-151- Ramadhan 1439H

Bismillah.

Selamat menjalankan ibadah puasa 1439H. Sudah pada batal? Wajar dong ya kalau perempuan. Saya malah baru ikut puasa di hari ke delapan.

Apa yang beda dengan puasa tahun ini?

Tahun lalu saya masih ngekor ibu (mertua). Apapun yang dimasak beliau saya ikut. Saya hanya bantu-bantu memasak, menyiapkannya, dan menyantapnya. Keribetan kami berdua dalam mengolah komunikasi malah salah satu yang membuat kami menjadi sangat dekat. Bahasa ibu saya sunda dan saya tahu sedikit-sedikit bahasa jawa. Sedikit-sedikitnya itu lebih kepada pasif. Sementara ibu hanya fasih dalam bahasa jawa. Alhasil bisa ketebak kan, kita saling menebak-nebak maksud. Tapi, saya kira maksudnya hampir selalu tersampaikan dengan baik. Terima kasih kepada bahasa indonesia, sedikit-sedikit ibu mengerti juga karena pengaruh TV, sinetron-sinteron yang ia tonton. Aha! mungkin ini salah satu cara bagi kita untuk belajar bahasa asing: tonton dan simak mereka berkomunikasi. Selain bener, pengucapannyapun akan mantap.

Rindu…Kenangan indah yang akan selalu saya bawa sampai kapanpun.

Tahun ini. Saya harus melakukan itu semua. Ada adek ipar sih, tapi tentu akan sangat jauh berbeda karena kepentingan dan tanggung jawab yang berbeda. Dia ada suaminya, jadi, tetap saja hal-hal tertentu akan membuat kami sangat bertolak belakang. Tapi, ini juga salah satu pembelajaran.

Selain itu, tahun ini saya ada menggarap satu novel. Teman-teman bisa check di sini . Kemarin saya putuskan untuk menamatkannya. Saya harus berhenti demi ramadhan. InsyaAlloh lain kali saya lanjutkan dengan sudut pandang berbeda. Ada 25 parts, jika teman-teman berkenan bisa coba berkunjung untuk membacanya. Saran saya pelan-pelan saja ketika membacanya. Karena saya berharap ada saran kritik yang membangun, syukur-syukur bisa sekalian ikut memperbaiki ejaan karena kemarin barus sebatas nulis.

Banyak hal yang belum terceritakan, saya menyadarinya. Tapi demi ketenangan hati, biarlah ia berbahagia dengan semua tanya di hati dan di kepala. Besok jika ada waktu dan kesempatan saya akan melanjutkannya. Karena sesungguhnya sebuah cerita sampai ajal menjemput akan terus ada. Bahkan ketika sebuah novel mengatakan berakhir dengan bahagia atau sedih sesungguhnya cerita itu masih bisa berlanjut dengan cerita yang setiap harinya selalu ada yang baru. Saya senang dengan novel karena ia bukan sembarang fiksi. Di sana kita bisa menyisipkan pikiran kita, dan semua hal yang terjadi dengan lingkungan kita di waktu ini. Suatu hari nanti sebuah novel bisa menjadi cerita sejarah. Entah itu dari penggambaran suasana, lingkungan, atau ide yang sedang berkembang di saat itu. Saya membaca tetralogi buru dan ya, saya tahu waktu itu begitulah zaman berjalan. Saya bagai merasakan kehidupan Tahun 1800-an. Kalau disandingkan dengan salah satu novel tetralogi buru, jauh ke mana-mana. Tapi, saya belajar banyak dari tetralogi buru untuk novel saya.

Semoga saya bisa segera melanjutkan novel ini atau proyek novel yang lainnya dengan judul dan karakter yang berbeda biar lebih saya. Aamiin.

Novel ini saya tulis dari Bulan Maret. Beberapa hari setelah sinetronnya kelar. So far dua bulanan ini hidup saya diwarnai dengan cerita Rafa Aisha. saya senang tapi saya tahu semua fokus kadang tercurah kepadanya. Mari kita lanjutkan lain kali insyaAlloh. Semoga ada jalan dan kesempatan, aamiin.

Pekerjaan di kantor sebenarnya sama saja. Sama sibuknya. Secara kuantitas lebih banyak tapi karena beberapa pekerjaan sudah terbiasa sehingga pekerjaan baru membuatnya sama dengan tahun lalu dari sisi kesibukan. Masih ada kegiatan lapangan yang tahun lalu membuat fisik hampir ambruk. Tahun ini alhamdulillah sudah terkondisikan. Kuncinya adalah sabar, tenang, pikir. Sabar dalam berjalan, tenang ketika mendapati hal yang tidak diinginkan, dan pikir dulu sebelum melangkah ke tempat selanjutnya. Alhasil, alhamdulillah tidak terlalu capek. Perbandingannya, dulu satu hari hanya bisa dua tempat, nah, kemarin ini bisa tiga tempat, alhamdulillah.

Maryam tahun ini sudah mau lima tahun. Secara penanggalan hijriah dia lima tahun Bulan Ramadhan ini tepat tanggal 25. Dia sudah bisa diajak kerja sama. Diajak shalat bareng walaupun yah, namanya juga anak-anak, masih sering mengganggu. Dia lari-lari di dalam mesjid, atau sekedar bercanda dan mencari teman. PR banget buat saya dan suami agar Maryam mau dengan sukarela belajar mengaji, shalat, dan belajar ilmu-ilmu lainnya. Semoga ya Nak. Semoga tepat lima tahun nanti Kamu jauh lebih baik lagi, aamiin.

Saya juga masih ada satu dua proyek yang ingin diselesaikan lebih kepada mengisi agar lebih bermanfaat karena pencapaian bagi saya adalah bukan dikenali orang lain tapi diri sendiri. Menikmati semua proses tanpa dibebani dengan hasil yang harus sempurna. Karena saya ingin aktivitas ini membuat saya sibuk tapi tidak meninggalkan kewajiban utama saya sebagai istri dan ibu. Hal paling sulit adalah ketika kita harus benar-benar mengenal diri sendiri dan semua yang kita lakukan hanya karenaNYA. Mengahrap suatu hari nanti kita bisa kembali bertemu dengan amalan-amalan kebaikan. Tentu harus lillahita’ala kan, dan itu sulit tapi harus selalu berusaha.

Marhaban ya Ramadhan di pertengahan ramadhan, semoga kita semakin baik dan baik…aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s