-140- Maryam dan Komunikasinya

Bismillah…

Sudah lama tidak cerita perkembangan Maryam. Sudah empat tahun anaknya, sudah besar. Sekarang Maryam TK, dua menitan kurang lebih jaraknya dari rumah naik sepeda motor. Mulai menikmati pergi sekolah karena sudah punya teman. Temannya laki-laki persis seusia, tetangga desa. Temannya itu setiap hari diantar mamanya pergi sekolah. Jadinya, saya pun kenal dengan mama teman Maryam ini.

Ngomong-ngomong soalan TK, ini adalah TK ke enam bagi Maryam 😀 . Empat TK di Wakatobi dan dua di sini. Maryam pernah semingguan lebih sekolah TK di tempat lain selain TK yang sekarang. Alhamdulillah TK yang ini ada penitipannya jadi Maryam biasa dijemput dzuhur sama Om nya. Baru TK ini di desa kita yang punya sistem penitipan anak. Yah, namapun masih desa jadi pilihan sekolah tidak begitu banyak. Lain cerita kalau di ibukota kabupaten dimana peluang mencari sekolah plus penitipan itu besar.

Saya pernah cerita tentang speech delay di sini, gimana sekarang Maryam? Alhamdulillah setelah intens main sama sepupu-sepupunya dan bersekolah sekarang komunikasinya lumayan. Perkembangannya pesat, dari yang pertama kali ke Jawa masih satu arah sekarang sudah dua arah malah ngobrol. Tinggal menyempurnakan pelafalannya, semacam huruf R, L, G, dan K. Jadi, semisal menyebut namanya bukan Maryam tapi Mayam, Mba Bilqis jadi Mba Titis, Mba Bila jadi Mb Bia. Kalau diperhatikan Maryam belum bisa mengucapkan huruf-huruf yang harus memainkan ujung dan pangkal lidah.

Secara tahapan perkembangan komunikasi anak InsyaAlloh semua tahapan aman. Artinya, Maryam tidak mengalami apa yang disebutkan di sana seperti hilangnya kemampuan bicara pada semua tingkatan umur, Maryam masih bicara namun belum bisa jelas satu kalimat waktu itu. Jadi, kalau saya sebagai ibu menyimpulkan bahwa Maryam kurang rangsangan komunikasi atau bisa jadi syarafnya terlambat matang. Mudah-mudahan seiring berjalannya waktu komunikasinya akan semakin membaik, aamiin.

Maryam bukan tidak berkomunikasi sama sekali. Saya dan Abahnya berusaha ngajak bicara, tapi mungkin tidak seintens yang lain. Selain itu, di sana Maryam jarang sekali bermain dengan teman sebaya. Paling dalam sebulan sekali itupun jika beruntung kalau ada anak teman yang dibawa ke kantor. Pas sekolah TK sudah mulai membaik dan alhamdulillah terus membaik seiring waktu dan kepindahan kami ke kampung halaman si abah.

Rasanya waktu cepat sekali berlalu dari rasa khawatir yang sangat sampai ke titik ini. Titik dimana rasa khawatir telah berubah menjadi harapan. Jika dulu khawatir plus berharap sekarang berharap kali dua, alhamdulillah.

Advertisements

-138- Maryam Pergi Sekolah Lagi

Bismillah…

Wah sudah lama sekali ya saya gak nulis. Biasalah soalan mood 🙂 . Oh ya sekarang saya lagi sibuk banget di kantor, berangkat pagi benar dan pulang menjelang magrib 😦 . Sedih sudah pasti tapi kan hidup seperti itulah, sedih senang bergumul tiap harinya.

Ehm…rada kagok saya mau nulis, mikirnya agak lama dan jemari tidak seluwes dulu hehehe…

Sudah seminggu alhamdulillah Maryam sekolah di TK Danawangsa plus penitipan sampe jam 13.00. Rewelnya seperti waktu dulu awal-awal sekolah di Wakatobi. MasyaAlloh, fiuuuh!

Tidak mau ditinggal, nangis nemplok terus saya gak bisa gerak. Jam sudah jam 7 lewat, alhasil dua harian saya dan suami telat terus sampai kantor. Sampai akhirnya saya dan suami sepakat kalo yang antar om nya saja. Soalnya beberapa kali diantar om nya dia nurut. Yah, walaupun manyun.

Dan mulai hari rabu atau kamis, saya lupa tepatnya, Maryam sudah mulai menerima kondisinya. Ketika saya dan suami berangkat ke kantor dia sudah mulai sweet, “hati-hati ya…dadah…!”. Jadi anak yang salih ya nak. Aamiin.

Diantar tatapannya yang sebenarnya saya tahu dia sedih tapi saya yakin Maryam harus kuat, Maryam anak yang kuat dan sabar insyaAlloh, itu rasanya gado-gado.

Semoga berbicaranya tambah lancar ya Maryam. Sosialisasinya juga💕

Baru-baru ini Maryam ikut outbond ke markas TNI di Slawi. Saya temani karena hari sabtu, saya libur. Maryam senaaaang sekali. Walaupun pas jalan agak kelelahan minta digendong. Ya gimana keluling markas di siang bolong nan terik. Saya juga seneng liat Maryam berani mengikuti rintangan seperti berjalan di atas kolam untuk melatih keseimbangan. Tapi tidak semua rintangan dia suka. Kayak yang merangkak di atasnya ada kawat berduri Maryam sama sekali gak mau nyoba. Tapi kalo urusan ketinggian, manjat-manjat gitu dia super seneng, kayak siapa coba😄

Di sekolahnya tidak begitu banyak, sekitar 20 orang, dibandingkan TK umumnya ini termasuk sedikit. Ya karena sedikit berharap gurunya lebih fokus. Maryam pun tidak begitu kaget dengan suasana yang ruaame.

Tiap hari bawa bekal karena Maryam ikut penitipan sampe jam satu siang. Bekalnya minimal saya harus bawakan susu dan camilan, nasi kadang-kadang.

Itu dulu deh l

-124- Cerita Odong-Odong

Bismillah.

Maryam dari usia dua tahun sudah saya coba-cobakan naik odong-odong, tapi dia tidak pernah mau. Ya, sudahlah ya saya menyerah mungkin Maryam tidak suka.

Waktu ke pelabuhan sore-sore dua hari yang lalu, saya lihat ada odong-odong main di sana. Anak-anak pun lumayan rame lah yang main. Saya tanya Maryam mau tidak naik dia diam saja, pas saya mau dudukan dia menolak dan keukeuh tidak mau. Oke mungkin benar-benar tidak suka.

Hari ini kita ke pelabuhan lagi dan berhenti saja dekat odong-odong. Pas turun dan saya tanya mau gak naik eh, tanunya dia mau. Akhirnya baru kali ini tepat di usianya yang ke 3,3 tahun Maryam pertama kali mau mencoba odong-odong. Dia berputar beberapa putaran. Putaran pertama mungkin sampai ke empat hanya diam tegang, tangannya tidak bergerak dan matanya sigap mengawasi sekitar. Selanjutnya dia bisa rileks dan enjoy walaupun tanpa kata-kata dan senyum mengembang. Ada sih senyum umpet-umpet nya 😀

Yakin deh setelah ini Maryam akan mulai minta naik odong-odong 😉

-122- Main-Mainnya Maryam

Bismillah.

Waktu Maryam bayi rasanya semangat sekali cerita-cerita. Entah perburuan stroller, box, dan lainnya. Semua diceritakan :green: Maklum ya ibu baru. Hal baru tentu saja membuat penasaran, “oh begini toh rasanya jadi seorang ibu”.

Kelamaan semua itu terbiasa. Menjadi hal biasa. Rutinitas yang kamu tahu hal yang biasa biasanya terlupakan. Dan yah, begitulah waktu mengubah segalanya. Tapi bukan berarti yang biasa itu tidak penting. Justru sebaliknya karena ia telah menjadi rutinitas dan kebiasaan maka jika tidak ada pasti ada sesuatu yang hilang.

Ngelantur sih. Intinya saya mau cerita akhir pekan kemarin, iya bukan akhir pekan ini, Maryam kita kondisikan bermain pasir.

Semua karena tontonan dan hari yang terasa melelahkan. Salahkan saja. Memang ya manusia itu sukanya nyari kambing hitam. Tidak semua sih 😀

Sayang melihat mainan pantainya belum pernah digunakan pada tempatnya akhirnya saya kasih dia pasir. Biasanya dia memainkan ember dan segala peralatan pantai di kamar mandi. Padahal kalau ada pasir bisa di cetak-cetak jadi kelihatan bentuknya.

Saya angkutlah seember pasir di depan rumah ke belakang. Pagi-pagi kan sinar matahri terik sekali di depan rumah jadi amannya main di belakang rumah yang sinarnya tidak terlalu menyengat. Pasir seember saya taruh di tutup ember besar jadi itu pasir rencanya kalau sudah selesai mau dibalikan ke tempatnya.

Ini judulnya biar Maryam main kotor, itung-itung melatih motorik halusnya. Daripada duduk anteng nonton sekali-kali main kotor ya.

Dia belajar agar cetakan pasir yang berbentuk ikan itu bisa mulus berbentuk. Tentu dia harus memasukan pasir dan menekannya untuk membuatnya padat dan menghasilkan cetakan yang bagus. Dan itu bukan hal yang mudah bagi anak usia 3 (tiga) tahun untuk pertama kalinya.

Kemampuan motorik halus adalah kemampuan yang berhubungan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot kecil dan koordinasi mata-tangan. Saraf motorik halus ini dapat dilatih dan dikembangkan melalui kegiatan dan rangsangan yang kontinu secara rutin. Seperti, bermain puzzle, menyusun balok, memasukan benda ke dalam lubang sesuai bentuknya, membuat garis, melipat kertas dan sebagainya.
Sumber : Perkembangan Motorik Halus Anak – Bidanku.com http://bidanku.com/perkembangan-motorik-halus-anak#ixzz4NsSs0wdx

Butuh waktu cukup lama saya nyontohinnya. Dan sampai hari ini belum saya coba lagi permainan ini. Terakhir dia belum berhasil menghasilkan bentukan yang sempurna dari cetakan ikan. Setiap kali di balik dan di tangkup di alas buyar semua pasirnya. Harus belajar memadatan ya Nak! 🙂

dscn3082
itu yang jadi buatan ummi nya

Lumayan ada sejaman dia main seperti itu. Capek habisnya, tidak lama bisa bobo siang.

Nah, minggu ini saya kepikiran yang lain. Yang bisa dikerja di rumah, berhubung hujan deras dari pagi. Apa? gambar.

Dulu saya pernah belikan buku mewarnai, lumayan lagi harganya, eh, anaknya belum ngerti dong. Jadi itu buku mewarnai diwarnailah sama orang gede: saya dan yang jagain Maryam waktu di Kendari 😆 . Karena habis gambarnya diwarnai sama kita, saya nyari buku serupa tapi untungnya tidak ada di Wakatobi. Alhasil saya putar otak dan eng ing eng baru kepikiran: Google Bu!

Ternya banyak buibu web web yang ngasih gratisan gambar untuk mewarnai ini. Tinggal googling saja pake keyword: gambar untuk mewarnai anak, keluar semua itu di image gambarnya hhhee. Save gambarnya lalu print jadi deh tinggal di pulas-pulas pake pensil warna. Kemarin saya belikan crayon buat Maryam.

Kenapa crayon? Tidak ada alasan khusus pastinya hanya saja kalau pake spidol warna, warnanya tumpah-tumpah dan kalau pake pensil yang ujungnya runcing musti beli mahal kalau mau dapat pensil yang bagus. Sementara crayon yang harganya paling nyungsep di sini sudah bisa coret-coret jelas warnanya.

diambil dari gambarmewarnai.com
diambil dari gambarmewarnai.com

Walaupun belum bisa mengikuti garis dan di dalam garis yang penting anaknya hepi umminya juga senang karena bisa ikut corat-coret mewarnai *keinginan terpendam masa kecil*. Senangnya lagi bisa sambil belajar warna.

Selain itu saya juga ada belikan dia bola. Bola-bola karet gitu. Dia sayang banget sama bolanya, sampai mau bobo pun di pegang terus. Eh, taunya pas di bawa ke sekolah ketinggalan sampai sekarang.

Maryam lagi senang bermain, dimanapun, kapanpun, dan senangnya bisa main dengan siapapun sekarang *sedikit demi sedikit*.

Soalan makanan, kemarin saya sengaja belikan semangka. Dulu pas ke nikahan teman ada cuci mulut semangka. dan dia tidak mau makan nasi cuma makan semangka sampe mau habis itu semangka sepiring dan dia pun kekenyangan. Jadi, saya pikir ini anak doyan semangka.

Dan ternyata…

dscn3129

dscn3128
habis aja dong…

Sehat terus ya Nak, belajar terus, jadi anak solehah, aamiin.

Love you to the moon and back.

-119- Jalan-Jalan ke Toliamba Wakatobi

Bismillah.

Bulan yang padat sampai lupa dan malas untuk menulis 😛 . Dari awal bulan kita sudah disibukkan dengan kegiatan susenas. Walaupun jumlah sampelnya tidak sebanyak semester 1 tapi karena kita kali ini “agak” fokus jadi ya, mau tidak mau hampir semua energi tercurah ke sana. Mau ngedit publikasi pun jadi terbengkalai. Dan tentu kegiatan tulis menulis yang sangat penting ini ikut terlupakan juga 😀

Bulan Agustus kemarin kita sempat jalan-jalan ke sebuah tempat, ehm, tentu saja tidak jauh dari Pulau Wangi-Wangi. Tapi kali ini berbeda. Secara tempat kita ini jago sekali dengan lautnya jadi jalan-jalan di luar itu semacam anti-mainstream.

Kemana?

Kita ke Toliamba Hill. Namanya sudah keren ya keinggris-inggrisan terus tempatnya pegimana?

dscn2737
serasa di atas awan…*lebay detected

Merupakan tempat paling tinggi di Pulau Wangi-Wangi. Dari sana kita bisa melihat garis pantai dengan jelas. Lokasi taman yang di jepret di atas tidak di posisi paling puncak dia persis di bawah puncak. Lokasinya persis di tebing jalan. Sebelah kanan foto adalah tebing yang isinya tetumbuhan, sementara kirinya adalah jalanan menanjak yang berujung di puncak dengan tulisan “Toliamba” sebagai epik.

Tamannya sendiri tidak begitu luas. Tapi yang bikin dia keren dan nyaman adalah bangku-bangku yang di buat banyak yang menghadap area tebing tadi. Jadi kita bisa duduk-duduk cantik sambil menikmati panorama Pulau Wangi-Wangi dari ketinggian, masyaAlloh.

Masterpiece taman ini adalah patung ikan yang kalau kita jalan-jalan ke berbagai objek wisata di Wakatobi hampir selalu ditemukan patung-patung ikan ini. Ada ikan terbang, ikan apalah yang saya tidak mengerti penyebutannya, dan yang di sini adalah ikan lumba-lumba.

Menuju ke sana kita akan disuguhi pemandangan pedesaan yang asri. Jalanannya khas daerah perbukitan dan pegunungan berliku dan menanjak. Kalau kita sudah dapati papan nama “Selamat Datang di Desa Waginopo” berarti tinggal selangkah lagi ke taman lumba-lumba dan setanjakan lagi ke puncaknya Toliamba.

dscn2723
Gerbang ke Toliamba Hill

Dari posisi taman kita bisa jepret tulisan Toliamba. Kita tidak naik sampai atas karena Maryam tidak bisa diam. Dia yang lompat-lompat kegirangan. Tidak ada takut dengan ketinggian malah membuat kita ketar-ketir. Di taman dia keliling dan lompat sana-sini, takut euy!

Padahal kita pikir dia kan baru pulang sekolah. Hari itu Sabtu jadi kita jemput Maryam buat jalan-jalan. Harusnya capek kan, tapi ternyata buat anak-anak kalau ada yang menarik minatnya tidak ada istilah capek. Orang dewasa juga begitu juga sebenarnya ya 🙂

Kita duduk-duduk saja di sana kurang lebih sejaman. Lama juga tak terasa. Bagi saya pribadi ini kayak de javu. Dulu waktu masih kecil, sering nih saya dapat tempat tinggi kayak gini. Entah itu yang paling cetek di pohon lengkeng halaman sekolah atau di atap rumah sampai bukit-bukit yang mengelilingi desa. Saya biasa menghabiskan waktu di sana, ngapain? diam saja sambil melamun. Melihat langit biru rasanya tenang. Rasanya semua asa ada di sana. Semua cita-cita tergantung melambai-lambai. Saya senang dengan semua itu.

dscn2732
Lokasi tertinggi…
dscn2728
Tebing…

 

dscn2729
ini saya sambil ngayal…

Sampai jumpa lagi.

-115- Cerita Penyapihan Maryam

Bismillah.

arti sapih

Proses memperkenalkan dengan makanan kita orang dewasa sudah lama ya sejak usianya 6 bulan. Tapi untuk menghentikannya menyusu butuh waktu dan tenaga ekstra bagi saya.

Waktu usianya genap dua tahun saya pernah melakukan penyapihan dengan cara di titip di rumah ortu tiga hari. Dan hasilnya saya nangis tidak tega. Maryam sakit tidak ada semangat, katanya hampir sepanjang hari nempel terus di emih. Saya tidak mau mengulainginya lagi pada Maryam.

Di usianya yang hampir tiga saya pernah coba menggunakan makanan pedas. Saya olesi di PD dan itu bertahan sehari. Saya kembali tidak tega ketika Maryam meraung-raung minta nenen lagi *emak yang rapuh*.

Dan karena hari ini sudah genap tiga tahun mau tidak mau tega tidak tega saya harus. Saya kembali menggunakan si pedas *pake cabe* karena pernah sukses dulu itu. Hari pertama dan kedua meraung-raung setiap kali mau bobo. Dan sedihnya lagi dia tidak bisa tidur siang. Tapi kali ini tekad saya sudah bulat. Saya sudah mempersiapkan sebelumnya karena pernah berpengalaman sebelumnya.

Apa?

Butuh tenaga super gede! Iya mendengar jeritan tangisan anak, ibu mana sih yang tega? Karena itu saya harus punya ekstra tenaga untuk menenangkannya. Otomatis saya harus lembur lagi seperti dulu bayi. Lembur sampai Maryam terlelap. Siap terjaga karena di awal dia selalu terbangun, nangis, kemudian harus di garuk. Itu saya ulangi kurang lebih tiga harian. Seminggu kemudian tanpa nangis tapi badannya minta di garuk terus sampai terlelap. Ini kemajuan besar tentunya.

Tapi saya mikir masak iya harus di garuk terus? Satu siang saya pernah tiduran sama Maryam sambil saya membaca. Saya lupa buku apa. Tapi itu buku bacaan saya. Tidak lama Maryam terlelap dan itu pertama kali setelah saya sapih dia tidur siang.

Selanjutnya sampai hari ini setiap mau bobo saya selalu membaca. Berasa telat sekali dibanding ibu-ibu lain yang telah membacakan buku cerita pada anaknya semenjak bayi. Tapi saya bersyukur akhirnya saya bisa juga melakukannya.

Ternyata niat saja tidak cukup. Tenaga, dukungan suami, dan tentu saja keteguhan hati sebagai seorang ibu. Karena menurut saya keteguhan hatilah yang sering kalah di tengah jalan. Tidak tega sering meruntuhkan niat demi mendengar jerit tangis yang membahana ditambah kalo nangisnya pake bumbu drama 😀 .

Tenaga penting sekali apalagi bagi ibu yang bekerja. Bekerja full day yang datang kadang magrib, itu capeknya luar biasa. Belum mendengar tangisan anak, tubuh juga meronta minta jatah istirahat akhirnya menyerah. Makanya karena saya tahu harus ekstra tenaga. Sebulanan ini saya tidak lagi begadang, tidur cukup dan pulang kerja dipercepat.

Alhamdulillah sudah sebulanan Maryam tidak lagi ASI. Jadi resmi Maryam sudah berhenti ASI.

Gantinya?

Minum apa saja yang sehat dan halal. Untuk susu saya biasanya beli susu kotak ultra mimi tapi kalo lagi kosong pakai ultra jaya lain. Kesukaannya rasa stroberry sampai sekarang. Selain susu dia gandrung sekali minum teh. Ikut abah sepertinya. Saya buatkan yang tidak pekat dan kalo lagi stok tambah madu.

Banyak anjuran para ahli di luar sana tentang cara menyapih. Pada akhirnya kita orang tualah yang faham bagaimana cara terbaik unutk anak sendiri. Tapi catatan penting bagi saya adalah niatan yang kuat harus didukung oleh tenaga, dukungan dari keluarga, dan keteguhan hati.

-109- Maryam dan Binatang

cat-188088_1920
pixabay.com

Bismillah.

Paling kelihatan dari Maryam di usianya 2 tahun adalah ketertarikannya dengan binatang. Hampir semua binatang.

Ketertarikannya terlihat seperti ingin selalu dekat dengan mereka *uhuk*. Saya bisa sebutkan binatangnya satu-satu karena belum banyak yang berinteraksi langsung dengan Maryam.

Kucing. Di kantor ada satu kucing yang sering kelihatan. Jika ini kucing sudah datang Maryam senang sekali. Pernah suatu waktu ini kucing lagi malas atau kecapekan dia hanya tiduran di halaman kantor. Maryam mendekatinya, mencolek-colek bulunya, tapi si kucing tak menunjukkan ketertarikan untuk bermain. Mungkin dia lelah ya. Tak berapa lama saya di buat kaget, Maryam mengikuti kelakukan si meong. Dia tidur mengikuti si meong dan kepala mereka bertemu bertatapan. Mungkin dalam hati si meong “kenapa nih anak?”, hahaha…

Saya sebenarnya tidak masalah Maryam suka dengan binatang dan terlihat begitu dekat. Cuman saya jadi takut karena tubuh si meong kotor dan terdapat luka. Takutlah pokoknya saya. Langsung lah saya kasih bangun Maryam.

Ayam. Kelakuannya dengan ayam hampir mirip dengan si meong. Kali ini Maryam sedang memberi makan ayam di halaman kantor pakai bekal makan siangnya yang tidak habis. Dia sangat senang dan antusias. Ketika ia mengejar-ngejar ayam terus terlihat ada makanan yang di lempar untuk si ayam belum di makan. Tiba-tiba Maryam memakannya menggunakan mulutnya. Tidaaaak! anak memang plagiat ulung. Maryam, tidak ya…:) Tapi Maryam tidak berani menyentuh ayam. Dia yang akan pura-pura mengejar, giliran ayamnya mau dia yang bali lari hihi.

Lain lagi kisahnya dengan si kambing alias embe. Nah, dia pun suka sekali dengan si embe ini. Karena interaksi dengan si embe menggunakan jarak yang lumayan, palingan dia yang hanya manggil-manggil penuh semangat si embe. Embenya sendiri? Jelas bengong dong.

Tidak melihat tempat dan waktu. Di siang bolong di depan kantor bupati kalau lihat ada embe langsung di panggil. Panggilan yang membuat mata melirik “Embeeee!!!” *siapa sih ni anak? bisa nyante gak manggilnya?*.

Semut. Kalau sama semut ini sebenarnya saya khawatir karena tubuhnya yang rapuh. Jadi, sekalinya di ambil Maryam sering sudah ke pencet duluan. Maaf ya semut. Saya mulai intens mengingatkan Maryam untuk tidak main ambil itu semut. Dan alhamdulillah sepertinya dia mengerti karena akhir-akhir ini dia yang hanya akan memperhatikan mereka tanpa berusaha lagi mengambilnya.

Kupu-kupu. Nah binatang ini juga favouritnya Maryam. Bentuknya yang cantik dan warnanya yang indah, ah, siapa sih yang tidak kagum padanya. tapi, saking penasarannya sekali waktu Maryam pernah mengambil ini kupu-kupu yang kelelahan di lantai rumah. Dan kisahnya menyedihkan seperti si semut. Jadi, saya membatasi interaksi Maryam dengan binatang kecil.

Ikan. Dia jatuh hati mungkin sama ikan ini. Kalau tidak di paksa pulang dia bisa duduk lama memperhatikan ikan di laut pasar malam.

Dan terakhir burung. Sekali waktu dia pernah melihatnya sangat dekat, namun sayang di sangkar. Dan entah kenapa Maryam tidak begitu betah memperhatikan si burung dalam sangkar ini. Tidak seperti biasanya ketika melihat burung terbang dia akan melihat fokus sambil nunjuk-nunjuk dan bilang “buung buung…*.

Sampai-sampai kalau mau memperdengarkan Maryam dengan ayat alQuran harus di putar bersamaan dengan video binatang.

Dari dulu saya percaya bahwa anak-anak adalah peniru ulung dan demi melihat anak sendiri, semua itu seakan keyakinan yang menjadi kenyataan di depan mata. MasyaAlloh, bagaimana kertas putih akan kita tulis? Ya Alloh berikan kami sebagai orang tua kemampuan untuk hanya menuliskan yang baik-baik saja. aamiin.

Maryam, mereka juga mahluk ciptaan Alloh. Jadi, teruslah tertarik dan sayang sama mereka ya.