-83- Membaca lagi (novel)

DSCN1385

(di ambil menggunakan nikon coolpix s3600)

Siapa sih menurut kalian jika ditanya orang yang pertama kali menumbuhkan minat baca dalam diri kita?  Kalau saya orang tua lah yang pertama kali mendidik. Ibu yang pertama kali mengajarkan A B C D dan Bapak yang mengembangkannya dengan cerita-cerita yang tak ada habisnya. Sejak kecil sebelum bisa melafakan abjad apalagi membacanya utuh menjadi satu kata terlebih dahulu saya sudah dicekokin dengan dongeng-dongeng sunda masa lalu. Apa ya yang masih ingat? ehmm…oh ya aki-aki aleman kalau bahasa indonesianya kakek-kakek yang manja banget.

Ceritanya ini si aki superb manja saking manjanya jadi malas ngapa-ngapain. Manjanya sama istrinya, sama si nini alias nenek. Diceritakan suatu hari si nini mau pergi, lupa ke mana, yang mana mengharuskan ia membawa koper super gede. Dan dipastikan si aki-aki manja ini ogah di minta tolong untuk membawa koper. Alhasil si nini marah-marah dan menyuruh si aki tidak usah ikut menemaninya. Si aki dalam hati tidak mau ditinggal sendiri di rumah. Dan ia pun memutar otak agar tetap bisa ikut nini tanpa harus menggotong koper yang gede itu. Dan idenya bikin sebel *waktu itu gitu, bukan lucu tapi sebel* : masuk ke dalam koper! Walaupun rasanya di luar nalar, masak seorang kakek masuk ke dalam koper mana di bawa lagi sama nenek, tapi ya itu namanya juga dongeng. Alhasil diceritakan sepanjang jalan kasihan si nini yang harus pontang-panting angkat tuh koper, manalagi di tengah jalan aki-akinya pipis. Kena deh si nini pipisannya, tapi nini ngiranya minyak wangi yang tumpah, cobak mana bau masih bisa kepikiran minyak wangi, sebel kan sama si aki?! 😀

Dan masih banyak dongeng-dongeng lainnya. Masuk bangku SD, dongeng pun semakin seru karena sudah masuk ke sejarah. Yang masih terhiang-hiang adalah cerita tentang raja Kerajaan Majapahit yaitu Hayam Wuruk. Itu inget sekali karena waktu di ceritain, mendengar nama hayam wuruk langsung kepikiran ayam, “kok namanya Hayam si Pa?”. Ya gimana kalo dalam Bahasa Sunda hayam kan ayam, masak nama manusia disamakan dengan binatang *maklum anak SD*.

Dari cerita-cerita suka kebayang di kepala per kejadiannya. Pas banget waktu itu lagi booming juga acara dongeng di radio. Jam siarnya ingat sekali, jam 3 sore menjelang ashar, ada juga yang malam setelah isya dan siang jam-jam dzuhur, tiga kali sehari lah mirip-mirip minum obat, hehe. Pendongengnya yang paling kesohor waktu itu adalah Mang Jaya sama Wak Kepoh. Suara Mang Jaya kalau menurut saya mirip si cepot, hihi *cepot di wayang itu* . Dan saluran radio yang setia saya pantengin kalau tidak salah ingat Linggarjati, di Kuningan. Paling seru dengerin yang sore-sore karena ada temannya, Mak Iis. Mak Iis ini tetangga rumah, tinggal sekali lompat dari teras rumah orang tua saya ke rumahnya. Dan acara dengar dongeng bersama itu selalu diadakan di dapur Mak Iis di atas bale-bale kayu sambil masak di hawu *tungku dari tanah yang bahan bakarnya menggunakan kayu, ranting, kertas juga ada, pokoknya yang mudah dibakar*. Mak Iis kadang di depan hawu menunggu masakannya dan saya duduk atau tengkurap di bale-bale sambil sesekali membantu masakannya Mak Iis. Terakhir pulang kampung lebih dari setahun yang lalu rumah Mak Iis ini tinggal puing-puing dan kata Ibu saya, sekarang ini sedang direnov oleh cucunya.

Yah, semakin terasah deh imajinasi dari seringnya mendengar dongeng-dongeng itu. Rasanya semakin gandrung mendengarkan dongeng berbanding lurus dengan keinginan mencari cerita lain melalui buku bacaan. Maka, di sekolah yang sebenarnya tidak ada perpustakaannya itu saya ubek-ubek juga buku-bukunya. Buku-buku sebenarnya ada di satu ruangan sempit nyempil di belakang koperasi sekolah yang hanya di batasi oleh dua buah lemari tempat penyimpanan barang-barang jualan koperasi. Saya suka intip-intip lama-lama gatel masuk juga ke ruangan tumpukan buku itu. Pas dilihat-lihat ternyata ada buku-buku bacaan ringan untuk anak-anak, seperti si Nata yang ulet berusaha membudidayakan ikan lele di drum bekas minyak tanah. Hampir saya juga ikut-ikutan mau pelihara ikan lele persis si Nata di buku itu kalau saja saya tidak takut dengan binatang yang licin-licin. Takut kaka jadi keinget dan berasa itu tuh yang berbisa, hiiiyyyy!

Ada lagi buku bacaan yang isinya tentang seorang anak SD yang suka bersih-bersih rumah. Dan saya pun mendadak sangat rajin membersihkan rumah, menyapul, mengepel, sampai mencucui pakaian yang biasanya malas. Dan akhirnya hampir semua buku di ruangan sempit itu dibabat satu per satu tidak habis sih. Sayangnya beberapa buku ada yang di bawa pulang ke rumah dan sampai sekarang belum dikembalikan *cepat kembalikan!* Mudah-mudahan masih ada, kalau pulang kampung nanti harus nih diusahakan main ke sekolah, itung-itung nostalgia jaman-jaman nyemplung di kolam yang airnya kadang coklat, main di sawah, sampai bermimpi di atas pohon lengkeng. Kangeeennn.

Masuk sekolah menengah yang ternyata walaupun katanya terfavorit se kecamatan belum juga ada yang namanya perpustakaan dalam arti yang sebenarnya. Bangunan yang katanya perpus dan buku-bukunya ada tapi seingat saya mah tidak terorganisir, tidak ada yang jaga, buku-buku berantakan, dan tidak ada pengunjung, padahal bangunannya persis di tengah sekolah di depan tiang bendera yang setiap hari senin dipenuhi siswa siswi upacara. Saya penasaran masuk dan kecewa, buku-bukunya semua tentang pelajaran tidak ada buku bacaan ringan. Tidak jadi deh betah-betahan di perpus semasa SMP.

Nah, masuk SMA nih berita gembira, perpustkaannya lumayan besar dan dalam arti perpustakaan yang sebenarnya. Komplit semua, ada penjaganya, katalognya, tempat penitipan barang, dan buku-bukunya dong, lengkap dari buku pelajaran sampe komik *horeee merdeka* paling inget setiap istirahat mojok sama teman ngabisin buku cerita terutama novel nya Agatha Christie. Mulai SMA itu sulit sekali lepas dari yang namanya buku utamanya buku cerita ya sebangsaning novel, roman, sampe komik-komik geje pernah juga dilahap *dulu sekarang mah sudah insyaf lebih tepatnya sudah tidak tertarik lagi, ya masak ibu-ibu baca komik candy-candy*.

Masuk bangku kuliah, merasa sudah punya uang sendiri, maklum waktu itu selain dapat uang Ikatan Dinas nyambi juga jadi guru privatnya anak sekolahan. Lumayan deh tiap bulan bisa beli buku. Karena perpustakaan kampus tidak sevariatif perpus waktu SMA, ya terpaksa harus beli selain suka juga sih koleksi, lihat tumpukan buku di kamar itu serasa oaese di padang pasir *lebay*.

Kwitang, Gunung Agung, pasar apa ya lupa yang di pasar senen tempat buku-buku bekas sama Gramedia adalah tempat langganan jalan-jalan saya waktu itu, waktu muda dulu, waktu masih single, waktu masih gadis *harus banget ya ditegasin gini*. Tapi paling asik sih ke Gramed, selain luas tempatnya, buku-bukunya banyak, adem sih ada AC plus ada tempat duduk.

Waktu pertama kali merantau pun itu satu koper isinya buku, masih juga beli, waktu itu ada toko buku kecil nyempil di samping tukang bakso di Kolaka dulu. Di sana tempat saya beli buku. Dan mungkin terakhir baca buku yang penuh keasyikan fantasi itu ya di Kolaka itu. Karena pas di Wakatobi yang walau bukunya jauh lebih banyak karena digabung dengan punya suami, tidak bisa se intens, semenarik, dan selama dulu nongkrong di di depan kertas penuh abjad itu.

Lamaaaa sekali sampai akhirnya hari ini saya merasa keasyikan seperti dulu. Dulu yang baca novel saking serunya bisa ber jam-jam sampai kelar lupa waktu. Beranjak cuma memenuhi panggilan alam ke kamar mandi sama sholat, selebihnya ngedeprok di kamar sampai ceritanya tuntas.

Dan hari ini dong keasyikan membaca buku, baru kerasa lagi pas baca novelnya Bumi Cinta karya Kang Abik. Sebenarnya novel Kang Abik ini sudah lama semenjak saya di Wakatobi, buku ini sudah ada. Nangkring kadang melambai tapi saya acuhkan. Entah kenapa rasanya tidak minta. Mungkin karena ayat-ayat cintanya. Dulu waktu kuliah pernah baca novel ayat-ayat cinta. Sayangnya saya baca setelah nonton filmnya yang tidak pernah ditonton secara khusyuk karena saya skip skip. Entahlah, mungkin bukan selera saya akan tontonan. Karena ternyata banyak yang suka kok film nya. Cuma saya saja mungkin dengan segelintir kecil orang yang kurang sreg. Saya tergelitik baca novelnya apakah seperti itu juga? seperti dalam adegan film? Entah karena sudah terdoktrin adegan film, itu bacanya kurang bisa menikmati jadi sama seperti filmnya banyak saya skip bacaannya. Berbeda dengan Laskar Pelangi di mana saya baca dulu novelnya baru nonton film nya. Jadi, kecewa di adegan film tidak mempengaruhi kenikmatan daripada membaca.

Karena sudah lama tidak membaca dan mungkin kangen, akhirnya tadi pagi saya coba buka dan seperti yang diketahui keterusan sampe malam. Karena tidak mungkin saya ngejogrok terus di depan buku sementara kegiatan wajib menunggu jadi baru setengahnya saya baca. Baru sampe si Yelena di operasi daun telinganya. Seru lah, ada sejarahnya, kengeriannya juga karena watak orang sana, dan tentu sisi keindahan yang diciptakan penulis tentang alam negeri sana, komplit lah menurut saya. Tapi sampe tadi kengeriannya lebih terasa, seperti gaya hidup bebas yang kebanyakan di anut masyarakat sana sampe adanya mafia yang menurut di buku mengerikan selain ada juga menceritaka tentang kekejaman Lenin dan Stalin, tambah-tambah deh ngerinya. Selain kengerian, ada juga terasa kuat kepada pembacanya untuk terus dalam kebaikan, mengingatkan untuk patuh dan taat akan ajaran agama, mengena. Memotivasi untuk terus dalam kebaikan, nilai positif yang sangat saya kagumi dari penulisnya. Karena jarang sebuah novel yang membawa nuansa islami semengalir ini dan setidak membosankan dengan petuah-petuahnya. Sampai halaman tengah, saya lumayan menikmatinya walaupun belum seasyik novel kesukaan saya Agatha Christie.

Adakah teman-teman yang lain seperti saya, setelah begitu lama tidak membaca kembali membaca? Dan buku apa yang pertama kali kalian baca waktu itu setelah sekian lama vakum? *jawab sendiri dalam hati deh 😀 *

Eniwe, sepertinya setelah ini saya akan mulai hunting buku yang lain,,,buku apa ya kira-kira. Sempat lihat sih di twitter banyak yang suka karyanya Dee Lestari, mungkin next lah di coba, bener loh saya belum punya dan belum pernah membaca bukunya sampai tuntas. Kalau selintas-selintas pernah, dulu ada junior sekantor yang suka buku juga bawa-bawa karya Dee, baca selintas tapi emang lagi tidak mood baca kali, jadi tidak ada kepengenan melanjutkan.

Hello buku after a long long long time …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s