-107- Catatan:Lebaran 1437H

DSCN2342

Lebaran 1437H/ 2016M

Lebaran ke tiga di Wakatobi. Rasanya? Sepi. Sunyi seperti lautan luas yang air nya di hembus angin dan sekali-kali burung-burung datang menghampiri menghibur. Sesunyi lautan luas ketika semua orang sedang bersujud padaNYA.

Lebih sunyi lagi hati ketika malam takbiran tak satupun suara takbir yang terdengar hanya ledakan-ledakan kemeriahan dari mercon-mercon warga, karenanya kami terpaksa mendownload suara takbiran dan memutarnya memenuhi seisi rumah.

Bukan. Bukan karena tidak ada yang takbir, rumah kita saja yang jauh dari lingkungan pada umumnya.

Tapi, kami sangat bersyukur…

Iya, karena semua rasa itu membuat kita belajar. Dan sejujurnya tidaklah sesunyi itu, karena ini lebaran ke tiga. Jadi, kami sudah cukup berpengalaman dengan semua kesunyian. Kami menikmatinya.

Ramadhan tahun ini rasanya banyak sekali pelajaran berharga tentang hidup. Saya terutama banyak sekali belajar. Menghadapi anak, suami, dapur, rumah dan seisinya, tetangga, dan masyarakat pada umumnya. Kami terus belajar.

Ketika lebaran satu tahun lalu di mana peralatan sholat seadanya belum di cuci, hari ini, semuanya wangi. Walaupun pada akhirnya saya tidak bisa sholat. Tahun lalu ketika berangkat menuju lapangan repotnya bukan main, semua orang di dalam rumah hilir mudik tak karuan, hari ini, masyaAlloh Maryam saja dia sudah bangun ketika subuh dan tidak lama kemudian mandi air hangat, semua terasa rapi dan tenang.

Tidak seperti tahun lalu, kali ini kami sholat ied di lapangan Pelabuhan Wanci. Selain lebih luas di sana banyak tempat untuk saya dan Maryam menunggu sholat dan meyaksikan semua pelaksanaan sholat hari raya.

Setahu saya di Wakatobi (di kotanya) ada 3 titik pelaksanaan sholat raya. Satu di Hotel Wisata, areanya lebih kecil dan pelaksanaannya paling cepat. Ke dua di lapangan bupati, di sana kalau saya sebut tempat berkumpulnya para pejabat. Dan terakhir di Pelabuhan Wanci ini, paling luas, warga yang di tampung otomatis paling banyak, dan satu lagi paling lama. Setelah selesai sholat, kita keliling kota, yang lain sudah pada selesai menyisakan sampah Koran yang tak di pungut kembali pemiliknya. Kecuali di Hotel Wisata yang nampak rapi dan bersih. Di sana memang panitianya menyediakan alas untuk tempat orang sholat berupa terpal sehingga warga tidak perlu lagi membawa kertas Koran.

Mengenai Koran ini ya, sebenarnya kalau kita pikir, jika setiap orang yang membawa kertas Koran memungutnya kembali dan kemudian membuangnya sendiri, tidaklah terjadi itu namanya lautan sampah Koran. Apa susahnya memungut Koran di bawah sajadah sendiri? Hufff entahlah, kenyataannya sampah Koran sudah terjadi.

Lupakan. Saya mau cerita lokasi Pelabuhan Wanci yang cantik ini. Ini mungkin tempat sholat raya saya yang paling indah selain di kampung halaman. Lokasinya yang berhadapan dengan laut lepas ketika semua orang sujud seperrti mengeluarkan aura magis tersendiri. MasyaAlloh saya tidak bisa menggambarkannya dengan kata-kata. Ketika itu waktu terasa berhenti sejenak. Tek! Angin seperti berhembus pelan sekali tiup. Lengang. Kalau kita lihat dari jarak yang lumayan antara Jemaah yang sedang sujud dan laut seperti tak ada batasnya. Mereka seakan menyatu dengan alam. Saya yang menyaksikannya hanya takjub berucap syukur dan mensucikanNYA.

DSCN2337
taken by me: Pelabuhan Wanci, Wakatobi

DSCN2346

Selamat berlebaran 1437H

Semoga kita lebih baik lagi di bulan-bulan mendatang sampai Ramdahan menyapa kemali. aamiin.

Taqabalallohu minna wa minkum

Mohon Maaf Lahir Bathin_

Advertisements

2 thoughts on “-107- Catatan:Lebaran 1437H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s