-115- Cerita Penyapihan Maryam

Bismillah.

arti sapih

Proses memperkenalkan dengan makanan kita orang dewasa sudah lama ya sejak usianya 6 bulan. Tapi untuk menghentikannya menyusu butuh waktu dan tenaga ekstra bagi saya.

Waktu usianya genap dua tahun saya pernah melakukan penyapihan dengan cara di titip di rumah ortu tiga hari. Dan hasilnya saya nangis tidak tega. Maryam sakit tidak ada semangat, katanya hampir sepanjang hari nempel terus di emih. Saya tidak mau mengulainginya lagi pada Maryam.

Di usianya yang hampir tiga saya pernah coba menggunakan makanan pedas. Saya olesi di PD dan itu bertahan sehari. Saya kembali tidak tega ketika Maryam meraung-raung minta nenen lagi *emak yang rapuh*.

Dan karena hari ini sudah genap tiga tahun mau tidak mau tega tidak tega saya harus. Saya kembali menggunakan si pedas *pake cabe* karena pernah sukses dulu itu. Hari pertama dan kedua meraung-raung setiap kali mau bobo. Dan sedihnya lagi dia tidak bisa tidur siang. Tapi kali ini tekad saya sudah bulat. Saya sudah mempersiapkan sebelumnya karena pernah berpengalaman sebelumnya.

Apa?

Butuh tenaga super gede! Iya mendengar jeritan tangisan anak, ibu mana sih yang tega? Karena itu saya harus punya ekstra tenaga untuk menenangkannya. Otomatis saya harus lembur lagi seperti dulu bayi. Lembur sampai Maryam terlelap. Siap terjaga karena di awal dia selalu terbangun, nangis, kemudian harus di garuk. Itu saya ulangi kurang lebih tiga harian. Seminggu kemudian tanpa nangis tapi badannya minta di garuk terus sampai terlelap. Ini kemajuan besar tentunya.

Tapi saya mikir masak iya harus di garuk terus? Satu siang saya pernah tiduran sama Maryam sambil saya membaca. Saya lupa buku apa. Tapi itu buku bacaan saya. Tidak lama Maryam terlelap dan itu pertama kali setelah saya sapih dia tidur siang.

Selanjutnya sampai hari ini setiap mau bobo saya selalu membaca. Berasa telat sekali dibanding ibu-ibu lain yang telah membacakan buku cerita pada anaknya semenjak bayi. Tapi saya bersyukur akhirnya saya bisa juga melakukannya.

Ternyata niat saja tidak cukup. Tenaga, dukungan suami, dan tentu saja keteguhan hati sebagai seorang ibu. Karena menurut saya keteguhan hatilah yang sering kalah di tengah jalan. Tidak tega sering meruntuhkan niat demi mendengar jerit tangis yang membahana ditambah kalo nangisnya pake bumbu drama 😀 .

Tenaga penting sekali apalagi bagi ibu yang bekerja. Bekerja full day yang datang kadang magrib, itu capeknya luar biasa. Belum mendengar tangisan anak, tubuh juga meronta minta jatah istirahat akhirnya menyerah. Makanya karena saya tahu harus ekstra tenaga. Sebulanan ini saya tidak lagi begadang, tidur cukup dan pulang kerja dipercepat.

Alhamdulillah sudah sebulanan Maryam tidak lagi ASI. Jadi resmi Maryam sudah berhenti ASI.

Gantinya?

Minum apa saja yang sehat dan halal. Untuk susu saya biasanya beli susu kotak ultra mimi tapi kalo lagi kosong pakai ultra jaya lain. Kesukaannya rasa stroberry sampai sekarang. Selain susu dia gandrung sekali minum teh. Ikut abah sepertinya. Saya buatkan yang tidak pekat dan kalo lagi stok tambah madu.

Banyak anjuran para ahli di luar sana tentang cara menyapih. Pada akhirnya kita orang tualah yang faham bagaimana cara terbaik unutk anak sendiri. Tapi catatan penting bagi saya adalah niatan yang kuat harus didukung oleh tenaga, dukungan dari keluarga, dan keteguhan hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s