-186- Maryam terima raport

Bismillahirrohmanirrohiim…

Alhamdulillah.

Tahun ini Maryam naik ke kelas dua. Walaupun secara emosional masih ketinggalan dibanding teman-temannya yang seumuran tapi so far Maryam masih enjoy mengikuti. Yang paling kerasa Maryam sudah mulai nalar. Dulu ngajarin baca itu yang sampai saya frustasi, sampai saya bikin buku sendiri untuk dia belajar baca, sekarang alhamdulillah. Sekali saya terangin seterusnya dia sudah bisa ngikutin.

Secara akademis Maryam juga masih bisa ngimbangi. Walaupun belum bisa sejago teman-temannya. Tapi saya sangat bersyukur. Bagaimana Maryam masuk SD tanpa bisa apa-apa, bahkan komunikasi saja masih terbatas, sekarang alhamdulillah banyak sekali perkembangannya. Baca bisalah yang sederhana, berhitung juga bisa yang sangat sederhana, menulis juga bisa. Saya tidak muluk-muluk dengan suami. Sekolah dasar, yes, namanya sekolah dasar, jadi kami hanya berharap Maryam bisa mahir dan faham yang dasar-dasar dulu. Misalnya kelas satu ini yang dasar kan calistung: Baca Tulis Hitung, ya sudah, itu saja dulu. Selebihnya biar Maryam yang jalan. Karena kita selalu mengingatkan diri sendiri bahwa anak memiliki sesuatu dalam dirinya yang unik dan tidak bisa disama-samakan atau dibandingkan antara satu dengan lainnya.

Tapi tahulah ya, lingkungan kita masih banyak yang mengagungkan nilai tinggi dan rangking yang bagus. Membuat stigma pintar dan bodoh. Padahal tidak ada tuh anak yang bodoh, yang ada anak pintar di minatnya masing-masing. Hanya saja kita para orang tua, pendidik, dan masyarakat pada umumnya belum tahu apa sih kecenderungannya. Dan kelebihan itu tidak juga harus membuatnya besar, cukup untuk membuatnya berguna.

Baru-baru saya melihat seorang Anang Hermansyah, kalo saya sih iyes, iya bener beliau orang yang saya maksud. Anang berpendapat bahwa anak sulungnya tidak perlulah kuliah. Menurut dia, anak sulungnya ini sudah tahu ke mana minatnya. Jangan sampai kuliah itu hanya sekedar kebanggaan, gengsi doang. Setuju Mas Anang, saya juga iyes…

Tapi pemikiran seperti Mas Anang ini belum begitu umum. Banyak duit kok pelit amat nyekolahin anaknya? Nah, kan masih banyak yang berpikir seperti ini. Atau anaknya bodoh kali gak mampu. Nah, ini lebih menyakitkan lebih ke bully, bagi yang gak kuat kemungkinan akan menyerah kemudian kuliah hanya karena omongan pedas seperti ini. So, saya sebagai orang tua memang harus siap mental. Harus siap jika anak kita tidak secemerlang kita di bidang kita. Karena ucapan pedas itu benar-benar lebih tajam dari pedang. Bersiaplah! Jangan sampai keputusan dalam hidup kita dipengaruhi oleh hal-hal yang sebenarnya tidak begitu penting. Keputusan hanya untuk membuat semua orang bahagia tentu gak sehat.

Kembali lagi ke maryam. Jujur. Ada juga rasa sedih mendapati raport anak saya tanpa rangking. Di sisi lain saya ambilkan raport ponakan yang berprestasi. Saya kadang berpikir apa Maryam kurang di bidang akademis. Sementara jujur saja sebagai orang tua yang berasal dari sistem pendidikan rangking berharap juga anak kita bisa sama baiknya bahkan lebih.

Saya cerita deh ke suami. Dan saya mungkin harus banyak bersyukur punya suami dengan pendirian sekuat baja. Saya yang seperti bambu ini akhirnya alhamdulillah bisa kembali merasakan angin sepoi-sepoi.

Saya harus terus memantrai diri bahwa setiap anak punya jalannya masing-masing. Mereka bukan kita. Mereka tidak harus sama dengan kita. Mereka istimewa dengan jalannya masing-masing. InsyaAlloh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.