-203- Musim Hujan Telah Tiba

Bismillah.

Hujan tlah tiba, hujan tlah tiba, hatiku gembira…

Eh, 😊

Sudah dua minggu turun hujan. Air di sumur kembali lancar. Rasanya lega bisa kembali berkumur dengan air yang bersih. Rasanya segar.

Kemarin saya sempat skip berkumur kalau wudhu. Rasanya aneh dengan air yang berwarna coklat muda. Mengingatkan saya pada air sungai di depan rumah. Tapi itu sudah berlalu.

Hari ini, mulai seminggu ini, rumah kembali ceria dengan pasokan air bersih yang melimpah, alhamdulillah.

Para petani mulai tersenyum lebar menyambut hujan. Mereka mulai mengolah tanahnya yang mulai enak untuk dicangkul. Persediaan beras yang mulai menipis kembali memiliki harapan untuk setahun ke depan.

Lebih dari itu, pendapatan mulai mengedipkan mata. Perekonomian kemungkinan besar akan kembali menggeliat. Kemarin, penjual nasi ponggol saja mengeluh, karena jualannya selalu sisa. Hari ini, bolehlah mereka bernafas lega seiring petani mulai kembali beraktivitas.

Tapi…

Dibalik suka cita menyambut rezki, ia pun datang dengan ujian.

Di awal tahun ini, banjir di mana-mana akibat hujan turun tidak berjeda seharian. Di depan rumah saya saja airnya meluap. Untungnya hari itu sabtu. Saya dan suami libur. Dan seharian kita seperti beruang yang sedang berhibernasi. Asli tidak ke mana-mana. Masak seadanya di rumah.

Di Jakarta banjir seperti biasa. Mobil-mobil beriringan mengikuti arus air. Ah, mobil! Padahal saya harus ke sana dalam waktu dekat. Semoga hujan kembali normal tanpa menimbulkan banjir, aamiin.

Di sini pertanian terutama bawang terkena air yang meluap. Sawah tergenang air sampai tanamannya tertutup sempurna. Alhasil banyak petani yang gagal panen di tengah harga bawang yang sedang lumayan tinggi.

Segala sesuatu adalah pembelajaran. Hujan, banjir, manusia, adalah sebab akibat. Tapi ketetapan di sana adalah ujian atau musibah bagi kita. Kembali, ini adalah tentang hidup, tentang bagaimana kita memaknai semuanya. Bisakah kita belajar dan mengambil hikmah. Atau kita hanya berada di barisan yang segala sesuatu menjadi objek keluhan, na’udzubillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.