namanya bukan Maryam tapi Mayam, Mba Bilqis jadi Mba Titis, Mba Bila jadi Mb Bia. Kalau diperhatikan Maryam belum bisa mengucapkan huruf-huruf yang harus memainkan ujung dan pangkal lidah.

Secara tahapan perkembangan komunikasi anak InsyaAlloh semua tahapan aman. Artinya, Maryam tidak mengalami apa yang disebutkan di sana seperti hilangnya kemampuan bicara pada semua tingkatan umur, Maryam masih bicara namun belum bisa jelas satu kalimat waktu itu. Jadi, kalau saya sebagai ibu menyimpulkan bahwa Maryam kurang rangsangan komunikasi atau bisa jadi syarafnya terlambat matang. Mudah-mudahan seiring berjalannya waktu komunikasinya akan semakin membaik, aamiin.

Maryam bukan tidak berkomunikasi sama sekali. Saya dan Abahnya berusaha ngajak bicara, tapi mungkin tidak seintens yang lain. Selain itu, di sana Maryam jarang sekali bermain dengan teman sebaya. Paling dalam sebulan sekali itupun jika beruntung kalau ada anak teman yang dibawa ke kantor. Pas sekolah TK sudah mulai membaik dan alhamdulillah terus membaik seiring waktu dan kepindahan kami ke kampung halaman si abah.

Rasanya waktu cepat sekali berlalu dari rasa khawatir yang sangat sampai ke titik ini. Titik dimana rasa khawatir telah berubah menjadi harapan. Jika dulu khawatir plus berharap sekarang berharap kali dua, alhamdulillah.