-168- Pagi yang Acak

Bismillahirrohmaanirrohiim

Per hari ini rupiah tembus lima belas ribu. Seperti dulu 1998. Tapi masih terkendali kiranya. Karena harga bakwan masih lima ratus rupiah☺️ Paling tidak di lingkungan saya tinggal.

Saya tidak merasakan dampak krisis itu. Saya juga tidak terlalu memantau beritanya. Kemeriahan Asian Games membuat mungkin sedikit mengaburkan.

Tapi bagi saya tanpa Asian Games pun tetap tidak peduli. Biarkan saja pemerintah bekerja. Selama masih belum terasa. Saya anggap saja tidak ada.

Saya tidak menggunakan dollar. Memegangnya pun belum pernah. Jadi bagaimana bisa berimbas?

Kembali ke Asian Games ini. Ada super junior. Ada Ikon. Pecinta kpop kemungkinan besar tidak peduli dengan angka nominal rupiah. Sama seperti saya.

Saya bukan pecinta kpop. Walapun saya pernah begitu intens mendengarkan lagu-lagunya bigbang. Pernah begitu intens menonton penampilannya. Sejarahnya. Saya tahu. Tapi saya hanya sebatas ingin tahu. Sudah.

Sama tidak pedulinya dengan saya. Mungkin belum sehebat 1998. Mudah-mudahan tidak sampai. Jangan.

Waktu itu saya SMP. Saya melihat kejatuhan Pak Harto. Saya melihatnya di Tv. Ketika ia berpidato dalam rangka melepaskan jabatannya. Saya terpaku di depan tv. Saya tahu kehidupan terus berputar. Kali ini Pak Harto. Besok siapa? Tidak ada yang tahu.

Setelahnya. Pohon beringin ikut tumbang. Di mana-mana. Termasuk di kampung saya.

Saya sedih.

Tidak hanya karena beringin yang tumbang. Sumber oksigen. Tempat berteduh. Tempat bermain. Tempat kami melempar kembang api ketika bulan puasa. Segalanya untuk kami. Tapi juga saya sedih dengan Pak Harto.

Saya tidak tahu. Saya belasan tahun. Tapi saya merasa Pak Harto selalu ikhlas. Saya tidak butuh apa yang ia sembunyikan. Karena setiap manusia memilikinya: hal yang tidak perlu dibagi dengan orang lain. Semua orang memiliki rahasia. Entah itu hitam atau putih.

Kebanyakan kita curiga. Karena tidak sesuai harapan.

Tidak ada manusia sempurna. Begitupun dengan semua pimpinan kita. Selalu ada celah keburukan. Tapi selalu juga ada kebaikan. Tinggal kita mau memilih yang mana.

Di era ini pun seperti itu. Kita mau berdiri di mana adalah pilihan. Tapi itu tidak membuat jari kita harus menunjuk tak pantas. Menuduh yang lain tal benar. Kita tidak tahu seluruh cerita hidupnya. Fokuslah dengan diri sendiri. Dan selalu berpikiran positif dengan orang lain.

Advertisements

-167- Berpikir Sederhana

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Kadang kita itu berpikir terlalu keras. Untuk satu hal yang sederhana.

Seperti kemarin. Seorang teman bertanya tentang print foto. Dia mau ngeprint tapi selembar ada dua foto. Saya biasanya pake windows foto viewer. Pas mau ngeprint akan ada pilihan. Dalam selembar mau berapa poto.

Di komputer kantor yang ini aplikasi itu tidak ada. Atau mungkin saya tidak tahu di mana. Pokoknya saya tidak bisa menemukannya.

Saya berpikir keras sekali. Bagaiman? Apa pakai corel? Photoshop?

Saya akhirnya coba buka aplikasi photoshop. Dan itu loadingnya mak!

Kala menunggu loading itu. Ketika saya kebingungan.

Kenapa gak pake word saja?!

Tuing!!!

Iya. Di word pun bisa. Insert poto atau gambar yang ingin kita print. Atur besar kecil biar muat. Mau berapa poto pun tinggal diatur.

Dan yeah cepat sekali. Langsung print.

P L A K!!!

Gitu deh. Kadang kita memahami suatu masalah tidak pada pemecahan yang paling sederhana.

Tapi berpikir sederhana pun perlu latihan. Dia akan spontan. Berbahagialah dengan masalah. Karena itu akan melatih kita. No pain no gain…

-166- Lima Tahun Ini

Sekolah. Maryam baru saja lima tahun. Baru kemarin tanggal tiga. Tapi sekarang ia sudah di kelas satu SD.

Saya tidak berniat pada awalnya. Mau dua tahun Maryam malang melintang di pra sekolah. Sudah banyak kali TK dan Paud yang dicobanya. Hanya dua yang bertahan lama. Masing-masing satu semester. Sampai dapat buku raport. Satu di Wakatobi. Satunya lagi di sini.

Maryam dari semua sisi harusnya masih TK. Dia belum siap.

Awal tahun ajaran baru tiba. Dan Maryam masih mogok ke TK lamanya. Dia sudah sebulanan lebih tidak masuk. Saya sudah tanya guru-gurunya. Dari sana tidak ada apa-apa. Marymanya sendiri tidak cerita apapun. Dia hanya tidak mau. Mau kalau diantar ummi.

Kebetulan SD dekat rumah kekurangan murid. Saya jadi ingat Laskar Pelangi. Kalau kalian pernah baca atau nonton pasti inget waktu hari pertama sekolah kekurangan murid. Mirip itu. Jadilah Maryam masuk. Setelah diitung ada 12. Dan banyak yang seumuran Maryam.

Sekolah yang mencari. Sekolah yang minta. Jauh-jauh hari Maryam sudah diberi baju olahraga.

Awalnya saya cuek.

Tapi, daripada Maryam di rumah. Kalau anaknya mau. Bolehlah.

Hari pertama saya antar. Yep, ke SD. Waktu itu belum genap lima tahun.

Muridnya yang dua belas itu benar-benar masih bocah. Semua diantar. Sampai semingguan.

Gurunya seorang perempuan baya. Tanpa ekspektasi apapun terhadap anak muridnya. Dia cukup sabar. Untuk seorang guru SD. Dia tidak banyak menuntut.

Belum bisa menulis. Belum bisa baca. Tak apalah wong kalian mau belajar di sini. Jadi, nanti kalian akan bisa, insyaAlloh. Saya seperti membaca pikirannya.

Jam belajar pun hanya sekali. Sebelum jam sepuluh. Setelah jam delapan. Selebihnya anak-anak main. Tak ubahnya TK B. Yang berbeda: di sini tidak ada arena permainan.

Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda. Entah itu datangnya dari si anak sendiri. Orang tua ataupun lingkungan. Yang pada akhirnya kita sebagai orang tua berharap. Berdo’a agar jalan yang anak-anak kita tempuh hari ini adalah jalan terbaik dari Alloh SWT. Untuk masa depannya yang lebih baik. Harus lebih baik dari kita.

Walaupun kadang saya masih berpikir: sekolah saya dulu lebih baik secara infrastruktur dibandingkan Maryam hari ini. Berhubung ini jalan yang tersedia. Mari kita ikuti dulu. Dan amati selanjutnya.

Bismillah.

-165- Jam Delapan yang Bukan Jam Delapan

Bismillah

Sejak dikumandangkan RB (Reformasi Birokrasi) jam adalah sesuatu yang urgent. Apalagi sudah ada handkey naik motor pun sambil melihat jam. Literally melihat jam. Sesekali tentunya.

Tidak boleh lewat dari 7.30. Kalau lewat? Pasti uang harian kita kena potong. Tapi bukan itu. Masalah terbesar adalah moralitas dan sanksi sosial.

Moralitas tentu karena sebagai pegawai saya di gaji dan dikenakan tanggung jawab. Salah satunya kehadiran ini. Tepat waktu setiap hari. Lima hari kerja.

Sanksi sosial adalah omongan kantor. Omongan yang walau tidak langsung sakitnya luar biasa. Jadi daripada sakit kepala mendengar kicauan. Lebih baik kita ikut aturan. Apa susahnya kan?

Susahnya bagi saya adalah gedabrukan dengan anak di pagi hari. Bangun, mandi, sarapan, dan bersiap berangkat sekolah, dan semua keperluan sekolahnya. Belum kalau anaknya rewel. Atau perlengkapan sekolahnya yang kelupaan di mana. Itu benar-benar menghancurkan hari.

Kalau sudah begitu tinggal do’a agar tidak terlambat masuk kantor.

Pagi ini jam 8.17 saya di kantor sebuah desa. Dalam rangka tugas. Tidak lama sebenarnya di kantor desa. Hanya minta tanda tangan. Sebagai bukti bahwa saya benar-benar ke desa ini. Dari kantor desa saya harus segera ke lapangan. Harus segera. Kalau kesiangan panas. Karena tugas kali ini adalah sawah. Luas sawah yang sembilan hektar itu. Kita kelilingi. Bisa dibayangkan siang hari di tengah kemarau.

“Mau ketemu Pak Lurah,” kata saya kepada satu aparat desa. Baru satu-satunya dia.

“Belum datang,” jawabnya singkat. Sambil mengetik.

“Pak Sekdes atau kasi pun tidak apa-apa,” lanjut saya. Saya memang buru cepat. Buru waktu. Jangan sampai kebalap matahari.

“Belum ada yang datang,” katanya lagi singkat dan biasa.

“Biasanya jam berapa datang?”

“Jam delapan.”

Saya spontan melihat jam dinding. Jarum pendek di angka empat. Dan jarum panjang tak bergerak. Jam bukan sesuatu yang penting kiranya. Anggap saja jam delapan.

Saya mengangguk basa basi. Jam di hape menunjuk 8.17. Saya mengambil tempat duduk dan bersiap menunggu. Menunggu sambil mengetik ini.

Tidak lama temannya yang lain datang. Bukan yang saya maksud. Saya kembali duduk terpekur.

Setiap yang datang pasti berjabat tangan. Tidak terkecuali dengan saya. Satu hal yang membuat suasana menjadi cair dan santai. Rasanya kita semua sudah kenal lama.

Jam 8.30 barulan Pak Desa muncul. Dengan sigap ia masuk kantornya. Menyimpan tas. Dan langsung muncul saya dengan map putih untuk ditandatangani. Kami pun tersenyum. Berbasa basi sedikit. Saya segera pulang begitu map putih lengkap dengan tanda tangan. Pak Desa kalah sigap, pikir saya.

Santai. Jam 8.30 belum apa-apa. Waktu kerja masih lama.

Ini mending. Lebih baik. Karena dulu saya pernah tak mendapati siapapun. Di suatu tempat. Bukan di sini. Saya harus ke rumahnya.

Ini jauh lebih baik. Santai tapi serius. Bukan serius tapi santai. Jam delapan. Toh memang masih jam delapan. Yang kelebihan tiga puluh menit😊

-164- Mrs. Leidner

Bismillah

Saya pernah bilang dulu di sini. Beberapa orang mirip Mrs. Leidner. Tapi hari ini saya menemukan yang benar-benar mirip.

Suka menjadi pusat perhatian. Karena itu hampir selalu berusaha untuk menjadi yang paling diperhatikan. Apapun bisa menjadi masalah baginya. Mengundang simpati sekaligus penasaran. Tapi kadang membuat kita jenuh dengan semua masalahnya.

Pembicara yang baik. Malah sangat baik. Jangan coba-coba menyelanya. Dia tidak suka. Tidak begitu suka mendengarkan.

Sangat percaya diri. Apapun masalahnya dia bisa menyambung. Dan kita harus mendengarkan.

Saya benar-benar menemukan Mrs. Leidner pada dirinya. Dia tidak muda. Tapi yang muda tidak bisa bersinar di sampingnya.

Hanya sebuah novel. Novel misteri. Tapi research nya🙀 Tentang kejiwaan seseorang. Dan sukses menghadirkan tokoh. Yang benar-benar bisa kita temui di dunia nyata.

Ketika membaca saya tidak percaya ada orang semacam ini. Orang seperti ini rasanya terlalu ego. Terlalu tinggi. Dia seharusnya memiliki segala hal. Jadi akan sulit saya jangkau.

Tapi ternyata tidak. Orang seperti ini ada. Malah sangat dekat.

Orang seperti ini memang menyebalkan bagi lingkungannya. Akhirnya banyak yang berpikir negatif. Rasa tidak nyaman ketika bersamanya. Persis seperti di novel tersebut.

Tapi kalau kita dekat. Berusaha mengenalnya. Sangat jauh dari yang ia tampilkan di permukaan. Dia loyal. Baik. Dan sangat pemikir. Apa-apa dipikirkan.

Karena itu saya belajar satu hal: dont judge a book by its cover. Quote ini benar adanya. Kita tidak berhak menghakimi orang. Kita tidak tahu seluruh cerita hidupnya.

Positive thinking and positive feelings itu harus. Berpikir dan berperasaan bahwa semua orang itu baik akan baik adanya bagi kita.

Sulit. Saya pun begitu. Apalagi bagi yang sensitif dan khayalannya mengawang. Butuh waktu untuk bisa terus berpositif thinking dan berperasaan positif. Tapi tidak ada yang tidak mungkin. Terus berproses berusaha. Toh hasil bukan kita yang menentukan. Berusaha dan berdo’a.

Selamat menyambuat 17 Agustus semuanya🤗👏

-163- Review Hotel: MG Setos Semarang

Bismillaahirrohmaanirrohiim.

Sekali-kali menulis dari Semarang. Dan sekali-kali mencoba review hotel. Sudah lama ingin. Tapi tak pede. Maklum seringnya nginep di hotel selalu dibayari. Selalu ketika pelatihan. Pernah sekali berbayar. Tapi lama dan fotonya tidak ada.

Dan bersiaplah postingan pertama saya penuh gambar. Nulisnya saja berat bol! Pake hape lagi💆‍♀️

Kali ini karena kamarnya juga gede. Bersih. Keren. Barangkali ada yang berminat. Dan sedang mencari-cari.

Kamar yang saya tempati ini berada di lantai 11. Luasnya 90 meter persegi. Gimana gak luas ya untuk dua orang.

Hotel Mg Setos sendiri mulai dari lantai 8. Kamarnya ada di 9, 10, 11, dan 12. Kamar yang saya tempati tipe executive suite. Ini adalah kamar kedua terluas yang pernah saya inepi. Selain apartemen tentunya. Norak gak sih 😅✌️ Harganya sekitar 2,7jt. Normal. Tapi kalo rombongan macam pelatihan gini bisa ditekan lumayan banyak.

Untuk lebih jelas bisa langsung ke web penjualan. Semacam traveloka, trip advisor, dan yang lainnya. Biasanya banyak diskon.

Tapi jangan salah, karena ini saya pengen nanti sekali-sekali ngajak keluarga jalan. Nginep di hotel kayak gini ini.

Oke let we see penampakannya.

Hal pertama setelah check in kita bakalan dapat kartu.

Tempat kartu yang dari kertas itu selain untuk menyimpan kartu juga ada username dan password wifi hotel. Kartu putih polos ini sangat berguna. Kalian kalau tidak punya kartu ini jangan coba naik lift. Pusing gak nyampe-nyampe.

Kalo dibuka ada pass wifi

Lift nya memang sudah dirancang. Hanya bagi pemegang kartu. Alias mereka yang nginep. Alias yang check in. Alias yang bayar. Hello hari gene makan siang gratis 😁

Si kartu tinggal di tap di tempatnya ketika naik lift. Biasanya di atas nomor lantai. Lanjut pencet nomor lantai. Jalan. Kalau enggak di tap ya wassalam. Masuk ke kamar pun begitu. Aksesnya pake tap kartu.

Model kayak gini sebenarnya sudah umum. Tapi kadang karena ke hotelnya sekali-sekali sering lupa.

Pemandangan pertama adalah ini:

Lorong panjang menuju ranjang. Panjangnya kurang lebih enam meter. Dan kosong. Lorong saja. Saya manfaatkan buat olah raga di situ. Lumayan kan bisa berlari-lari.

Di sebelah kirinya itu kamar mandi. Yang sungguh bagi saya terlalu luas. Ada bathtub nya. Ada showernya. Tinggal pilih.

Pintu kamar mandi

Di samping kanan pintu adalah pengatur suhu. Bukan remote batangan. Yang kadang kita lupa naruhnya di mana.

Pemandangan pertama ketika buka pintu

Ini bath tub nya bersih banget. Masih putih bersih. Belum berubah warna sama sekali.

Di meja kaca itu. Ada berbagai perlengkapan untuk membersihkan diri. Ada sabun, shampo, cotton bud, sisir, pasta dan sikat gigi, shower cap, dan tempat sampah. Lumayan lengkap kan?

Kalau shampoan rambut kita basah, tenang. Ada hait dryer juga di sana. Tertempel di tembook di sebelah kanan kaca.

Penampakan sebelah kiri kaca.

Yang menarik hati. Di sebelah kiri ada kaca untuk make up. Pokoknya nih kaca bisa kita dekatkan ke wajah. Ada dua sisi. Satu sisi kaca biasa. Sisi lainnya cembung. Wajah kita jadi terlihat sampai ke pori 😅

Ini sih kayak lihat ikea hacker. Tapi serius kaca bulat yang nempel ke dinding itu: jenius!

Nih bathtub yang saya bilang bersih. Bentuknya juga lucu. Simple elegan gitu. Halah halah.

Pemandangan dari bathtub

Sebelah kanan adalah shower.

Dan terus berjalan akan kita dapati wc:

Ini juga nice. Mulus. Gak gropak-gropal. Apa juga gropal-gropak. Intinya gak ada suara. Nyaris tak ada suara.

Lukisannya juga membuat hati senang. Tenang.

Dari kamar mandi adalah ranjang. Ini sih biasa ya. Setiap hotel mesti ada ini. Yang beda single atau double. Dan ukurannya. Punya kita single ukuran king.

Ngomong-ngomong soal kasur. Saya pernah intip. Penasaran. Merk apa sih yang biasa dipakai hotel. Yang saya pernah intip sih king koil. Saya tambah penasaran. Cek harganya. Oh yeah bukan budget saya. Kurleb seharga N Max.

Tapi saya boleh berbangga. Dulu di Sulawesi. Kasur spring bed saya merk king koil. Seharga 2 juta ajah. Lho kok?

Pasti KW.

Aseli kaka!

Lantas?

Ehm! Well B E K A S. Dan masih dua juta. Seharga spring bed baru merk lain.

Kualitasnya walau bekas masih oke punya. Seriusan. Saya pindahan. Itu spring bed saya lungsurkan. Memang ya harga mencerminkan kualitas.

Untuk beberapa kasus harga bisa mencerminkan kualitas.

Di tempat saya dulu adalah surga barang bekas. Barang bekas dengan kualitas internasional. Biasanya sisaan hotel. Kata si pedagangnya banyak dari Singapore.

Kalau berminat coba saja jalan-jalan ke sana: Wakatobi.

Soal TV juga buat saya paling penasaran. Duh saya benar-benar ndeso. Baru kali ini lihat TV dengan jaringan. Bisa nonton sepuasnya. Karena ada hooq, iflix, hbo. Acara TV nya pun bisa disimpan.

Saya sampai fokus. Cuman ngotak ngatik saluran. Wkwkwk.

Kasurnya seperti biasa di hotel

Lemarinya sederhana. Dua pintu. Jenis hanger. Pakaian yang dilipat bisa di bawahnya.

Ohya itu yang di sebelah kiri. Kaca lebar pembantas kamar mandi aseli terbuka. Tapi tenang, ada tirai anti air yang bisa dijadikan penutup.

Cocok banget ni kamar buat yang lagi honeymoon.

A…nd the view! Itu kota Semarang! Cantik.

Balik ke belakang kita dapat ini:

Pintu keluar dan ada ruang tamunya sodara-sodara. Sofanya nyaman bangat. Bagi saya yang imut ini cukup nyaman. Biasanya kan kursi hotel gede-gede. Standar tubuh internasional 😁

Di sana juga ada pemanas air. Berbagai minuman: kopi dan teh termasuk gula dan creamer. Ada air mineral tentunyah. Dan cangkir-cangkir.

Oke that is all. Penilaian saya oke banget. Lega. Nyaman banget untuk keluarga kecil dengan satu anak. Bisa pesan crib. Tapi yang paling nyaman adalah untuk pengantin baru.

Ini adalah versi low budget. Karena saya serombongan. Kalau yang benar-benar pesan pribadi mungkin lebih wah.

Ohya hotel ini sangat dekat dengan Paragon Mall. Yang suka cuco mata. Gak usah belanja kan. Dekat lawang sewu juga. Bagi pecinta sejarah. Dan nostalgia.

Semoga bermanfaat. Minimal jadi kepengen. Terus nabung. Aamiin…

-162- My Feeling: Mary Stayed all Night

Bismillah.

Well kalau urusan nonton drakor sudah lama saya memilih Moon Geun Young. Dari siapapun. Tentu tidak tiba-tiba. Film My Little Bride lah yang kemudian membuat saya suka. Suka dan tidak bisa ke yang lain. Seperti Ciputra kepada Hendra di tulisan Pak Dis.

Saya sudah menonton hampir semua. Kecuali drama seri terlawas dan terbarunya sebagai pemeran utama: Painter of the Wind dan The Village Achiara’s Secret. Saya belum bisa menemukannya. Dan film teranyarnya Tahun 2017: Glass Garden. Tidak begitu booming. Tapi karena dia yang main saya ingin nonton.

Tidak semua drama seri nya saya tuntaskan. Karena: kenapa endingnya begitu? Jauh sebelum saya menyukai aktingnya. Saya adalah penganut happy ending story. Jangan sodorkan cerita yang berakhir sedih atau menggantung kepada saya. Please jangan!

Goddes of fire adalah drama series nya yang paling saya suka. Tapi saya berhenti di episode 20an. Saya dapat spoilernya. Ending yang menyesakkan. Saya angkat tangan. Saya pernah nulis review nya di sini.

Setelah Goddes Of Fire itu saya nyari dramanya yang lain. Ketemu. Diproduksi akhir 2010. Pas puncak kariernya. Di tahun yang sama ia sukses berperan di Cinderela’s step sister. Yang ratingnya tinggi itu. Dan saya suka.

Berharap ending yang membahagiakan. Saya pun menonton. Tapi entah kenapa. Menonton yang ini rasanya jauh lebih buruk dibandingkan Goddes of Fire.

Goddes of Fire secara keseluruhan sangat baik. Kualitas pemainnya juga ngena. Masuk semua ke dalam karakter. Masalah saya hanya satu: sad ending.

Tapi di drama yang ini. Mary Stayed all Night judulnya. Membuat saya bukan main ilfeel.

Emang bikin sebal nonton nih drama. Saya sudah tahu lama. Pernah nonton juga sebentar. Kemudian memutuskan berhenti. Dulu saya kira, saya kena second lead syndrome.

Hari ini saya penasaran. Benarkah saya terkena second lead syndrome?

Jawabannya memang benar. Tapi kali ini lebih objektif. Bukan karena si pemeran kedua ini lebih tampan. Nope. Tapi dia lebih bisa memerankan perannya. Dia bisa masuk ke dalam karakter Jung In. Dia menjadi Jung In.

Lain hal dengan pemeran utamanya. Saya dibuat kesal. Dia tampan dan memiliki talent luar biasa dalam musik. Tapi dia tidak bisa masuk ke dalam karakter mo gyul. Argghh!!!

Usaha saya menonton kedua kalinya pun kembali gagal. Saya tidak tahan. Melihat akting pemeran kedua yang yahood. Saya merasa dia seharusnya yang menjadi pemeran utama.

Pemeran kedua ini benar-benar aktor. Sementara pemeran utamanya bermula dari dunia musik. Yeah dia tampan. Sangat tampan. Tapi untuk urusan akting mungkin harus banyak belajar.

Mungkin ini salah satu sebab tidak bisa diterima dengan baik oleh Knet. Drama ini memiliki rating sangat rendah. Penulisnya bahkan mengundurkan diri di pertengahan episode. Kalau tidak salah di episode ke 11. Bahkan episode terakhirnya ditulis oleh aktor utama itu. Mungkin dia akan lebih baik menjadi penulis skenario.

Tapi drama ini malah sukses di Jepang. Yeah mungkin karena style mary dan si pemeran utama yang lebih harajuku. Entahlah. Di sana kenyataannya mereka booming. Sampai mendapat beberapa penghargaan.

Saya kadang tidak mau mengerti kenapa industri perdramaan harus dengan aktor yang super tampan. Dan fans yang banyak. dan sedang naik daun. Di puncak karir. Padahal kalau dia bisa memerankan dengan baik. Masalah tampan itu menyusul. Masalah fans juga menyusul. Masalah karir juga menyusul. Beberapa telah membuktikan. Ayolah. Tidak semua orang akan bagus di semua tempat. Penyanyi yang bagus dengan seabreg fans belum tentu bisa berperan dengan baik. Begitupun sebaliknya. Pada akhirnya akan ada satu hal saja bagi seseorang untuk dikenang.

Percayalah.

note: nulis lagi kesel :p