-187- Dewasa itu Proses kemudian Pilihan

Be Simpel. Be Yourself.

Beberapa hari ini saya banyak mendengar cerita. Banyak hal yang saya tidak sependapat. Tapi saya menahan diri untuk berkomentar menyalahkan atau sekedar mengatakan begini lho pendapat saya. Enggak. Karena saya merasa itu adalah pendapatnya dan sikap yang ia pilih sekarang.

Selama itu tidak bertentangan dengan agama, saya merasa sah-sah saja. Dan saya pun mulai belajar untuk menahan diri. Alangkah membosankannya jika semua isi kepala sama. Iya kaaaan….

Saya hari ini bukan tanpa sebab. Perjalanan kurang lebih tiga puluh tahun mengantarkan saya ke titik ini. Saya tahu masih banyak kekurangan. Tapi saya juga tahu bahwa hidup bukan sekedar kekurangan dan kelebihan tapi tentang proses dan bagaimana kita mensyukurinya. InsyaAlloh kalau kita bersyukur kita akan selalu belajar untuk mengambil hikmah dari apapun perjalanan hidup ini.

Keputusan-keputusan hari ini tidak bisa saya buat dulu. Waktu saya sekolah menengah misalnya. Saya ingat pernah sebal banget dengan teman yang posisinya waktu itu sekretaris. Kebetulan waktu itu saya sebagai ketuanya. Susah sekali saya mau berkoordinasi dengan dia. Setiap kali kumpul dia ada saja alasannya tidak bisa hadir. Padahal yah jarak rumah kita tuh gak jauh-jauh amat yang harus pake kendaraan. Jaman dulu emang kita selalu jalan. Belum selumrah ini sepeda motor.

Saya benar-benar marah waktu itu. Ngomelin dia sampai kita tuh jadi gak enak. Apapun alasan yang dia lontarkan selalu saya patahkan. Ada masalah lah dengan cowoknya, apalah, saya gak bisa terima. Saya selalu bilang professional dong. Secara saya mah gak tahu pacaran jadi gak tahu juga gimana perasaannya. Bagi saya dia salah. Lagian pacaran juga salah kan? Dan saya ngomong vulgar gitu juga ke dia, “lagian kenapa pacaran. Kan gak boleh, dilarang tahu.” Kalau diingat-ingat sekarang lucu. Saya tuh kalau anak sekarang bilangnya SJW aka Social Justice Warrior, apa-apa harus baik dan benar menurut pemahaman saya yang sebenarnya belum tentu juga bener atau hal yang sebenarnya gak bisa saya paksakan. Hehe. Yang sebenarnya bukan juga urusan saya. Tapi kalau dipikir-pikir apa salahnya mengingatkan? Mungkin caranya saja yang kurang elegant. Dan lucunya ini nular ke anak saya. Dia tuh kadang kayak polisi di rumah kalau lihat yang gak shalat.

Dulu itu saya juga selalu merasa harus begini dan begitu ke teman. Atau ya, ini lucu banget kalau diingat-ingat. Waktu itu ceritanya ada yang naksir, ecieee, hahahaha. Saya tahu gak boleh pacaran. Tapi jujur deh, saya seneng ada yang suka, hahaha. Tapinya juga entah kenapa saya malu banget. Walaupun saya senang ada yang suka, setelah dia ngomong suka ke saya, saya tuh bener-bener gak mau ketemu sama dia. MALU. Ini tuh saya bersyukur banget. Coba kalau dulu saya gak punya malu, mungkin saya pacaran, na’udzubillah. Waktu remaja ini pernah terjadi beberapa kali. Pernah juga yang sampai ngasih-ngasih sesuatu. Tapi saya tetap MALU luar biasa. Kalau lagi jalan, pulang sekolah misal, ada dia di depan sana, saya tuh yang sengaja nyari jalan lain. Walau harus melewati hutan, gak masalah asal jangan ketemu dia😅Lucu tapi saya sangat bersyukur. Alloh SWT telah menjaga alhamdulillah. Saya yakin ada do’a-do’a orang tua di sana. Makanya siapapun yang membaca ini yang sudah punya anak khususnya jangan pernah bosan untuk terus mendo’akan anak-anak kita. Saya yakin selalu ada campur tanganNYA. Berdo’alah. Karena dewasa itu menurut saya ketika kita bisa memutuskan sesuatu dengan benar sesuai yang digariskan syariat. Dan ini gak terjadi secara tiba-tiba. Ada proses yang penuh dengan do’a. Kalau enggak, mungkin akan banyak keputusan hari ini yang melenceng dari syariatNya. So, menurut saya do’a itu penting banget selain usaha yang sungguh-sungguh.

Pernah juga saya berada di titik merasa ini adalah jalan yang paling benar. Tentang bagaimana kita menjalankan agama. Semua harus bisa menerimanya. Padahal banyak jalan menuju Roma. Saya benar-benar pake kacamata kuda. Tapi lagi-lagi saya belum punya pilihan untuk dewasa dalam memilih.

Alloh SWT mengajari hambaNYA dengan cara yang sangat halus. Yang mungkin kita tidak menyadari. Dia mengajari sekaligus menguji kita. Beberapa lulus kemudian bisa mengambil hikmah. Banyak juga saya kira yang gagal.

Dia memberikan saya lingkungan dan teman-teman yang baik. Saya baru sadar kebanyakan teman-teman dekat saya itu sabar-sabar. Saking sabarnya saya pernah berpikir mereka tak punya ambisi. Hidup yang mengalir-mengalir saja. Tidak ada rasa ingin begini dan begitu. Ingin lebih dari si A dan si B. Bahkan mereka tuh jarang bahkan gak pernah ngurusin orang lain atau mempermasalahka pendapat orang lain yang berbeda dengan mereka. Saya awalnya merasa sebal. Kok ada orang kayak gini? Gak punya pendirian menurut saya. Susah diajak ngerumpi. Hehe. Dasar saja sayanya gak bener😅

Dari merekalah saya banyak belajar.

Umur boleh tua tapi kedewasaan itu memang mahal. Dia butuh proses. Sampai akhirnya bisa menjadi pilihan.

Kenapa saya cerita tentang ini? Saya ingin ini jadi pengingat. Terutama buat saya sendiri. Buat anak-anak saya kelak. Atau pembaca juga. Silakan diambil baiknya saja.

Jadi saya dihadapkan dengan seorang pemimpin yang tidak biasa. Dia memimpin di luar keumuman. Orangnya teliti, tekun, disiplin, dan sjw tadi ya. Ternyata orang-orang sjw ini banyak tidak disukai. Kesannya terlalu ikut campur urusan orang lain. Walaupun mungkin niatnya baik. Sampaikanlah walau satu ayat, ballighuu ‘annii walau ayah.

Banyak hal yang ditangani sendiri. Sampai saya pun merasa risih. Hal yang menurut saya bisa dilakukan semua orang dengan cara masing-masing ini diarahkan dan diawasi. Selain itu kedisiplinannya pun menuai pro dan kontra. Lebih banyak kontranya sih. Tentang kerja, kerja, kerja terus. Kebanyakan orang kan maunya santai tapi kerja, sersan gitu loh kata anak jadul. Beberapa kebijakannya pun terasa sangat membatasi. Intinya banyak kontra.

Saya pun pernah sekali dua merasa sedih dan kesal dengan sikap beliau. Alhamdulillah gak lama. Karena setelah saya pikir, itu kan hak dia sebagai kepala mau melakukan kebijakan apa. Toh yang dia lakukan sebenarnya sah-sah saja. Tinggal kitanya mau gimana. Memilih bersikap positif dengan sikap atasan seperti itu adalah yang terbaik. Itu membuat kita gak punya beban dengan dia. Maksudnya ya sudah dia ya dia, kita ya kita. Misal nih, saya mau cuti merasa dipersulit. Dan selama ini alasannya memang selalu masuk akal. Ya sudah kalau memang beliau ada benarnya kalau kita memilih untuk tetap tidak masuk kantor toh kita masih punya hak alpa kan. Tergantung kita mau dipakai atau tidak. Selesai kan. Masalah nanti dimarahi karena alpa, itu masalah nanti lagi. Selama kita masih bisa menjelaskan, kenapa tidak. Dan jangan terlalu memikirkan kebijakannya, karena pada dasarnya kitalah yang memutuskan hendak bersikap seperti apa. Kalau sudah memutuskan ya sudah.

Dengan bersikap seperti ini saya merasa enteng. Merasa tidak ada masalah. Karena, benar kata seorang teman: “masalah itu sebenarnya kita yang buat.” Kita hanya tinggal fokus pada diri sendiri. InsyaAlloh kebaikan itu akan mengalir dengan sendirinya.

Jika masih ada sesuatu setelah kepergiannya berarti kita memang belum selesai. Saya merasa beberapa teman belum selesai. Semoga itu cuma perasaan saya saja yang terlalu sotoy. Wkwkwkwk. Selesai itu ketika kita sudah sama-sama mengikhlaskan dan itu adalah pilihan dari kedewasaan. Pilihan itu terjadi karena kita telah melalui banyak proses. Jika kita merasa belum selesai dengan siapapun, mungkin inilah saatnya bagi kita untuk belajar. Belajar memaknai hikmah atas apa yang terjadi dengan setiap langkah kehidupan kita. Boleh jadi kita banyak melewati proses tapi berapa banyak dari sekian banyak proses itu yang kita berhasil melewatinya. Sehingga hal itu bisa menjadi pilihan kita hari ini agar lebih dewasa dalam memaknai dan menghadapi sesuatu.

Happy friday everyone!

2 thoughts on “-187- Dewasa itu Proses kemudian Pilihan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.