-85- Minggu ke-3 September ini…

1 . Menyenangkan, menegangkan dan penasaran

Menyenangkan karena alasan klasik: siapa sih yang tidak senang jika ditengok atasannya? Kan bisa menyampaikan uneg-uneg, melihatnya secara langsung, berbincang, dan menawar kebijakannya jika perlu dan berani. Intinya saya senang jika pemimpin melihat sendiri kondisi lapangan bawahannya. Mau memahami kemauan bawahannya. Walaupun tidak sampai mewujudkan keinginan mereka, paling tidak tahu. Di tahu saja masalahnya apa, itu sudah cukup. Mau nya sih lebih 😛

Menegangkan. Sebenarnya bagi saya sendiri tidak. Mungkin, karena saya bukan yang paling bertanggung jawab sehingga harus mengemukakan alasan. Yang paling bertanggung jawab tentu saja yang memegang amanah sebagai pimpinan. Baik itu pucuk pimpinan atau bawahan langsung pucuk *pucuk pucuk pucuk…!”

Kalau ada yang salah salahkan pemimpinnya”

Kalimat tersebut tidak seluruhnya benar pun salah. Bagaimana pun jika ada yang salah tentu kita tidak bertanya satu persatu rakyat nya kan. Untuk keefisienan tentu yang akan di tanya adalah pemimpinnya. Dan pastinya setiap pemimpin yang diberikan amanah ada tanggung jawab melekat. Tidak salah jika kita mempertanyakan tanggung jawab nya. Begitupun dengan yang di pimpin, memiliki hak dan kewajiban. Kewajiban yang di pimpin adalah tanggung jawab masing-masing. Misal peraturan yang ditetapkan pemimpin tapi kita dengan sadar tidak mau mengikutinya. Mau tidak mau kita harus sadar, memahami, dan menerima jika pimpinan menegur dan mengingatkan sekaligus menyalahkan.

Penasaran karena sejauh pengamatan pandangan pertama di pertemuan pertama dengan beliau, saya menangkap keseriusan bekerja, komitmen, loyalitas tinggi, dan keramahan. Seiring berjalannya waktu ada poin yang tidak sesuai yang saya bayangkan. Semua itu dari selentingan-selentingan kabar yang saya tidak tahu kebenarannya, karena tidak di depan kepala sendiri. Benarkah seperti itu?

Bagi saya tentang kejelekan orang lain jika tidak saya temukan langsung, saya tidak akan langsung percaya. Bukan karena tidak percaya dengan orang yang menyampaikan, bukan. Lagi pula apapun kejelekan orang siapapun itu tidak seharusnya juga kita pergunjingkan di belakang kan? Lebih enak sebenarnya di sampaikan pribadi ke orang nya langsung. Atau simpan saja sebagai pengetahuan pribadi *pengetahuan, catet ya 😛 *. Tapi, namanya manusia apalagi perempuan *karena saya perempuan* duh, ya kok enak gitu ngobrol ke sana ke mari dan lupa tengah memperbinacangkan kejelakan orang lain, hufffttt 😛

Sebenarnya kalau saya perhatikan dari kabar-kabar yang melintas begitu cepat, itu semua hanya gaya kepemimpinan. Gaya kepemimpinan yang belum bisa di terima dengan baik. Misal, bapaknya selalu menargetkan jadwal yang di percepat. Dan bawahan kadang mengeluh karena merasa di buru-buru. Menurut saya sih tidak masalah, gimana? Ya masalah dong, itu kan tidak selaras keinginan atasan dan bawahan 😀 😛 . Bukan, maksud saya, pemimpin berhak menentukan jadwal yang menurut dia bisa memacu prestasi bagi pribadinya, bawahannya, dan secara keseluruhan instansi yang ia pimpin. Bawahan pun tidak salah dong mengeluh, kalau kenyataannya sulit dilaksanakan dan terasa berat. Misal, banyak kegiatan di waktu yang hampir berbarengan dan jadwal yang di pangkas dari yang seharusnya. Semua pada hak nya masing-masing, atasan berhak menetapkan kebijakannya, bawahan pun berhak ngeluh 🙂

Masalah antara keinginan atasan dan bawahan yang berbenturan. Antara kebiasaan yang terus dilakukan sehingga sudah dianggap kebenaran dan peraturan yang ingin diterapkan sang pemimpin. Lagi-lagi menurut saya, bukan masalah, karena semua kembali kepada cara kita menyikapinya. Yah situ saja yang belum pernah dikatai langsung. Emang, karena kan saya bukan pemimpin, pilihan ada pada kita kan mau atau tidak jadi pemimpin. Jadi pemimpin harus tahu dong risikonya. Ada juga kok yang bukan pimpinan dikatai langsung, terus apakah saya harus pernah dikatai dulu untuk menyatakan bahwa semua ini bukan masalah? Iya. Oke kalau gitu saya tidak nulis apa-apa *apa sih ini?haha*. Karena sering mengeluh kemudian ada rasa kurang enak akhirnya si pemimpin di pandang kurang pengertian lalu di bandingkan dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya yang rata-rata selow.

Nah, karena mungkin kita terbiasa di pimpin dengan gaya santai ketika ketemu dengan yang serius dan selalu ingin berprestasi kita semua kaget. Belum bisa beradaptasi. Padahal kalau menurut saya itu kan hak siapapun untuk menjadi pemimpin. Ada berbagai gaya kepemimpinan dan kita tidak bisa menuntut semua orang untuk dalam satu gaya kepemimpinan kan? Ada Hitler di dunia ini, sebengis apapun dia tapi dia adalah pemimpin pada zaman dan tempatnya. Boleh kita mengeluh, menggunjing, mencaci tapi tetap saja dia adalah seorang pemimpin.

Dan ini bukan Hitler, Stalin, atau sebut saja pemimpin lain yang lebih mengerikan. Hanya pemimpin yang ingin berusaha sesuai aturan dan berprestasi. Apa salah, saya rasa tidak ada yang salah. Kita mungkin perlu waktu lebih lama untuk menerima dan memahami. Yang kita bisa lakukan adalah bekerja dengan baik. Jika tidak bisa mengikuti ritme nya ya sudah yang penting kita sudah bekerja. Dimarahi? Ya sudah yang penting kita bekerja. Yang salah itu tidak mengikuti aturan, kebijakan yang ditetapkan terus menyalahkan 😀

Jadi, santai saja…Jangan terlalu dipikirkan ini itu, kerja saja. Santai banget non, situ mau keluar ya, ini lagi gak nyambung!

2 . Posyandu terakhir di usia batita

Selama dua tahun perjalanan imunisasi Maryam semua dilakukan di posyandu: gratis alhamdulillah. Bener sih, vaksin yang diberikan terbatas. Tapi sejauh ini saya bukan ibu yang terlalu meng”haruskan” full imunisasi terutama yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Saya lebih ke apa yang standar diberikan pemerintah. Oke, kalo pemerintah mewajibkan imunisasi ini itu yang ada di posyandu, dengan senang hati saya ikuti. Menyukseskan program pemerintah tidak ada ruginya malahan sebaliknya. Selain insyaAlloh sehat untuk anak kita juga bisa silaturahim dengan semua ibu-ibu di lingkungan tempat tinggal kita, anak kita juga belajar sosialisasi.

Jadi, tanggal 17 September kemarin adalah imunisasi terakhir untuk Maryam. Perjalanan imunisasi ini ditutup dengan vaksin campak dan semua keramahan dan persahabatan selama dua tahun ini.

Saya ucapkan terima kasih pada semua tim posyandu. Terutama Bu Bidan yang saya sangat menghargai semua dedikasi yang diberikan kepada pekerjaannya. Bu Bidan ini benar-benar sangat memperhatikan siapa saja anak bayi yang mendapatkan imunisasi di posyandu yang dipegangnya. Hal ini terbukti, setelah pertama kali imunisasi itu setiap kali bertemu, Bu Bidan ini selalu menyapa Maryam. Saya dibuat kaget di awalnya karena jujur, saya bukan tipe orang yang akan cepat hafal dan kenal dengan orang yang baru satu dua kali bertemu. Dia juga selalu mengingatkan jika ada minggu di mana Maryam bolong masuk posyandu. Ada jeda sekitar tiga bulanan di mana Maryam tidak pergi ke posayandu karena memang imunisasi selanjutnya di usia 12-18 bulan. Dan waktu itu saya agak malas ke posyandu karena buku ibu dan anaknya tertinggal di Jawa. Tapi sekalinya ketemu Bu Bidan ini, dia dengan ramah mempersilakan datang dengan tanpa buku KIA. Awalnya saya malas karena takut dipersulit. Sekali lagi terima kasih.

Sebagai perbandingan berikut adalah tabel wajib vaksin posyandu dan rekomendasi IDAI. Pilihan ada di tangan kita, cukup dengan program pemerintah atau mau di tambah vaksin lainnya menurut rekomendasi IDAI, semua tergantung kesempatan yang kita punya. Asal jangan tidak sama sekali 🙂 .

jadwal_imunisasi_kemenkes

Kalau yang rutin ke posyandu akan di berikan buku KIA dan di halaman akhir ada tabel posyandu seperti di atas ini.

jadwal imunisasi 2014

Nah, kalo yang ini jadwal imunisasi yang direkomendasikan oleh IDAI. Beberapa bisa dengan mudah dan gratis kita dapatkan di posyandu. Selebihnya harus beli belum di subsidi oleh pemerintah.

3 . Lagi hobi moto

Tiba-tiba saja di suatu siang yang terik ketika menemani Maryam main di halaman kantor, saya tergelitik untuk memotret sebuah bunga. Yang menurut saya bagus. Bunga jenis itu hanya satu di seluruh halaman kantor yang tidak bisa dikatakan kecil. Pohon bunganya sendiri lucu, hanya satu tangkai, hanya satu cabang, dan hanya satu bunga! Warna dan bentuknya perpaduan lucu dan indah *apa sih*.  Saya tidak tahu namanya. Saya googling pun belum nemu. Jadi, saya sebut ia bunga liar.

Dari jepretan pertama itu keterusan sampai sekarang. Menurut saya sih bagus, hehe. Tapi, masih jauh jauh jauh jauuuuh dari hasil jepretan profesional. Pernah coba kirim di web jual beli foto dan semua foto yang saya kirim di tolak dengan alasan teknis 😦 . Malah salah satu situs memberikan detail kamera yang direkomendasikan dipakai. Dan DSLR dong semua.

Ya sudahlah ya foto bagus menurut diri sendiri saja untuk saat ini sudah cukup, cukup menghibur dan menyenangkan. Karena memang bukan untuk tujuan profesional sekedar kesenangan. Tidak diterima di dunia fotografi pro setidaknya bisa dipake untuk blog dan sesekali mempercantik instagram 😛

declined by fotolia

Dan postingan ini saya tutup dengan penampakan si bunga liar nan cantik…bunga di tepi halaman kantor siapa yang memiliki…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s