-182- Opini Koran (1)

Bismillah.

Ceritanya disuruh nulis di koran. Ya sudah saya nulis… Berhubung saya bisa sedikit menulis jadi kenapa tidak dicoba. Jujur saya hanya mencoba menulis tanpa harus dimuat atau karena takut sanksi jika tidak menulis. No. Saya tidak masalah kok jika sampai tidak dimuat dan kemudian saya kena hukuman. Saya bekerja itu sudah pada tahap go with the flow. Tidak punya ambisi apa-apa. Benar-benar ngalir saja.

Sanksinya sih biasa tapi sanksi sosialnya itu lho yang menggelitik. Okelah pada akhirnya saya bisa menjawab tantangan menulis itu. Di koran lokal. Tanpa bayaran. Tanpa apresiasi kecuali tulisan kita yang dimuat. Yaelah dengan dimuatnya tulisan kita berarti itu sudah lebih dari cukup kan. Paling tidak harusnya iya buat saya. Toh menulis sekedar karena disuruh agar muncul di media. Sampai disitu sih iya…Besok kayaknya enggak. Lha menulis itu gampang-gampang susah. Ada waktu dan tenaga yang kita korbankan. Hehe.

Ini sebenarnya bukan tulisan perdana. Dulu di Sulawesi pernah juga beberapa kali di koran lokal. Dan sekali menulis gagasan di koran nasional. Dan jomplang sekali ya apresiasinya. Hehe.

Tanpa berpanjang kata lagi, berikut saya salinkan tulisan saya yang dimuat tersebut. Satu lagi deh. Soalnya ada yang lucu dengan tulisan ini. Saya kirim ini tulisan malam hari tanggal 18 Desember. Tanggal 20 nya dimuat. Senang sekali karena begitu cepat dan tanggapnya nih koran, pikir saya. Dan saya memang berniat tidak mau kirim lagi karena dan karena tiadanya apresiasi. Eh, Bulan Januari ada teman yang bilang tulisan saya dimuat di koran yang sama. Saya bingung dong karena tidak pernah kirim lagi. Ternyata oh ternyata tulisan saya yang ini dimuat ulang. Ehehe…Tanggap sekali ya…

______________________________________________________________________________

Fokus Pembangunan Wilayah

Revolusi indutri terjadi sekitar tahun 1750-1850 di Britania Raya. Dua abad kemudian. Pendapatan perkapita meningkat lebih dari enam kali lipat.

“Untuk pertama kalinya dalam sejarah, standar hidup rakyat biasa mengalami pertumbuhan yang berkelanjutan. Perilaku ekonomi yang seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya”, hal ini dikemukakan oleh Robert Emerson Lucas, penerima hadiah nobel dalam bidang ekonomi tahun 1995. Sejak saat itu negara-negara industri tampil sebagai negara maju yang menguasai perekonomian dunia. Hingga saat ini.

Negara maju menurut International Monetary Fund (IMF) adalah negara yang menikmati standar hidup relatif tinggi melalui teknologi tinggi dan ekonomi yang merata. Kebanyakan negara dengan GDP perkapita tinggi dianggap negara maju, sebut saja Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Semuanya merupakan negara industri yang maju.

Dalam lingkup daerah pun, daerah dengan industri maju cenderung manjadi daerah yang maju. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) lima provinsi dengan sumbangan ekonomi tertinggi di Indonesia adalah DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Riau . Jika ditelisik lebih lanjut, sektor industri sangat dominan di kelima provinsi tersebut. Sumbangan sektor industri pada PDRB DKI Jakarta tahun 2017 sebesar 13,44 persen ke dua terbesar setelah sektor perdagangan. Di Jawa Timur sebesar 29,03 persen, Jawa Barat 42,29 persen, Jawa Tengah 34,96 persen, dan Riau sebesar 25,31 persen. Di mana sumbangan industri menjadi yang terbesar pada keempat daerah tersebut. Hal ini membuat daerah lain berlomba untuk menggenjot sektor industrinya.

Tentu, siapa yang tidak ingin daerahnya sejahtera? Mengikuti adalah hal yang paling mudah dilaksanakan ketimbang harus mencari jalan lain yang belum tentu tujuan akhirnya sama. Daerah pun mulai berlomba menjadikan daerahnya sebagai pusat industri baru.

Sampai titik ini mungkin kita lupa. Bahwasanya struktur perekonomian terdiri dari tujuh belas sektor. Yang kesemuanya tanpa terkecuali sangat penting dalam menggenjot pembangunan demi kesejateraan. Contoh, sektor pertanian yang sangat vital namun dilirik sebelah mata. Sektor pertanian justru tidak menjadi primadona. Di tengah sematan negara agraris hal ini tentu sangat ironi.

Negara subur gemah ripah loh jinawi mungkin baru sekedar kata positif pembangkit semangat. Negara dengan jumlah penduduk ke empat terbesar di dunia ini belum mampu memenuhi kebutuhan pokok warganya berupa beras. Import beras menjadi agenda rutin tahunan. Nilai import beras berdasarkan data dari BPS pada triwulan pertama tahun 2018 mencapai 1,12 juta ton. Hal ini mengalami kenaikan 755% dibandingkan import beras triwulan I tahun 2017. Angka yang fantastis tentunya untuk sebuah negara agraris.

Masalah pangan ini bukan hal sepele. Kenaikan jumlah penduduk setiap tahunnya membuat kebutuhan akan pangan semakin tinggi. Pada akhirnya kita harus kuat secara pangan. Tidak boleh lagi menggantungkan pada import. Menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla. Permasalahan sektor pangan ini secara umum ada tiga yaitu, kenaikan jumlah penduduk, lahan pertanian yang semakin menyusut, dan perubahan iklim.

Jika kita tidak segera bergerak maka akan selalu ketinggalan. Seperti halnya industri otomotif. Dalam sebuah tulisannya Dahlan Iskan, mantan menteri BUMN pada era pemerintahan SBY pernah mengemukakan. Bahwasanya jika kita ingin sejajar dengan negara maju saat ini dalam industri mobil maka kita harus memiliki awalan yang sama. Untuk industri otomotif dengan bahan bakar minyak kita sudah jauh ketinggalan. Ibarat ikut perlombaan lari, yang lain sudah mencapai finish kita baru mulai. Seharusnya kita bisa bersaing dalam pembuatan mobil listrik. Semua negara baru mencoba. Semua memiliki peluang yang sama untuk maju.

Kenaikan jumlah penduduk adalah keniscayaan. Perubahan iklim adalah hal yang pasti. Mempertahankan daerah-daerah yang memiliki potensi pertanian untuk tidak dialihfungsikan bisa menjadi salah satu cara menekan penyusutan lahan pertanian.

Sejarah mencatat. Kita pun pernah merasakan swasembada beras yaitu tahun 1985. Pada waktu itu pertanian pernah sekali waktu menjadi primadona. Kita bisa kembali mewujudkannya jauh lebih baik.

Ini baru beras. Belum gula, garam, dan potensi komoditas lainnya yang belum mampu kita manfaatkan dengan baik. Maka tidak heran jika kita masih rentan terkena imbas gejolak ekonomi global. Nilai ekspor walau besar tapi masih kalah besar dibanding import. Sehingga menciptakan gap yang lumayan besar. Ketergantungan kita kepada pihak luar masih sangat tinggi.

Lantas?

Indonesia membentang dari Sabang sampai Merauke, dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote. Terbentuk dari beraneka ragam suku, bangsa, bahasa, dan agama. Setiap daerah memiliki kekhasan dan keunggulan masing-masing. Memiliki ciri yang membedakan dengan daerah lainnya.

Karena hal tersebut muncullah ide diversifikasi ekonomi. Diversifikasi ekonomi, yaitu penganekaragaman atau inovasi produk/bidang usaha diyakini mampu menambah daya dorong perekonomian, dan dapat menjadi strategi khusus untuk mendukung ekonomi Indonesia saat ini. Struktur perekonomian yang terkonsentrasi hanya pada beberapa sektor membuat perekonomian Indonesia rentan terhadap gejolak ekonomi global. Inti dari diversifikasi ekonomi adalah keunggulan daerah.  

Salah satu cara untuk melihat keunggulan daerah bisa dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto PDRB) masing-masing daerah. Dari sana bisa dilihat sektor mana yang memberikan sumbangan tertinggi. Sektor dengan sumbangan tertinggi patut menjadi perhatian. Visi dan misi pembangunan dapat diarahkan ke sana.

Contoh Kabupaten Brebes. Sumbangan terbesar pada PDRB taun 2017 adalah sektor pertanian sebesar 38,42 persen. Angka ini seharusnya cukup untuk membuat pemerintah daerah setempat mengarahkan kebijakannya ke sektor pertanian. Dengan begitu sumbangan pertanian pada PDRB provinsi pun akan terdongkrak. Dimana selama kurun 2013-2017 sumbangan sektor pertanian di Provinsi Jawa Tengah cenderung menurun.

Dengan begitu diharapkan setiap wilayah akan kuat dan saling menopang satu dengan lainnya demi tercapai pembangunan nasional yang merata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.