-131- Mencacah Yuk! Bagian 2

Bismillah.

Kemarin kan saya lebih ke menerima, menjalankan, dan mengambil hikmah dari tugas saya mencacah. Setiap kegiatan apapun itu kan harus dilakukan dengan ikhlas, sungguh-sungguh dan pada akhirnya mengharap ridho-Nya. InsyaAlloh.

Tapi tidak menutup kemungkinan untuk mengoreksi ke arah yang lebih baik kan? Lha ini kan kerjaan kita masa ada yang terasa ganjil dibiarkan saja turun temurun tanpa ada perubahan?

Sudah banyak sih perubahan dari sisi kuantitas kerjaan yang makin menggila banyaknya, isi kuesioner yang makin berlembar padahal tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas yang baik, dan mmm tuntutan pola kerja yang “katanya” harus profesional. Profesional hal ketepatan waktu pelaksanaan, kecepatan mengerjakan kerjaan, ketepatan isian, semua SOP yang harus dilaksanakan dengan waktu yang kadang tidak masuk akal dibandingkan jumlah sumber daya yang ada, intinya harus cepat dan tepat.

Well, memang harus begitu: cepat dan tepat dalam hal kerjaan. Eitts tapi menurut saya hal ini harus didukung dengan ketersediaan waktu, pikiran, dan tentu saja tenaga.

Dengan kuesioner yang berlembar, pertanyaan yang tak tanggung-tanggung, mengaharap ingatan responden dalam jawabannya, berharap satu hari clear disetor kemudian diperiksa dan di edit dan di entri, mungkin kamu tidak memperhatikan kondisi fisik si pencacah. Karena yakinlah tidak semuanya bisa dijawab oleh responden. Pencacah akan lebih membutuhkan waktu untuk memperbaiki isian kuesioner dibandingkan ketika ia mencacah.

Tapi masalahnya bukan pada waktu yang hendak diminta untuk ditambah. Menurut saya masalah utamanya ada pada kuesionernya itu sendiri, apakah rancangan kuesioner yang berlembar dengan pertanyaan njelimet itu sudah merupakan desain terbaik tanpa harus dikembalikan kepada yang mengkritik dengan, “ya sudah coba kamu yang bikin, bisanya cuma protes!”. Artinya kita tidak siap menerima masukan apalagi datangnya dari bawah.

“Design is not just what it looks like and feels like. Design is how it works.”-Steve Jobs

Padahal menurut saya kicauan yang datangnya dari bawah dalam arti si pelaksana akan lebih berarti karena mereka yang lebih tahu dengan merasakan ketika bertanya ini itu di lapangan. Harusnya kicauan dari bawah menjadi indikator bahwa rancangan kuesioner sudah baik secara tujuan yang ingin dicapai dan kesanggupan seseorang dalam hal bertanya secara wajar lebih-lebih bertamu di rumah penduduk yang pastinya mereka memiliki kegiatan yang lain. Mana setelah ditanya berjam tak ada tanda terima kasih pula, kadang kita yang bertanya ada rasa enggak enak, paling tidak tanda terimakasih dalam wujud yang sederhana misal payung atau bahkan hanya taplak meja itu akan membuat si penanya dan penjawab merasa “enak”. Menetralisir suasanalah setelah berjibaku dengan waktu dan hati.

Baru-baru ini saya juga ada bantu survei pengunjung perpustakaan yang mana saya dibuat kaget plus bingung ketika bertanya. Gimana tidak, hampir setiap pertanyaan harus diterjemahkan kepada pengunjung dan lagi-lagi berlembar dan saya perhatikan lebih banyak pertanyaannya dibanding tahun lalu. Ya wassalam karena tidak semua pengunjung memiliki waktu yang longgar dan mungkin ribet denger pertanyaan liabilitas, validitas, akhirnya, “sudah mba puas saja semua deh, bagus kok pelayanannya”. Iya buk bener juga saya juga belepotan nanyanya 😛

Apakah untuk tahu bahwa seseorang puas atau tidak harus diberondong dengan pertanyaan yang sebegitu banyaknya?

“That’s been one of my mantras — focus and simplicity. Simple can be harder than complex; you have to work hard to get your thinking clean to make it simple.” _Steve Jobs

Mungkin kita harus belajar dari seorang Jobs yang mana kalo kamu pake produknya, hal pertama yang dirasa adalah: simple dan elegant. Hidup itu sudah rumit berpikirlah lebih lama agar tidak mempersulit, hehe.

menuju sebuah desa…*ssn2017*. Masih ada yang seperti ini.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s