-188- Rest Area Banjaratma: Antara Nostalgia dan Harapan

Bismillah.

Haiii ketemu lagi di edisi jalan-jalan. Keluarga kita emang kalo jalan masih yang dekat-dekat. Di sekitaran. Pengen sih jauh sekali-kali. Tapi, kok ya rasanya belum merasa harus apalagi penting, hehe. Kita tuh kadang merasa gak enak hati kalau hanya jalan buat bersenang-senang. Bukan salah. Tapi emang kita gak biasa. Jadi sekalinya jalan-jalan yang jauh itu biasanya sekalian. Sekalian ini sekalian itu😄

Sore di hari sabtu. Setelah rumah tenang. Setelah bocah-bocah pindah bermain ke rumah kaka ipar. Kita bersiap. Saya yang duluan rapi, jemput Maryam.

Perjalanan dari rumah ke Banjaratma kurang lebih lima belas menitan. Dekat khaaaan…Maryam pun tidak sampai ketiduran.

Lokasinya itu, setelah Pasar Banjaratma. Persis di saluran air peninggalan Belanda kita belok ke timur. Ini dari arah selatan ya bukan dari jalan tol pejagan-pemalang. Nah dari sana, sudah keliatan rumah-rumah jadoel yang masih kokoh sebenarnya. Cuma ya gitu, gak terawat. Seratus meter apa kurang ya, pokoknya dekatlah, setelah kita belok itu. Di sebelah kiri, sebelah utara, ada gada-gada. Saya lupa tulisannya apa. Tapi di sana ada gada-gada plus tempat satpam yang usang. Kita masuk saja tuh. Nanti akan disambut oleh beberapa laki-laki yang bertugas menjaga parkiran. Kita dikasih semacam karsis parkir seharga Rp3.000,- Dan itu sekaligus tiket masuk.

Sementara itu, jika kita masuk lewat tol pejagan-pemalang berada di km 260B. Saya belum pernah. Tapi kayaknya aksesnya lebih mudah karena lebih jelas terlihat.

Pertama kali saya ke sini tuh sekitar akhir 2016 atau awal 2017. Saya masih ingat, waktu itu, rumah-rumahnya masih cukup bagus. Bahkan ada air mancur besar di pekarangan salah satu rumah. Dan air mancur itu yang terus tergambar di kepala saya ketika mengingat komplek perumahan pabrik gula. Itu semacam simbol kemakmuran bagi saya. Kejayaan. Dan kini itu tak nampak. Bekasnya sekalipun tak ada. Di halaman perumahan yang berjejer di sebelah barat dari utara ke selatan itu tinggallah puing-puing kenangan kejayaan masa lampau. Kalo di video jadi sedikit seram karena terlihat asap. Memang terlihat beberapa titik bekas bakar-bakar di sepanjang rumah. Walaupun begitu, rumah-rumah masih berdiri, kalo kain mah compang camping. Bolong di sana sini. Pabrik gula riwayatmu kini🙁

Sebelah timur rumah ditanami tebu. Mungkin untuk memasok pabrik gula (PG) yang masih beroperasi di Pangkah. Karena di Brebes ini dari tiga PG sudah habis semuanya. Terakhir yang berhenti beroperasi yang di Jatibarang. Kini menjadi agro wisata. Sedih sebenarnya. Saya pernah ke sana untuk survei. Dan ngobrol dengan manajernya. Nanti insyaAlloh saya post. Ceritanya agak menyesakkan, antara harapan dan kenyataan gitu.

Saya takjub dengan area PG Banjaratma ini: luaaaaasss. Tak terbayangkan betapa hebatnya dulu di sini. Menurut sumber yang saya baca luas keseluruhan mencapai 11ha. Di mana 5ha digunakan untuk area UMKM. Kemarin saya ke sana sudah lengkap. Fasilitas seperti masjid, toilet umum yang modern, tempat kulinari yang lumayan lengkap, SPBU, sepertinya sudah lengkap. Ditambah dengan wisata cagar budaya, tentu menjadi daya tarik tersendiri. Kalian yang sempat mungkin perlu mencobanya. Apalagi yang dulunya pernah mengalami era PG ini masih aktif, perlu banget ke sana dan rasalan sensasinya.

Entah kenapa suami saya malah kecewa. Dulu waktu dia SMP masih mendapati PG. Dia teringat sering menumpang kereta tebu yang melintas ketika pulang sekolah. Entahlah masa kecil saya jauh dari yang namanya kemajuan budaya. Katanya dulu itu di sana ramai. Ramai dengan pekerja. Pabrik yang mengepul. Hangat dan hidup.

Di bangunan itulah pusat belanja sekaligus wisata cagar budaya. Dulunya itu adalah pabrik. Pabrik dalam arti sebenarnya. Di dalam masih ada sisa-sisa bekas pabrik. Tidak banyak dan belum menggambarkan mekanisme kerja pabrik jaman dulu, menurut saya sih. Yang masih sangat terasa tempoe doeloenya itu adalah bentuk bangunannya.

Pintu dan jendela yang tinggi dan besar sebagai ciri khas bangungan Belanda.

Masuk ke dalam kita akan disuguhkan dengan berbagai macam variasi jajanan buat oleh-oleh atau sekedar buat makan-makan. Suasananya pas kemarin kita ke sana sekitar jam lima, tidak begitu ramai. Kebanyakan penduduk sekitar yang jalan-jalan. Oleh-oleh khas brebes seperti telur asin berbagai olahan, bawang merah, dan berbagai kerajinan ada di sini. Makanannya juga lengkap. Hampir semua brand warung makan terkenal di brebes ada di sini, sate pun yang dibakar kayaknya ada.

Kayak gini suasananya.
Ini salah satu spot yang lumayan rame. Kelapa muda sih yang narik banget.

Kalau gak begitu lapar pilihan camilan yang tidak mengenyangkan namun bisa buat badan melar bisa jadi pilihan🤭 Seperti yang saya coba: tempe mendoan. Enak. Daya tariknya bukan mendoan sebenarnya tapi air kelapa muda. Itu yang bikin pengen nyoba. Tapi ya gitu kalau ada minuman berasa aja ada yang kurang, hehe. Air kelapanya seger. Dan pastinya masih muda. Bukan judulnya saja kelapa muda tapi isinya harus dikeruk pakai benda tajam. Ini tuh dawegan kata orang sunda, degan kata orang jawa.

Sebelum kita ngemil kita keliling dulu. Kalau menurut saya jangan terlalu over estimate. Takutnya kecewa. Yang bener-bener masih gaya jadoel itu bangunannya. Selebihnya ya seperti yang sering kita temui stand makanan di mall-mall atau di tempat keramaian yang lain. Dan ada satu kereta tebu yang di pajang di halaman sebelah timur. Dekat masjid.

Yang tersisa dari pabrik gula itu sendiri mungkin gambar di bawah bisa banyak cerita. Karena saya gak ngerti. Menurut saya itu hanya susunan batu bata. Entah dulunya buat apa.

Di luar bangunan pabrik yang masih kentara kunonya adalah dinding yang dililit tetumbuhan. Ini juga lumayan buat foto-foto. Selain juga bakal kita dapati kereta tebu yang dijadikan pajangan dan reruntuhan yang dibiarkan begitu saja.

Spot kereta tebu itu yang paling instagramable makana paling ramai. Foto-foto memang sudah membudaya🙂 Coba saja kamu ke tempat baru kalau gak gatel kepengen foto; hebaaaaaatttt….

Dan bangunan baru penunjang rest area seperti masjid dan spbu berada tepat dekat jalan masuk dari arah tol.

Yes. Itu jalan-jalan kita sore sabtu ini. Kesimpulannya, oke banget buat foto-foto. Buat jalan-jalan melepas penat penduduk sekitar. Dan tentu saja tempat istirahat buat pelancong.

Ini juga menjadi lahan rejeki baru untuk penduduk sekitar. Setelah dulu kecewa karena jualan oleh-oleh turun drastis setelah adanya tol pejagan-pemalang ini. Okelah buat mengobati rasa kecewa. Sasarannya memang UMKM. Yang dulu bisa berjualan di depan rumahnya. Di depan jalan. Kini bolehlah dibilang lebih nyaman. Mungkin. Saya gak tahu, karena harga per stand nya kok mahal banget ya. Apa saya yang salah dengar. Atau mas-mas yang saya tanya menjawab salah. Entahlah. Katanya 14,5 juta per bulan. Bener gak sih? Ada yang tahu? Saya tanya ramai atau enggak, katanya lumayan. Tapi kok rasanya mahal banget ya🤔 Atau saya yang minim ilmu dagang kali ya.

Kalau suami saya kecewa karena ia bisa membandingkan jaman PG ini masih aktif dengan sekarang. Menurutnya, dulu itu lebih keren. Mungkin dari sisi industri. Gula kan termasuk kebutuhan utama. Rumah tangga mana sih yang gak pake gula untuk memanisi kehidupannya😜 Berarti ini usaha penting. Memegang kendali penting. Kalau negara bisa pegang kendali. Hebat. Suasananya juga dulu lebih elegan. Katanya. Ya namanya pengusaha besar sekelas pabrik gula tentu pegawainya dari yang atas sampai rendahan bangga. Ditambah bangunan-bangunan yang megah. Itu aset banget membuat kagum siapa saja yang berkunjung.

Saya sendiri? Saya berdiri di sana. Di pabrik gula yang besar itu. Seperti ada ruang kosong menghempas. Angin yang berdesir seperti terus mengingatkan pada semua artikel dan film pendek yang saya baca dan tonton tentang kejayaan PG di masa lampau. Bisakah ia kembali berjaya??? Kenapa kita hanya bermain di kelas mikro kecil menengah? Pemain besarnya siapa? Bukankah kita ini bangsa yang besar? Please jangan bilang saya meremehkan usaha mikro, kecil, dan menengah. Tak ada sedikitpun niatan seperti itu. Hanya saja kita pernah besar kenapa. Kenapa?

Mahal buk. Kita gak kuat revitalisasi mesin gula. Tapi percayalah dulu itu pernah ada yang mau dan siap bekerja untuk mengembalikan kejayaan masa lampau. Kita pernah berharap. Asa yang indah, paling tidak untuk para pegawai PG. Tapi orang seperti inipun tersingkir. Bayangkan jika kita bisa kembali seperti dulu. Jangan bilang tak mungkin. Bukankah kita pernah berada di bangku sekolah yang sama dengan pesan “gantungkanlah cita-citamu setinggi langit”.

Arghhhh, saya jadi sedih. Semoga. Saya hanya berani berdo’a dan berharap. Sebagai masyarakat biasa. Mungkin hanya itu. Berharap ini tidak sekedar nostalgia yang indah. Tapi menjadi harapan untuk kesejahteraan. Mungkin nanti kita pun akan bangga dengan rest area ini seperti dulu pabrik gula nya. Aamiin.

Dan kumandang adzan magrib mengingatkan kita untuk berhenti. Bye…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.