-99- Dulu Sekarang

DSCN1484

Siapa sangka film-film kartun yang saya tonton di masa kecil akan kembali di tonton oleh anak saya. Setelah lebih dari dua puluh tahun tokoh-tokoh kartun itu masih memikat anak-anak generasi ini. Timeless.

Bedanya. Jika dulu harus siap-siap sedari pagi menunggu di depan TV demi untuk menontonnya. Kalau tidak, pastinya ketinggalan satu episod dan rela benar-benar tidak bisa menontonnya karena tidak ada youtube. Kemudia harus sabar menunggu seminggu lagi untuk dapat menontonnya. Betapa berharganya hari minggu pagi kala itu, ya, masih berharga juga sih sampai sekarang, cuma rasanya saja yang beda. Sekarang bisa di tonton dimanapun dan kapanpun *nangis deh anak jadul*.

Dulu, Biasanya saya mulai dengan Chibi Maruko Chan kemudian Doraemon di jam 8, dan di tutup dengan Detektif Conan. Kalau beruntung tidak tertidur di jam 6 saya masih dapat Inuyasha. Urutannya mungkin ada yang keliru tapi intinya saya menonton semuanya itu. Sekarang mau nonton yang mana saja bebas, tidak perduli dengan urutan waktu. Teknologi merubah segalanya.

Pernah saya kepikiran, “betapa enaknya anak-anak jaman sekarang, segala begitu mudah, segala informasi dapat dengan mudah di akses dimanapun dan kapanpun”. Waktu kecil juga pernah kepikiran andai bisa nonton film kartun kesukaan kapanpun mau. Perjuangan untuk menonton film kartun kesayangan harus sabar menanti seminggu, itu pun kalau tidak mati lampu, ketiduran, atau bahkan siaran tiba-tiba di ganti live *biasanya acara tinju nih 😦 . Ah membandingkan dengan generasi sekarang tentulah sangat jauh. Terus apa kabar generasi sebelum saya? mungkin film kartun itu sendiri belumlah ada.

Pernah sekali waktu diceritakan appa *Bapak saya*, ketika beliau kecil setiap hari bermain dengan teman-temannya. Entah itu di sawah, sungai, atau di alun-alun kampung. Mendengarkannya menyenangkan bagai cerita kartun itu sendiri. Ah, ternyata saya juga patut bersyukur saya pun memiliki cerita kartun sendiri. Karena acara hiburan anak-anak di jaman itu hanya seminggu sekali, maka selebihnya saya bermain dengan teman-teman lainnya.

Saya ingat ketika saya kecil usia SD, kampung tidak pernah sepi dari suara cempreng anak-anak.

Kemarin dulu saya pulang kampung, dari pagi sampai sore kampung begitu hening. Hanya sesekali suara ibu-ibu berceloteh, mungkin mereka sedang bergosip sambil nyambel. Hari ini menemukan kumpulan ibu-ibu saja sudah langka. Dulu, saya sampai malu kalau mau melewati gang-gang kampung, karena hampir di setiap jalanan gang para ibu dan bapak berkumpul sekedar melepas lelah setelah seharian bekerja. Dan di depan kumpulan itu biasanya tanah lapang tempat anak-anak bermain.

Jadi, semisal saya bermain bukan di gang rumah, maka ketika pulang akan melewati dua sampai tiga gang, minimal satu. Di mana di setiap gang hampir selalu ada yang duduk-duduk ngobrol. Sopan santun lah ya harus menyapa minimal bilang, “punte…n”.

Lain dulu lain sekarang, manusia sudah mulai betah tinggal di dalam rumah agaknya pun dengan anak-anak nya. Permainan semacam boy-boyan yang sangat populer di jaman saya, belum pernah sekalipun saya lihat hari ini di kampung. Permainan besar karena biasanya melibatkan seluruh anak-anak kampung. Permainan ini tentu saja mengharuskan tanah lapang, makanya kami sering melakukannya di alun-alaun kampung di mana kumpulan para orang tua lebih dahsyat lagi di sana.

Atau permainan kecil semacam engke-engkean, saya masih ingat kami sering sekali memiliki satu pecahan batu genteng andalan. Setelah bermain selalu dari kami masing-masing menyimpannya di tempat yang paling aman untuk dimainkan keesokan harinya.

Aaaahhh, kemanakah permainan itu? Anak-anak itu?

Permainannya tentu masih ada di kenang oleh kami dan anak-anak itu harusnya hari ini menjadi para orang tua yang senang berkumpul di gang-gang rumah kemudian mengajarkan kepada generasinya permainan itu. Tapi, jaman sudah berubah kawan.

Kami, anak-anak itu lebih senang duduk manis di depan kotak ajaib demi melihat tingkah polah segelintir orang yang kalau di pikir kita pun bisa melakukannya. Coba lihat satu sinetron di salah satu tv swasta tertua yang episod nya sambung menyambung di mana judul dan pemain sudah tak singkron lagi. Ceritanya omaigat, kalau saya bilang, sama persis ketika saya melihat adegan appa, emih, dan emak lagi ngobrol di rumah. Sayangnya adegan mereka bukan dalam kotak ajaib sehingga tidak banyak yang nonton kecuali saya dan adik saya, makanya tak ada bayaran untuk mereka. Tapi, adegan mereka jauh lebih alami dan lebih enak di lihat. Jujur.

Tapi, ya, mungkin kekuatan sinetron itu ada pada adegan yang terlalu biasanya itu heheh. Karena jangan salah, ketidaksengajaan menonton sinteron itu bisa jadi ketagihan, ketagihan mengomentari, ketagihan geli, ketagihan ngomel huhu.

Terus anak-anaknya? Ya, tidak kalah. Yang namanya tipi jaman sekarang semuanya ada. Kalau tipi lagi di sabotase orang tua, masih ada komputer, laptop, tablet, smartphone, dan hape biasa yang hari ini tak mustahil untuk dimiliki anak-anak. Jadi, semua barang teknologi itu mau tidak mau suka tidak suka memang sedang dan telah mengalihkan perhatian anak-anak.

Tidak semua tentunya.

Di pelosok masih banyak kok permainan anak-anak yang masih dimainkan sampai sekarang. Tapi, hari ini kebalikan dari jaman kemarin. Jika dulu amat sangat sedikit anak-anak yang memainkan hape dan sejenisnya tidak dengan sekarang.

Menyadari kenyataan ini, saya dan generasi seangkatan tidak perlu merasa iri hati apalagi sampai dengki *apaan*. Toh, ternyata kita masih lebih banyak memiliki cerita sendiri, adegan penuh energi di masa kanak dulu.

Yah, walaupun tidak dapat dipungkiri anak-anak jaman ini lebih unggul dari segi informasi. Pengetahuan mereka mungkin saja sama dengan kita kecuali pengalaman tentu saja.

Dulu kita butuh waktu cukup lama untuk bisa mengetahui hal tertentu yang di tahu orang dewasa. Tapi, anak-anak sekarang mereka mampu meringkas waktu, mempersingkatnya. Hal-hal yang mungkin baru kita ketahui setelah dewasa tidak bagi anak-anak jaman sekarang.

Karena saya sudah tak iri lagi 😀 dan setelah di pikir matang-matang sampai gosong 😛 saya benar-benar merasa beruntung dengan semua permainan kanak-kanak dulu. Saya merasa perlu membuat terutama anak saya untuk bermain. Mereka harus tahu betapa menyenangkan tertawa di tengah peluh bercucuran dan bau amis keringat. Walau tidak sebebas saya yang dengan aman mengelilingi seluruh kampung bahkan kampung tetangga. Minimal mereka memiliki ruang di sela kesibukannya dengan pelajaran dan keasyikan teknologi.

Karena tanpa disadari keadaan hari ini yang apa-apa serba tekno adalah benih keinginan kita di masa lalu. Keinginan yang menjadi kenyataan bukankah sebentuk prestasi yang perlu dibanggakan. Tinggal kita sebagai manusia khususnya orang tua lebih bijak dalam menghadapinya.

Mereka anak-anak jaman sekarang mewarisi keinginan pendahulunya. Kita harus berbangga mereka anak cucu kita dapat menikmati segala kemudahan dan kecanggihan yang dulu kita harapkan. Mereka generasi anak-anak yang beruntung. Pun dengan kita tidak kalah beruntungnya mengalami hari-hari yang menyenangkan dengan teman dan semua permainan fisik.

Semua pada tempat dan waktunya.

Tapi, tidak ada salahnya kita sebagai orang tua berbagi cerita tentang masa kecil kita dan memperkenalkannya. Siapa tahu mereka tertarik? Memberikan mereka kesempatan dan ruang. Walaupun tidak seluas yang kita miliki dulu. Untuk juga merasakan apa yang dulu kita pernah rasakan agar anak-anak generasi penerus kita jauh lebih baik.

Mereka harus jauh lebih baik dari kita. Harus. Mereka adalah kita di masa depan.

Ambil yang baik-baik di masa dulu untuk kehidupan yang lebih baik di masa sekarang dan seterusnya.

Love you little mary…

catatan:

nyambel : menikmati sambal ramai-ramai, biasanya cocolannya berupa buah-buahan muda.

boy-boyan

engke-engkean: engklek

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s