-127- Semarang Pertama Kali

Bismillah.

Siapa sih yang tidak terpana melihat bangunan tua jaman belanda masih berdiri kokoh sepanjang jalan. Melempar jauh kenangan ke masa meneer dan noni-noni cantik Belanda. Saya jadi ingat novel tetralogy karya Pramoedya Ananta Toer. Salah satunya Bumi Manusia. Bercerita sosok Minke seorang pribumi bersekolah di HBS dan kemudian jatuh hati pada Annelies anak dari seorang Nyai.

Penggambaran di novel tersebut tampak nyata di kepala. Rumahnya yang besar, peternakannya, kereta kudanya, dan semua yang diceritakan bagai masuk ke jaman itu. Demi apapun saya sangat ingin melihat kondisi di masa itu.

Sedari berkenalan dengan novel-novel semacam bumi manusia saya selalu ingin melihat benda dalam bentuk apapun dari masa itu. Apakah itu bangunan, marka jalan, atau bahkan benda kecil sebangsaning pulpen, uang koin, apapun lah.

Dan Desember kemarin, berhubung saya dan suami harus menghadap ke kantor BPS Jateng. Namapun pegawai pindahan baru yah minimal ketemu dulu sama atasan kita di provinsi. Untuk pertama kalinya saya ke Semarang.

Seumur-umur saya tidak pernah membayangkan akan ke samarang. Kalaupun saya punya bucket list kota-kota yang ingin saya kunjungi maka Semarang tak pernah masuk.

Dalam benak saya, Semarang itu panas, gersang, dan saya agak males berkunjung ke tempat-tempat yang terik seperti itu kecuali tanah suci dan kota-kota di sekitarnya, wkwkwk. Jadi, sekalinya ada kesempatan ke Semarang ya, saya biasa-biasa saja.

Naik Kereta Api dari Cirebon. Urusan naik moda transportasi satu ini saya tidak menolak. Saya paling suka naik KA. Tempat duduknya luas, bisa bobo selonjoran dan bisa jajan. Katanya beli makanan di kereta itu sensasinya tak terlukiskan. Berlebihan memang, tapi kamu harus nyoba sekali-sekali beli makanan di KA. Saya sudah beberapa kali sih beli dan emang menyenangkan. Asik saja gitu.

Ohya satu hal KA kan mirip-mirip pesawat soal ketepatan waktu berangkat. Jadi mesti teliti dan rencanakan seefektif mungkin kalau tidak bisa jadi ditinggal. Saya kemarin hamper saja ditinggal. Alhamdulillah masih rejeki.

KA berangkar jam 7.01 WIB, dari rumah disopiri adek kita berangkat jam 17.00 WIB. Yah, biasanya kan Cikijing-Cirebon bisa ditempuh kurang dari dua jam. Jadi, agak santai sampai pada suatu titik jalanan mendadak melambat. Mobil di kanan-kiri padat. Ternyata jalanan ke arah Cirebon tak seperti dulu lagi. Kini tak ubahnya Jakarta.

Namanya masih rejeki adek saya pinter-pinter nyari jalan tikus sampai akhirnya sampai stasiun jam tujuh teng. Saya dan suami berlari langsung ke penjaga pintu masuk KA. Dan Alhamdulillah si kereta masih ada di sana. Masih ada kesempatan beberapa menit.

Petugas jaga amat sangat membantu menukarkan tiket online kami dengan tiket KA resmi dan menghubungi bagian dalam KA agar menunggu kami sebentar. Akhirnya kami berdua lari sekencang-kencangnya menuju gerbong yang tertera di tiket. Bukan main capeknya. Saya sampai salah masuk gerbong.

Padahal sebenarnya ya, tidak apa-apa masuk dari ekornya gerbong kalau semisal gerbong kita di kepala. Kan keretanya sambung menyambung. Jalan saja santai seharusnya di dalam kereta. Yah, begitu deh kalau lagi bingung jadi gak bisa mikir. Walaupun sudah diingatkan, “masuk saja Bu”. Tapi saya kayak yang denger gitu terus saja berlari. Sampai di kursi bukan main lelahnya emak-emak yang jarang olahraga ini.

Turun di Stasiun … kita naik taksi menuju hotel. Nah, waktu di taksi ini melewati kota lama dan masyaAlloh jejeran bangunan tua jaman Belanda melambai-lambai cantik ke arah saya. Ohhh ini toh Semarang yang tidak ada di bucket list saya, ternyata masyaAlloh cantik sekali kotanya, eksotis.

Besoknya kita ke simpang lima sepulang dari kantor. Dan bersih. Rapi. Kita bisa duduk-duduk santai. Kita pun pulang jalan kaki ke hotel. Jauh tapi senang bisa jalan-jalan di Semarang

Saya sempat beli siomay. Sebagai orang Jawa Barat ya pastinya tidak asing dengan namanya siomay. Eh, di Semarang ini rasa siomaynya jauh dari rasa yang saya kenal: manisss banget. Sudah s-nya banyak pake banget lagi. Rasanya ini bumbu siomay gula semua.

Dekat hotel ada yang jualan nasi kucing. Oke coba lagi. Enak. Tapi kalau disuruh milih saya mau nasi lengko dekat rumah mertua saja 😀

Nasi kucing ini ya karena porsinya amat kecil seperti makanan kucing. Lauknya macem-macem tinggal milih. Ada tempe, cumi, udang dan lainnya, ditambah bakwan atau gorengan lainnya. Ya oke lah buat yang lagi diet seperti saya 😉

Siangnya kita pulang deh.

Sampai Jumpa Semarang…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s