-130- Mencacah Yuk!

Bismillah.

Siapa sih yang suka panas-panasan di lapangan? mengetuk pintu penduduk satu persatu kemudian meminta kesediaan untuk ditanya ini itu yang mana bisa berjam-jam?

Ada loh. Sahabat saya di Sulawesi senang melakukan hal seperti ini. Dia sangat menikmati pekerjaannya sebagai Koordinator Statistik Kecamatan (KSK). Padahal sahabat saya ini perempuan. Perempuan yang boleh saya bilang lembut banget. Bicaranya saja kadang tidak kedengaran saking halusnya.

Saya mengenalnya di Kabupaten Kolaka. Dan dia orang pertama yang saya temui di kota itu. Dia pula di sela capeknya ke lapangan masih sempat nganter saya kesana kemari nyari kosan. Dan dia selama saya di sana tidak pernah terdengar keluh kesahnya. Kalau capek dia hanya tidur blas tapi itupun masih mau digangguin saya yang numpang istirahat di kamarnya. MasyaAlloh.

Satu dua kali saya temani dia melakukan pendataan ke rumah-rumah. Dan sekali waktu saya sempat ketiduran saking lama ditambah cuaca pesisir yang sepoi-sepoi masyaAlloh saya tak tahan untuk tidak tertidur šŸ˜€ .

Tapi saya banyak belajar dari dia sahabat saya ini. Terutama dalam hal teknik mewancarai, kesabaran untuk tidak melompati pertanyaan, kesabaran dalam menghadapi muka responden yang sudah tak menentu :p . Dia sangat apik ketika bertanya dan dia tidak pernah melihat jam ketika wawancara, tau-tau sudah sejam aja tapi kan selesai…

Iya selesai satu responden. Paling banter sehari dia mewawancarai dua sampai empat responden. Yap karena dia butuh waktu yang lumayan untuk bertanya dan menggali pertanyaan.

Pindah ke Jawa saya tidak ubahnya sahabat saya yang KSK itu. Mencacah iya hampir tiap bulan. Awalnya berat sekali tapi masak iya saya nyerah? cemen bangetlah, segala ujian itu kan sudah diukur oleh Alloh SWT sesuai kemampuan kita. Saya harus mencoba sebelum pada akhirnya saya mengibarkan bendera putih.

Dan alhamdulillah sampai hari ini saya nulis bendera putih masih tersimpan rapi. Ini baru ukur-ukuran kemampuan. Tiba saatnya saya tidak mampu saya tidak akan ragu untuk mengibarkan bendera tanda saya butuh me time!

Preambule di atas adalah curhat :p

Jadi saya harus nyacah Bulan April ini empat blok. Di mana satu bloknya adalah listing. Listing artinya saya harus mengetuk setiap pintu tanpa terkecuali di blok tersebut. Dan alhamdulillah hasil listing kemarin ada 100an rumah tangga/usaha yang 90% saya ketuk pintunya. Gile kan! Dan itu saya lakukan nonstop dari jam 9.00 WIB sampai 14.00 WIB. Saya ditemani aparat desa setempat untuk mengurangi rasa curiga penduduk artinya saya tidak perlu memperkenalkan diri panjang lebar. Lima jam itu sudah ada andil si aparat desa.

Capek sudah pasti. Tapi kemudian saya tahu saya senang telah menyelesaikannya. Saya jadi tahu aparat desa yang menemani. Kita paling tidak jadi berteman.

Kemudian sisa tiga blok saya harus nyacah yang artinya saya harus melakukan wawancara ke rumah tangga responden. Kalau dilihat kuesionernya, lumayan berlembar. First impression sih down wkwkwkw. Secara beberapa lembar gitu mau berapa jam nih? mau selesai kapan tiga blok? Cuma yang bikin tenang jawabannya merupakan persepsi artinye kagak ada bener salah. Harusnya sih bisa lebih cepat.

Blok pertama di pedesaan. Rumah tangga pertama alhamdulillah baik banget sampai saya keasyikan bertanya ngobrol kesana kemari lupa deh bahwa dese baru ruta pertama. Ngobrol. Yes satu hal saya belajar bahwa bener banget kalau orang Indonesia itu ramah-ramah sukanya ngobrol yang gak kenal saja disapa minimal, “mau kemana mba?” atau paling minimal senyum dan senyumnya senyum ramah yang bibirnya lebar gitu.

Saking senangnya ngobrol kita tuh banyak loh perbendaharaan dongeng. Kemungkinan besar menurut teori saya šŸ˜› munculnya dongeng-dongeng salah satunya karena kita suka ngobrol suka cerita yang mana kendali kita akan bumbu kadang tidak terasa sangat kurang. Ya bumbu membumbui cerita akhirnya cerita yang sampai pada generasi setelahnya apalagi generasi yang sudah jauh akan sangat berbeda sembilan puluh derajat dengan cerita mula-mula. Coba saja.

Dari rumah tangga satu sampai sepuluh isinya kebanyakan cerita. Saya ngisi kuesioner sambil dengerin cerita mereka. Dan mereka sepertinya tidak terasa kalau lagi di tanya-tanya. Ada yah yang begini.

Intinya saya pancing satu isu tentang kehidupan mereka, tentunya setelah melihat-lihat kondisi. Dan cerita pun tanpa diminta akan mengalir begitu saja.

Misal nih, “eh bu, kenapa tidak kerja?”. Jawabanya bukan satu dua tapi mbrebet kemana-mana sampai ke anak sakit lah dan lain-lain. Alhamdulillah kalau ketemu responden kayak gini mereka super welcome, super ramah. Ada juga yang curhat belum dapat kartu BPJS. Pas mau bikin sendiri bayar sendiri maksudnya eh ternyata namanya sudah tercantum di database BPJS, tapi kartunya tidak bisa ia dapatkan, sudah mengadu ke BPJS ke Kantor Lurah, jadi iki piye?

Tapi diantara ramahnya responden yang saya temui terselip juga cerita satu dua yang menyedihkan diiih. Ada bapak-bapak yang marahin saya padahal bukan responden. Enak bangetlah dia bilang, “buat apa sih mba tanya-tanya lha wong tidak ada manfaatnya buat kita!”, “masih lama wawancaranya? dia(responden) lagi disuruh bikin kopi loh!”. Ya udah saya senyum dan bilang baik-baik ala saya.

Ada juga ibu-ibu yang takut diwawancarai dikiranya saya saleswoman. Hiiy macem-macemlah tapi alhamdulillah banyakan senengnya kok. Banyak tahu kondisi masyarakat dari yang ekonomi terbawah sampai yang paling tinggi. Semua memiliki cerita yang kadang saya berfikir kita tidak pantas untuk men-judge.

Mereka memiliki kehidupan yang mereka perjuangkan. Kata orang Jawa sawang sinawang, melihat si A kaya sepertinya hidupnya enak melihat si B miskin kayaknya nelangsa padahal mungkin sekali apa yang kita pikirkan tidak sesuai dengan apa yang mereka alami.

Saya pernah mewawancarai rumah tangga yang kalau secara materi jauh banget tapi mereka sangat bahagia dan saya pun yang melihat langsung berbicara langsung merasakan kebahagaiaan itu terpancar dari mereka. Sampai kepala kantor saya yang kebetulan ikut untuk pengawasan complain ke saya untuk dicek kembali angka kebahagiaan rumah tangga tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s