-165- Jam Delapan yang Bukan Jam Delapan

Bismillah

Sejak dikumandangkan RB (Reformasi Birokrasi) jam adalah sesuatu yang urgent. Apalagi sudah ada handkey naik motor pun sambil melihat jam. Literally melihat jam. Sesekali tentunya.

Tidak boleh lewat dari 7.30. Kalau lewat? Pasti uang harian kita kena potong. Tapi bukan itu. Masalah terbesar adalah moralitas dan sanksi sosial.

Moralitas tentu karena sebagai pegawai saya di gaji dan dikenakan tanggung jawab. Salah satunya kehadiran ini. Tepat waktu setiap hari. Lima hari kerja.

Sanksi sosial adalah omongan kantor. Omongan yang walau tidak langsung sakitnya luar biasa. Jadi daripada sakit kepala mendengar kicauan. Lebih baik kita ikut aturan. Apa susahnya kan?

Susahnya bagi saya adalah gedabrukan dengan anak di pagi hari. Bangun, mandi, sarapan, dan bersiap berangkat sekolah, dan semua keperluan sekolahnya. Belum kalau anaknya rewel. Atau perlengkapan sekolahnya yang kelupaan di mana. Itu benar-benar menghancurkan hari.

Kalau sudah begitu tinggal do’a agar tidak terlambat masuk kantor.

Pagi ini jam 8.17 saya di kantor sebuah desa. Dalam rangka tugas. Tidak lama sebenarnya di kantor desa. Hanya minta tanda tangan. Sebagai bukti bahwa saya benar-benar ke desa ini. Dari kantor desa saya harus segera ke lapangan. Harus segera. Kalau kesiangan panas. Karena tugas kali ini adalah sawah. Luas sawah yang sembilan hektar itu. Kita kelilingi. Bisa dibayangkan siang hari di tengah kemarau.

“Mau ketemu Pak Lurah,” kata saya kepada satu aparat desa. Baru satu-satunya dia.

“Belum datang,” jawabnya singkat. Sambil mengetik.

“Pak Sekdes atau kasi pun tidak apa-apa,” lanjut saya. Saya memang buru cepat. Buru waktu. Jangan sampai kebalap matahari.

“Belum ada yang datang,” katanya lagi singkat dan biasa.

“Biasanya jam berapa datang?”

“Jam delapan.”

Saya spontan melihat jam dinding. Jarum pendek di angka empat. Dan jarum panjang tak bergerak. Jam bukan sesuatu yang penting kiranya. Anggap saja jam delapan.

Saya mengangguk basa basi. Jam di hape menunjuk 8.17. Saya mengambil tempat duduk dan bersiap menunggu. Menunggu sambil mengetik ini.

Tidak lama temannya yang lain datang. Bukan yang saya maksud. Saya kembali duduk terpekur.

Setiap yang datang pasti berjabat tangan. Tidak terkecuali dengan saya. Satu hal yang membuat suasana menjadi cair dan santai. Rasanya kita semua sudah kenal lama.

Jam 8.30 barulan Pak Desa muncul. Dengan sigap ia masuk kantornya. Menyimpan tas. Dan langsung muncul saya dengan map putih untuk ditandatangani. Kami pun tersenyum. Berbasa basi sedikit. Saya segera pulang begitu map putih lengkap dengan tanda tangan. Pak Desa kalah sigap, pikir saya.

Santai. Jam 8.30 belum apa-apa. Waktu kerja masih lama.

Ini mending. Lebih baik. Karena dulu saya pernah tak mendapati siapapun. Di suatu tempat. Bukan di sini. Saya harus ke rumahnya.

Ini jauh lebih baik. Santai tapi serius. Bukan serius tapi santai. Jam delapan. Toh memang masih jam delapan. Yang kelebihan tiga puluh menit😊

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.