-156- Zohri: antara kaget dan tidak siap

Di tengah hiruk pikuk pertandingan paling bergengsi: piala dunia dan juga piala AFF U-18, siapa sangka cabang olahraga (cabor) yang tidak diperhitungkan tiba-tiba saja mengagetkan. Bukan sekedar kaget tapi kekagetan yang menggemparkan. Beberapa mungkin saja tersentil atau bahkan tersentak sangking kagetnya.

Ketika semua mata tertuju pada bola bundar tak satupun mungkin yang melirik cabor ini: lari jarak pendek 100m. Bukan karena kalah gengsi. Tapi, seumur-umur Indonesia tidak pernah menang cabor ini di kancah dunia. Mesti Amerika Serikat. Pesimis? Disepelekan? Sepertinya luput saja karena tidak pernah menyinggung memori kebanyakan masyarakat kita.

Siapa yang tahu atlet sprinter Indonesia. Kita akan tahu ketika mulai searching di google. Ada nama Purnomo yang Berjaya di era 80-an. Ia pernah menjadi satu-satunya wakil Benua Asia di semi final olimpiade 1984. Kemudian ada nama Mardi Lestari yang juga sukses menembus semifinal olimpiade Tahun 1988. Selanjutnya adalah Suryo Agung Wibowo pemegang rekor nasional dengan torehan waktu 10,17 detik. Kebanyakan menang tingkat Asia dan Asean tapi belum ada yang sampai menang tingkat dunia. Baru kali ini. Pertama kalinya dalam sejarah. Dan kita semua sedang menyaksikan sejarah.

Ketika kemenangan tingkat dunia itu datang. Dan tidak ada persiapan. Kita kaget. Kemudian harus beralasan. Mungkin itulah satu-satunya alasan yang bisa diterima. Akan lebih mudah diterima dan dimaafkan karena pada kenyataannya kita semua kaget tidak siap dengan hasil yang diraih Zohri.

Tapi tetap saja tidak semestinya kita lalai dari persiapan. Melihat kenyataan, ini bukan kali pertama. Pernah terjadi pada Rio Haryanto pada kejuaraan GP3, seri Istanbul Turki Tahun 2010 yang sama-sama tidak diunggulkan kemudian menang. Belum genap sepuluh tahun. Ini adalah sentilan dan sentakan atas kinerja dan tanggung jawab.

Menganggap diri anak bawang. Yang penting ikut apalagi masuk final sudah oke. Mungkin inilah kenapa julukan mental tempe itu melekat. Belum juga apa-apa sudah mengakui kehebatan lawan. Akhirnya tidak ada persiapan sama sekali.

Kemenangan Zohri. Itulah namanya. Lalu Muhammad Zohri anak kampung dari NTB seakan mengagetkan karena ketiadaan memori. Seakan ia dijejalkan sekaligus ke dalam kepala. Seakan kita ditempeleng berjamaah. Lebih dari itu, kemenangannya yang membanggakan itu alih-alih menggembirakan dan menjadi sorakan kebanggaan seantero negeri, kengenesan yang tersisa. Kaget yang bertubi-tubi. Tapi, rasa bangga mengharu biru itu masih ada dalam rasa yang berbeda.

Videonya kemudian viral. Semua orang membagikannya. Menontonnya yang kemudian kaget dan berakhir sedih ngenes. Terlebih video ucapan terimakasihnya. Terima kasih kepada presiden dan seluruh rakyat Indonesia.

Dia berangkat mengikuti kejuaraan saja mungkin tidak ada yang menyadari. Jadi, bagaimana kami mendo’akanmu? Mungkin ini adalah do’a harapan kita seluruh rakyat Indonesia yang sangat ingin diakui di kancah internasional. Kemudian terwujud pada diri Zohri.

Hanya saja kita tidak pernah terpikirkan akan di cabor lari jarak pendek 100 m. Kita hanya tahu badminton yang notabene telah menorehkan memori manis. Atau pada sepak bola yang sangat bergengsi. Yang kemudian terus menjadi pengharapan tak berujung. Kita terus mengikuti kedua cabor ini dan lupa yang lainnya.

Kemudian dalam video yang lain terlihat Zohri celingak celinguk ketika akan melakukan selebrasi kemenangan. Di saat pemenang ke dua dan ke tiga dari Amerika begitu sigap mendapatkan benderanya, Zohri bagai anak ayam kehilangan induk. Saya yakin banyak penonton negeri ini yang kemudian meneteskan air mata.

Zohri tidak diunggulkan tidak ada bendera di sana. Kemudian alasan terpaksa harus keluar dalam bingkai harga diri. Walaupun semua tahu itu adalah kebanggaan. Makanya kedua pelari dari AS siap dengan kebanggaannya jika saja menang. Mereka sangat optimis. Kita harus banyak belajar tentang optimisme dari mereka.

Bendera. Sudah lama ia menjadi simbol suatu negara. Simbol kebanggaan. Simbol kemenangan. Meski itu bukan pakem. Tapi, semua orang tahu: selebrasi kemenangan hampir selalu dengan bendera pada kebanyakan cabor. Semua orang tahu. Selain lagu kebangsaan yang nantinya diperdengarkan, bendera inilah yang kemudian akan dikerek sebagai simbol kebanggaan.

Jika tidak ada. Tidak disiapkan. Mungkin inilah yang dinamakan teguran. Sentilan kecil. Membuka sedikit kinerja atas tanggung jawab.

Semoga kekagetan ini tidak mengacaukan. Semoga sentilan ini membuat kita lebih mawas diri dan memperbaiki kinerja. Sorotan yang luar biasa ini semoga membuat kita sadar bahwa tanggung jawab itu tidak hanya sekedar kata.

Kini, Zohri telah menang. Ia telah menunjukkan kemampuannya. Tidak hanya kepada kita rakyat Indonesia yang haus kemenangan tapi juga kepada dunia. Semua pihak yang mungkin paling kaget kini berbondong meninggikan derajat Zohri. Seakan ingin menebus rasa bersalah karena telah kecolongan. Rezeki bagi Zohri juga bagi bangsa ini. Rezeki itu benar kata pepatah bagaikan durian runtuh. Kita tidak menduga arah datangnya. Kini tinggal rasa syukur. Kini kita sambut rezeki itu. Kita lupakan kekecawaan kinerja. Kita sambut kemenangan ini dengan penuh suka cita. Biarlah mereka berintrospeksi dan jangan sampai ada yang ke tiga. Biar saja pepatah mengatakan hanya keledai yang jatuh pada lubang yang sama dua kali. Paling tidak jangan sampai ketiga.

Catatan waktu yang ditorehkan Zohri hanya berselisih 0,01 detik dari Suryo Agung Wibowo: 10,17 detik. Sebelumnya Mardi Lestari memegang rekor nasional dengan catatan 10,20 detik selama 20 tahun sebelum dipecahkan Suryo pada Sea Games 2009. Bukan tidak mungkin Zohri bisa memecahkan rekor nasional lebih cepat lagi.

Usain itu kini lahir di Indonesia. Kedepannya akan banyak do’a yang akan menyertai Zohri. Semoga akan jauh lebih baik. Meski masih jauh dari catatan waktu Usain: 9,58 detik tapi tidak ada yang tidak mungkin. Seperti halnya ketika Brazil yang diunggulkan menang melawan Belgia pada perempat final PD 2018 kemarin. Tidak ada hitam di atas putih dalam suatu pertandingan. Semua bisa terjadi. Kaget boleh saja tapi bersiaplah!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.