-183- Merenung

Ruang ini tidak pernah sesenyap ini
Ada hal yang menyayat hati
Ada kehilangan yang entah apa ini

Aku termenung
Manusia, kita hanya membaca dari luarnya
Dalamnya siapa yang tahu.

Ini mungkin kenapa kita tidak boleh bersu’udzon
Apa yang kita rasa dan pikir
Belum tentu benar adanya
Siapapun kita
Apapun posisi kita

Kuhaturkan permintaan maaf
Karena tidak bisa memadamkan api
Malah mungkin ikut menjadi kompor

Tidak ada alasan.

Kuhaturkan terimakasih
Karena kuyakin niat itu baik.

Advertisements

-182- Opini Koran (1)

Bismillah.

Ceritanya disuruh nulis di koran. Ya sudah saya nulis… Berhubung saya bisa sedikit menulis jadi kenapa tidak dicoba. Jujur saya hanya mencoba menulis tanpa harus dimuat atau karena takut sanksi jika tidak menulis. No. Saya tidak masalah kok jika sampai tidak dimuat dan kemudian saya kena hukuman. Saya bekerja itu sudah pada tahap go with the flow. Tidak punya ambisi apa-apa. Benar-benar ngalir saja.

Sanksinya sih biasa tapi sanksi sosialnya itu lho yang menggelitik. Okelah pada akhirnya saya bisa menjawab tantangan menulis itu. Di koran lokal. Tanpa bayaran. Tanpa apresiasi kecuali tulisan kita yang dimuat. Yaelah dengan dimuatnya tulisan kita berarti itu sudah lebih dari cukup kan. Paling tidak harusnya iya buat saya. Toh menulis sekedar karena disuruh agar muncul di media. Sampai disitu sih iya…Besok kayaknya enggak. Lha menulis itu gampang-gampang susah. Ada waktu dan tenaga yang kita korbankan. Hehe.

Ini sebenarnya bukan tulisan perdana. Dulu di Sulawesi pernah juga beberapa kali di koran lokal. Dan sekali menulis gagasan di koran nasional. Dan jomplang sekali ya apresiasinya. Hehe.

Tanpa berpanjang kata lagi, berikut saya salinkan tulisan saya yang dimuat tersebut. Satu lagi deh. Soalnya ada yang lucu dengan tulisan ini. Saya kirim ini tulisan malam hari tanggal 18 Desember. Tanggal 20 nya dimuat. Senang sekali karena begitu cepat dan tanggapnya nih koran, pikir saya. Dan saya memang berniat tidak mau kirim lagi karena dan karena tiadanya apresiasi. Eh, Bulan Januari ada teman yang bilang tulisan saya dimuat di koran yang sama. Saya bingung dong karena tidak pernah kirim lagi. Ternyata oh ternyata tulisan saya yang ini dimuat ulang. Ehehe…Tanggap sekali ya…

______________________________________________________________________________

Fokus Pembangunan Wilayah

Revolusi indutri terjadi sekitar tahun 1750-1850 di Britania Raya. Dua abad kemudian. Pendapatan perkapita meningkat lebih dari enam kali lipat.

“Untuk pertama kalinya dalam sejarah, standar hidup rakyat biasa mengalami pertumbuhan yang berkelanjutan. Perilaku ekonomi yang seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya”, hal ini dikemukakan oleh Robert Emerson Lucas, penerima hadiah nobel dalam bidang ekonomi tahun 1995. Sejak saat itu negara-negara industri tampil sebagai negara maju yang menguasai perekonomian dunia. Hingga saat ini.

Negara maju menurut International Monetary Fund (IMF) adalah negara yang menikmati standar hidup relatif tinggi melalui teknologi tinggi dan ekonomi yang merata. Kebanyakan negara dengan GDP perkapita tinggi dianggap negara maju, sebut saja Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Semuanya merupakan negara industri yang maju.

Dalam lingkup daerah pun, daerah dengan industri maju cenderung manjadi daerah yang maju. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) lima provinsi dengan sumbangan ekonomi tertinggi di Indonesia adalah DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Riau . Jika ditelisik lebih lanjut, sektor industri sangat dominan di kelima provinsi tersebut. Sumbangan sektor industri pada PDRB DKI Jakarta tahun 2017 sebesar 13,44 persen ke dua terbesar setelah sektor perdagangan. Di Jawa Timur sebesar 29,03 persen, Jawa Barat 42,29 persen, Jawa Tengah 34,96 persen, dan Riau sebesar 25,31 persen. Di mana sumbangan industri menjadi yang terbesar pada keempat daerah tersebut. Hal ini membuat daerah lain berlomba untuk menggenjot sektor industrinya.

Tentu, siapa yang tidak ingin daerahnya sejahtera? Mengikuti adalah hal yang paling mudah dilaksanakan ketimbang harus mencari jalan lain yang belum tentu tujuan akhirnya sama. Daerah pun mulai berlomba menjadikan daerahnya sebagai pusat industri baru.

Sampai titik ini mungkin kita lupa. Bahwasanya struktur perekonomian terdiri dari tujuh belas sektor. Yang kesemuanya tanpa terkecuali sangat penting dalam menggenjot pembangunan demi kesejateraan. Contoh, sektor pertanian yang sangat vital namun dilirik sebelah mata. Sektor pertanian justru tidak menjadi primadona. Di tengah sematan negara agraris hal ini tentu sangat ironi.

Negara subur gemah ripah loh jinawi mungkin baru sekedar kata positif pembangkit semangat. Negara dengan jumlah penduduk ke empat terbesar di dunia ini belum mampu memenuhi kebutuhan pokok warganya berupa beras. Import beras menjadi agenda rutin tahunan. Nilai import beras berdasarkan data dari BPS pada triwulan pertama tahun 2018 mencapai 1,12 juta ton. Hal ini mengalami kenaikan 755% dibandingkan import beras triwulan I tahun 2017. Angka yang fantastis tentunya untuk sebuah negara agraris.

Masalah pangan ini bukan hal sepele. Kenaikan jumlah penduduk setiap tahunnya membuat kebutuhan akan pangan semakin tinggi. Pada akhirnya kita harus kuat secara pangan. Tidak boleh lagi menggantungkan pada import. Menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla. Permasalahan sektor pangan ini secara umum ada tiga yaitu, kenaikan jumlah penduduk, lahan pertanian yang semakin menyusut, dan perubahan iklim.

Jika kita tidak segera bergerak maka akan selalu ketinggalan. Seperti halnya industri otomotif. Dalam sebuah tulisannya Dahlan Iskan, mantan menteri BUMN pada era pemerintahan SBY pernah mengemukakan. Bahwasanya jika kita ingin sejajar dengan negara maju saat ini dalam industri mobil maka kita harus memiliki awalan yang sama. Untuk industri otomotif dengan bahan bakar minyak kita sudah jauh ketinggalan. Ibarat ikut perlombaan lari, yang lain sudah mencapai finish kita baru mulai. Seharusnya kita bisa bersaing dalam pembuatan mobil listrik. Semua negara baru mencoba. Semua memiliki peluang yang sama untuk maju.

Kenaikan jumlah penduduk adalah keniscayaan. Perubahan iklim adalah hal yang pasti. Mempertahankan daerah-daerah yang memiliki potensi pertanian untuk tidak dialihfungsikan bisa menjadi salah satu cara menekan penyusutan lahan pertanian.

Sejarah mencatat. Kita pun pernah merasakan swasembada beras yaitu tahun 1985. Pada waktu itu pertanian pernah sekali waktu menjadi primadona. Kita bisa kembali mewujudkannya jauh lebih baik.

Ini baru beras. Belum gula, garam, dan potensi komoditas lainnya yang belum mampu kita manfaatkan dengan baik. Maka tidak heran jika kita masih rentan terkena imbas gejolak ekonomi global. Nilai ekspor walau besar tapi masih kalah besar dibanding import. Sehingga menciptakan gap yang lumayan besar. Ketergantungan kita kepada pihak luar masih sangat tinggi.

Lantas?

Indonesia membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote. Terbentuk dari beraneka ragam suku, bangsa, bahasa, dan agama. Setiap daerah memiliki kekhasan dan keunggulan masing-masing. Memiliki ciri yang membedakan dengan daerah lainnya.

Karena hal tersebut muncullah ide diversifikasi ekonomi. Diversifikasi ekonomi, yaitu penganekaragaman atau inovasi produk/bidang usaha diyakini mampu menambah daya dorong perekonomian, dan dapat menjadi strategi khusus untuk mendukung ekonomi Indonesia saat ini. Struktur perekonomian yang terkonsentrasi hanya pada beberapa sektor membuat perekonomian Indonesia rentan terhadap gejolak ekonomi global. Inti dari diversifikasi ekonomi adalah keunggulan daerah.  

Salah satu cara untuk melihat keunggulan daerah bisa dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto PDRB) masing-masing daerah. Dari sana bisa dilihat sektor mana yang memberikan sumbangan tertinggi. Sektor dengan sumbangan tertinggi patut menjadi perhatian. Visi dan misi pembangunan dapat diarahkan ke sana.

Contoh Kabupaten Brebes. Sumbangan terbesar pada PDRB taun 2017 adalah sektor pertanian sebesar 38,42 persen. Angka ini seharusnya cukup untuk membuat pemerintah daerah setempat mengarahkan kebijakannya ke sektor pertanian. Dengan begitu sumbangan pertanian pada PDRB provinsi pun akan terdongkrak. Dimana selama kurun 2013-2017 sumbangan sektor pertanian di Provinsi Jawa Tengah cenderung menurun.

Dengan begitu diharapkan setiap wilayah akan kuat dan saling menopang satu dengan lainnya demi tercapai pembangunan nasional yang merata.

-181- Beli Oleh-Oleh Solo

Bismillah.

Postingan ini tidak melalui research yang berarti. Cuma karena dekat dan suka.

Dari acara antar teman cari ATM dekat penginapan ketemu toko oleh-oleh. Pengen tahu kan oleh-oleh solo apa saja.

Kesan pertama saya ketika masuk adalah nyaman. Padahal tidak ada sapaan selamat datang. Tapi toko ini seperti menyambut hangat. Tidak ada pegawai toko yang ngintilin atau seakan mengawasi. Hanya dua orang di toko itu. Mereka sedang sibuk.

Oleh-olehnya beragam dan banyak. Paling dominan adalah roti. Kata pegawai tokonya semacam roti sobek. Khas Solo katanya. Ada wedang uwuh yang serba rempah. Kerupuk lele, brem solo, dan berbagai jenis keripik dan minuman. Harus nyoba dong.

Display tv jadul itu bagus tapi kok sayang ya…

Saya agak ngeri sebenarnya dengan bunga-bunga di atas tv itu. Itu yang kuning putih adalah keranjang belanjaan.

Kue yang katanya mirip roti sobek. Khas Solo.

Saya belum coba sih rasanya. Kalau penampakannya tak diragukan lagi: menggoda penyuka roti. Selain yang semisal roti sobek ada juga kue-kue panggang lainnya.

Keripik-keripik

Ini berbagai jenis snack. Biasalah ya kalau yang ini. Di banyak daerah juga ada. Masih ada snack lainnya di rak lain.

Roti-roti yang lebih kecil.

Tuh kan banyak sekali rotinya. Dan penampakannya itu menarik sekali.

Brem dan berbagai snack

Tuh gak rame kan. Tapi asli nyaman…

Pembayarannya pun fleksibel, bisa cash bisa pake kartu. Saya tidak tahu ya kalo harga karena ini adalah tempat pertama saya di Solo untuk beli oleh-oleh. Tapi karena kita senang dan nyaman saya kira harga tidak lagi menjadi masalah sejauh kita bisa membelinya.

Terakhir penampakan toko depan biar lebih jelas kalau ada yang mau ke sana juga. Oya satu hal menurut saya kurang tapi butuh bukan sekedar estetis: kursi tunggu. Habis belanja apalagi banyak kan setelah pembayaran pengen istirahat. Ini kursinya terbatas di depan kasir. Alamat kita gantian.

Tapi overall menyenangkan dan puas.

Jreng! Silakan bagi yang mau nyoba. Letaknya dekat banget dengan Hotel The Alaan

-180- Nginep di The Alana, Solo

Bismillah.

Biarpun gretongan tetap ya kita review wkwkwk.

Hal pertama yang saya rasakan adalah kenapa dulu di Santika saya tidak minta itu sendal! Bener lho bukan cuma perasaan. Memang sendal di Santika lebih enak dipake. Tebel.

Mana saya gak bawa sendal. Pas dipake itu teplek banget dan ujungnya sering kelipet-lipet saking tipisnya kali ya.

Kita cerita minusnya dulu ya. Di Alana juga tidak ada loundry bag dong. Tidak disediakan sajadah. Yang mana baru sedikit hotel yang mau menyediakan. Secara megah gitu ya. Terus kalau mau wudhu kaki harus naik di wastafel. Bagus sih, biar diingatkan jangan gemuk-gemuk. Susah lho itu gerakan mengangkat kaki. Bisa sebenarnya pake shower. Ya, pakai itu saja lebih mudah.

Selebihnya ini hotel bagus. Kita hanya berdua tapi sudah disiapkan extra bed. Mungkin awalnya ini kamar buat bertiga kali ya.

Penampakan extra bed

Lantainya di bawah kasur itu parket. Lebih enak dipijak, tidak licin, dan tidak membuat dingin telapak kaki. Tahukan gimana rasanya lantai keramik di tengah AC. Brrrbrb.

Di samping kanan kiri kasur ada colokan. Aman.

Pengaturan suhu sudah digitalisasi. Hair dryer disediakan di dalam kamar mandi. Apalagi ya?

Intinya bagus. Saya merasa nyaman. Satu lagi. Entah ini kelebihan atau kekurangan ya. Kamar mandinya itu berdinding kaca. Tembus pandang dong. Tapi tenang ada tirainya.

Oya lokasinya cukup strategis. Di kota. Saya sebenarnya gak begitu hapal. Tapi kalau mau cari makan dan oleh-oleh itu deket banget tinggal jalan. Ada nasi liwet, bakso, berbagai jajanan itu lengkap. Kecuali saya belum nemu selat solo.

Nasi liwetnya ini enak. Terutama ayam kampungnya. Gak alot lho. Bumbunya juga pas. Tapi memang nasi liwet isinya sederhana: sayur waluh, santan, kukus telur, rawit kukus dua biji, dan pilihan lauk ayam atau telur. Lebih wah dari nasi kucing menurut saya.

Baiklah tanpa kata-kata lagi silakan menyimak gambar-gambar alakadarnya yang berhasil dijepret.

Pintuuuuu manjyahhhh (hahah efek syahrini nih)

Tempat kartu. Seperti biasa ya di hotel-hotel zaman now.

Lemari mariiii

Wastafel yang melebar. Ini membuat air sering nyiprat-nyiprat kanan kiri depan belakang.

Tuuuh kan kebuka dinding kacanya😜

Toiletnya sendirian gitu

Toiletries nya cukup lengkap. Kurang sisir.

Gelas-gelas toiletries

Aman yang mau keramas terus cus pake kerudung.

Shamponya lumayan bikin halus rambut. Sabun saya lebih prefer ke batangan yang bulet-bulet itu

Mini bar

Lengkap, kopi dan teh…

Space depan bed. Cukup untuk sholat.

Cukup ya. Gambar sudah bercerita banyak.

-179- Sebelas

Hendak jadi apa sepuluh tahun yang akan datang?

Aku ingin menjadi presiden. Yang hebat. Paling hebat. Waktu itu kelas enam. Imajinasi masih membubung tinggi. Waktu itu belum mengenal apa daratan.

Waktu melintas seperti angin saja. Kadang terasa kadang tidak. Berharap semuanya sepoi. Jangan datangkan angin ribut. Tapi kebanyakan memang yang tak terasa itu. Kehidupan juga begitu saya kira.

Jendela abu tinggi-tinggi di hadapan. Aku tahu. Dulu. Di sini. Di tempat ini. Berbagai macam manusia. Tak terhitung jumlahnya. Hilir mudik. Mungkin tak satupun dikenalnya. Tapi siapa peduli. Mereka memiliki hidupnya masing-masing. Mereka memberi arti hidupnya masing-masing. Yang kadang tidak perlu kita tahui.

Sudah sejauh ini. Bukan senja. Walaupun aku selalu menyukai senja. Tapi aku yakinkan bahwa ini bukan senja. Berharap masih diberiNya kesempatan. Satu saja. Untuk selalu menjadi lebih baik. Muslimah yang taat. Istri yang sholeha. Dan ibu yang sholeha.

Kata seorang teman: hebat sekali jalan terus. Saya bilang, bukan saya yang hebat. Anak sayalah dia yang hebat. Yang sudah tidak lagi meraung-raung di usianya yang belum genap enam.

Tapi justeru hal itu lebih berat. Air mata tanpa suara. Hidung memerah dan rasa yang dipendam. Itu. Itu lebih dari sekedar berat. Perih.

Tapi juga hidup terus berlanjut. Terus, terus, dan terus. Tidak bisa kita hentikan sejenak.

Hidup ini hanya soalan kita menghadapinya. Soalan pilihan. Yang akan membuat kita terlihat. Pilihan-pilihan itu menunjukkan sudah sejauh mana kita melangkah.

Senyum simpul ini menandakan bahwa kehidupan telah begitu rupa menjamahku. Aku bersyukur sudah sampai di titik ini. Banyak yang meleset dari harapan. Tapi Alloh memberiku yang lain yang jauh lebih aku butuhkan. Aku sudah beranjak dari pandangan hilir mudik manusia siang ini. Angin dan matahari membelaiku tanpa mereka harus tahu siapa.

Joglosemarkerto, 11 Maret

-178- Semarang (lagi)

Bismillah.

Berat ya harus meninggalkan Maryam. Tapi tidak ada pilihan. Sebagai abdi negara ini salah satu konsekuensi.

Karena itu. Saya tidak mau mengeluh. Saya ingin bahagia untuk kedua hal tersebut. Menjadi pekerja dan menjadi seorang ibu.

Untuk anakku tersayang insyaAlloh, Alloh lah yang akan menjagamu. Karena sebaik-baik penjaga adalah Dia. Untuk pekerjaanku, aku akan berusaha sungguh-sungguh agar apa yang kukerjakan hasilnya baik.

Mengeluh hanya akan membuat kita gagal di keduanya. Jadi harus semangat. Harus ikhlas dan sabar. Toh kita ini sedang berkehidupan. Akan selalu ada masalah yang akan membuat hati dan pikiran kita berganti-ganti rasa. Berusaha dan berdo’a. Sudah, itu saja.

Di Semarang kali ini pun saya berusaha bersyukur dan bersabar. Senin sampai jumat. Bukan waktu yang sebentar.

Karena sudah sering ke Semarang saya tidak lagi berkeinginan ini itu. Kebanyakan kelas kamar. Di kamar banyak merenung. Mengamati peristiwa yang lagi happening di media.

Beberapa yang saya yakin akan terus diingat. Pertama, pernikahan Syahrini dan Reino Barack. Yang menguasai hampir semua pemberitaan. Menyapu jajaran trending youtube. Terpampang paling atas di pencarian media manapun. Jadi akan sangat naif kiranya di era digital ini jika tidak tahu akan hal ini. Dan hiruk pikuk kampanye presiden. Pertandingan el clasico antara Jokowi dan Prabowo. Kedua kalinya dan tidak akan ada yang ketiga. Sangat seru bagi mereka yang mengikuti atau berpihak ke salab satu. Sebagai ASN saga tidak bisa terbuka untuk condong ke salah satu.

Saya tidak mau mengomentari keduanya. Tapi pemberitaan kedua topik ini benar-benar panas. Kadang saya merasa di luar nalar keagamaan saya. Tapi satu saja yang ingin saya ingatkan, terutama untuk diri saya sendiri.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim no. 2589).

Baca Selengkapnya :  https://rumaysho.com/9198-ghibah-itu-apa.html

Itu. Astagfirullohal’adzim. Jadi mari teman-teman kita saling mengingatkan. Saling merapatkan barisan untuk menjauhi yang namanya ghibah. Tidakkah kita takut, ini adalah dosa besar. Semoga Alloh selalu melindungi kita semua, aamiin.

Tempat yang nyaman untuk merenung. Alhamdulillah

Tempat saya menginap ini, hotel santika premiere, adalah termasuk hotel lawas di Kota Semarang. Menurut sepupu ipar saya yang asli semarang, Santika merupakan hotel yang kedua dibangun. Hotel pertama yang dibangun di sini katanya sudah tidak beroperasi lagi. Jadi boleh dibilang Santika lah sekarang yang paling senior.

Saya menempati kamar tipe deluxe dengan dua tempat tidur. Tidak ada yang istimewa. Seperti halnya hotel-hotel yang lain di tipe ini. Kamar mandi shower yang selalu membuat saya kurang puas. Maklum terbiasa dengan gayung dan limpahan air di bak😊

Tapi satu hal yang menurut saya lain. Apa itu? Sendal! Iya. Bentuk dan warnanya memang sama saja seperti hotel-hotel yang lain. Yang beda sandal punya santika rasanya lebih tebal. Atau cuma perasaan saya saja? Entahlah.

Apalagi ya? Hm makanan. Tidak banyak yang saya coba. Makanan hotel pun banyak yang saya skip. Lagi diet kaka… Gak enak lah badan gemuk. Rasanya gak lincah. Sarapan paling icip salad sayur, sudah. Siang nasi sedikit plus lauk. Malam skip. Tapi gara-gara lapar malah pesen martabak di gojek😌

Selain martabak ada pesen mie godog jawa. Makannya di kamar hotel. Kuahnya saya taruh di gelas😂 ternyata makan mie godhog dengan kuah terpisah juga oke.

Terus makan bakso di gunung pati. Saya berkunjung ke sepupu yang sekarang tinggal di sana sekalian buka usaha. Baksonya lumayan. Harganya juga lumayan murah khas mahasiswa. Maklum lokasinya ini di sekitaran kampus UNNES.

Di tengah Semarang yang panas melipir ke Gunung Pati ini sesuatu ya😁 Asa di lembur. Udaranya sejuk. Jaraknya juga gak jauh-jauh amat dari kota. Naik gojek kurang lebih tiga puluh menit, sekitar Rp22.000,-.

Itu sih. Gak banyak. Tapi alhamdulillah senang sekali. Melihat ponakan yang masyaAlloh sudah gede-gede. Dulu tahu pas bayinya sekarang sudah besar. Tak terasa ya sudah tua. Dan senin besok insyaAlloh lanjut pelatihan di Solo. MasyaAlloh. Berikan kami semua kesabaran dan keikhlasan. Aamiin.

-177- Novel Baru: Kesenangan Baru

Bismillah.

Setahun yang lalu. Bulan Maret. Saya mulai menulis cerita tentang Aisha dan Rafa. Tiga bulan saja. Puluhan ribu kata. Saya menyelesaikannya di part ke-25. Inspirasi datang dari mana saja. Saya menulis hampir setiap hari. Keadaan waktu itu menjadi inspirasi cerita saya. Tempat yang saya kunjungi dan lalui menjadi latar lain yang menyenangkan.

Saya selalu keinget cerita ini ketika melintasi Kali Pemali. Salah satu cerita mengambil gambaran dari Kali Pemali. Kadang saya kembali baca.

Dan hari ini. Satu hari sebelum hari jurnalistik yang tidak ada sangkut pautnya dengan saya. Pun saya baru tahu kalau tanggal 9 Pebruari adalah hari jurnalistik. Itu semua dari disway. Saya senang karena salah satu kesenangan baru ini pun inspirasinya datang dari sana. Saya memutuskan untuk kembali membuat cerita. Ini akan menjadi cerita saya yang kedua setelah Aisha. Semoga selanjutnya memang bisa konsisten satu tahun satu cerita. Karena ini juga membuat pikiran saya lebih longgar ketika menulis. Dan semua yang saya lihat bisa diabadikan dalam cerita. Tahun 2019 kamu akan merasa senang ketika membacanya di tahun-tahun kemudian.

Silakan berkunjung jika ingin seru-seruan dengan Bayu Anggoro dan kisahnya https://tinyurl.com/yc6saabk .