-100- Pengalaman Mengajarkan dengan Baik

Waktu masih tinggal di Kolaka sering saya berdiskusi dengan salah seorang teman mengenai takdir jodoh. Waktu itu saya masih kiyis-kiyis baru lulus kuliah, kerja di tahun pertama. Sementara teman saya ini sudah hampir kepala tiga. Dia lebih dari sekedar teman, saya menganggapnya kakak.

Dia itu baik, penyayang, lembut, dan rasanya semua hal baik ada padanya namun di balik kehalusannya dia sangat kuat teguh pendiriannya hampir keras kepala.

Di usia kritisnya wajar seorang perempuan mengharapkan untuk segera membangun rumah tangga. Ia pun demikian. Sudah beberapa laki-laki yang datang meminangnya, sayang bukan jodoh.

Kebanyakan alasannya adalah orang tua. Orang tuanya yang tentu saja sangat sayang dan mengetahui segala seluk beluk kehidupan putrinya merasa belum menemukan orang yang tepat untuk putri semata wayangnya.

Selain semua hal yang baik di atas tentang dia, pemahaman agamanya pun bagus. Hanya saja yang membuat kriterianya semakin tinggi adalah pendidikan dan pekerjaannya. Ia boleh di bilang sudah mapan dalam ke dua hal itu. Jadi, orang tua mengharapkan minimal sama.

Seharusnya kalau agamanya sudah baik, orang tua harus hati-hati menolaknya. Artinya dalam pandangan saya waktu itu, peluang seorang laki-laki yang di percaya memiliki pengetahuan dan pemahaman agama yang baik akan jauh lebih besar di terima dibandingkan di tolak dalam dunia lamar-melamar. Tapi, kenyataan tidak seperti itu ternyata.

Saya sempat kecewa dan menyayangkan sikap orang tua kakak ini. Mungkin si kakak ini pun dalam hatinya, mempertanyakan, kenapa? apa lagi yang di tunggu? Saya ini semakin hari semakin tua?

Saya baru ber oh ria ketika hari ini memiliki seorang anak perempuan. Bukankah tanggung jawab anak gadis ada pada orang tuanya sampai ia menemukan imamnya? Jadi, orang tua berhak dong ya memberikan pendapatnya bahkan memutuskan…?

Andai saya berada di posisi orang tua nya si kakak itu. Kalau melihat kondisi saya sekarang dengan seorang putri. Selain agamanya yang harus baik saya juga menginginkan putri saya berada di tangan yang tepat, paling tidak menurut kami sebagai orang tua.

Kami menjaga dan mendidiknya dengan baik. Kami berusaha memenuhi kebutuhannya semampu yang kami bisa. Dia kami kondisikan berada dalam lingkungan yang baik secara rohani dan jasmani. Jadi, saya pun menginginkan siapapun nantinya calon anak saya adalah dia yang minimal bisa memperlakukannya seperti yang kami lakukan. Yah, minimal.

So, materi juga dong?

Mau di bilang ya, tidak juga. Tapi, di bilang kami tidak memperhatikan itu muna juga. Hanya saja materi yang di lihat kan tidak harus melulu uang. Karena kami pun bukan dari kalangan berada yang kaya raya di mana-mana. Kami hanya berusaha mencukupkan diri pada kebutuhan yang memang kami perlukan. Misal mobil kalau memang butuh dan perlu ya, kami berusaha. Kalaupun memiliki artinya bukan ajang pamer diri.

Sandang pangan papan cukup, butuh dan perlu kan? Ya, gimana semua itu harus di beli, baik dengan materi maupun tenaga. Ya, situ kalau mampu membangun rumah sendiri ya syukur Alhamdulillah. Artinya tetap harus di beli kan?

Jika yang datang pemuda yang di kenal mengerti agama tapi belum memiliki pekerjaan walaupun meyakinkan dengan kata tanggung jawab dan lain sebagainya. Sebagai orang tua wajar dong ya kita khawatir. Kenapa tidak kita tunggu ucapan si pemuda bahwa dia bertanggung jawab? Menunggunya untuk memantaskan di mata kita saya kira lebih adil terutama bagi otang tua seperti saya yang apa-apa serba parno.

Makanya lelaki di bilangnya bebas memilih wanita yang mereka sukai, datang saja pada walinya. Di terima ya, jodoh, di tolak sebaliknya. Sudah. Sederhana. Walaupun saya tahu prakteknya tidak semudah itu karena selalu saja melibatkan perasaan. Hancur minah maaak di tolak!

Perempuan juga begitu, bebas menentukan. Kalau ada yang datang cocok ya, hayu, kalau belum merasa cocok ya, kan, bisa di pending atau langsung di tolak. Sudah. Sederhan. Sekali lagi semua itu bisa kebalik 180 derajat karena baper. Wajar. Tinggal menyikapinya. Ya, kalau rame yang datang tinggal pilih, kalau yang datang satu saja susah gimana? Yakin sajalah sama ketentuan Alloh, sudah itu.

Kalau ke duanya sudah memahami posisi seperti di atas, ya, mudah-mudahan acara pencarian jodoh ini tidak terlalu menyita fokus kita. Tidak terlalu baper yang harus nangis berurai air sungai, eh, *garing* berhari-hari bahkan berminggu dan berbulan. Terus lupa pencapaian hidup yang lain, kan gawat.

Perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik.

Jadi, jangan kehilangan focus karena di tolak atau menolak, tetap memperbaiki diri memantaskan diri untuk calon yang telah dipersiapkan Alloh untuk kita.

Memahami posisi orang tua kalau seandainya harus menolak laki-laki yang diidamkan. Ya, kecuali kamu janda bebas menentukan. Kalau masih gadis tetap perhatika orang tua. Selama mereka tidak melakukan hal-hal yang menyimpang ya, berusaha untuk menurutinya.

Jangan gara-gara kita meras benar, pengetahuan agama kita lebih baik dari orang tua terus kita membawa ke pengadilan karena pernikahan kita yang tak direstui. Ngeri dan malu kan, kasihan orang tua. Tapi, ini ada loh yang sampai begitu.

Pengalaman membawa saya untuk menulis hal seperti ini. Saya baru menyadarinya ketika saya pun di posisi orang tua.

Pengalaman benar-benar mengajarkan segalanya dengan baik. Dia adalah guru yang paling berharga. Menyusun semua yang telah kita temukan bagai menyusun blok-blok menjadikannya sebuah bangunan utuh yang indah. Begitulah hidup, rasanya lengkap.

Untuk kakak yang saya ceritakan, akhirnya saya ngerti kenapa dulu orang tua kaka sulit sekali melepas :p . Ada hal yang baru kita bisa memahaminya benar-benar ketika kita mengalaminya sendiri 🙂 .

Self reminder…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s