-143- Harapan dan Kenyataan

Bismillah…

Ini bukan zaman Siti Nurbaya. Mereka bilang ini zaman now. Zaman seperti apa, akupun tak bisa memahaminya.

Setelah kerusuhan ambon Tahun 1999 aku ikut gelombang manusia menuju kapal yang akhirnya membawaku serta putri kecilku yang waktu itu masih bayi ke sini, ke tempatku sekarang. Sebuah pulau kecil sendiri di antara pepulauan besar di timur indonesia.

Pulau ini walaupun kecil dan penduduknya pun tak seberapa hanya sembilan puluh ribuan, itupun kini, tapi merupakan kabupaten. Kabupaten kecil dan masih baru waktu itu.

Kami disambut ramah, saya sendiri dibangunkan rumah, tidak betul-betul rumah, mirip gubuk tapi jauh lebih layak dibandingkan kerusuhan itu. Saya dan putri kecilku tinggal di gubuk itu rumah indah kami bertahun lamanya sampai suatu kisah yang entah aku syukuri atau sesalkan.

Setiap pagi demi kehidupan kami yang sederhana aku menjajakan nasi kuning dua ribu rupiah di sekolah anakku yang kini duduk di kelas lima. Satu hal yang membuatku senang putriku tumbuh sehat dan aku rasa bahagia.

Setiap hari anakku pergi sekolah, malam pergi mengaji. Walaupun tidak berprestasi secara akademis dia sangat senang pergi sekolah. Dia periang dan senang sekali bermain.

“Mama, rumah di depan ada yang isi.”

“Ko sudah lihat?”

“Sudah, suami istri mama. Tadi istrinya ngajak aku main.”

“Ko bermain mi, barangkali mereka kesepian, sudah ada anaknya? Tanyaku penasaran yang disambut manggut-manggut oleh anakku.

Tetangga kami yang baru itu berhubungan baik dengan kami. Setiap mereka masak adakalanya sampai ke rumah. Istrinya yang biasa kami panggil mbak sering berusaha mengajakku ngobrol tapi entah kenapa sulit sekali. Lebih sering buntu kemudian karena dingin ia pamit berlalu dan aku sangat menyesal karena kurang bisa menanggapinya.

Mungkin karena jarak pendidikan kita, pikirku. Dia sarjana sedang aku lulus SD saja tidak. Walau begitu aku masih merasa beruntung karena pernah juga merasakan bangku sekolah. Aku menulis baca bisalah, tak bodo-bodo amat. Tapi berbicara halus sopan dan tata bahasa seperti itu aku merasa tak enak hati.

Walaupun aku tak bisa mengimbanginya tapi tak kupingkiri aku dan anakku sangat senang dengan mereka. Mereka dalam hati terdalam sudah kami anggap keluarga. Keberadaan mereka secara tidak langsung membuat nyaman. Mbak itu mungkin tamu pertama kami selain dari kalangan sendiri.

Putriku hampir tiap hari main ke sana. Katanya diajari membaca Qur’an. Dipinjamkan buku-buku bacaan dan sesekali bercerita tentang kisah nabi dan rasul.

Lebih dari itu, putriku ini jadi bicara macam-macam, iya karena aku tak bisa menjangkau apa ceracauannya. Seperti malam itu.

“Mama, kata Mbak kita bisa sekolah sampai ke jawa, ke jakarta Mama.”

“Jangan Ko macam-macam, kita bisa hidup di sini saja sudah alhamdulillah.”

“Tapi Mama kata Mbak tidak perlu biaya, gratis Mama.”

“Sekolah macam apa itu, sudah Mama pusing, Ko pergimi tidur.” Aku memutuskan menghentikan ceracaunya karena sepertinya otakku tak sampai. Sekolah tanpa biaya hari ini, hah dari mana! Tapi jauh dari lubuk hati masih juga bertanya, benarkah? bisakah?

Dengkuran dan wajah polos penuh harap seperti sembilu dalam hatiku, bulir-bulir air mata begitu saja jatuh tak tertahankan. Aku si bodoh yang tak faham apa-apa tak kuasa menjangkau harapannya. Kenapa mereka bercerita dan menjanjikan?

Sayang hanya setahun mereka menjadi tetangga kami entah pindah ke mana, mungkin ke jawa. Putriku seperti kuduga sangat sedih dengan kepindahan mereka. Seperti harapan yang ia damba-damba sirna begitu saja.

Putriku semakin besar semakin banyak pula maunya. Tahun ini harusnya ia mendaftar ke SMP. Dia merengek juga tiap malam agar segera didaftarkan.

Kata orang-orang gratis tinggal masuk, duduk manis belajar. Tapi apa boleh anakku datang tanpa seragam? Mungkin bisa tanpa uang saku. Tanpa kubayarkan uang bangunannya? Uang bulanannya? Uang bukunya? Dan lain yang kadang judulnya infak seikhlasnya.

Aku seorang diri, perempuan tanpa keahlian. Membuat nasi kuning tiap pagi dua ribu rupiah yang tidak tiap hari laris. Aku benci mengatakan ini, karena aku merasa aku harus kuat. Tapi aku juga harus sadar diri.

Suatu pagi yang lengang aku muntah semuntah-muntahnya bercampur darah. Seminggu aku tak jualan, makan singkong dan apa yang ada di kebun. Aku tak pernah menangis di hadapannya tapi kau tahu ini sakit dan menyakitkan.

“Mama tidak boleh sakit…” dia tidak bisa melanjutkannya disusul sesenggukan yang kemudian aku menyuruhnya diam. Aku tak mau dia secengeng itu.

Aku satu-satunya baginya bagaimana jika, ah, tak seharusnya aku berfikir seperti ini. Kemudian aku beristigfar memohon ampun tapi pertanyaan seperti ini berkelebatan terus.

Satu pagi aku merasa ringan aku pergi ke pasar. Membeli beberapa bahan untuk nasi kuning keesokan harinya. Tak disangka bertemu teman lama di Ambon dulu. Kami ngobrol lama di warung pasar. Dia sepertinya baik-baik saja dan lebih baik kehidupannya.

“Ko sehat sekali?” Candaku melihatnya yang memang tambah berisi.

“Alhamdulillah, ini berkat anakku, dia berkecukupan sekarang.”

“Kerja di mana?”

“Ah Ko ini dia hanya lulus SD bagaiman bisa kerja layak.” Kelakarnya, “dia menikah dengan orang kaya,” bisiknya kemudian.

Kita berpisah dengan janji yang kenapa aku bisa menyepakatinya…

Semalaman aku menyesalinya. Tapi bersyukurnya sebulan berlalu janji itu tak menampakkan diri. Anakku sudah SMP dengan tunggakan di sana sini. Aku berjanji sekuat tenaga untuk melunasinya.

Tapi penyakitku tambah buruk, kini ia sering muncul.

Sekitar jam 10 aku sendiri di rumah. Seseorang ah, tidak mereka bertiga, seorang diantaranya teman berjualan di sekolahan.

“Ko baik-baik mi?” Mungkin karen sudah dua hari aku tak muncul di sekolah. Aku bilang baik-baik saja.

Kemudian temanku ini memperkenalkan dua orang lainnya: satu laki-laki satu perempuan. Perempuan yang datang itu bertubuh gempal dengan gincu yang lebih menyala dari semua penampilannya. Seorang laki-laki kekar, bajunya biru pas badan, tak berkumis, kekar tapi lumayan tampan menurutku, usianya mungkin tiga puluhan. Kemudian bisikan jahat itu, mata gelapku, dan hidupku…

Suatu malam, anakku yang beranjak gadis kudandani habis-habisan. Kusuruh ia diam di dalam kamar, kubilang jangan bicara apapun apalagi berteriak, diam, kubilang dengan tegas. Ini demi masa depanmu, kutambahkan lirih.

Tamu kemarin kembali datang kini hanya berdua, tetanggaku itu tak nampak. Kami ngobrol, bukan mereka berbicara, bukan maksudku perempuan gempal bergincu itu yang terus berbicara lirih meyakinkan.

“Akan baik-baik saja, dia akan menjadi istri yang sangat bahagia, percayalah…” disusul senyuman yang tak begitu kuperhatikan.

Detik jam serasa berat di telingaku jam sepuluh lelaki kekar tampan itu masuk ke dalam kamar, di sana ada anakku yang mungkin telah terlelap. Keringat dingin memenuhi sekujur tubuhku. Tak lama suara gaduh terdengar disusul jeritan dan teriakan minta tolong mama.

Aku diam saja. Perempuan gempal itu senyum-senyum. Dan tak lama keributan di depan rumah menyentakkan kekakuan tubuh. Aku segera membuka pintu kamar anakku, kuhardik lelaki tampan itu tak kugubris makian si perempuan gempal bergincu, kupeluk anakku yang kini berantakan.

Keributan warga semakin tak tertahan, pintu didobrak karena jeritan dan tangis anakku yang tak kunjung reda…

Aku tersadar sudah di kantor polisi. Dan di sinilah aku sekarang di dalam jeruji, mereka bilang aku menjual anakku. Siapa aku hendak menolak. Tak ada kata yang keluar dari mulutku, aku hanya ingin melihat putri kecilku.Tapi burung, angin, dan dedaunan yang dibawanya mengatakan dia baik-baik saja. Kini sudah menikah, benar-benar menikah meski dengan seorang duda tanpa anak.

Usianya tiga belas tahun dan dia sudah mengalami ini semua, apa aku ini seorang ibu? Aku kira ini masih Zamannya Siti Nurbaya, yah, buat anakku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.