-112- Peribahasa

flower-887443_1920

“Karena nila setitik rusak susu sebelanga”

Akhir-akhir ini saya lagi kepikiran tentang pemimpin Wakatobi yang baru saja lengser. Bukan karena dilengserkan tapi dia sudah dua periode menjabat. Di akhir masa jabatannya komentar negatif tentang dirinya tak dapat dihindari. Iya dari kubu lawan yang kebetulan hari ini menang.

Saya bukan pihak pro atau kontra dengan gaya kepemimpinannya. Bukan juga tidak setuju dengan visi misi nya. Saya hanya penduduk biasa yang berusaha menerima semua keputusan yang telah diputuskan yang katanya sudah sesuai demokrasi.

Hanya saja kalau kita pikir *kebanyakan mikir yang belum tentu penting* pemerintah yang selesai dalam kondisi baik-baik saja masih dibicarakan kurang baik apalagi yang jelas-jelas melewati masa akhir jabatannya dengan huru hara.

Kemudian saya teringat Pak Harto. Tidak saya pungkiri ketika masa pemerintahannya saya merasa aman nyaman dan tentram pun sejahtera. Saya tahu iya jangan komplen dulu, saya tahu di luar sana banyak juga yang mengalami tindak kurang menyenangkan ketika masa pemerintahannya. Jadi jangan lupa ya akan kekerasan dan semua tindakan kurang menyenangkan itu walau bukan kita yang merasakannya. Iya saya tidak lupa akan semua pemberitaan itu.

Tapi, saya juga tidak mau lupa bahwa ada hal baik ketika masa pemerintahannya. Saya menolak lupa semua kebaikan yang telah saya rasakan. Saya hanya berusaha menempatkan pemimpin saya pada posisinya. Bapak pembangunan ya memang benar adanya pada masanya Indonesia sedang giat-giatnya membangun.

Pada masa Pak Karno juga begitu. Menurut buku-buku sejarah pada masa Pak Karno ini Indonesia begitu dikagumi dan dihormati. Pak Karno sendiri sangat disegani oleh pemimpin dunia lainnya. Di akhir masa jabatannya kita semua tahu terjadi hal yang kurang menyenangkan. Dan selama bertahun-tahun di bawah orde baru nama Soekarno tenggelam begitu saja. Tapi, lihatlah sekarang. Di atas keburukan yang muncul seharusnya kita bisa fair menyikapi kebaikannya.

Peribahasa di atas tentu sudah tidak asing lagi. Sebenarnya peribahasa ini ditujukan sebagai self reminder. Artinya kita harus hati-hati dalam hidup. Satu saja kesalahan bisa jadi merusak semua yang telah kita bangun.

Salah satu munculnya peribahasa adalah dari pengalaman dan kebijakan seseorang. Oleh karena itu, peribahasa tidak bisa kita anggap sepele. Karena boleh jadi, hal buruk telah terjadi pada seseorang di masa lalu. Dan diharapkan kita yang hidup setelahnya tidak mengulangi hal yang sama. Bukankah pengalaman selalu mengajarkan dengan baik?

Karena lebih ke pengingat diri jadi peribahasa di atas menurut saya tidak bisa digunakan sebagai generalisir atau bahkan menghakimi.

Jika kita pernah melakukan satu kesalahan dan saya yakin sebagai manusia kita pernah melakukannya, bukan berarti kita langsung di cap sebagai seorang pecundang kan? Bukankah di luar sana orang-orang besar tidak luput dari kesalahan dan mereka memperbaikinya sebaik yang mereka bisa?

Jika seseorang pernah melakukan kesalahan kita tidak bisa menghakiminya sebagai pecundang kan? Mungkin dia tidak ahli di satu bidang itu tapi kan dunia ini luas pun dengan keilmuannya.

Jika satu kelompok pernah melakukan kesalahan yang dilakukan salah satu anggotanya, bukan berarti kita bisa menghakimi kelompok itu sebagai kelompok yang salah kan?

Bahkan ketika seorang pemimpin melakukan kesalahan yang terlihat mencolok bukan berarti dia tidak pernah berbuat baik kan? Bukan berarti dia tidak pernah berprestasi kan?

Bukankah menjadi pemimpin itu sendiri merupakan salah satu prestasi bagi dirinya. Terang saja tidak semua orang bisa menjadi pemimpin.

Apa artinya?

Tentu saja karena kita manusia bukan malaikat. Kita berbuat salah kemudian memperbaikinya. Orang lain berbuat salah kita belajar darinya.

Melihat sejarah pemimpin kita, peribahasa .di atas rasanya bukan lagi sebagai self reminder tapi lebih ke penghakiman.

Perlukah kita menista seseorang karena kesalahannya dan melupakan begitu saja semua prestasi bahkan pengabdian yang telah diberikan? Tentu itu tidak adil.

Dulu Pak Karno di caci tapi kemudian sejarah berbalik padanya hari ini. Hari ini Pak Harto di caci mungkin di depan sedang menunggu sejarah yang baik baginya.

Setiap pemimpin tentu pernah melakukan kesalahan. Tapi, sebagai masyarakat yang baik tentu kita tidak perlu melupakan apa yang pernah dibangunnya untuk negeri. Kita mengakui kesalahannya pun jangan lupa kita pun harus menerima setiap kebaikan yang telah ia torehkan.

Janganlah kesalahannya menutupi semua kebaikannya. Kalau hari ini banyak slogan menolak lupa akan keburukan yang telah dilakukan pemimpin kita maka, saya mau mengingatkan janganlah kita juga lupa akan kebaikan-kebaikannya.

Ajang pemilihan pemimpin baru tentunya bukan ajang buka aib pemimpin sebelumnya. Tapi, ajang bagi kita sebagai masyarakat untuk belajar. Belajar memilih dari kesalahan-kesalahan yang telah lalu. Semoga dengan begitu suatu saat kita dijodohkan dengan pemimpin yang baik dan amanah. Aamiin.

Berusaha bersikap adil walau sulit. Sedang bunga saja yang tumbuh di tengah gersangnya tanah tetaplah bunga yang indah yang menyejukan mata siapapun memandang.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s