-157- Cerita Sakit, Tenaga Kesehatan, Faskes, dan BPJS

Setahun yang lalu. Lebih beberapa bulan, tepatnya. Saya berada nun jauh di kaki Pulau Sulawesi.

Kehidupan di sana tenang. Jauh dari hingar bingar perkotaan yang dipenuhi manusia dengan segala kepentingannya. Di sana. Satu kabupaten dengan empat pulau besarnya tak sampai 100 ribu penduduknya.k;hl

Tidak heran. Rumah di sana berhalaman luas. Tidak hanya halamannya yang luas. Rumahnya pun begitu. Saya pernah kontrak rumah dengan lima kamar. Sementara kami hanya berdua.

Terakhir saya ngontrak satu rumah BTN. Pembelinya adalah teman dari teman saya. Dia sudah punya rumah. Sekedar investasi. Makanya dia kontrakan.

Jangan kalian pikir rumah BTN di sina seperti di Jawa yang pelit lahan. Ukuran bolehlah sama. Rumah yang saya kontrak tipe 36 dengan dinding yang tinggi. Kelebihannya ada pada tanah. Depan belakang masih luas tanahnya. Harganya 100juta. Waktu itu Tahun 2013. Kelebihan tanah itu bisa dipakai untuk berkebun. Iya karena bukan punya saya jadi ditanami apapun. Waktu itu sang pemilik menanam jeruk nipis dan mangga. Sementara saya menabur biji pepaya. Rimbun.

ini halaman belakang biasa saya pakai buat jemur pakaian. Rumah lain sudah direnov menjadi bangunan.
Ini halaman depannya. Dari motor ini terus sampai jalan yang diaspal. Luas beut! Bangunan di depan adalah perkantoran.

Di komplek perumahan itu sepi. Hanya pemilik rumah BTN yang ditinggali. Jauh dari perumahan masyarakat pada umumnya. Kalau dihitung di deretan saya hanya ada empat. Kurang tahu di belakang. Lebih banyak tapi tidak sampai sepuluh.

Tapi akses ke pemerintahan sangat dekat. Karena perumahan itu terletak di area perkantoran. Ke kantor pun saya tinggal jalan. Menembus jalan setapak yang baru kemarin dibuat. Dibuat oleh satu dua orang awalnya yang menerobos mencari jalan pintas antara jalan yang diperkeras dengan komplek perkantoran.

Saya suka jalan pintas ini. Mengingatkan saya pada Alice in wonderland. Jalannya benar-benar sempit dengan rerumputan dan pohon di kanan kirinya. Biasa kita menemukan kupu-kupu.

Jalan pintasnya kayak gini…

Rumah Sakit Umum Daerah pun berdiri tidak jauh dari komplek perumahan yang saya tinggali. Saya jarang ke sana. Alhamdulillah di satu sisi. Lebih dari itu bukan karena saya baik-baik saja. Karena itu saya jadi ingin cerita tentang tenaga kesehatan. Dari dulu di sana dengan sekarang di sini.

Well, saya pengguna BPJS yang dulunya Askes. Untuk mendapatkan pelayanan RS saya harus mendapat surat rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat 1.

Apa itu fasilitas kesehatan tingkat I?

Fasilitas Kesehatan Tingkat I (Faskes I) atau disebut juga PPK I (Pemberi Pelayanan Kesehatan Tingkat I) menurut peraturan menkes nomor 71 Tahun 2013 terdiri dari puskesmas, klinik, Rumah Sakit kelas D (RS yang didirikan di desa tertinggal, perbatasan, atau kepulauan), dan dokter praktek (bisa umum atau gigi).

Faskes I ini biasanya sudah tertera di kartu BPJS kita. Di paling depan setelah NIK. Artimya jika kita mengalami keluhan kesehtan dan ingin berobat maka faskes yang harus kita kunjungi jika ingin tercover BPJS adalah faskes I ini. Jika tidak, alamat sebagai pasien umum: bayar. Atau kita boleh minta surat rujukan di faskes I untuk berobat di faskes lainnya yang bekerja sama dengan BPJS. Bisa saja. Tapi, lumayan repot. Masalah respot ini saya sudah beberapa kali pengalaman, nanti cerita tersendiri.

Untuk pengguna kartu BPJS yang masih berkartu Askes faskes I nya ini tidak kelihatan di kartu.

Waktu itu saya pilih dokter praktek. Dengan alasan dokter faskes saya bekerja di RS terbesar di sana. Hal ini untuk memudahkan jika sewaktu-waktu saya harus ke RS. Surat rujukan itu akan lebih mudah. Ini berdasarkan pengalaman dulu, pernah di pingpong.

Dan benar saja. Ketika suatu waktu saya harus dirawat inap di RS karena hamil muda. Saya tidak perlu ke tempat praktek dokter tersebut. Dia sudah bisa kasih saya rujukan di RS. Aman.

Saya pernah cerita pengalaman kurang menyenangkan rawat inap di RSUD sini. Tapi itu dulu Tahun 2012-2013. Lima tahun yang lalu. Hari ini semoga jauh lebih baik.

Karena pengelaman tersebut saya tidak pernah lagi mau dirawat di sana. Ketika kemudian saya sakit kembali. Waktu itu saya sesak. Saya ke praktek dokter BPJS saya.

Dari rumah saya sangat antusias. Ingin tahu penyakitnya apa. Apakah asma atau yang lainnya. Pertanyaan dan pernyataanpun sudah memenuhi kepala.

Ketika di ruang praktek saya diam seribu bahasa. Hanya menjawab apa yang ditanya. Ketika saya mau mulai dengan berbagai isi kepala, saya langsung dipangkas dengan anggukan dan sikap tubuh yang, ya, halus, tapi itu membuatmu berhenti berbicara.

Tidak perlu lama obat pun sudah di tangan. Pulang. Sedikit kecewa. Tapi masih berbaik sangka. Mungkin dokter sudah sering menangani penyakit semacam saya ini. Jadi tidak perlu mendengar panjang lebar dari saya, atau bertanya panjang lebar, dia sudah tahu. Tinggal set set packing obat. Sudah. Bye.

Saya minum obatnya dan tidak lama. Iya saya tidak bisa bernafas normal. Lebih parah. Sesak. Entahlan. Saya tidak tahu. Saya awam. Kemudian saya baca dari google, mungkin ada alergi.

Hari itu juga malamnya saya dilarikan ke praktek dokter lainnya. Kali ini saya tidak pakai BPJS. Dan dokternyapun bukan dokter BPJS. Bukan juga dokter yang bekerja di Rumah Sakit. Dia swasta 100 persen. Saya trauma dengan dokter yang tidak bisa diajak diskusi. Saya tidak bisa hanya dikasih obat tanpa tahu apa yang sedang saya derita. Bukankah ketika kita ke dokter ingin tahu penyakitnya apa? Diagnosa awal. Entah itu menurut dokter hal sepele, misal kecapekan dan lain-lain. Ungkapkanlah. Ceritakan. Bagaimana bisa seorang dokter memberi resep tetapi ketika ditanya saya sakit apa tidak bisa/ mau menjawab.

Saya pindah ke dokter lain. Pertama kali. Dengan harapan dokter yang ini berbeda. Gambling. Tapi untuk kembali ke tempat praktek dokter saya, rasanya ada semacam trauma dan sedikit kemarahan. Marah karena kesalahan obat ini tidak didiskusikan dulu. Main resep saja. Main cepat.

Dokter yang ini. Saya tidak tahu. Awalnya saya tidak berharap banyak. Paling tidak saya punya pengalaman lainnya, andaipun sama saja nantinya.

Baru pertama itu saya melihat dokter tanpa jas putih kebanggaannya. Kaos hitam dan celana jeans. Santai sekali. Pasiennya? Lebih santai parah. Kebanyakan saya perhatikan orang-orang bajo. Orang bajo ini identik yang hidup di laut dengan fasilitas dan pendidikan seadanya. Mereka datang dari pelosok. Kalau periksa serombongan diantar mobil pick up atau beramai jalan kaki.

Semua santai. Berbicara semaunya. Pasien cerewet menceritakan penyakitnya. Dokter yang santai itupun biasa juga menanggapinya.

Tempat prakteknya masih sederhana. Tapi nyaman dan bersih. Sederhana maksudnya belum banyak peralatan medis yang canggih. Kalo rumahnya tempat berpraktek tergolong besar menunjukkan dari kalangan berada. Tidak heran orang tuanya pemilik salah satu hotel.

Giliran saya pun tiba. Saya tidak bisa ngomong banyak saking sesaknya. Tanpa ba bi bu saya langsung di nebu. Pas di nebu itulah sang dokter bercerita tentang sakitnya saya. Suami pun bertanya ini itu. Dan dijawab semampunya.

Setelah plong di nebu saya cerita tentang pengobatan sebelumnya. Dia hanya tersenyum. Tidak menyalahkan sesama dokter. Kemungkinan obatnya tidak cocok. Dia pun terus bertanya tentang riwayat pengobatan saya. Saya pun bercerita. Saya pasien dan dia dokter. Keduanya sangat cerewet. Setelah bercerita ini itu akhirnya dia kasih saya obat.

Tidak hanya itu saya tanya obat apa ini. Dia cerita sampai kegunaannya apa.

Setelah kejadian itu. Saya tidak pernah pakai kartu BPJS lagi di sana. Saya sekeluarga sakit ke dokter swasta yang berprakter santai itu. Suatu kali pernah saya tanya kenapa tidak menerima pasien BPJS. Katanya belum mengurus. Semoga sekarang sidah bisa ya dok. Tapi tanpa itupun saya kira tarifnya tidak mahal jika dibandingkan dengan di sini sekarang.

Pindah ke Jawa saya kelimpungan menemukan dokter seperti dia. Yang paling sedih. Saya pernah bayar mahal sebuah RS swasta tapi pelayanan dokternya seperti dokter BPJS di atas.

Pernah juga saya ditakut-takuti. Ketika anak saya demam. Dan telinganya mengeluarkan semacam cairan. Tanpa diberi kesempatan berbicara. Dokternya terus berbicara menghakimi. Yang pada akhirnya membuat saya takut. Kemudian membeli alat yang direkomendasikannya untuk telinga anak saya. Harus dibeli di apotek yang ditunjuk. Yang kemudian saya tahu apotek miliknya. Alat tersebut tidak pernah dipakai anak saya sekalipun sedang berenang. Haruskah seperti itu?

Yang paling lucu kejadian paling baru. Baru kemarin. Saya merasa sering kebas di tangan. Ketika tidur sering terbangun karena tangan yang kaku. Karena penasaran saya ke puskesmas. Baru saja saya bilang tangan saya sering kebas, kesemutan, dan kaku tenaga kesehatan waktu itu langsung berunding membuat resep. Mereka berdua. Entah keduanya perawat. Tapi saya tidak yakin salah satu dari mereka adalah dokter. Mereka berunding tentang obat yang akan diberikan kepada saya.

????

Saya benar-benar dibuat heran. Saya tanya penyakitnya apa. Bingung. Saya bilang apa tidak lebih baik di cek dulu. Mereka balik tanya, mau di tes darah dulu bu? Menurut ngana?!

Akhirnya saya di tes darah. Dan kolesterol. Sementara resep mereka asam urat dan pereda nyeri. Tahu kelanjutannya? Mereka ganti semua resep.

Apa tenaga kesehatan sekedar bertugas memberikan resep? Dari cerita keluhan si pasien. Yang notabene harus dipertanyakan kembali. Dipastikan. Sampai yakin dengan diagnosa. Kemudian baru memberikan obat jika memang perlu. Kalau memang suatu hal sakit tidak membutuhkan obat harusnya jangan diberikan.

Tidak adakah rasa penasaran dengan penyakit yang diderita si pasien? Sehingga secepat itu memberi resep?

Kadang kita, sebut saja saya, mengunjungi fasilitas kesehatan sekedar ingin tahu apa penyakitnya. Apa yang harus dihindari dan seterusnya. Saran.

Beberapa orang juga mengunjungi faskes karena memang rasa sakitnya sudah payah. Tidak biasa. Misal sakit kepala. Bukan sakit kepala biasa. Sehingga berharap ada solusi. Ada titik terang mengenai sakit yang diderita. Bukan sekedar memberi resep obat sakit kepala. Karena ternyata sakit kepala banyak penyebabnya. Penanganannya pun berbeda. Salah diagnosa bisa fatal akibatnya.

Saya sih sebagai pasien, masyarakat pada umumnya sangat berharap. Berharap para tenaga kesehatan di faskes manapun memiliki niatan yang baik ketika menghadapi pasien. Bersabar mendengar ceritanya. Yang mungkin biasa dan ingin diabaikan. Bersabarlah karena mungkin disanalah letak keputusan seorang tenakes ditentukan.

Untuk faskes I dimanapun. Seharusnya menjadi fasilitas yang berkualitas. Jangan karena yang datang biasanya orang biasa. Biasanya tidak banyak tanya. Biasanya menurut diberi resep. Ayolah. Jika seperti ini saya harus berpikir berkali-kali menggunakan BPJS saya. Seharusnya faskes I dalam hal pelayanan setaraf dengan rumah sakit. Jadi, kita semua tidak kembali berbondong-bondong ke Rumah Sakit.

BPJS sebagai salah satu solusi pemerataan kesehatan. Harusnya menjadi fokus dan terus dimaksimalkan. Bukan dipandang sebelah. Berapa dana yang terkumpul dari BPJS ini? Dan tidak semua menggunakannya setiap bulan. Harusnya pengguna BPJS menjadi prioritas.

Pengguna BPJS jika harus melalui faskes I, semestinya diperbaiki. Faskes I seharusnya dibuat sama secara kualitas dengan faskes di atasnya. Karena untuk mendapat surat rujukan pun bukan sesuatu yang mudah. Dan lagi waktu. Kenapa kita harus ke Faskes I jika kita tahu pengobatan akan efektif ke faskes di atasnya?

Kemarin ini saya sakit kepala. Malam hari. Faskes I saya tutup. Saya langsung ke RS terdekat. Saya tanya boleh pakai BPJS. Dijawab boleh asal ada surat rujukan dari Faskes I saya. Tidak efektif dengan rasa sakit jika saya harus menunggu esok hari demi surat rujukan. See?

Tidak bisakah BPJS dibuat sefleksibel mungkin? Asal faskes tersebut ada kerja sama dengan BPJS harusnya langsung bisa tanpa harus surat rujukan-surat rujukan. Bukankah ini lebih memudahkan? Mengingat kebutuhan pasien berobat yang beragam.

Contoh di Faskes Tk I saya dokter gigi hanya ada hari H. Apa saya harus menunggu sampai hari H? Padahal tidak jauh dari sana adalah RS yang dokter giginya stand by setiap hari?

Minta surat rujukan lagi? Lagi? Dan Lagi?

Saya yakin kemudian kita menyerah dengan BPJS ini dan memilih menjadi pasien umum. Mengeluarkan ongkos demi kenyamanan. Tapi apa semua bisa berlaku sama seperti kita?

Masih banyak saudara kita ketika mengeluarkan uang sepuluh ribu saja berpikirnya bukan main panjang. Mereka mungkin menyerah untuk berobat ke dokter gigi. Kecuali sudah tak tertahankan. Itupun masih harus menunggu sampai hari H.

Saya yakin tidak semua seperti ini. Tapi, inilah yang saya dapati. Dan sedikit sharing ini siapapun yang membaca terutama yang memiliki andil dalam kebijakan kesehatan kita supaya bisa berbenah diri semakin baik. Aamiin.

Sampai tulisan ini, saya masih mencari faskes I untuk saya dan sekeluarga. Sementara masih di puskesmas terdekat. Saya sih inginnya tidak pindah. Puskesmas sangat dekat dengan rumah. Jadi, kalau ada apa-apa gampang. Tapi sayang pelayanannya masih mengkhawatirkan. Baru sekali selama saya di sini terpakai. Sekali kemudian berpikir panjang untuk yang kedua kalinya. Semoga hal ini mendapat perhatian dari semua pihak. Aamiin.

Advertisements

3 thoughts on “-157- Cerita Sakit, Tenaga Kesehatan, Faskes, dan BPJS

  1. Terima kasih banyak sudah menceritakan kisah yang sangat luar biasa ini, Bu.
    Saya rasa tidak hanya di daerah Ibu, keluhan mengenai pengunaan BPJS ini sepertinya sama disetiap provinsi, seperti di provinsi saya juga. Memprihatinkan, sangat!.

    1. Sama2 terima kasih juga sudah membaca. Semoga ke depannya ada perubahan ke arah yang lebih baik ya, karena BPJS ini harapan untuk pemerataan kesehatan. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.