-88- Novel: Sycamore Row John Grisham

Maju mundur mau cerita tentang Sycamore Row-nya John Grisham. Antara mood dan ngeri. Kejadian di dalamnya bagi saya yang visualisasi abis, lumayan lama untuk membiasakan dan meredam kengeriannya di bayangan.

Seperti yang saya post di instagram, “saya belum pernah kecewa dengan John Grisham”, dan novel kali ini pun semakin membuat saya terpesona dengan gaya penceritaannya dan tentu saja dengan kasus-kasus nya. Karena hampir semua kasus yang saya baca sesuai dengan keahliannya di bidang hukum, so far, semua tampak sangat nyata, mengalir wajar, dan banyak pengetahuan tentang peradilan yang saya dapat. Dan kejutan dari ceritanya hampir selalu menyenangkan. Yup, karena saya salah satu penganut happy ending story 😀 .

Saya kurang suka yang akhirnya menggantung atau yang sedih-sedih. Karena itu membuat saya sibuk, memikirkan kelanjutan ceritanya dan menyesalkan akhir yang sedih, “harusny aakhirnya bisa begini begini begini…”, aaahhh itu sangat menghabiskan waktu saya.

Walaupun kadang sudah menduga akhir cerita di pertengahan nya tapi tidak mengurangi sedikit pun keasyikan dari membaca. Tidak ada tuh ingin melompat ke bab terakhir. Keinginan untuk segera selesai dan mengetahui cerita utuhnya sangat besar namun tidak untuk melompatinya. My oh my… Dan membaca novel nya setebal apapun sangat menyenangkan dan selalu berusaha menyelesaikannya secepat semampu saya, karena saya begitu penasaran. Penasaran bingo!

Sycamore Row sebenarnya kelanjutan dari novel perdana John Grisham yang diterbitkan Tahun 1989: A Time To Kill. Sayang saya belum membacanya. Kalau saya baca sekilas resensi dari A Time to Kill, kasusnya sama sekali tidak berhubungan dengan Sycamore Row. Yah, semuanya sama, orang-orangnya, tempat, dan masa, kecuali kasusnya.

Jadi, saya pikir novel ini melanjutkan kisah tokoh utamanya yaitu Jake Brigance. Kisah setelah kasus di A Time to Kill. Mungkin kangen dengan tokoh ini, setelah sekian lama, 1989 ke 2013 🙂

Diceritakan Jake mengalami hari-hari yang sulit setelah kasus di A Time to Kill itu. Rumahnya di bakar, dia kehilangan hampir semua harta bendanya dan sekarang dia bersama keluarga kecilnya ngontrak di sebuah rumah kontrakan kecil tentu saja masih di Ford County. Dengan penjagaan setiap malam dari sherif setempat membuat kehidupan normal semakin jauh dari mereka. Yap, setelah kejadian itu mereka masih sering di teror.

Dan secara materi kasus A Time to Kill tidaklah memberikan banyak untuk Jake. Dan kasus-kasus selanjutnya yang tidak benar-benar diceritakan tak merubah apapun dari kehidupan mereka. Mereka hidup pas-pasan tidak juga dikatakan miskin. Menunggu satu kasus besar yang menguntungkan dan kehidupan mereka akan berubah. Terutama menginginkan rumah yang lebih layak untuk mereka bertiga.

Kematian seorang tua di Ford County yang tidak populer bahkan mungkin banyak yang tidak menyadari kehadiran sosok ini adalah kejadian sangat biasa dan akan dengan mudah dan cepat dilupakan. Yah, walaupun kematiannya tidak wajar dengan cara gantung diri di sebuah pohon di atas lahan miliknya. Tapi tidak, sampai surat wasiatnya sampai ke kantor Jake. Tak perlu banyak waktu untuk membuatnya menjadi topik hangat. Selain karena ternyata jumlah nominalnya yang fantastis menempatkan siapapun yang akan menerima warisan itu menjadi orang terkaya di Ford, juga karena isi dari surat wasiat tersebut sangatlah mengejutkan. Tak terelakan merubah semuanya menjadi kebisingan dan keruwetan yang dramatis.

Surat wasiat yang sulit di terima akal sehat di mana si pewasiat meniadakan keluarganya, anak-anak kandungnya sendiri. Dia malah memberikan hampir seluruhnya, 90 persen kepada seorang asisten rumah tangganya, Lettie Lang yang berkulit hitam. Seorang tua berkulit putih mengenyampingkan anak-anaknya demi seorang kulit hitam yang sebenarnya baru dipekerjaka beberapa bulan. Aneh. Pasti ada sesuatu *waktu baca saya mikirnya gitu*

Surat wasiat awal yang mewariskan hartanya kepada ke dua anaknya yang tidak akur dengan dirinya berubah seratus delapun puluh derajat dengan tidak menyisakan sedikit pun untuk mereka. Dan inilah kemudian drama antara anak dan pembantu berlanjut. Semakin riweuh karena drama ini menyertakan pengacara-pengacara besar di sekitar Ford. Dan berbumbu cerita dari orang-orang yang mengenal maupun yang hanya tahu namanya saja dari kabar burung.

Seorang kulit putih memberikan warisan kepada si kulit hitam pada masa itu di Amerika adalah tidak wajar. Di mana masyarakat Amerika kulit putih pada umumnya menganggap mereka lebih tinggi derajatnya dibandingkan kulit hitam. Pada waktu itu rasisme sangat kuat terhadap penduduk berkulit hitam.

Karena saya mulai menduga jalan cerita, tidak mungkin orang tua itu memberikan cuma-cuma pada Lettie jika tidak ada sejarahnya. Saya yakin ada sesuatu dengan Lettie. Maka saya di buat penasaran habis. Apa sejarahnya dengan Lettie sehingga ia orang tua itu yang bernama Sett Hubbard tidak meninggalkan sedikit pun untuk keturunannya? Ada juga ia mewariskan untuk adiknya yang sudah lama tidak bertemu dan ia pun menyangsikan keberadaannya apakah masih hidup atau sebaliknya. Kemudian saya lebih penasaran dan yakin bahwa adiknya ini punya kunci untuk membuka ke sejarah itu.

Apakah saya harus meneruskan review ini?

Karena saya sendiri bukan tipe orang baca novel karena di kasih tahu bla bla bla. Saya suka fantasy tapi tidak bisa membaca semacam Lord of The Ring, saya suka romantic tapi tidak sanggup menyelesaikan critical eleven, saya suka detektif tapi tak tertarik dengan Sherlock Holmes. Padahal semuanya amat sangat populer bahkan menjadi best seller pada masanya. Di review amat sangat bagus hampir oleh semuanya. Tapi, saya belum tertarik.

Tapikan, review ini untuk diri sendiri, kenapa musti ribet, tulis sajalah…

Ceritanya si Jake merasa keberuntungan belum berpihak kepadanya. Hari-harinya terlalu rutin. Kasus yang datang ke mejanya jauh yang ia harapkan. Kasus perceraian biasa, pencurian biasa, dan yah yang tidak begitu menguntungkan. Dan tidak begitu menarik perhatiannya sehingga terasa biasa.

Sampai pada suatu hari dia menerima surat wasiat dari seorang tua Sett Hubbard. Dia kaget dan merasa tertantang karena isi surat wasiat tersebut ditujukan kepada dirinya secara personal sehari setelah kematiannya yang mengenaskan, agar menjadi pengacara untuk surat wasiat tulisan tangan tersebut. Walaupun isinya sangat jauh dari nalar, tapi ia telah ditunjuk dan sebagai pengacara profesioal dia akan menjalankan amanah tersebut.

Berhari-hari ia memikirkan Seth, siapa dia, karena seumur-umur belum pernah berjumpa. Tapi, berkat kasus di novel pertama, namanya malambung sebagai pengacara yang jujur. Dan karena kepopuleran kasus tersebut mungkin salah satu alasan Seth menunjuk dirinya. Tapi, siapa itu Lettie Lang? kenapa ia mendapat hampir seluruh warisan?apa yang telah diperbuatnya untuk Seth? Berapa nilai warisannya? Dan tentu saja berapa banyak biaya pengacaranya?

Tapi, akhirnya ia memutuskan yang terpenting dia harus menjalankan isi surat wasiat tersebut, surat wasiat holografik, yang dengan penuh kesadaran di tulis sendiri oleh pewasiat tanpa pengaruh siapapun. Dan siapapun yang akan menerima warisan tersebut sebesar apapun bukan urusan Jake.

Karena Seth memiliki anak kandung dan sebelumnya telah menulis surat wasiat yang di tulis oleh biro hukum Rush di Tupelo, maka Jake tahu ini tidak akan mudah. Kedua anaknya Herschel Hubbard dan Ramona Hubbard Dafoe tidak akan dengan mudah menerima surat wasiat tulisan tangan ini. Walaupun mereka belum tahu seberapa besar warisan sampai nanti pelaksana warisan menghitung seluruhnya tapi paling tidak pasti ada. Pikir Jake.

Saya suka bagaimana John Grisham menuliskan ceritanya. Percakapan wajar yang memang seperti itulah di dunia normal bercakap-cakap 😛 . Setiap bab sangat berarti dalam mendukung maksud cerita. Bahkan ada bab yang menceritakan keinginan Jake dan istri untuk memiliki sebuah rumah yang lumayan besar. Dan itu sungguh bukan sampah. Cerita tentang keinginan mereka itu sangat berarti, seakan-akan menerangkan kepada pembaca bahwa di situasi panas menghadapi persidangan yang waktu itu sudah di tahu jumlah warisan yang begitu besar sangat tidak bijak. Dan itu ada di kepala pembaca, “Duh, Jake jangan dulu deh beli nanti saja kalau sudah selesai kasusnya”. Ala-ala nonton film.

Semua tokoh diceritakan cukup detail dan sangat sangat mendukung jalan cerita. Jika tokoh-tokoh itu tidak diceritakan malah ada sesuatu yang kurang.

Kenapa saya lebih senang menyoroti keefisienan bab-bab nya? Ya, karena beberapa novel yang saya baca, ada saja saya dapati bab, yang sebenarnya gak perlu-perlu amat. Tapi, mungkin biar tebel *kali ya* atau saya yang kurang nangkep.

Cerita terus bergulir beruntun berantai,,,sampai kepada pokok penasaran: Kenapa Lettie Lang? Dan jawabannya sungguh mengerikan. Saya tidak bisa melupakan cerita tersebut sampai semingguan. Manusia kok bisa berperilaku sebengis itu?

Ya Alloh lindungilah kami dari perbuatan aniaya, aamiin.

Banyak pelajaran dari membaca. Dari novel ini saya belajar untuk menghargai sesama, bekerja profesional, bekerja fokus, dan sedikit mengetahui tentang dunia peradilan. Sampai saat ini selalu senang membaca novel-novelnya.

wtht.me

excellent.

PS: yang penasaran bisa didapatkan di GPU

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s