-198- Museum Sumpah Pemuda: Merinding karena semangatnya dan Ngeri juga karena…

Asli tidak direncanakan. Tidak terpikirkan. Karena kita nginep di Cordella Senen terus tiba-tiba suami pengen jalan ya udah. Dan kita juga gak tau kenapa milihnya yang ke kanan bukan ke kiri yang ternyata disanalah keramaian. Toko buku kwitang juga di sana. Padahal kita tuh pengen banget ke sana. Sudah lama gak ke sana setelah selesai kuliah.

Tapi jalan pake feeling itu kadang menyenangkan. Mungkin karena masih misteri apa yang akan dihadapi di depan. Kayak penasaran gitu di depan ada apa ya… Berharap menemukan hal-hal aneh hehe.

Nah, ini kejadian di kita kemarin. Pas baru beberapa melangkah liat gedung jadoel dong. Ya gimana saya mah liat yang begituan langsung kuat rasa penasarannya.

Pelan-pelan masuk. Liat-liat kursi nya yang antik dan cantik. Lama-lama keluarin hp, jepret jepret jepret. Dan liat pintu. Di dalam sepertinya tambah mengasyikan.

Seorang satpam sepertinya pura-pura saja keluar dari pos nya. Yaelah saya baru sadar ternyata ada pos satpamnya. Secara ini rumah langsung terbuka gitu aja dengan trotoar tanpa pembatas. Dari tadi sepertinya di balik pos itu mengamati gerak gerik kami.

Karena suami juga sepertinya tertarik untuk masuk maka bertanyalah ia😁 Pucuk dicinta ulam pun tiba inituh gedung sumpah pemuda. Semua orang boleh masuk. Isi buku tamu bayar dua rebu untuk umum dan seribu untuk anak-anak. Sudah. Akhirnya kita masuk rumah kuno lagi setelah dulu di Jatibarang. Di rumah mbesaran punya pabrik gula itu. Ah hatiku senang. Selalu senang saya masuk museum wkwkwk. Jadi berasa anak SD yang serba ingin tau wew.

Posisi saya moto di trotoar.

Set kursi yang sangat aduhai. Nenek saya punya mejanya dan emang bagus banget.

Tiket yang sangat murah. Sungguh terlalu dekat sana kalo gak pernah berkunjung. Hehe bercanda.

Kita masuk melalu pintu tengah. Pintu utama. Langsung masuk ruang tamu. Dan bentuknya masih begitu. Di set persis seperti keadaan dulu kala. Orang-orang sedang berdiskusi dengan buku-buku tebal berbahasa inggris dan belanda sebagai bahannya. Semangatnya sampai. Merinding. Di tahun itu. Di jaman itu. Pikiran orang-orang ini sudah menembus waktu.

Saya mau bukunya… juga set kursinya!
Liat buku-bukunya saya jadi ingin belajar dan belajar dan belajar

Di ruangan itu kita juga bisa melihat foto-foto jadul. Tulisannya Batavia 1920-an. Dengan foto stasiun senen saya kira dan kereta uap yang sedang melintas. Saya benar-benar merasa sedang berada di tahun itu. Dengan semangat orang-orang muda ini. Mereka,,,ah! Pikirannya tentang ingin sungguh mengagumkan.

Dari ruang tamu itu di kanan kiri ada pintu. Kita memilih pintu sebelah kanan. Di sana kita memasuki ruangan penuh dengan kata-kata semangat.

Lagi-lagi kursi ini canteks.

Ada pesan Ki Hajar Dewantara seperti di atas. Ada juga karya Mohammad Yamin. Di saat itu. Orang-orang begitu sangat ingin merdeka. Menentukan arah langkahnya sendiri. Karena ternyata kitapun mestinya bisa. Ingin menjadi manusia yang merdeka seutuhnya. Yang dengan sadar melakukan sesuatu bukan karena keterpaksaan. Di ruangan ini masih terasa sekali kedaerahannya. Pemuda-pemuda dari daerah yang sedang mencari jati diri bangsa.

Dari ruangan ini kita masuk ke ruangannya Indonesia Raya. Ada Replika wajah Wage Rudolf Supratman. Ada biola yang ia mainkan. Dan lagu Indonesia Raya dikumandangkan di ruangan ini.

Ada foto WR Soepratman juga dengan adiknya. Jadul sekali. Gayanya alamak mantap di jaman itu. Hehe. Kok saya malah fokus ke gayanya ya😄

Indonesia Raya ini diperkenalkan WR Soepratman pada kongres pemuda II di Batavia 28 Oktober 1928. Hal ini menandakan dimulainya era ide satu indonesia sebagai penerus hindia belanda daripada dipecah menjadi koloni-koloni (wikipedia). Para pemuda menginginkan negara baru nama baru dengan orang-orang merdeka di dalamnya. Tahun ini baru awal. Baru benih. Belum panas. Baru oh iya ya!

Dari ruangan Indonesia Raya kita akan masuk ke era di mana pemuda sadar bahwa ide ini harus disebarluaskan maka dimulailah penyebaran ide melalui tulisan-tulisan di media massa. Salah satu koran yang dinilai subversif adalah Benih Merdeka. Harian ini terbit pertama kali tahun 1916 di Sumatera Utara. Agaknya sumatera ini menjadi pulau literasi semenjak dulu kala. Yes perjuangan paling frontal ternyata dari sumatera. Dan mereka pun sangat berani menggunakan kata merdeka dalam tulisannya.

Ya koran penampakannya tidak banyak berubah dari dulu sampe sekarang.

Karikatur itu sangat jelas menggambarkan bahwa kita ingin merdeka. Ini tahun baru 1920-an. Dan aroma kemerdekaan sudah tercium. Waktu pun tak sabar mengabarkannya. Tulisan-tulisan itu memiliki nyawa siapapun yang menulis dan menggambar dia tahu maunya.

Lanjut ke ruangan yang lebih besar. Sepertinya ini ruang keluarga. Di sana ada miniatur dulu ketika para pemuda ini melakukan kongres pemuda II. Ada WR Soepratman yang kiranya sedang memperdengarkan Indonesia Raya. Suasananya saat itu sulit dibayangkan. Tapi saya yakin penuh semangat yang menggebu-gebu seakan indonesia sudah ada.

Kemudian berita tidak hanya disebarluaskan melalui koran tapi juga radio. Waktu itu radio semasyhur youtube hari ini. Riuh rendahnya semangat perjuangan terasa sampai kepada kita yang hanya menyaksikan sisa-sisa ceritanya. Saya senang sudah ke sini.

Tapi jujur setiap kali berganti ruangan saya kaget. Ada rasa ngeri dan takut melihat patung-patung ini. Maryam beberapa kali bilang takut. Enggak. Saya gak bakal cerita horor. Tapi emang takut gimana si.

Liat foto patung sedang mendengarkan radio itu tuh kita banget di masa lalu. Tapi saya ngeri juga. Apa karena warna fotonya yang malah mengingatkan saya ke masa G-30S PKI. Tolong saya seperti melihat sebuah adegan di film itu. Sarung. Kursi. Dan radio. Iya si radio di tahun 1960-an pastinya sudah berevolusi.

Dari ruang radio itu sampailah kita ke ruangan terakhir di mana berderet panji-panji kepemudaan dalam sebuah lemari kaca yang ditaruh di tengah ruangan. Jong java, jong sumatra, dan jong jong yang lain. Kita pun sampai ke pintu sayap mmm aseli saya bingung dengan arah mata angin. Pokoknya kalau menghadap jalan ini tuh pintu sayap kanan.

Selesai sudah jalan-jalan singkat yang tak direncanakan ini. Yang tentunya sangat menguras energi. Ya karena kita seperti berjalan di lorong waktu. Fiuhh. Ikut bergelora dengan semangatnya sekaligus ketakutan dengan semua patung-patung di ruang temaram. Mereka tuh seperti mengagetkan kita tanpa rencana. Hahahaha.

Dibuang sayang, biar tambah terlempar ke masa lampauuuu….

Berkunjunglah ke tempat-tempat seperti ini. Paling tidak membuat kita bergetar karena semangatnya kemudian termotivasi dan bersyukur karena ternyata banyak hal yang telah kita capai sampai hari ini. Dan bersiaplah untuk pencapaian-pencapaian selanjutnya. Brace urself!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.