Pindah Rumah

Bismillah.

Halo semuanya. Mulai postingan 204 dan seterusnya saya akan menuliskannya di sini . Sampai September blog ini akan masih aktif. Untuk selanjutnya saya pindah rumah ke :

https://www.milasulasmaya.com/?m=1

Sampai ketemu di sana ya. Aka ada beberpa projek. So sampai berjumpa di sanaaaaa….^^

-203- Musim Hujan Telah Tiba

Bismillah.

Hujan tlah tiba, hujan tlah tiba, hatiku gembira…

Eh, 😊

Sudah dua minggu turun hujan. Air di sumur kembali lancar. Rasanya lega bisa kembali berkumur dengan air yang bersih. Rasanya segar.

Kemarin saya sempat skip berkumur kalau wudhu. Rasanya aneh dengan air yang berwarna coklat muda. Mengingatkan saya pada air sungai di depan rumah. Tapi itu sudah berlalu.

Hari ini, mulai seminggu ini, rumah kembali ceria dengan pasokan air bersih yang melimpah, alhamdulillah.

Para petani mulai tersenyum lebar menyambut hujan. Mereka mulai mengolah tanahnya yang mulai enak untuk dicangkul. Persediaan beras yang mulai menipis kembali memiliki harapan untuk setahun ke depan.

Lebih dari itu, pendapatan mulai mengedipkan mata. Perekonomian kemungkinan besar akan kembali menggeliat. Kemarin, penjual nasi ponggol saja mengeluh, karena jualannya selalu sisa. Hari ini, bolehlah mereka bernafas lega seiring petani mulai kembali beraktivitas.

Tapi…

Dibalik suka cita menyambut rezki, ia pun datang dengan ujian.

Di awal tahun ini, banjir di mana-mana akibat hujan turun tidak berjeda seharian. Di depan rumah saya saja airnya meluap. Untungnya hari itu sabtu. Saya dan suami libur. Dan seharian kita seperti beruang yang sedang berhibernasi. Asli tidak ke mana-mana. Masak seadanya di rumah.

Di Jakarta banjir seperti biasa. Mobil-mobil beriringan mengikuti arus air. Ah, mobil! Padahal saya harus ke sana dalam waktu dekat. Semoga hujan kembali normal tanpa menimbulkan banjir, aamiin.

Di sini pertanian terutama bawang terkena air yang meluap. Sawah tergenang air sampai tanamannya tertutup sempurna. Alhasil banyak petani yang gagal panen di tengah harga bawang yang sedang lumayan tinggi.

Segala sesuatu adalah pembelajaran. Hujan, banjir, manusia, adalah sebab akibat. Tapi ketetapan di sana adalah ujian atau musibah bagi kita. Kembali, ini adalah tentang hidup, tentang bagaimana kita memaknai semuanya. Bisakah kita belajar dan mengambil hikmah. Atau kita hanya berada di barisan yang segala sesuatu menjadi objek keluhan, na’udzubillah.

-202- Adaptasi yang Luar Biasa

Bismillah.

Ini adalah folder selama saya bergabung dengan BPS Kabupaten Brebes. Masuk Desember 2016, jadi dalam rentang satu bulan itu ada beberapa pekerjaan yang saya kerjakan. Saya full dari 2017-2019. Dan ini adalah bulan pertama di perjalanan empat tahun saya bersama BPS Kabupaten Brebes. Hopefully everything will be fine and better in the future.

Tiga tahun dua bulan. Bukan waktu yang sebentar. Rasanya baru kemarin saya merasa aneh dengan lingkungan baru. Satu tahu pertama saya benar-benar harus beradaptasi. Tahun kedua sedikit nyaman. Dan di tahun ketiga baru saya benar-benar merasa nyaman dengan semua rekan di sini. Tiga tahun bagi saya untuk beradaptasi. Sungguh waktu yang luar biasa. Saya selalu ingin berhenti. Tapi saya juga selalu meyakinkan diri sendiri bahwa saya tidak bisa berhenti dalam kondisi tertekan atau merasa tidak nyaman. Saya harus benar-benar mencintai semuanya sebelum akhirnya melepas. Ingatlah kita tidak bisa melepaskan apapun sebelum kita telah benar-benar melakukan yang terbaik terhadapnya.

And here we go…

Di tahun ke empat ini semoga hal-hal baik lah yang akan saya dan rekan-rekan semuanya temui, aamiin.

2020 please be nice…

-201- The ROoMs Inc. DP Mall Semarang: My Thoughts

Bismillah.

Temaram. Kesan pertama masuk hotel. Padahal pas check in masih sore. Di luar masih terang. Selain temaram juga ada kesan misterius. Penuh dengan rasa ingin tahu. Ya gimana, hotelnya tidak keliatan dari jalan raya. Ada gada-gada besar bertuliskan ROoMs Inc. pas masuk tapi yang akan kita lihat adalah keramaian di DP mall. Di mana hotelnya??? Di mana….!!?

Pintu?

Ah, benar!

Dia ada di sayap kanan mall. Dengan catatan kita menghadap ke arah mall dari jalan raya. Persis di sana ada seorang satpam berdiri tegak. Pintunya berwarna hitam. Tinggi lebar dan besar. Satu pintu saja dari kayu dicat hitam. Mirip sekali dengan pintu kemana saja nya doraemon.

Ketika masuk jangan harap akan langsung menemukan lobby hotel. Di sana kita akan menemukan satu ruangan yang hanya diisi empat buah kursi aneh. Kursi yang rangkanya besi dan dudukannya berupa kain tebal. Sekalinya kita duduk, badan tuh rasanya mblesek kemakan kursi. Dan pas mau berdiri susah aja gitu. Tapi pas duduknya emang nyaman. Enak banget buat santai. Ada beberapa pot bunga yang diisi entah bunga apa. Yang pasti daunnya panjang dan langsing seperti daun serai atau ilalang.

Selain kursi dan bunga tadi, pemeran utama di ruangan ini sebenarnya adalah… lift! Satu lift ke mana saja. Pikiran ini akan muncul begitu saja ketika kita terperangkap dalam satu ruangan yang hanya ada satu pintu keluar dan satu pintu masuk: ke mana saja! Karena saya belum tahu akan ke mana lift itu membawa. Ruangan ini ibarat rumah adalah foyer. Dia jalan menuju ruang lainnya. Dan pemain utamanya adalah lift itu sendiri. Saya tidak yakin orang akan santai-santai di depan lift dengan posisi santai susah bangun.

Di dalam lift lebih temaram. Cat hitam dan tempelan kertas dengan warna-warni mencolok di dindingnya yang bertuliskan kesan para tamu hotel. Benar-benar kertas tempelan yang warna-warni itu. Ya jika kalian pernah menggunakannya ketika sekolah dulu, atau sekarang. Dan pernah satu kali kertas itu ada yang jatuh kesenggol tamu hotel.

Anak muda banget.

Pas masuk lift begitulah yang ada di pikiran saya. Untung saya pun masih muda. Kemudian saya menenangkan diri.

Fotonya mana?

Gak ada. Gak niat mau share tadinya. Hehe.

Setelah melewati lift barulah sampai ke lobby nya yang sederhana sekaligus menyatu dengan kafe. Ya lebih ke kafe konsepnya dibanding resto. Lah apa pula beda kafe dan resto?

Yang ini baru ada fotonya. Karena kok ya sepertinya nyaman duduk di sana…bring me there…

Restoran memiliki standar-standar tersendiri misal baju, menu, dan lain-lain. Ada izinnya juga. Menunya lebih mahal karena mereka harus membayar pajak penambahan nilai (PPN) dan kesan ekslusif yang ditampilkan. Sementara itu kafe, dia lebih ke tempat minum kopi. Lebih ke tempat buat nongkrong sambil minum kopi dan berbagai minuman lainnya. Gitulahya. Tapi kafe ini kalo yang mahal ya banyak. Contoh Starbucks. Jadi perbedaan yanb paling mencolok terletak pada menu utamanya. Kafe lebih menonjolkan minumannya sementara restoran makanannya, begitu.

Nah, di Rooms Inc. malah ngingetin saya ke kafe bukan resto yang biasa kita lihat di hotel-hotel.

Tapi sudahlah mari kita melangkah lebih jauh untuk menemukan kamarnya. Saya sudah pengen rebahan. 

Dari lobby ini saya diarahkan kembali ke satu pintu. Kembali kita disuguhkan pada satu ruangan dengan lift sebagai tujuannya. Hotel ini layak mendapat julukan hotel banyak pintu!

Setelah berjalan dari lobby menyusuri kafenya sampai juga di pintu yang dimaksud. Bukan lagi satpam yang jaga. Kunci. Iya, kamu harus punya kunci kamar kalau mau melewati pintu satu ini. Oke.

Di balik pintu ini kembali ada lift. Ruangan ini hanya untuk lift menuju kamar hotel. Pas saya masuk lift seingat saya hanya ada tiga lantai. Saya dapat lantai satu. Kesanalah saya dibawa.

sampai di lantai satu. Hanya ada dua lorong, kanan dan kiri. Ikuti saja sesuai petunjuk nomor kamar. Mudah sekali. Di lorong ini ada dua dispenser dan satu telpon yang nempel di dinding. Ketika saya masuk kamar untuk pertama kalinya saya belum menyadari kedua alat penting ini.

Di stasiun, saya sempat beli pop mie gelas. Sungguh sangat jelas ya nama produknya, haha. Niatnya mau makan mie, asyik kan. Eh alah, saya cari-cari pemanas air gak nemu dong tolong. Akhirnya itu pop mie terpaksa disiram pake air yang disediakan di kamar, di dalam teko kaca, bukan plastik. Sungguh sangat ramah lingkungan, tapi inget sekali saya ngedumel dalam hati tentang air panas ini. Mau nelpon resepsionis gak ada telponnya dan saya malas turun ke lobby karena emang pengen banget rebahan. Paginya saya baru oh dong liat dispenser di lorong. Rasanya mau nangis keinget semalam makan pop mie pake air dingin, masih kriuk gak jelas, huhu.

Setelah saya rasa-rasa, walaupun awalnya ngedumel karena kurang riset dan informasi, saya akui hotel ini cukup nyaman. Seperti di rumah. Ya karena kalo kehabisan minum kita bisa refil sendiri di lorong. Dan jalan-jalan di lorongnya juga enak. Cuma satu yang saya kurang suka, kamarnya sempit sekali. Rasanya sesak. Kayak kita naik mobil sedan kecil gak bisa gerak, ke mana-mana mentok. Saya agak was-was sih.

Cocok banget buat kamu yang aktif dan mobile. Bukan untuk keluarga sepertinya. Entah ya kalau ada kamar untuk keluarga, yang lebih luas ukurannya. Mungkin ada. Tapi sepertinya tidak juga seluas hotel pada umumnya. Lorongnya juga lebih kecil dibanding hotel bintang tiga umumnya. Tapi nyaman aja gitu. Kalau saya perhatikan tamu-tamunya, memang kebanyakan anak-anak muda.

Semua design di hotel ini kesannya muda. Di kafenya malah ada berbagai testimoni dari public figure. Kaget juga, mereka beneran nginep di sini? Tapi emang nyaman. 

Kalau merasa muda bolehlah dicoba hotel ini. Yang jauh paling menarik adalah keberadaannya di dalam mall. Jadi gampang banget kalo mau jalan atau jajan. Enaklah gak perlu ke mana-mana. Dekat juga dengan lawang sewu. Aksesnya juarak!

-200- Kita Ketemu Lagi

Bismillah…

Desember 2016 pamit ke Provinsi Sultra. Desember 2019 kita bertemu kembali. Tiga tahun. Time flies…

Beberapa bertemu. Banyak yang tidak. I missed all the things.

Pertama kali kerja. Pertama kali bertemu dan belajar dengan orang-orang ini. Saya yang masih polos. Tanpa pikiran apapun selain bagaimana saya bisa bertahan jauh dari keluarga dan pulang tidak dalam waktu sebulan dua bulan. They really saved me.

Saya bukan orang yang bisa keep in contact tanpa bertemu. But i keep them all in my heart in my deep heart. They’ve never gone. They always here …

Makanya ketika bertemu seperti ada sesuatu yang keluar. Seperti rindu yang tak pernah kusadari. Ia keluar begitu saja melihat kawan di tiga tahun yang lalu. Aku mengingat semuanya. Kebaikan semuanya. Keramahan. Dan persaudaraan yang ditawarkan. Mereka sangat hangat.

Tapi sayang. Tak sempat bertemu dengan ibu yang boleh dibilang ibu di rumah besarku dulu, sultra. Pertama kali magang di tempat beliau. Suaranya, gesture nya, tak mudah orang lupa. Iya dulu, beliau di bidang sosial. Ah, ruangan lama itu dengan aroma kertas hijau kuning kembali memenuhi kepalaku. Suara-suara yang memenuhinya. Ah…

Saya beruntung pernah bertemu dengan semuanya di sana. Karakter keras hanyalah cover dari kelembutan dibaliknya. Dan lagi, kerasnya mereka sebenarnya sangat menarik untuk didengarkan dan diperhatikan. Kalau pernah membaca tulisan Arham Kendari. Seperti itulah menariknya.

Semoga Alloh SWT akan mempertemukan kita kembali di waktu dan tempat yang baik. Aamiin.

Sampai bertemu kembali ❤️😊

-199- Ingatkan Saya selalu ya Raab…

Bismillah.

Tadinya saya tidak punya feeling apa-apa. Ini bukan comfort zone saya. Kadang, saya menjadi sangat insecure di lingkungan seperti ini.

Tapi…

Kabar duka di sini. Hari ini. Saat ini. Kata apa lagi yang bisa menggambarkan bahwa memang hari ini telah terjadi.

Kita semua tahu, maut adalah misteri juga kepastian. Kadang, saya berfikir hidup hanyalah menunggu untuk sampai di hari itu.

Kadang kita merasa jenuh. Menunggu memang seringnya membuat jenuh. Kesal. Capek. Ayolah. Tapi kita tahu menunggu juga tidak semenyebalkan itu. Kita tahu selalu ada jalan menuju roma. Kita tahu bahwa banyak hal yang bisa kita lakukan daripada mengeluh tentang semua hal yang menyebalkan itu.

Karena sesuatu yang misteri tidak bisa kita pastikan kapannya tapi ia pasti datangnya. Bukankah kita harus selalu bersiap. Selalu siaga. Siapa tahu tidak lama lagi. Setahun. Sebulan. Seminggu. Sehari. Iya bisa jadi hari ini. Jam ini. Menit ini. Detik ini. Tidak ada yang tahu.

Iya. Ayolah. Saya bicara pada diri sendiri karena kita tidak tahu. Kita harus bersiap. Selalu siap. Bersiaplah.

Saya tahu sulit. Tapi memang hari ini benar-benar menyentil banyak orang. Terutama saya. Mengingatkan dengan menampar bahwa banyak hal yang harus dilakukan dengan hati-hati. Bahwa tujuan akhir ini bukanlah di sini.

-198- Museum Sumpah Pemuda: Merinding karena semangatnya dan Ngeri juga karena…

Asli tidak direncanakan. Tidak terpikirkan. Karena kita nginep di Cordella Senen terus tiba-tiba suami pengen jalan ya udah. Dan kita juga gak tau kenapa milihnya yang ke kanan bukan ke kiri yang ternyata disanalah keramaian. Toko buku kwitang juga di sana. Padahal kita tuh pengen banget ke sana. Sudah lama gak ke sana setelah selesai kuliah.

Tapi jalan pake feeling itu kadang menyenangkan. Mungkin karena masih misteri apa yang akan dihadapi di depan. Kayak penasaran gitu di depan ada apa ya… Berharap menemukan hal-hal aneh hehe.

Nah, ini kejadian di kita kemarin. Pas baru beberapa melangkah liat gedung jadoel dong. Ya gimana saya mah liat yang begituan langsung kuat rasa penasarannya.

Pelan-pelan masuk. Liat-liat kursi nya yang antik dan cantik. Lama-lama keluarin hp, jepret jepret jepret. Dan liat pintu. Di dalam sepertinya tambah mengasyikan.

Seorang satpam sepertinya pura-pura saja keluar dari pos nya. Yaelah saya baru sadar ternyata ada pos satpamnya. Secara ini rumah langsung terbuka gitu aja dengan trotoar tanpa pembatas. Dari tadi sepertinya di balik pos itu mengamati gerak gerik kami.

Karena suami juga sepertinya tertarik untuk masuk maka bertanyalah ia😁 Pucuk dicinta ulam pun tiba inituh gedung sumpah pemuda. Semua orang boleh masuk. Isi buku tamu bayar dua rebu untuk umum dan seribu untuk anak-anak. Sudah. Akhirnya kita masuk rumah kuno lagi setelah dulu di Jatibarang. Di rumah mbesaran punya pabrik gula itu. Ah hatiku senang. Selalu senang saya masuk museum wkwkwk. Jadi berasa anak SD yang serba ingin tau wew.

Posisi saya moto di trotoar.

Set kursi yang sangat aduhai. Nenek saya punya mejanya dan emang bagus banget.

Tiket yang sangat murah. Sungguh terlalu dekat sana kalo gak pernah berkunjung. Hehe bercanda.

Kita masuk melalu pintu tengah. Pintu utama. Langsung masuk ruang tamu. Dan bentuknya masih begitu. Di set persis seperti keadaan dulu kala. Orang-orang sedang berdiskusi dengan buku-buku tebal berbahasa inggris dan belanda sebagai bahannya. Semangatnya sampai. Merinding. Di tahun itu. Di jaman itu. Pikiran orang-orang ini sudah menembus waktu.

Saya mau bukunya… juga set kursinya!

Liat buku-bukunya saya jadi ingin belajar dan belajar dan belajar

Di ruangan itu kita juga bisa melihat foto-foto jadul. Tulisannya Batavia 1920-an. Dengan foto stasiun senen saya kira dan kereta uap yang sedang melintas. Saya benar-benar merasa sedang berada di tahun itu. Dengan semangat orang-orang muda ini. Mereka,,,ah! Pikirannya tentang ingin sungguh mengagumkan.

Dari ruang tamu itu di kanan kiri ada pintu. Kita memilih pintu sebelah kanan. Di sana kita memasuki ruangan penuh dengan kata-kata semangat.

Lagi-lagi kursi ini canteks.

Ada pesan Ki Hajar Dewantara seperti di atas. Ada juga karya Mohammad Yamin. Di saat itu. Orang-orang begitu sangat ingin merdeka. Menentukan arah langkahnya sendiri. Karena ternyata kitapun mestinya bisa. Ingin menjadi manusia yang merdeka seutuhnya. Yang dengan sadar melakukan sesuatu bukan karena keterpaksaan. Di ruangan ini masih terasa sekali kedaerahannya. Pemuda-pemuda dari daerah yang sedang mencari jati diri bangsa.

Dari ruangan ini kita masuk ke ruangannya Indonesia Raya. Ada Replika wajah Wage Rudolf Supratman. Ada biola yang ia mainkan. Dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan di ruangan ini.

Ada foto WR Soepratman juga dengan adiknya. Jadul sekali. Gayanya alamak mantap di jaman itu. Hehe. Kok saya malah fokus ke gayanya ya😄

Indonesia Raya ini diperkenalkan WR Soepratman pada kongres pemuda II di Batavia 28 Oktober 1928. Hal ini menandakan dimulainya era ide satu indonesia sebagai penerus hindia belanda daripada dipecah menjadi koloni-koloni (wikipedia). Para pemuda menginginkan negara baru nama baru dengan orang-orang merdeka di dalamnya. Tahun ini baru awal. Baru benih. Belum panas. Baru oh iya ya!

Dari ruangan Indonesia Raya kita akan masuk ke era di mana pemuda sadar bahwa ide ini harus disebarluaskan maka dimulailah penyebaran ide melalui tulisan-tulisan di media massa. Salah satu koran yang dinilai subversif adalah Benih Merdeka. Harian ini terbit pertama kali tahun 1916 di Sumatera Utara. Agaknya sumatera ini menjadi pulau literasi semenjak dulu kala. Yes perjuangan paling frontal ternyata dari sumatera. Dan mereka pun sangat berani menggunakan kata merdeka dalam tulisannya.

Ya koran penampakannya tidak banyak berubah dari dulu sampe sekarang.

Karikatur itu sangat jelas menggambarkan bahwa kita ingin merdeka. Ini tahun baru 1920-an. Dan aroma kemerdekaan sudah tercium. Waktu pun tak sabar mengabarkannya. Tulisan-tulisan itu memiliki nyawa siapapun yang menulis dan menggambar dia tahu maunya.

Lanjut ke ruangan yang lebih besar. Sepertinya ini ruang keluarga. Di sana ada miniatur dulu ketika para pemuda ini melakukan kongres pemuda II. Ada WR Soepratman yang kiranya sedang memperdengarkan Indonesia Raya. Suasananya saat itu sulit dibayangkan. Tapi saya yakin penuh semangat yang menggebu-gebu seakan indonesia sudah ada.

Kemudian berita tidak hanya disebarluaskan melalui koran tapi juga radio. Waktu itu radio semasyhur youtube hari ini. Riuh rendahnya semangat perjuangan terasa sampai kepada kita yang hanya menyaksikan sisa-sisa ceritanya. Saya senang sudah ke sini.

Tapi jujur setiap kali berganti ruangan saya kaget. Ada rasa ngeri dan takut melihat patung-patung ini. Maryam beberapa kali bilang takut. Enggak. Saya gak bakal cerita horor. Tapi emang takut gimana si.

Liat foto patung sedang mendengarkan radio itu tuh kita banget di masa lalu. Tapi saya ngeri juga. Apa karena warna fotonya yang malah mengingatkan saya ke masa G-30S PKI. Tolong saya seperti melihat sebuah adegan di film itu. Sarung. Kursi. Dan radio. Iya si radio di tahun 1960-an pastinya sudah berevolusi.

Dari ruang radio itu sampailah kita ke ruangan terakhir di mana berderet panji-panji kepemudaan dalam sebuah lemari kaca yang ditaruh di tengah ruangan. Jong java, jong sumatra, dan jong jong yang lain. Kita pun sampai ke pintu sayap mmm aseli saya bingung dengan arah mata angin. Pokoknya kalau menghadap jalan ini tuh pintu sayap kanan.

Selesai sudah jalan-jalan singkat yang tak direncanakan ini. Yang tentunya sangat menguras energi. Ya karena kita seperti berjalan di lorong waktu. Fiuhh. Ikut bergelora dengan semangatnya sekaligus ketakutan dengan semua patung-patung di ruang temaram. Mereka tuh seperti mengagetkan kita tanpa rencana. Hahahaha.

Dibuang sayang, biar tambah terlempar ke masa lampauuuu….

Berkunjunglah ke tempat-tempat seperti ini. Paling tidak membuat kita bergetar karena semangatnya kemudian termotivasi dan bersyukur karena ternyata banyak hal yang telah kita capai sampai hari ini. Dan bersiaplah untuk pencapaian-pencapaian selanjutnya. Brace urself!