-101- Bercermin: belajar lagi

blue-925209_1280
image dari pixabay

Sabtu minggu kemarin saya disibukan dengan membaca berbagai artikel tentang Tablo. Iya, Tablo Epik High Bapaknya Lee Haru, anak yang muncul di varshow Superman Is Back. Kok tiba-tiba?

Bukan karena faktor U, tapi memang saya tipe pembaca yang kurang teliti. Saya biasanya membaca sesuatu apapun itu dalam waktu yang lumayan cepat. Hasilnya tidak mengecewakan saya tau gambaran umumnya, saya tahu maksud bacaan tersebut. Tapi, sayangnya detail dari bacaan tersebut banyak yang luput dari memori.

Misal membaca novel John Grisham yang super tebal dengan bacaan yang lumayan berat. Saya bisa menyelesaikannya bahkan hanya satu hari dengan catatan masih single p: . Sekarang taruhlah tiga hari dengan catatan hanya malam sampai subuh 😦 . I got the point well but missed many details. Saya tahu dengan jelas di kepala alur cerita, plot, dan ide cerita, namun saya sulit mengingat istilah-istilah yang di pakai dalam novel tersebut. Yah sebut saja istilah dalam dunia hukum yang memang mendominasi semua karya John Grisham. Jangan tanyakan apa itu litigasi secara mendadak, karena saya harus mencarinya dulu di google 😆 .

Penjelasan panjang di atas maksudnya mau nerangin kalau saya lupa ceritanya bagaimana bisa sampai ngubek-ngubek artikel tentang Tablo 😀 . Preambule yang so so so…

Nah, dari Tablo yang kasusnya lumayan pelik tentang ijazah s1 s2 stanford dalam waktu kurang dari empat tahun membawa saya menyaksikan Bigbang boleh di bilang boyband terbesar saat ini sampai pada tangan dingin di belakang mereka; Yang Hyun-Suk.

Menghabiskan waktu cukup lama menyaksikan perjuangan Yang Hyun-Suk (selanjutnya saya tulis YG biar cepat nulisnya) membentuk bigbang membuat saya berfikir tentang gaya kepemimpinannya.

Pengalaman bertahun bekerja di industri hiburan membuat insting YG terasah. Dia akan cepat merasakan talenta seseorang ketika melihatnya sekilas. Itu yang ia katakan ketika pertama kali dipertemukan dengan Kwon Ji Yong. Begitu juga dia sangat terasah membaca masa depan. Ia buktikan pada diri Seungri, di mana saat pelatihan dia bahkan tidak tahu apa yang bisa ia lakukan terhadapnya tapi ia merasakan ada sesuatu pada dirinya. Dia berinvestasi cukup baik pada diri Seungri.

Dia pun mendepak satu anak muda Jang Hyun Seung . Terkesan tegaan, dingin, acuh, segala hal yang membuat saya berfikir, “kok bisa dia sekejam itu pada anak muda tanggung? bagaimana bisa ia menghancurkan mimpi seorang remaja tanggung?

Tapi, keputusannya tepat. Bukan berarti Jang Hyun Seung tidak quallified dalam dunia tarik suara hanya saja ternyata bigbang sangat pas dengan lima anggotanya. Tidak kebanyakan pun tidak kurang: Pas!

Habis saya suka sakit mata lihat boyband yang rame-rame nyanyi dan nari di panggung. Kesannya “riweuh” banget nget nget gak tau harus fokus ke mana. Lima orang ini membuat semua anggotanya cukup memiliki waktu menampilkan kemampuannya masing-masing. Mereka berlima totally berbeda. Mereka yang bukan nari-nari gak jelas nyanyi seadanya, mereka benar-benar bernyanyi. Seperti yang YG bilang dia mencari penyanyi bukan dancer.

Keinginan Yg membentuk band yang dapat di terima tidak hanya oleh keluarga YG tapi oleh masyarakat korea pada umumnya bahkan mendunia benar-benar ia wujudkan dengan kerja keras. Dia memantau dengan baik talenta yang ia pilih. Ia menempatkan mereka calon member Bigbang di sebuah apartmen (dorm) untuk memudahkan ia memantau perkembangan talenta masing-masing. Ia membawakan mereka orang-orang terbaik di bidangnya untuk melatih para anggota ini.

Bahkan dua diantaranya telah menjadi trainee untuk waktu yang cukup panjang, enam tahun. Upaya kerja keras pembiasaan menahun membuatnya sulit dibandingkan dengan yang “instan-instan”.

Dia tidak main-main dalam hal kerja keras. Ketika ada calon anggota yang menurutnya kurang memberikan perkembangan yang baik selama masa latihan dia tidak segan mengeliminasi. Dari enam orang talent yang ia pilih akhirnya satu orang harus benar-benar tereliminasi.

Bayangkan satu orang!

Hanya seorang pemimpin yang memiliki pendirian teguh dan berjiwa tegas yang mampu melakukannya. Banyak yang saya lihat ajang-ajang pencarian bakat di negeri ini tidak mampu bersikap seperti YG. Apalagi sudah dibumbui dengan drama kehidupan si talent, di jamin sulit sekali objektif.

YG benar-benar tidak banyak mengungkit masalah pribadi para calon member, ia hanya ingin melihat kerja keras dan hasil. That’s all, karena menurutnya ini semua bisnis kamu tidak bisa merasa kasian karena itu akan menghancurkan. Kurang lebih seperti itu yang saya tangkap dari sosok YG.

Merasa kasian tentu ada, pastilah sebagai manusia. Tapi, ia sekuat tenaga melawannya. Ia melakukannya dengan baik ketika banyak orang mengalah terhadap hal tersebut.

Hasilnya?

Sangat luar biasa. Menurut artikel ini konser-konser sekelas Taylor Swift dan One Direction terlihat menyedihkan dibandingkan dengan Bigbang. Taylor Swift memang mencatatkan rekor tertinggi untuk konser 1989 nya dengan 2.3 juta penonton dalam 83 show. Sementara One Direction dihadiri 2.4 juta penonton di 85 show nya sepanjang tahun. Dan Bigbang? hanya dengan 36 penampilan mereka mengumpulan penonton sebanyak 1.5 juta. Angka luar biasa bagi seniman asia. Jika dirata-ratakan penonton yang hadir di setiap show, Bigbang jauh melampaui Swift dan One Direction.

Bahkan show nya di Amerika masuk dalam daftar top ten box office show terlaris di mana terdapat nama artis-artis dunia papan atas, sebut saja Taylor Swift, Katy Perry, dan Shania Twain. Ah, go international bukan berarti kita harus melakukannya di luar negeri, tapi menjadikan karya kita viral dan disukai dunia, saya kira go international sebenarnya.

Terlepas dari kritik, Bigbang sangat luar biasa. Bagaimana kerja keras seorang pemimpin YG sampai membuktikan mimpinya, luar biasa. Kepemimpinannya patut dijadikan contoh. Terlepas dari ketidaksetujuan saya dengan dunia hiburan, tapi kepemimpinan YG patut diacungi jempol dan menjadi bahan pelajaran sekaligus renungan bagi kita. Kolaborasi antara pengalaman, pengetahuan yang mendalam dan kemampuan memimpin.

Menyaksikan YG saya jadi ingat Ahok. Iya Ahok Gubernur Jakarta sekarang. Kebijakannya sering sekali mengundang kontroversi.

Salah satu yang saya ingat dan saya amini.

Di Tahun 2015 Ahok melakukan aksi bongkar pasang jabatan yang tentu saja membuat beberapa orang bak kebakaran jenggot. DPRD menentangnya dengan alasan Ahok bermain terlalu ekstrim, jabatan bukanlah ajang percobaan seperti halnya kelinci percobaan. Namun, bukan Ahok kalau harus berhenti karena ucapan miring segelintir orang. Dia melakukan sesuatu pasti sudah melalui pemikiran matang sehingga ia berani tetap pada pendiriannya.

Lihat kesamaan kepemimpinan YG dan Ahok, keduanya berani dan tegas. Saya yakin Ahok seperti halnya YG telah cukup memiliki pengalaman dalam dunianya.

Siapa sih manusia yang tega begitu saja mencopot jabatan pada seorang tua? Saya yakin Ahok pun tidak tega. Tapi, ini kan bukan perusahaan milik sendiri. Di mana merasa kasian terus memberi walau tidak pada tempatnya. Ini adalah negara yang mana didalamnya hidup berjuta rakyat yang membutuhkan kinerja yang baik dari para abdinya.

Sedang perusahaan pribadi saja jika terus mengasihani orang bukan pada tempatnya suatu saat akan collapse juga. The right man on the right place seorang pemimpin saya yakin harus memiliki naluri ini. Naluri untuk menempatkan orang pada posisi terbaiknya. Ini akan sangat membantu dirinya lebih dari itu orang-orang yang dipimpinnya.

Menempatkan orang bukan pada tempatnya mungkin terlihat membantu. Tapi, yakinlah itu sangat buruk. Membuatnya tersiksa dalam sepi untuk waktu yang lama bahkan seumur hidup nya.

Keduanya mesti bukan orang Islam, tapi saya melihat sikap ketegasan yang perlu dimiliki seorang pemimpin seperti yang saya lihat pada para pemimpin islam terdahulu. Sebut saja Umar, yang tak segan memberi hukuman jika memang salah dan bukan pada tempatnya.

Hari ini banyak yang tidak menyukai tokoh-tokoh ini karena mereka bukan dari agama kita. Mungkin termasuk saya, tapi bukankah ini menjadi tamparan keras? Seharusnya kita mampu berlaku seperti mereka tentu dalam ranah yang berbeda, karena kita di dukung oleh aturan yang tegas dan jelas. Ya, semuanya ada di Alqur’an dan Hadits. Tapi, apa yang kita lihat sekarang?

Menjatuhkan mereka dengan serangan SARA tidak akan mengubah terlalu banyak. Yang seharusnya dilakukan adalah kita memperbaiki diri, introspeksi, kenapa mereka bisa sementara kita yang dilengkapi senjata kuat akhir zaman tidak mampu menerapkannya?

Hari ini orang melihat apa yang kita kerja, bekerjalah dengan baik dan sungguh-sungguh bukan malah menjatuhkan. Mari melawan dengan keja dan kinerja yang baik.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s